
Beberapa jam kemudian......
Kevin telah menjalani prosedur cuci darah dengan lancar , kini kondisinya tak separah yang tadi namun dia masih harus tetap dirawat sampai kondisinya benar benar pulih dan di perbolehkan untuk pulang .
Aida dengan setia selalu berada di samping cucunya itu yang saat ini masih terlelap karena dokter memberikan nya sedikit obat tidur agar kevin bisa beristirahat setelah prosedur panjang yang di lalui nya tadi , untuk anak seusia kevin hal itu tentu saja sangat menguras banyak tenaganya terlebih dalam kondisi nya yang sebelumnya memang sudah sangat lemah .
Aida menatap lekat wajah cucunya yang masih terlihat pucat itu dengan tatapan yang sangat sendu . Dengan perlahan Aida meraih tangan mungil kevin yang masih terpasang selang infus di punggung tangannya .
" Terimakasih sayang , kau bisa bertahan hiks...hiks...jika tidak maka nenek pun pasti akan tiada bersama mu hiks... hiks..." Gumam Aida lirik sembari berusaha menahan isak tangis nya .
Dia sangat bersyukur kali ini cucunya dapat diselamatkan . Aida mungkin tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri jika hal buruk sampai terjadi pada cucu semata wayangnya itu .
*****
Sementara di pinggir jalanan yang sangat sepi terlihat Luna berjalan dengan langkah gontai dan tatapan yang kosong sembari menenteng tas nya dengan perasaan penuh putus asa . Air mata tak hentinya mengalir membasahi pipinya .
Tiba tiba hujan deras mengguyur , Luna bahkan tak terkejut ataupun perduli lagi dengan kondisi tubuhnya yang sekarang sudah basah kuyup . Dia terus berjalan dengan tatapan kosong , bayangan bayangan buruk pun selalu bermunculan di dalam pikirannya . Dia terus mengingat wajah kevin yang sering bercanda dengannya bahkan saat ini Luna tidak tau apakah dia akan bisa tertawa lagi dengan keponakan nya itu .
Suara dan wajah kevin pun selalu terngiang-ngiang di ingatan Luna mengalahkan suara derasnya hujan yang sedari tadi tak di hiraukannya .
" Bibi , bibi cantik sekali apakah bibi akan pergi kencan ..." Flashback ucapan kevin pada Luna saat di dapur waktu itu .
•
•
•
Hingga akhirnya Luna tersadar , dia pun seketika ambruk di tengah derasnya hujan, berteriak dengan sekencang-kencangnya hingga suaranya serak .
" Hiks...hiks....hiks..kenapa harus kevin , kenapa ? Kenapa bukan aku saja hiks....hiks...hiks...,Tolong kasihani kami hiks....hiks....hiks..., Kami sudah tidak berdaya lagi ! Aku mohon tuhan jika memang kau harus mengambil , ambil nyawa ku saja jangan anak malang itu . Dia bahkan sudah sangat menderita untuk anak seusianya hiks...hiks...hiks . "
Teriak Luna mengeluarkan sesak di dadanya . Seolah dia ingin menyerah saja dengan semua ini .
"Kemana lagi aku harus mencari uang nya.., apa yang akan aku katakan pada ibu nanti hiks...hiks.."
Luna terus menangis meraung raung di iringi derasnya hujan yang seolah ingin menutupi suara tangisnya .
Flash back....
Luna menemui Dewi berniat untuk meminjam uang darinya , karena Dewi lah satu satu nya harapan Luna yang mungkin bisa membantu nya untuk membayar biaya rumah sakit kevin .
" Tok...tok....tok..."
__ADS_1
Ceklek...
" Luna ! Ada apa ? Tumben sekali malam malam begini kemari . "
Ucap Dewi tepat setelah pintu terbuka , dia sedikit terkejut dengan kedatangan sahabatnya yang begitu tiba tiba ini .Dewi pun mengajak Luna masuk dan mempersilahkan nya duduk karena dari yang dia lihat seperti nya sahabatnya itu sedang memiliki masalah saat ini .
Beberapa saat kemudian ......
•
•
•
Luna telah menceritakan semuanya dengan to the point masalah apa yang sedang di hadapinya sekarang dan tujuannya datang menemui Dewi .
Mata Dewi seketika berkaca kaca saat mendengar kabar tentang penyakit yang di derita kevin , karena memang hanya Luna dan ibunya lah yang selama ini mengetahui dan merahasiakan nya bahkan dari kevin sekalipun .
" Luna aku ingin sekali membantu mu andai aku bisa , tapi tabunganku sudah habis untuk biaya pernikahan ku semalam , dan fajar juga baru saja di phk dari kantornya . Maaf Luna aku tidak bisa membantu apa apa . "
Ucap Dewi dengan menunduk , dia merasa bersalah karena di saat Luna gantian membutuhkan bantuannya dia tak bisa berbuat apa apa .
Luna juga sedikit terkejut mendengar Dewi mengatakan jika suaminya telah di phk , tentu saja saat ini Dewi juga sangat pening dengan masalahnya sendiri pikir Luna , dia pun tak ingin menambah beban pikiran sahabatnya itu .
" Sudahlah tak apa , seharusnya aku lah yang meminta maaf ! Aku tidak tau jika kau juga sedang ada masalah sendiri , jika aku tau maka aku tidak akan kemari dan menambah masalahmu . Sudahlah jangan menangis ! "
Beberapa saat kemudian....
Dewi menyarankan Luna untuk meminjam uang pada Rere sahabat mereka . Luna pun mencoba saran dari Dewi dan berusaha untuk menelpon Rere , meskipun dia awalnya ragu untuk meminjam uang pada Rere mengingat kondisi keuangan Rere kurang lebih sama saja dengannya .
Beberapa saat kemudian , setelah telepon nya tersambung Luna sedikit kaget karena yang mengangkat bukalah Rere .
" Halo ini siapa ? " Ucap seseorang di sebrang telepon yang terdengar seperti suara seorang pria .
" Seharusnya saya yang bertanya anda siapa ? Karena ini adalah nomor telepon Rere teman saya . "
Sahut Luna dengan sedikit mengerutkan alisnya penuh tanya dan Dewi yang melihatnya pun juga ikut bingung dengan ekspresi sahabatnya itu .
" Maaf ya mbak mungkin yang anda maksud adalah pemilik ponsel ini sebelumnya ! Karena kemarin seorang wanita menjual ponsel ini di konter hp saya , mungkin wanita itu yang anda maksud ." Ucap pria itu menjelaskan secara detail .
Deg...
Luna semakin terkejut dengan ucapan pria itu barusan , dia pun sudah bisa menduga jika Rere pasti sedang memiliki masalah saat ini sampai sampai dia harus menjual ponselnya .
__ADS_1
" Ouh.. begitu ya ! Maaf ya mas sebelumnya saya tidak tau . " Ucap Luna dengan pelan kemudian dia pun menutup sambungan teleponnya .
Dewi yang sedari tadi hanya bertanya tanya pada dirinya sendiri pun langsung mencecar Luna dengan pertanyaan nya .
" Ada apa ? Seperti nya kau tidak bicara dengan Rere . " Ucap Dewi
Luna pun menghela nafasnya dengan berat dan menjelaskan semuanya pada Dewi .
" Hmm... sepertinya Rere juga tidak bisa membantu ku . " Gumam Luna kemudian dengan memijat kepalanya yang sudah sangat pening itu .
•
•
•
•
Luna pulang dari rumah Dewi dengan berjalan kaki . Pikirannya sangat kacau , dia terus berjalan tanpa tujuan .
Flash on ......
Skip...
Skip....
Skip...
Luna telah sampai di rumah sakit dengan keadaan basah kuyup dan matanya yang sembab . Sungguh dia tak punya kekuatan untuk menatap mata ibunya itu yang pasti sudah menantinya dengan penuh harap , apa yang akan dikatakan nya nanti , haruskah dia mengatakan jika dia pulang dengan tangan kosong ? dan bagaimana dengan kevin , Luna pasti sudah kehilangan akal jika sampai harus melihat nyawa keponakannya itu melayang hanya karena kemiskinan dan ketidakberdayaan nya .
\=\=\=\=\=\=\=
Saat akan memasuki lift kaki Luna tak sengaja tersandung karena kurangnya konsentrasi . Dia pun hilang keseimbangan dan akan terjatuh namun seseorang dengan sigap menahan tubuhnya hingga Luna pun terjatuh ke dalam pelukan seseorang itu .
Brughh....
Pintu lift pun tertutup ...
Hanya ada Luna dan seseorang yang menolongnya tadi di dalam lift itu .
Deg....
🌅🌅🌅🌅
__ADS_1
Bersambung.....
🌅🌅🌅🌅