Once Upon a Time

Once Upon a Time
Grimm


__ADS_3

"Dia itu psikopat tau. Dia gila! Pernah masuk rumah sakit jiwa habis bunuh 1 orang dewasa dan 2 temannya sekaligus!"


"Hah serius?"


Glenn pernah masuk rumah sakit jiwa?


"Makanya dia gak punya teman kan?


"Ya dia anak baru. Wajar sih belum punya temen cowok."


"Maksud gue pas SMP."


"Kok lo bisa tau?"


"Yaiyalah. Gue gituuu. Namanya gue nge-fans pasti lah gue cari tau kenapa dia misterius gitu. Jadi temen gue anak SMP Bintang Raya, sekolahnya Glenn dulu waktu kelas 2. Glenn juga anak pindahan waktu itu. Katanya dia sih banyak gosip nyebar kalau Glenn pernah masuk RS Jiwa 1 tahun karna kejiwaannya terganggu."


"Ah gak percaya gue." Leya mengedikkan bahunya, tapi ia tetap ingin mendengarkan ocehan Rosa karena kali ini ocehan Rosa lebih berfaedah dibandingkan gosip-gosip gak bermutu tentang cowok famous di sekolah. Eh, tapi ini kan juga gosip cowok famous? Ah sudahlah, yang jelas ini lebih bermutu!


"Gue juga gak percaya awalnya. Tapi si Egi juga bilang gitu pas baris tadi siang. Nah Egi ini Kakaknya sekolah di SMP Bunga Kusuma, itu SMP pertamanya si Glenn waktu kelas 1. Jadi pas lagi belajar heboh gitu tiba-tiba polisi datang nangkep Glenn. Cuma si Glenn kan dibawah umur dan kejiwaannya terganggu, jadinya ya dimasukin ke RS Jiwa deh. Pindah-pindah sekolahnya. Dia dianggap gak naik kelas 1 tahun. Makanya dia lebih tua dari kita."


Rosa nyerocos tanpa jeda. Luar biasa. Bahkan dalam sekali tarikan nafas.


"Anjir baru sehari Glenn masuk sekolah kita dan lo tau infonya dia sebanyak ini?" Leya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Jangan remehkan perkumpulan penggosip ya hahahah. Ohiya, satu lagi kata temen gue, si Ratna yang sekolah di Bintang Raya, si Glenn itu jenius kebangetan! Dia sampai ditawarin beasiswa sekolah di kedokteran Harvard University. Masih SMP loh bayangin gak? Dia lulus SAT anjir gue nyumpah dengarnya! SMP bung!!"


"SMP udah ditawarin kuliah? For real?" Leya membelalakkan matanya tak percaya. Masalahnya, ini Harvard! Universitas paling bergengsi di dunia! Anak SMP? Ditawari Harvard? Impossible!! Bisa masuk UI saja syukur, ini malah Harvard. Gila!


"Iya tapi dia nolak. Katanya iseng aja ikut SAT cuma mau tau kemampuannya. Dia pingin sekolah normal dulu kayak anak biasa katanya."


"Gela gela ciri psikopat emang hahahaha. Btw, kedokteran?"


"Iya kedokteran. Gatau deh gimana bisa dia dibeasiswain, kedokteran pula!"


"Berarti dia punya eksperimen dong maunya? Gak mungkin sembarangan Harvard mau nerima anak SMP."


"Nah kalau itu, gak tau deh gue. Btw, Papanya dokter forensik! Kece kan."


"Kece sih tapi psikopat gitu."


Tampan, jenius, dingin, namun berkharisma, menarik. Leya akui Glenn merupakan ciri-ciri terkuat seorang psikopat. Tapi, alibi terkuat yang dimiliki Glenn adalah kembali ke kelas dalam waktu 15 menit.


Untuk melakukan pembunuhan pada Raya sepertinya hal yang mustahil dilakukan bila hanya dalam waktu 15 menit. Terlebih lagi dibutuhkan waktu untuk menjahit mata Raya.


Bila dihitung-hitung, dibutuhkan waktu sekitar 5 menit menuju toilet, 5 menit buang air kecil (bila memang buang air kecil), dan 5 menit kembali ke kelas. Jelas tidak mungkin Glenn melakukan pembunuhannya dalam waktu 5 menit untuk menggantikan waktu buang air kecilnya. Dan Glenn kembali sebelum jam 3, jadi masih ada kemungkinan ia tak bertemu Raya di toilet.


Sementara Leya sibuk berpikir keras, Rosa sibuk memperhatikan wajah Leya--saking bingungnya ingin berbuat apa.


"Ya'..."


"Hmm?"


"Gue tadi-"


Tiba-tiba handphone Leya berdering. Leya menghembuskan nafas kencang dan menarik handphone-nya malas. Ia menaikkan sebelah alis ketika sang penelepon tidak termasuk dalam nomor kontak yang ia simpan--nomor tak dikenal.


Ia kemudian meletakkan handphone-nya lagi ke meja di samping kasur. Leya bukan type gadis yang suka mengangkat nomor telepon orang yang tidak dikenal.


"Kok gak diangkat? Angkat dong."


Leya mengangkat sebelah alisnya curiga. Tidak biasanya Rosa memintanya mengangkat telepon seperti ini. Namun, akhirnya ia mengikuti perintah Rosa.


"Halo?"


"Hai..."


Suara bariton laki-laki terdengar. Leya semakin mengerutkan alisnya, sementara Rosa terlihat sibuk mendekatkan telinganya--ingin mendengarkan suara sang penelepon dengan jelas.


"Load speaker nyalain!!" ujar Rosa dengan mulut, tanpa suara. Hanya bibirnya saja yang bergerak ketika Leya mendorong kepalanya menjauhi handphone. Leya memutar bola matanya dan menekan tombol load speaker.


"Leya?"


"Iya. Ini Kak Chandra?"


"Iya, maaf ya gue nelpon malem. Ganggu lo?"


"Enggak kok hehe..." iya ganggu banget.


Rosa memekik tanpa suara ketika mengetahui sang penelepon adalah Chandra Arya Nugroho kelas XI IPA 3--wakil Ketos yang secara beruntung akan naik menjadi Ketua OSIS untuk menggantikan kekosongan posisi Ketua OSIS. Salah satu dari sederet laki-laki yang dipuja di sekolah, namun pesonanya tak lebih mengagumkan dari pesona milik Raya.


"Ada apa Kak Chandra?"


"Enggak hehe mau nanya aja, besok pulang sekolah ada acara?"


"Hmm enggak Kak. Kenapa?"


"Jalan yuk?"


Sudah kuduga. Leya memutar kedua matanya malas, sementara Rosa memberi kode agar Leya menerima ajakan itu. Mereka berdebat tanpa suara. Leya menggelengkan kepala sambil menatap Rosa, sementara Rosa mengangguk-angguk cepat dan menunjuk wajah Leya dengan mata melotot--memberi ancaman bila Leya menolak.


"Leya?"


"Iya Kak."


"Oke pulang sekolah aku langsung jemput ya di kelas. Bye!"


Nada suara Chandra terdengar lebih riang. Sementara Leya memberengut setengah mati. Telpon diputuskan secara sepihak.


"Yeayyyy!!!"


"Ros! Lo ya yang kasih nomor gue ke Kak Chandra? Kok lo rese-nya naudzubillah sih!!"


"Yang penting gue berhasil comblangin kalian. Ya semoga ajadeh kalian jadian terus gue makan pizza grratis wohoooo!!" Rosa jingkrak-jingkrak di atas kasur, sementara Leya kembali menghempaskan tubuhnya ke kasur. Entah kenapa pikirannya malah melayang pada laki-laki suram yang baru selesai mereka bicarakan sebelum Chandra menelepon.


Ada keingintahuan yang mencuat di benak Leya.

__ADS_1


 ~~~


Leya tak bisa konsentrasi dengan buku yang ia baca. Ia sering melirik ke arah laki-laki di sampingnya--Glenn. Glenn sedang membaca buku dongeng. Terlihat aneh untuk laki-laki berwajah macho dan sudah cukup besar untuk terus membaca dongeng.


Leya mengintip judul dongeng yang ia baca, Hansel and Gretel. Leya berdiri dari kursinya dan duduk di depan Glenn--berhadapan dengan Glenn--sambil menopang kepalanya.


Glenn yang menunduk pun akhirnya mengangkat kepala dan matanya menatap lurus Leya. Leya sempat gemetar melihat mata itu, mata tajam yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Di mata itu terlihat luka yang berusaha ditutup.


"Apa?"


"Enggak kok. Cuma mau liat lo baca apa." Leya tersenyum lebar, sementara laki-laki itu mengatupkan bibirnya rapat.


Bila kemarin Glenn yang terus memperhatikan Leya, hari ini Leya lah yang terus memperhatikan Glenn.


"Wih itu Hansel dan Gretel ya? Gue suka dongeng itu. Terutama Hanselnya, pinter banget!! Lo kayaknya punya banyak dongeng ya?" cerocos Leya panjang lebar.


"Punya, banyak."


Leya tak sengaja melihat teman-teman di sekelilingnya. Mereka semua menatap Leya takut sekaligus bingung. Mungkin mereka pikir Leya aneh karena hanya dia satu-satunya yang berani mengajak bicara Glenn setelah gosip buruk tentang Glenn menyebar.


"Boleh pinjam gak?"


"Enggak."


"Huhhh pelit!!" Leya memajukan bibirnya sementara Glenn kembali menatap bukunya dan tidak peduli pada Leya.


"Lo gak takut sama gue?" tanya Glenn, namun matanya tetap menatap gambar-gambar di buku dongengnya.


"Lo kan manusia. Bukan monster, ngapain takut?"


"Gue pernah tinggal di sarang monster. Gak menutup kemungkinan kalau gue juga monster."


Leya terdiam sejenak mencerna kata-kata Glenn.


"Glenn maksud lo kemaren yang gue ada di mimpi lo itu apa?" Bukannya menanggapi ucapan Glenn barusan, Leya malah menanyakan hal lain.


Glenn mengangkat kepalanya lagi, "Sebaiknya lo jangan dekat-dekat gue."


"Kenap--"


Brakkk!!!


Seseorang tiba-tiba menggebrak meja Glenn. Membuat Glenn dan Leya tersentak dan menatap bersamaan sang penggebrak meja.


"Lo Glenn kan? Ngaku sama gue kalau lo yang bunuh Raya!!" pekik seorang gadis berambut hitam lurus sepunggung yang menatap tajam ke arah Glenn. Gadis itu mengenakan seragam sekolah super ketat--seragam yang awalnya besar namun sengaja dikecilkan--agar terlihat liuk tubuh rampingnya.


Glenn kembali menatap buku di depannya, seakan tak menghiraukan gadis itu.


"Woy! Kalau ditanya tuh jawab!" ujarnya dengan wajah merah padam karena amarah.


"Kalau nuduh tuh pakai otak, ada bukti. Jangan asal nuduh," tandas Leya. Nada bicaranya terdengar datar dan biasa saja, namun jelas kontradiktif dengan apa yang ia ucapkan.


"Lo gak usah ikut campur ya dasar cewek sok kecantikan! Kegatelan lo! Abis Raya mati, sekarang lo gatelin Chandra. Terus deketin Glenn. Hih murahan." Gadis itu--Geby mengibaskan rambutnya.


Leya tak menjawab, ia diam saja. Terserah gadis itu mau bicara apa. Hal itu malah membuat Geby semakin geram, "Atau lo yang bantuin Glenn bunuh si Raya?" ujarnya dengan nada tinggi hingga membuat seisi kelas menatap mereka bertanya-tanya.


"Glenn! Kak Gaby! Dipanggil Bu Andini!" ujar Sarah masuk ke kelas terengah-engah.


"Awas lo ya!" Geby mendelik.


Gadis itu menghentakkan kakinya geram dan Glenn membuntuti dari belakang.


Glenn menoleh sekali lagi ke arah Leya, kemudian ia tersenyum kecil. Entah apa maksud dari senyuman itu.



 


"Gue gak tahu kenapa tapi kabarnya nih ya, semua yang masuk ke deretan orang yang dicurigain itu bebas kecuali kak Ansel. Bayangin gak tuh? Hampir mereka semuanya punya alibi yang kuat! Terutama Geby!" ujar Rosa menggeleng-gelengkan kepalanya.



"Hah? *How can it possible?* Gak mungkin! Geby lolos? How?"



"Geby ternyata bolosnya bareng Kak Alfi di kantin Bu Ijem. Dan Bu Ijem bilang mereka berdua emang disitu terus gak kemana-mana. Terus tinggal kak Ansel nih, dia gak jelas ngasih keterangannya. Gue denger dari anak-anak nih ya dia lagi di ruang OSIS ngurus berkas kepanitiaan ultah sekolah. Tapi, anak OSIS gak ada yang liat dia. Kak Ansel beneran yang ngebunuh? Gue gak percaya nih!" Rosa menggeleng-gelengkan kepalanya.



Kak Ansel?



"Ros sebenernya gue ketemu Kak Ansel di-"



"INI APAA?!!" pekik Laras histeris. Di tangannya terdapat sebuah sapu tangan putih dengan... tinta merah kecoklatan? Ah bukan!! Itu darah!



Semua orang langsung menghampiri Laras kemudian memperebutkan sapu tangan itu--penasaran dengan apa isi tulisannya.



Leya menelusup masuk ke gerombolan itu dan langsung ikut merebut sapu tangannya.



*Hansel dan Gretel, sudah kau baca? Aku menemukan Hansel! Dia yang selanjutnya. Coba tebak bagaimana aku mengubah dongengnya?


\-Grimm*


__ADS_1


Semua orang menatap ngeri, kemudian Laras berlari keluar kelas setelah merebut kembali sapu tangan yang ia dapatkan di lacinya. Tempat tujuannya tentu saja ruang guru. Leya membuntuti dari belakang.



Laras terus berlari namun tak sengaja ia menabrak laki-laki yang melangkah berlawanan arah. Sapu tangan itu terjatuh, kemudian dipungut oleh laki-laki itu, Glenn.



Glenn membacanya, namun beberapa detik berikutnya Laras mengambil kembali sapu tangan itu dan berlari lagi meninggalkan Glenn yang diam mematung. Leya menghampiri Glenn.



"Glenn, lo liat?"



"Hansel dan Gretel ya?" Ia tersenyum miring kemudian menatap Leya, "Akan ada korban lagi," ujarnya tiba-tiba kemudian melangkah melewati Leya.



Leya menarik tangan Glenn, "Maksud lo apa Glenn? Kok lo tau bakal ada korban lagi? Lo tau soal dongengnya? Dongeng untuk Raya?" Leya langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Duh keceplosan!



"Dongeng?"



"Eh-ehm enggak. Lupain."



"Lo jangan masuk terlalu dalam. Lo tau ini permainan berbahaya."



"Lo tuh ngomong apa sih? Kenapa gue gak pernah ngerti maksud omongan lo?"



"Jangan masuk ke dunia dongeng. Biar para pemerannya aja yang bermain. Lo jangan terlibat. Karna kalau lo ikut jadi salah satu pemeran, lo gak akan bisa keluar dari dongeng itu." Glenn melepaskan tangan Leya, dan melanjutkan langkah kakinya.



Meninggalkan Leya yang diam bergeming.



 ~~~



"Gue gak ngerti. Selama hidup gue, baru kali ini gue nemuin cowok seaneh dia," bisik Leya pada Rosa yang sedang asyik membaca komik.



Sesekali Leya menoleh ke sebelah kirinya, memastikan bahwa laki-laki yang duduk di sebelah kirinya tak mendengar. Ah, untung saja laki-laki itu beranjak pergi sekarang.



"Itu artinya lo jatuh cinta," sambar Rosa asal.



"Ihhh geblek! Bukan gitu maksudnya!!" Leya otomatis menjitak keras kepala Rosa, membuat gadis itu mendengus kesal dan akhirnya menutup komiknya dengan sangat terpaksa.



"Lo ganggu ajasi ah rese! Giliran lo baca novel gue gak pernah ganggu tuh!"



"Penting nih masalahnya!! Sejak Glenn masuk sekolah ini tuh, sekolah kita jadi gak aman. Gue mulai curiga kalau si Glenn ikut terlibat untuk ngebunuh Raya. Walaupun mungkin dia gak turun tangan secara langsung. Dia tuh super aneh, kayak *psyco*. Udah gitu semua buku dongeng yang dia baca ada hubungannya sama semua kejadian ini bahkan apa yang bakal terjadi selanjutnya!!" Leya terlihat berapi-api. Membuat Rosa menaikkan sebelah alisnya.



"Dongeng?"



Leya menepuk keningnya, ah keceplosan lagi! Gue bahkan gak jadi ngasih ke polisi dan malah ngomong ke Rosa!



"Eng-enggak... hehehe..."



"Ya', lo-"



"Hai Leya! Yuk cabut!!" Terlihat Chandra berdiri di ambang pintu sambil tersenyum lebar. Entah kenapa kali ini Leya cukup senang dan bersyukur melihat wajah Chandra. Chandra kali ini menyelamatkannya.



"Gue udah dijemput. Gue cabut ya Ros! Bye!" Leya mengulas senyum lebar dan melangkah menuju ke pintu menghampiri Chandra meninggalkan Rosa yang menatap punggungnya penuh dengan tanda tanya.



Leya memang mengulas senyum lebar, namun sebenarnya ia ikut berpikir keras.



Siapa yang akan menjadi Hansel? Ia harus tahu lebih dulu sebelum terlambat!

__ADS_1



 ~~~


__ADS_2