
Leya membaca buku Kimianya tanpa benar-benar mengerti apa yang ia baca. Bukan karena Leya lemot, namun penyebabnya tak lain adalah tentu saja mengenai kasus psikopat yang berlarut-larut ini. Ia jadi tak bisa terlalu fokus belajar. Leya menopang kepalanya. Jam istirahat seperti ini biasanya ia gunakan untuk membeli makan, tapi ia sama sekali tak lapar.
"Mikirin apa sih?" tanya Rosa yang sedari tadi bingung memperhatikan Leya, "lo jadi sering ngelamun, terutama sejak kabar kematian Bu Rika."
Leya menghela napasnya, kemudian menatap Rosa lekat-lekat, "Ros, gue udah beberapa kali liat orang meninggal di depan mata gue. Tapi, keadaan Bu Rika yang paling parah. Rasanya gue sampai insomnia, gak tahan. Keingetan mulu."
"Lo lihat kematian Bu Rika? Kok bisa?"
Plak. Leya menepuk kepalanya sendiri. Bodoh, kenapa jadi cerita ke Rosa? Gawat...
"Eh? Anu..."
Rosa menyipitkan mata, menatap Leya dengan tatapan menyelidik. "Kenapa sih lo banyak nyembunyiin rahasia ke gue? Lo juga jadi sering banget bolos. Bolosnya juga barengan Glenn. Kalian ada apasih? Apa kalian..."
Leya menggigit bibir bawahnya. Apa yang harus dia katakan pada Rosa? Ia memang selalu kabur bila Rosa sudah membahas ini. Ya Tuhan... Leya tak bisa memikirkan alasan apapun saat ini, rasanya benar-benar ingin langsung menghilang dari permukaan bumi. Leya melirik ke arah kursi Glenn. Kosong. Laki-laki itu memang langsung menghilang saat bel istirahat baru berbunyi.
"Kalian pacaran?"
"Eh?" Leya bingung, tapi entah kenapa tawanya langsung meledak. Leya sempat lupa bahwa Rosa itu lemot, pikirannya tak bisa lebih jauh dari sekedar 'pacaran' dan gosip-gosip lainnya yang tidak logis. "Gosip dari mana lagi tuh? Hahaha..."
"Enggak sih. Gue curiga gelagat kalian aja. Ngaku gak?"
"Enggaaaa."
"Terus kalian kok bolos bareng mulu?"
"Enggak kok. Gue bolos sendiri. Dia sendiri, gak barengan. Lo tenang aja, siapa pun pacar pertama gue, pasti gue ceritain ke lo. Lo bakal jadi orang pertama yang gue kasih tau." Leya senyum manis sambil memegangi tangan Rosa, mencoba meyakinkan Rosa.
Tiba-tiba ponsel Leya bergetar. Ada sebuah pesan singkat yang masuk. Dari Glenn. Tadi, Leya memang menanyakan keberadaan laki-laki itu dan baru sekarang dibalas.
Gleen : di ruang musik.
Leya berdiri dari tempatnya duduk, "Ros, gue ke toilet dulu ya."
"Ikuttt. Gue gak mau sendirian ah, lo udah sering ninggalin gue sendiri." Rosa menahan Leya dengan memegangi tangan Leya, seakan tak ingin Leya pergi.
"Eh? Ja-jangan Ros... janji, bentar ajaaa. Lo tunggu di sini ya." Leya langsung melepaskan tangan Rosa, sedikit kasar dan langsung berlari cepat keluar kelas meninggalkan Rosa begitu saja.
Maaf, gue ninggalin lo terus. Janji, setelah ini semua selesai, gue gak bakal ninggalin lo lagi, Ros, batin Leya.
Sebuah denting piano indah terdengar hingga keluar ruangan. Dari nada yang mengalun lambat, lama kelamaan cepat. Chopin waltz? *Iya, ini Chopin Waltz No. 7 in C sharp minor Opus 64 No. 2.* Kebetulan, Leya menyukai musik klasik. Jadi, setidaknya ia tahu sedikit mengenai musik klasik. Siapa yang main? Setiap tuts yang ditekan tak terdengar cacat sama sekali, terdengar sempurna tanpa ada kesalahan. *Apa itu Glenn?*
Leya membuka perlahan pintu ruang musik. Terlihat seorang laki-laki yang perawakannya sangat familiar di mata Leya walaupun laki-laki itu sedang duduk di depan piano, membelakangi Leya. Di sampingnya, terlihat seorang gadis yang duduk. Rambut panjang gadis itu tergerai indah. Ia tampak memerhatikan laki-laki itu bermain piano. Laki-laki itu memainkan piano dengan kedua tangannya secara cepat, terlihat bahwa laki-laki itu memang bisa bermain piano, bahkan terbilang jago.
Leya terhipnotis beberapa saat akibat nada-nada indah yang masuk ke telinganya. Leya perlahan melangkah menuju laki-laki dan perempuan itu. Namun, langkah kakinya terhenti ketika melihat sang perempuan akhirnya bermain piano, ikut mengiringi sang laki-laki. Mereka bermain piano bersama dalam satu piano. Keduanya tampak menikmati alunan merdu musik piano itu. Lagu berganti dari Chopin Waltz yang sedikit mendayu-dayu namun beremosi menjadi on shells rain-four hands duet yang sangat menyenangkan. Mereka saling bertatapan dan tersenyum bersama. Perubahan yang sangat drastis.
Jari-jari mereka menari dengan lincah bersama-sama hingga lagu benar-benar selesai. Satu yang ada dipikiran Leya saat ini, bagaimana bisa Glenn terlihat begitu akrab dengan gadis itu--Belvina, sementara mereka sama sekali tak saling mengenal. Setahu Leya, Glenn bukanlah tipe laki-laki yang sangat mudah akrab dengan orang lain.
Leya melangkah keluar, tak ingin mengganggu. Saat ia berada di luar ruang musik, tiba-tiba sebuah pesan masuk, dari nomor tak dikenal. Leya mengecek ponselnya.
Pesan itu berbunyi seperti ini.
Putri Ariel, menyimpan sebilah pisau dibalik rambut panjangnya yang tebal. Jika ada orang yang mencurigai keberadaannya sebagai Putri Duyung, maka Ariel harus membunuh orang itu. Dia harus melakukan hal ini untuk melindungi jati dirinya, serta keselamatan kerajaan Neptunus dan spesies Mermaid di laut agar tidak menjadi buruan manusia.
\-Grimm
Leya mengerutkan keningnya. Ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Di saat itu pula, Leya mendapati seseorang berjaket hitam yang bersembunyi di balik pilar besar. Orang itu langsung berlari, ketika tahu bahwa Leya menemukan dirinya. Leya ikut berlari menyusul orang itu, melewati pintu ruang musik, bersamaan dengan keluarnya Glenn dari ruangan musik bersama Belvina. Melihat Leya berlari, Glenn menyusulnya, meninggalkan Belvina yang bingung melihat mereka.
Leya kehilangan orang itu saat berada di belokan lorong gedung ini. Ketika baru saja Leya hendak melangkah ke belokan lorong, seseorang langsung menarik tangannya dan menutup mulutnya. Leya membelalak, ia memberontak. Siapa ini? Apa ini... Grimm? Leya mulai gemetaran, tak bisa melihat wajah orang yang menutup mulutnya dari belakang. Gerakan Leya juga terbatas karena tubuhnya didekap kuat dari belakang. Jantung Leya bergerak cepat, keringat dingin mengucur. Leya mulai ketakutan.
"Sstttt..." ujar seseorang dibelakangnya, "jangan ribut," bisiknya. Suara itu terdengar familiar. Glenn?
Leya menengadahkan kepalanya dan mendapati wajah Glenn yang tengah menunduk menatap Leya. Glenn melonggarkan dekapannya dan melepaskan tangannya dari mulut Leya.
"Anjir Glenn!! Gue kira siapa!! Ngapain sih pake acara tutupin mulut gue segala."
"Sstttt... lo berisik soalnya, jangan langsung ke sana."
Leya menghela napasnya lega. Jantungnya perlahan bergerak melambat, tak secepat tadi.
"Ada apaan sih? Kita kan harusnya ngejar dia!" Bisik Leya.
__ADS_1
Glenn menunjuk ke arah lorong itu, "Jangan gegabah." Mereka berdua mengintip. Terlihat seorang gadis berikat satu berdiri menghadap seorang laki-laki berjaket hitam yang memegangi ponselnya.
"Bu Rika udah mati. Kira-kira, siapa lagi selanjutnya?" Tanya gadis berikat satu yang mengenakan seragam ketat itu.
Laki-laki itu membuka tudung jaketnya, dari samping Leya bisa menebak siapa laki-laki itu hanya dengan melihat perawakannya saja.
"Raya, Ansel, dan setelah itu Bu Rika. Selanjutnya, Belvina?" Tanya laki-laki itu menimbang-nimbang, ia memasukkan ponselnya ke saku celana abu-abunya.
"Belvi?" Gadis itu melipat tangannya di depan dada. "Gue pikir selanjutnya bukan Belvi, tapi..."
Tiba-tiba ponsel Glenn berbunyi, panggilan masuk. Sial! Glenn mengutuk ponselnya yang berbunyi nyaring itu. Laki-laki dan perempuan tadi menoleh bersamaan ke arah Glenn dan Leya. Mereka terkejut. Glenn langsung mematikan ponselnya dan menghampiri mereka.
"Ka-kalian ngapain di sini?" tanya perempuan itu--Geby--gelagapan.
Wajah Geby dan Alfi persis seperti maling yang ketahuan mencuri.
"Ngaku kalau lo yang bunuh Raya, Ansel, dan Bu Rika!" titah Leya.
"Atas dasar apa lo nuduh kami?" tanya Geby dengan wajah menyebalkan, "jangan asal nuduh kalau gak punya bukti!"
Glenn tanpa banyak bicara, memutar rekaman suara Geby dan Alfi tadi. Memutar ulang apa yang mereka bicarakan.
"Itu belum cukup buat jadi bukti! Dan lagi, gue sama Alfi gak bunuh mereka semua. Justru kami curiga sama lo berdua!!" Geby menyipitkan matanya, meneliti sosok Leya dan Glenn. "Kenapa selalu kalian berdua yang ngeliat mayat mereka semua pertama kali? Lo berdua jauh lebih mencurigakan!" Ujarnya.
"Kami bakal nyari bukti yang nujukin kalau kalian pembunuhnya!" Tambah Alfi.
Leya malah tertawa terbahak-bahak, "Dasar bego hahaha. Kalian mau mencoba memutarbalikkan fakta? Ya gak bisa lah! Udah jelas kok rekaman itu bisa jadi buk-"
"Kenapa belum cukup?" tanya Leya polos.
"Karena, mereka gak ngaku kalau mereka pembunuhnya di rekaman itu. Mereka cuma kayak nanya siapa korban selanjutnya. Bukan berarti kalau mereka pembunuh yang nyari korban selanjutnya. Kalau lo dengar dengan seksama, mereka lebih kayak menerka-nerka. Sementara, kalau mereka memang pembunuhnya, akan lebih mantap menjawabnya. Ingat Ya', kita gak boleh gegabah. Menyimpulkan seseorang itu pembunuh gak sesimpel itu. Butuh banyak bukti."
"Oh..." Leya mengangguk-angguk saja.
Mereka berdua melangkah menuju keluar gedung berdampingan. Sama-sama berbicara tanpa melihat satu sama lain.
"Lo udah makan?" tanya Glenn.
"Belum. Tapi males makan," jawab Leya.
"Yaudah, temanin gue makan aja kalau lo males makan. Gak bisa mikir kalau laper," kata Glenn, masih tanpa melihat Leya.
Leya melirik jam tangannya. Masih ada sisa waktu 10 menit untuk makan. Pasti masih sempat menemani Glenn. Tapi, kenapa Glenn minta ditemani? Biasanya ia makan seorang diri?
"Tumben minta ditemani."
"Biar lo pengen makan juga kalau ngeliat gue makan."
"Hah supaya apa?"
"Supaya otak lo lancar mikirnya habis makan." Kata Glenn menoyol kepala Leya.
"Kenapa gak ajak makan Kak Belvina aja?" Tanya Leya polos. Sebenarnya, ia juga tak tahu kenapa menanyakan hal bodoh seperti ini.
Glenn menghentikan langkah kakinya, kali ini ia mengalihkan pandangannya menuju Leya. Leya tentu saja ikut menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya, berdiri menghadap Glenn. "Apa?" Tanya Leya yang bingung karena Glenn tak mengatakan apapun selain memandanginya saja.
Glenn meletakkan punggung tangannya tiba-tiba di kening Leya, "Gak sakit kok," katanya.
"Apasih?" Kata Leya memutar matanya jengah.
"Leya... Leya..." kata Glenn berdecak sambil menggelengkan kepalanya, "gue pikir lo cewek anti baper. Kalau dalam pekerjaan harus profesional, Ya'. Apalagi kalau mau wawancarain orang, harus pdkt dulu. Kayak pacaran. Walaupun gue gak pernah pacaran sih," jelas Glenn panjang lebar.
"Sebelumnya gak pernah tuh ada metode pendekatan sebelum wawancara begini."
"Duh gue laper. Di kantin aja ngobrolnya." Glenn menarik lengan Leya secara paksa.
Leya hanya menghela napasnya panjang.
Benar saja dugaan Glenn, akhirnya Leya terikut lapar ketika melihat Glemn makan dan gadis itu pun ikut memesan makanan.
"Bukannya dulu lo bilang kalau di sekolah kita jangan terlalu dekat? Eh, malah ngajak makan bareng." Leya tak pernah mengerti apa yang ada di pikiran Glenn. Laki-laki itu terlalu sulit dibaca.
__ADS_1
"Udah ketahuan Grimm juga," katanya enteng.
Leya membesarkan bola matanya. Ini Glenn pasti gila.
"Lo gila? Ta-tapi..."
"Tinggal gimana caranya aja biar Grimm gak bisa nyentuh lo," potongnya.
Leya bungkam, ia langsung menyuap nasi campurnya saja beberapa kali, bingung ingin berkata apa.
"Lo gak pernah pdkt-in Kak Geby sama Kak Alfi sebelum wawancara kayak lo deketin Kak Belvi." Leya kembali membahas masalah tadi, rasanya tidak puas mendengarkan penjelasan Glenn yang sedikit tidak masuk akal. Tapi, kenapa Leya butuh penjelasan? Bukankah seharusnya hal ini tidak perlu ditanyakan? Toh, untuk kepentingan penyelidikan juga.
"Karena Kak Belvi itu mungkin aja tahu sesuatu tentang kejadian ini atau bahkan saksi mata. Ah, bukan mungkin. Dari pendekatan gue dengan Kak Belvi hari ini, dia dengan mudah cerita kalau dia alumni SMP Juara dan... mantannya Kak Raya. Mengejutkan bukan? Ngobrol santai lebih gampang ngebongkarnya dibandingkan wawancara dibawah tekanan. Gue belajar dari lo," jelasnya.
"Hah serius?"
"Iya. Gue udah bilang Pak Rasyid buat terus awasin Kak Belvi. Mungkin aja nyawanya juga bisa terancam."
Karena penasaran, Leya mengecek ponselnya, men*scroll* foto buku tahunan kelas Raya dan Ansel. Dan ternyata, ada foto Belvina di sana. Satu yang pasti, Belvina, Geby, Raya, dan Ansel terhubung. Ini juga mempersempit kemungkinan list orang-orang yang bisa dijadikan tersangka. Dan entah Belvina atau Geby yang akan dijadikan saksi mata ataupun tersangka. Mungkin, di antara mereka pula ada yang akan menjadi tersangkanya. Dugaan terkuat sementara bagi Leya adalah Geby. Selain karena saat kematian Raya, Geby membolos, perkataan Geby tadi juga patut dicurigai. Namun, seperti yang dikatakan Glenn, mereka butuh bukti lebih banyak lagi.
"Iya... bener nih ada Kak Belvi..." kata Leya, "lo gak coba ngorek lebih dalam lagi mengenai hubungan Kak Raya, Kak Ansel, Kak Geby, dan Adela ke Kak Belvina?"
"Belum saatnya, Ya'. Terlalu cepat kalau gue langsung menanyakan hal itu. Kak Belvina pasti curiga."
"Iya juga..."
Mereka kembali bungkam. Sibuk dengan makanan masing-masing. Akhirnya, Leya mencoba membuka topik pembicaraan lagi, "Gue gak tahu kalau lo bisa main piano."
"Udah tahu kan jadinya?"
"Hmm." Leya hanya bergumam saja. "Belajar dari siapa?"
"Dari temen gue dulu di panti. Siapa, ya? Lupa..."
"Ajarin bisa kali hehe," kata Leya sambil nyengir lebar.
"Males ah."
"Ih resek," Leya mengerucutkan bibirnya, "oh iyaaaa gue hampir lupa Glenn! Lo dapet sms baru dari Grimm?"
"Enggak. Lo dapet?"
Leya mengangguk dan langsung memberikan ponselnya pada Glenn. Glenn langsung membaca isi pesan itu. Terlihat, Glenn mengernyitkan keningnya, menandakan bahwa laki-laki itu sedang berpikir.
"Maksudnya apa, ya? Ini petunjuk yang mengarah langsung ke Grimm atau ke orang lain? Penjahat lain? Gue gak ngerti. Mungkin ada seseorang yang lagi menutupi kebenaran dan akan ngebunuh siapa aja yang mencurigai jati dirinya. Persis kayak cerita Ariel versi Grimm brothers. Sepertinya petunjuk ini bukan mengarah ke korban selanjutnya. Terkesan mengarah pada another murderer. Atau... calon pembunuh? Tapi, kenapa Grimm ngasih tahu hal begini?"
"Dia gak mau ada yang mengganggu rencana dia. Calon pembunuh lain, berarti akan ada pengganggu yang merusak rencana dia ngebunuh list korbannya. Pemikiran Grimm itu matang. Satu aja sasaran dia diambil orang lain, maka dongeng yang dia susun bisa berubah jalan ceritanya. Dan dia gak suka. Ini berdasarkan pengalaman gue dulu. Persis sama kasus dulu," jelas Glenn.
"Jadi, maksudnya si Grimm pengen kita nangkap orang ini? Kenapa gak dia langsung bunuh aja sekalian?"
"Tuh kan lemot, makanan lo belum habis sih. Cepet habisin bentar lagi mau masukan. Kita bahas pulangan aja."
__ADS_1
Leya melirik jam tangannya, gila! 2 menit lagi bel akan berbunyi dan setelah ini ada pelajaran Matematika! Bisa habis Leya kalau sampai telat. Akhirnya, Leya mempercepat makannya. Bahkan hanya 2 kali kunyah saja, makanan itu langsung ditelan. Semoga, Leya tak mati memalukan akibat tersedak. Tapi, lebih mending dibandingkan mati di tangan Grimm.