
Dean menemui ayahnya di kantornya (William's Company) sebuah perusahaan yang cukup besar di kota ini . Sebenarnya ayah Dean yaitu Affandi William sudah lama sekali menginginkan Dean untuk menggantikannya memimpin perusahaan . Namun Dean memilih jalannya sendiri yaitu menjadi seorang fotografer . Dean memiliki beberapa galery seni yang cukup terkenal di kota ini , bahkan selain fotografi Dean juga memiliki bakat lain di bidang lukis melukis .
Meskipun Affandi sangat menginginkan Dean untuk memimpin perusahaan dan menggantikan kedudukannya , namun dia tak pernah sekalipun memaksa putranya itu , dia membebaskan Dean untuk memilih jalannya sendiri selagi itu masih berada dalam ranah yang positif dan tidak merugikannya . Affandi cukup bangga dengan apa yang sudah di peroleh Dean dari hasil kerja kerasnya sendiri . Dia sangat senang putranya itu bisa membuat namanya sendiri tanpa adanya bayang bayang dan campur tangan dirinya .
Meski tak sepenuhnya ikut andil dalam perusahaan , namun sesekali Dean masih tetap membantu ayahnya dalan mengurus perusahaannya itu .
Dean langsung masuk ke dalam ruangan ayahnya tanpa mengetok pintu terlebih dahulu seperti yang sudah biasa dilakukannya .
Ceklek....
Affandi sedikit terkejut saat melihat kedatangan Dean , Namun kedatangan Dean ini di sambut dengan hangat oleh sang ayah .
" Dean william putraku.., tumben sekali kau maun berkunjung kemari . " Seru Affandi dengan melebarkan senyumnya .
Dean hanya terkekeh dalam hati melihat ayahnya ini , dia menghampiri ayahnya dan tersenyum tipis .
" Aku hanya kebetulan lewat sini jadi sekalian saja aku mampir . "
Ucapnya dengan nada datar . Sebenarnya dia hanya ingin bercanda saja dengan ayahnya . Dan ucapannya ini sukses membuatnya mendapatkan pukulan keras dari sang ayah di bahunya .
" Dasar anak kurang ajar.., bisa bisanya kau berkata seperti itu pada ayahmu , apakah jika tidak kebetulan kau memang tidak ada niatan sedikitpun untuk mengunjungi ayahmu ini hah ? "
Ucap Affandi dengan memasang raut wajah kesal namun dibalik itu dia berusaha dengan sekuat tenaga untuk menahan tawanya .
Begitupun dengan Dean yang juga menahan tawanya melihat respon dari sang ayah padanya . Hingga sesaat kemudian Affandi menepuk pundak Dean dan terkekeh . Dean pun melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan sang ayah padanya . Begitulah hubungan antara ayah dan anak itu selalu diiringi dengan canda dan tawa .
Dean sudah kehilangan sosok seorang ibu sejak dia masih duduk di bangku sekolah dasar . Ibunya meninggal dikarenakan sakit yang di deritanya .
Dan setelah kepergian istrinya , Affandi tidak ingin menikah lagi karena baginya cintanya sudah pergi bersama dengan kepergian sang istri , dia begitu mencintai nya hingga tak rela ada wanita lain yang menggantikan posisi istrinya itu .
Affandi berjuang dengan keras untuk menjadi sosok ayah sekaligus ibu bagi Dean , putranya . Dia membesarkan Dean seorang diri , menghujaninya dengan banyak cinta dan kasih sayang sehingga Dean perlahan dapat melupakan kesedihannya yang ditinggal oleh sang ibu . Affandi selalu berusaha meluangkan waktu di sela sela dia bekerja hanya untuk sekedar menemani Dean bermain . Dan hal itulah yang membuat hubungan antara ayah dan anak itu sangat dekat hingga sekarang . Seringkali Affandi menempatkan dirinya sebagai seorang teman saat mengobrol dengan Dean dan hal itu lah yang selalu membuat hubungan antara ayah dan anak itu terlihat sangat hangat .
\=\=\=\=\=\=\=\=
Beberapa saat kemudian......
" O iya kebetulan kau disini ayah ingin memperkenalkanmu pada seseorang . "
__ADS_1
Ucap Affandi yang kemudian mengambil telepon yang berada di atas meja kerjanya dan terlihat menghubungi seseorang .
Affandi menghubungi sekertarisnya dan memerintahkan nya untuk menyuruh seseorang yang akan dia kenalkan pada putranya itu untuk segera keruangan nya .
" Suruh pak Robert untuk keruangan ku sekarang ! " Titah Affandi , kemudian dia meletakan kembali telepon nya .
Dean hanya mengerutkan dahinya dan sesekali menggaruk tekuknya yang tak gatal , dia tak tau siapa orang yang di maksud ayahnya itu .
Hingga tak lama mereka menunggu , akhirnya orang yang bersangkutan pun datang .
Tok....tok...tok...
" Masuk " seru Affandi , dan Dean hanya menatap ayahnya dengan penuh tanya dan sesekali melirik ke arah pintu .
Ceklek.....
" Maaf tuan , tuan Affandi memanggil saya . " Ucap Robert dengan penuh sopan .
Dean seketika dibuat terkejut saat melihat siapa orang yang dimaksud ayahnya itu . Yah benar..., Robert adalah orang yang sama yang dilihatnya di depan bar waktu itu, dimana dia memukuli seorang wanita dengan kasarnya .
" Bajingan ini ! Bagaimana ayah bisa sampai mengenalnya ? " Gumam Dean dalam hati .
" Dean kenalkan ini pak Robert kepala keuangan di perusahaan kita , sebenarnya papa baru saja menaikkan jabatannya karena pekerjaannya sangat bagus dan dia juga sering membantu papa . " Ucap Affandi .
Robert kemudian mengulurkan tangannya ke arah Dean sembari berkata .....
" Perkenalkan saya Robert , senang akhirnya saya bisa bertemu dengan anda tuan Dean . "
Robert menunggu agar Dean menjabat tangannya , namun hal itu tak kunjung terjadi karena Dean saat ini sedang hanyut dalam pikirannya sendiri .
" Apa !!! , Dia bekerja disini . Bagaimana bisa bajingan ini bekerja di sini . Dia bahkan terlihat sangat mencurigakan , tapi sepertinya ayah sangat mempercayainya . Ahh..., Aku harus segera menyelidiki nya . "
Hingga lamunan Dean seketika buyar saat ayahnya menepuk lengannya sembari memanggilnya .
" Dean...Dean.., hei . "
" A..ah iya.., maaf ayah pikiranku sedang ditempat lain tadi . "
Ucap Dean dengan sedikit tersenyum , dia pun kembali bersikap biasa seolah tak pernah melihat Robert sebelumnya . Dia akan menyelidiki Robert secara diam diam karena entah mengapa dia sangat yakin jika Robert itu bukanlah orang yang baik tidak seperti apa yang ayahnya katakan padanya tadi .
__ADS_1
" Hmm..., Senang bisa bertemu dengan anda . "
Ucap Dean sembari membalas jabat tangan Robert dan sedikit menggulum kan senyum padanya . Yah Dean tersenyum karena sepertinya Robert tidak mengenalinya . Dan hal itu akan membuat nya lebih mudah untuk mencari tau tentang Robert .
Mereka pun saling mengobrol membahas masalah bisnis dan diiringi dengan candaan di sela sela pembicaraan mereka . Dean lebih banyak diam dan hanya menjawab seperlunya saja , dia masih mengamati sikap Robert yang sungguh sangat berbeda dari yang pernah dia lihat sebelumnya .
" Dia ini sepertinya seekor rubah bermuka dua . " Batin Dean .
Beberapa saat kemudian....
"Baiklah tuan Affandi , tuan Dean , saya pamit kembali ke ruangan saya karena masih banyak pekerjaan . " Pamit Robert pada keduanya .
" Baiklah ! silahkan . '' Sahut Affandi , mempersilahkan Robert untuk keluar .
Dean hanya menggulum senyum palsu pada Robert sebelum pria paruh baya itu melangkahkan kakinya dan pergi dari ruangan ayahnya .
_______________
Sementara di rumah sakit , Aida dan Arman saling menatap saat mendengar titah dokter Hendra pada salah seorang suster yang datang bersama nya .
" Sus , pindahkan pasien ke ruang perawatan , kita harus segera memulai prosedur nya sekarang ! . "
Ucap dokter itu sembari terus berjalan dengan terburu buru . Sementara suster dengan segera melakukan apa yang dokter itu perintahkan padanya .
" Dok..., Apa yang terjadi ? "
Tanya Aida dengan panik setelah mendengar ucapan dokter pada suster tadi , dia melihat dokter itu sangat terburu-buru tanpa menjelaskan apapun padanya .
Dokter Hendra menghentikan langkahnya sejenak dan menjelaskan semuanya pada Aida setelah itu dia kembali berjalan pergi .
" Kevin akan segera menjalani prosedur cuci darah . Maaf saya tidak bisa menjelaskan banyak , Anda berdoa saja semoga semuanya berjalan lancar , saya akan berusaha semaksimal mungkin . " Ucap dokter Hendra dengan cepat sebelum dia berlalu pergi .
Aida merasa sedikit lega saat mendengar apa yang dokter itu katakan padanya barusan . karena akhirnya cucunya itu tak harus menunggu lagi untuk mendapatkan penanganan yang lebih serius . Di sisi lain dia merasa sedikit bingung karena bagaimana bisa Luna mendapatkan uang dengan secepat ini dan membayar semua biayanya . Karena Aida berfikir jika Luna sudah membayar semua biaya pengobatan kevin oleh sebab itu lah dokter segera menanganinya . Akan tetapi yang membuat Aida semakin bingung adalah , dia tak melihat keberadaan putrinya itu sejak tadi . Karena jika Luna sudah kembali ke rumah sakit dan bahkan sudah berhasil mengurus biaya administrasi kevin . seharusnya Aida sudah melihat putrinya itu dari tadi , pikirnya .
🌵🌵🌵🌵
Bersambung.....
🌵🌵🌵🌵
__ADS_1