
Di dalam mobil Rion duduk di kursi belakang sedangkan Bimo duduk di sebelah sopir pribadi keluarga Destriov .
" Apa kau sudah melakukan apa yang aku perintahkan semalam ? "
Tanya Rion pada Bimo sembari pandangannya terus menatap ke layar ponsel yang berada di tangannya .
" Sudah tuan , saya sudah menghubungi ibu dari nona Luna tapi..."
Ucapan Bimo yang menggantung seketika membuat Rion penasaran dan meninggikan suaranya pada sekertaris kepercayaan ayahnya itu .
"Tapi apa ? Bicaralah dengan jelas "
Bimo seketika bergidik ngeri mendengar nada tajam dari tuan mudanya itu , dia pun segera menjelaskan .
" Awalnya ibu dari nona Luna sulit untuk mempercayai ucapan saya tuan , tapi akhirnya saya berhasil meyakinkannya . "
Ucap Bimo dengan sedikit gugup .
Mendengar penjelasan dari Bimo Rion hanya mengerutkan dahinya dan memasang ekspresi wajah datar .
" Lalu apakah kau sudah mencari tau tentang nya dan juga keluarga nya . " Tanya Rion kemudian .
" Secepatnya saya akan mencari tahu tuan . "
" Baiklah jika sudah mendapatkan informasi nya laporkan padaku , dan satu hal lagi jangan sampai ayahku tau tentang semua ini."
Ucap Rion dengan tatapan tajam ke arah Bimo , dan bimo yang melihat ekspresi wajah Rion dari kaca spion hanya bisa menunduk paham dan tak berani melihat tatapan membunuh dari bos mudanya itu .
" Baik tuan ."
Rion pun mewanti wanti pada Bimo agar merahasiakan semuanya dari ayahnya . Karena dia tau benar meskipun ayahnya saat ini sedang di luar negeri bisa di pastikan ayahnya itu akan selalu meminta laporan pada Bimo tentang apa saja yang dilakukannya .
Flash back....
" Mengapa masih berdiri di sana , cepat ikuti aku dan jangan membuang waktuku . "
titah Rion yang melihat Luna masih berdiri di depan pintu ruangannya .
Saat Luna ingin mengutarakan sesuatu , bicaranya pun menjadi terbata bata karena Rion terus saja menatapnya dengan tajam .
" Emm...,itu...aku "
Tak sabar dengan apa yang akan di ucapkan Luna Rion pun langsung menarik tangannya dan tak memperdulikan tentang apa yang akan di ucapkan Luna .
" itu apa ..., sudahlah ikuti saja perintahku dan jangan membantah . "
Ucap Rion sembari terus berjalan dan Luna yang tangannya di tarik oleh Rion pun hanya bisa pasrah dan mengikutinya .
" huft..., bagaimana aku akan memberitahu ibu sekarang . Bahkan pria ini sepertinya tidak akan melepaskanku . Entah kemana dia akan membawaku "
Gumam Luna dengan pelan namun masih dapat di dengar oleh Rion .
"Oh..,jadi ini yang dia cemaskan , hanya hal sepele . "
Batin Rion saat mendengar gumaman Luna .
__ADS_1
Rion seketika menghentikan langkahnya dan menyuruh Luna untuk keluar lebih dulu dan menunggunya di lobi . Setelah Luna benar benar sudah hilang dari pandangannya Rion pun mengambil ponsel dari saku jas nya dan menelepon seseorang .
" Bimo kau dimana ? "
tanya Rion , ternyata Bimo lah orang yang di telpon nya saat ini .
"Saya tepat berada di belakang anda tuan ."
jawab Bimo yang seketika membuat Rion membalikkan badannya.
Entah dari mana Bimo datang dan tiba tiba sudah berada di belakangnya .
Rion pun menghela nafasnya dengan kasar , kemudian mematikan ponselnya dan memasukannya ke dalam saku celananya . Kemudian Bimo pun segera menghampiri tuan mudanya itu .
" Ada apa tuan , apakah ada yang harus saya kerjakan ? "
Tanya Bimo dengan sopan .
" Ikuti aku ."
Titah Rion dengan wajah datar dan langsung melangkahkan kakinya . Bimo pun mengikuti Rion .
Rion menghentikan langkahnya di dekat pintu keluar yang mengarah ke lobi dimana Luna sedang berdiri di sana dan menunggu nya .
" Kau lihat gadis itu . "
Ucap Rion pada Bimo sembari pandangannya mengarah ke Luna .
Bimo pun hanya mengangguk sembari terus memperhatikan ke arah wanita yang di maksud tuan mudanya itu .
Titah Rion dengan tegas pada Bimo .
Bimo pun sedikit terkejut saat Rion menyebut gadis itu sebagai asisten pribadi nya , tapi Bimo dengan segera mengiyakan perintah tuan mudanya itu .
" Baik tuan . "
Rion pun meninggalkan Bimo dan berjalan ke arah Luna dan mereka pun segera pergi menuju ke mobil . Bimo yang masih penasaran dengan asisten baru dari tuan mudanya itu , diam diam mengikuti mereka dari belakang dan saat mereka hendak masuk ke dalam mobil dengan cepat Bimo pun memotret nya .
Bimo melihat foto itu dengan intens dan berniat mengirimkannya pada Antony yang saat itu sudah berangkat ke luar negeri , namun perasaannya tiba tiba menghentikan nya .
" Ah..tidak , sebaiknya aku cari tahu dulu tentang gadis ini , apakah dia gadis baik baik atau tidak . "
Bimo pun segera pergi dan melaksanakan perintah Rion tadi .
Tak butuh waktu lama Bimo pun mengetahui jika Luna adalah karyawan baru pengganti salah satu karyawan yang recent .
Dan setelah Bimo berhasil mendapatkan nomor ibunya Luna dari Dewi mantan karyawan di perusahaan , dia pun segera menghubunginya .
Flash on.....
Keheningan kembali terjadi seperti sebelumnya atau lebih tepatnya seperti saat sebelum Rion membuka obrolan nya dengan Bimo .
Rion yang sedari tadi terus fokus pada ponselnya seketika tersenyum tipis saat melihat ke layar ponsel nya sembari terus mengusapnya ke atas .
" Lumayan juga pekerjaan nya . Seperti nya aku harus memberikannya lebih banyak tugas lagi , ha...ha..ha.. ''
__ADS_1
Gumam Rion dengan terkekeh , dia terus saja mengingat ekspresi wajah Luna saat merasa frustasi karena banyaknya pekerjaan yang diberikan nya .
Bimo dan supir yang berada di sebelahnya pun saling bertatapan melihat tuan muda nya itu terkekeh sendiri . Seolah hal itu sangat langka terjadi .
____________
Sementara yang terjadi di kantor GRACHINE GROUP .
Vivi sedari tadi tersenyum dengan penuh kemenangan sembari menyeruput secangkir teh yang ada di tanganya . Dia terus membayangkan bagaimana gadis yang sangat dibencinya itu menangis ketakutan dan juga kehilangan pekerjaannya . Dia pun duduk di kursinya sembari menyilangkan kedua kakinya , dalam hatinya merasa sangat puas karena berpikir rencananya telah berhasil . Hingga rasa senangnya itu berakhir saat melihat Luna melintas di depannya , hal itu seketika membuat matanya terbelalak karena kaget .
Luna yang melihat Vivi pun tidak menghiraukannya dan terus saja berjalan melewati nya dengan tatapan sinis . Luna masih sangat kesal dengan vivi karena ulah nya lah Luna harus terjebak dalam kandang singa seperti Rion .
" Cihh.., mengapa dia masih disini, bukankah seharusnya dia sudah di pecat kemarin "
Gumam vivi dengan tangan yang sudah mengepal menahan kesal . beberapa karyawan yang berada di dekatnya pun merasa aneh melihat raut wajah vivi namun mereka lebih memilih untuk mengabaikannya dan melanjutkan pekerjaan mereka . Bukan karena tidak perduli tapi para karyawan lain pun sebenarnya tidak menyukai sifat vivi yang sangat sombong padahal jabatannya kurang lebih sama dengan mereka .
____________
Luna yang saat ini berada di depan pintu ruangan Rion pun mengetuk pintunya dengan sangat pelan sampai beberapa kali dia mengetuk namun tidak ada sahutan sama sekali . Hingga datang seorang wanita yang tak lain adalah sekertaris Rion menanyainya .
" Maaf..., Apa kau mencari tuan Rion ? "
Tanya sekertaris itu dengan nada sopan .
" Emm...iya "
Jawab Luna dengan tersenyum tipis dan sedikit gugup.
" Kau siapa ? Apakah kau pegawai di perusahaan ini ? "
Tanya sekertaris itu dengan sedikit bingung , dia baru pertama kali melihat Luna , karena kemarin dia sakit dan tidak masuk kerja .
" Aku Luna , asisten baru tuan Rion ."
Luna pun memperkenalkan dirinya dengan apa adanya , yah meskipun dia juga masih tak menyangka bahwa sekarang dia telah menjadi seorang asisten pribadi dari pimpinan perusahaan .
" Benarkah dia asisten tuan Rion ? tapi dari penampilan dan cara bicaranya terlihat sangat meragukan . "
Batin sang sekertaris yang menatap setiap inci penampilan Luna . Namun secepatnya dia menormalkan situasi agar tak terlihat jika dia mencurigai Luna .
" Oh begitu..., maaf nona saya tidak mengetahui nya . " Ucapnya dengan pelan sembari meminta maaf pada Luna .
"Tuan Rion belum datang saat ini ,kemungkinan dia akan datang sekitar 1 jam lagi "
Sambungnya nya yang memberitahukan pada Luna tentang waktu kedatangan Rion .
" Emm.., baiklah , terimakasih sebelumnya saya permisi dulu "
Ucap Luna dengan tersenyum ramah , kemudian dia pun berjalan pergi .
Karena bingung harus menunggu Rion di mana , akhirnya Luna memutuskan untuk kembali duduk di mejanya saat masih menjadi karyawan biasa . Sejenak Luna terpikir jika dia saat ini menjadi asisten pribadi lalu bagaimana dengan pekerjaan nya sebelumnya , apakah dia harus mengerjakannya juga karena dia tak melihat seorang pun di mejanya yang kemungkinan akan menggantikannya .
Karyawan lain di sekitar Luna pun melihatnya dengan biasa saja dan sesekali juga menyapanya namun lain hal nya dengan vivi yang menatap Luna dengan jengkel dan sudah mengepalkan tangannya . Baik vivi ataupun karyawan lain tidak ada yang mengetahui jika sekarang Luna sudah menjadi asisten pribadi dari pemilik perusahaan dan otomatis sudah menjadi atasan mereka .
🌻🌻🌻
__ADS_1
Bersambung.....