Once Upon a Time

Once Upon a Time
Lily Kuning


__ADS_3

Hari kelima


Aku membuka mataku. Pemandangan yang kulihat pertama kali adalah seperti yang biasanya. Gelap. Penerangan satu-satunya di tempat ini hanyalah silau cahaya matahari yang masuk melalui ventilasi di pagi hari. Biasanya aku selalu tertidur di siang hari dan terbangun di malam hari. Saat itu pula, dia selalu datang. Namun, hari ini entah kenapa aku terbangun di pagi hari.


Hari ketiga dan keempatku sangat berat. Ia selalu menyiksaku, namun saat aku bangun, semua lukaku diobati. Katanya agar aku tak cepat mati, ia tak mau aku mati terlebih dahulu.


Aku ingat, saat hari kedua ia menyabut paksa seluruh kuku tanganku, ketika aku terbangun, ujung jari tanganku sudah diperban. Sebenarnya, aku masih tak tahu, apa memang ia yang mengobatiku atau orang lain. Yang kutahu, setiap terbangun, tubuhku telah diobati.


Ia memperlakukanku seperti binatang peliharaan, makan tanpa dibantu oleh tangan. Aku pun rasanya tak sanggup lagi untuk berbicara. Yang kulakukan saat melihat makanan hanyalah makan seperti kelaparan. Karena memang jatah makanku adalah satu kali per hari di sore hari. Setelah puas makan, ia akan menyiksaku di malam hari sambil kembali menutup mulutku dengan sapu tangan atau lakban. Ia hanya membuka lakban itu ketika aku makan.


Aku yang sangat kelaparan akan memakan apa saja, walaupun itu hanyalah sisa makanan atau bahkan makanan basi. Jangan coba coba kau bayangkan cara makan yang nikmat. Dalam keadaan kaki terpasung dan tangan dirantai, aku makan dengan mulutku saja sementara bungkus makanan diletakkan di lantai. Sangat menyedihkan.


Setiap ia datang, ia selalu membawa penyiksaan. Bagaikan malaikat pencabut nyawa, kedatangannya setiap malam bagiku adalah untuk merenggut nyawaku perlahan dan membiarkanku merasakan sakit setiap hari. Entah sudah berapa banyak tulang rusuk yang patah akibat ia sering menendang tubuhku. Entah, berapa banyak tulang wajah yang ia retakkan, berapa banyak memar yang ia berikan pada tubuhku.


Dipukul dengan tangan kosong? Dicambuk? Ditampar berulang-ulang? Ditendang berkali-kali? Bahkan tiba-tiba terpasung ketika bangun, sudah kualami semuanya dalam waktu 4 hari. Berulang-ulang, dengan jeda di pagi dan siang hari. Sore, bahkan malam, selalu kudapatkan penyiksaan. Aku bahkan sudah mati rasa, tak bisa merasakan sakit akibat pukulan lagi. Seperti sudah terbiasa.


Hari ini tak kusangka ia datang pagi. Suara derit pintu bagasi terbuka. Silau matahari pagi langsung menusuk mataku. Seperti biasa, ia yang mengenakan masker, topi, serta jaket besar berwarna hitam itu langsung melangkah mendekatiku setelah menutup pintu bagasi.


Ia berdiri di depanku. Kemudian, tak lama kemudian, ia melepaskan pasungan dan rantai tanganku. Aku terduduk diam memandanginya dengan tatapan bingung. Kenapa ia melepaskan semua ini? Apa ia ingin aku kabur? Atau mungkin ia tahu, aku tak akan bisa kabur dari sini? Toh tubuhku sakit semua. Seberapa keraspun aku berlari, ia akan dengan mudah menangkapku.


Ia melirik jam tangannya, "Masih pukul 10. Apa Ratu ingin menghirup udara segar?" Tanyanya.


Aku diam saja. Apa ini bentuk penyiksaan lain?


Ia menyentuh pipiku, kemudian membelai lembut rambutku. "Hari ini hari yang spesial, Ratu. Kau seharusnya membersihkan diri dan mengenakan gaun yang indah. Akan ada pesta di kerajaan," ujarnya lembut.


Aku tak pernah paham jalan pikirannya. Yang keluar dari mulutnya tak pernah jauh dari dongeng. Seakan-akan banyak hal tersirat yang ia katakan dengan suara lembutnya. Tapi, tak ada satu pun yang kumengerti dari perkataannya.


"Kau akan menemui ksatriamu. Kita lihat, apa dua ksatriamu akan berhasil? Seharusnya kau menyambut mereka dengan cara berpakaian indah." Ia kemudian berdiri dari tempatnya berjongkok dan mengeluarkan ponselnya. Ia seperti menelepon seseorang di ujung sana dan meminta orang itu ke sini.


Tak lama kemudian, pintu bagasi terbuka lagi. Seseorang yang berpakaian tak jauh berbeda dengan Grimm masuk. Ia juga mengenakan masker, topi, serta jaket yang sama persis dengan yang dikenakan oleh Grimm. Ia membawa sebuah ember berisi air, handuk, serta sebuah kotak yang entahlah apa isinya. Apa ia seorang gadis? Agak sulit membedakannya.


"Ratu harus terlihat cantik hari ini. Kau bawa gaunnya? Bersihkan tubuhnya di sini saja," ujar Grimm sebelum ia melangkah ke luar. Orang itu hanya mengangguk dan mematuhi perintah Grimm.


Perlahan ia membuka penutup mulutku. Kemudian membuka pakaianku. Awalnya aku mencoba menolak, takut. Namun ia berkata, "Tenang saja. Saya seorang gadis." Begitu katanya. Ia membuka seluruh pakaianku kemudian membersihkan tubuhku hanya dengan air hangat dan handuk. Aku meringis kesakitan. Dari sini, bisa kulihat seluruh lebam dan memar di tubuhku. Ia lap sedikit saja langsung terasa perih.


Ia bungkam, tak berkata apapun. Begitu pula denganku. Tapi, kemudian aku berusaha mengajaknya berbicara, "Apa kamu gak bisa mengeluarkanku dari sini?" Kataku. Pertanyaan bodoh yang sebenarnya sudah kuketahui jawabannya.


"Anda tahu jawabannya, Ratu." Hanya itu yang ia katakan.


Aku menghela napasku sambil tersenyum kecut. Yang bisa kuharapkan saat ini adalah bahwa ksatria yang dimaksud oleh Grimm benar-benar akan datang. 5 hari adalah waktu penyiksaan terpanjang seumur hidupku. Jika Tuhan mengizinkanku lepas dari cengkraman Grimm, aku bersumpah akan merubah diriku sendiri.


Tapi, apa Tuhan akan mengabulkan permintaan mahkluk iblis sepertiku?



Aku tertidur? Bagaimana bisa? Yang kuingat terakhir kali adalah setelah gadis itu membersihkan tubuhku, ia memberiku minum dan... semuanya gelap.



Saat aku terbangun, aku sudah terduduk di kursi dengan tangan dan kaki terikat seperti pertama kali saat ke sini. Mulutku diikat kain. Kuperhatikan tubuhku yang sudah terbalut gaun berwarna hitam selutut dan kakiku yang tanpa alas apapun. Kemana high heels merah yang selama ini kupakai? Tak pernah lepas dari kakiku? Ah, ternyata ada di depanku. Kenapa diletakkan di sana? Kenapa terlepas dari kakiku?



Grimm datang, menghampiriku dan menatapku lekat. Ia melepaskan penutup mulutku dan lagi-lagi menyentuh pipiku. Ia tak seperti perempuan, malah seperti laki-laki. Namun, kenapa suaranya seperti perempuan? Atau memang ia adalah seorang perempuan yang bersikap seperti laki-laki?



Aku membuang wajahku, tak ingin wajahku terus-terusan disentuh olehnya.



"Wah, Ratu cantik sekali." Ia mengeluarkan sebuah cermin, "*W*ahai cermin ajaib, apa Ratu sudah terlihat lebih cantik? Hahaha," ujarnya sambil tertawa.



Ia menampakkan cermin itu di depan wajahku. Kulihat bibirku telah dilapisi lipstick merah, rambutku yang awalnya panjang, jadi pendek di bawah telinga karena saat pertama kali aku ke sini, ia langsung memotong rambutku. Sementara, wajahku nampak parah. Lingkaran besar kebiru-biruan membekas di mataku yang jadi membengkak sebelah. Memar lain terlihat di pipi, dan ujung bibirku nampak sedikit robek. Mengenaskan. Aku seperti melihat orang lain di cermin ini, bukan wajahku. Wajah cantikku benar-benar ia lenyapkan.



Ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Tak pernah kulihat ia beberapa kali mengecek jam tangan seperti ini. Baru hari ini ia seperti itu. Ada apa? Apa ia memang benar-benar membuat janji dengan ksatria yang akan menyelamatkanku? Seperti yang selalu ia katakan?



"15 menit lagi. Kita lihat, apa para ksatria akan berhasil menyelamatkan sang Ratu?" Ia tertawa lagi. Aku muak mendengarnya. "Sementara menunggu mereka, bagaimana kalau kita bermain jarum dulu?"



Aku menggeleng kuat-kuat. Aku tahu benar apa maksudnya. 2 siswaku yang menjadi korban, ia perlakukan seperti itu. "Tolong, kumohon. Jangan lakukan itu," pintaku sambil menangis. "Langsung saja bunuh aku, jangan menyiksaku seperti ini. Aku tak tahan."



Ia tertawa puas. Tawanya itu mampu membuat bulu romaku berdiri. Ia segila itu dan aku tahu ia bahkan bisa berbuat hal yang jauh lebih gila lagi.



"Tidak bisa, Ratu. Aku tahu kau tak akan kuat melihat dirimu sendiri yang akan mati. Kau tahu, mata manusia akan merekam segalanya di saat-saat terakhir kehidupan mereka." Ia menduk sedikit, menyejajarkan matanya dengan mataku, "dan agar kau tak bersedih di sana, kau tak perlu lihat bagaimana aku merenggut nyawamu. Bukankah seharusnya malaikat pencabut nyawa berterimakasih? Aku mencabut nyawa orang-orang yang pantas mati, sepertimu." Katanya sambil tersenyum, matanya menyipit ketika tersenyum.



Matanya yang tajam dan dingin langsung menusukku. Aku menundukkan kepalaku, ketakutan sambil menangis. "Kumohon, tak apa bila aku melihat bagaimana kamu membunuhku. Yang jelas, langsung kau bunuh saja, sudah cukup kau siksa. Aku tak tahan lagi."



Ia diam sebentar. Kemudian ia belai rambutku, "*O*h Ratu, bukankah selama ini kau senang permainan seperti itu? Aku hanya melakukan apa yang pernah kau lakukan pada Putri Salju. Tapi, jika kau meminta seperti itu, baiklah. Anggap saja permintaan terakhir. Aku tak akan menutup matamu." Ia melirik jam tangannya lagi. "Tapi, bukankah kau seharusnya mengharapkan keselamatan dari ksatriamu. Apa kau tak percaya pada mereka?"


__ADS_1


Iya. Aku tak percaya. Anggap saja, aku sedang memikirkan kemungkinan terburuk, bahwa mereka akan terlambat. Apa aku akan mati karena racun? Atau dipukuli hingga mati? Apa lagi yang mungkin ia lakukan untuk membunuhku?



"Aku hanya memikirkan kemungkinan terburuk," kataku.



"Tak kusangka, semudah ini kau menyerah. Kau ingin tahu kelanjutan dongengnya? Biar kuberitahu. Ratu sangat bahagia akan keberhasilannya membunuh Putri Salju. Putri Salju tak pernah bangun dari tidurnya, bahkan Pangeran pun tak dapat membangunkannya. Sang Ratu menggelar pesta perayaan paling mewah. Seluruh rakyat dipaksa datang, walaupun mereka semua tengah bersedih karena kehilangan Sang Putri. Ratu mengancam akan membunuh mereka bila mereka tak datang.



"Kemudian tak disangka, seorang rakyat yang teramat membencimu dan sangat mencintai Putri, nekat membunuhmu, di tengah pesta yang sedang berlangsung. Ia menyiramkan air ajaib yang akan menghancurkan kecantikanmu, juga akan menghancurkan tubuhmu. Air itu akan membakar tubuh orang-orang berdosa, hingga ke tulang."



Aku merinding. Entah kenapa dongeng yang ia ceritakan padaku langsung membuatku ketakutan. Air ajaib? Seperti apa? Apa yang ia maksud adalah aku? Apa ia akan membakar tubuhku dengan air ajaib itu? Aku bahkan tak mampu membayangkannya. Apa dia bercanda? Tidak. Tidak mungkin.



"Apa maksudmu? Kau akan membunuhku seperti itu? Kau gila! Kenapa tak kau gantung saja aku? Atau lebih cepat kau bunuh. Tak cukupkah penyiksaan yang kau beri padaku setiap hari?" Kataku putus asa sambil menangis sesenggukan.



Ia menekan keras leherku, hingga wajahku terangkat. Ia mencekekku, dengan kuat hingga aku kesulitan bernafas. "Tak pernah cukup. 5 hari tak akan sebanding dengan tahun-tahun yang kau habiskan untuk menyiksa putrimu. Kenapa masih tidak sadar juga hah?!" Pekiknya marah.



Uhukk... uhuk... Aku terbatuk, perlahan ia lepaskan cekekanku.



"Apa kau tak tahu artinya cinta tulus? Bahkan penyiksaanku tak sedikitpun membuatmu sadar akan segala yang kau lakukan. Hahaha bodoh. Kau ingin mati semudah itu? Dipikiranmu hanyalah kau ingin mati atau selamat. Mati dengan mudah, atau benar-benar selamat. Apa tak ada perasaan bersalah sedikitpun di hatimu?" Ia menangis. Tak kusangka, aku melihatnya menangis hingga wajahnya terlihat kemerahan. Walaupun tertutup masker, tetap terlihat bagian atas wajahnya. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat.



"Bagaimana kau tahu aku tidak pernah merasa bersalah? Setiap malam aku dihantui perasaan bersalah. Apa harus aku beritahu kamu?" Kataku yang tiba-tiba ikut mengucurkan air mata.



"AAARRRGGGHHHH!" Ia marah dan menendang mobil rongsok kesayangan Ayahku. Seperti sedang melampiaskan kemarahan, "kamu iblis!! Yang kulihat di matamu hanya kepalsuan! Kau tak pernah merasa bersalah. Kau hanya takut padaku makanya berkata seperti itu!!" pekiknya kuat hingga suaranya menggema di bagasi mobil ini.



Aku menunduk, menangis. Tiba-tiba terbayang wajah putri tiriku yang begitu cantik dan polos. Aku tersenyum getir. Sialan! Kenapa aku seiblis ini... padahal ia menyayangiku seperti ibu sendiri. Bodoh...



Alarm jam tangannya berbunyi. Ia mematikan alarm itu sambil tertawa. "Kau lihat? Bahkan ksatriamu saja seakan setuju bila aku membunuh manusia kejam sepertimu. Sudah imbang bukan? Ah, aku tidak sabar."




Aku membelalakkan mataku. "Tidak!! Kumohon... jangan bunuh aku perlahan seperti itu. Tolong... kau boleh langsung menusuk jantungku atau bagaimana pun. Asal jangan seperti ini. Oh Tuhan... tolong!!!" Aku mulai berusaha sekuat tenagaku melepaskan ikatan ini. Aku mulai memberontak, walaupun tubuhku selemah ini. Yang jelas, aku tahu bahwa itu mungkin saja air keras! Membuatmu terbunuh perlahan. Menyiksa di setiap detiknya hingga kau benar-benar akan mati.



Aku masih berusaha bergerak. Ia mendekat. "JANGAN MENDEKAT!! TOLONG!!" pintaku putus asa sambil menangis. Ia bahkan tak peduli.



"Kau cukup berani ingin melihat kematianmu sendiri Ratu." Katanya.



Mataku tertutup refleks. Oh Tuhan... "TOLONGGGG!!!!"



"Tak akan ada yang bisa mendengar, Ratu. Percuma saja. Kenapa kau tutup matamu? Bukankan kau ingin melihat kematianmu sendiri?"



Aku tetap menutup mataku kuat-kuat.



"Bersiaplah, Ratu."



Tiba-tiba... BYURRRR!!



"PANASSSSSS AAAKKKKKK TOLONGGG!!! SIAPAPUN TOLONGG!!! AAKKKKKK!!" Aku berteriak sekuat tenaga. Sakit sekali. Seperti dibakar hidup-hidup bahkan panasnya lebih sakit lagi, seperti neraka. Seakan-akan air yang ia siramkan itu ingin merebus setiap inchi tubuhku. Aku terus berteriak kesakitan. Kepanasan.



"AAAAKKKKKK!!!!" Tubuhku bergetar hebat. Seluruh tubuhku seperti dipanaskan di dalam tungku besar. Rasanya sakit sekali. Aku berteriak hingga suaraku tak terdengar lagi. Mataku yang telah kututup bahkan masih terasa sangat panas seperti melepuh.



Setiap detiknya terasa penyiksaan hebat. Aku tak tahan. Tuhan... langsung saja bunuh aku, renggut nyawaku.


__ADS_1


Aku berteriak kesakitan, sendirian. Yang kudengar terakhir kali adalah langkah kakinya yang menjauhiku. Setelah itu... semuanya terasa kosong. Hampa. Akhirnya, aku tak merasakan sakit lagi. Sudah selesai penderitaanku sampai di sini.



Bolehkah aku mengucap syukur?



Leya membuka matanya, terkejut. Baru ia sadari bahwa dirinya sehabis menangis. Menangis dalam tidur? Mungkin saja.


Mimpi buruk itu seakan kembali lagi. Padahal, Leya sudah bertahun-tahun berusaha mengubur mimpi itu. Kenapa terbayang lagi?


Leya duduk di kasur sambil memijat kepalanya yang pusing. Setelah, Leya benar-benar sadar. Ia sangat terkejut. Ini bukan kamarnya! Dan Leya tahu benar kamar siapa ini. Kamar Glenn...


Leya mengecek tubuhnya yang tertutup selimut, pakaiannya masih membaluti tubuh. Ia bernapas lega. Bodoh, kenapa jadi berpikiran aneh-aneh? Bodoh. Leya merutuki dirinya sendiri. Leya menoleh ke arah samping, terlihat Glenn yang sedang duduk di sofa kecil sambil fokus membaca lembaran yang ada di tangannya. Glenn bahkan tak menyadari bahwa Leya sudah bangun.


Leya diam-diam tersenyum saat memperhatikan laki-laki tampan itu. Hidungnya yang runcing terlihat sempurna dari samping. Wajahnya tampak begitu serius dan dingin. Bagi Leya, Glenn adalah mahkluk paling misterius yang pernah ia kenal, walaupun terkadang Glenn sering berbicara panjang lebar bila menjelaskan sesuatu.


Glenn mengenakan kaos abu-abu berlengan pendek. Tubuhnya yang atletis tampak sempurna terbalut kaos yang tidak terlalu besar itu. Astaga... apa yang sedang Leya pikirkan? Leya menggeleng kuat-kuat sambil membuang wajah. Takut berpikiran yang tidak-tidak.


"Sudah berapa lama berfantasi mengenai gue?"


Leya tersentak mendengar pertanyaan itu. Ia cepat-cepat membuang muka. Wajahnya langsung merah padam. Ah sialan... bego.


"Apaan sih? Harusnya gue yang nanya lo! Lo ngapain aja sama gue? Kok gue bisa di sini? Lo macem-macem ya sama gue?" Tanya Leya setengah berteriak.


"Harusnya lo berterima kasih. Lo tuh pingsan habis nangis-nangis." Glenn mengalihkan pandangannya dari kertas berkas yang ia baca menuju Leya yang masih terduduk di kasurnya, "Lain kali, gue gak mau lagi ngajak lo. Nyusahin."


"Kok lo gitu sih? Kan gue baru sekali ini pingsan. Lo tuh gak tahu apa-apa. Jadi gak usah banyak komentar. Intinya gue ikut ke mana pun lo pergi!"


"Ke toilet juga?"


"GLENN AH GUE GAK LAGI BECANDA!!"


Glenn tertawa melihat respon Leya yang sangat lucu baginya. "Baru dipancing sedikit. Cewek agresif."


Leya langsung turun dari kasur dan memukuli Glenn dengan bantal yang ia pegangi beberapa kali. Glenn justru tertawa, kemudian ia langsung memegangi pergelangan tangan Leya agar gadis itu berhenti memukulinya. Jarak antara Leya dan Glenn kali ini hanya terpaut beberapa senti. Lagi-lagi Leya bisa melihat wajah Glenn dalam jarak sedekat ini. Membuat jantungnya melompat-lompat tak karuan. Entah sudah berapa kali Leya terjebak di posisi seperti ini bersama Glenn.


"Udah baikan?" tanya Glenn. "Jangan nangis lagi. Gak suka lihatnya," ujarnya lembut dalam jarak sedekat ini.


"Apaan sih Glenn." Leya secepat kilat melepaskan genggaman tangan Glenn dan berusaha menjauh. Ia takut. Takut jantungnya berhenti tiba-tiba bila terlalu dekat dengan Glenn.


"Lo satu-satunya orang yang bisa gue becandain. Gue gak pernah begini sebelumnya ke orang lain." Glenn tersenyum dan kembali menatap kumpulan kertas di tangannya. "Nanti gue antar pulang. Masih nunggu Ayah pulang. Kalau lapar ambil aja ada makanan di dapur," katanya lagi sebelum benar-benar kembali bungkam.


Leya duduk di depan Glenn. Bingung ingin berbuat apa, sementara suasana kembali sepi. Leya tidak suka bila lama-lama diam seperti ini. Rasanya aneh.


"Lo tadi mimpi buruk ya?" Padahal baru saja Leya hendak berbicara, berusaha mencari topik, nyatanya Glemn sudah lebih dulu mengajaknya berbicara. Tak disangka.


"Ehm..." Leya benar-benar bingung ingin menjawab apa. Rasanya malas bila harus menceritakan hal ini. Leya tak suka.


"Kalau lo gak kuat, gak papa berhenti aja sampai di sini," kata Glenn dengan tatapan serius mengarah ke Leya.


"Gak mau. Lo yang awalnya ngajakin gue gabung. Dan gue gak akan mau kalau lo suruh berhenti sekarang. Glenn, gue gak tega kalau harus ngeliat lo nanggung beban seberat ini sendirian. Gue mau bantu buat pikul."


"Makasih," jawab Glenn, "tapi gue lebih gak tahan lihat lo begitu. Lo bukannya membantu gue untuk berpikir, lo malah membebani gue. Bukan membebani otak, tapi hati."


"Maksudnya?"


Glenn tersenyum. "Tuhan sengaja membuat laki-laki lebih rasional daripada perempuan. Tapi, sayangnya laki-laki melupakan satu hal. Tuhan menciptakan setiap manusia memiliki hati, termasuk laki-laki. Dan hati adalah pengganggu kerasionalan yang nomor 1."


Leya masih tak mengerti. Ia hanya bisa mengerutkan alisnya bingung. Apa ia terlalu polos atau bagaimana? Sebenarnya, lebih tepatnya Leya takut menafsirkan sesuatu.


"Jadi, intinya lo berhenti sampai di sini aja. Kalau lo kenapa-napa, gue bakal dibunuh Ayah lo. Dan itu membebani gue."


"Gak mau ah!" Leya langsung merebut lembaran yang ada di tangan Glenn. Sementara, saat Glenn berusaha merebutnya, Leya langsung terdiam ketika membaca sebuah kalimat di surat yang ditulis dengan darah. Tentu saja dari Grimm.


Ratu sangat berani! Ia tak mau matanya ditutup. Jadi, kuberikan bunga Lily kuning sebagai penghargaan. Ah, tunggu dulu. Apakah Lily kuning memang sebuah penghargaan untuk Sang Ratu?


Leya menatap Glenn kali ini, "lily kuning?" tanya Leya bersamaan dengan Glenn merebut kembali kertas-kertas itu.


"Kepalsuan," jawab Glenn seakan bisa mengerti apa yang dipikirkan Leya, "sudah. Lo istirahat lagi aja. Jangan ganggu gue berpikir."


Leya kali ini duduk di samping Glenn. "Apa Bu Rika dipenuhi kepalsuan? Raya diberi gardenia putih yang artinya cinta tulus, lalu Ansel diberi dahlia merah yang artinya penghianatan. Dan, bagaimana bisa mereka semua berhubungan dengan Adela? Apa Adela mencintai Raya? Kemudian Ansel membuat pengkhianatan pada Adela? Dan Ibu Rika melakukan hal buruk pada Adela, sementara Bu Rika kalau dilihat-lihat, jadi guru idola yang baik banget. Itu yang dimaksud kepalsuan?" tanya Leya lagi.


Glenn menolehkan kepalanya. "Mungkin. Eh... bentar. Ngapain lo ikut-ikutan lagi?"


"Glenn gitu amet sihh... bukannya lo butuh bantuan buat mikir? Ini lagi gue bantuin." Leya mencoba membuka handphone berisi foto-foto buku tahunan yang ia foto tadi pagi, "wawancara sama anak OSIS gimana?"


"Udah selesai. Tapi, rasanya gak dapat apa-apa. Besok mau wawancarain Geby sama Alfi."


"Gue ikut!! Terus, wawancara anak-anak yang gak masuk sekolah pas Raya tewas?"


"Besok juga."


"Ikut donggg pingin bolos lagi nih. Besok pelajaran Sejarah, gue lagi gak mood."


"Hmm."


Leya tersenyum kemenangan. Namun, tiba-tiba tangannya berhenti men-scroll saat ia melihat satu foto siswi yang ia kenali. Leya mengerutkan alisnya.


"Glenn... lihat deh..." Leya menunjukkan foto yang menyita perhatiannya itu, "ini foto buku tahunan yang tadi gue ambil. Lihat ini siapa."


Glenn melihat foto gadis itu, kemudian ia mengerutkan dahinya, "Geby? Dia juga sekelas sama Ansel dan Raya di SMP?"


Leya mengangguk.


__ADS_1


__ADS_2