Obsesi Cinta Sepihak

Obsesi Cinta Sepihak
Episode 23


__ADS_3

Kantor GRACHINE GROUP


Rion yang masih sangat kesal karena melihat Luna dan Reno yang saling bercanda tadi melampiaskan kekesalannya pada Luna . Dia pun melimpahkan semua pekerjaannya pada Luna tanpa perduli apakah Luna bisa mengerjakannya atau tidak . Rion juga mengancam Luna jika dia tidak akan membiarkannya pulang sebelum pekerjaan nya selesai dengan benar .


Luna dibuat pening dengan tumpukan berkas yang begitu banyak yang harus dia periksa secara detail bahkan sampai titik komanya , Rion juga memintanya untuk membuat laporan dengan cepat . Luna bingung harus mengerjakan yang mana dulu karena Rion terus saja mendesaknya untuk mengerjakannya secara bersamaan dan ini sangat mustahil bagi Luna yang notabenenya memang tidak berpengalaman dan masih harus banyak belajar karena memang profesi asisten pribadi seorang CEO tidak pernah dibayangkan oleh Luna sebelumnya .


Sementara Rion sedari tadi hanya terkekeh dalam hati melihat Luna yang kalang kabut dibuatnya , dia menyandarkan dirinya di sofa sembari menonton televisi dengan santai nya tanpa memperdulikan asistennya itu saat ini sedang sangat stres .


" Ish..., Apakah asisten pribadi harus selalu menempel dengannya setiap saat , dia bahkan tidak memberiku ruangan sendiri dan selalu saja mengawasiku . Chahhh ini sangat membuatku gila . Bagaimana dia bisa berpikir aku sanggup mengerjakan semua ini . "


Gerutu Luna dengan pelan dari sofa yang berada agak jauh dari tempat Rion , namun karena telinga Rion sangat tajam dia pun masih bisa mendengar celotehan Luna dengan jelas meskipun Luna sudah sangat pelan saat berbicara .


" Kerjakan saja , kau pikir aku tidak bisa mendengar mu apa ? "


Seru Rion yang seketika membuat Luna terkejut dan melihat ke arahnya .


" ini adalah hukuman mu karena tadi kau melakukan kesalahan yang sangat fatal . Dan setiap kau melakukan kesalahan itu lagi maka aku akan menghukum mu dengan cara seperti ini , bahkan bisa lebih dari ini ."


Sambung Rion dengan tegas tanpa melihat ke arah Luna sedikitpun ,dia terus fokus menonton tv .


Luna semakin bingung dengan peringatan yang Rion berikan padanya , karena dia merasa tidak melakukan kesalahan apapun tadi , bahkan dia sudah sampai di kantor sebelum Rion datang jadi tidak mungkin Rion mengetahui jika dia terlambat .


Luna masih terus bertanya tanya dalam pikirannya hingga dia reflek bicara pada Rion dengan santainya seolah Rion adalah temannya sendiri .


" Kesalahan ? memangnya kesalahan apa yang ku lakukan ? "


Ucap Luna dengan santai , dia pun berpikir satu satunya kesalahan yang dia lakukan adalah saat dia begitu mudahnya dibodohi oleh vivi waktu itu hingga dia bisa terjebak dan menjadi asisten pribadi Rion .


" Pasti karena aku berteriak padamu waktu itu bukan ? sebenarnya aku hanyalah korban disini , vivi lah yang membuatku berteriak waktu itu . Lalu mengapa kau menyiksaku dengan separah ini , aku bisa saja gegar otak jika kau selalu memberikan ku tumpukan berkas sebanyak ini "


Ucap Luna tanpa di filter lagi , dengan tak sadar dia pun menunjukan keluh kesahnya pada Rion dengan wajah yang terlihat seakan teraniaya .


Rion merasa sangat gemas dengan ekspresi wajah Luna ini yang menurut nya sangat imut saat seperti itu . Dadanya pun kembali bergemuruh , Rion berusaha memalingkan pandangannya ke arah televisi . Namun tetap saja tak mengubah apapun dia pun menjadi semakin gugup .


Tak ingin Luna melihat nya salah tingkah begini Rion pun dengan cepat kembali memasang ekspresi wajah dinginnya , kemudian dia menatap tajam ke arah Luna .


Tanpa menjawab pertanyaan awal Luna , Rion lebih memilih mengatakan hal lain karena tidak mungkin dia mengatakan jika alasannya menghukum Luna adalah karena dia tak suka jika Luna berdekatan dengan Reno .


" Apa kau lupa sedang bicara dengan siapa ? " Ucap Rion dengan nada tajam .


Ucapan Rion ini seketika membuat Luna tersadar jika saat ini dia sedang bicara dengan Rion bosnya yang sangat kejam dan arogan .


" Ouh astaga.., aku sudah hilang akal rupanya bagaimana bisa aku kelepasan bicara tadi " gumam Luna sembari memukul mukul mulutnya dengan pelan .


" Maaf tuan , lain kali tidak akan terjadi lagi ."


Ucap Luna dengan pelan sembari menundukkan kepalanya karena tak sanggup melihat tatapan Rion yang pasti sudah sangat menyeramkan saat ini .


Luna pun melanjutkan pekerjaannya dengan diam tak bergeming . Dia tak berani lagi menggerutu meskipun pelan dia takut jika Rion akan mendengarnya karena telinga bosnya itu sangatlah tajam .


Beberapa saat kemudian.....


" Buatkan aku kopi ! " titah Rion yang saat ini sudah berada di depan Luna .


"Apa ? "


Ucap Luna dengan sedikit kaget , karena terlalu fokus dengan berkas di tangannya sehingga tak menyadari jika Rion sudah berdiri tepat di hadapannya .


"Apa kau tuli ? Dan ingat kau tidak boleh menyuruh orang lain harus kau yang membuatnya . " Ucap Rion dengan penuh penekanan .


" Dengar ! Kopinya haruslah sama dengan yang biasa ku minum dengan seratus butir gula tidak boleh lebih ataupun kurang , Apa kau mengerti ? " Sambungnya dengan tatapan tajam dan nada tegas .


Mendengar hal aneh dari bosnya ini Luna seketika membulatkan matanya dan langsung berdiri karena merasa kaget dan tak percaya dengan apa yang barusan di katakan bosnya itu .


" Hah..., Apa tuan bercanda ? "


Tanya Luna dengan tersenyum kaku , dia masih tak percaya dengan hal konyol yang baru saja di dengarnya .

__ADS_1


Rion semakin mendekati Luna dan menatapnya dengan sangat tajam hingga membuat Luna seketika menunduk karena merasa ngeri dengan tatapan Rion .


" Apa aku terlihat bercanda dengan mu hah ? " Ucap Rion dengan nada tajam dan terdengar sangat serius .


Rion pun segera beralih dan merebahkan tubuhnya di sofa tempat Luna duduk tadi karena semakin lama dia menatap wajah Luna dari jarak dekat rasanya jantungnya kembali bergemuruh dan tentu saja Rion tak ingin mengakuinya .


Luna menghela nafasnya dengan pelan sembari berjalan pergi menuju ke pantry namun sebelum dia melangkah keluar Rion kembali memperingatkan nya agar melakukan perintahnya dengan benar .


" Pastikan gulanya seratus butir jika tidak kau harus membuatkan yang baru . Aku bisa merasakan nya meski gula itu telah larut . Jadi jangan coba coba untuk menipuku " Ucap Rion sembari menyilangkan kedua kakinya .


...****...


Sesampainya di pantry , dengan ragu Luna pun akhirnya melakukan perintah konyol Rion , dia pun mulai menghitung butiran butiran gula dengan sangat teliti dan dengan fokus yang sangat ekstra agar tak melupakan setiap hitungannya .


Beberapa saat kemudian.....


" Lima puluh enam..,lima puluh tujuh...,lima puluh..."


Fokus Luna seketika buyar saat Rere yang tak lain adalah OB di sini , sekaligus juga merupakan teman baik Luna mengejutkannya secara tiba tiba .


" Dorr...., Lun sedang apa ? Apa kau butuh sesuatu , katakanlah aku akan membuatkannya . " Seru Rere yang seketika membuat Luna tersentak kaget .


Rere dan Luna sebenarnya adalah teman sejak SMA mereka dulu berada di sekolah yang sama begitu juga dengan Dewi , Luna sudah mengetahui dari Dewi jika Rere bekerja di sini namun dia baru bertemu dengannya hari ini . Jadi saat melihat Rere Luna pun tak sebegitu nya terkejut begitu juga dengan Rere karena dia sudah tau tentang Luna dari beberapa karyawan yang sedang menggosipi nya .


" Ahh.., kau menganggu saja tadi sampai berapa ya...,aishh aku harus menghitungnya ulang kan . "


Ucap Luna dengan kesal dan terlihat sangat frustasi . Dia pun mau tidak mau harus mengulang kembali hitungannya .


" Kau kenapa sih , mengapa terlihat begitu stres , dan apa ini ? Apakah kau sedari tadi menghitung gula ? Apa kau tidak punya pekerjaan lain ."


Tanya Rere yang melihat Luna kembali menghitung butiran gula dengan sangat serius .


Luna tak merespon ucapan Rere dia masih saja fokus menghitung , hingga Rere pun menghentikan nya dengan menutup kembali wadah gulanya hingga membuat Luna seketika menghentikan kegiatannya dan melirik ke arah Rere dengan tatapan yang sulit diartikan .


" Hei Luna aku sedang bicara denganmu , ooo...mentang mentang sudah menjadi asisten pribadi tuan Rion kau jadi sangat sombong padaku . "


Luna pun menghela nafasnya dengan kasar dan sedikit memijat kepalanya yang sudah sangat pening .


Melihat Luna , Rere pun kembali bertanya padanya dengan lebih pelan karena dari ekspresi nya dia tau jika sahabatnya itu sepertinya sedang tertekan saat ini .


" Hei kau kenapa ? Apa kau benar benar sedang ada masalah hingga melakukan hal aneh begini ? " Tanyanya sembari melirik ke arah wadah gula yang tadi ditutupnya .


" Apa kau tau GRACHINE GROUP adalah perusahaan yang sangat bagus dan begitu hebat tapi sayang pemiliknya tidak waras . " Sahut Luna .


" Hei kau yang tidak waras berani sekali bicara seperti itu . Bagaimana jika ada orang yang mendengar mu kau bisa saja kehilangan pekerjaan mu saat ini . Astaga..., kau ini masih saja bar bar ya , dengar ! kau harus tau posisimu sekarang jadi tunjukanlah sedikit wibawa mu Lun , kau sudah seperti memenangkan sebuah lotre dengan menjadi asisten pribadi pimpinan "


Ucap Rere dengan mendekatkan wajahnya ke telinga Luna dan memelankan suaranya .


" Cihhh.., asisten apa yang dia bicarakan ini , aku tak lain hanyalah pesuruh nya saja . jika saja kau tau re bagaimana singa itu menyiksa ku dan selalu membuatku kesal setiap saat . "


Batin Luna yang sudah meronta ronta setiap kali mendengar seseorang mengatakan jika nasibnya sangat baik dengan menjadi asisten pribadi Rion .


Luna pun hanya tersenyum kaku saja dan tak menceritakan yang sebenarnya terjadi pada Rere .


" Coba pikirkan saja mana ada orang yang minum kopi harus dengan seratus butir gula . "


Ucap Luna yang kemudian teringat dengan tugas koyol yang dari tadi berusaha dia kerjakan namun terus saja gagal karena Rere mengganggunya .


"Apa " pekik Rere yang terkejut dengan ucapan Luna .


" Ha...sekarang ini lah yang aku lakukan menghitung setiap butir gula atas perintah tuan Rion . "


Ucap Luna dengan sedikit kesal sembari membuka kembali wadah gula yang ditutup oleh Rere tadi . Dia pun kembali menghitung butiran butiran gulanya .


Rere tertawa melihat sahabatnya yang begitu polos ini , dia tak habis pikir bagaimana Luna yang terkenal bar bar saat SMA bisa dengan mudah dibodohi oleh Rion dengan hal yang sangat konyol ini .


" Dia hanya mengerjai mu saja sebenarnya , dan kau ini begitu polos ya . Gula itu akan larut saat kau menuangkan air panas nantinya . bahkan tuan Rion tidak akan tau kau menghitung nya atau tidak , cahahahh... Luna... Luna kau ini " Ucap Rere dengan terkekeh menahan tawanya .

__ADS_1


Sejenak Luna pun berpikir jika menurut logika memang benar apa yang di katakan Rere . Tapi dia masih teringat dengan perkataan Rion padanya tadi .


" Tapi tuan Rion mengatakan jika melalui rasanya dia bisa mengetahui apakah kopi itu benar benar dibuat dengan menggunakan seratus butir gula atau tidak . " Ucap Luna seakan meminta tanggapan Rere .


" Dan kau percaya? Kau ini bodoh sekali , tuan Rion hanya mengancam mu saja dengan mengatakan itu . Agar dia bisa benar benar mengerjai mu dan membuatmu menghitung butiran butiran gula ini . "


Ucap Rere dengan sangat menyakinkan karena memang ucapan Rere benar adanya , Rion hanya ingin mengerjai Luna karena masih kesal dengan apa yang di lihatnya tadi pagi saat Luna bersama dengan Reno .


" Aish sialan mengapa aku sangat bodoh begini , Rere memang benar bukannya aku sudah tau sebelumya jika dia hanya ingin balas dendam padaku , dan mengapa aku malah mengikuti permintaan nya yang tidak masuk akal ini . " Gerutu Luna dalam hati .


Luna tersenyum manis ke arah Rere karena telah membuka pikirannya . Rere hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Luna , kemudian dia pun berlalu pergi untuk melanjutkan pekerjaannya .


Luna kemudian membuatkan kopi untuk Rion dengan langsung memasukkan gula menggunakan sendok tanpa menghitungnya hingga seratus butir seperti apa yang Rion katakan padanya tadi . Setelah selesai membuat kopi Luna pun segera membawanya ke ruangan Rion .


*****


" Ouh jadi dia berani berbuat curang rupanya , lihat saja pembalasan ku . "


Ucap Rion sembari menutup laptopnya ternyata sedari tadi dia memperhatikan aktivitas Luna melalui CCTV dia pun melihat jelas saat Luna langsung menuangkan gula dengan cepat menggunakan sendok .


Tok...tok...tok...


" Masuk ! ''


Luna pun masuk , dan dengan perlahan dia meletakan kopinya di atas meja dekat Rion.


"Tuan ini kopi nya " Ucapnya dengan pelan .


" Apakah kau sudah menghitung gulanya dengan benar ? " Tanya Rion dengan datar .


" Emm..sudah '' sahut Luna dengan sedikit gugup.


Rion pun mengambil kopinya dan sedikit meminumnya . dia sengaja memasang ekspresi seolah terkejut dan langsung meletakkan kembali cangkir kopi yang di pegangnya itu ke meja .


" Aku tidak merasakan adanya seratus butir gula disini , apa kau mencoba membodohiku ? " Ucap Rion yang saat ini sudah menatap tajam ke arah Luna .


Luna pun terkejut dan sangat gugup , dia tak habis pikir bagaimana bisa Rion benar benar mengetahuinya , bahkan gula itu sudah larut . Karena secara logika sangat mustahil menurut nya .


" Em...itu aku ." Ucap Luna dengan gugup dan gemetar .


" Bahkan dia tak ahli dalam berbohong , dasar wanita aneh . " Batin Rion.


Rion pun berdiri dan menghampiri Luna ,dan hal itu membuat Luna semakin mematung dan jantungnya seakan berhenti saat Rion terlihat sedang memikirkan sesuatu dengan tatapan aneh ke arahnya .


" Mengapa dia menatap ku seperti itu ? hukuman apa lagi yang akan dia berikan ? bahkan pekerjaan yang tadi saja belum selesai dan itu sudah sangat membuatku gila . " Batin Luna .


__________


Dara saat ini sedang memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam koper karena besok dia akan kembali ke Indonesia .


Tante maya pun membujuknya agar tinggal lebih lama lagi , namun Dara menolaknya dengan alasan ada pekerjaan yang harus segera dia urus .


" Kenapa terburu-buru sayang , tante kan masih merindukanmu " Ucap tante maya sembari meraih tangan Dara .


" Tante , Dara juga masih ingin menghabiskan waktu bersama tante . Tapi mau bagaimana lagi Dara harus pulang karena ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa diwakilkan sama sekali "


Ucap Dara yang langsung memeluk tantenya itu dengan hangat sembari menjelaskan alasannya mengapa dia harus secepatnya kembali .


" Baiklah , tapi kau janji jika ada waktu sering sering kesini hem , dan sesekali ajaklah Dean tante ingin sekali bicara dengannya " Ucap Tante maya .


" Hem... " Jawab Dara dengan deheman dan senyum kaku di wajahnya .


🦋🦋🦋🦋🦋


Bersambung....


🦋🦋🦋🦋🦋

__ADS_1


__ADS_2