
Luna kembali ke rumah sakit dengan membawakan pakaian ganti untuk ibunya . Dia pun berjalan menuju ke arah ruang rawat kevin , namun seketika dia ingat akan sesuatu .
" O iya mengapa aku bisa lupa ! Aku kan harus menanyakannya pada bagian administrasi mengenai siapa orang yang telah membayar biaya rumah sakit kevin . " Gumam Luna . Dia pun berbalik arah dan berjalan menuju ke bagian administrasi .
" Ada yang bisa saya bantu nona ? " Tanya salah satu suster yang berada di sana dengan ramah .
" Maaf sus saya ingin bertanya mengenai biaya pengobatan keponakan saya atas nama Kevin Prayoga , dia di rawat di ruang Bougenville I . Kalau boleh tau siapa ya sus orang yang telah melunasi semua biayanya . " Tanya Luna .
" Hmm...maaf nona tapi orang yang telah membayar biaya rumah sakit keponakan anda meminta saya untuk merahasiakan nya jadi mohon maaf saya tidak bisa memberitahu . " Ucap suster itu dengan sedikit gugup .
" O begitu..., baiklah ! Tidak masalah , hmm...jika suster bertemu dengannya tolong sampaikan rasa terimakasih saya padanya . " Sahut Luna dan suster itu pun mengangguk paham .
Luna pun mengerti dan tak ingin mempersulit karena dia tau jika suster itu hanya menjalankan tugasnya . Meskipun pertanyaan pertanyaan yang ada di benaknya itu masih belum bisa terjawab setidaknya dia sangat bersyukur dengan orang yang telah membantu keluarganya itu , orang itu pastilah sangat berhati murni hingga tak ingin menampakkan kebaikannya , pikirnya .
----------------
Ceklek....
Luna masuk ke ruang rawat Kevin dia melihat ibunya yang sudah terlelap di sofa yang berada di sisi ruangan yang sangat luas itu . Dia meletakan paper bag yang berisi pakaiannya dan ibunya di atas meja .
Sekilas dia melihat ke arah ranjang kevin dan dia pun tersenyum bahagia saat melihat keponakannya itu sudah membuka matanya . Dia pun duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang meraih tangan kevin dan menggenggamnya .
" Kevin bagaimana keadaan mu ? Apa kau takut tadi ? Hmm...tapi aku rasa tidak ! Karena keponakan bibi ini kan sangat kuat , bukankah dia pernah mengatakan jika dia bukan anak kecil lagi . "
Ucap Luna , dia berusaha menghibur kevin karena sedari tadi Kevin hanya diam dan terlihat murung .
" Kev apa kau mau hadiah dari bibi ? Tapi ada syaratnya kau...."
Luna masih terus berusaha menghibur kevin namun bicaranya seketika terpotong oleh ucapan kevin yang tiba tiba .
" Bibi apa bibi akan marah padaku jika aku mengatakan ini ? " Ucap kevin dengan suara yang masih sedikit lemah .
Luna yang mendengar akhirnya Kevin mau bicara pun dengan sangat antusias meresponnya .
" Bagaimana bibi bisa marah dengan keponakan bibi yang imut ini hem.., katakan saja dan bibi hanya akan tersenyum padamu . " Sahut Luna sembari mengusap pipi kevin dengan lembut .
"Bibi aku merasa jika ibu tadi berada di sini , aku sangat merindukan ibu . Aku terus saja bermimpi buruk tentang ibu . Aku melihat tubuhnya luka luka hiks...hiks..." Ucap kevin dengan berlinang air mata .
Mendengar itu seketika ekspresi Luna berubah datar . Perasaan kecewa seolah kembali datang dan memenuhi hatinya . Dia sangat merasa kasihan pada kevin yang sampai terbawa mimpi karena kerinduan seorang anak pada ibunya yang bahkan menurut Luna tak pantas di sebut sebagai seorang ibu .
" Kev mimpi itu hanya bunga tidur sayang ! Jadi tidak perlu terlalu dipikirkan hem.., mengenai wanita it..hmm..maksudku ibumu , dia akan kembali jika dia sudah sadar nanti . " Ucap Luna dengan nada lembut sembari menghapus lelehan air mata di pipi kevin .
" Sadar ? Apakah ibu tertidur lama seperti putri dalam dongeng yang pernah bibi ceritakan padaku waktu itu ? " Tanya kevin dengan wajah polosnya .
Mata luna berkaca kaca melihat tatapan nanar keponakannya itu . Namun dia berusaha sebisa mungkin menahan air matanya . Dia pun tertawa untuk menutupinya .
" Ha..ha...ha kevin...kevin kau ini lucu sekali ! Kau lihat ini bibi sampai mengeluarkan air mata karena terlalu tertawa . " Ucapnya .
Luna mengusap wajah Kevin sembari menjelaskan dengan perlahan pada keponakan kecilnya itu .
" Sayang dengar bibi ya ! Terkadang seseorang tersesat di jalan yang salah dan untuk kembali ke jalan yang benar dia harus menyadari terlebih dahulu jika jalan yang dia lewati adalah salah . Kau paham kan sayang hem ? "
Kevin pun mengangguk sembari tersenyum . Meski dalam lubuk hatinya dia sangat ingin bertemu dengan ibunya . Tapi dia pun tak ingin menyusahkan bibi dan neneknya karena selama ini memang ibunya sendiri lah yang tak pernah pulang dan mau menemuinya .
******
Keesokan paginya....
Luna berangkat menuju ke kantor GRACHINE GROUP setelah perdebatan panjang dengan ibunya . Aida terus menyakinkan Luna untuk tetap pergi bekerja mengingat bagaimana sikap baik Rion yang bersedia membantu membawa Kevin ke rumah sakit kemarin . Aida pun merasa tak enak jika Luna harus bolos kerja . Dan mengenai Kevin Luna tak perlu terlalu mencemaskannya karena dia dan Arman yang akan menjaganya .
__ADS_1
Sesampainya Luna di perusahaan GRACHINE GROUP dia pun segera masuk namun netranya seketika terfokus pada seorang pria yang tengah berjalan dari arah parkiran karyawan . Pria itu adalah Andre teman dari Reno , dan hari ini dia mulai bekerja .
" Dia seperti..." Gumam Luna menyipitkan matanya karena seperti mengenal wajah pria yang semakin lama semakin terlihat jelas itu .
" Sial !! itu memang dia . "
Umpat Luna , emosinya seketika memuncak saat melihat wajah Andre dengan jelas dan tanpa aba aba Luna langsung menghampiri Andre dan memukulinya .
" Bughhhh....bughhhh... brengsek !!! "
Andre jatuh tersungkur mendapat serangan dadakan dari Luna . Darah segar pun keluar dari ujung bibirnya . Dia seketika merasa sangat kesal mendapati seseorang memukulinya tanpa sebab .
" Dasar gila ! Berani sekali kau..."
Namun saat dia mendongakkan wajahnya ke atas sembari memaki seketika bibirnya membisu saat melihat orang yang telah membuatnya babak belur adalah Luna , kekesalannya pun seketika padam . Dan raut wajahnya pun tiba tiba saja berubah sendu .
" Kau masih bisa menjalani hidup dengan tenang setelah menghancurkan keluarga ku hah !! Bughhh...., Aku akan membunuhmu brengsek ! "
Teriak Luna , dia kembali melayangkan tinjunya pada Andre dan Andre pun hanya menerimanya tanpa perlawanan , namun dia berusaha mengajak Luna untuk bicara dengan baik baik .
" Tidak lun de.. dengarkan aku dulu.. a..aku " Rintih Andre dengan terbata bata sembari menahan sakit .
Luna menghentikan aksinya , dia menarik kerah baju Andre dan menatapnya dengan penuh kebencian .
" Tutup mulutmu ! Sudah cukup..., Dan untuk apa aku mendengar kan pria sepertimu hah ! Kau yang harus mendengar ini baik baik Tuan Andreas Dinata yang terhormat ! " Sejenak Luna menghentikan bicaranya dan tersenyum sinis .
" Ck.., terhormat bagi orang orang namun sangat menjijikkan di mataku ! Dulu aku pernah menawarkan untuk bicara secara baik baik dengan mu tapi kau mengabaikan nya bukan ? Lalu apa yang membuatmu berpikir aku mau untuk mendengarkan omong kosong mu ini hah !! , Kau juga ikut bertanggung jawab dengan penderitaan keluarga ku jadi rasakan saja akibatkan . " Sambung Luna melanjutkan ucapannya . Dia pun kembali memukuli Andre secara membabi buta .
" Bughhh... bughhhh.... bughhhh...."
Rere dan beberapa karyawan yang melihat langsung menghampiri Luna dan berusaha untuk menghentikan nya .
Ucap Rere sembari memegangi tubuh Luna yang masih meronta ronta ingin kembali menghabisi pria yang sudah babak belur di depannya itu .
" biarkan saja ! Aku tidak perduli " Ucap Luna dengan meninggikan suaranya tanpa sadar air matanya juga ikut menetes .
" Luna ! " Seru Reno yang baru saja datang .
Suara bariton dari arah belakang membuat Luna dan yang lain pun menoleh ke arah sumber suara itu .
Reno langsung berlari ke arah mereka dan melihat Andre sahabatnya itu sudah jatuh tersungkur dengan wajah yang babak belur.
" Ada apa ini , kenapa kau memukulinya ? " Tanya Reno menatap Luna dengan bingung , baru kali ini dia melihat seorang gadis lugu berwajah teduh yang selama ini dapat menenangkan hatinya seakan berubah menjadi dewi kematian yang sangat mengerikan . Hal itu sungguh membuatnya terkejut bukan main .
Luna masih diam belum menjawab pertanyaan dari Reno . Dia berusaha mengatur nafasnya agar sedikit waras dan tak hilang kendali lagi . Meskipun darahnya seakan mendidih setiap kali dia menatap wajah Andre .
" Ndre ada apa ? "
Tanya Reno pada Andre karena tak mendapatkan jawaban dari Luna . Reno pun berjongkok di samping Andre dan membantunya untuk berdiri .
Luna menghembuskan nafasnya dengan kasar , kemudian dia melihat ke arah Reno yang masih memapah Andre yang telah babak belur dibuatnya itu .
" Apa dia teman mu Ren ? " Tanya luna pada Reno .
" iya.., kami berteman semenjak SMA . "
Sahut Reno , dia masih tak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana bisa Luna sampai mengenal Andre , bukankah Andre berada di luar negeri selama ini dan baru saja pulang , lalu bagaimana bisa mereka saling kenal dan apa yang telah di lakukan Andre hingga membuat Luna sampai memukulinya seperti itu , pikir Reno .
" Cihh...sungguh sulit di percaya kau berteman dengan bajingan sepertinya ! apa dia belum menunjukkan sifat aslinya di depanmu ? " Ucap Luna dengan sedikit tersenyum sinis .
__ADS_1
" Apa maksudmu ? " Tanya Reno yang menatap Luna dan Andre secara bergantian .
Pada saat Reno menatap Andre , Luna memperhatikan Andre yang hanya diam tak bergeming dan terus menundukkan wajahnya .
" Jangan meminta jawaban pada pria pengecut ini ! Dia tidak akan bisa berkata jujur dan mengakui semua kebejatan nya padamu ck , itu sama saja akan merusak citranya di matamu . Bukankah begitu tuan Andreas ? " Ucap Luna melihat Andre dengan tatapan sinis .
Reno yang semakin tak mengerti pun langsung pergi membawa Andre karena tak ingin keributan kembali terjadi .
Luna hanya melihat sekilas kepergian mereka . Dia masih tak menyangka pria sebaik Reno bisa berteman dengan orang seperti Andre .
Rere yang masih berada di situ pun dengan cepat menarik tangan Luna ke sudut gedung yang terlihat sepi .
" Hei ! Apa kau sudah hilang akal ? Bagaimana bisa kau membuat keributan di depan umum begitu ! Bahkan di depan tuan Reno , apa kau sudah gila ! Pria itu bahkan nyaris mati karena mu . "
Ucap Rere dengan sedikit kesal , dia kembali dibuat spot jantung dengan sikap preman sahabatnya ini .
" Cec.., ha aku memang gila ! Jadi aku pasti akan memukulinya lagi nanti , dan bahkan jika aku menghabisinya pun tak akan ada yang menuntut ku karena aku ini seorang dengan gangguan jiwa ! Iya kan ? " Ucap Luna dengan enteng sembari terkekeh .
Dan hal itu sontak membuat Rere langsung meletakkan tangannya di kening Luna .
" Pantas saja ! Kau sedikit panas . " Ucap Rere sembari mencebikkan bibirnya . Melihat itu Luna pun semakin terkekeh .
Luna jadi teringat ucapan Rere di masa lalu dia pun kembali menanyakan hal itu dan ingin melihat reaksi dari sahabatnya ini .
" Re ! Apa kau ingat saat aku ceritakan padamu tentang masalah Steyla dulu? " Tanya Luna .
Rere tersenyum kecut mendengar pertanyaan dari Luna ini .
" Bagaimana mungkin aku lupa , bahkan tangan ku sampai sekarang saja masih gatal ingin mencincang bedebah yang sudah memperkosa kakakmu itu . "
Jawab Rere dengan sedikit kesal mengingat kejadian yang dialami Steyla waktu itu . Rere sangat anti dengan pria yang tak mau bertanggungjawab dan mencampakkan wanita setelah mendapatkan kepuasan seperti apa yang kekasih Steyla lakukan di masa lalu .
" Apa yang akan kau lakukan jika bertemu dengan nya ? " Tanya Luna kembali .
" Bertemu dengan bajingan gila itu ? Aku ? Kenapa masih bertanya..., Tentu saja aku akan memukulinya hingga semua giginya rontok ! Dan akan mematahkan kakinya , aku akan membuka matanya lebar lebar agar dia bisa melihat dengan jelas bagaimana selama ini anak nya itu hidup tanpa ibu tanpa ayah..., Dia tidak tau itu sangat menyakitkan hiks...hiks...setiap melihat kevin aku selalu melihat masa kecilku sendiri hiks...hiks.."
Ucap Rere dengan amarah yang terpendam di awal namun seketika dia menangis tatkala mengingat nasibnya yang hidup sebatang kara . Dan setiap melihat Kevin dia selalu teringat tentang masa kecilnya dulu hal itulah yang membuat Rere juga ikut membenci kekasih Steyla yang tak bertanggungjawab itu .
" Maaf kan aku Re aku tidak bermaksud membuat mu..."
Ucap Luna merasa bersalah karena secara tak langsung dia telah membuat sahabatnya itu bersedih .
" Sudahlah ! Kau tidak melakukan kesalahan apapun , aku hanya kesal saat kau mengingatkan ku dengan bedebah yang telah menghancurkan keluarga mu itu . " Sahut Rere .
" Maka kau pasti akan terkejut saat aku mengatakan hal ini . " Ucap Luna .
" Apa ? "
Tanya Rere dengan santai , dia mengira jika Luna akan mengatakan hal biasa biasa saja padanya atau bercanda dengannya .
" Pria yang aku pukuli tadi sebenarnya dia adalah...."
Sejenak Luna menghentikan bicaranya dan mengambil nafas dalam dalam lalu menghembuskan nya dengan berat . Kemudian Luna pun melanjutkan bicaranya .
🐼🐼🐼🐼
Bersambung....
🐼🐼🐼🐼
__ADS_1