
"Bunda, tolong kasih tahu Glenn siapa yang mengadopsi Friska. Tolong Bunda." Glenn memohon pada Bunda. Ia berada di ruangan Bunda bersama Leya.
"Glenn, Bunda gak bisa ngasih. Itu melanggar peraturan di sini." Panti asuhan milik Bunda memang memiliki aturan untuk merahasiakan pengadopsi agar tidak terjadi masalah dikemudian hari.
"Bunda, tolong. Kalau Bunda gak ngasih tahu, akan ada seseorang yang kehilangan nyawa. Bunda, tolong bantu Glenn."
Mata Bunda melebar. Wajahnya berubah jadi dingin. "Kehilangan nyawa?"
Glenn mengangguk. "Bunda, tolong sekali ini saja."
Bunda menghela napasnya, kemudian ia bergerak menuju berkas-berkas yang tersusun rapi di rak buku. Ia mengambil 1 map besar. Membukanya sebentar, kemudian memberikan sebuah lembaran pada Glemn. "Bunda cuma bisa bantu ini. Tapi, Bunda gak tahu keberadaan mereka apa masih di alamat ini atau bukan."
Glenn mengambil lembaran itu, mencatatnya. Terdapat nama wanita dan pria, kemudian alamat rumah mereka. Glenn tersenyum. Ia memeluk Bunda. "Makasih Bunda," katanya setelah mengembalikan berkasnya.
"Glenn, kamu harus hati-hati ya."
Glenn tersenyum dan mengangguk.
Setelah pamit, Glenn melangkah lebih dulu. Leya menyusulnya, namun tiba-tiba lengannya ditarik Bunda, "Leya, tolong jaga Glenn."
Leya hanya tersenyum dan mengangguk.
Bunda mungkin tahu sesuatu, tapi ia lebih memilih bungkam. Membiarkan Glenn mengingat sendiri. Mengingat apa yang harus ia ingat dan hal penting apa yang telah ia lupakan.
"Halo, iya ada apa Pak Rasyid?"
"*Glenn, kami sudah mengirimkan ke emailmu salinan CCTV di tempat tinggal Geby. Kami juga sudah memilah tempat yang kemungkinan menjadi tempat pembunuh Alfi menghentikan taksinya. 5 menit dari tempat itu menuju rumah Geby*."
"Baik terima kasih, Pak. Besok mungkin saya sudah bisa pergi ke sekolah dan sudah bisa melakukan wawancara terkait kematian Wati. Saya yakin, Wati dibunuh, bukan bunuh diri. Dan pembunuhnya bukan Grimm"
"*Baiklah. Kami percayakan padamu. Ayahmu juga menduga bahwa Wati tidak bunuh diri. Tapi, Glenn. Bagaimana dengan kasus Grimm? Kamu belum memberikan laporannya.*"
"Iya, maaf atas keterlambatannya Pak. Nanti saya minta Leya kirim ke Bapak. Belum ada perkembangan yang berarti, tapi kami masih berusaha mencarinya. Bagaimana dengan rumah Alfi? Dan tempat terbunuhnya Alfi?"
"Tidak ada apa-apa. Rumahnya bersih. Untuk ponsel Alfi sendiri sudah Bapak suruh Wisnu buat ngecek, tapi panggilan terakhir Alfi berasal dari Geby. Selain itu, di tempat terbunuhnya Alfi juga benar-benar bersih. Hanya tersisa parang tanpa sidik jari yang fotonya sudah Bapak berikan ke Leya. Semua berkas hasil penyidikan sudah Bapak berikan. Kamu bisa melihatnya sendiri."
"Baik, Pak. Terima kasih. Kalau begitu, selamat malam."
"*Selamat malam.*"
Klik. Telepon dihentikan. Glenn menghempaskan tubuhnya di atas kasur kamar Ayahnya. Hari ini, Ayahnya tidak pulang karena banyak mayat yang menunggunya. Ia lembur. Yang tersisa di rumah ini hanyalah dirinya, Leya, Ayah Leya, dan Bibi Aini. Semua orang tampaknya sudah tidur.
Glenn mengambil laptop yang berada di atas nakas dengan tubuh yang masih terbaring di atas kasur. Dengan malas, Glenn membuka laptopnya sambil perlahan duduk. Ia membuka email, kemudian mendownload video-video yang dikirim Pak Rasyid. Setelah terdownload, ia membukanya pelan.
Pukul 10.20.
Sebuah taksi berhenti. CCTV menangkap sosok seseorang yang wajahnya ditutupi masker dan tangannya menggunakan sarung tangan. Glenn memperbesar wajahnya, kemudian meng-*capture* wajah orang itu. Ia juga tak lupa mempercepat CCTV hingga terlihat nomor plat taksinya. Gleen mencatat nomor plat itu, kemudian mengirimkannya pada Pak Rasyid untuk dilacak.
Tanpa butuh waktu lama, Pak Rasyid membalas pesan Glenn.
*Kami sudah mengeceknya lebih dulu. Itu nomor plat palsu. Dan untuk identifikasi wajah, sedikit sulit karena ia menggunakan masker.*
Glenn menghela napas. Ia kembali menghempaskan tubuhnya. Benar-benar tidak ada celah. Sempurna sekali. Glenn hampir putus asa.
*Siapa kamu? Apa kamu Friska? Atau memang Grimm menggunakan semua kenangan masa kecilku sebagai ide untuk pembunuhan ini? Bagaimana caramu tahu detail kenanganku Grimm? Siapa yang memberi tahumu Grimm?*
Gleen menghela napasnya lagi. Ia memijit pelipisnya. Tak pernah ia menangani kasus yang lebih rumit dibanding kasus ini. Tapi, ia tak akan menyerah. Pasti ada celah. Pasti.
*Tok, tok, tok*
"Siapa?" Tanya Gleen.
"*Gue. Buka Glenn*."
Dengan malas Gleen beranjak dari kasurnya. Ia membuka pintu, tampak Leya yang saat ini mengenakan piyama berwarna pink. Leya terlihat menggemaskan dengan baju piyama pink. Glenn menahan senyumnya.
"Kenapa?"
"Ini," dia memberikan buku dongeng coklat besar, "sama ini," dia memberikan buku catatan Adela juga.
Glenn menaikkan sebelah alisnya.
__ADS_1
"Gue gak bisa tidur. Kalau ada barang beginian di kamar." Anehnya, Leya langsung masuk ke kamar tanpa permisi dan kali ini duduk bersila di atas kasur Glen. Glenn menggelengkan kepalanya pelan. Terkadang, Leya terlihat seperti anak kecil.
"Terus?" Tanya Glenn bingung.
"Ya terus, sebelum tidur bahas apa dulu kek tentang kasus ini. Beneran gue gak bisa tidur. Rasanya tuh... apa ya? Gak enak." Leya sekarang malah mengotak-atik laptop Glenn.
"Lo malam-malam ke sini gak takut apa? Bisa dicincang gue sama Ayah lo." Glenn meletakkan buku-buku itu di atas kasurnya juga, namun ia tetap berdiri. Tidak nyaman bila duduk di atas kasur juga.
Leya berdecak, "Lo kan bilang sendiri gak bakal nafsuan sama gue yang kayak triplek ini." Leya hanya mengedikkan bahunya acuh tak acuh. Bahkan, saat ini Glenn tidak berani menutup pintu kamarnya. Ia biarkan terbuka saja.
"Ya tapi gue laki-laki. Dan gue normal."
"Oh berarti lo bisa juga kan nafsu sama gue? Syukurlah hehehe..."
"Kok syukur sih? Ini orang gila apa?"
"Ya syukur lah. Gue pikir gue bener-bener gak menarik sama sekali di depan laki-laki. Itu bahaya."
Glenn berdecak, "Eh, Leya. Gak gini juga kali caranya. Baper amat sih gue bilangin triplek. Udah balik sana gih ke kamar lo."
Leya menghela nafasnya pelan, "Sebenarnya, gue gak bisa tidur karena kepikiran lo. Kepikiran tulisan di pohon tadi."
"Jadi lo mulai ragu nih sama gue?"
"Bukan! Bukan itu..." Leya menggelengkan kepalanya cepat, "justru gue takut lo sedih ngelihat ada nama teman lo di situ. Teman yang mungkin udah kayak saudara. Ya... bukan apa sih tapi gue cukup curiga sama Friska. Lo juga pasti susah tidur kan kepikiran ini? Selain itu, gue juga pusing mikirin Kak Dedel. Mikirin siapa W. S. pembunuh Alfi, karena dari kasus Raya sampai Alfi, yang berpeluang besar bisa terungkap itu ya pembunuhnya Alfi. Tapi, tetep aja ini sulit. Asalkan pembunuh Alfi ini terungkap, gue yakin Grimm bisa tertangkap," cerocos Leya tanpa jeda.
"Maaf ya..." Glenn menghela nafas panjang, "maaf bikin lo pusing, kepikiran, dan gak bisa tidur."
"Justru gue seneng. Gue seneng bisa ngerasain rasanya gak tidur kayak lo. Gue seneng bisa ngerasain rasanya pusing dan kepikiran kayak lo. Gue seneng bisa ngerasain jadi lo." Leya tersenyum polos. Wajahnya tambah terlihat menggemaskan dengan pipi chabi yang terlihat jelas ketika tersenyum, walaupun badannya kurus--tapi tidak terlalu kurus juga, badan Leya bagus kok.
"Tuhkan ejekin gue lagi!" Leya cemberut, "Bukannya makasih kek apa kek."
"Iya iya makasih. Udah lo tidur sana gih..."
Leya menggeleng, "Belum ngantuk. Mending sekarang kita baca buku catatan Adela lagi yuk!" Serunya sambil tersenyum lebar.
"Kagak ah. Gelap-gelapan malam-malam. Dikira apaan ntar. Udah sana lo tidur gih."
"Takut nafsu ya ama gua hahaha... ngaku aja lu." Leya tersenyum jahil, membuat Glenn jadi sebal.
"Ish ini anak resek banget sih."
"Eh bentar Glenn..." Mata Leya tertuju pada laptop Glenn. Ia sepertinya memutar ulang CCTV yang dikirim oleh Pak Rasyid.
"CCTV? Udah itu udah gue selidikin duluan. Pak Rasyid bilang nomor platnya--"
"Gue kayak pernah liat mata cewek ini. Gak asing ngelihat perawakan dia. Di mana ya?" Walaupun tak begitu jelas, Leya merasa tak asing melihatnya.
Glenn langsung mendekati Leya, berdiri di sampingnya, "Serius? Ini agak kabur loh mukanya, pake masker juga."
"Serius. Tapi gue lupa. Ah sial..." Leya menggigit bawah bibirnya. Tangannya kemudian menggerakkan mouse membuka berkas-berkas yang dikirim oleh Pak Rasyid, "Glenn, berkas yang gue kasih ke lo mana?"
"Bentar." Glenn pergi sebentar, mengambil tumpukan berkas seluruh kasus mulai dari kasus Raya hingga Alfi. Ia meletakkannya di atas kasur, sementara mata Leya terus bergerak membaca isi email-email dari Pak Rasyid.
Glenn menyusun semua keterangan berkas dari kasus Raya hingga Alfi. Kemudian, ia teringat sesuatu, "Lo ngerasa gak sih ada sesuatu yang kita lupain Ya'?"
"Putri Ariel, Glenn," jawab Leya masih fokus mengotak-atik laptop Glenn. Ia mencari nama di sana. Kumpulan daftar nama orang-orang yang diwawancarai karena tidak masuk sekolah saat kejadian Raya, "mungkin malam ini kita bisa nemuin 2 jawaban. Pembunuh Wati dan pembunuh Alfi," jawab Leya tersenyum kemenangan.
__ADS_1
Glenn mengangguk, matanya kini fokus jatuh pada foto surat-surat yang dikirim Grimm. Ia juga membuka ponselnya, "Ya' sini hp lo." Tanpa pikir panjang, Leya memberikan ponselnya pada Glenn.
Glenn langsung menuliskan isi semua surat Grimm dari awal. Kali ini ia terfokus pada pesan yang Grimm kirim ke ponsel Leya, mengenai Putri Ariel.
"Di antara Geby dan Belvina adalah Putri Ariel. Grimm sudah mengingatkan kita dari awal. Lo ingat gak tentang pisau dibalik rambut Ariel? Putri Ariel akan membunuh siapa saja yang mengetahui jati dirinya. Dan bagaimana kalau ternyata, yang membunuh Wati adalah Putri Ariel?" Glenn menggigit bibir bawahnya, menerka-nerka. "Seperti yang pernah diperingatkan Grimm. Putri Ariel, saingannya. Bagaimana kalau ternyata... Adela gak bunuh diri, melainkan dibunuh. Kemudian, Wati, entah bagaimana caranya, dia yang gak punya hubungan apapun dengan Adela malah tahu sesuatu dan mulai mencurigai si Putri Ariel atas kematian Adela? Membongkar kembali masa lalu Putri Ariel?" Tentu saja Glenn punya dasar mengapa ia mengatakan hal tersebut. Ia punya dasar sehingga ia bisa berspekulasi seperti itu.
Leya menghentikan kegiatannya, "Kenapa lo berpikiran seperti itu?"
"Untuk hal yang sepele, gak akan mungkin Putri Ariel bisa sampai membunuh seseorang yang tahu sesuatu tentang dirinya. Ini pasti sesuatu yang sangat besar. Rahasia yang sangat besar. Sementara, lo tahu sendiri siapa pun yang ingin dibunuh Grimm itu berhubungan dengan Adela, contohnya Putri Ariel. Grimm juga ngasih tahu kalau Putri Ariel mungkin akan membunuh siapa pun yang mencurigai dia, dalam hal ini gue beranggapan si Wati. Pasti kecurigaan itu berhubungan dengan peristiwa Adela di masa lalu juga. Rahasia besar di masa lalu. Kemudian, Geby bilang kalau Adela itu gak jelas kematiannya. Maksud gue, kalaupun dia stress akibat mukanya yang hancur, seperti yang dikatakan oleh Geby atau karena patah hati putus cinta dengan Raya, gue tahu kalau Adela bukan tipe cewek putus asa semengerikan itu.
"Lagipula, dia sehabis di operasi plastik kan? Oke, gue bisa kasih pembuktian ke lo kalau Adela bukan tipe cewek putus asa sestress apapun dia."
Gleen bergegas menutup pintunya dan mematikan lampu setelah ia mengambil polpen bersinar UV dan buku catatan Adela. Ia membuka lembar per lembar buku catatan itu.
*Aku mencintai Raya. Tapi, satu hal yang seharusnya kusadari sedari dulu. Raya tidak benar-benar mencintaiku. Dia bermain di belakangku. Bersama Belvina, sahabatku sendiri.
Kemudian, aku memilih memutuskan hubungan dengan Raya. Aku mencintai Raya, tapi aku lebih mencintai Belvina. Kalau memang mereka bahagia bersama, tak apa. Aku tak bisa memaksakan. Lagipula, aku malu Raya berpacaran dengan gadis pecundang sepertiku.
Tidak, aku tidak sehancur itu. Aku punya Geri. Dia seperti sinar rembulan di kegelapan malamku. Dia menguatkanku. Asalkan Geri ada, aku masih punya tujuan hidup. Aku mencintainya? Ntahlah aku bingung. Apa bisa seorang gadis mencintai dua pria di waktu bersamaan? Ini gila. Lagipula, biar saja seperti ini. Geri akan terus menjadi sahabatku, tujuan hidupku.
Sekelam apapun hidupku, aku tak masalah. Asalkan, Geri masih ada di sini dan aku masih bisa melihatnya tertawa. Itu cukup.
Aku masih punya tujuan hidup bukan? Geri, aku janji. Aku akan bertahan hidup agar kita bisa terus bersama. Seberat apapun hidup ini. Asalkan aku masih bisa melihatmu. Kita sudah saling berjanji bukan? Untuk bertahan hidup satu sama lain.*
"Adela gak akan menyerah selama Geri masih ada," tegas Glenn.
"Gimana kalau ternyata Geri itu sudah mati? Lalu Adela putus asa?" Tanya Leya lagi.
Glenn membuka-buka buku catatan Adela hingga akhir, "Gak ada catatan di sini yang menyatakan kalau Geri mati. Gue yakin kalaupun Geri mati, Adela gak akan lupa untuk mencatatnya di buku harian. Malahan kalau lo bisa lihat catatan terakhirnya adalah ini."
*Maaf aku baru bisa menulis lagi. Aku baru selesai dioperasi plastik. Kemarin, seorang pria dewasa mengejarku dan menyimburkan air yang sangat panas ke wajahku. Aku menangis dan meronta minta tolong. Rasanya seperti wajahku di celupkan ke dalam tungku berisi air panas. Tidak, ini lebih sakit. Karena, aku tahu rasanya kaki yang terkena air mendidih. Ibu pernah menyiramkannya di kakiku. Itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kejadian yang membuat wajahku harus dioperasi plastik.
Ayahku baru saja pergi. Dia harus kembali ke kantor setelah menungguku operasi. Wajahku saat ini masih diperban, tapi aku masih bisa menulis sedikit demi sedikit. Ayahku bersumpah akan membunuh pria yang menghancurkan wajahku ini. Tapi, Ayahku bilang dalam waktu beberapa bulan, wajahku akan kembali bahkan lebih cantik dari yang dulu. Itu tidak masalah, karena jujur saja, aku sangat bahagia hari ini. Bukan karena mendengar wajahku pulih, tapi karena hari ini, setelah beberapa hari Geri membolos dan aku tidak melihatnya, ia datang membawa bunga dan buah-buahan.
Dia bilang aku cantik. Bukan wajahku, tapi hatiku. Dia bahagia karena aku bisa sampai setegar ini dan berhasil menjalani operasiku. Dia bilang begini.
"Del, kamu tetap cantik. Aku gak peduli wajah kamu sehancur apapun, di mata aku, kamu tetap cantik. Hati kamu cantik. Aku ngerasa sempurna berada di dekat kamu. Maaf kemarin aku gak bisa masuk sekolah dan gak bisa ngelindungi kamu. Ini kesalahan aku."*
*"Gak papa Ger. Aku masih hidup dan masih bisa ngeliat kamu aja udah syukur. Tenang aja, setelah ini aku akan sehat lagi. Wajahku akan kembali lagi!"
"Del, aku bahagia bisa ketemu gadis sekuat kamu. Makasih karena masih bertahan hidup. Adela, kamu jangan pergi ya. Aku... sayang kamu, Del. Bukan sebagai sahabat, tapi sebagai laki-laki. Iya, aku tahu aku masih bocah. Aku juga masih ragu, sampai kapan aku masih bisa sayang kamu. Jadi, lebih baik sampai dewasa kita sama-sama terus ya. Biar aku juga bisa memastikan, kalau ini bukan rasa sayang labil. Kamu cinta pertama aku."
Kamu tahu? Mendengarnya, aku sangat-sangat bahagia. Iya, kita masih SMP. Ini gak sepatutnya terjadi, tapi kita tidak memilih berpacaran. Kita lebih memilih untuk terus bersama hingga saatnya tiba dan memang kita di masa yang akan datang menyadari kalau ini bukanlah cinta bocah.*
"Cuma sampai di sini. Dari kalimat ini, gue sama sekali gak melihat ada keputusasaan yang dialami Adela. Gue bertaruh, setelah hari itu kemungkinan dia meninggal. Itulah sebabnya, kenapa tulisan ini gak ada lanjutannya," jelas Glenn. "Jadi, seseorang udah membunuh Adela. Entah disengaja ataupun tidak. Dan gue berpikir... Putri Ariel itu. Iya, ini cuma insting gue."
"Jadi maksud lo, kemungkinan Wati tahu soal ini dan Putri Ariel ngebunuh dia? Putri Ariel juga membunuh Adela?"
Glenn mengangguk, "sekarang... siapa Putri Ariel? Geby? Atau Belvina?"
Leya berpikir sebentar, "Belvina..."
Glenn dan Leya berniat menelepon Pak Rasyid mengenai Belvina. Yang mereka butuhkan adalah sebuah bukti. Pasti ada sesuatu yang bisa dikaitkan dengan Belvina, karena Belvina bukan profesional seperti Grimm. Baiklah, untuk sementara mereka belum bisa menyimpulkan bahwa Belvina yang membunuh Wati. Ini masih dugaan, itulah sebabnya mereka hendak menelepon Pak Rasyid. Meminta bantuan terkait penyelidikan ini.
Saat ini, pukul 9 malam. Belum sempat mereka menelepon Pak Rasyid, sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk lebih dulu.
Kali ini, mari bermain find me! *Aku sedang bermain bersama Putri Ariel. Dia cantik dan menyenangkan. Kita lihat seberapa kuat dirinya? Kami sedang berada di sebuah kerajaan tempat Apollo dan Hades berkumpul. Dari sini Putri Ariel bisa melihat kediaman Raja Triton. Ada Delphin yang diperintahkan Poseidon untuk terbang bersama lumba-lumba di atas kami. Itu sangat indah! Kami bisa melihat semuanya di kerajaan ini. Aku tunggu 30 menit lagi!
-Grimm*
Glenn melebarkan matanya kemudian ia menoleh ke arah Leya. Dari sorot mata Leya terlihat sebuah ketakutan dan kekhawatiran. "Glenn, dia bergerak lebih dulu..."
"Gue gak mau tahu. Kali ini harus berhasil." Glenn mengepalkan tangannya, "Walaupun gue masih belum bisa benar-benar memastikan bahwa tebakan lo soal Putri Ariel adalah Belvina. Insting gue juga berkata itu benar," Glenn menghela napasnya sebentar sebelum melanjutkan, "kita cuma punya waktu 30 menit. Biar gue yang memecahkan teka-teki Grimm yang ini. Tolong bantu gue juga Ya'."
Leya mengangguk mantap.
Tangannya gemetar, dalam kondisi menegangkan seperti ini, ia benar-benar harus bisa fokus. Waktu 30 menit tidaklah lama. Ia harus bisa membantu Glenn memecahkan teka-teki ini dalam waktu yang cepat.
__ADS_1
Leya berdoa, satu saja, semoga kali ini ia dan Glenn berhasil.