
Rion memutar bola matanya dengan malas , sempat terpikir dalam benaknya jika gadis di depannya ini merupakan seorang mata mata yang dikirim oleh musuh musuhnya dalam dunia bisnis .
" A...aku..., Apa jika aku mengakui semuanya apa aku akan masuk penjara ? lalu bagaimana dengan keluarga ku , apa tuan akan menyeretnya juga ? " Ucap Luna dengan pelan dan sedikit tergagap .
Rion menatap Luna dengan intens karena dari ucapannya ini mungkin saja apa yang sempat dipikirkan oleh Rion itu benar adanya jika Luna memang memiliki maksud jahat terhadap perusahaan nya .
" Kau tidak perlu khawatir , aku tidak akan menyangkut pautkan keluarga mu , hanya saja aku pasti akan menghukum mu . "
Ucap Rion dengan datar namun dari nadanya terdengar sangat serius .
Luna pun mengatur nafasnya dan kemudian menjelaskannya dengan perlahan bagaimana dia bisa sampai bekerja di sini . Jujur saja jantungnya terus saja deg deg an saat akan mengatakan semua itu meskipun Rion sudah mengatakan jika dia tak akan melibatkan keluarganya tetap saja Luna masih sulit untuk mempercayai ucapan Rion ini .
"Begini sebenarnya aku memang sangat ingin bisa bekerja di perusahaan seperti ini tapi aku tidak berniat sama sekali untuk menipu sebelumya..., sungguh ! " Ucapnya dengan jujur .
Mendengar ini Rion seketika mengepalkan kedua tangannya dia sangat marah dan kecewa mendengar kata menipu keluar dari mulut asisten pribadi nya itu karena sebelumnya Bimo tak mengatakan tentang ini padanya mungkin saja karena memang Bimo juga tak mengetahuinya , pikirannya . Bimo hanya mengatakan jika Luna bekerja disini karena menggantikan salah satu staf yang recent secara mendadak , lalu apa yang dia dengar dari gadis di depannya ini sungguh sangat mengejutkannya . Meskipun Rion sendiri sempat menaruh kecurigaan pada Luna entah mengapa dia sangat berharap jika kecurigaan nya itu salah , mendengar ucapan Luna barusan membuatnya merasa sangat kecewa . Meskipun begitu Rion tetap membiarkan Luna untuk melanjutkan bicaranya , dia ingin mendengar dengan jelas semuanya sebelum mulai mengambil keputusan .
" Saat itu aku hanya membantu temanku Dewi . Dia sudah sangat terdesak dengan pernikahannya . Jadi aku terpaksa . " sambung Luna melanjutkan perkataannya .
Rion seketika mengerutkan alisnya mendengar ucapan Luna ini . Perasaan marah dan kecewanya seketika sedikit teredam , dia bingung dengan apa yang Luna katakan barusan . Karena sungguh tidak nyambung jika memang Luna adalah mata mata yang dikirimkan oleh pesaing bisnisnya , lalu mengapa Luna justru membahas tentang pernikahan temannya . Apa hubungannya dengan semua itu .
" Terpaksa ? "
Tanya Rion dengan sedikit bingung , Luna pun mengangguk kemudian dia melanjutkan lagi bicaranya .
" Sebenarnya tidak sepenuhnya terpaksa lebih tepatnya aku juga sedikit nekad . Dewi lah yang mengatakan pada Ren.. maksudku pak Reno jika aku ini adalah sarjana padahal kenyataannya tidak seperti itu , aku juga terkejut saat aku tau jika dewi membohongi pak Reno mengenai latar belakang pendidikan ku . "
Luna menghentikan bicaranya sebentar . Dia pun kembali menarik nafasnya dalam-dalam dan kemudian menghembuskan nya secara perlahan agar dia bisa lebih tenang . Luna tak menyangka jika hari ini dia bak seperti seorang tersangka yang sedang di interogasi .
Sedetik kemudian Luna kembali melanjutkan bicaranya kali ini dia sedikit lebih tenang dari sebelumnya .
"Awalnya aku tidak mau untuk memulainya dengan kebohongan tapi Dewi terus saja memohon dan membujukku , dia mengatakan jika dia tidak segera menemukan orang untuk menggantikan nya maka dia akan batal menikah . Lalu bagaimana aku bisa lari setelah melihat keputusasaan sahabat ku itu . Dia juga mengatakan jika ini demi keluarga ku juga , jadi aku pun mulai memikirkan semuanya..., lalu aku nekad . "
Ucap Luna dengan tatapan sendu seolah dia melihat kembali kilasan balik dimana Dewi terlihat sangat frustasi dan terus memohon padanya waktu itu .
" Aku memang sering melakukan hal gila sebelumnya tapi aku tidak menyangka jika akan melakukan hal membahayakan seperti ini hiks..hiks.."
__ADS_1
Sambungnya dengan sedikit terisak merutuki kenekatan nya yang pada akhirnya membawanya menjadi tawanan Rion yang berkedok sebagai asisten pribadi .
Bukannya merasa kasihan Rion malah terkekeh dalam hati mendengar ucapan Luna yang terakhir , sungguh dia berusaha dengan keras untuk menahan tawanya . Disisi lain hatinya merasa lega karena Luna bukanlah seperti apa yang sempat diduganya .
" Astaga.., jadi ini alasannya . bodoh sekali.., dia ini benar benar..., aku pasti sudah gila karena sempat berpikir bahwa gadis bodoh ini adalah mata mata... bahkan tubuhnya saja akan menolak jika dia berkata bohong chahahhh.." gumam Rion dalam hati .
Luna masih sedikit terisak dan kini dia melamun , pikirannya saat ini sedang kacau membayangkan nasibnya kedepannya . Hingga Luna pun secara tak sadar mengatakan sesuatu pada Rion yang seketika membuat Rion merasa sedikit aneh .
"Aku tidak tau jika pemilik perusahaan ini adalah seorang yang seperti anda . Jika aku tau aku lebih memilih untuk tetap bekerja part time saja . " Ucap Luna kembali .
Rion mengerutkan dahinya mendengar ucapan Luna ini , Tiba tiba dia berdiri dan mencondongkan tubuhnya hingga matanya menatap Luna dengan sangat dekat dan hal itu seketika membuat Luna tersentak kaget dan menjadi gelagapan .
" Seperti ku ? Memang nya aku seperti apa? " Tanya Rion , kali ini dengan nada yang terdengar santai namun penuh arti .
Luna seketika sadar dengan ucapannya tadi namun kali ini dia tak lagi merutuki dirinya lagi karena memang Rion juga sudah tau semuanya dan dia juga sudah tertangkap sekarang .
Luna menatap dalam ke arah mata Rion hingga membuat Rion seketika merasakan sebuah desiran di hatinya karena mendapatkan tatapan yang tak biasa dari Luna .
" Arogan ,tidak waras , pria gila , singa pemarah, wajahmu juga sangat menyebalkan . Kau satu satunya pria aneh yang menyuruhku membuat kopi dengan seratus butir gula . " Teriak Luna dalam hati sembari terus menatap dalam ke arah mata Rion .
" Hei.., "
" Ha.. maksudku anda terlihat sangat berkuasa dan juga tegas . Siapapun orang juga tak akan mau menggali makam nya sendiri dan terlibat dengan tuan . " jawab Luna dengan nada pelan dan tersenyum kaku .
" Hanya aku saja yang kehilangan akal hingga sampai bisa menjadi asisten nya . Akulah orang yang menggali makam ku sendiri . " Gumam Luna dalam hati sembari masih tersenyum dengan terpaksa pada Rion .
Rion semakin terkekeh mendengar ucapan gadis di depannya ini sungguh ekspresi dari Luna sangat menggemaskan menurut nya , dia pun kembali duduk di kursinya dan kemudian melihat Luna , namun berbeda dengan sebelumnya yang biasanya Rion selalu menatap Luna dengan tajam , kali ini Rion sedikit tertawa dan tersenyum ,dia kemudian kembali membuka beberapa map yang ada di depannya .
Luna merasa sangat aneh melihat respon dari Rion barusan bahkan setelah Luna menceritakan semuanya pun tak ada tanda tanda bosnya itu akan mengamuk , dia dibuat melongo melihat Rion tersenyum dan tertawa karena baru pertama kali ini Luna melihat singa pemarah itu menjadi seperti seekor kucing yang sangat imut .
" Astaga..dia ini kenapa? Apa dia benar benar tidak waras ! Tadi dia terlihat begitu menakutkan tapi Sekarang dia tersenyum dan tertawa ada apa dengannya ? " gumam Luna dalam hati melihat sikap Rion yang aneh dari biasanya.
Beberapa saat kemudian....
Sembari matanya masih terfokus pada beberapa dokumen di tangannya Rion kembali melanjutkan interogasi nya pada Luna . sebenarnya dia sudah tau semua tentang Luna dari Bimo tapi saat ini Rion seperti nya tertarik mendengar ceritanya langsung dari Luna .
__ADS_1
" Kau melakukan banyak sekali pekerjaan paruh waktu , apakah hobby mu ini memang selalu bekerja ? " Tanya Rion dengan wajah yang kembali datar .
Luna tersenyum kecut mendengar pertanyaan ini dari Rion . Dia tak lagi terkejut dan bertanya bagaimana Rion bisa mengetahui tentang nya karena itu adalah hal yang mudah bagi seorang seperti Rion .
" Hahah... bagaimana mungkin bekerja bisa menjadi hobby tuan . Aku melakukannya bukan karena hobby tapi karena memang tuntutan hidup yang mengharuskan ku mengumpulkan banyak uang . " Jawab Luna dengan nada santai namun terdengar sangat dalam .
Rion seketika mengalihkan perhatian nya dari dokumen yang sedari tadi dilihatnya dia pun kembali fokus pada gadis di depannya itu .
" Sebenarnya aku sudah tau semua tentang keluargamu . "
Ucap Rion , dan Luna pun hanya mengangguk saja sembari sedikit tersenyum seolah dia sudah tau jika Rion pasti akan mencari tau semua tentang nya dan dia pun tak mempermasalahkan tentang hal itu .
Rion melanjutkan bicaranya tapi kali ini ucapannya ini seketika membuat mata Luna menjadi berkaca kaca wajahnya pun terlihat sendu dan di penuhi dengan kekecewaan .
" Dan kakakmu..jadi itulah sebabnya kau meninggalkan wanita itu begitu saja saat di depan bar waktu itu . "
Deg...
Ucapan Rion ini kembali mengingatkan Luna pada Steyla kakaknya yang lebih tepatnya adalah orang asing baginya selama 3 tahun terakhir hingga saat ini . Selalu ada perasaan kekesalan , kekecewaan dan kesedihan jika dia mengingat steyla . Terlebih Rion kembali mengingatkannya tentang kejadian di bar waktu itu , Luna pun seketika juga teringat pada Robert pria brengsek yang memukuli kakaknya itu . Dadanya semakin sesak saat mengingat jika Steyla meninggalkan nya dan ibunya bahkan juga kevin putranya sendiri hanya demi bajingan gila seperti Robert .
" Dia bukanlah kakakku aku tidak pernah punya hubungan dengan wanita jahat itu , dan jika tuan mengatakan kalau tuan sudah tau semuanya tentang ku , harusnya tuan juga sudah mengetahui alasan mengapa aku sangat membencinya . " Ucap Luna sembari mengusap ujung matanya yang sedikit basah .
Rion dapat melihat semua kesedihan Luna dari matanya , Hatinya pun merasa seperti sedang teriris saat ini , Rion tak lagi ingin menyangkal apapun yang di rasakannya . Namun dia juga menanamkan dalam pikirannya jika perasaan itu muncul lantaran dia hanya kasihan saja pada Luna meskipun hatinya selalu saja berusaha untuk membuka pikirannya jika Rion telah jatuh cinta pada Luna , namun Rion ibarat batu yang sangat keras , batu itu bisa saja berlubang dengan tetesan air tapi hal itu membutuhkan waktu .
Rion menghela nafasnya dengan berat , dia pun ingin menyudahi semua rencana awalnya yang menjadikan Luna asistennya hanya agar dia bisa terus menyulitkannya dan memberinya pelajaran . Kali ini Rion benar benar ingin menjadikan Luna asistennya yang sesungguhnya karena tak bisa dipungkiri Rion sangat terkesan dengan kinerja Luna selama menjadi asisten nya . Rion juga sedikit terkejut saat Bimo mengatakan jika Luna hanya lulusan SMA karena Luna mudah sekali belajar dengan cepat dan hasil kerjanya juga bagus dan terus ada peningkatan setiap harinya .
Rion pun menatap Luna dengan tatapan yang penuh arti kemudian dia pun memulai bicaranya .
" Hem.., aku tidak tau jika hidupmu sesulit ini sebelumnya aku...."
Ring...Ring...Ring....
Perkataan Rion seketika terhenti oleh ponsel Luna yang tiba tiba saja berdering .
🏵️🏵️🏵️🏵️
__ADS_1
Bersambung....
🏵️🏵️🏵️🏵️