
Glenn mengutuk di dalam hati. Kenapa bisa semacet ini? Sialan. Ia melirik jam tangannya. Tidak ada waktu lebih banyak, ia tak bisa menunggu lebih lama. Ia langsung memarkir motornya asal kemudian berlari menuju rumah sakit.
Rumah sakit tampak sangat ramai. Tidak, ramainya bukan karena banyak pasien, melainkan karena ada polisi dan para pemadam kebakaran. Tunggu sebentar, apa ada kebakaran? Perasaan Glenn mulai tak enak. Ia segera menerobos masuk ke tangga darurat. Sementara beberapa pemadam mencegatnya. Ia tak bisa langsung masuk. Namun, untung saja tak lama kemudian salah satu bawahan Pak Rasyid datang dan memberikan sebuah surat penyelidikan pada pemadam itu.
Perasaan Glenn makin tak enak. Tapi, ia tak memikirkan itu, karena saat ia telah mencapai lantai tertinggi, pemadam kebakaran baru saja selesai memadamkan api. Tunggu sebentar. Itu manusia! Glenn melebarkan matanya.
Seorang manusia dengan tubuh terbakar menghitam dan bahkan wajahnya tak dapat dikenali lagi itu berada di tengah atap. Ia duduk di atas kursi yang juga mengarang. Sedikit saja tersenggol, mungkin kursi itu akan hancur. Salah satu bawahan Pak Rasyid langsung menelepon personil lain. Sementara Glenn, diam mematung dengan mata melebar dan tangan terkepal.
Sial.
Sebuah sms masuk, nomor tak dikenal. Tanpa pikir panjang, Glenn langsung membukanya.
*Maaf, kali ini aku mempercepat alur ceritanya. Aku hanya tak ingin Putri Ariel bisa diselamatkan. Kali ini, kutinggalkan sebuah kenangan pahit bersama setangkai mawar kuning. Walaupun aku bertanya padanya apa ia memilih suara atau jurang, aku tak benar-benar memberikan pilihan itu.
-Grimm*
"Arrghhh!" Pekik Glenn putus asa. Ia mengacak rambutnya kesal, kemudian menghampiri tubuh mengerikan berwarna kehitaman itu. Ada sebuah meja kecil yang berjarak agak jauh dari mayat. Di atasnya terdapat laptop yang sama sekali tidak terbakar. Itu mudah, di tempat terbuka seperti ini, asalkan api tidak terkena media yang mudah terbakar, maka api tidak menyebar.
Selain itu, jarak meja ini juga terbilang jauh. Seakan memang sengaja dijauhkan dari tubuh mayat. Dan tampaknya pemadam kebakaran datang dan menanganinya lebih cepat, sehingga tidak menyebabkan kerusakan yang berarti. Toh, beton merupakan penghantar panas yang rendah, walaupun kekuatan tekannya akan berkurang pada suhu setinggi 200°C karena air pada pori beton akan menguap seluruhnya dan menyebabkan kekosongan.
Glenn mendekati meja itu, ia meminjam sarung tangan pada bawahan Pak Rasyid yang baru selesai menelepon personil lain. Dalam beberapa menit, polisi mengambil alih tempat ini, membiarkan para pemadam pergi terlebih dahulu.
Glenn membuka laptop itu, terdapat sebuah amplop putih di sana. "Mas Ian, tolong periksa isi laptop ini," kata Glenn. "Periksa sidik jari dan apapun yang ada di sini." Tapi, sebelum Ian mengambil laptop itu, Glenn ikut memperhatikan detailnya. Tak ada apa-apa, bersih. Seperti biasa.
Glenn membuka amplop putih itu. Isinya adalah sebuah mawar kuning palsu dan surat. Untuk pertama kalinya, Grimm memberikan sebuah bunga palsu. Kemudian, Glenn membaca suratnya.
Baiklah, moodku sedang baik. Aku sedang bosan. Kuberi sebuah petunjuk sederhana tentang keberadaanku. Aku, sang pendongeng memang tak suka berdiam diri menunggu di suatu tempat, tapi besok kau akan menemuiku di land of dreams, *tempat seluruh anak-anak bahagia. Akan kuberikan kejutan di sana, sebuah petunjuk baru. Tapi, kau juga harus mengingat, apa yang kau lupakan. Besok, pukul 8 malam!
-Grimm*
Glenn menghela napasnya dalam. "Mas, yang ini juga." Ia memberikan surat itu dan mendekati mayat yang menghangus itu. Ia hanya bisa menunggu hasil autopsi.
"Glenn, ada yang kamu harus lihat." Glenn menoleh ke arah Ian. "Di rumah sakit ini juga terjadi insiden penikaman, tepatnya di lantai 3," kata Ian.
Glenn menaikkan sebelah alisnya, "kenapa ada 2 insiden yang terjadi bersamaan?"
"Mungkin bisa membantu kamu setelah melihat CCTV-nya."
Gleen mengangguk.
~~~
Tidak ada yang lebih mengejutkan dari ini. Seorang gadis remaja menikam wanita paruh baya dari belakang, bahkan di depan orang lain. Yang lebih mengejutkan lagi adalah... itu Belvina! Glenn bisa sangat jelas mengenalinya walaupun wajah gadis di CCTV itu tidak terlalu jelas.
"Ini... Belvina? Belvina Sheza Amartya?"
Ian menaikkan sebelah alisnya, "Baru aja mau ngasih tahu. Saksi mata juga baru saja mengonfirmasi bahwa penikam itu adalah keponakannya sendiri. Dan korban penikaman itu adalah Ibu dari sang pelaku bernama Belvina Sheza Amartya."
Glenn memperhatikan CCTV itu dengan seksama, seperti tak ingin kehilangan detail pergerakan Belvina. "Tolong diperbesar," katanya pada lelaki paruh baya yang duduk memonitor CCTV masih sambil berkonsentrasi. Ia berdecak kesal, "dia dijebak," tambah Glenn menyimpulkan.
Ian menoleh bingung.
"Pak, setelah melihat kejadian ini, Bapak langsung menelepon polisi, bukan?" Itu pertanyaan sederhana yang Glenn tanyakan untuk membantunya mengetahui sesuatu.
"Iya, tentu saja! Tapi katanya polisi kehilangan pelaku."
"Tolong putar rekaman CCTV di bagian lorong, ikuti gadis itu."
Pria paruh baya itu menuruti Glenn. Ia memutar CCTV, tapi saat itu juga rekaman CCTV bagian lorong seperti terpotong beberapa detik setelah memperlihatkan Belvina yang berlari. "Ini salah satu penyebab kenapa polisi tidak menemukannya. Polisi beranggapan dia langsung berlari menuju lift atau tangga biasa. Tapi tidak ada apa-apa."
Glenn mengerutkan keningnya, "dia pasti lari ke tangga darurat," tunjuk Glenn pada pintu besi besar itu, "kenapa gak ngecek ke sana?"
"Sudah, tapi tidak ada apa-apa. Mereka katanya mengecek tangga darurat menuju lantai 1," kata lelaki paruh baya itu. "Mereka mengatakannya tadi setelah berusaha mengecek CCTV lantai 1."
"Bagaimana dengan tangga darurat menuju ke atap?" Tanya Glenn lagi.
"Mungkin mereka tidak berpikiran sejauh itu? Terutama saat seperti ini. Keterlambatan membuat mereka berpikir, pelaku sudah berada di lantai 2 atau 1. Lagipula, setelah membunuh orang, pasti akan berlari keluar rumah sakit. Tidak ada gunanya bersembunyi, atau bahkan naik ke lantai atas kan?" jelas Ian.
"Tapi... bahkan dia gak keluar di lantai dasar sama sekali." Glenn kali ini menatap CCTV yang memperlihatkan lorong lantai dasar, "pertanyaannya, kenapa dia gak langsung keluar menuju lantai dasar?"
"Mungkin ada seseorang yang menahannya di tangga darurat."
"Itu benar, itulah sebabnya kenapa saya bilang dia dijebak." Glenn melipat kedua tangannya di depan dada, "Pertama, saat selesai menikam dia terlihat sangat syok dan terkejut. Dia melihat telapak tangannya selama beberapa detik, seperti ingin memastikan bahwa dia bukan bermimpi atau mungkin ini benar-benar tangan yang membunuh Ibunya. Dia mundur pelan-pelan sambil menjatuhkan pisaunya dan menutup mulut dengan tangannya. Itu reaksi syok atau terkejut. Kedua, ada sesuatu yang menahan dia untuk tidak langsung pergi ke lantai 1.
"Saya beranggapan bahwa mayat terbakar di atap itu adalah Belvina. Tapi, kita tetap harus melakukan tes DNA dan autopsi lainnya."
"Bagaimana pelaku bisa keluar dengan mudah?" Tanya Ian.
"Itu mudah. Walaupun tertangkap CCTV sekalipun bila ia mengenakan masker dan topi, atau kita punya kemungkinan lain, ia tahu letak CCTV dan dengan cerdas dapat melangkah tanpa harus tertangkap CCTV. Untuk memastikannya, kita lihat kemungkinan seseorang keluar dari tangga darurat di lantai 1."
Pada menit ke 30 setelah Belvina berlari keluar ruangan rawat inap, terlihat pintu gawat darurat yang terbuka, tapi siapapun yang keluar dari sana, tubuhnya tertutupi oleh banyak orang yang berlalu-lalang di sana. Jadi, pintu itu seperti terbuka sendiri tanpa ada yang keluar. Benar-benar waktu yang tepat untuk melarikan diri tanpa diketahui orang lain. Setelah itu, benar-benar tidak ada. Lagipula di saat sibuk seperti itu, orang-orang tidak akan terlalu memperhatikan 'orang aneh bertopi dan bermasker'. Atau mungkin malah ia mengenakan baju seperti biasa? Atau berbaju perawat? Berjas putih seperti dokter? Gleen butuh melihat CCTV ini lebih detail, menelitinya lebih mendalam.
"Pak, boleh saya minta salinan CCTV nya?" Tanya Glenn sopan.
Lelaki paruh baya itu sekilas menatap Glenn. Tapi ia tetap memberikannya pada Glenn. Tentu saja.
"Glenn, kamu bisa pulang lebih dulu. Nanti semua informasi dan hasil autopsi yang kami dapatkan akan kami berikan ke kamu. Kamu butuh istirahat, selain itu besok kamu juga sekolah kan?"
Glenn menghela napasnya. Biarpun seperti itu, ia tetap tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini.
Baru saja membuka pintu rumah di tengah malam seperti ini, seseorang langsung memeluk Glenn. Glenn terkesiap sesaat, kemudian menyadari bahwa gadis itu sedang menangis, "Ya'..."
"Sebentar aja, Glenn. Sebentar aja," katanya sambil menangis. "Tokoh antagonis yang sebenarnya adalah gue. Gue yang bikin semua orang mati, Glenn."
"Hey... lo kenapa?" Kata Glenn perlahan melepaskan pelukan itu, "Kenapa lo berpikiran begitu?"
"Gue yakin Dandelion itu Grimm. Tadi dia nelpon gue, nyanyiin lagu yang gue dan Dandelion suka waktu kecil. Dia ceritain gue tentang dongeng yang kejadiannya mirip kejadian gue. Dia bilang Dandelion berhasil selamat di kebakaran itu, tapi gak berani nemuin gue dan Ayah karena dia ngerasa dibuang. Dia tahu semua dan gue yakin kalau dia memang Dandelion. Dan dia adalah Grimm. Kalau Grimm itu orang lain, dia gak akan tahu sedetail itu. Dan lagu itu... seandainya gue gak ngelupain Dandelion, ini gak akan terjadi. Ini salah gue."
Leya menunduk, kemudian menangis. Ia tak bisa menghentikan tangisannya.
"Ssttt ini udah larut malem banget. Lo jangan ganggu Ayah lo tidur. Ntar malah gue yang dikira bikin lo nangis," kata Glenn pelan.
"Lo tuh ya bukan bikin gue tenang!" Leya memberengut tapi masih menangis, "ini gue lagi serius banget nih."
Glenn menghela napasnya, kemudian menghapus air mata Leya, "Kan gue udah bilang. Kakak lo bukan Grimm dan gue juga udah kasih tahu alasannya kenapa. Jadi, gue gak perlu ngulangin ucapan yang sama kan? Lo cukup percaya sama Kakak lo."
"Tapi... dia tahu semuanya. Glenn gue harus cari Dandelion..."
Glenn memegangi kedua bahu Leya, menundukkan kepalanya agar sejajar dengan Leya, "Grimm selalu tahu apa pun. Asalkan itu mimpi buruk kita, dia akan tahu. Mendingan sekarang lo tidur, ntar besok kita cari info tentang Dandelion. Gue juga mau cari Friska." Glenn tersenyum tulus. Hanya pada Leya ia bisa tersenyum setulus itu.
"Manabisa gue tidur. Lo sendiri emang bisa tidur?" Lama kelamaan air mata Leya mereda. Glenn selalu punya cara unik untuk membuat Leya berhenti menangis. Contohnya saja seperti ini, tanpa butuh usaha lebih.
"Ehm gak bisa sih. Tapi dipaksa biar bisa tidur." Glenn mengangkat bahunya kemudian melangkah lebih dulu dari Leya. Ia lelah, tapi sepertinya ia tak akan bisa tidur semudah itu.
__ADS_1
Leya mengikuti dari belakang, "lo minum obat tidur gitu?"
"Ehm... sejenis itulah. Gue emang susah banget tidur. Otak gue seakan gak bisa berhenti bekerja. Udah sana lu tidur. Ntar besok kesiangan." Glenn langsung masuk ke kamar tamu.
"Glenn!" Panggil Leya.
Glenn menoleh. "Yup?"
"Eng-enggak jadi deh. Yaudah gue naik ya. *Thanks*!"
"Lo emang gampang dibikin berenti nangis." Glenn tersenyum sekilas sebelum benar-benar masuk dan menutup pintu kamarnya.
~~~
Glenn menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Ia berusaha memejamkan matanya, tapi tak bisa. Depresi? Cemas? Insomnia? Entahlah. Ia memang hanya meminum beberapa jenis obat yang diberi dokter sebelum tidur agar bisa tertidur. Sejak insiden 4 tahun lalu, ia jadi takut tertidur. Kadang ia bisa tak tidur semalaman karena cemas dan akhirnya ia membuka-buka berkas kasus yang sedang ia tangani.
Tapi, semenjak mengenal Leya, insomnia dan kecemasannya tak separah dulu. Kadang, ia bisa menelepon Leya dan setelah itu tiba-tiba langsung tertidur. Semudah itu ia terlelap di tengah-tengah percakapannya dengan Leya. Yah, walaupun ia hanya menelepon Leya bila berdiskusi tentang kasus ini. Dan benar-benar, baru kali ini ia bisa tertidur di tengah pembicaraan walaupun terkadang Leya telah tertidur lebih dulu.
Baru saja ia memikirkan betapa mudahnya ia tertidur setelah menelepon Leya, tiba-tiba teleponnya berdering. Glenn kembali membuka mata. Ia menaikkan sebelah alisnya ketika nama Leya terpampang di layar ponselnya.
"Apaan?"
"Gue lupa nanya, jadi gimana tadi soal Belvina? Putri Ariel beneran Belvina?"
"Hmm harus malam ini ya?"
"Enggak sih. Cuma gue penasaran dan gak bisa tidur juga. Gue tahu lo pasti gak bisa tidur juga kan? Hehehe..."
"*Honestly* gue baru aja terpikir soal betapa mudahnya gue tertidur setelah nelpon lo seperti biasanya."
"Cieee jadi suara gue bikin lo tidur nyenyak nih?"
Glenn tertawa sekilas, namun nada bicaranya tak berubah tetap datar, "*not really*. Mungkin karena ngobrol sama lo bikin ngantuk."
"Huh! Resek kan! Yaudah gue tinggal tidur. Bhay!" Terdengar suara khas Leya yang sedang merajuk. Glenn hanya menahan tawanya.
Telpon dimatikan, tapi Glenn tetap tak tidur. Ia mengambil buku dongeng yang tadi diletakkan Leya di atas nakasnya. *Apa yang gue lupakan?*
Ia membuka perlahan buku dongengnya sambil mengusap lembarannya, berharap kenangan itu bisa mengalir dengan sendirinya. Kemudian, ia mendengar suara anak perempuan tertawa sambil membaca dongeng *little red riding hood*.
"*Bagaimana kalau ternyata serigala itu adalah seorang lycan? Manusia serigala? Aku pernah membaca buku tentang manusia serigala. Aku berharap agar ia jatuh cinta pada gadis berjubah merah itu. Saat menjadi serigala ia memakan gadis yang ia cintai. Kemudian, ketika sadar, ia akan patah hati seumur hidup. Aku akan membuat dongeng seprti itu! Itu lebih adil bukan? Kau setuju?*"
*Siapa itu?* Glenn tak bisa melihat wajahnya, ia hanya bisa mendengar suara anak perempuan itu. *Sial. Itu siapa? Friska?*
*"Dia sedikit berbeda dari anak kebanyakan. Tapi, kita harus menutupinya dari orang tua asuhnya nanti. Dia tidak seharusnya membaca buku seperti itu. Dimana dia mendapatkannya? Tidak ada di perpustakaan kita."*
Itu suara wanita dewasa, Glenn yakin itu adalah suara Bunda Risa. Glenn memeluk buku dongeng itu, mencoba merbahkan tubuhnya dan menutup matanya lebih dalam agar ia bisa mendengar suara-suara kenangan itu lebih jauh. Ia membutuhkannya sekarang. Ia merasa bahwa ia memang harus mengingatnya.
"*Kau lihat burung ini? Sayapnya patah. Tapi ia juga sekarat. Aku akan membunuhnya agar ia tak perlu merasa sakit lebih dalam. Cukup adil bukan?*"
*Suara itu... Friska?* Glenn juga ingin mendengar suara Adrian, tapi ia hanya terus mendengarkan suara anak perempuan.
"*Tidak. Adrian tidak berbicara. Aku yang akan berbicara untuknya." Terlihat seorang gadis kecil cantik bergaun biru tersenyum. Di sampingnya berdiri seorang lelaki kecil tampan yang sedang menunduk. Ia tak bicara.
"Kenalkan, aku Friska. Dia Adrian. Kami baru dipindahin dari panti asuhan 'kasih Ibu'."
Glebb kecil bersalaman dengan mereka, tapi tak tersenyum, "aku Glenn."
"Mulai hari ini kamu akan sekamar dengan Adrian. Bisa tolong jaga dia? Dia memang tidak suka berbicara, tapi aku akan mengajarkanmu bahasa isyarat agar bisa berbicara dengannya," Friska mendorong tubuh Adrian agar Adrian bisa berhadapan dengan Glenn dan bersalaman dengannya.
Adrian tersenyum sedikit, terlihat malu-malu, namun ia berusaha menjabat tangan Glenn. Glenn menerima jabatan tangan itu.
"Semoga kalian bisa berteman baik!" Friska tersenyum riang.*
Malam itu pukul 8.
Glenn kecil sedang menggambar bersama Friska dan Adrian ketika pintu kamar diketuk oleh Bunda. "Selamat malam anak-anak. Ada yang ingin bertemu kalian nih."
Mereka bertiga menengadah, Adrian dan Friska tersenyum, namun Glenn tidak. Umur Glenn saat itu 5 tahun, sementara Friska dan Adrian 7 tahun. Glenn kelas 1 SD, Friska dan Adrian kelas 3 SD. Mereka memang 3 anak luar biasa. Seperti kelompok teman kecil dengan kelebihan kecerdasan yang luar biasa, kecuali Friska yang biasa-biasa saja walaupun masih cukup pintar untuk anak seusianya. Adrian dan Glenn justru sangat jenius.
__ADS_1
Kejeniusan mereka dirahasiakan oleh Bunda. Bunda tak ingin masa kecil mereka direnggut. Itulah sebabnya mereka masih bisa bertindak seperti anak biasa. Bunda berkata bahwa mereka harus menyembunyikan kecerdasan itu.
Melihat dua orang pria dan wanita paruh baya itu, Glenn punya firasat tak enak. Mereka bisa saja dipisahkan, dan Glenn tidak suka. Glenn cukup sebal melihat Adrian dan Friska yang bertingkah manis. Sementara Glenn hanya memberengut.
"Hai anak-anak!" Wanita itu sungguh cantik dengan lesung pipi manis di wajah. Ia berwajah cerah seperti malaikat. Sementara, lelaki di sampingnya yang Glenn tahu dan sangat bisa menebak bahwa itu adalah suaminya, juga memiliki paras menakjubkan. Tapi, tetap saja Glenn tak suka kehadiran mereka.
"Bunda, Glenn kan udah bilang, jangan pisahkan kami bertiga!" Glenn membuang wajahnya dingin, sementara wanita dan pria itu saling bertatapan dan menaikkan alis sebelah matanya.
"Glenn, kamu gak boleh ngomong begitu," kata Bunda, "maaf ya, Glenn memang seperti itu. Dia sulit berbaur dengan orang baru," tambah Bunda.
"Tidak apa-apa," wanita itu tersenyum lagi, "kami akan ke sini setiap hari untuk melihat mereka. Mereka tampak menakjubkan!" Tambahnya berbinar.
Ia duduk di antara kami, seperti mengenal kami dengan sangat baik, "kalian sedang apa?" Tanyanya.
"Kami sedang menggambar! Ini gambar Putri Ariel." Friska menunjukkan gambarnya. Glenn diam saja. Sementara, Bunda meninggalkan 2 pasangan suami istri itu di kamar ini.
"Wahh bagus sekali! Apa kalian menyukai dongeng?" Kata wanita itu. "Aku bisa menjadi pendongeng untuk kalian. Namaku Bunga. Kalian bisa memanggilku apa saja. Ibu, misalnya hehe..." Ia menoleh ke arah suaminya yang ikut tersenyum tapi belum bersuara sama sekali. Suaminya lebih terlihat suka memperhatikan. Menganalisis?
"Suka! Kami bertiga suka dongeng dan ingin menjadi penulis dongeng di masa depan!" Friska masih sangat bersemangat. Ia memang yang paling ambisius diantara Glenn dan Adrian.
"Wah itu mimpi yang bagus!" Ibu menatap ke arah Adrian yang diam saja, "Hai tampan, namamu Adrian ya?"
Adrian hanya tersenyum malu dan mengangguk.
"Adrian tidak berbicara, Ibu."
"Oh... begitu..." Ibu mengangguk, "Ayah, duduk sini sama anak-anak," katanya menepuk lantai di sampingnya.
"Kalau kalian mau mengasuh salah satu dari kami, itu tidak bisa." Glenn berbicara sedingin gunung es, berbicara to the point. Untuk anak seusianya, tidak akan berpikiran sepertinya. Ia memang berbeda. "Kalian harus mengadopsi kami bertiga. Gak boleh dipisah. Kami berjanji untuk terus sama-sama," tambahnya tanpa menatap mereka berdua. Ia sibuk menggambar.
Wanita yang ingin dipanggil Ibu itu terkesiap sesaat, begitupula dengan lelaki di sampingnya. "Wah, kamu cerdas banget ya Glenn. Terutama untuk anak seusiamu."
"Ya, hampir semua orang yang ingin mengadopsi kami berkata seperti itu," tambahnya acuh tak acuh.
"Maaf Ibu. Glenn memang seperti itu sama orang baru, tapi sebenarnya dia baik banget kok, Ibu." Friska membela Glenn.
"Iya, Ibu maklumi kok."
Sejak hari itu, wanita dan pria itu sering mengunjungi mereka. Tapi, ada sebuah kejadian tak terlupakan di panti ini. Entah apa yang terjadi, Ibu dan Ayah sering mengalami kecelakaan. Seperti misalnya, kaki Ibu pernah hampir patah akibat jatuh dari tangga, Ayah juga pernah jatuh dari tangga, telapak kaki Ibu pernah tertusuk paku, dan tangan Ayah pernah terkilir akibat jatuh dari kursi ketika memperbaiki lampu kamar 3 anak tersebut. Tapi, mereka berdua tetap datang, tanpa takut atau merasa aneh sedikitpun.
Suatu malam, mereka berdua tidak datang. Glenn, Adrian, dan Friska sedang melakukan kegiatan mereka seperti biasanya, menggambar di buku dongeng milik mereka.
"Glenn, kamu janji kan gak akan ninggalin aku dan Adrian?" Kata Friska tiba-tiba.
Glenn menaikkan sebelah alisnya bingung, "tentu saja, ada apa?"
Adrian diam. Ia hanya menundukkan kepalanya.
"Tidak. Aku dan Adrian hanya merasa bahwa kita harus menyelesaikan semua dongeng ini. Hari ini Adrian dibully lagi di sekolah. Cuma kamu dan aku yang berani bela Adrian. Kalau kamu gak ada, aku gak akan kuat. Dan hari ini kamu gak ada."
Glenn memang tidak masuk sekolah karena sakit hari ini. Tapi, malam ini tubuhnya membaik. "Iya, kita berdua tetap akan jagain Adrian."
"Tapi, apa kamu tahu?" Friska tiba-tiba berbinar, "Adrian membuatku membacakan dongeng untuk mereka, dan mereka takut. Yah, kuakui mereka tidak suka dongeng tragis."
"Dongeng mana yang kamu bacakan?" Tanya Glenn.
"Pangeran kodok. Tentang bagaimana Putri Tiana akan membuat kepala pangeran kodok dipenggal karena Putri Tiana muak dengan kehadirannya. Cinta yang cukup tragis," katanya tersenyum sumringah. "Dan kau tahu? Kita bisa mengendalikan orang hanya dengan membacakan dongeng untuk mereka. Itu keren!"
~~~
Glenn terkejut ketika mimpi terakhir yang ia ingat adalah kata-kata seorang gadis kecil mengenai dongeng pangeran kodok. Ia langsung mengambil buku catatan dan bolpoin di laci nakasnya, kemudian menuliskan mimpi itu.
Sial...
Pintunya tiba-tiba diketuk, "Glenn, kamu gak sarapan? Cepet mandi dulu baru sarapan." Itu Ayahnya. Sepertinya beliau baru pulang subuh ini.
"Iya Ayah!"
Wanita dan pria di mimpinya tak lain adalah Ayah dan Ibunya saat ini. Ia mulai cemas, apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa Glenn ingkar janji? Meninggalkan mereka berdua? Adrian sudah tak ada, mungkin hari ini sepulang sekolah, ia akan bertanya pada Bunda dimana letak makam Adrian.
Sebuah telepon masuk, ponselnya berdering. Dari nomor tak dikenal. Glenn dengan cepat langsung mengangkatnya.
"Dia satu-satunya yang mendapat bunga mawar kuning palsu. Kau tahu kenapa? Kecemburuan, perselingkuhan. Iya, palsu karena semua tentangnya adalah kepalsuan. Aku cukup baik hari ini, mood ku sedang baik."
Glenn diam sesaat, kemudian dengan ragu ia menerka, "Friska?"
Hening beberapa detik hingga terdengar tawa perempuan di ujung sana, "Tebakan yang salah, tampan. Ohiya, jangan lupa malam ini pukul 8. Aku punya kejutan untukmu. Selamat pagi! Semoga harimu menyenangkan!"
Klik. Telepon dimatikan.
Entah kenapa, ada sebuah kelegaan di hatinya. Glenn langsung beranjak berlari ke dalam kamar mandi. Ia sampai melupakan kekhawatirannya mengenai kejutan yang dikatakan penelepon asing itu.
Syukurlah.
Kita lihat saja ada kejutan apa malam ini?
Gadis berambut panjang itu menyisir rambutnya. Ia sudah rapi mengenakan seragam sekolah ketika ponselnya berdering. Sebuah notifikasi e-mail masuk. Ia tersenyum ketika melihat nama pengirimnya.
Apa malam ini kita akan makan malam di luar?
Gadis itu membalasnya. Laki-laki pengirim e-mail itu memang lebih menyukai berkomunikasi dengan e-mail.
*Apa kamu gak takut? Sepertinya malam ini akan terjadi kejadian besar lagi.*
Tanpa butuh waktu lama, pesan balasan masuk kembali.
*Tidak. Aku punya kamu.*
Pintu kamar gadis itu kemudian diketuk, "Non, saya masuk."
"Iya, Bi. Ada apa?"
"Ada kiriman kemarin, Non. Maaf saya baru ingat buat ngasih."
Gadis itu mengangguk ramah, "iya, gak papa, Bi."
Pembantunya meletakkan sebuah kotak lusuh berukuran sedang di meja riasnya, kemudian keluar dari kamar ini. Gadis itu membuka pitanya, kemudian ia melebarkan matanya sesaat setelah melihat isi kotak itu.
Sebuah boneka beruang coklat dan sekuntum mawar kuning.
__ADS_1
Gadis itu memejamkan matanya sebentar. Kemudian bergumam, "ini kenangannya."