Obsesi Cinta Sepihak

Obsesi Cinta Sepihak
Episode 33


__ADS_3

Dean menemui ayahnya di kantornya (William's Company) sebuah perusahaan yang cukup besar di kota ini . Sebenarnya ayah Dean yaitu Affandi William sudah lama sekali menginginkan Dean untuk menggantikannya memimpin perusahaan . Namun Dean memilih jalannya sendiri yaitu menjadi seorang fotografer . Dean memiliki beberapa galery seni yang cukup terkenal di kota ini , bahkan selain fotografi Dean juga memiliki bakat lain di bidang lukis melukis .


Meskipun Affandi sangat menginginkan Dean untuk memimpin perusahaan dan menggantikan kedudukannya , namun dia tak pernah sekalipun memaksa putranya itu , dia membebaskan Dean untuk memilih jalannya sendiri selagi itu masih berada dalam ranah yang positif dan tidak merugikannya . Affandi cukup bangga dengan apa yang sudah di peroleh Dean dari hasil kerja kerasnya sendiri . Dia sangat senang putranya itu bisa membuat namanya sendiri tanpa adanya bayang bayang dan campur tangan dirinya .


Meski tak sepenuhnya ikut andil dalam perusahaan , namun sesekali Dean masih tetap membantu ayahnya dalan mengurus perusahaannya itu .


 


Dean langsung masuk ke dalam ruangan ayahnya tanpa mengetok pintu terlebih dahulu seperti yang sudah biasa dilakukannya .


Ceklek....


Affandi sedikit terkejut saat melihat kedatangan Dean , Namun kedatangan Dean ini di sambut dengan hangat oleh sang ayah .


" Dean william putraku.., tumben sekali kau maun berkunjung kemari . " Seru Affandi dengan melebarkan senyumnya .


Dean hanya terkekeh dalam hati melihat ayahnya ini , dia menghampiri ayahnya dan tersenyum tipis .


" Aku hanya kebetulan lewat sini jadi sekalian saja aku mampir . "


Ucapnya dengan nada datar . Sebenarnya dia hanya ingin bercanda saja dengan ayahnya . Dan ucapannya ini sukses membuatnya mendapatkan pukulan keras dari sang ayah di bahunya .


" Dasar anak kurang ajar.., bisa bisanya kau berkata seperti itu pada ayahmu , apakah jika tidak kebetulan kau memang tidak ada niatan sedikitpun untuk mengunjungi ayahmu ini hah ? "


Ucap Affandi dengan memasang raut wajah kesal namun dibalik itu dia berusaha dengan sekuat tenaga untuk menahan tawanya .


Begitupun dengan Dean yang juga menahan tawanya melihat respon dari sang ayah padanya . Hingga sesaat kemudian Affandi menepuk pundak Dean dan terkekeh . Dean pun melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan sang ayah padanya . Begitulah hubungan antara ayah dan anak itu selalu diiringi dengan canda dan tawa .


Dean sudah kehilangan sosok seorang ibu sejak dia masih duduk di bangku sekolah dasar . Ibunya meninggal dikarenakan sakit yang di deritanya .


Dan setelah kepergian istrinya , Affandi tidak ingin menikah lagi karena baginya cintanya sudah pergi bersama dengan kepergian sang istri , dia begitu mencintai nya hingga tak rela ada wanita lain yang menggantikan posisi istrinya itu .


Affandi berjuang dengan keras untuk menjadi sosok ayah sekaligus ibu bagi Dean , putranya . Dia membesarkan Dean seorang diri , menghujaninya dengan banyak cinta dan kasih sayang sehingga Dean perlahan dapat melupakan kesedihannya yang ditinggal oleh sang ibu . Affandi selalu berusaha meluangkan waktu di sela sela dia bekerja hanya untuk sekedar menemani Dean bermain . Dan hal itulah yang membuat hubungan antara ayah dan anak itu sangat dekat hingga sekarang . Seringkali Affandi menempatkan dirinya sebagai seorang teman saat mengobrol dengan Dean dan hal itu lah yang selalu membuat hubungan antara ayah dan anak itu terlihat sangat hangat .


\=\=\=\=\=\=\=\=


Beberapa saat kemudian......


" O iya kebetulan kau disini ayah ingin memperkenalkanmu pada seseorang . "

__ADS_1


Ucap Affandi yang kemudian mengambil telepon yang berada di atas meja kerjanya dan terlihat menghubungi seseorang .


Affandi menghubungi sekertarisnya dan memerintahkan nya untuk menyuruh seseorang yang akan dia kenalkan pada putranya itu untuk segera keruangan nya .


" Suruh pak Robert untuk keruangan ku sekarang ! " Titah Affandi , kemudian dia meletakan kembali telepon nya .


Dean hanya mengerutkan dahinya dan sesekali menggaruk tekuknya yang tak gatal , dia tak tau siapa orang yang di maksud ayahnya itu .


Hingga tak lama mereka menunggu , akhirnya orang yang bersangkutan pun datang .


Tok....tok...tok...


" Masuk " seru Affandi , dan Dean hanya menatap ayahnya dengan penuh tanya dan sesekali melirik ke arah pintu .


Ceklek.....


" Maaf tuan , tuan Affandi memanggil saya . " Ucap Robert dengan penuh sopan .


Dean seketika dibuat terkejut saat melihat siapa orang yang dimaksud ayahnya itu . Yah benar..., Robert adalah orang yang sama yang dilihatnya di depan bar waktu itu, dimana dia memukuli seorang wanita dengan kasarnya .


" Bajingan ini ! Bagaimana ayah bisa sampai mengenalnya ? " Gumam Dean dalam hati .


" Dean kenalkan ini pak Robert kepala keuangan di perusahaan kita , sebenarnya papa baru saja menaikkan jabatannya karena pekerjaannya sangat bagus dan dia juga sering membantu papa . " Ucap Affandi .


Robert kemudian mengulurkan tangannya ke arah Dean sembari berkata .....


" Perkenalkan saya Robert , senang akhirnya saya bisa bertemu dengan anda tuan Dean . "


Robert menunggu agar Dean menjabat tangannya , namun hal itu tak kunjung terjadi karena Dean saat ini sedang hanyut dalam pikirannya sendiri .


" Apa !!! , Dia bekerja disini . Bagaimana bisa bajingan ini bekerja di sini . Dia bahkan terlihat sangat mencurigakan , tapi sepertinya ayah sangat mempercayainya . Ahh..., Aku harus segera menyelidiki nya . "


Hingga lamunan Dean seketika buyar saat ayahnya menepuk lengannya sembari memanggilnya .


" Dean...Dean.., hei . "


" A..ah iya.., maaf ayah pikiranku sedang ditempat lain tadi . "


Ucap Dean dengan sedikit tersenyum , dia pun kembali bersikap biasa seolah tak pernah melihat Robert sebelumnya . Dia akan menyelidiki Robert secara diam diam karena entah mengapa dia sangat yakin jika Robert itu bukanlah orang yang baik tidak seperti apa yang ayahnya katakan padanya tadi .

__ADS_1


" Hmm..., Senang bisa bertemu dengan anda . "


Ucap Dean sembari membalas jabat tangan Robert dan sedikit menggulum kan senyum padanya . Yah Dean tersenyum karena sepertinya Robert tidak mengenalinya . Dan hal itu akan membuat nya lebih mudah untuk mencari tau tentang Robert .


Mereka pun saling mengobrol membahas masalah bisnis dan diiringi dengan candaan di sela sela pembicaraan mereka . Dean lebih banyak diam dan hanya menjawab seperlunya saja , dia masih mengamati sikap Robert yang sungguh sangat berbeda dari yang pernah dia lihat sebelumnya .


" Dia ini sepertinya seekor rubah bermuka dua . " Batin Dean .


Beberapa saat kemudian....


"Baiklah tuan Affandi , tuan Dean , saya pamit kembali ke ruangan saya karena masih banyak pekerjaan . " Pamit Robert pada keduanya .


" Baiklah ! silahkan . '' Sahut Affandi , mempersilahkan Robert untuk keluar .


Dean hanya menggulum senyum palsu pada Robert sebelum pria paruh baya itu melangkahkan kakinya dan pergi dari ruangan ayahnya .


_______________


Sementara di rumah sakit , Aida dan Arman saling menatap saat mendengar titah dokter Hendra pada salah seorang suster yang datang bersama nya .


" Sus , pindahkan pasien ke ruang perawatan , kita harus segera memulai prosedur nya sekarang ! . "


Ucap dokter itu sembari terus berjalan dengan terburu buru . Sementara suster dengan segera melakukan apa yang dokter itu perintahkan padanya .


" Dok..., Apa yang terjadi ? "


Tanya Aida dengan panik setelah mendengar ucapan dokter pada suster tadi , dia melihat dokter itu sangat terburu-buru tanpa menjelaskan apapun padanya .


Dokter Hendra menghentikan langkahnya sejenak dan menjelaskan semuanya pada Aida setelah itu dia kembali berjalan pergi .


" Kevin akan segera menjalani prosedur cuci darah . Maaf saya tidak bisa menjelaskan banyak , Anda berdoa saja semoga semuanya berjalan lancar , saya akan berusaha semaksimal mungkin . " Ucap dokter Hendra dengan cepat sebelum dia berlalu pergi .


Aida merasa sedikit lega saat mendengar apa yang dokter itu katakan padanya barusan . karena akhirnya cucunya itu tak harus menunggu lagi untuk mendapatkan penanganan yang lebih serius . Di sisi lain dia merasa sedikit bingung karena bagaimana bisa Luna mendapatkan uang dengan secepat ini dan membayar semua biayanya . Karena Aida berfikir jika Luna sudah membayar semua biaya pengobatan kevin oleh sebab itu lah dokter segera menanganinya . Akan tetapi yang membuat Aida semakin bingung adalah , dia tak melihat keberadaan putrinya itu sejak tadi . Karena jika Luna sudah kembali ke rumah sakit dan bahkan sudah berhasil mengurus biaya administrasi kevin . seharusnya Aida sudah melihat putrinya itu dari tadi , pikirnya .


🌵🌵🌵🌵


Bersambung.....


🌵🌵🌵🌵

__ADS_1


__ADS_2