
"Hai Glenn!" Sapa Rosa ketika Leya membuka pagarnya masuk. Rosa diantar oleh supirnya, setelah Rosa masuk, supirnya kembali pulang.
"Hai Ros," balas Glenn tersenyum.
"Kok lo bisa tahu rumah Glenn sih?" Leya tak bisa menutupi rasa penasarannya, ia memicingkan mata curiga.
"Helloo, gue kan fans nya Glenn. Masa hal kecil begini aja gak tahu hahaha."
"Serius Rossss..."
"Dari Kak Rena, senior di kelas lukis. Katanya sih dia dikasih tau temennya yang pernah satu sekolah sama Glenn."
Glenn diam saja, tapi Leya tahu Glenn menaruh rasa curiga dan penasaran. Sebenarnya, Glenn tidak pernah terlalu dekat dengan teman-teman satu SMP nya dulu, namun memang beberapa teman mengetahui rumahnya.
"Gue gak boleh masuk nih?"
"Silakan," kata Glenn.
Rosa duduk di sofa ruang tamu, kali ini ia menatap Leya dan Glenn bergantian. "Oke, tenang aja, rahasia kalian berdua aman sama gue," kata Rosa mengerling.
Leya yang duduk bersampingan dengan Glenn kali ini saling berpandangan, bingung.
"Maksudnya?" Tanya Leya lebih dulu.
"Kalian bolos bareng, terus satu rumah. Oke, kalian kawin diam-diam kan?" Kata Rosa dengan wajah polos.
"HAH?! HAHAHAHAHA..." Glenn dan Leya tertawa bersamaan, kompak.
Setelah puas tertawa, Leya menghapus air mata yang keluar di ujung matanya karena terlalu berlebihan tertawa. "Anjir lo kebanyakan nonton drama elah..."
"Lah terus? Kenapa kalian bolos bareng? Terus kenapa serumah?"
Glenn menggelengkan kepalanya. Baru kali ini ia bertemu dengan gadis ajaib dan penuh khayalan seperti Rosa.
"Soalnya--" ucapan Glenn terpotong ucapan Leya.
"Jadi gini Ros. Glenn itu emang beneran sakit. Gue yang jagain karena Ayah gue sama Ayah Glenn ternyata saling kenal. Gue lagi nginap sama Ayah gue disini. Nah dia lagi kerja makanya tinggal ada gue, Glenn, sama Bibi Aini." Leya lagi-lagi berbohong. Ia hanya tak ingin Rosa tahu sesuatu dan akan menarik Rosa ikut kedalam jurang yang dibuat Grimm. Jadi, cukup Rosa tak perlu tahu mengenai hal ini.
Glenn diam saja, seakan dia mengerti dan bisa membaca pikiran Leya.
"Lohhhh Ayah kalian saling kenal?!" Rosa histeris, "udahhh fix kalian dijodohin mahh... inu alibi Ayah kalian aja biar kalian deket. Duhhh asyik banget elahh..."
Leya hanya tersenyum paksa. Sementara, wajah Glenn kembali datar seperti biasa.
"Terus lo kesini ngapain? Jenguk Glenn? Gak sekolah?"
"Guru-guru pada rapat gitu kayaknya mau ngebahas UTS kan, bakal dipercepat atau diperlambat kayaknya soalnya udah mau deket ulang tahun sekolah. Terus, gue kesini mau ngajakin lo ke panti yang gue bilang kemarin. Daripada gue gabut di rumah, mending ke panti. Kuy lahh Ya'..."
"Oalahhh... ayok lah. Glenn, lo mau ikut gak?" Ajak Leya.
"Iya Glenn, ikut ajaaa. Daripada lo bingung ngapain di rumah..."
"Gue masih agak sakit perut sih..."
"Gak lari-lari kok Glenn. Lo duduk diam aja terus bacain mereka dongeng, ngajarin baca, menggambar, nyanyi, ajakin makan bareng, ya intinya seru-seruan aja koo. Ayo Glennnnn..." Rosa memohon.
"Ehm... okelah kalau gitu."
"Yeayyyy... Ya' lo siap-siap dulu gih. Pasti belum mandi kan. Bau."
Leya hanya nyengir lebar.
Glenn membeku di tempat ketika ia berada di depan panti asuhan dengan papan bernama 'Kasih Sayang'. Ia menatap dingin ke arah Rosa.
"Panti asuhan 'Kasih Sayang'?" Tanyanya.
Rosa hanya mengangguk polos, "Iya. Kenapa Glenn?"
Leya menyadari ada perubahan besar dari Glenn. Sosoknya yang tadi hangat berubah jadi dingin. Ada apa? Kenapa... Glenn terlihat membenci panti asuhan ini? Apakah... Glenn berasal dari sini?
"Ini... kok lo bisa tahu tempat ini Ros?" Tanya Glenn lagi.
"Gue diajakin jadi relawan di sini. Kebetulan kemarin mereka buka lowongan gitu ya gue ikut." Rosa hanya mengangkat bahunya.
"Kenapa gak di panti lain?"
"Emangnya kenapa sih Glenn? Lo aneh banget dah... ini panti jaraknya deket dari sekolah kita. Jadi gue pikir sepulang sekolah, gue bisa langsung kesini. Udah ah, yuk masuk." Rosa melangkah duluan di depan mereka.
Leya mengernyit, "kenapa Glenn?"
"Ini... panti asuhan tempat gue tinggal dulu, Ya'." Sesaat, Glenn menghela napasnya. Ada raut wajah khawatir, marah, benci... entahlah. Semuanya tercampur sempurna.
Leya melebarkan matanya tak percaya, "hah? Serius?"
"Iya..."
"Lo gak suka di sini? Yaudah kita pulang aja Glenn."
Glenn menggelengkan kepalanya, "Enggak. Gak papa. Gue juga bingung kenapa gue gak suka tempat ini. Gue lupa masa kecil gue di sini. Ayah yang bilang gue dari sini. *But, it's okay*, justru gue seneng diajak ke sini. Buat mencari tahu, apa yang gue benci di sini."
"Serius, lo gak papa?"
Glenn mengangguk meyakinkan.
Mereka melangkah menyusul Rosa di belakang.
Panti asuhan ini terlihat asri. Anak-anak kecil tertawa bahagia sambil bermain di halaman depan pantinya. Panti asuhan ini lebih terlihat seperti Taman Kanak-Kanak dengan wahana permainan seperti ayunan, perosotan, dan lainnya. Mereka tersenyum lebar ketika melihat Rosa. Mereka langsung mengerumuni Rosa, "Hai adik-adikku, Kakak bawa temen baru nihh."
Mereka semua menoleh ke arah Leya dan Glenn.
"Wahhh itu kakaknya ganteng banget," kata salah satu anak perempuan berusia sekitar 7 tahun.
"Kakanya yang cewek juga cantik..."
Leya dan Glenn hanya tersenyum sambil memperkenalkan diri. Tak lama kemudian ketika mereka asyik mengobrol dengan anak-anak kecil di sana, muncul seorang wanita paruh baya yang terlihat cantik walaupun kerutan di wajahnya terlihat banyak.
"Glenn!!" Serunya tiba-tiba dan langsung memeluk erat Glenn. Glenn terkejut sesaat, "Bunda kangen. Kok kamu baru ke sini sih? Lama banget gak liat kamu, Glenn..." katanya.
__ADS_1
Glenn diam sesaat, "Ehmm..."
"Ini Bunda, pengasuh kamu di sini. Masa kamu lupa sih sama Bunda?" Wanita itu melepaskan pelukannya sambil melipat kedua tangan di depan dada. Ia memperlihatkan wajah sebal namun terkesan seperti candaan.
"Maaf ya Bunda... saya sedikit lupa, walaupun ada sedikit yang saya ingat. Soal piano... ehm Chopin Waltz... dan... seseorang yang... ah, saya lupa Bunda..." Glenn memijit kepalanya yang tiba-tiba sakit. Ia bisa tiba-tiba mengingat sedikit kenangannya di panti asuhan. Misalnya, ketika tanpa sadar ia bercerita pada Leya. Itu benar-benar tidak disengaja. Bahkan ia sendiri bingung, bagaimana caranya ia mengingatnya.
"Tidak apa-apa Glenn. Bunda ngerti kok. Nanti paling kamu ingat sendiri. Mau Bunda Risa temenin keliling-keliling? Siapa tahu kamu bisa ingat?" Ajak wanita bernama Risa itu.
Glenn mengangguk sambil tersenyum.
"Dan... kamu udah punya pacar ya sekarang. Manis lagi." Bunda Risa tersenyum lembut pada Leya.
"Hah? Bu-bukan Bunda..."
"Otw pacar Bun. Doain mereka ya," sambar Rosa terkekeh.
"Ros!" Pipi Leya bersemu merah.
Anak-anak bersorak menggoda. Tapi ada beberapa yang terlihat kecewa karena berharap Glenn menjadi pangeran mereka. Suasana di sini ramai dan menyenangkan.
"Ayo, mari Bunda ajak Glenn dan ... siapa ini namanya?"
"Leya, Bunda."
"Ohiya... Leya. Ayo mari Bunda ajak kalian berkeliling. Dan Rosa, tolong kamu ajak anak-anak masuk ya. Sekarang waktunya mereka menggambar."
Rosa mengangguk antusias dan membawa anak-anak masuk ke dalam panti. Sementara, Bunda mengajak Leya dan Glenn berkeliling panti, termasuk mengunjungi kamar yang pernah Glenn tempati.
Mereka melewati ruangan yang digunakan tempat anak-anak menggambar. Di sana tidak hanya ada Rosa sebagai relawan, adapula seorang gadis berumur kisaran 17 tahunan, berambut hitam lurus sepunggung yang menurut Leya memiliki senyum manis. Dan ada pula gadis lain yang lebih tua, umurnya kisaran 20 tahun dengan rambut bergelombang yang diikat dan kulit sawo matang.
Rosa melambaikan tangan dan tersenyum ketika melihat Leya dan Glenn melewati ruangan tersebut. Leya membalas lambaian tangan dan senyuman Rosa. Rosa tampak begitu bahagia bersama anak-anak. Leya menyukainya.
"Ayo, pertama kita ke kamar Glenn dulu," ajak Bunda Risa. Leya dan Glenn mengangguk bersamaan.
Sampailah mereka di lantai 2, tepatnya di kamar paling ujung. Bunda Risa membuka pintu kamar itu dan terlihat cat dinding serba biru menyegarkan mata. Kamar ini terlihat rapi, dengan gantungan bulan, bintang, dan planet-planet di langit-langit. Ada roket juga. Terdapat 1 kasur bertingkat yang terlihat sangat rapi namun berdebu, seperti tak pernah di tempati.
Glenn melangkah masuk, dan hal yang paling pertama ia lakukan adalah berdiri di depan jendela besar. Ia tak tahu kenapa, seakan-akan walaupun ia lupa, namun tubuhnya tak pernah lupa melakukan hal itu.
Entahlah, walaupun berada di kota, Glenn sempat bingung kenapa masih ada tempat seindah dan semeneduhkan ini. Ya, walaupun jarak dari panti asuhan ini ke jalan besar bisa terbilang jauh. Seperti berada jauh di dalam gang besar. Dan jarak antara panti asuhan ini dengan rumah warga lain terbilang jauh. Panti asuhan ini memang memiliki halaman belakang yang luas. Dan, benar yang dikatakan Rosa. Dibandingkan panti asuhan lain, panti asuhan ini masih bisa dijangkau dari sekolah Glenn.
"Pohon itu, tempat favorit kamu," kata Bunda Risa tiba-tiba, "kamu suka membaca buku di sana."
"Bunda, saya sekamar dengan siapa? Dan... dengan siapa pula saya sering bermain?" Sedari tadi, Glenn ingin sekali menanyakan hal ini.
"Friska dan Adrian," kata Bunda Risa tersenyum lembut.
Leya hanya diam mendengarkan mereka berbicara, namun ia tetap penasaran memeriksa ruangan ini.
"Kemana mereka?" Tanya Glenn penasaran. Setidaknya, mungkin ketika Glenn bertemu mereka, Glenn bisa mengingat sesuatu tentang panti asuhan ini. Sesuatu yang menurut Glenn penting untuk diingat, tapi ia melupakannya. Seperti yang dikatakan oleh pembunuh Alfi.
"Kamu benar-benar lupa ternyata." Wajah Bunda Risa berubah sedih, "Adrian sudah gak ada, Glenn. Dia meninggal pada kecelakaan mobil dulu. Pada hari dimana kamu diadopsi. Mungkin, itu yang membuat kamu melupakan mereka. Trauma," jelas Bunda Risa.
"Kecelakaan mobil?"
Bunda Risa mengangguk.
"Lalu, Friska?"
"Dia pergi dari panti. Sekarang, Ibu gak tahu dia kemana. Dia bilang, dia mau keluar negeri. Dia diadopsi orang lain juga." Bunda Risa duduk di atas kasur, "sejak Adrian meninggal, kalian berdua terpisah. Bunda tahu. Kepergian Adrian membuat kalian sangat terpukul. Bunda rindu kalian bertiga." Bunda Risa menyeka matanya yang tiba-tiba sembab. Glenn bergerak mendekat Bunda Risa dan memeluknya pelan.
"Maaf Bunda, saya baru datang."
Bunda Risa melepaskan pelukan Glenn perlahan, "iya, gak papa Glenn. Kamu sering-sering main ke sini ya?"
Glenn mengangguk sambil tersenyum.
Leya terharu melihat mereka. Tapi, kemudian ia kembali menatap sekeliling kamar Glenn. Matanya tertenti ketika mendapati sebuah buku berukuran lumayan besar yang tergeletak di atas nakas di samping kasur. Ia membukanya.
Isinya adalah... kumpulan dongeng?
"Ini... punya siapa Bun?" Tanya Leya sambil membawa buku besar itu.
Buku dongeng itu terlihat berdebu. Sampulnya berwarna coklat. Kertas-kertasnya terlihat lusuh, berisi potongan-potongan dongeng dan ada beberapa pula yang digambari dengan gambaran khas anak-anak kecil dan tulisan anak kecil pula. Potongan gambar putri salju, serigala, dan yang lainnya juga tampak terlihat di buku itu. Leya mengerutkan keningnya. Walaupun ia hanya membacanya sekilas, ia menyadari sesuatu. Dongeng-dongeng di dalam buku itu urutannya sama... dengan kasus mereka...
"Itu punya Adrian, Friska, dan Glenn. Buku kesayangan mereka. Setiap hari, mereka suka mengisi buku itu dengan dongeng-dongeng yang baru saja mereka baca." Bunda tersenyum seraya bernostalgia, ia mengambil buku dongeng itu, "kalian bertiga terutama Glenn dan Adrian itu cerdas. Kalian berbeda dengan anak lainnya. Friska juga. Kalian bertiga menyukai dongeng. Selalu minta Bunda bacain dongeng tiap malam."
__ADS_1
Bunda Risa membuka lembaran-lembaran lusuh itu. Kemudian ia menemukan sebuah foto 3 anak kecil di depan pohon besar tersenyum sama lebarnya. Anak kecil perempuan cantik berikat 1 dan berponi di tengah dan 2 anak laki-laki menggemaskan berada di samping kiri dan kanan, "ini kalian. Ini Friska, di samping kiri ini Glenn, di samping kanan Friska itu Adrian." Bunda Risa memberikan foto itu kepada Glenn. Leya juga ikut melihatnya dengan berdiri di samping Glemn.
"Lucu banget lo, Glenn," kata Leya tersenyun kecil. Tapi, wajah Glenn justru serius.
"Bunda, buku dongengnya boleh Glenn bawa pulang?"
"Boleh. Ini memang punya kamu kan." Bunda Risa memberikan buku dongeng itu.
Glenn membacanya sekilas buku dongeng itu. Ia menyadari hal yang sama dengan Leya. Urutan dongeng itu sama dengan kasus yang mereka kerjakan. Walaupun, dongengnya tetap sama dengan dongeng-dongeng berakhir bahagia seperti yang diceritakan kepada anak-anak. Pada halaman terakhir, ada sebuah tulisan tangan yang membuat kening Glenn dan Leya berkerut bersamaan.
Tulisan dengan huruf tegak bersambung.
*Dongeng, memiliki akhir bahagia. Tapi, dongeng berakhiran tragis jauh lebih adil, bukan? Aku menemukannya lebih dulu, maka aku pemilik ceritanya. Aku pendongengnya. Aku yang mengubah alurnya.*
Leya membulatkan matanya terkejut. "Tulisannya... "
"Grimm..."
Leya dan Glenn saling berpandangan.
"Bunda, apa ada orang lain yang pernah masuk ke sini?" Tanya Leya lebih cepat dibanding Glenn.
Bunda Risa terlihat mengingat-ngingat sebentar, "setahu Bunda gak ada. Karena Bunda yang pegang kuncinya. Ada apa?"
"Gak ada apa-apa kok Bunda," kata Glenn tersenyum.
Glenn meraba permukaan kertas bertuliskan huruf tegak bersambung itu.
Ia menambahkan satu misi lagi. Mencari Friska.
Glenn menyentuh tuts-tuts piano tua yang saat ini diletakkan di gudang belakang panti asuhan. Leya duduk di sebelahnya. Sementara, Bunda Risa sedari tadi sudah kembali ke ruangan bersama anak-anak. Mereka berkeliling hanya berdua saja dan sampailah mereka digudang ini, menemukan piano tua yang tak asing bagi Glenn bila disentuh.
"Grimm nemuin buku dongeng lo dan dia bikin kasus ini persis dengan buku dongeng lo," kata Leya pelan, menatap Glenn dari samping.
"Gue... gak tahu Leya. Rasanya, seakan-akan Grimm sangat mengenal gue. Bahkan sejak kasus pertama yang bikin gue masuk rumah sakit jiwa, Grimm sudah mengenal gue. Mengajak gue tenggelam ke dalam dunia dongeng yang dia bangun sendiri. Tapi dia gak pernah muncul dan gue dianggap berhalusinasi. Dia terasa nyata tapi juga gak nyata. Gue gak pernah tahu keberadaan dia. Tapi, dia selalu mengawasi gue seakan-akan dia sangat tahu gerak-gerik gue.
"Kadang gue ragu sama diri gue sendiri. Apa gue memang gila?" Glenn menekan tuts-tuts piano, berubah menjadi nada-nada indah.
Leya memeluk buku dongeng yang tadi mereka temukan, "lo gak gila. Yang gila itu Grimm. Dan harus lo tahu, gue gak pernah meragukan lo sama sekali."
"Akan ada saat dimana lo meragukan gue, seperti gue mulai meragukan diri gue sendiri."
Leya masih menatap Glenn dari samping. "Glenn, lihat gue." Glenn menoleh ke arah Leya. Mata mereka bertautan dalam jarak sejengkal saja, begitu dekat. "Sampai kapan pun, gue gak akan meragukan lo. Karena, gue percaya sama lo." Leya menatap dalam mata gelap milik Glenn. Glenn membeku di tempat, bingung ingin melakukan apa dan berkata seperti apa.
"Ehem..." Deham Leya beberapa saat ketika ia mulai merasa canggung, "jadi lebih baik, lo cari Friska. Mungkin dia tahu siapa Grimm. Atau mungkin... dia..."
"Friska... Friska Anastasia bukan Grimm." Glenn menengadah, menatap langit-langit gudang, "gue ngerasa dia bukan Grimm."
"Mungkin aja sih, Grimm dateng kesini, menyamar jadi relawan tanpa ketahuan. Gak ada yang tahu kan?" Leya mengusap sampul coklat buku dongeng itu.
"Ya, mungkin."
Tiba-tiba, telepon mereka berdering bersamaan. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. Seketika, jantung mereka berdebar bersamaan. Pasti dari Grimm.
*Selamat datang kembali! Selamat atas kesembuhan ksatria tampan. Mari kita mulai permainan lagi. Kalian mungkin tahu, siapa pemeran utama selanjutnya. Namun, coba tebak. Siapa yang akan lebih dulu kuberi bunga? Putri Ariel? Atau... Putri Tiana?
-Grimm*
Glenn terlihat geram. Ia mencengkram kuat ponselnya, seperti hendak menghancurkan ponselnya saja. Ia terlihat sangat frustasi.
"Bahkan gue belum selesai memecahkan teka-teki korban sebelumnya. Sampai Alfi. Tapi, dia mau membunuh orang lagi? Dia sinting!" Glenn memukul tuts piano dengan sebelah tangannya yang tidak memegangi ponsel. Rasanya dia mau gila. Tidak terlihat celah sama sekali.
"Suatu saat, dia bakal ngelakuin kesalahan. Dan lo tahu? Sebenarnya, dia sudah melakukan kesalahan yaitu meninggalkan buku dongeng ini dan buku catatan Adela. Sekarang yang perlu lo lakukan adalah, bergerak spontan." Leya tersenyum, berusaha memberi semangat pada Glenn, "lo harus ingat kalau Grimm bekerja terencana, semuanya sesuai aturan. Dan... menurut buku ini, yang selanjutnya mati adalah... Putri Tiana."
Leya menunjukkan potongan gambar Putri Tiana setelah lembaran berisi potongan gambar kodok bermahkota.
Glenn tersenyum tulus, "makasih Ya'."
*Makasih sudah mempercayai gue dan makasih sudah menguatkan gue di saat seperti ini.
Sebelum Glenn pamit pulang, ia menyempatkan diri untuk pergi ke pohon besar, tempat ia sering berkumpul bersama Friska dan Adrian, walaupun Glenn masih tak bisa mengingat mereka.
Glenn mengusap batang pohon besar ini, seperti memohon agar pohon ini sedikit saja membagi kenangannya bersama Glenn dan teman-temannya dulu. Ia berharap, sesuatu akan terjadi dengan otaknya. Mengingat apa yang telah ia lupakan. Ia juga berharap, semoga yang ia lupakan itu bisa memberinya petunjuk siapa Grimm.
Glenn masih mengusap batang pohon itu, bersamaan dengan terjatuhnya kulit-kulit terluar pohon. Glenn mengernyit. Ia seperti melihat huruf. Dengan cepat, Glenn pun mengoyak kulit terluar pohon itu menggunakan tangannya. Terlihat sebuah tulisan di sana.
*Tiga Pendongeng
Gleen waRren rajendra
frIska anastasia
adrian Mahardika prataMa
(Grimm)*
Glenn melebarkan matanya. Tubuhnya membeku di tempat. Dadanya sesak walaupun angin terus menampar wajahnya. Seperti udara tertarik habis ke inti bumi.
"*Aku suka dongeng berakhiran tragis. Lebih nyata, lebih adil. Kebahagiaan itu cuma ilusi semata.*"
Air mata Glenn tiba-tiba mengucur pelan.
"Glenn? Lo kenapa?" Tanya Leya menghampiri Glenn kemudian berdiri di sampingnya. Ia akhirnya mengikuti arah mata Glenn, yaitu tulisan di pohon kayu. Mata Leya seketika melebar, ia kembali mengalihkan pandangannya menuju Glenn.
"Glenn..."
"Gue harus nyari Friska."
__ADS_1