
" Kau duluan , katakanlah ! " Ucap Rion .
" Tidak tuan , tuan saja yang mengatakan terlebih dahulu . Apa ada yang ingin tuan katakan pada sa.. ? "
Ucap Luna namun tertahan tatkala mendapat tatapan tajam Rion seolah mengisyaratkan bahwa tidak ada bantahan .
Luna pun akhirnya mengalah dan memulai bicara terlebih dahulu .
" Tuan , sa...saya ingin mengucapkan terimakasih karena tuan sudah membantu saya kemarin . Maaf saya baru bisa menyampaikan nya sekarang ." Ucap Luna dengan tulus .
Namun ucapan dari asisten nya ini seketika membuat Rion mengerutkan alisnya .
" Apa dia sudah tau ? Bagaimana bisa ? Apakah suster itu membocorkannya ? " Gumam Rion dalam hati , sebenarnya memang dialah orang yang telah menanggung semua biaya pengobatan Kevin dan dia juga yang meminta suster itu untuk merahasiakan nya .
" Em..itu sebenarnya aku hanya.." Sahut Rion dengan sedikit gugup namun ucapannya segera terpotong oleh Luna .
" Oleh karena itu saya sangat berterimakasih karena tuan sudah mau mengantarkan saya dan kevin ke rumah sakit kemarin . Jika tidak ada tuan mungkin saya akan kesulitan untuk mencari taksi saat itu ." Sambung Luna memperjelas ucapannya .
" Ouh..astaga aku pikir dia sudah tau jika akulah yang membayar semua biayanya . Tapi baguslah jika dia tidak tau . " Ucap Rion dalam hati , dia pun merasa sedikit lega karena suster itu menjalankan perintahnya dengan benar .
Rion sedikit menarik nafasnya dan mulai bicara , kali ini dengan nada yang santai namun terdengar begitu serius .
" Apa bisa kita berbicara seperti orang biasa ? " Tanya Rion .
Luna sedikit bingung dengan pertanyaan Rion ini .
" Maksud anda bagaimana tuan ? " Tanya Luna .
" Itulah maksudku ! Bisakah kita bicara seperti seorang teman sebentar saja ? Aku tidak akan menganggap mu sebagai asistenku dan kau jangan menganggap ku sebagai atasan mu , hanya untuk sebentar ! Apakah bisa ? "
Tanya Rion kembali dengan nada bicara yang terdengar begitu dalam . Sebenarnya apa yang ingin dia katakan pada asisten nya itu ? Mungkinkah dia akan mengungkapkan perasaan nya pada Luna ? Apakah secepat itu ?
Sementara Luna hanya terbengong mendengar hal tak biasa dari bosnya ini , yah memang semenjak di rumah sakit sikap Rion padanya menjadi sedikit aneh namun tak mungkin Luna akan berpikir hal yang sejauh itu .
" Apa ini ? Mengapa bicaranya melantur begini , apa jangan jangan dia salah makan ? Bicara seperti seorang teman apanya ? " Gumam Luna dalam hati . dia sangat bingung dengan ucapan Rion barusan .
" Apa aku telah melakukan kesalahan padanya? " pikir Luna , dia pun segera mengingat ingat kesalahan apa yang mungkin dia lakukan . Dan seketika ingatan nya pun terhenti pada suatu hal .
" Ouh astaga ! Apa dia begini karena aku memeluknya kemarin ? Dia pasti menganggap ku sangat lancang , tapi.. bukankah tuan Rion yang terlebih dulu memelukku waktu itu , Lalu dimana kesalahan ku ? "
"Apa dia berkata dengan lembut begini karena ingin memberikanku hukuman yang berat nantinya . "
Seperti biasa Luna selalu bergelut dengan pikirannya . Memang sulit dipercaya bagi nya jika bos arogannya itu tiba tiba saja berubah baik begini . Yah karena Luna masih berpikir jika niat Rion memang hanya ingin balas dendam saja padanya .
" Hei ! Apa kau mendengar ku ? " Seru Rion yang seketika membuat Luna sedikit tersentak kaget .
" A..iya , emm..itu bagaimana mungkin aku bersikap seperti seorang teman sedangkan.." Ucap Luna berusaha menjelaskan pada Rion jika hal itu tidak mungkin bisa dia lakukan , namun ucapannya tercekat karena Rion secara tiba tiba menarik tangan nya dan menggenggamnya . Hal itu sontak membuat Luna membulatkan matanya dan terus saja menatap tangannya dan wajah Rion secara bergantian .
__ADS_1
" Kau tau dari awal aku..aku sebenarnya " Ucap Rion dengan terbata bata .
Entah mengapa Rion menjadi semakin gugup saat ingin memulai bicaranya . Apa yang sebenarnya terjadi dengan pria arogan ini ? mungkinkah dia akan keluar dari kehancuran nya dan membuka hatinya kembali . Apakah dia sudah benar benar mengubur masalalu nya yang kelam itu dan keluar dari kekosongan dan kehampaan hidup yang selama bertahun-tahun selalu menyiksanya .
Kehadiran Luna memang telah meruntuhkan pertahanannya selama ini , namun tak dapat di pungkiri , Rion belum bisa untuk sepenuhnya berdamai dengan masalalu nya , meskipun hatinya saat ini menginginkan Luna tapi rasa sakitnya setelah dikhianati oleh Tiffany seolah selalu menjadi tameng yang menghalanginya untuk mengungkapkan perasaan cintanya .
Melihat Rion yang seperti sangat kesulitan untuk bicara membuat Luna dapat menyadari jika pria di hadapannya ini hanya berusaha untuk mengatakan sesuatu dengan jujur hal itu terlihat jelas dari sorot matanya . Seolah lupa dengan pikiran pikiran buruknya tadi Luna memberanikan diri untuk mengusap tangan Rion yang sedari tadi menggenggam tangannya sembari berkata .
" Dalam pekerjaan aku mencoba bersikap seprofesional mungkin , tapi jika menjadi temanmu aku bisa membantu maka baiklah ! Lagi pula ini hanya sebentar bukan ? Jadi sesuai keinginan mu Rion Destriov . "
Rion sedikit tertegun dengan ucapan Luna barusan seolah Luna telah menyingkirkan dinding yang menjadi penghalang nya untuk bicara secara terbuka pada asistennya itu .
" Apa kau tau mengapa aku menjadikan mu asisten ku ? " Tanya Rion .
Mendengar hal itu seketika membuat Luna tersenyum getir pada Rion . Yah sesuai dengan keinginan Rion , Luna akan bersikap bukan seperti bawahan pada atasannya .
" Dari awal aku sudah tau kau ingin balas dendam padaku dan ingin menyiksaku , aku tidak sebodoh dan selamban yang kau pikirkan , jadi untuk hal sederhana seperti itu tidak butuh waktu lama bagiku untuk menyadari nya . " Jawab Luna plong dan apa adanya .
" Lalu mengapa kau bertahan jika sudah tau ? Kau juga menuruti semua perintah ku meski kau tau kalau aku hanya ingin mengerjai mu saja . " Tanya Rion kembali
" Apa aku punya pilihan ? " Sahut Luna .
" Apa maksudmu ? "
Tanya Rion dengan sedikit mengerutkan keningnya , dia tidak tau jika Luna benar benar takut dengan ancaman yang pernah Rion katakan padanya saat lalu . Padahal selama ini Rion menggunakan itu hanya untuk membuat Luna berada di dekatnya , tak ada sedikitpun niatan Rion untuk menghancurkan keluarga Luna terlebih setelah dia bertemu dengan Kevin , hati nya seolah teriris setelah melihat penderitaan yang selama ini mereka alami , lalu bagaimana mungkin dia tega menyakiti keluarga Luna .
" Tipe pria seperti ku ? " Tanya Rion kembali .
" Kau tau Rion ! kejujuran mungkin akan menyakiti mu . " Ucap Luna dengan tatapan yang sangat dalam ke arah Rion .
" Aku ingin mendengar nya ! "
Sahut Rion dengan raut wajah datar . namun dalam hatinya dia berusaha dengan sangat keras untuk menahan tawa nya , karena dia sudah bisa menebak jika Luna pasti akan memaki nya habis habisan . Alih alih marah entah mengapa ekspresi wajah Luna yang sedang menahan kesal selalu saja sukses membuat Rion terhibur.
" Kau tau tipe pria yang selalu menindas orang yang lemah dengan kekuasaan nya itu sangat menjijikkan ! menjadikan korban sebagai tersangka adalah yang paling buruk dari semua itu ! arogan dan sikap semena mena semua itu ada padamu ! Hanya karena hal sepele kau membesar besarkan semuanya dan itu sangat membuatku semakin muak dengan mu . "
Ucap Luna penuh penekanan mengeluarkan seluruh kekesalannya yang selama ini terpendam ,dan mendengar itu Rion hanya mematung dengan raut wajah datar nya , dia masih terus mendengarkan Luna meskipun ucapan Luna itu seolah memberikan tamparan baginya namun dia tetap membiarkan Luna mengeluarkan semua isi hatinya .
Sejenak Luna menghentikan bicaranya dan menghela nafasnya dengan berat kemudian melanjutkan ucapannya tadi .
" Mungkin kau akan membunuhku setelah mendengar hal ini , tapi bukankah kau sendiri yang ingin mendengar sebuah kejujuran dari ku . " Sambungnya .
Mendengar ucapan Luna barusan membuat Rion seketika terkekeh . Suasana yang tadinya sangat tegang seketika berubah menjadi hiburan bagi Rion sendiri namun tidak bagi Luna yang sebenarnya memiliki rasa takut saat mengatakan semua itu tadi , namun bukankah ini yang di inginkan bos nya itu dengan bicara layaknya seorang teman jadi Luna pun berkata sesuai dengan apa yang dia rasakan selama ini .
" Ck..., Dasar gadis ini ! " gumam Rion dalam hati .
" Baiklah kau sudah berkata jujur dan sekarang giliran ku , jadi dengarkan lah ! "
__ADS_1
Ucap Rion dengan serius . Dia memberikan Luna waktu untuk meredam emosi nya , Luna yang tersadar jika dia sudah hilang kendali tadi pun mencoba untuk menenangkan dirinya . Dan setelah itu Rion pun memulai bicaranya .
" Semua ucapanmu itu benar , tapi ada satu hal yang tidak kau ketahui . " Sambungnya dan Luna pun mendengarkan Rion dengan serius .
" Aku menyusahkan mu karena ingin membuktikan sesuatu . Aku pikir dengan menjadikan mu asisten dan membuatmu tersiksa hal itu bisa membuatku menepis semua perasaan aneh yang selalu aku rasakan setiap kali berada di dekatmu . Perasaan yang dengan susah payah tidak ingin aku akui ." Ucap Rion dengan tulus dan nada bicara yang terdengar sangat dalam mengeluarkan semua isi hati nya .
" Luna..." Seru Rion menatap mata Luna dengan nanar .
Luna seketika tercengang mendengarnya karena baru pertama kali nya Rion memanggil nya dengan namanya dan sedari tadi cara Rion bicara seolah berbeda dengan pria arogan yang selama ini selalu bersikap aneh dan selalu menyulitkan nya , seolah saat ini Luna tengah berbicara dengan orang lain , dan entah mengapa hal itu dapat membuat jantung nya berdegup kencang mendapat tatapan nanar dari bosnya itu.
" Apa yang sebenarnya terjadi pada nya ? Mengapa dia menatapku seperti itu ? " Batin Luna .
Keheningan pun terjadi , mereka tenggelam dalam tatapan masing masing . Dan benar , hal itu selalu saja membuat jantung keduanya menggila , hingga Rion sejenak lupa jika dia ingin mengatakan sesuatu pada asisten nya itu .
Lamunan mereka pun buyar tatkala Rion yang akhirnya tersadar kemudian mulai membuka suaranya .
" Aku ini egois dan tak berhati hal itulah yang selama ini selalu tertanam dalam diriku.., tapi saat bersamamu entah mengapa hatiku selalu saja mengalahkan akal sehatku . " Rion .
Dengan nada bicara yang begitu dalam Rion pun perlahan mengeluarkan isi hatinya . Luna hanya terdiam sedari tadi , ada sedikit rasa canggung setiap kali mendengar cara bicara Rion ini . karena jujur saja Luna masih tak mengerti dengan semua ini , mengapa bosnya itu memintanya untuk bersikap secara tidak formal . Dia hanya mendengarkan Rion dan berusaha untuk memahami apa yang sebenarnya ingin di katakan oleh bosnya itu .
" Em...a..aku tidak mengerti . " Ucap Luna dengan nada pelan dan wajah polosnya . Hal itu seketika membuat Rion sedikit menarik ujung bibirnya .
"Mungkin kau akan sulit mempercayai nya tapi mulai sekarang aku akan benar benar menjadikan mu asisten ku yang sesungguhnya . Aku tidak akan mungkin menyakitimu lagi Luna karena hal itu hanya akan membuat ku sakit . " Rion
satu detik...
dua detik....
tiga detik...
" Astaga ! Benarkah yang ku dengar ini ? Aku tidak sedang bermimpi kan ? Bagaimana dia bisa berubah secepat itu , apa dia kasihan padaku ! " Gumam Luna dalam hatinya .
Luna masih tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya ini , karena sungguh mengejutkan baginya . Benarkah Rion tidak akan menyulitkan nya lagi , dan apa alasan Rion melakukan hal itu , bukankah seorang Rion Destriov yang terkenal dingin dan arogan tidak akan melepaskan mangsanya dengan semudah itu , pikirnya .
Luna berusaha mencari kebohongan dalam mata Rion tapi tetap saja dia tak menemukannya karena memang Rion berkata jujur .
" Kenapa ? Kenapa kau bilang jika itu sama saja akan menyakiti dirimu sendiri ? "
Tanya Luna yang masih mendengarkan Rion dengan serius dia ingin mendengarnya sampai Rion benar benar menyelesaikan ucapannya itu karena tidak ingin salah paham dan berpikir hal yang mustahil terjadi menurut logika nya .
" Karena aku men..."
Ucapan Rion terhenti karena tiba tiba saja...
🐙🐙🐙🐙🐙🐙
Bersambung.....
__ADS_1
🐙🐙🐙🐙🐙🐙