
"Glenn. Apa lo pernah ketemu dia sebelumnya?" Leya membuat langkah kaki Glenn terhenti.
Glenn menghela napasnya.
"Enggak," Glenn menutup matanya sejanak, kemudian perlahan ia buka dan kali ini ia menatap kedua bila mata Leya lurus, "tapi... gue pernah berada di permainan yang sama. Dan gue gagal nemuin dia." Glenn perlahan melepaskan genggaman tangannya dari Leya.
"Lo... pernah nanganin kasus dia dulu?"
"Iya. Tapi waktu itu... gue cuma anak biasa yang suka main teka-teki untuk nemuin pendongeng. Dan... gue gak tahu kalau permainan gue dulu bisa menghilangkan nyawa orang." Glenn masih menatap Leya dalam, "Ya', lo percaya gue kan?"
Leya mengangguk.
"Apapun yang terjadi kedepannya, mungkin bisa bikin lo ragu sama gue. Tapi, gue udah menyiapkan diri seandainya lo berbalik nyerang gue."
"Kenapa gue nyerang lo? Gak akan terjadi. Kita dipihak yang sama dan gue percaya sama lo."
"Lo jangan bilang kalau lo berada dipihak gue. Lo berada di jalan yang menurut lo benar. Kalau seandainya gue salah, serang gue. Lanjutin semuanya dan ungkap kebenaran."
"Lo... ngomong apa? Kenapa lo ngomong gitu? Gue gak ngerti." Leya menautkan alisnya, mulai tidak mengerti arah pembicaraan ini.
"Ah, bukan apa-apa. Lupain aja. Yuk kita wawancara." Glenn tersenyum singkat dan melangkah lebih dulu.
"Ah gue lupa. Bentar Glenn, gue mau nanya Pak Wahid dulu." Glenn terpaksa menghentikan langkah kakinya kembali. Saat ia berbalik, Leya sudah berlari masuk kembali ke kelas. Akhirnya, Glenn membuntuti Leya saja.
Leya mangkah menghampiri Pak Wahid yang terlihat bersiap-siap hendak pulang dan mulai membersihkan tempat ini.
"Maaf Pak. Ada yang mau saya tanyakan," kata Leya ramah.
"Ada apa lagi?"
"Ehmm... itu, apa bapak liat lukisan di sana? Ada lukisan bergambar siluet peri. Apa bapak tahu siapa yang membuatnya?"
Pak Wahid menoleh ke arah tempat yang Leya tunjuk. Ia kemudian melangkah dan melihat lukisan itu. Ia mengangkat lukisan itu dengan tangan kirinya dan menelitinya. "Tidak ada namanya. Biasanya saya meminta anak-anak untuk menuliskan nama di ujung lukisan ini karena saya biasanya akan memberi nilai pada akhir semester setelah semua lukisan terkumpul," jelas Pak Wahid.
"Apa bapak gak liat siapa yang duduk di sini?"
"Saya tidak pernah memperhatikan murid saya saat sedang mengajar. Lagipula, kenapa kamu bertanya?" Pak Wahid menaikkan sebelah alisnya.
"Ah-ehm bukan Pak. Soalnya lukisannya bagus. Mungkin saya bisa meminta pelukisnya untuk menggambarkannya lagi untuk saya." Leya nyengir lebar sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Ah, yasudah kalau begitu saya pamit pulang Pak. Terima kasih." Leya tersenyum.
Leya melangkahkan kaki keluar kelas. Glenn yang sedari tadi bungkam akhirnya angkat bicara saat mereka melangkah menuju ke ruang BK, "Loo kayaknya udah mulai terbiasa sama pekerjaan ini. Tapi, kalau lo pinter, lo mungkin udah ngambil kuas lukis yang ada di situ."
Leya menoleh ke samping, tepat Glenn melangkah bersamanya. "Sebelum lo nyuruh sih, gue udah ambil. Tada!" Leya tersenyum lebar sambil menunjukkan sebuah kuas lukis yang diujung bulu-bulunya masih terdapat bekas cat berwarna hijau untuk mewarnai latar belakang lukisan Tinkerbell itu. Leya memegangi kuas itu dengan tisunya.
"Wahhh gak salah gue milih lo jadi partner." Glenn mengacak pelan rambut Leya. "Tapi... dia udah tahu kalau lo partner gue. Apa... lo gak papa?"
"Gue... takut. Tapi, gue yakin bisa mengatasinya. Gue udah setengah jalan. Yang gue perlu lakuin cuma berhati-hati."
"Gue bakal jagain lo."
Leya menahan senyumnya. Kemudian, tak lama kemudian ia teringat akan sesuatu. "Anjir Glenn... gue lupa datangin Bu Andini!"
Leya meregangkan tubuhnya yang terasa lelah. Hari ini benar-benar berat. Ia bahkan dimarahi oleh Bu Andini karena tidak langsung menghadap beliau. Bu Andini memanggil Leya karena Leya diminta untuk mewakili olimpiade Fisika tingkat Provinsi sebelum menuju ke tingkat Nasional. Padahal, seharusnya Bu Andini tahu kalau Leya selalu menolak bila diminta untuk mengikuti olimpiade. Leya akhirnya merekomendasikan Glenn. Tapi menurut Leya, Glenn sepertinya akan menolak. Lihat saja besok.
Wawancara hari ini memakan banyak waktu. Leya dan Glenn benar-benar mewawancarai seluruh anggota OSIS tanpa terkecuali. Tapi, hari ini baru sebagian saja yang diwawancarai. Tak banyak yang bisa didapatkan untuk wawancara kali ini. Mereka mengaku pulang lebih cepat dibandingkan Ansel.
Bagaimana dengan Chandra? Chandra mengatakan bahwa dirinya tidak ikut rapat dan pengumpulan data di ruang OSIS karena ia membawa adiknya ke rumah sakit, jadi ia menitipkan kunci pada Galih. Namun, Galih mengaku kehilangan kunci itu saat ia pergi ke toilet. Ia pikir, Ansel yang mengambil kuncinya.
Ah, menyebalkan.
Pukul setengah 6 sore. Satu per satu orang-orang yang mengikuti wawancara bergegas pulang. Leya baru bisa pulang bersama Glenn setelah berpamitan dengan Pak Rasyid dan bapak polisi lainnya yang akan berjaga malam ini di sekolah.
"Glenn, hasil autopsi udah keluar?" tanya Leya yang melangkah menuju ke tempat parkir di samping Glenn.
"Udah Ya'. Seperti yang gue duga. Arsenik. Bokap gue bilang ada 470 mg arsenik yang ditemuin di perutnya. Tapi jumlah arsenik mungkin lebih besar dari itu karena udah dia muntahin sebagian."
"Eh gila itu banyak banget sumpah."
"Jumlah yang sangat mematikan. Lo liat kan bungkus coklat berhamburan di dekat pintu kelas Ansel. Kemungkinan Ansel diberi makan coklat yang dibubuhi arsenik itu banyak banget. Di bungkus coklat juga ditemuin bekas bubuk arsenik."
"Psikopat. Gue pusing juga. Menurut gue pembunuh ini jenius karena rapi banget semua yang dia kerjain. Gak ninggalin satu pun jejak." Leya memijit pelipisnya yang sakit bila memikirkan betapa profesionalnya pembunuh ini. "Btw, gimana masalah CCTV? Kepala sekolah setuju?"
Glenn mengangguk, "Mulai besok udah dipasang. Itu memudahkan kita juga buat nangkap pelaku."
"Bagus deh."
__ADS_1
Langit mulai berwarna jingga. Burung-burung tampak beterbangan kembali ke sarang. Suasana jadi begitu sepi. Mereka sama-sama bungkam dan bermain dengan pikiran mereka sendiri. Entah kenapa, jalan menuju perkiran jadi terasa sejauh ini bagi Leya. Atmosfir canggung meliputi mereka berdua.
Hidup Leya yang biasa-biasa saja jadi berubah 180 derajat hanya dalam beberapa hari mengenal Glenn. Leya menyukai tiap detiknya yang menegangkan saat berlari mencoba menangkap pembunuh hari ini. Leya menyukai tiap detiknya yang dihantui rasa penasaran mengenai sang pembunuh. Ia tak tahu pekerjaan seperti ini bisa membuat sebuah kejutan dalam hidupnya yang datar-datar saja. Glenn adalah teman paling berbahaya yang pernah Leya kenal. Hidupnya berbahaya. Langkahnya berbahaya. Bahkan, mulutnya saja mampu mengantarkan pada pintu kematian. Tapi, ini yang Leya suka dari Glenn. Hidup Glenn yang berbahaya. Mungkin semua orang berpikir bahwa Leya sudah gila.
"Ehm Glenn... kenapa lo suka dongeng?" Tanya Leya tiba-tiba. Berusaha mencairkan suasana.
"Gak tahu. Suka aja." Glenn mengedikkan bahunya.
"Lo pernah pacaran?"
Glenn menoleh ke arah Leya. Wajah gadis itu tidak begitu terlihat karena cahaya temaram matahari senja. Tapi, Glenn cukup yakin bahwa gadis itu sedang menatap Glenn penuh tanda tanya.
"Belum. Gue gak punya waktu buat ngelakuin hal gak berguna kayak gitu," jawab Glenn acuh tak acuh dan kembali menatap jalan di depannya.
"Tapi, apa lo pernah jatuh hati sama cewek?"
"Belum."
"Eh lo normal kan?"
Glenn memutar bola matanya jengah. "Normal. Bisa gak sih ngebahas kasus aja? Ngomongin hal begini cuma ngabisin waktu." Glenn menghela napasnya lelah.
Leya mengangguk pelan, ikut menghela nals. Memang terlihat jelas bahwa Glenn tak punya waktu untuk membicarakan hal-hal seperti itu. Tapi, mungkin saja kehidupan remaja Glenn akan dihabiskan menyelesaikan kasus tanpa bersenang-senang.
Leya bingung.
Di saat Leya tengah memikirkan Glemn, tiba-tiba Glenn menghentikan langkah kakinya. Ia memegangi tangan Leya agar Leya juga menghentikan langkahnya. Leya menatap Glenn bertanya-tanya. Namun, Glenn hanya meletakkan jari telunjuk kanannya di depan bibir meminta Leya tidak ribut.
"Sssttt. Lo dengar gak?" bisik Glenn.
Leya diam, mencoba mendengarkan apa yang Glenn dengarkan. Terdengar suara sesuatu yang di gesekkan ke tembok. Leya mulai gugup. Ia memegangi lengan Glenn dengan kedua tangannya. Kenapa ia jadi setakut ini?
Suara itu terdengar tak jauh dari mereka, yakni tembok belakang sekolah yang tak jauh dari area parkiran.
"Lo tunggu di sini," titah Glenn.
Leya menggeleng, "Enggak. Gue ikut." Ia mencengkram lengan Glenn semakin kuat. Tentu saja ia tak mau ditinggal sendirian. Bagaimana kalau ternyata itu hanya jebakan agar Leya sendiri dan pembunuhnya akan datang menculik Leya? Ah, Leya tak mau memikirkannya.
Glenn menghela napasnya. Tapi, ia membiarkan Leya mencengkram tangan Glenn kuat-kuat. Mereka perlahan menuju ke sumber suara. Rasanya saat itu angin tidak berhembus sama sekali. Tak ada suara lain yang mereka dengar kecuali suara gesekan itu. Mereka semakin mendekat menuju sumber suara hingga akhirnya mereka melihat seseorang berjaket hitam dan celana hitam. Kepalanya ditutupi oleh tudung jaket sehingga dari samping tidak tampak begitu jelas.
Leya dan Glenn mengintip diam-diam dan berniat ingin menangkap orang yang sedang sibuk mengorek cat tembok dengan ujung obeng yang ia pegangi. Namun, tiba-tiba handphone Leya berdering nyaring. Leya dan Glenn terkejut. Leya segera merogohnya dari saku rok. Rosa? Ah sial. Leya langsung me-reject telepon dari Rosa. Tentu saja itu membuat orang itu juga ikut terkejut. Tanpa aba-aba orang itu langsung berlari. Glenn mengejarnya, sementara Leya tak bisa mengejarnya. Ia tak sanggup menggerakkan kakinya yang terasa berat tiba-tiba. Ia memilih untuk diam. Kakinya... tiba-tiba kaku. Leya merutuki dirinya sendiri. Yang ia lakukan saat ini langsung menelepon Pak Rasyid. Hanya itu yang bisa ia lakukan.
Dari sini ia bisa melihat orang itu berlari sangat cepat dan memanjat pagar sekolah dengan begitu lincah. Glenn tertinggal. Saat Glenn hendak mengejar orang tersebut, sebuah mobil van hitam dengan kaca gelap langsung menjemput dan dengan kecepatan penuh menghilang dari tempat kejadian. Glenn menendang pagar itu karena geram. Ia menoleh ke arah Leya yang sedang menelpon seseorang. Leya menundukkan kepalanya.
"Pak... tolong ke belakang sekolah..."
"Maaf Glenn... gara-gara gue-"
"Nggak usah dibahas. Gue sempat liat plat nomor mobilnya." Glenn berbicara tanpa menatap Leya. Ia memandangi tembok di depannya. Sementara Pak Rasyid dan polisinya baru sampai dan Glenn meminta mereka menyusuri tempat ini.
__ADS_1
"Apa dia bukan anak iseng saja?" tanya Pak Rasyid.
Glenn menggeleng. "Saya yakin dia ada hubungannya sama pembujuh itu." Glenn menunjuk tulisan pada tembok di depannya yang ia senteri dengan handphone. Leya ikut menoleh ke arah tulisan itu. Mata Leya membesar seketika.
Dongeng apa selanjutnya? Putri sal-
Tulisan itu belum selesai. Tapi Leya yakin yang dimaksud oleh orang yang menulisnya adalah putri salju. Benarkan? Ah, Leya tak bisa menyimpulkannya. Mungkin nama putri lain di dalam dongeng? Entahlah.
"Glenn, lo lihat mukanya?" Tanya Leya.
"Dia noleh ke gue sebelum masuk ke mobil. Tapi dia pakai masker. Satu yang pasti. Dia cowok."
Leya meneguk salivanya. Iya, orang tadi memiliki postur tubuh yang benar-benar seperti laki-laki. Dari cara ia berlari bahkan memanjat pagar dengan cepat pun seperti laki-laki.
"Ini... apa ini clue selanjutnya?" tanya Pak Rasyid.
Glenn menganggukkan kepalanya. Ia kemudian memutar tubuhnya menghadap Pak Rasyid, "Pak, tolong cari pemilik mobil dengan nomor plat KT 1643 M."
Pak Rasyid mengangguk. Ia melangkah menjauh sambil menelepon seseorang di ujung sana.
"Ya', lo gak papa kan?" tanya Glenn, lagi-lagi tanpa menatap Leya.
"Justru harusnya gue yang nanya lo. Lo gak papa Glenn?"
"Muka lo pucet Ya'. Biar gue anter pulang." Glenn mengenggam tangan Leya menjauhi tempat itu menuju ke tempat Glenn memarkir motornya.
Wajah Glenn berubah jadi lebih dingin dibandingkan sebelumnya. Tangan Glenn juga terasa sangat dingin bahkan berkeringat. Ia memegangi tangan Leya dengan erat seperti takut Leya akan pergi. Saat itu Leya tahu ada sesuatu yang tidak beres dengan Glenn. Ada sesuatu yang Glenn sembunyikan. Dan ada sesuatu yang membuat Glenn setakut dan sedingin itu.
"Kenapa nelpon Ros?"
"Gue kangen njir. Lo kok kayak sibuk banget dah. Di sekolah juga ngilang mulu. Gue gak ada temen nih."
"Sorry sorry Ros. Ada hal penting banget yang harus gue urusin."
"Sejak lo deket sama Glenn, gue gak ada temen nih pfffttt."
"Hehehe maafff sayang. Lo nginap aja sini di rumah gue."
Leya sibuk menelepon sambil mengecek isi e-mail yang dikirim Glenn. Isinya adalah foto-foto Ansel, hasil autopsi, dan banyak yang lainnya. Leya harus mengecek satu per satu. Bahkan, Glenn juga mengirimkan isi wawancara dengan anak-anak OSIS tadi sore. Kepalanya jadi pening melihat data-data yang begitu banyak ini. Namun, Leya menikmatinya.
"Iya, besok mungkin. Ohiya Ya', gue mau nanya sesuatu."
Leya belum merespon pertanyaan Rosa. Kali ini matanya terfokus akan sesuatu yang begitu menarik perhatiannya. Foto daftar absen kelas melukis yang ia ambil tadi sore dan telah ia pindahkan fotonya ke laptop. Ada nama... Rosa? Sejak kapan Rosa ikut kelas lukis?
"Ros. Lo ikut kelas lukis?"
"Hah? Ah ehm i-iya. Kenapa Ya'?"
"Tapi, tadi lo manggil gue buat datangin Bu Andini. Dan itu adalah jam dimana kelas lukis lagi mulai. Lo gak ikut kelas lukis hari ini tapi nama lo ada di daftar absen?"
Hening di ujung sana.
"Ros? Rosa?"
"Gue titip absen hehehe gak ke sana kok gue."
Leya menaikkan sebelah alisnya. Leya tidak pernah sama sekali melihat ada alat lukis di rumah Rosa. Dan Leya tidak pernah tahu kalau Rosa sangat tertarik dengan seni. Sejak kapan?
*Dan... kalau memang Rosa titip absen... artinya... ada 2 painting easel yang kelebihan. Milik siapa? Grimm? Lalu satu painting easel lagi milik siapa?*
"Glenn... dia... apa dia pernah kenal Kak Belvina sebelumnya?"
Kenapa Rosa bertanya seperti itu?
__ADS_1