Obsesi Cinta Sepihak

Obsesi Cinta Sepihak
Episode 16


__ADS_3

Ceklek...


"Ups...Astaga sepertinya aku datang di waktu yang kurang tepat . "


Ucap Dean yang sangat terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya ini namun dia juga berusaha untuk menahan senyum jahilnya .


Saat Dean mengetahui jika saat ini Rion lah yang mengambil alih GRACHINE GROUP dan menjadi pimpinan , dia datang kemari untuk memberikan selamat pada sahabat nya itu dia pun tidak mengetuk pintu terlebih dahulu karena biasanya dia tidak pernah melakukan itu mengingat Rion dan dirinya sangatlah dekat jadi tidak ada keformalan ataupun privasi di antara mereka , tapi Dean malah di buat kaget dengan pemandangan di depan matanya ini .


Rion yang juga tak kalah terkejutnya dengan Dean seketika melepaskan rambut Luna yang tersangkut dengan kasar hingga membuat nya sedikit meringis kesakitan .


" Ini tidak seperti yang kau pikirkan . Jadi jangan macam macam ."


Ucap Rion menatap tajam ke arah Dean yang terlihat menahan tawa nya . Wajah Rion dan Luna mendadak memerah karena merasa seakan mereka baru saja tertangkap basah oleh Dean .


Dean pun semakin terkekeh dalam hati melihat wajah keduanya yang sudah merona terutama saat melihat wajah Rion karena baginya sangat langka melihat wajah Rion yang seperti kepiting rebus ini .


Sesaat kemudian Dean pun menghampiri sahabatnya itu dan mereka pun akhirnya duduk dengan santai di sofa .


Lain hal nya dengan Luna yang lebih memilih berdiri saja melihat ke arah jendela yang jaraknya agak jauh dari mereka berdua .


" Siapa dia ? "


Tanya Dean sembari melihat ke arah Luna .


" Asisten pribadi . "


Jawab Rion dengan wajah datar .


" Waah..., kau ini memang pandai memilih ya ."


Puji Dean pada Rion yang sebenarnya dia berniat menggoda sahabatnya itu .


Sejenak Dean pun seperti teringat bahwa dia pernah bertemu dengan Luna sebelumnya .


" Tapi tunggu.., sepertinya aku pernah melihatnya ."


Dean terus memutar otaknya , mengingat ingat kapan dan dimana dia pernah melihat Luna , hingga akhirnya dia dapat mengingatnya dengan jelas .


" Haa..,aku baru ingat bukannya dia gadis di depan bar waktu itu ? "


Ucap Dean dengan penuh keyakinan .


" Hemm "


Rion pun hanya menjawabnya dengan deheman saja .


" Cepat juga pergerakanmu . "


Ucap Dean kemudian dengan sedikit terkekeh yang seketika membuat Rion mengerutkan dahinya karena tak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Dean .


" Apa maksudmu ? "


Tanya Rion yang melirik ke arah Dean dengan tajam .


"Sudahlah lupakan..., Aku senang akhirnya kau menata hidupmu kembali jadi aku tak perlu kerepotan mengurusi kegilaan mu seperti sebelumnya . "


Ucap Dean dengan sedikit meledek tapi dalam hatinya dia sangat senang jika sahabatnya itu akhirnya mau menjalani hidupnya kembali setidaknya dengan begini Rion akan disibukan dengan pekerjaannya dan tidak punya waktu untuk merusak dirinya sendiri seperti sebelum sebelumnya .


" Dasar kau ini.., kau pikir ini kemauanku ? Aku terpaksa melakukan ini karena pria tua itu mengancamku dengan ancaman yang tidak pernah ku bayangkan sebelumnya . "


Ucap Rion dengan nada kesal .

__ADS_1


" Sebenarnya Ayahmu hanya ingin kau bersikap normal dan menjalani hidupmu dengan baik . "


Ucap Dean yang seketika membuat Rion memicingkan matanya dan menatapnya dengan tatapan membunuh .


" Jadi kau pikir selama ini aku tidak normal ?"


Tanya Rion dengan menaikan nada bicaranya .


Melihat ekspresi sahabat nya yang sepertinya akan mengamuk Dean pun semakin terkekeh dan semakin ingin menggoda sahabatnya yang pemarah ini .


" Bukan tidak normal , lebih tepatnya kau itu tidak waras . ha..ha...ha "


" Hei apa kau ingin mati ! "


Teriak Rion sembari melemparkan bantalan sofa ke wajah Dean .


"Dasar pemarah..., Sudahlah lebih baik aku berkenalan dengan asisten cantikmu itu . "


Ucap Dean sembari berdiri , dia melihat ekspresi wajah Rion yang tak biasa saat dirinya menyebut asisten pribadi nya itu .


" Terserah.., aku tidak perduli ."


Ucap Rion dengan raut wajah dingin .


Kemudian Dean pun meninggalkan Rion dan menghampiri Luna yang berdiri menghadap jendela .


" Hei sedang melihat apa ? "Tanya Dean.


" Eem.. tidak ada tuan "


Jawab Luna dengan sopan .


" Panggil aku Dean , aku lebih senang jika kau bersikap tidak formal padaku jadi santai saja hem "


Ucap Luna dengan sedikit ragu mengingat Dean adalah teman dekat dari bosnya , bagaimana mungkin dia berbicara seolah Dean adalah temannya sendiri.


" Bukankah kita pernah bertemu sebelumnya ? "


Tanya Dean yang ingin mengingatkan kembali pada Luna .


Sejak Dean dan Rion mengobrol di sofa tadi Luna memang sesekali memperhatikan Dean karena wajahnya sangat tidak asing menurutnya .


" Eem...aku rasa... "


Jawab Luna dengan pelan namun Dean dengan cepat memotong ucapannya .


" Di depan bar saat dimana kau memaki bedebah brengsek yang memukuli seorang wanita , benarkan ? . "


Ucap Dean yang langsung pada intinya karena dia tau jika Luna pasti sudah mengingatnya hanya saja Luna masih sedikit gugup untuk bicara padanya .


Luna pun hanya mengangguk pelan mengiyakan semua perkataan dari teman bosnya ini .


Dari sofa Rion terus memperhatikan mereka dengan intens dan tanpa sadar hatinya merasa sangat panas melihat asisten nya itu tersenyum manis pada Dean begitupun sebaliknya .


" Chaahh..., Dia terlihat sangat mengerikan jika tersenyum seperti itu , mengapa dia terus saja melakukannya , dan Dean ! mengapa dia begitu dekat dengan gadis bodoh itu dia benar benar hilang akal hingga mau tertawa bersama nya . "


Gumam Rion dengan kesal dia terus menatap dua insan yang saling bercengkrama di sebrang nya itu .


Sedangkan Dean yang melirik ke arah Rion pun hanya tersenyum tipis . Dean saat ini mengerti jika sahabatnya itu sudah mulai menyukai asisten pribadi nya ini . Dia pun merasa lebih lega jika Rion mau membuka hatinya kembali setelah 6 tahun lamanya , hanya saja dia tau benar jika akan sulit bagi sahabatnya itu untuk mengakui perasaannya yang sebenarnya mengingat ego dan gengsi nya sangat tinggi.


" Baiklah kau sudah tau nama ku , tapi aku masih belum tau namamu jadi kita mulai dari awal saja . "

__ADS_1


"Dean . "


Ucap Dean dengan tersenyum manis sembari mengulurkan tangannya pada Luna .


Luna pun dengan sedikit ragu meraih tangan Dean .


" Aku Luna , senang bisa bertemu denganmu . "


Ucapnya yang membalas dengan senyuman manis pada Dean .


Rion pun seketika membulatkan matanya saat melihat pemandangan di depan nya itu dimana saat ini kedua tangan dari Luna dan Dean saling bertautan . Dia pun langsung berdiri dan berjalan menghampiri keduanya .


"Hei aku sangat sibuk hari ini.., jadi kau pergi saja nanti aku akan menemui mu di basecamp . "


Ucap Rion yang langsung melepaskan tangan Dean dari tangan Luna .


Melihat itu Dean pun semakin terkekeh dalam hati karena dugaan nya ternyata benar jika Rion saat ini sudah mulai menyukai Luna , dia pun berniat untuk menggoda sahabat nya itu .


" Tapi aku masih betah di sini ."


Ucap Dean dengan mengedipkan sebelah matanya ke arah Luna .


Luna yang melihat Dean mengedipkan mata padanya pun hanya bisa tersenyum kaku dia juga masih bingung mengapa Dean melakukan itu .


Lain hal nya dengan Rion dia langsung menarik tangan Dean untuk segera keluar dari ruangannya .


"Sudah.., cepatlah pergi aku ada urusan . "


" Iya..., iya "


Dean pun kemudian berjalan pergi , namun sebelum kakinya melangkah keluar dia bergumam dalam hati melihat sikap sahabatnya itu .


" Cahahahh.. Dasar berandal .., dia itu selalu bodoh dalam hal menyembunyikan perasaan ."


Batin Dean dengan terkekeh .


___________


Di sebuah Rumah yang lumayan besar dan cukup mewah terlihat 3 orang wanita sedang duduk dan mengobrol di dalam sebuah kamar .


" Apa dia masih sering memukuli mu ? "


Tanya wanita yang lebih tua di bandingkan dengan dua wanita lainnya .


" Hemm "


Jawab wanita yang berada di depannya hanya dengan deheman dan wajah tertunduk .


Kemudian dia kembali menanyakannya ke wanita yang terlihat pucat di sampingnya itu .


" Lalu kau ? "


Dengan gemetar wanita itu kemudian membuka sedikit pakaiannya sembari terisak dia menunjukan beberapa luka lebam yang ada di tubuhnya .


Wanita tua yang menanyai dua wanita lainnya tadi tak lain adalah Retno istri pertama Robert , sedangkan wanita yang berada di depan Retno adalah Laras istri keduanya . Dan wanita yang menunjukkan luka lebam tadi tak lain adalah Steyla istri ketiganya .


Robert memang sering melakukan kdrt pada istri istrinya terutama pada Steyla istri ketiganya karena semenjak insiden di bar tempo hari Robert lebih sering menyiksa nya tanpa rasa kemanusiaan sedikit pun . Retno yang melihat kekerasan yang selalu di lakukan suaminya itu pada Steyla atau pun Laras merasa sangat iba dengan nasib malang kedua gadis muda yang kini telah menjadi madunya itu . Dia tahu benar baik Laras maupun Steyla menikahi suaminya itu dengan keterpaksaan . Namun dia tidak punya kuasa apapun untuk melawan . dan jika dia mencoba membantu keduanya maka suaminya juga akan menyiksanya tanpa ampun .


____________


🍒🍒🍒🍒🍒

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2