
Setelah mendengar cerita dari ibunya , Luna pun hanya bisa terdiam dengan tatapan sendu . Dadanya terasa sangat sesak saat ini hingga tak sanggup berkata sepatah kata pun .
Aida mengusap bahu Luna dengan lembut sembari mengatakan bahwa semuannya akan baik baik saja , meskipun disisi lain Aida juga sangat hancur mengingat penderitaan cucunya itu selama ini , dia tetap berusaha tegar agar Luna tidak terlalu bersedih .
"Sudahlah..., Jangan terlalu dipikirkan ,ibu yakin kita pasti bisa melewati semuannya dan kau tenang saja setelah kita pindah nanti kevin pasti akan mendapatkan teman yang banyak . "
Aida yang menyadari jika hari sudah menjelang pagi pun menyuruh putrinya untuk segera bersiap karena Luna harus pergi bekerja .
" Baiklah.., sekarang kau mandi dan bersiaplah . Lihat sekarang sudah jam berapa . "
Ucap Aida sembari melihat ke arah jarum jam yang sudah menunjukan pukul setengah 6 pagi .
Tak lupa Aida juga berpesan pada Luna agar bekerja dengan hati hati , karena dengan Luna bisa bekerja di perusahaan yang sebesar GRACHINE GROUP saja sudah sedikit memperingan beban pikiran nya .
Aida juga lebih tenang karena putrinya itu tidak lagi sesengsara dulu saat mengambil begitu banyak pekerjaan paruh waktu yang banyak menguras tenaganya hingga Luna kelelahan , namun tetap saja semua gaji yang di dapatkan nya dari pekerjaan Luna dulu tetap tidak cukup untuk biaya hidup mereka ditambah dengan biaya pengobatan kevin .
" Kau harus melakukan pekerjaan dengan baik dan jangan pernah mengecewakan tuan muda hem..., Ibu akan pergi ke kamar kevin untuk melihatnya . "
ucap Aida sembari membelai kepala putrinya itu .
Luna pun hanya mengangguk dan berusaha tersenyum lebar untuk ibunya . Meskipun dia harus menahan setiap penindasan yang di lakukan oleh CEO arogan nya itu , namun untuk saat ini Luna benar benar tidak punya pilihan lain selain menerima nasib nya yang menurutnya sangat apes .
kemudian dia pun berjalan ke arah kamar mandi untuk bersiap sedangkan Aida pergi ke kamar kevin untuk membangunkannya .
Menyadari langkah kaki neneknya yang semakin dekat kevin yang sedari tadi masih terduduk dan bersandar di pintu pun langsung berjalan cepat menuju ke tempat tidurnya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut sembari menghapus sisa air matanya .
Ceklek...
"Ahhh..., dia masih tidur rupanya . Pulas sekali tidurnya . Baiklah aku akan membangunkannya 15 menit lagi ."
Gumam Aida lirih , dia menatap ke arah cucunya yang masih terbungkus selimut tanpa pergerakan .
Aida pun menutup kembali pintu kamar kevin dan kemudian menjalankan rutinitasnya seperti biasa yakni menyiapkan sarapan dan juga hal lainnya .
Setelah selesai menyiapkan sarapan Aida pergi ke kamar kevin untuk membangunkannya kembali . Aida pun menepuk lembut tubuh Kevin yang masih terbungkus selimut secara keseluruhan .
" Sayang bangunlah , kau harus bersiap untuk pergi ke sekolah . Ayo cepat bangun "
" Nenek aku merasa tidak enak badan hari ini , aku sekolah besok saja ya "
Aida seketika panik setelah mendengar suara kevin dari balik selimut yang terdengar begitu lemah .
" sayang kau kenapa ? apa kau demam ? Katakan pada nenek mana yang sakit . "
Tanya Aida sembari berusaha menarik selimut yang menutupi wajah cucunya itu namun kevin malah menggenggam selimut nya dengan sangat erat sehingga membuat Aida bingung .
"Nenek aku tidak apa apa , aku hanya tidak enak badan saja . jadi biarkan aku tidur maka aku akan cepat sembuh nanti "
Ucap Kevin yang masih menggenggam selimut nya dengan kuat agar neneknya tidak melihat wajah sedihnya itu .
" Baiklah kalau begitu kau istirahat lah , jika membutuhkan sesuatu kau panggil saja nenek hem . "
Aida pun mengiyakan kemauan kevin dan meninggalkan nya agar dia bisa istirahat .
*******
Luna yang sudah selesai mandi pun segera bersiap di dalam kamarnya , kemudian dia berjalan menuju meja makan untuk sarapan . Dia pun mengobrol dengan ibunya seperti biasanya , Luna sengaja membahas hal lain agar suasana hati mereka sedikit lebih tenang .
"Ibu malam ini kita akan datang kan ke pesta pernikahan Dewi ? "
Tanya Luna sembari mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya .
__ADS_1
" Ya tentu saja.., bagaimana bisa ibu tidak datang ibu bahkan sudah menyiapkan dress yang akan ibu pakai nanti . "
Jawab Aida yang terlihat lebih ceria meskipun matanya masih terlihat sembab dia berusaha agar pagi mereka berlalu seperti biasanya .
Luna merasa sedikit lega melihat Aida seperti nya dapat melupakan sejenak kesedihan mereka tadi . Luna pun juga berusaha untuk bersikap seperti biasa .
"Dress ?? "
Tanya Luna dengan tatapan intens ke setiap inci tubuh ibunya sembari mengerutkan dahinya .
Mendapat tatapan aneh dari sang anak Aida pun melihat tubuhnya sendiri dengan tatapan yang biasa saja tidak seperti putrinya itu .
" Mengapa ? Apa kau tidak lihat meskipun sudah menjadi nenek ibumu ini tetap awet muda dan langsing , bahkan ibumu ini masih bisa membuat orang terpesona . "
Luna pun hanya menggelengkan kepalanya saja melihat sikap ibunya ini . Dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak tertawa atau nantinya dia akan mendapat cubitan panas dari sang ibu .
Melihat putrinya yang seakan menahan sesuatu Aida pun bertanya dengan nada tajam sembari memicingkan matanya .
"Hei.., apa kau ingin menertawai ibu ? "
Luna pun gelagapan dengan tatapan ibunya itu dia sesegera mungkin menutupi wajahnya dari samping dengan salah satu tangannya . Sedangkan satu tangannya yang lain saat ini sedang membungkam mulutnya agar tawa nya tidak lolos dan didengar oleh sang ibu . Namun tetap saja tubuhnya tak bisa berbohong dan ibunya dapat melihat jelas tawanya itu dari pergerakan tubuh Luna yang dari tadi naik turun .
Plak...
Seketika Aida memukul pundak putrinya itu karena sedari tadi Luna masih saja menertawakan nya .
"Ibu..., Sakit "
Teriak Luna sembari mengelus ngelus pundaknya yang terasa panas .
" Itulah akibatnya jika meragukan ibumu ini , bahkan kau harus waspada mungkin sebentar lagi ibu yang akan mendahului mu untuk menikah "
Sindir Aida pada putrinya yang bahkan sampai sekarang belum juga punya seorang pacar pun .
Luna seketika ingat pada Parjo salah satu tetangganya yang tergila-gila pada ibunya itu , karena sedari dulu tepatnya setelah kematian ayahnya , parjo selalu saja mendekati ibunya dan sudah berkali kali melamarnya meskipun ibunya selalu menolaknya . Luna sangat tidak suka dengan Parjo karena pekerjaan Parjo adalah seorang rentenir yang suka memeras orang miskin , Luna juga sering melihat Parjo pulang dalam keadaan mabuk .
"Apa maksud ibu..., Jangan coba coba menikah dengan berandal itu , aku tidak akan pernah menyetujuinya . Ouh astaga ! Apa jangan-jangan dia melamar ibu lagi . Apakah ibu menerimanya ? Tidak ..ini tidak boleh terjadi "
Ucap Luna sembari menggelengkan kepalanya seolah sudah membayangkan suatu hal buruk jika pernikahan itu sampai terjadi . Dengan wajah penuh panik luna pun menatap ibunya dan bertanya tentang keberadaan Parjo .
" Dimana dia sekarang ? Aku akan menghabisi berandal tua itu agar dia tidak kesini lagi "
Sontak ucapan konyol yang lolos dari bibir luna ini membuatnya kembali mendapatkan pukulan keras dari Aida .
Plakkk.....
" Aw.., aw... ibu... "
" Kau pikir aku sudah gila apa mau dengan nya . "
ucap Aida kemudian , dia tidak habis pikir bagaimana Luna tiba tiba membawa Parjo dalam obrolan mereka dan mengatakan hal konyol yang bahkan terdengar mustahil baginya .
Melihat Luna yang meringis sakit sembari memegangi lengannya Aida pun hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar .
" Kau ini bicara yang bukan bukan saja , dan lihatlah sikap preman mu itu , awas saja jika kau menunjukan nya di depan orang orang yang ada di kantormu terutama di depan tuan muda , jika itu terjadi maka ibu lah orang pertama yang akan memukuli mu ."
Ucap Aida dengan sangat wanti wanti melihat sisi Lain gadis cantik yang terlihat polos itu , bahkan Aida sendiri sebagai ibunya seakan tak percaya jika dilihat dari wajah Luna yang begitu menenangkan , di balik itu terdapat sikap nekad dan bar bar .
Luna pun hanya mendengus kesal karena saat ibunya menyebutkan kata kantor , itu selalu mengingatkan nya pada bos nya yang sangat menyebalkan itu .
Luna pun segera menghabiskan makanan nya dan segera bergegas , saat dia berdiri dia pun teringat dengan keponakannya karena biasanya keponakannya itu sudah bagun jam segini .
__ADS_1
" Apakah kevin masih belum bangun bu ? "
Tanya Luna pada ibunya karena tadi ibunya mengatakan akan pergi ke kamar Kevin untuk membangunkannya .
" Hemm.., dia bilang sedang tidak enak badan . Jadi dia tidak pergi ke sekolah hari ini "
Ucap Aida dengan nada yang sedikit cemas .
" Benarkah ! Aku akan melihatnya Aku harus membawanya ke rumah sakit .
Seketika Luna pun menjadi panik dan langsung melangkahkan kakinya ke arah kamar kevin ,namun Aida langsung mencekal tangannya .
" Jangan khawatir ibu akan mengurusnya , sebaiknya kau pergi saja bekerja jika tidak nanti akan terjadi masalah . Dengar.., kau sudah mendapatkan sebuah kesempatan emas jadi ibu harap kau lakukan yang terbaik , saat ini kevin hanya bergantung pada kita Lun . Jika kau sampai kehilangan pekerjaan ini , mungkin akan butuh waktu lama untuk kevin bisa melakukan cuci darah sedangkan dokter memberitahu ibu jika semakin lama kita menundanya maka kondisi kevin akan semakin memburuk dan kemungkinan nyawanya tidak akan tertolong , saat ini ibu hanya bisa berharap padamu . "
Luna pun memikirkan apa yang dikatakan ibunya , karena memang benar secepatnya mereka harus segera mendapatkan biaya untuk pengobatan kevin .
"Sudahlah kau tidak perlu terlalu mencemaskannya , ibu akan meminta ijin pada pemilik restoran agar bisa menjaga kevin hari ini . "
Ucap Aida yang berusaha menyakinkan Luna bahwa kevin akan baik baik saja bersamanya .
Luna pun dengan terpaksa menuruti ucapan ibunya meskipun dalam hatinya dia masih sangat khawatir dan ingin sekali melihat kondisi kevin .
Dengan berat hati Luna pun kemudian bergegas pergi menuju ke GRACHINE GROUP .
____________
* Kediaman keluarga Destriov
Saat ini di meja makan sudah ada Rion dan juga ibunya yang tengah menikmati sarapan pagi mereka . Tak banyak obrolan antara ibu dan anak itu lebih tepatnya ibunya lah yang paling banyak mendominasi obrolan sedangkan Rion hanya menjawabnya dengan sepatah duapatah kata saja . Di sana juga ada Bimo yang dengan setia berdiri di dekat tuan mudanya itu .
" Nak bagaimana di kantor apakah semuanya berjalan dengan lancar ? "
Tanya Sarah dengan antusias dan tatapan penuh harap pada putra semata wayangnya itu namun Rion hanya menjawabnya dengan deheman saja .
" Hemm . "
Sekilas mata Rion menatap ke arah kursi kosong yang ada di sebrang nya itu .
" Dimana ayah , Apakah dia sudah berangkat terlebih dahulu ? "
Tanya Rion dengan datar sembari menyuapkan makanan ke mulutnya . sesaat kemudian dia pun menatap tajam ke arah sekertaris kepercayaan ayahnya itu .
" Tuan Antony pergi ke Jepang untuk mengurus salah satu perusahaan yang ada di sana tuan . "
Jawab Bimo dengan cepat , karena mendapat tatapan tajam dari Rion yang meminta penjelasan padanya .
" Kau tenang saja ayahmu tidak akan lama di sana hanya sekitar 2 minggu , dia menyerahkan GRACHINE GROUP padamu jadi ibu mohon jangan kecewakan dia hem . "
Ucap Sarah dengan nada lembutnya . Dia merasa sangat senang saat ini karena akhirnya putranya itu mau mengambil alih perusahaan .
Rion pun hanya diam saja mendengar ucapan ucapan ibunya itu , setelahnya dia pun langsung bergegas ke kantor .
" Ibu aku berangkat dulu ."
Ucap Rion dengan wajah datar sembari berdiri dan melangkah keluar .
Melihat Tuan muda nya sudah beranjak pergi Bimo pun segera memberi hormat pada Sarah dan setelah itu segera menyusul tuan mudanya itu .
🌹🌹🌹🌹
Bersambung.....
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹