
Luna yang sudah selesai mandi sedang mengeringkan rambutnya dengan menggunakan hairdryer , sembari berjalan ke kamar ibunya karena ada hal penting yang ingin dia katakan . Namun seketika dia terkejut dan bingung melihat setelan seragam yang nampak seperti baju pelayan berada di atas tempat tidur . Dia pun langsung menanyakan nya pada ibunya.
" Ibu..., seragam siapa ini ? Mengapa berada di sini ? " Tanya Luna dengan bingung sembari menatap Ibunya .
"Ibu mendapatkan pekerjaan menjadi pelayan di sebuah restoran , dan besok ibu sudah bisa mulai bekerja ".
Dengan lembut dan penuh senyuman Aida menjawabnya tapi seketika air matanya terlihat berkaca kaca saat menatap wajah Luna yang mendadak berubah sendu .
"Mengapa ibu melakukan itu , bukankah aku sudah melarang ibu untuk bekerja . Ibu sudah tidak muda lagi sekarang bahkan lutut ibu sering merasa sakit bukan ? ." Ucap Luna yang mencoba menjelaskan kekhawatiran nya pada ibunya .
Seketika Aida meneteskan air matanya , dia terus menjelaskan pada Luna bahwa saat ini mereka benar benar membutuhkan banyak biaya . Aida juga tidak tega melihat putrinya itu banting tulang sendirian , sementara dia hanya diam saja .
"Pemilik rumah menaikkan lagi biaya sewa nya, dia juga menagih biaya sewa bulan kemarin yang belum kita bayarkan . Jadi ibu mohon jangan larang ibu bekerja ya nak . Ibu tidak bisa melihatmu menanggung semua tanggungjawab ini seorang diri . Belum lagi dengan biaya pengobatan kevin . Anak malang itu harus secepatnya melakukan cuci darah jika tidak maka kondisinya akan memburuk ."
...~~~...
Mereka memang hidup serba kekurangan , selama ini Luna lah yang menjadi tulang punggung keluarga . Dia mengambil banyak sekali pekerjaan paruh waktu sembari terus mencari pekerjaan tetap dengan gaji yang lumayan , impiannya adalah bekerja di sebuah perusahaan besar dengan gaji yang tinggi namun karena dia hanya lulusan SMA sangat sulit baginya untuk meraih impiannya itu . Akan tetapi dia selalu mencobanya di setiap kesempatan yang ada ,meskipun berulangkali gagal Luna tetap semangat dan pantang menyerah .
Luna memiliki seorang kakak bernama Steyla . Namun Steyla memutuskan hubungan dengannya dan juga ibunya setelah menikah dengan seorang pria kaya yang umurnya jauh lebih tua darinya.Bahkan pria itu sudah memiliki dua istri dan Steyla menjadi istrinya yang ke tiga . Sejak saat itu Steyla tidak pernah perduli dengan kondisi ibunya ataupun adiknya bahkan dia juga meninggalkan anaknya sendiri yang saat itu masih berusia 4 tahun bersama mereka .
Steyla memang sudah memiliki anak dengan mantan pacarnya dulu . Namun mantan pacarnya itu tidak bertanggungjawab dan menghilang entah kemana .
Kevin yang tak lain adalah anak dari Steyla saat ini sudah berusia 7 tahun . Namun nasibnya sungguh malang karena baru baru ini dokter mendiagnosa nya menderita penyakit gagal ginjal sehingga harus secepatnya melakukan cuci darah.
...~~~...
Melihat ibunya menangis Luna pun memeluk ibunya dan berusaha menahan air matanya . Namun air matanya seketika tumpah dan tak bisa dia tahan lagi. Mereka pun menangis dengan terisak isak . Ketidakberdayaan akan keadaan itulah yang mungkin tersirat dalam hati keduanya .
Sesaat kemudian Aida kembali menenangkan Luna sembari menghapus air matanya dengan menggunakan tangan lembut nya itu . Lalu dia mencoba mengatakan sesuatu pada Luna .
" Tidak kah seharusnya kita beri tahu saja mengenai penyakit kevin pada Steyla karena bagaimanapun juga dia adalah ibunya . Kevin pasti sangat merindukannya , setiap malam dia terus saja mengigau memanggilnya ".
Ucap Aida dengan penuh kesedihan mengingat cucunya yang selalu merindukan sosok seorang ibu .
"Mengapa ibu menyebut nama wanita jahat itu , Dan apa yang ibu katakan..., Untuk apa kita memberitahukannya mengenai kevin .
Dia bahkan meninggalkan nya tanpa menoleh sedikitpun . Lalu apa yang membuat ibu berpikir dia akan mau untuk menemui kevin . Wanita egois itu hanya memikirkan hidupnya sendiri ."
Ucap luna dengan mata yang masih berkaca kaca.
"Maafkan ibu Luna ...,karena ibumu ini sangat miskin hingga membuatmu menanggung tanggungjawab seberat ini . Bahkan kakakmu begitu tersiksa dengan hidup yang seperti ini hingga dia pergi , semua ini salah ibu . "
Aida kembali menangis dengan terisak isak hingga membuat air mata Luna kembali berjatuhan .
"Kumohon.., ibu jangan menangis . Aku tidak pernah kecewa dengan ibu . Selamanya ibu adalah ibu yang terbaik di mataku . Aku tidak akan pernah meninggalkan ibu dalam kondisi apapun . Dan bagaimana ibu bisa berpikir kalau semua ini salah ibu , wanita itulah yang tidak bisa berpikir jernih dan lebih memilih uang ".
Ucap Luna sembari memeluk ibunya yang terus saja menangis dan menyalakan dirinya sendiri.
Kemudian sebuah suara kecil terdengar hingga membuat Aida dan Luna sedikit terkejut dan seketika mengusap air mata mereka.
"Bibi..,nenek.., mengapa kalian menangis ? Apa aku telah melakukan kesalahan ? Apa seseorang mengatakan hal buruk pada nenek lagi ? "
Suara itu adalah suara kevin yang baru saja pulang dari sekolahnya , dia merasa bingung sekaligus sedih saat melihat Aida dan Luna menangis .
"Ahhh , tidak sayang ! Nenek hanya habis menonton film sedih bersama bibi mu . Oh iya bagaimana dengan sekolahmu tadi ? Apa kah cucu nenek ini belajar dengan baik hemm ? "
__ADS_1
ucap Aida sembari menatap wajah polos cucunya itu dan sesekali membelainya.
" Tentu saja ! aku ini kan anak yang sangat pintar , Bukankah nenek sendiri yang mengatakannya . "
sahut Kevin dengan mata berbinar nya .
"Ya tentu saja ! Keponakan kesayangan bibi ini kan memang sangat pintar . Baiklah.., sekarang ganti bajumu dulu dan setelah itu makan . " Ucap Luna sambil mencubit gemas pipi tembem keponakannya itu.
Kevin pun menuruti apa yang di perintahkan bibi nya padanya.
Tiba tiba Luna teringat bahwa dirinya sudah terlambat bekerja , secepatnya dia pun segera bersiap .
"Astaga jam berapa sekarang ! ibu aku harus segera pergi kerja . "
ucap luna dengan raut wajah panik dia berlari ke kamarnya untuk bersiap.
Setelah Luna selesai bersiap tak lupa dia berpamitan dengan ibu dan juga keponakannya yang sedang berada di ruang tengah , terlihat kevin sedang makan dengan di temani Aida .
"Ibu aku berangkat kerja dulu ! dahhh Kevin ."
Dengan terburu buru Luna pun segera pergi .
"Hati hati nak.. "
Ucap Aida dengan sedikit mengeraskan suaranya karena Luna sudah berlari ke luar.
...******...
Disisi lain Bimo saat ini sedang menjadi pelampiasan kemarahan Antony . Dia pun hanya bisa terdiam kaku dan menerima amukan majikannya itu .
" Bimo.., kau ini bagaimana ! bahkan kau tidak pernah bisa aku andalkan ! Bagaimana bisa kau membiarkan Rion pergi begitu saja ,seharusnya kau menahannya ."
"Maaf tuan ! tapi tuan muda melarang saya untuk mengawalnya , dia pergi sendiri dengan mobilnya . "
Ucap Bimo dengan rasa takut yang terlihat di matanya .
" Dasar kau ini !!! mulai sekarang ikuti saja perintahku . "
Bentak Antony mendengar penjelasan yang di ucapkan Bimo barusan.
"Baik tuan . "
Sementara Rion saat ini sedang berada di basecamp AZORY di sana juga ada Dean bersama dengan beberapa anak AZORY yang lain .
Tiba tiba datang dua pria yang langsung bergabung dengan mereka kedua pria itu adalah Revan dan Garry yang juga merupakan anggota geng AZORY
" Rion.., apa ini benar kau ? bagaimana kabarmu ? belakangan ini aku tidak melihatmu di basecamp , kau kemana saja ?. "
Seru Revan yang langsung menghampiri Rion dengan penuh antusias .
" Kau ini bicara apa ? tentu saja dia sibuk dengan urusan bisnis secara dia ini kan penerus GRACHINE Group , anak CEO terkaya Antony Destriov bukan kah sudah terlihat jelas ! "
sahut Garry dengan ekspresi konyolnya yang seolah meledek Rion . padahal dia hanya ingin sedikit menggoda temannya yang dingin itu.
"Hei Garry apakah kau benar benar sudah bosan hidup ? sekali lagi kau mencoba bercanda dengan ku , aku akan mencekik lehermu itu . "
__ADS_1
ucap Rion sembari menatap tajam kearah Garry yang seketika membuat Garry jadi bergidik ngeri melihatnya.
"sudahlah mengapa kalian mengganggunya , lebih baik kalian belikan minuman untukku ."
Seru Dean yang sontak membuat mereka semua kaget seakan tak percaya seorang Dean mengatakan itu .
Karena yang mereka tau selama ini di antara yang lain Dean lah yang paling kalem ,bahkan mereka jarang sekali melihat Dean minum ataupun pergi ke club .
"Apa aku tidak salah dengar ! tidak biasanya kau seperti ini , bahkan dari wajahmu sepertinya kau terlihat sangat frustasi . Apa yang terjadi ? "
Tanya revan sembari menoleh ke arah Dean yang terlihat pening itu.
" Kau tau kan Dara itu adalah pacarku . "
"Aku tau ! Kau tidak perlu memamerkannya lagi. "
ucap Garry yang tiba tiba menyela pembicaraan mereka .
"Status ku dan Dara memang pacaran tapi aku benar benar tidak mengerti dengan sikapnya ini . kadang kadang dia terlihat tidak perduli padaku, bahkan saat ada wanita lain yang berusaha menggodaku dia tidak terlihat marah sedikitpun . Tapi terkadang dia tiba tiba saja menelponku dan terlihat begitu perhatian ."
Ucap Dean raut wajah bimbang nya .
"Aku bahkan sudah tiga kali mengajaknya menikah tapi dia menolakku dengan alasan dia belum siap , tapi aku rasa dia hanya mencari alasan saja . "
sambung Dean yang tanpa sadar malah membongkar aib nya sendiri .
" What the hell...., Mengapa kau masih bertahan dengan nya , kau kan tampan cari saja wanita lain . Bahkan aku meragukan kalau Dara itu benar benar mencintaimu ."
seru Garry dengan gaya bicaranya yang terlihat seperti ibu ibu yang sedang mengomel .
" Jika bisa aku sudah melakukan nya , tapi bagaimana lagi aku sangat mencintainya . "
ucap Dean yang masih galau , namun sedetik kemudian ekspresi nya berubah kesal dan tiba tiba menjitak kepala Garry sembari memakinya .
"Dan kau ! berani sekali kau mencoba memprovokasi ku , apa kau ingin mati hah ? ."
Bahkan saat ini mereka sudah terlihat seperti tom and Jerry .
"Sudahlah ! kalian ini meributkan hal yang sangat tidak berguna sekali . Hei Dean aku akan pergi ke bar apa kau mau ikut ? ."
Seru Rion yang seketika menghentikan pertengkaran antara kucing dan tikus itu .
" Baiklah , ayo pergi ! Tapi ingat , kau jangan terlalu banyak minum seperti kemarin . Bahkan kau itu bukan tipe orang yang bisa minum banyak tapi tetap saja kau memaksakannya ."
ucap Dean yang memperingatkan Rion untuk tidak melakukan hal gila seperti sebelumnya.
"chahh..,siapa kau yang berani mengatur ku ? "
Ucap Rion dengan senyum dinginnya .
"Aishhh ! berandal satu ini benar benar ..."
Gerutu Dean yang sedikit kesal dengan ucapan Rion yang menjengkelkan itu .
" Sudahlah , ayo . "
__ADS_1
Bersambung.....
🌺🌺🌺