
Rion pun masuk ke ruang rawat kevin dan duduk di samping ranjang , dia melihat ke arah kevin dengan tatapan sendu , hatinya merasa sangat kasian pada bocah malang itu . Tidak ada sosok orang tua yang mendampingi nya di saat sakit seperti ini , dan hal itu seketika membuat Rion teringat akan masa kecilnya dulu
Flash back....
Terlihat Rion kecil tengah merengek pada Antony agar Antony mau menemaninya bermain sebentar . Antony yang sedang sangat sibuk dengan pekerjaan kantornya pun tak menghiraukan reangekan putranya itu , dia meminta pengasuh Rion untuk mengurusnya .
" Bi Bibi !! "
Teriak Antony dengan lantang memanggil salah satu asisten rumah tangga nya yang bertugas untuk menjaga dan mengurus keperluan putranya itu .
Bi imas yang saat itu sedang menyiapkan makanan Rion pun dengan tergopoh-gopoh segera menghadap majikannya itu .
" Sa...saya tuan ." Ucap Bi imas dengan terbata bata .
" Dari mana saja kau ! Cepat bawa Rion ke kamar dan ajak dia bermain " titah Antony .
Mendengar ucapan ayahnya barusan Rion seketika menangis dengan tersendu sendu dia sampai memegangi kaki ayahnya dan memohon untuk mau bermain sebentar dengannya .
" Tidak...aku tidak mau ayah , mainlah dengan ku sebentar saja . Ayo...ayo...hiks... hiks.. " Pinta Rion yang sudah berlinang air mata .
Bi imas yang melihat pemandangan menyedihkan di depannya itu pun merasakan hatinya seperti teriris ribuan pisau . Dia yang mengurus tuan mudanya itu dari sejak bayi tentu dia tau jika Rion tak pernah sedikitpun mendapatkan perhatian dari Antony , Antony selalu sibuk dengan pekerjaan . Bi imas sendiri tak habis pikir bagaimana bisa seorang ayah berpikir bisa mengganti perhatian dan kasih sayang yang seharusnya putranya itu dapatkan hanya dengan uang dan fasilitas mewah .
" Ayah aku mohon sekali saja mainlah dengan ku ! Aku berjanji akan belajar dengan rajin . "
" Temanku Dean , ayahnya bekerja di kantor sama seperti ayah tapi dia tetap bisa bermain dengan ayahnya bahkan teman teman ku yang lain juga selalu diantar ayahnya ke sekolah . Mengapa ayah tidak bisa melakukan apa yang ayah teman teman ku lakukan , apakah aku nakal ayah hiks...hiks...'' Rion memohon di bawah kaki ayahnya dengan menyatukan kedua tangannya .
Seketika Antony pun merasa sangat kesal karena Rion sedari tadi terus merengek dan menangis dan bahkan memohon untuk hal yang menurut Antony hanya membuang buang waktu berharga nya saja .
Antony berjongkok dan meraih pundak putranya itu , dengan ekspresi wajah datar dia pun mengatakan sesuatu .
" Teman temanmu selalu menceritakan tentang ayahnya bukan ? " Tanya Antony dan di jawab anggukan oleh Rion .
" Kau tidak perlu menceritakan apapun tentang ayah , karena tanpa di ceritakan pun semua orang pasti sudah tau betapa hebatnya ayahmu ini . " Sambungnya dengan penuh bangga dengan dirinya sendiri .
Kemudian Antony menepuk pelan pundak putranya itu sembari berkata .
" Dengar ! seorang Rion Destriov tidak boleh memohon pada siapapun untuk hal tak berguna . Dengan semua yang kita punya , kita bisa membeli apapun . Jangan menjadi anak cengeng ayah tidak menyukai itu . Waktu adalah uang hanya itu yang harus tertanam dalam pikiran dan jiwa mu hem . "
Tegas Antony yang kemudian langsung berjalan pergi meninggalkan putranya yang masih tak terlalu mengerti dengan apa yang di ucapkan nya tadi .
Flash on.....
*****
Beberapa saat kemudian....
Aida kembali ke ruang rawat kevin namun tak bersama dengan Luna karena Luna pulang ke rumah untuk mengganti pakaian dan juga membawakan beberapa pakaian ganti untuk nya . Saat Aida masuk kedalam Rion sudah tak berada di sana karena Rion hanya sebentar saja tadi .
*****
Sementara di lain tempat Martin saat ini tengah berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon . Tangannya begitu gemetar dan terlihat jelas dia sangat ketakutan dengan lawan bicaranya itu .
" A...aku berjanji nona a..aku akan segera menemukan rekaman CCTV itu . Aku mohon jangan sakiti kekasihku ! lepaskan dia . Dia tak ada kaitannya dengan ini . " Ucap Martin dengan penuh memohon .
" Dia memang tidak ada kaitannya dengan ini ck.., Huhh...sungguh aku kasihan dengan wanita itu nasibnya begitu buruk karena memiliki hubungan dengan mu . Tapi terkadang cinta itu penuh dengan pengorbanan bukan ? Hahahaha...."
Sahut seseorang di sebrang dengan nada yang begitu dalam sembari tertawa , orang yang sama yang selalu membuat Martin gemetar takut dan frustasi , seseorang yang tak lain adalah sang nona misterius .
" Hiks...hiks...mengapa kau begitu kejam nona , Tolong lepaskan dia aku mohon . " Pinta Martin yang sudah sangat frustasi .
" Apa kau tau alasan ku membiarkan mu tetap hidup Martin ! itu karena kau terus mengatakan tentang rekaman CCTV itu padaku , terus terang hal itu sangatlah menggangguku . Dan dengar ini ! kau juga ikut andil dalam apa yang telah ku lakukan pada Tiffany enam tahun lalu , Karena kebodohan mu lah !!! Jika waktu itu kau bisa menutup mulutmu itu rapat rapat maka mungkin saja hal itu tidak akan terjadi dan kau tidak akan terlibat sejauh ini . " Maki sang nona misterius dengan penuh amarah .
"Dengar ! Kau masih ingin melihat kekasihmu itu hidup hidup kan ? Kalau begitu jangan banyak bicara lagi dan cepat temukan rekaman CCTV itu untukku ! Dan ingat ini baik baik ! jika kau sampai berani bertindak sok pintar padaku , akan ku pastikan kau akan melihat potongan tubuh kekasih mu itu . " Sambungnya dengan penuh ancaman dan nada bicara yang terdengar sangat mengerikan .
Tut...
Sambungan telepon pun di putuskan secara sepihak oleh sang nona misterius .
" Nona...no..nona ! Aku mohon jangan..."
__ADS_1
" Ha..halo.."
Martin melihat ke layar ponselnya dan ternyata sambungan teleponnya telah terputus .
" Aishh...sial !!! "
Umpat Martin sembari mengacak-acak rambutnya , dia terlihat begitu frustasi memikirkan bagaimana nasib kekasihnya itu .
Apa yang sebenarnya terjadi sehingga dia selalu mendapatkan teror dari si nona misterius itu ? Dan rekaman apa yang mereka maksud ? mungkinkah ada sebuah rahasia besar dalam rekaman CCTV itu .
******
Steyla memasuki rumah dengan mengendap endap layaknya seorang pencuri . Kondisi rumah yang gelap membuat Steyla sedikit bernafas lega , mengira jika semua orang pasti sudah tidur karena memang ini sudah larut malam .
Namun saat Steyla akan menaiki tangga tiba tiba saja lampu menyala dengan terangnya membuat nya langsung tersentak kaget .
" Dari mana saja kau ? Berani sekali keluar tanpa seijin ku ! "
Suara bariton Robert seketika membuat Steyla menoleh ke arah sumber suara itu . Wajahnya mendadak pucat saat melihat Robert tengah berjalan ke arahnya dengan tatapan penuh kemarahan .
" A..a..aku hanya..."
Steyla kehabisan kata kata untuk mencari sebuah alasan . Tubuhnya gemetar takut dan bicaranya pun menjadi tergagap . Tak mungkin dia mengatakan jika dia diam diam ke rumah sakit untuk melihat kondisi kevin putranya . Hal itu pasti akan membuat Robert semakin mengamuk .
" Untuk apa kau ke rumah sakit malam malam ? Apa kau berselingkuh dengan seorang dokter ? "
Tanya Robert yang sudah mencengkram kuat dagu Steyla , tatapan membunuh pun dia layangkan padanya .
Mendengar ucapan Robert barusan membuat Steyla semakin terkejut karena ternyata Robert sudah mengetahui jika dia pergi ke rumah sakit . Namun dia sedikit lega karena dari ucapan suaminya itu , sepertinya Robert tidak mengetahui alasannya pergi ke rumah sakit .
" Tidak ! mana mungkin aku berani berselingkuh darimu , se.. sebenarnya tiba tiba saja aku merasa kurang sehat jadi aku pergi ke dokter . "
Jawab Steyla beralasan bibirnya pun bergetar menahan sakit karena Robert semakin memperkuat cengkraman tangannya .
" Huhhh ! "
Steyla nyaris terjatuh saat Robert menghempaskan tubuhnya dengan kasar . Dia memegangi dagunya yang sudah memerah karena ulah suaminya itu .
" Kau itu benar benar wanita jal*ng Steyla . Berani sekali kau berbohong padaku ! Apa kau lupa jika suamimu ini punya banyak mata mata . "
Ucap Robert dengan raut wajah marah , kemudian dia mengambil ponsel dari saku celananya dan menunjukkan sebuah foto pada Steyla .
Steyla seketika membulatkan matanya saat melihat foto yang di tunjukkan Robert padanya . Dimana dalam foto itu terlihat dirinya seolah sedang berpelukan dengan seorang pria .
" i...i..itu , a..aku ! ini tidak seperti yang kau pikirkan . "
Flash back....
Steyla terus menangis di dalam kamarnya setelah ibunya menelponnya dan mengabari mengenai kondisi Kevin putranya . Hatinya tak tenang dan terus saja memikirkan Kevin . Dia tak mungkin meminta ijin pada Robert untuk menemui kevin karena itu sama saja akan memancing amarah seorang pria brengsek seperti Robert dan hal itu pasti akan sangatlah merugikan keluargan nya .
Namun kerinduan dan kekhawatiran pada putranya seakan mengalahkan semua rasa takutnya . Dia pun memberanikan diri untuk diam diam pergi ke rumah sakit , meski hanya sekedar melihat kevin dari jarak jauh setidaknya hal itu bisa sedikit mengobati rasa rindu dan kekhawatirannya pada putranya itu . Steyla pun pergi ke rumah sakit dengan memakai selendang dan tak lupa kaca mata hitam untuk menutupi wajahnya agar tak ketahuan oleh ibunya dan juga Luna .
•
•
Steyla sampai di rumah sakit tempat di mana putranya itu dirawat . Dengan sedikit berbisik Steyla menanyakan ruangan Kevin pada seorang suster yang berada di bagian administrasi .
" Maaf ! Dimana ruangan pasien atas nama Kevin Prayoga ? "
Tanya Steyla dengan sangat pelan sembari matanya terus melihat ke kanan dan ke kiri takut jika penyamarannya ketahuan .
" Pasien atas nama Kevin Prayoga berada di ruang Bougenville I nona . " Ucap suster itu .
" Baiklah ! Terimakasih ! " Ucap Steyla.
Steyla pun dengan cepat pergi menuju ke ruangan yang suster beritahukan padanya tadi .
Dan sampailah Steyla di depan ruang rawat Kevin , namun dia tak berani untuk masuk ke dalam dan hanya mengintip dari celah celah jendela kaca yang sedikit tertutup gorden dari luar ruangan .
__ADS_1
Masih dapat terlihat jelas di mata Steyla dimana putranya itu tengah berjuang dengan nyawanya . Steyla semakin meneteskan air mata saat melihat selang selang terpasang pada tubuh mungil putranya itu .
" Ke...kevin ini ibu nak ! Ibu sangat merindukan mu , ibu...ibu ingin memelukmu sayang ! Hiks...hiks..." Batin Steyla .
Steyla berusaha dengan sangat keras untuk menahan isak tangisnya dia pun membungkam mulutnya dengan tangannya .
Matanya kemudian tertuju pada sosok wanita paruh baya yang berada di samping kevin . Hatinya seketika berdesir .
" Ibu..., Ibu ! Bagaimana kabar ibu ? hiks...hiks...mengapa ibu menjadi semakin kurus sekarang , apa ibu selalu memikirkan aku hiks...hiks..., Maafkan aku bu ! Aku sudah memberikan luka yang begitu banyak padamu . "
Ucap Steyla dalam hati , dia semakin tak dapat menahan isak tangisnya dia pun langsung berlari pergi meninggalkan ruangan kevin . Dan saat akan menuju ke arah lift dia tak sengaja bertabrakan dengan Rion .
•
•
•
Steyla berjalan menuju pintu keluar rumah sakit dengan langkah gontai , tenaganya seakan hilang tubuhnya menjadi sangat lemas setelah melihat kondisi putranya tadi . Kepalanya terasa sangat berat dia selalu memikirkan kevin .
Hingga tiba tiba Steyla merasakan kepalanya sedikit pusing dan dia pun hilang keseimbangan dan terjatuh .
Brukk....
Seorang dokter yang kebetulan lewat melihat Steyla terjatuh dan dia pun spontan langsung membantunya untuk berdiri .
" Nona apa anda sakit ? Anda terlihat sangat pucat nona . " Tanya dokter itu , seorang dokter yang masih muda dan terlihat cukup tampan . "
" Aku baik baik saja ! Aku hanya..."
Ucap Steyla sembari berusaha berdiri dibantu dokter tampan itu namun seketika tubuhnya terasa sangat lemas dan akan kembali ambruk namun dengan sigap dokter itu menahannya hingga Steyla pingsan di dada bidang dokter tampan itu .
Cekrek....
Tanpa mereka sadari dari kejauhan seseorang diam diam memotret mereka yang terlihat seperti sedang berpelukan itu padahal kenyataannya tidak .
Dokter itu segera membawa Steyla ke UGD dan memeriksa nya . Dan ternyata Steyla hanya stres dan sepertinya dia tidak makan seharian hingga tubuhnya lemah apalagi ditambah dengan beban pikirannya .
Setelah Steyla siuman dokter itu memperbolehkannya untu pulang , tak lupa dia memberikan Steyla resep obat dan vitamin untuk ditebusnya .
Namun karena Steyla menyadari jika dirinya sudah terlalu lama berada di luar , dia pun tak memikirkan tentang obat dan vitaminnya dia langsung pulang dengan terburu buru .
Flash on....
Robert melangkahkan kakinya mendekati Steyla hingga membuat Steyla memundurkan langkahnya karena takut dengan tatapan tajam Robert .
" Tolong maafkan aku ! Tapi aku bersumpah aku sama sekali tak berselingkuh dengan siapapun . " Ucap Steyla dengan bibir gemetar .
Plak...
Plak...
Plak...
Robert menampar Steyla berkali kali hingga darah segar keluar dari bibir istri mudanya itu . Steyla tak mampu melawan dia hanya bisa menangis dan menahan sakit yang diberikan suaminya itu padanya . Entah sampai kapan dia akan berada dalam kungkungan manusia berhati iblis seperti Robert ini .
" Kurang ajar kau ! Apa kau lupa jika suami mu ini seorang monster hah !!! Aku bisa saja melenyapkan mu wanita bodoh ! Beraninya kau bermain di belakang ku seperti ini , apa kau sudah bosan hidup hah ! " Teriak Robert sembari menjambak rambut Steyla dengan sangat kuat .
" Hiks...hiks...tolong lepaskan , ini sakit sekali hiks...hiks..." Pinta Steyla memohon sembari menangis .
" Kau sendiri yang memancing kemarahan ku istriku..., Ck ! " Bisik Robert di telinga Steyla .
Kemudian dia pun melanjutkan aksinya dan kembali memukuli Steyla tanpa rasa kemanusiaan sedikit pun .
🌹🌹🌹🌹🌹
Bersambung.....
🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1