Obsesi Cinta Sepihak

Obsesi Cinta Sepihak
Episode 32


__ADS_3

" Dokter... bagaimana keadaan kevin ? " Tanya Luna dengan penuh cemas .


Dokter Hendra menghela nafasnya dengan berat tanpa memberikan penjelasan sedikitpun . Terlihat jelas dari raut wajahnya jika keadaan kevin saat ini sedang tidak baik baik saja , dia pun menyuruh Luna agar mengikutinya ke ruangannya untuk membicarakan mengenai kondisi kevin dengan lebih serius .


Melihat ekspresi dari dokter Hendra yang seakan ingin menyampaikan sebuah kabar buruk padanya sontak membuat Luna memucat bagai tak dialiri darah sedikitpun dalam tubuhnya . Meskipun dia sendiri sudah menduga sebelumnya jika kemungkinan terburuk pun bisa saja terjadi mengingat belum adanya tindakan apapun untuk kevin selain dari obat obatan yang dokter berikan itupun dia dan ibunya membelinya dengan susah payah lantaran harganya yang sangat mahal .


Dengan langkah gontai Luna mengikuti dokter Hendra masuk ke dalam ruangannya . Dan tanpa Luna sadari Rion masih tetap berada bersamanya sedari tadi , dengan setia Rion terus mengikuti Luna hingga dia berhenti di depan pintu ruangan dokter Hendra . Dia tak mengikuti Luna sampai masuk ke dalam .


Sedangkan di dalam ruangan itu , Luna terus meremas ujung kemejanya , wajahnya begitu pucat , jantungnya terus saja tak terkendali sungguh dia sebenarnya sangat takut mendengar apa yang akan dokter sampaikan padanya meskipun dia sudah berusaha dengan sangat keras untuk mempersiapkan mentalnya , tetap saja hati siapapun pasti akan sangat hancur jika berada dalam situasi seperti ini .


" Seperti yang sudah ku katakan sebelumnya jika anak itu harus secepatnya melakukan cuci darah dan kali ini sudah tidak bisa ditunda tunda lagi , jadi cepatlah urus administrasi nya agar kita bisa secepatnya bertindak . Dan dilihat dari kondisinya , jika kau menundanya lagi mungkin saja anak itu hanya akan bertahan dalam beberapa hari " Ucap dokter Hendra dengan serius dan penuh penekanan .


Deg...


Ucapan dari dokter Hendra di akhir kalimat nya bagaikan sebuah petir yang menyambar Luna hingga membuat gadis itu membisu dan untuk sekedar bergerak pun seolah dia sudah kehilangan seluruh tenaganya . Dadanya terasa sangat sesak mendengar apa yang dokter itu katakan padanya .


" Lakukan apa saja dok , aku mohon selamat kan kevin . hiks... hiks....hiks..."


Dengan bibir yang terus saja gemetar Luna terus memohon sembari terisak meminta dokter di depannya ini untuk menyelamatkan nyawa kevin .


Dokter Hendra merasa kasihan dengan wanita yang sedang memohon di depannya ini , namun semuanya haruslah tetap mengikuti peraturan yang ada , dia pun berusaha memberikan pengertian pada Luna .


" Aku mohon jangan bersikap seperti ini nona , jika anda ingin menyelamatkan nyawa anak malang itu maka secepatnya anda harus mengurus biaya administrasi nya . Karena saya tidak bisa melakukan apapun sebelum anda membayarnya itulah peraturan di rumah sakit ini . Maaf kan saya nona tapi saya juga harus mengikuti peraturan . "


Karena pintunya tidak tertutup dengan benar dan sedikit terbuka sehingga membuat Rion yang sedari tadi masih berdiri si sana dapat mendengar semua percakapan antara dokter hendra dan Luna . Setelah itu dia berlalu pergi entah kemana .


Luna keluar dari ruangan dokter Hendra dengan perasaan yang campur aduk . Dia kemudian menemui kevin yang masih berada di UGD , Luna hanya melihatnya dari jendela saja karena dia tidak akan sanggup menemuinya saat ini . Luna menatap sesosok tubuh mungil yang saat ini tengah terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan kondisi yang sangat memprihatikan . Air matanya pun kembali berjatuhan .


Beberapa saat kemudian Luna berusaha mengumpulkan kembali kekuatannya , bagaimana pun juga saat ini dia harus mendapatkan uang secepatnya agar nyawa kevin dapat tertolong . Setelah lama dia terus memutar otaknya akhirnya dia terpikir sesuatu . Dengan langkah cepat Luna pun berlari keluar rumah sakit dan saat dia sampai parkiran dia bertemu dengan Aida dan arman yang baru saja sampai .


" Lun... bagaimana kevin ? " Tanya Aida yang menghampiri Luna bersama dengan Arman .


Luna pun mengatakan yang sebenarnya , apa yang dokter Hendra katakan padanya tadi . Meskipun hal itu akan membuat ibunya sangat hancur tapi Luna juga tidak bisa menutupi nya , dan mereka juga harus berusaha tegar menerima kenyataan pahit ini .


Aida terduduk lemas saat mendengar Luna menceritakan semua perkataan dokter padanya , terlebih saat Luna mengatakan jika tidak segera dilakukan tindakan maka kemungkinan kevin hanya akan bertahan beberapa hari lagi . Hal itu seketika membuat Aida menangis tersedu-sedu .


"Ibu...,tolong dengarkan aku . Saat ini kita tidak boleh lemah , kevin sangat membutuhkan kita dan aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padanya ."


ucap Luna sembari membantu Aida berdiri , Aida hanya mendengar kan Luna tanpa meresponnya karena pikirannya sedang kemana mana saat ini .


Melihat ibunya yang saat ini bak seperti orang yang linglung setelah mendengar ceritanya , Luna pun berusaha menyadarkan Aida dan terus menguatkannya .


" Ibu...lihat...lihat aku..., Percayalah padaku , aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada Kevin . Ibu harus tetap tenang hem , tolong jagalah kevin aku akan mencari uang nya bagaimanapun caranya . "

__ADS_1


Ucap Luna pada ibunya , Aida pun memeluk putrinya itu dengan erat , air matanya masih terus saja mengalir namun dengan segera Aida menghapusnya . Aida pun menuruti semua yang Luna katakan karena memang saat ini mereka harus saling menguatkan dan tidak boleh lemah demi kesembuhan kevin .


Arman sangat kasihan pada hidup kakak dan keponakannya itu , namun dia juga tak bisa membantu banyak karena kondisi ekonominya saat ini juga sedang kesusahan . Yah semenjak usahanya bangkrut , Arman kesana-kemari mencari pekerjaan namun karena usianya yang sudah tak lagi muda sangat sulit baginya untuk melakukan pekerjaan yang membutuhkan banyak tenaga . Arman baru saja mendapatkan pekerjaan sebagai supir pribadi namun dia baru bekerja selama 2 hari jadi mustahil jika dia meminta gajinya di awal mengingat majikannya adalah seorang yang terlihat sangat tegas dan kejam .


" Paman , tolong jaga ibu dan kevin ya . Aku tinggal pergi sebentar . " Pinta Luna pada Arman .


" Tenanglah , paman pasti akan menjaga mereka . Maaf Lun paman tidak bisa membantu . " Ucap Arman dengan nada sendu .


Luna pun mengusap bahu pamannya sembari berkata ...


" Aku mengerti paman , paman tidak usah memikirkan itu . Luna hanya butuh doa paman supaya kevin cepat sembuh . "


Arman pun tersenyum pada Luna . Dia sangat beruntung memiliki keponakan yang sangat tulus dan baik seperti Luna .


Mereka pun masuk ke dalam dan menunggui kevin di ruang tunggu . Sedangkan Luna pergi ke tempat tujuannya . Entah apakah yang ada dipikirannya saat ini dan siapakah orang yang akan Luna temui .


*******


Sementara di ruang tunggu Aida mengingatkan pada Arman untuk tidak memberi tahu Luna jika tujuan Aida menemuinya sebenarnya bukan semata mata hanya untuk meminjam uang .


" Man.., ingat jangan sampai Luna tau tentang tadi . Kau tau kan bagaimana dia jika sampai tau ." ucap Aida dengan sangat mewanti wanti pada Arman .


Arman pun hanya mengangguk paham .


Flashback....


" Tolong lah , setidaknya biarkan aku bicara dengan Steyla sebentar saja . Aku hanya ingin mengabari jika putranya masuk rumah sakit , dia harus tau biar bagaimanapun juga dia adalah ibunya . "


Arman menjadi terlihat sedikit panik dan raut wajahnya seketika berubah menjadi penuh bimbang seolah ada yang sedang di sembunyikannya dari Aida .


" Tapi mbak , Steyla tidak akan mau bicara denganmu . "


ucap Arman dengan sedikit meninggikan nada suaranya. agar Aida berhenti mendesaknya .


Namun alih alih menyerah , Aida justru semakin keras membujuk Arman . Bahkan tanpa pikir panjang Aida berlutut di kaki Arman yang merupakan adiknya sendiri .


" Aku mohon..., Setidaknya lihatlah ketidakberdayaan ku ini . hiks....hiks...,"


Saat ini Aida seakan sudah putus asa , hanya Arman lah satu satunya harapannya agar dia bisa bicara dengan Steyla .


Arman menjadi tak tega melihat kakaknya sampai berlutut padanya . Arman membantu Aida berdiri dan dengan terpaksa dia harus mengingkari janjinya pada Steyla , dia pun menuruti permintaan Aida .


" Baiklah...aku akan menelponnya . sekarang mbak tenang dulu ."

__ADS_1


Arman mengambil ponselnya dan kemudian menghubungi Steyla , tak butuh waktu lama Steyla menjawab teleponnya . Belom sempat Arman bicara Aida langsung merebut ponselnya dari tangan Arman .


" Hallo paman apa semuanya...."


Steyla seketika menghentikan ucapannya saat mendengar suara tangisan wanita , jelas itu bukanlah suara dari Arman , pamannya .


Aida semakin terisak setelah mendengar suara yang sudah sangat lama tak dapat dia dengar , suara yang sangat di rindukannya . Meski apapun yang telah Steyla lakukan tak dapat membuat Aida berhenti menyayangi putrinya itu .


" Hiks...ste.. Steyla putriku..hiks...,ini ibu nak "


Dari sebrang telepon....


Deg....


Steyla membulatkan matanya saat mendengar suara yang sangat tidak asing , suara ibunya . Matanya seketika berkaca kaca saat kembali mendengar suara ibunya itu . Namun Steyla berusaha untuk menutupinya dia menjawab ibunya dengan nada ketus yang sengaja dibuat buat nya .


" Ibu..., Mengapa meneleponku bukannya aku sudah bilang bahwa aku tidak ingin bicara dengan...."


Belum selesai Steyla bicara , Aida dengan cepat memotong nya karena takut jika Steyla akan memutuskan sambungan telepon nya.


" Tunggu nak , dengarkan ibu dulu..ini tentang kevin putramu , dia sedang kritis sekarang . Luna membawanya ke rumah sakit xxxx . Ibu mohon temui lah kevin dia sangat merindukan mu sayang . " Ucap Aida dengan cepat dan masih sedikit terisak .


Deg....


Jantung Steyla seketika berhenti berdetak saat mendengar kabar mengejutkan dari ibunya ini . Dia sudah ingin menangis , secepatnya Steyla memutuskan sambungan telepon nya agar ibunya tak mendengar tangisannya .


Tut...tut...tut...


" Halo...halo... Steyla.. Steyla..hiks..hiks..."


Aida terus memanggil nama putrinya setelah sambungan teleponnya terputus secara sepihak . Hatinya sangat hancur saat mendapati putrinya masih saja tak perduli dengan nya bahkan setelah mendengar bagaimana kondisi putranya sendiri pun Steyla masih tetap tak memperdulikannya .


" Tenangkan dirimu mbak sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang kasihan Luna dia pasti sangat panik di sana. " Ucap Arman .


Arman berusaha menenangkan Aida , kemudian mereka pun pergi menyusul Luna ke rumah sakit .


Sementara setelah memutuskan sambungan telepon dari ibunya Steyla menangis dengan sesenggukan di dalam kamarnya .


" Kevin....putraku maafkan ibu sayang... hiks..hiks..."


Flash on....


🌵🌵🌵🌵🌵

__ADS_1


Bersambung......


🌵🌵🌵🌵🌵


__ADS_2