Once Upon a Time

Once Upon a Time
Kekalahan Telak


__ADS_3

"Kenapa lo seyakin itu kalau Wati cuma pengalihan dan ada pembunuh lain Glenn?" Leya mengerutkan alisnya bingung.


"Coba lo pikir, ngapain Grimm capek-capek ke villa Adela kalau ternyata semua ini gak berhubungan sama Adela?" Glenn menaikkan sebelah alisnya sambil melipat tangan di depan dada. Tubuhnya ia senderkan di dinding samping meja belajar.


"Ohiya yah bener juga... jadi maksud lo Wati ini kebetulan disuruh Grimm dan itu sebenarnya keuntungan sang pembunuh buat bunuh Wati? Keuntungan karena orang-orang bakal mikir kalau yang bunuh Wati itu Grimm, sehingga dia bisa aman-aman aja?"


"That's it!" Glenn mendekat, kemudian mengacak rambut Leya bangga. Membuat perempuan itu tersentak beberapa saat, "makin lama, lo makin pinter, baguslah." Glenn kemudian duduk bersila kembali di atas lantai, diikuti Leya yang juga duduk dihadapan Glenn.


"Gue udah pernah ngasih tahu kan kalau Grimm gak suka membunuh seseorang yang gak ada hubungannya sama ini semua. Karena akan mengubah jalan cerita dongeng yang udah dia buat. Dia gak akan membunuh saksi karena saksi juga gak akan tahu wajah dia. Dia sangat jenius dan dengan kejeniusannya itu, identitas dia gak akan terbongkar dengan mudah. Waktu itu lo ingat gak kalau Ansel seakan-akan jadi saksi dan seakan-akan Grimm ngebunuh dia sebagai saksi. Padahal bukan. Ansel sedari awal udah ada di list korban-korbannya. Ansel bukan sekedar saksi.


"Terus lo ingat penjaga sekolah kita yang ditelponin sama Grimm? Dia saksi murni dan masih hidup sampai sekarang bukan? Karena, walaupun dia saksi, dia gak ngebantu apapun buat ngungkap identitas Grimm. Dia cuma tahu suara Grimm itu perempuan yang bahkan sebenarnya itu belum tentu Grimm. Bisa jadi itu orang suruhan Grimm yang lain," jelas Glenn panjang lebar. Glenn benar lagi! Leya bahkan melupakan itu semua dan Glenn malah dengan mudah mengingat detail kecil seperti itu. Detail yang bahkan dipikiran Leya tidak terlalu penting, namun jadi sepenting ini.


"Gila. Kenapa lo jenius banget sih?" kata Leya yang detik berikutnya langsung menutup mulutnya, mengutuk mulutnya dari dalam hati karena tidak bisa mengontrol ucapannya sendiri.


"Emang gue jenius," ucapnya datar sambil **** senyumnya. Sudah biasa ia mendengar pujian seperti ini. Namun, karena Leya yang memujinya, ini terdengar sedikit membanggakan. Entah kenapa.


"Heleh sombong kan." Leya memutar bola matanya malas, "Ohiya, berarti maksud lo kemungkinan si Wati ini ditelpon oleh Grimm juga? Pasti dia diancam, makanya dia mau ngelakuin suruhan Grimm. Lo udah nyoba cek list panggilan masuk Wati?"


Glenn mengangguk, "Ada nomor gak dikenal yang nelpon dia 5 menit sebelum dia naroh kotak kado itu. Dan nomor itu gak bisa ditelpon balik. Gue rasa udah dibuang kartunya. Setelah itu selama seharian, Wati cuma ditelpon paginya oleh Ibunya. Pak Rasyid akan wawancarai Ibunya besok."


Leya mengangguk. Kemudian, entah kenapa ia teringat sesuatu, "Eh, lo sadar gak sih dua kali clue yang dikasih Grimm itu ditemuin sama Geby? Pertama yang putri salju. Dia bilang nemuin di laci lo. Ngapain dia cek laci lo? Terus yang pangeran kodok ini dia juga yang nemuin. Apa clue tentang pangeram kodok ini bukan buat dia? Siapa tahu si Wati naroh di sembarang meja?"


"Kalau asumsi lo tentang Wati naroh di sembarang meja itu gak mungkin. Kalau emang dia mau naroh di sembarang meja, kenapa gak yang paling ujung belakang? Atau depan sekalian? Kenapa harus repot-repot sampai ngelewatin globe? Artinya itu emang untuk Geby. Kalau masalah laci itu gue gak tahu sih si Geby. Gue asumsinya waktu itu gak terlalu mencurigai dia karena dia kan curiga berat sama gue. Mungkin buat ngebuktiin gue pembunuhnya, dia sok sok nyari sesuatu di laci, makanya begitu. Yang jadi pemikiran gue saat ini adalah, kenapa clue itu harus ditaroh di laci Geby? Kenapa bukan laci gue seperti biasanya. Itu."


Leya menghela napasnya pelan. Ini semua sangat melelahkan. "Apa karena pangeran kodok yang dimaksud Grimm itu berhubungan sama Geby?"


Glenn diam. Terlihat berpikir keras. "Gue masih belum tahu soal itu. Gue sempat berpikiran kayak gitu, tapi belum ada sesuatu yang menguatkan asumsi gue soal ini. Misi kita sekarang harus benar-benar bisa nyelamatin pangeran kodok, ngebongkar pembunuh Wati, dan mengetahui apa yang tersembunyi di dalam buku kosong Adela."


Glenn mengambil buku kosong Adela dari dalam laci meja belajarnya, kemudian memperlihatkannya pada Leya. Leya terdiam sesaat sambil terus memandangi buku itu. Ia membuka lembar-lembarannya, namun Leya sama sekali tak punya ide apapun mengenai buku ini.


Tiba-tiba, telepon Leya berdering. Ia sudah bisa menebak kalau ayahnya akan menelepon. Leya pun beranjak dari tempatnya duduk dan mengangkat telepon itu di luar kamar Gleen. "Assalamu'alaikum, iya Ayah."


"Wa'alaikumsalam. Sayang, kenapa belum pulang?"


"Leya masih ngerjain tugas. Nanti Leya telpon kalau udah selesai."


"Ayah jemput di mana?"


Duh... kalau Ayah jemput di rumah Gleen, bisa berabe nih. Atau gue minta Gleen antar pulang aja ya?


"Hmm Leya mungkin pulangnya dianter temen."


"Dianter Gleen lagi?"


"Iya."


"Nanti sekalian Gleen singgah aja dulu di rumah. Ayah mau ngomong."


Mampus... Ayah mau ngomong apaan nih. Duhh pasti Ayah ngira Gleen itu pacar gue.


"Leya?"


"Iya Ayah nanti Leya bilang ke Glenn. Leya matiin ya. Assalamu'alaikum."


"Pulangnya jangan kemaleman ya. Wa'alaikumsalam."


Klik. Leya menghela napas lelah, ia kemudian kembali masuk ke kamar Glenn. Sebelum ia masuk, tiba-tiba telepon berbunyi lagi. Nomor tidak dikenal mengiriminya pesan sms. Leya mengerutkan alis bingung.


*Pangeran kodok tak pernah mendapatkan cinta sejatinya. Ia bodoh, dimanfaatkan Sang Putri jahat. Padahal Sang Putri tak mau menciumnya. Pangeran kodok dibutakan oleh cinta, melakukan kejahatan apapun demi Putri. Maka, kematiannya juga karena cinta.


-Grimm*


Leya langsung menerobos pintu kamar Glenn. Terlihat laki-laki itu mengerutkan keningnya juga menatap ponsel. "Glenn, lo dapet?"


Glenn mengangguk, "Lo dapet pesan apa dari Grimm?"


Leya pun membacakan isi pesannya. Gleennn sedikit tersentak karena isi pesannya jauh berbeda dengan isi pesan yang ia dapatkan dari Grimm. "Beda sama isi pesan yang dikirim ke gue."


"Lo dapat apa?"


Glenn memberikan ponselnya pada Leya.


*Kau mulai berani bermain denganku. Itu memuakkan. Ini tidak seru lagi. Akan kubuat kau menyesal. Pangeran kodok tak akan pernah bisa kamu selamatkan. Kamu akan melihatnya mati paling mengenaskan. Besok, subuh atau pagi, di tempat tak kau duga sebelumnya.


-Grimm*


Jelas. Grimm terlihat marah besar pada Glenn. Kali ini, Grimm tak meninggalkan clue apapun tentang keberadaan pangeran kodok itu. Pada Leya juga tidak. Pesan yang dikirim pada Leya hanya seperti dongeng tanpa clue yang berarti. Leya menatap Glenn. Laki-laki itu mengepalkan tangannya kuat-kuat. Wajahnya tambah dingin. Ia tampak seperti berusaha meredam amarahnya.


"Malam ini Grimm akan membunuh pangeran kodok," katanya pelan.


"Tapi Glenn, kita bahkan gak tahu pangeran kodok ini siapa dan dimana dia akan dibunuh Grimm."


"Gue punya sebuah dugaan mengenai siapa pangeran kodoknya." Glenn bangkit dari tempatnya duduk, kemudian menarik jaket yang tersampir di bangku meja belajarnya. "Alfi."


"Hah? Alfi? Kenapa bisa dia?"


"Gue gak bisa jelasin alasannya sekarang. Yang jelas, lo harus pulang dulu, biar gue antar pulang."


Sebelum Leya meminta Glenn untuk mengantarnya pulang, Glenn sudah terlebih dahulu berinisiatif. Tapi, yang Leya tahu sepertinya malam ini Ayah tak akan bisa berbicara dengan Glenn. Karena Leya yakin, Gleen akan langsung pergi mencari Alfi.


"Kalau bukan Alfi gimana?"


"Itu resiko besar yang harus gue ambil. Gue harus ngelakuin sesuatu. Dan karena gue gak tahu sama sekali siapa korban selanjutnya, gue memilih mengikuti insting dan dugaan berdasarkan analisa gue selama ini. Kalau dugaan gue salah... gue gak tahu harus gimana. Tapi, insting gue membenarkan dugaan gue ini."


Glenn membuka lemarinya, mengambil sebuah jaket jumper hitam asal dan memasangkannya pada Leya secara cepat. Leya bahkan terperengah dibuatnya. Laki-laki itu masih sempat saja memperhatikan Leya. Ia bahkan saat ini langsung mengambilkan tas Leya yang terbaring di atas kasurnya kemudian menyampirkan tas itu di bahu kanannya. Semua itu ia lakukan seperti tanpa kesadaran, refleks saja.


"Ayo cepat. Kenapa bengong aja? Gue mau cepet nih."


"Tas gue..."


"Berat banget tas lo kayak bawa batu. Biar gue aja yang bawain sementara. Nanti lo tambah pendek." Itu tidak terdengar seperti lelucon di saat genting seperti ini. Kalimat itu meluncur dengan mudah dari mulut Glenn. Kalimat apa adanya. Leya hanya menurut saja dan mengikuti laki-laki itu berjalan cepat keluar kamar. Glenn terlihat sangat buru-buru.


"Maaf ya gue gak sempet masakin makan malam buat lo hari ini," katanya tanpa menoleh ke arah Leya.


Leya hanya mengangguk pelan. Di saat genting seperti ini, Leya justru tersenyum. Dasar bodoh.



"Glenn mana?" Tanya Ayah Leya beberapa detik setelah Leya masuk ke dalam rumah.



"Dia ada urusan mendadak banget. Besok pasti ke sini kok, Yah." Leya terlihat lesu dan kelelahan. Ia ingin istirahat, namun ia yakin bahwa kemungkinan malam ini ia tak bisa tidur akibat khawatir pada Glenn.



"Ah, alasan. Pasti dia takut ketemu Ayah."



"Ayah, Leya capek mau tidur. Leya ke atas ya."


__ADS_1


"Kamu udah makan malam?"



"Leya kenyang." Leya tetap melangkah menuju lantai dua, tempat kamarnya berada.



"Yasudah kamu istirahat. Selamat malam, Sayang."



"Selamat malam Ayah," kata Leya sedikit berteriak dari tangga.



Sesampainya di kamar, Leya langsung mengecek ponselnya dan mengirimi Glenn pesan.



Leya : Glenn, gimana? Lo gak papa kan? Udah sampai di rumah Alfi?



Cukup mudah bagi Glenn untuk mendapatkan alamat rumah Alfi. Tinggal memintanya pada Pak Rasyid saja.



Leya tidak mendapatkan balasan apapun dari Glenn. Ia tetap menunggunya.



Di tempat lain, Glenn telah berdiri di depan pintu rumah Alfi. Ia mengetuk pintunya beberapa kali namun tak ada jawaban. Ia mulai khawatir bila dugaannya benar dan Grimm lebih cepat bergerak daripada Glenn.



Glenn terus mengetuk berulang kali. Tanpa diduga, pintu pun terbuka. Terlihat sosok Alfi yang rambutnya terlihat basah sehabis mandi. Laki-laki itu sempat terkejut melihat kedatangan Glenn, "ngapain lo? Kok lo bisa tahu rumah gue?"



"Di rumah lo ada orang?" Tanya Glenn.



"Nggak ada. Gue sendiri. Bokap nyokap lagi keluar kota. Ngapain lo nanyain rumah gue ada orang apa enggak?"



"Lo nggak bisa manggil keluarga lo gitu atau siapapun? Malam ini lo jangan di rumah sendirian."



"Kok lo ngomong nyeremin banget sih? Lo pikir gue anak SD yang tidurnya minta ditemanin orang lain karena takut ada monster atau hantu?"



"Malam ini *monster* itu akan datang menjemput lo. Gue gak yakin apa lo benar-benar korban selanjutnya yang jadi incaran Grimm. Tapi, untuk hal ini gue terpaksa mengandalkan insting gue. Jadi sekali lagi gue mau bilang, lo jangan di rumah sendirian malam ini."



"Grimm? Maksud lo... psikopat itu?"



"Iya."




Glenn memutar bola mata jengah, "Terserah lo mau berpikiran apa. Intinya lo jangan sendirian."



Alfi tertawa tanpa suara, "Omong kosong."



Glenn berusaha keras memperingati Alfi, bukan karena peduli padanya, namun lebih pada karena Glenn tak mau usahanya gagal lagi. Ia tak boleh kalah dari Grimm.



"Apasih susahnya nginap dimana dulu gitu kek yang penting ada orang lain. Orang dewasa gitu. Keluarga lo dimana?" Tanya Glenn lagi karena Alfi sedari tadi tak membalas pertanyaannya.



"Gak ada keluarga gue di sini. Mereka semua di Semarang." Alfi mengedikkan bahunya.



Ini pukul 10 malam. Komplek perumahan Alfi tampak begitu sepi. Suasa termudah bagi seorang pembunuh melancarkan aksinya. Terutama untuk rumah sebesar rumah Alfi, tak akan mudah ketahuan oleh tetangga-tetangga lain. Grimm bisa saja melancarkan aksinya tanpa terdengar sedikitpun karena ia sejenius itu.



"Lo bisa nginap di rumah gue dulu atau gue nginep di sini," kata Glenn akhirnya. Meskipun kesal harus memberikan tumpangan rumah pada orang menyebalkan di hadapannya ini.



"Ogah! Dasar gila!" BUKK pintu langsung dihempas di depan wajah Glenn. *Sialan ini orang mau ditolongin tapi ngeselin banget.* Rasanya Gleen mau membiarkannya mati saja karena terlalu menyebalkan.



Glenn menghela nafasnya gusar, kemudian ia membuka ponselnya hendak menelepon Pak Rasyid. Niatnya adalah untuk mengutus beberapa bawahan Pak Rasyid berjaga di depan rumah Alfi tanpa ketahuan. Di saat itu pula, pesan yang Leya kirim akhirnya terbaca oleh Glenn. Tapi, Glenn tak sempat membaca pesan itu. Ia harus menelepon Pak Rasyid lebih dulu.



Pak Rasyid menyetujui permintaannya, 15 menit kemudian Pak Taufik dan Mas Ridwan--bawahan Pak Rasyid--muncul. Glenn menghampiri mobil mereka. Mereka menurunkan kaca mobil dan tersenyum, "Glenn. Kamu pulang saja, besok kan masih sekolah. Biar kami yang berjaga di sini."



"Tapi Pak Taufik-"



"Gak papa Glenn. Kamu istirahat ini sudah sangat larut. Kamu tetap harus mementingkan sekolahmu," tambah Mas Ridwan.



Glenn mengangguk lemah, kemudian ia menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sepertinya, ia benar-benar harus pulang. Glenn kembali menatap ponselnya sebelum benar-benar melajukan motornya. Ayahnya beberapa kali menelepon dan mengirim pesan karena ia khawatir Glenn belum pulang. Glenn membalas akan pulang sebentar lagi. Kemudian, ia kembali membaca pesan yang Leya kirim. Ia tersenyum sekilas. Setidaknya ia memiliki 2 orang di dunia ini yang masih bisa mengkhawatirkannya.



Pukul 10.20, Glenn masih di depan rumah Alfi dan membalas pesan Leya.

__ADS_1



Glenn : Udah gue bales. Keliatan masih hidup gak?



Tak butuh waktu berapa lama, Leya membalas pesan Glenn.



Leya : gue serius. Lo udah pulang?



Glenn : baru mau pulang. Lo tidur aja.



Leya : hati-hati ya di jalan. Jangan ngantuk. Kalau ngantuk bayangin muka unyu gue aja oke?



Glenn : idih ogah. Bisa mati kelindes kali gua.



Glenn menahan senyumnya. Ya Tuhan pada saat genting seperti ini kenapa ia masih bisa tersenyum?



Leya : ya ampun, udahhh buruan pulang sana



Glenn : iya nyai.



Pukul 10.25 Glenn benar-benar meninggalkan rumah Alfi.



Pukul 1.00 dini hari


Leya terlelap, namun entah kenapa ia tak sengaja terbangun. Hari sudah gelap, Ayahnya juga pasti sudah tidur. Ia jadi haus. Ponsel masih tergeletak bisu di samping tubuhnya. Rupanya ia ketiduran saat ditelpon Gleen tadi.


Leya duduk di samping kasurnya sebentar, sedikit takut bila harus pergi ke dapur. Pasti semua lampu di ruangan ini sudah dimatikan, kecuali kamar Leya. Yah, walaupun hanya lampu tidurnya saja yang menyala, tidak benar-benar gelap.


Leya memberanikan diri pergi ke lantai satu. Ia menuju dapur, menyalakan lampu dapur saja--tidak menyalakan lampu ruangan lain maupun ruang tamu. Ia mengambil segelas air, menenggaknya beberapa kali hingga tak terasa haus, ketika tiba-tiba pintu depan diketuk pelan.


Tok... tok... tok... suaranya menggema hingga ke ruang dapur. Leya meremas gelas kacanya. Siapa yang mengunjungi rumahnya selarut ini? Apa ia perlu mengeceknya? Memanggil Ayahnya? Kenapa tamu itu tidak menekan bel?


Di saat itu Leya tahu, bahwa yang mengetuk pintunya bukan orang biasa atau tamu biasa. Orang itu jelas mengetuk pintu tanpa benar-benar ingin membangunkan seisi rumah. Leya sepertinya harus membangunkan Ayahnya.


Tok... tok... tok...


Pintu masih terketuk sementara Leya langsung berlari ke atas, cepat-cepat mengetuk pintu kamar Ayahnya. Ia takut bila dugaannya benar.


"Leya ada apa?" tanya Ayah dengan wajah bantal sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Yah, tadi ada orang ngetuk pintu rumah."


"Hah? Siapa? Semalam ini?"


"Cek dulu, Ayah. Leya takut."


"Yaudah kamu tunggu di sini aja, biar Ayah yang cek ke bawah."


Tak butuh waktu beberapa lama hingga Ayahnya kembali, "Nggak ada siapa-siapa kok. Kamu tidur lagi aja ya Sayang. Kalau ada apa-apa ketuk aja pintu Ayah."


Leya mengangguk lemah. Mungkin hanya halusinasinya saja karena terlalu was was.



Leya bersenandung kecil sambil mengikat rambutnya. Tadi malam sesampainya di rumah, Glenn menelepon dan berkata ia tak bisa tidur karena khawatir akan terjadi sesuatu. Kemudian Leya memintanya menelepon bawahan Pak Rasyid tapi, katanya mereka benar-benar menjaga rumah Alfi dan tidak tidur semalaman. Sepertinya, kali ini mereka berhasil menggagalkan rencana Grimm. Itu yang membuatnya sedikit bahagia hari ini. Walupun, semalam ia sedikit takut tentang seseorang yabg tiba-tiba mengetuk pintu rumah. Ah, perasaannya saja.



Leya sudah rapi, ini masih pukul 05.30 pagi. Sengaja ia bangun dan bersiap-siap lebih pagi karena ia akan berdiskusi dengan Glenn pagi ini. Leya mematut dirinya kembali di depan cermin. Ia sudah sedikit cantik. *Sedikit*, baginya. Padahal, ia memang sudah cantik.



*Tok tok tok*



"Leya sayang udah siap nih sarapannya." Terdengar suara Ayah dari luar. Leya bergegas membuka pintu dan tersenyum lebar. "Anak Ayah udah cantik banget. Yuk sarapan."



Leya mengangguk. Mereka turun ke lantai bawah bersama. Tiba-tiba, ponsel Leya bergetar dari dalam saku. Siapa mengirimi sms sepagi ini? Jangan bilang operator. Tapi, ia penasaran. Akhirnya ia buka pesan itu, dari nomor tak dikenal.



*Tok tok tok... Grimm mengetuk pintu, semalam. Mungkin kamu sudah terlelap. Tak apa, kutinggalkan kenang-kenangan di depan rumah. Semoga kamu menyukainya.*



Astaga... jadi tadi malam itu...



Leya berlari menuju pintu rumah dan membukanya. Sementara Ayahnya hanya melihat bingung anaknya berlari tergesa-gesa.



Leya tak tahu apa yang saat ini ia lihat di halaman rumahnya bagian depan. Ia menutup mulutnya, gemetaran. Kakinya seketika lemas. Ya Tuhan... apa yang ia lihat ini?



Di tengah rerumputan kecil, sebuah kepala seseorang yang ia kenali berdiri menghadap Leya. Matanya terjahit. Bibirnya pucat. Hanya kepala tanpa tubuh. Di samping kepala itu terdapat sebuah kotak kado coklat lusuh berukuran sedang. Ia langsung menutup matanya dan terduduk lemas. Bahkan ia sama sekali tak bisa berteriak.



"Leya? Kok keluar? Ad-" Mata Ayah Leya membesar. "ASTAGA!!! LEYA CEPAT MASUK!!" Ayahnya menarik tangan Leya hingga terpaksa berdiri dan masuk ke dalam rumah, sementara ia berlari meminta tolong pada para tetangga. Ia juga terlihat meletakkan ponselnya ke telinga, yang Leya tebak sedang menelpon polisi.



Setidaknya, Ayahnya bisa memberikan respon yang wajar seperti orang lain pada umumnya. Tidak seperti Leya yang sama sekali tak berteriak dan bahkan kali ini kembali keluar rumah, malah berusaha mendekati kotak kado lusuh itu. Walaupun takut dan gemetar, ia tetap memberanikan diri.



Ini sebuah kekalahan telak. Korban Grimm, genap 4 orang. Ia... tak akan bisa menang dari Grimm...

__ADS_1



__ADS_2