
Keesokan paginya Luna bersiap dengan sangat rapi kemudian dia pergi ke dapur untuk menghampiri ibunya yang sedang menyiapkan sarapan . Melihat penampilan putrinya itu seketika membuat Aida sedikit terkejut lalu bertanya padanya .
"Kau rapi sekali sepagi ini , apakah kau akan melakukan wawancara kerja lagi ? "
Tanya Aida yang menatap penampilan Luna dengan sangat mendetail .
"Ini bukan wawancara lagi bu.., tapi aku akan langsung bekerja hari ini . Ibu tau temanku Dewi itu kan.., dia akan recent dari kantornya dan dia memintaku untuk menggantikan pekerjaan nya . "
Jawab Luna dengan raut wajah bahagia dan terlihat sangat bersemangat.
Mendengar hal itu Aida pun ikut bahagia , dia juga menanyakan tentang alasan Dewi keluar dari pekerjaannya itu .
"Benarkah...! kalau begitu ibu juga ikut senang untukmu sayang .Tapi mengapa tiba tiba Dewi ingin keluar, bukankah dia sudah lama bekerja di sana ."
Luna pun mengatakan alasan yang sebenarnya mengapa temannya itu berhenti bekerja .
"Sebenarnya dia akan segera menikah . "
Ucap Luna dengan santainya dan ekspresi wajah yang terlihat datar .
Sontak jawaban dari Luna ini membuat Aida seketika membulatkan matanya karena sangat terkejut .
"Sungguh ! Kenapa baru memberitahu ibu sekarang ! Dewi itu sudah ibu anggap seperti anak ibu sendiri , aku berharap dia akan bahagia. "
Ucap Aida dengan raut wajah yang terlihat senang dan sangat serius .
Luna pun menjelaskan pada Aida jika dia juga baru mengetahui tentang pernikahan temannya itu .
"Aku juga baru mengetahui nya , dia memberitahuku tadi malam , dia bilang ini begitu mendadak ."
Setelah mendengar kabar bahagia dari Dewi , tiba tiba saja membuat Aida mulai memikirkan tentang masa depan Luna . Di dalam hatinya dia selalu merasa bersalah pada putrinya itu , dia merasa jika saja Luna tidak terlahir dari seorang ibu seperti nya , mungkin saat ini Luna sudah mencapai semua impiannya dan juga sudah menikah . Tapi Luna bahkan tidak memiliki waktu untuk memikirkan kehidupannya sendiri karena selalu mengutamakan dirinya dan juga kevin .
" Maafkan ibu Luna.., jika kau tidak terjebak dengan ibu seperti ku ini , kau juga mungkin sudah menikah dan hidup bahagia . Kau selalu saja bekerja hingga melupakan hidupmu sendiri ."
Ucap Aida yang sangat mengkhawatirkan masa depan putrinya , terlihat sekali rasa bersalah dan kecemasan di matanya itu .
Melihat ibunya yang terlihat sedih seketika membuat Luna berusaha untuk menghiburnya karena baginya ibunya tidak bersalah sama sekali atas kehidupan yang mereka alami karena semua itu sudah takdir yang harus dia jalani . Tidak pernah terpikir sama sekali di kepala Luna untuk mengeluh dan protes pada ibunya .
"Mengapa ibu mengatakan hal yang seperti itu ! Dan ibu salah jika mengira aku tidak memikirkan diriku.., sebenarnya dalam hal pria aku tidak sembarang memilih ,ibu tau bagaimana aku bukan ? ."
Ucap Luna yang berusaha menyakinkan ibunya agar tidak terus menyalahkan dirinya sendiri atas kondisi yang mereka alami saat ini .
Mendengar ucapan Luna yang berusaha menghibur dirinya , seketika membuat Aida berusaha menutupi kesedihannya dan mencairkan suasana dengan menggoda putrinya itu.
"Hei..., Jangan terlalu memilih atau kau akan menjadi perawan tua nantinya . Cukup nikahi saja pria yang memiliki rasa kesabaran yang tinggi ."
Ucap Aida yang seketika membuat Luna menjadi sedikit kebingungan.
"Mengapa aku harus memilih pria yang seperti itu ."
Tanya Luna dengan serius , namun jawaban dari Aida seketika membuatnya kesal dan wajahnya pun jadi memerah .
"Karena ibu yakin kau akan selalu berteriak padanya setelah menikah , jadi jantungnya haruslah sangat sehat untuk mendengarkan mu "
Jawab Aida dengan tertawa , hatinya selalu saja merasa puas jika menggoda putrinya itu terlebih saat dia melihat wajah Luna yang seketika langsung memerah .
"Ha...,ibu..."
Teriak Luna yang kesal karena ibunya selalu saja menggoda nya seperti itu .
Aida pun segera menghentikan teriakan putrinya itu karena tidak ingin para tetangga mengeluh karena merasa terganggu di pagi yang cerah ini .
"Sudahlah.., kau terlihat jelek jika sedang marah begitu . Sekarang sarapan dulu setelah itu baru kau berangkat ."
Luna pun akhirnya menuruti perkataan ibunya namum ekspresi wajah nya masih terlihat ngambek . Aida yang melihat sikap putrinya ini hanya tertawa dalam hati karena menurutnya Luna sangat menggemaskan jika dia sedang kesal begini .
Beberapa saat kemudian Luna menanyakan pada Aida mengenai pekerjaannya di restoran .
"Ibu..., Apakah ibu akan bekerja hari ini ? "
Ucapnya sembari menambahkan beberapa makanan ke piringnya.
"Tentu saja , ibu akan berangkat setelah mengantar kevin ke sekolah "
Ucap Aida yang kemudian ikut duduk di seberangnya .
__ADS_1
"Jika ibu merasa tidak sanggup tolong jangan di paksakan , aku berharap pekerjaanku kali ini gajinya cukup untuk memenuhi kebutuhan kita dan juga biaya pengobatan kevin ."
Ucap luna dengan tatapan penuh khawatir pada ibunya . Karena sebenarnya hatinya tak rela jika ibunya itu harus membantunya mencari nafkah karena kondisi fisik ibunya yang sering sakit sakitan . Tetapi karena ibunya terus memohon padanya dia terpaksa membiarkan ibunya bekerja.
"Iya ibu mengerti ,kau tidak usah cemaskan ibu dan fokus saja pada pekerjaanmu nanti "
Aida pun mengiyakan apa yang di bilang putrinya itu agar Luna tidak terlalu cemas lagi padanya .
Kevin yang sudah terbangun dan ingin menuju ke kamar mandi untuk bersiap ke sekolah , seketika terkejut melihat penampilan bibinya yang menurutnya lain dari biasanya .
"Bibi...,bibi cantik sekali hari ini , apakah bibi akan berkencan pagi pagi begini ? "
Tanya kevin dengan polosnya , dia terus menatap bibinya itu dengan rasa kagum .
Mendengar ucapan tak terduga dari kevin seketika membuat Aida dan Luna sangat terkejut dan saling menatap satu sama lain .
"Kencan ? "
Ucap Luna dan Aida secara bersamaan.
Kemudian Luna pun menanyainya dengan pertanyaan serius.
"Hei kevin..., Siapa yang mengajarimu kata kata itu . Kau ini masih kecil kau tau "
" Aku bukan anak kecil lagi umurku kan sudah 7 tahun , aku mengetahuinya dari menonton TV semalam . Bukankah bibi sendiri pernah mengatakan jika menonton TV bisa menambah edukasi."
Ucap kevin dengan tawa jahilnya . Bahkan ekspresi wajah nya saat ini begitu menggemaskan .
"Dasar anak nakal..., Bagaimana kau bisa bilang kalau...."
Ketika Luna ingin mengomeli keponakan nya yang lugu itu Aida pun segera menghentikannya .
" Sudahlah kevin ...,kau ini selalu saja menggoda bibi mu . Apa kau ingin membuatnya mengamuk di pagi yang cerah ini ."
Ucap Aida yang hanya tersenyum atas kenakalan cucu kesayangan nya itu .
"Ibu..., "
Teriak Luna yang melihat bagaimana cucu dan nenek itu bekerjasama untuk menjahilinya .
Ucap Aida dengan penuh penekanan . Setelah itu Aida menoleh ke arah kevin dan menyuruhnya segera bersiap.
"Kau juga sayang, cepat mandi dan sarapan setelah itu nenek akan mengantarmu ke sekolah "
Ucapnya dengan lembut dan penuh kasih sayang .
Setelah Luna selesai sarapan dia pun langsung berpamitan pada ibunya dan segera pergi .
*****
Sementara di kediaman Rion terlihat beberapa pelayan yang dari tadi sudah berdiri di depan kamar Rion , mereka sudah berkali kali mengetuk pintu untuk membangunkannya namun tetap saja tidak ada tanda tanda tuan muda mereka itu akan keluar kamar . Tiba tiba saja Antony datang bersama dengan Bimo . Antony pun menanyakan tentang Rion pada mereka .
"Apakah Rion sudah bagun ? "
Tanya Antony kepada para pelayannya itu .
" Maaf tuan , kami sudah berusaha tapi..."
Salah satu pelayan menjawab pertanyaannya dengan gemetar tapi sebelum pelayan itu menyelesaikannya , Antony langsung saja memotong ucapan nya .
" Sudahlah kalian semua kembali bekerja ! ''
Perintah Antony dengan tatapan tajam dan nada tegasnya.
"Baik tuan "
Mereka pun mematuhi perintah dari majikannya itu dan langsung pergi.
Setelah itu Antony menyuruh Bimo untuk mengambil kunci cadangan karena Rion sengaja mengunci kamarnya dari dalam.
"Bimo kau ambilkan kunci cadangan yang ada di ruang kerjaku cepat ! "
Perintah antony dengan tatapan tajam nya ke arah Bimo .
" Baik tuan . "
__ADS_1
Ucap bimo yang kemudian segera pergi ke ruang kerja tuannya itu yang memang berdekatan dengan kamar Rion.
Setelah Bimo mengambil kunci cadangannya , dia pun langsung memberikannya pada Antony dan segera pergi karena Antony menyuruhnya untuk pergi ke kantor terlebih dahulu .
Antony pun segera membuka pintu kamar Rion dan masuk . Terlihat Rion yang memang masih tertidur , namun Antony tau benar jika dia hanya hanya berpura pura saja .
" Cepat bangunlah ! kemudian bersiap . Jangan pernah membuang waktu seperti ini lagi karena aku tidak menyukainya . "
Ucap Antony sembari menepuk - nepuk tubuh Rion , namun Rion tak kunjung bangun juga . Karena merasa kesal dengan sikap kekanak-kanakan putranya itu Antony pun kembali mengingatkannya mengenai ancaman yang di ucapkan nya semalam .
"Baiklah .., kau pasti berpikir bahwa ancaman ku semalam hanya main main saja..., Sekarang terserah padamu ! "
Ucap Antony dengan penuh penekanan .
Mendengar ucapan ayahnya itu seketika membuat Rion membuka matanya lebar lebar dan kemudian beranjak dari tempat tidurnya dengan ekspresi wajah yang kesal.
" Cepatlah bersiap.., ayah akan menunggumu di meja makan . "
Ucap Antony yang terlihat senang karena Rion akhirnya menurutinya . Kemudian Antony pun segera turun ke bawah untuk sarapan bersama .
Di meja makan sudah ada Sarah yang sedang menunggunya dan Rion untuk sarapan bersama.
" Bagaimana dengan Rion pah ? Apakah dia baik baik saja ? karena dari semalam dia tidak keluar kamarnya sama sekali . "
Tanya Sarah dengan penuh khawatir .
" Kau tenang saja , kali ini dia akan menuruti semua keinginan kita . Dia tidak Akan lagi menyianyiakan hidupnya seperti yang dia lakukan sebelumnya ."
Jawab Antony dengan ekspresi wajah penuh keyakinan .
Melihat suaminya yang begitu yakin seketika membuat Sarah tersenyum bahagia .
" Benarkah ! apa kau sudah berhasil membujuknya ? Aku bahagia sekali jika akhirnya putraku mengerti bahwa kehidupannya itu sangatlah berharga "
Ucap Sarah dengan mata berbinar nya sembari memegang tangan suaminya itu. Disisi lain Sarah juga penasaran bagaimana cara Antony bisa menyakinkan Rion karena dia sangat tau bahwa putranya selama ini sangat lah keras kepala dan tidak ingin mendengarkan siapapun.
"Ngomong ngomong apa yang papah katakan hingga dia akhirnya menyerah ? "
Tanya Sarah dengan raut wajah penasaran.
"Aku hanya menawarkan beberapa pilihan saja padanya ."
Jawab Antony dengan nada santainya dan ekspresi wajah yang terlihat datar .
"Ya.., aku mengerti ! kau ini memang sangat hebat sayang . "
Ucap sarah yang menatap suaminya dengan perasaan bangga.
Sebenarnya Sarah tidak mengetahui sama sekali jika Antony menggunakan dirinya untuk mengancam Rion .
Beberapa menit kemudian Rion turun dengan penampilan yang berbeda dari biasanya dan hal itu seketika membuat Sarah tercengang melihat putranya yang semakin menawan dengan setelan jas yang dia gunakan . Karena setelah sekian lama , ini pertama kalinya Sarah melihat Rion berpenampilan seperti itu .
Sarah yang tadinya duduk pun langsung berdiri dan menghampiri Rion yang perlahan menuruni tangga.
" Astaga ! Putraku ,kau tampan sekali sayang.., lihat penampilanmu ini sungguh luar biasa . "
Ucap Sarah sembari terus menatap putranya itu .
Melihat ibunya yang terlihat senang dan sangat antusias tak membuat Rion mengubah sikap dinginnya itu dia bahkan masih terlihat datar saat ibunya memuji penampilannya.
Antony hanya tersenyum tipis melihat tingkah istrinya itu.
Sarah tak henti-hentinya memuji putra tampannya itu sampai dia lupa jika mereka harus segera sarapan . namun sesaat kemudian Sarah pun teringat dan seketika hal itu membuyarkan konsentrasi nya yang sedari tadi terus terpesona melihat putra tersayangnya itu .
" Astaga ! Ibu sampai melupakan hal yang penting , ayo nak kita sarapan bersama "
Ucap Sarah sembari menarik tangan Rion dan menyuruhnya untuk duduk dan Sarapan , mereka pun akhirnya makan bersama meskipun dengan suasana yang terbilang canggung.
Karena sedari tadi ekspresi Rion hanya datar saja dan tak mengatakan sepatah katapun . Berbeda dengan Sarah yang masih saja menatap putranya itu dengan kagum ,bahkan dia tak menghiraukan ekspresi dari putranya itu karena dia sudah terbiasa dengan sikap dingin Rion.
Setelah mereka selesai sarapan Antony dan Rion pun segera bergegas untuk pergi ke kantor .
Bersambung....
🌷🌷🌷
__ADS_1