
Ucapan Rion seketika terhenti karena ponsel Luna tiba tiba saja berdering .
Luna melihat ke layar ponselnya dan ternyata Aida lah yang menelponnya . Luna pun menatap Rion seolah meminta ijin untuk mengangkat teleponnya dan Rion pun menjawabnya dengan deheman saja pertanda jika Rion memperbolehkan , dan Luna pun kemudian langsung mengangkat telepon dari ibunya itu .
Terdengar dari sebrang telepon suara isakan tangis Aida yang seketika membuat Luna terkejut hingga berdiri , dia pun menjadi sangat cemas .
" Hallo...ibu ada apa ? Kenapa menangis ? " Tanya Luna dengan penuh khawatir .
Sikap Luna ini sontak membuat Rion terkejut dalam hati dan matanya pun terus terfokus pada Luna , dia terus bertanya tanya dalam pikirannya , apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat asistennya itu menjadi sangat cemas begini . Entah mengapa Rion juga merasakan kecemasan yang sama saat melihat Luna seperti ini meskipun Rion sendiri masih belum mengetahui apa yang membuat Luna menjadi panik seperti itu , namun Rion berusaha sebisa mungkin untuk menutupi kekhawatiran nya dan tetap bersikap seperti biasanya .
" Lun..kevin lun , dia pingsan dan wajahnya sangat pucat ...hiks..hiks.., sayang bangunlah ini nenek hiks..hiks.."
Ucap Aida sembari terus terisak dan terdengar juga dia sedang berusaha membangunkan kevin yang saat ini tak sadarkan diri .
" A..a..apa , i..ibu..tenanglah aku pulang sekarang ibu tolong jangan panik a..aku..akan pulang . "
Luna semakin syok mendengar bahwa kevin pingsan , saking paniknya Luna pun jadi gelabakan sendiri , dengan langkah yang terburu buru dia mengambil tas nya yang berada di sofa bahkan Luna pun sampai lupa jika tadi dia sedang berbicara pada Rion karena yang ada di pikirannya saat ini hanyalah kevin .
Melihat Luna semakin panik dan akan terburu buru pergi tanpa memperdulikan keberadaan nya seolah dia tak ada di ruangan itu membuat Rion menjadi tak sabar , dengan cepat dia pun langsung menghampiri Luna yang sudah bergegas ingin pergi .
" Ada apa ? "
Tanya Rion dengan langsung mencekal tangan Luna yang sudah akan melangkah pergi .
Luna yang mendapat tarikan tiba tiba dari Rion seketika tersadar akan keberadaan Rion . Tapi karena kecemasan dan ketakutan yang di rasakannya Luna pun tak bisa lagi menutupi kesedihannya air matanya pun seketika tumpah begitu saja , dia terus terisak memikirkan kevin karena Luna terus saja teringat mengenai ucapan dokter yang ibunya katakan padanya waktu itu .
Saat ini Luna bagaikan raga tanpa nyawa , tatapannya kosong seolah nyawanya sedang berada di tempat lain dia terus meracau yang tidak jelas dan terlihat sangat kebingungan pikirannya benar benar sangat kacau sekarang .
" A..aku harus pulang sekarang , kevin..kevin hiks..hiks... bagaimana ini . "
Gumam Luna dengan masih terisak namun pandangan matanya kosong berkali kali dia melangkahkan kakinya namun dia kebingungan seolah pintu ruangan itu menghilang secara tiba tiba .
Melihat Luna yang kacau balau begini , Rion secara spontan memeluknya agar Luna dapat sedikit lebih tenang pikirnya , entah mengapa dia sangat tak tega dan hatinya ingin sekali menghapus kesedihan gadis yang saat ini tengah berada dalam pelukannya ini .
" Hei tenanglah.., katakan ada apa ? "
Ucap Rion dengan lemah lembut sembari mengusap rambut Luna .
Luna seketika tersentak dan sedikit tersadar dari pikirannya yang kacau saat tangan kekar dari bosnya itu tiba tiba saja memeluknya , Entah mengapa perlakuan tak biasa dari Rion ini dapat membuatnya merasa lebih tenang .
Seakan tak perduli siapa yang saat ini tengah bersamanya Luna pun membalas pelukan Rion dan menangis sejadi jadinya dalam pelukannya . Dia mengeluarkan semua kesedihan dan keputusasaan yang selama ini dia pendam sendiri di dalam hatinya .
Sebelumnya Luna tak pernah punya siapapun untuk sekedar membagi kesedihannya dia tak mungkin membagi nya dengan ibunya karena hal itu hanya akan membuat ibunya semakin merasa bersedih . Masalah yang begitu banyak dia tanggung sendirian selama ini , kini dia berada di titik dimana dia ingin menangis dengan sekeras kerasnya hingga dadanya tak lagi merasa sesak .
Rion semakin mempererat pelukannya membiarkan Luna mengeluarkan semua tangisnya di sana . Jantungnya kembali tak terkendali namun kali ini rasanya berbeda . Dia tak akan lagi mempertanyakan apa yang dirasakannya ini , dia tak akan lagi berfikir dengan logika dan egonya . Kini dia sadar jika dia memang sangat mencintai Luna terlepas dari rasa kasihan ataupun balas dendam yang sebelumnya selalu di tanamkan dalam pikirannya . Kali ini Rion benar benar merasakan cinta yang begitu dalam di hatinya bahkan lebih dari rasa cintanya pada Tiffany dulu .
Setelah merasa lebih tenang Luna pun mengurai pelukannya dan segera mengatakan semuanya , alasan mengapa dia harus pulang sekarang .
" Tuan tolong ijinkan saya pulang , keponakan saya kevin dia pingsan saya harus membawanya ke rumah sakit " ucapnya dengan sedikit lebih tenang tak sepanik tadi .
__ADS_1
" Apa..., kalau begitu mengapa masih diam saja , ayo cepat aku akan mengantarmu . "
Ucap Rion yang kini malah menjadi sedikit panik setelah mendengar penjelasan dari Luna , dan tanpa aba aba dia langsung menarik tangan Luna untuk ikut bersamanya . Hingga sampai di mobilnya Rion menyuruh Luna untuk segera masuk . Luna pun mengiyakan saja karena Rion mengatakan padanya jika dia akan mengantarnya pulang dengan cepat . Tentu saja Luna tak akan menolak karena yang terpenting saat ini adalah dia bisa secepatnya sampai di rumah .
Rion melajukan mobilnya dengan penuh kecepatan menuju ke arah rumah Luna dia menyalip banyak sekali kendaraan di jalanan bak seperti seorang pembalap .
Sesampainya di rumah , Luna langsung berlari masuk dan Rion pun mengikutinya dari belakang .
" ibu...kevin...ibu .." Teriak Luna memanggil ibu dan keponakannya itu .
Dia membuka pintu kamar kevin namun tak menemukan sosok yang di carinya . hingga suara lembut dari kamar sebelahnya yang tak lain merupakan kamar ibunya membuatnya langsung berlari ke sana dan benar saja kevin masih tak sadarkan diri di pangkuan Aida .
" Lun.."
Seru Aida dengan sangat pelan , suaranya seakan telah habis karena sedari tadi dia terus menangis memanggil manggil kevin yang tak juga membuka matanya .
" Astaga..kevin ! "
Luna kembali panik melihat kondisi kevin yang sudah sangat pucat itu . Dia sangat takut jika kevin tidak akan tertolong mengingat dia belum mendapatkan uang untuk biaya cuci darah yang memang tidak mungkin bisa ditunda lagi jika melihat kondisi kevin saat ini . Karena dokter tidak akan melakukan tindakan jika Luna belum membayar biaya nya .
" Sebaiknya kita harus cepat membawanya ke rumah sakit . "
Suara bariton Rion yang berada di belakang Luna seketika membuat Aida mengedarkan pandangannya ke arah sumber suara itu karena sedikit tertutupi oleh Luna .
Rion pun masuk kedalam dan langsung menghampiri Aida . Dan dengan perlahan dia meraih tubuh kevin yang ada di pangkuan Aida dan langsung menggendongnya .
Sontak hal itu membuat mata Aida terbelalak melihat siapa yang ada di depannya ini . meskipun dia tau jika Luna memang bekerja dengan seorang Rion Destriov namun masih sulit di percaya jika saat ini Rion berada di depannya dan bahkan mau menginjakan kakinya di kontrakan nya yang sempit itu .
Dengan cekatan Rion membawa kevin keluar , dia menghentikan langkahnya di dekat pintu dan melihat ke arah Luna mengisyaratkan agar Luna cepat mengikutinya . Rion pun kemudian berjalan keluar .
" Cepatlah bawa dia , ibu akan menyusul mu nanti . "
Ucap Aida pada Luna , kemudian Aida pun dengan cepat mengambil tasnya yang berada di dekat tempat tidur .
" Ibu..,ibu mau kemana ? " Tanya Luna melihat ibunya seperti nya akan pergi ke tempat lain .
" Em..ibu harus menemui pamanmu . Ibu akan meminjam uang padanya . "
Jawab Aida dengan sedikit gugup , karena sebenarnya Aida terpikir untuk memberitahu mengenai kevin pada Steyla . Aida terpaksa harus berbohong pada Luna karena jika Luna sampai tau dia pasti akan melarangnya .
Luna percaya saja dengan ucapan ibunya itu karena memang mereka sedang membutuhkan uang saat ini . Dan hanya pamannya saja satu satunya kerabatnya yang selalu ringan tangan saat mereka sedang kesusahan .
Kemudian Luna pun segera pergi menyusul Rion yang sudah menunggunya di depan mobilnya karena dia tak bisa membuka pintu mobilnya lantaran kedua tangannya saat ini sedang menggendong kevin .
Dengan cepat Luna membuka pintu mobil Rion dan Rion menyuruh Luna untuk masuk terlebih dahulu lalu dia memberikan kevin padanya .
Rion menancapkan gas nya menuju ke rumah sakit terdekat . Luna menjadi sangat cemas saat merasakan tubuh kevin sangat panas seketika dia meneteskan air matanya dia berusaha sebisa mungkin untuk tidak membayangkan hal buruk namun ketakutan dalam hatinya terus saja membuat jantungnya seakan berhenti berdetak .
Rion memperhatikan Luna dari kaca spion , dia sangat mengerti kecemasan Luna , dia pun berusaha untuk membuat Luna sedikit lebih tenang .
__ADS_1
" Tenangkan dirimu...,dia pasti akan baik baik saja . "
Ucapnya dengan penuh keyakinan , sebenarnya Rion tak tau mengenai penyakit apa yang sedang di derita kevin , Rion hanya mengira jika kevin mengalami demam pada umumnya . Dia berpikir sikap Luna yang sebegitu cemasnya ini lantaran karena memang Luna sangat menyayangi keponakannya itu .
" Dia tidak akan baik baik saja tuan hiks...hiks..bocah malang ini menderita penyakit gagal ginjal dan kondisinya ini pasti karena kami terus menunda untuk kevin melakukan cuci darah . " Ucap Luna dengan terisak .
" Apa...,"
Pekik Rion terkejut mendengar perkataan Luna ini . Matanya seketika menatap kevin dengan sangat iba . Dia tak menyangka jika anak sekecil itu harus mendapatkan penyakit seberat ini .
" Jadi inilah alasan mengapa dia terus menerus bekerja keras , hidup gadis ini sungguh sangat sulit . "
gumam Rion dalam hati . Kini dia tau maksud dari ucapan Luna yang mengatakan bahwa bekerja bukanlah hobby melainkan tuntutan kehidupan yang mengharuskan nya memiliki banyak uang .
Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di rumah sakit . Kevin pun saat ini sedang di periksa oleh dokter Indra yaitu dokter yang sama yang pernah memeriksanya sebelumnya .
Luna terus berdiri di depan pintu UGD karena mereka melarangnya masuk , terlihat sekali dalam raut wajahnya jika hatinya di penuhi dengan kecemasan dadanya terasa sangat sesak menunggu dokter keluar dari ruangan itu .
Rion yang duduk di kursi tunggu merasa tak nyaman dalam hatinya melihat Luna terus saja berdiri dengan tatapan kosong sedari tadi . Dia pun akhirnya berdiri dan menghampiri nya .
" Duduklah , setidaknya kau tidak boleh lemah demi kevin . Jika kau terus saja berdiri lutut mu akan sakit . Dan jika sampai tidak bisa berjalan lalu bagaimana kau akan menjaga kevin . "
Ucap Rion yang menyuruh Luna untuk duduk , dia pun mengatakan hal yang sangat sulit sekali untuk dipercaya , kata kata bijak itu keluar dari singa pemarah seperti nya . Yah meskipun ucapan Rion ini agak berlebihan namun maknanya tetaplah seperti sebuah kekuatan .
Mendengar ucapan Rion yang sedikit berlebihan namun ada benarnya itu , Luna pun menghela nafasnya dengan berat kemudian dia pun duduk ditemani Rion yang duduk tepat di sebelahnya .
Beberapa saat kemudian....
Luna berulang kali melihat ke arah pintu UGD menunggu sosok berjas putih yang tengah menangani keponakannya itu keluar . Tangannya terus bergetar menahan kegundahan hati nya .
Melihat tangan Luna yang terus gemetaran dengan cepat Rion langsung menggenggamnya hingga membuat gadis itu tersentak kaget dan seketika menatap ke arahnya .
" Tenanglah , jangan khawatir . Aku ada bersamamu . "
Ucap Rion tiba tiba , Rion pun tak tau mengapa kata kata itu seketika lolos begitu saja dari bibirnya . Dan setelah menyadarinya Rion pun menjadi salah tingkah sendiri .
Luna mengerutkan keningnya melihat sikap aneh Rion ini terlebih maksud dari ucapan Rion barusan Luna masih tak dapat mencernanya dengan benar .
Luna melirik ke arah tangannya yang masih digenggam oleh Rion dengan sedikit bingung , Rion mengikuti arah mata Luna dia pun tersenyum dan tak berniat untuk melepaskan tangan Luna dan malah semakin menggenggamnya dengan erat .
Luna semakin tak mengerti dengan sikap Rion ini dia terus bertanya tanya dalam pikirannya . Disisi lain Luna juga memikirkan tentang darimana dia bisa mendapatkan biaya pengobatan kevin agar kevin bisa secepatnya melakukan cuci darah atau apapun itu untuk menyelamatkan nyawanya .
Hingga suara pintu yang terbuka membuat Rion dan Luna seketika berdiri dan langsung menghampiri dokter yang baru saja keluar .
" Dokter... bagaimana keadaan kevin ? " Tanya Luna dengan penuh cemas .
🥀🥀🥀🥀
Bersambung....
__ADS_1
🥀🥀🥀🥀