Once Upon a Time

Once Upon a Time
Selene


__ADS_3

Bel istirahat berbunyi, membangunkan Leya dari tidur nyenyaknya. Ia meregangkan tubuhnya, selalu seperti ini ketika jam pelajaran Sejarah dimulai. Leya akan selalu tertidur.


"Ya', lo hari ini ke panti asuhan lagi?" Rosa terlihat merapikan buku-bukunya yang berserakan di atas meja. Sepertinya hanya Rosa yang mampu menahan godaan untuk tidur di jam pelajaran Sejarah, terutama posisi duduk mereka adalah posisi paling strategis untuk tidur, yaitu barisan paling belakang.


"Ntahlah, liat ntar. Gue ada urusan soalnya." Leya menopang kepalanya menatap Rosa yang sedari tadi berbicara tanpa menoleh ke arahnya.


"Apa sih yang lo kerjain sama Glenn?" Tanya Rosa lagi, masih tanpa menatap Leya. Ia sekarang sibuk bermain ponsel.


"Ehm... apa ya... gue belum bisa kasih tahu. Intinya gue dan dia gak ada apa-apa. Gak pacaran kok." Terdengar nada lesu di sana, tiba-tiba Leya teringat sesuatu yang membuat wajahnya merah. Sejak pagi, ia memang belum berbicara dengan Glenn. Seperti... canggung? Terutama saat paginya, Leya baru menyadari kalau semalam keningnya dicium Glenn. Ia bahkan malam itu sempat lupa dan bersikap seperti biasa saja. Namun, pagi ini ia teringat hal itu kembali.


"Ehm... Eh Ros... gue mau cerita." Leya mulai mengatur napasnya, sebelum Rosa menjawab 'iya' atau 'tidak', Leya sudah lebih dulu menceritakannya, "tadi malam kening gue dicium, Glenn," bisik Leya sangat pelan.


Rosa menghentikan kegiatannya, fokusnya kini teralih ke Leya, "itu napas apa ngomong?"


Leya memutar bola matanya, kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Rosa. Leya mengucapkan hal itu sekali lagi. Dan... tentu saja respon Rosa seperti yang sudah Leya duga sebelumnya, "APA?!"


"Eh... sssttttt..." Leya langsung menutupi mulut Rosa. Semua teman-teman di kelas memandang aneh ke arah mereka, kecuali Glenn yang terlihat sibuk membaca dengan headset di telinga. Leya dan Rosa menatap sekelilingnya sambil hanya nyengir lebar.


"Eh gilak!!! Serius lo?!" Rosa berbisik, namun nadanya jelas ditekan. Ia melirik ke arah Glenn, "kok bisa?!"


Leya mengedikkan bahunya, nyengir lagi, "ehm... terjadi gitu aja."


"Ayah lo?"


"Tidur di kamar. Untung kamarnya jauh di ujung hehehe."


"Wohhh kesempatan dalam kesempitan lo dasar ngambil peluang." Rosa menoyor kepala Leya, "gue udah menduga sih kalau kalian berdua itu ada sesuatu. Yah, walaupun belum pacaran, tapi soon lah gue doain hahahaha. Eh tapi... selama lo deket sama Glenn, gak ada yang aneh ya? Dia kan rada serem gitu orangnya. Ehm walaupun kemarin dia masih bisa senyumin gue sih. Lo inget kan kalau dia pernah masuk rumah sakit jiwa?"


"Itu kesalahan teknis."


"Hah? Maksud lo?" Rosa mengerutkan keningnya, kali ini ia serius menatap Leya, bahkan tanpa berkedip.


"Yah pokoknya ada lah. Intinya dia gak bener-bener sakit jiwa. Kalau dia sakit jiwa, sekarang dia gak duduk di situ." Leya memutar matanya jengah, sebenarnya ia malas membahas hal seperti ini.


Rosa mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian ia terpikir sesuatu, "tapi lo inget gak sih pertama kali dia masuk sekolah ini? Dia dingin banget. Dan sekarang, dia ya gak terlalu dingin gitu. Maksud gue, dia sedikit... beda kalau lo perhatiin lagi."


Leya dan Rosa kali ini saling melemparkan pandangan pada laki-laki berhidung runcing yang tengah fokus membaca itu. Sebenarnya, iya. Ada yang berbeda. Leya pikir, Glenn se-introvert itu, benar-benar dingin. Tapi, setelah mengenalnya, Glenn tidak terlalu dingin. Ia justru lebih hangat pada Leya, banyak bicara, dan tersenyum.


"Mungkin karena waktu itu dia masih belum kenal siapa-siapa. Ya wajar kali. Kalau udah kenal kan pasti ya gak sedingin itu ke orang terdekatnya."


"Tapi, temen dia cuma lo. Dia gak mau temenan sama anak cowok lain. Dia sedikit... beda? Gak kayak cowok lain pokoknya. Kira-kira dia pernah nonton porno gak ya?"


Leya melotot, langsung menjitak kepala Rosa, "lo apaan sih?! Ya emang dia harus bilang-bilang kalau pernah nonton porno?"


"Duhh..." Rosa memusut kepalanya, "ya... siapa tahu kan dia... ehm..."


"Dia. Normal." Leya menatap Rosa jengah sambil menekan setiap katanya, "Lagian ya dia tuh dulu difitnah gitu makanya dimasukin ke rumah sakit jiwa."


"Kalau gue denger sih ya, pembunuhnya emang dia. Tapi, dia bilang bukan dia, ada orang lain. Dan polisi percaya orang lain yang dia bilang itu... cuma ada di imajinasi dia." Rosa memberi isyarat 'tidak waras' dengan jari telunjuknya yang berputar di samping pelipis.


Leya mengerutkan keningnya, "dia gak gila. Coba sekali-kali lo jangan gampang percaya sama gosip gituan kenapa sih?!" Leya terlihat sebal, ia membuang muka.


"Eh? Sorry Ya'... gue gak maksud."


"Jadi maksud lo yang tadi malam nyium kening gue itu orang gila? Gue gak pantes gitu dicium sama orang waras?" Leya masih membuang muka, malas menatap Rosa. Ia pura-pura membolak-balik bukunya.


"Bu-bukan gitu, Ya'. Gue cuma khawatir sama lo." Rosa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "yah mungkin... gosip yang itu salah kali ya."


"Siapa sih yang suka ngasih tau lo info begituan? Rese banget dah." Leya kembali menatap Rosa.


"Kak Rena... yah... namanya juga dia admin lambe turah mau gimana. Hmm gue juga gak percaya sih buat gosip yang satu itu." Rosa hanya cengar-cengir tak berdosa saja.


"Rena yang mana sih orangnya? Gue kok gak tahu?"


"Ada. Orangnya gak mencolok emang di sekolah. Tapi lambe turah parah hahaha dia yang--"


"Ya', bisa ikut gue bentar? Gue mau ngomong." Leya dan Rosa menoleh ke arah yang sama. Itu Glenn dengan wajah datarnya. Leya salting seketika sambil berpikiran yang tidak-tidak.


Duh mau ngomong apaan nih orang...


Leya hanya mengangguk kemudian membuntuti Glenn dari belakang. Mereka berdiri di depan kelas sambil berhadapan. Leya menggigit bibir bawahnya, gugup, kemudian malah ia yang berbicara duluan, "Glenn, gue gak berpikiran yang aneh-aneh kok semalem, iya gue tahu lo begitu karena kesel sama gue makanya lo nyium kening gue. Jadi, lo gak perlu ngerasa canggung sama gue hehe gue gak nganggap serius juga kok," kata Leya dengan cepat dan dalam satu tarikan napas. Dia sendiri tak sadar telah berbicara seperti itu, lagipula ucapannya barusan seakan-akan menegaskan pada dirinya sendiri agar tidak 'baper'.


Glenn diam beberapa detik, kemudian... ia tertawa terbahak-bahak tanpa bisa ditahan. Orang sedatar Glenn bisa tertawa sepuas itu hanya karena ucapan Leya. Leya seharusnya bersyukur karena ini adalah sebuah pencapaian dan kemajuan yang baik.


"Apaan sih kok malah ketawa?" Kata Leya mengerutkan keningnya.


Glenn menghapus air mata di ujung matanya. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Tawanya mulai mereda, "lo tuh lucu," katanya tak terduga. Hanya itu.


"Gue gak lagi becanda Glenn! Gue serius. Habisnya dari pagi, gue ngerasa kita canggung banget." Leya melipat kedua tangannya di depan dada.


"Hahaha iya-iya. Lo kira gue mau ngomong itu?"


"Emangnya bu-bukan?"


"Bukan."


Leya melebarkan matanya. Pipinya bersemu merah. Ia tambah salah tingkah, malu. Kenapa bodoh sekali ia berpikiran bahwa Glenn mengajaknya membicarakan hal itu. "Jadi mau ngomong apaan?" Kata Leya masih dalam keadaan malu.


"Bukan ngomong sih. Tapi sebebernya mau ngajak lo ke atap sekolah, tempat si Wati loncat." Glenn masih menahan senyumnya melihat ekspresi lucu Leya.


Anjir sialan kepedean banget dah gue, pikir Leya.


"Ehm yaudah deh. Ayo sekarang aja. Istirahat masih lama kok."


"Lo gak mau makan dulu?"


"Enggak laper." Leya melangkah cepat mendahului Glenn. Rasanya mau mengubur wajahnya saat ini juga. Malu sekali. Ia memukul keningnya beberapa kali sambil bergumam, "bego lo Leya... bego."


Glenn menyusul di samping Leya tanpa butuh waktu lama karena langkah kakinya yang panjang. Ia tiba-tiba menepuk puncak kepala Leya, "Gue begitu tadi malam bukan karna kesel sama lo kok." Glenn tersenyum singkat kemudian melangkah mendahului Leya.


Leya terdiam sesaat, "nih orang ngomongnya tersirat banget bikin salah paham mulu. Huft."


 ~~~


Mereka sudah berada di atap sekolah. Setelah melihat lorong, memang daerah ini tidak terjangkau CCTV. Jadi bila ingin ke tangga atap, lewat belakang sekolah pun tidak akan ada yang mengetahuinya.


Police line masih tergantung di depan tangga, tapi tak masalah bila mereka melewatinya. Masih ada pula beberapa bawahan Pak Rasyid yang berjaga dan mereka mengenal Glenn. Jadi ini bukan masalah besar.


Glenn memberikan sarung tangan ke Leya dan mereka menggunakan sarung tangannya bersamaan. Sambil menyisir daerah ini, Leya berbicara, "kalau misalnya Wati dilempar dari sini, berarti kemungkinan, Wati sempat dibunuh di pinggir atap."


"Dan mungkin dalam keadaan terikat. Karena gue yakin si Wati bakal berontak. Gak segampang itu bunuh orang," lanjut Glenn.


Kebetulan hanya ada satu kursi di sana, namun diletakkan jauh dari pinggir atap, "di kursi ini gak ada sidik jari pelaku ya?"


"Gue pikir agak sulit nyari sidik jari di kursi ini. Pasti banyak banget sidik jari orang lain. Dan kursi ini kelihatan baru, jadi sepertinya bukan kursi yang emang sengaja ditaruh di sini. Kalaupun kursi rusak, pasti ditaruh di gudang. Dan sidik jari pelaku gak ditemuin di pisau, artinya dia kemungkinan pakai sarung tangan. Jadi agak percuma kalau lo mau nyari sidik jari pelaku dimanapun," jelas Glenn.


Leya mengangguk, "iya juga ya. Tapi ribet gak sih bawa kursi ini sampai ke sini? Berarti emang direncanain."


Glenn mengangguk setuju.


"Pasti ada sesuatu di sini, gue yakin. Pelaku bukan Grimm, dia pasti melakukan sebuah kesalahan." Glenn berdiri memperhatikan sekelilingnya sambil berfikir. Sementara Leya, berusaha meneliti bagian pinggir atap yang masih menyisakan sedikit bercak darah di lantai.


"Tapi kalau ada sesuatu di sini, pasti polisi udah nemuin duluan dan ngasih ke kita. Mereka seteliti itu." Leya menghela nafasnya.


"Gimana kalau ada seseorang yang balik ke sini ngambil barang bukti waktu kita pada heboh di bawah?" Glenn menaikkan sebelah matanya. "Agak gak mungkin kalau tempat ini sebersih itu."


Tiba-tiba ponsel Glenn dan Leya berdering bersamaan. Sebuah pesan masuk. Mereka bergegas membuka pesan itu.


*Aku tidak suka pengganggu. Kuambil miliknya agar aku bisa melihat kalian berpikir dahulu, bermain dengan kalian. Sekarang aku sudah bosan menyimpannya, jadi kuberikan saja pada kalian. Kuletakkan di tempat di mana aku bisa melihat pengganggu itu membunuh orang lain.


-Grimm*


Glenn langsung kembali menatap sekelilingnya, matanya berhenti bergerak tepat di gedung samping--tepatnya gedung ekstrakurikuler yang memiliki lantai lebih tinggi dibanding atap ini. Tepat di sana, terdapat kaca besar yang mengarah ke atap ini. Gleen menoleh ke arah Leya, "kelas lukis."


Leya mengangguk.


 


Kelas lukis terlihat sepi, tidak terkunci. Sepertinya Pak Wahid baru saja dari tempat ini dan mungkin akan kembali lagi, mengingat ini waktunya beristirahat. Mereka berdua masuk dan langsung menuju jendela yang mengarah tepat ke atap gedung dimana Wati dibunuh.



Di dekat jendela terdapat sebuah meja panjang yang menempel di dinding tempat meletakkan jejeran lukisan. Perlahan-lahan mereka memeriksa jejeran lukisan itu dan Leya menemukan sesuatu, "Glenn, lihat deh." Sebuah *memory card* ponsel dan saputangan dengan bercak darah yang mengering diletakkan di dalam plastik obat transparan.



Glenn yang masih mengenakan sarung tangan itu mengambilnya, kemudian memasukkan *memory card* itu ke dalam ponselnya. Ia mengecek galeri. Dan isinya adalah... foto-foto yang diambil dari tempat ini.



"Belvina..." katanya menoleh ke Leya. Itu adalah Belvina yang berdiri di hadapan Wati. Glenn langsung mengecek rincian foto, pukul berapa foto itu diambil. Pukul 10.00, saat istirahat. Pukul 10.20 adalah waktu kematian Wati.

__ADS_1



"Kalian sedang apa? Sebentar lagi bel akan berbunyi."



Mereka menoleh ke sumber suara. Ada Pak Wahid di sana melangkah menuju ke mejanya. Glenn langsung melangkah menuju Pak Wahid, "maaf Pak boleh saya bertanya?"



"Iya silakan."



"Selasa kemarin pukul 10, saat istirahat, apa ada siswa yang berada di sini, Pak?" Tanya Glenn.



Pak Wahid berpikir sebentar, "ada, perempuan. Dia langsung pergi ke sini. Izin ingin melukis, tapi dia berdiri di jendela itu. Saat itu saya sudah berada di depan pintu, ingin pergi untuk beristirahat. Jadi tidak terlalu peduli."



"Maaf Pak. Apa bapak tahu namanya? Atau paling tidak, kelas berapa?" Kali ini Leya yang bertanya, ia tak sabaran.



"Saya tidak pernah menghapal nama siswa atau siswi. Sepertinya kelas 3, bukan wajah baru. Rambutnya hitam panjang bergelombang. Dia ramah," jelas Pak Wahid.



"Apa bisa lebih spesifik, Pak? Mungkin tingga badannya atau sesuatu yang berbeda dari orang lain," kata Leya.



"Hmm saya tidak terlalu memperhatikannya, hanya sekilas saja." Pak Wahid terlihat acuh tak acuh, ia sibuk merapikan kuas-kuas yang berserakan di mejanya.



"Baiklah, terima kasih, Pak." Glenn tersenyum kemudian pamit.



"Beruntung banget tuh orang karena gedung eskul belum dipasang CCTV." Leya memberengut kesal, "tapi setidaknya kita tahu kalau Grimm sekolah di sini juga."



"Belum tentu itu Grimm. Mungkin suruhan Grimm. Kita gak pernah tahu. Tapi, gimana kalau ternyata itu bukan keberuntungan semata?" Glenn terlihat berpikir, namun wajahnya tetap datar.



"Maksudnya?"



"Gimana kalau ternyata Grimm yang bikin Belvina bunuh orang lain. Yang tahu Belvina ngebunuh Adela itu cuma Grimm. Selain itu, gak ada yang tahu. Jadi menurut lo Wati tahu darimana kalau bukan dari Grimm sendiri?"



Leya berpikir sejenak, "hmm iya juga yah... bisa aja sih. Tapi, buat apa dia bikin Belvina bunuh Wati? Kenapa bukan Grimm aja yang bunuh Wati secara langsung?"



"Mungkin Grimm mau menghancurkan psikis Belvina lebih dulu. Tekanan dan rasa bersalah pasti akan menghantui Belvina." Glenn melangkah menuruni tangga bersama Leya, "tadi pagi gue dikirimin isi salinan laptop yang ditinggal Grimm. Isinya... video Belvina ngebunuh Ibunya dan video Adela yang ngucapin selamat ulang tahun. Gue beranggapan, video itu diputar untuk Belvina supaya dia ngerasain tekanan batin yang parah. Hanya itu isi laptopnya. Selain itu, bersih, kayak laptop baru."



Leya berhenti melangkah sebentar, "hah? Belvi bunuh Ibunya sendiri?"



"Astaga... gue belum cerita apa-apa ke lo ya? Maaf gue lupa." Glenn menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Menit berikutnya, ia menceritakan semua kejadian yang ia alami tadi malam.



"Astaga... terus, hasil autopsi udah keluar?"




"Terus wawancaranya sama anak OSIS gimana?"



"Gak perlu. Kita udah nemuin pembunuh Wati dan buktinya kan? Tinggal kasih barang bukti ini buat dicek lagi. Gue harus banget cari Friska dan gue mau ke panti asuhan Kasih Ibu."



"Gue ikut. Gue sebenernya mau cari tahu soal Dandelion, tapi gue gak tahu harus dari mana dan gue gak punya petunjuk." Leya menunduk lesu.



"Tenang aja, nanti gue minta tolong ke Pak Rasyid buat bantu nyari Dandelion. Dan lo bisa ikut gue sore ini."



"Makasih banyak Glenn. Ini sebenarnya gak ada hubungannya sama lo sih. Walaupun Grimm yang ngasih tahu kalau Dandelion masih hidup." Leya menengadah, menatap langit yang kebiruan ketika mereka sudah berada di luar gedung. "Gue banyak banget berhutang budi sama lo."



"Yaudah kalau gitu bayar," katanya santai tanpa menoleh ke arah Leya.



"Hah? Bayar? Dasar ya lo. Gue kira ikhlas pft." Leya memutar bola matanya jengah.



"Gak ada yang gratis di dunia ini." Glenn tersenyum sekilas karena berhasil membuat Leya sebal.



"Mau apa sih? Duit?" Leya berkacak pinggang, berdiri menghadap Glenn.



"Temenin gue makan." Glenn tersenyum, kali ini ia menarik tangan Leya menuju ke kantin.



 ~~~



Glenn memarkir motornya tepat di depan pagar rumah tua. Ia meletakkan helmnya di kaca spion. Begitupula dengan Leya yang duduk di belakangnya. Mereka belum mengganti baju karena langsung pergi ke alamat ini setelah pulang sekolah.



"Bener ini alamatnya?" Tanya Leya memastikan, karena rumah itu tampak meragukan. Iya, rumah itu reyot dan tak terawat. Seperti tak berpenghuni.



"Iya kok bener."



"Coba liat catatannya?"



"Gak bawa."



"Lah terus? Kok lo yakin bener?"



"Udah ada di sini." Glenn menunjuk pelipisnya.


__ADS_1


"Sok banget kannn kalau salah gimana?"



"Lo meragukan gue?"



Leya hanya menghembuskan napasnya. Glenn lebih dulu masuk dan membuka pagar rumah itu. Rumput-rumput ilalang tumbuh menguasai halaman depan rumah tua ini. Jelas, rumah ini pasti tak berpenghuni. Namun, Glenn tetap berusaha mengetuk pintu rumahnya.



Tak ada jawaban. Berkali-kali diketuk, tetap tak ada jawaban.



"Cari siapa dik?"



Glenn menoleh ke sumber suara. Terlihat nenek tua yang berdiri di belakang pagar samping rumah ini. Nenek itu pasti tinggal di samping rumah ini, bisa dibilang tetangga.



Glenn dan Leya tersenyum ramah dan menghampiri nenek tua itu. "Permisi, Nek. Maaf, penghuni rumah ini kemana ya, nek?" Tanya Leya sopan.



"Rumah ini kosong sejak 9 tahun yang lalu," kata nenek itu tersenyum ramah.



"Nenek tahu penghuninya kemana?" Tanya Leya lagi.



"Sudah meninggal. Semuanya."



Glenn melebarkan matanya terkejut, "apa benar nek? Nenek mengenal mereka? Apa nenek mengenal seorang anak perempuan bernama Friska Anastasia? Menurut panti asuhan, ia diasuh oleh keluarga ini."



"Oh, Friska kecil yang manis itu? Iya, nenek mengenalnya. Sungguh dia anak yang baik dan ramah sekali. Tapi... dia menghilang. Oh tidak, dia telah tiada, orang percaya seperti itu. Friska kecil menghilang tepat saat keluarga Antoni memutuskan untuk tinggal di luar negeri. Ia diculik sehabis pulang sekolah. Keluarga Antoni terpukul sekali dan mencari anak itu berbulan-bulan hingga akhirnya, pada suatu malam rumah mereka dirampok. Antoni dan Sandra dibunuh. Sungguh, tragis sekali nasib mereka. Mereka yang bahagia karena akhirnya memiliki anak, bernasib tragis seperti itu."



"Lalu, apa tersangka pembunuhnya tertangkap?" Tanya Glenn lagi.



Nenek tua itu menggeleng, "tidak. Bahkan, saya sendiri malam itu tidak mendengar keributan apapun. Saya memang tertidur. Tapi, benar-benar sunyi. Katanya mereka dibunuh dalam keadaan tertidur. Seluruh uang dan perhiasan mereka dirampas."



Leya menggelengkan kepalanya. Sungguh biadab perampok itu.



"Lalu, apa... hingga saat ini Friska tidak ditemukan, nek? Apa ia benar-benar... sudah tak ada?" Kali ini Leya yang bertanya.



"Tidak. Tidak ada kabarnya. Banyak yang bilang ia meninggal dan mayatnya dibuang atau dikubur entah kemana. Karena saat itu memang sedang marak pembunuhan, pemerkosaan, dan penculikan anak-anak. Sungguh malang sekali nasibnya. Namun, seminggu setelah insiden perampokan, ditemukan anak perempuan tewas dalam keadaan telanjang di pinggir sungai daerah ini. Wajahnya hancur. Banyak yang menduga itu Friska kecil. Dugaan saja, selanjutnya tidak tahu. Kasusnya seperti tenggelam begitu saja."



Glenn mengeraskan rahangnya. Ia tampak gemetar. Ia hampir menangis, namun tertahan. Leya langsung menggenggam tangannya, mencoba menguatkan.



"Baiklah, kalau begitu kami pamit. Terimakasih banyak, Nek." Glenn tersenyum dengan mata berkaca-kaca.


 


"Pak Rasyid bilang panti asuhan Kasih Ibu itu udah terbakar bertahun-tahun yang lalu. Mungkin itu sebabnya Adrian dan Friska dipindahin ke panti asuhan Kasih Sayang. Gue masih berusaha cari Friska. Gue minta berkas-berkas pembunuhan anak 9 tahun lalu di daerah itu dan insiden perampokan yang menewaskan keluarga Pak Antoni. Tapi kata beliau mungkin besok baru bisa dikirim."


Pukul 5 sore ketika Glenn melempar tasnya sembarangan di sofa. Ada Bibi Aini sedang menyiapkan snack untuk Glenn dan Leya. Leya menghempas tubuhnya duduk di samping Glenn.


"Soal kakak gue gimana?" Leya mengambil majalah yang terbarik di atas meja.


"Mungkin besok juga." Glenn mengambil jus melon dingin yang baru diletakkan Bibi Aini di atas meja, "makasih ya Bi," katanya tersenyum sedikit.


"Iya sama-sama, Den." Bibi Aini kembali ke dapur.


"Btw, Glenn. Gue... sebenernya ada sesuatu." Leya menoleh ke arah Glenn, tapi ia terlihat ragu-ragu. Sebenarnya, Leya ingin memberitahu Glenn mengenai pesan terakhir yang Grimm kirim padanya. Bahwa, ia mungkin saja akan menjadi salah satu 'pemeran utama' dalam dongeng Grimm.


Grimm menyebut Leya sebagai Alice. Sebenarnya, Leya sedikit takut, namun rasa penasarannya tentang Dandelion mengalahkan rasa takutnya pada Grimm. Mungkin ia memang gila.


"Kenapa?" Tanya Glenn menaikkan sebelah alisnya. Ia tak jadi minum, ia justru meletakkan gelas jus itu kembali ke meja. Bagi Glenn, menebak ekspresi wajah Leya yang khawatir itu mudah saja. Dan bagi Glenn, Leya memang ingin membicarakan sesuatu yang penting.


"Eng--enggak jadi deh."


"Apaan sih? Gak usah sok misterius. Gak cocok sama lo."


"I-itu..." Leya berpikir sebentar, "ohiya, gue mau nanya. Kok kali ini dongengnya gak sesuai urutan di buku dongeng lo? Gue pikir Putri Tiana yang lebih dulu mati. Tapi, justru Putri Ariel. Itu gak sesuai skema." Leya sedikit lega, karena dirinya punya ide sebelum kehabisan kata-kata. Mungkin, ini bukan waktu yang tepat untuk menceritakannya pada Glenn. Glenn sudah terlalu pusing dengan Friska dan semua kasus ini, jadi Leya tak ingin Glenn dipusingkan lagi dengan dirinya.


Glenn diam sebentar, kemudian tangannya kembali meraih gelas jus dan menyesap jus melonnya. "Itu yang sejak tadi malam gue pikirkan. Tapi, yang jelas, sasaran terakhir Grimm jadi lebih mudah terbaca, yaitu Geby. Gue udah bilang Pak Rasyid buat kirim beberapa mata-mata untuk melihat gerak-gerik Geby sekaligus jagain dia." Glenn melipat kedua tangannya di depan dada, pandangannya menerawang, "Grimm pasti tahu kalau kita udah tahu soal buku dongeng ini. Makanya, dia terpaksa ngubah alurnya."


"Gimana kalau ternyata... ini udah sesuai rencana dia? Gimana kalau ternyata dari awal dia tahu dan udah bisa memprediksi kalau suatu saat kita pasti nemuin buku dongeng itu dan akhirnya dari awal juga dia udah ngubah rencananya? Mungkin dari awal dia bikin dongeng di akhir itu gak sesuai urutan buku? Soalnya, dia sendiri pernah bilang kalau dia gak suka ngubah alur cerita."


"Entahlah." Glemn memijat pelipisnya, "but you have to know that tonight, gue mungkin bakal ketemu Grimm. Mungkin. Entah Grimm atau bawahannya."


"No." Leya menjawab cepat, "enggak, gue gak mau lo kesana sendiri. Yang kali ini, gue ikut. Pokoknya gue langsung lompat ke atas motor lo. Gak mempan tuh cium kening." Leya membuang mukanya.


Anjir napa gue jadi bahas cium kening segala... tapi, Leya tetap berusaha biasa saja.


"Ah masa sih?" Glenn tersenyum jahil.


Wajah Leya memerah seketika, "heh gue lagi serius ya gak usah dicandain. Rese banget sih. Pokoknya malam ini gue ikut."


"Gue masih ragu sih sama teka-tekinya. Tapi... coba lo lihat. Menurut lo tempat apa yang dimaksud Grimm?" Glenn memperlihatkan sms Grimm, kening Leya berkerut seketika.


"Land of dreams, tempat semua anak-anak bahagia?" Leya menyuap kue kering yang tadi disiapkan Bibi Aini, "hmm gue terpikir beberapa tempat sih. Playground, sirkus, sama Dufan. Atau malah planetarium?"


"Oke, buat playground, sirkus, Dufan itu masih masuk akal, gue berpikiran hal yang sama. Tapi... kenapa lo bisa kepikiran planetarium?" Glenn terlihat tertarik mendengar alasan Leya, "Dufan kayaknya yang paling masuk akal. Dunia fantasi, taman impian Jaya Ancol, right? And land of dreams? Tempat semua anak-anak bisa bahagia."


"Ehm... gak tahu hahaha gue tiba-tiba terpikir planetarium aja. Kayak semua anak-anak bisa ngeliat planet dan bintang dari jarak 'dekat'. Kayak mereka bisa menggenggam semuanya sedekat itu. Sebagian anak punya mimpi ingin menggenggam bintang, yah termasuk gue dulu. Taman bermain memang taman impian, dimana semua anak-anak bisa bahagia. Tapi apa itu benar-benar definisi impian? Yah untuk mereka hal paling simpel adalah punya mimpi untuk bermain tanpa henti.


"Tapi sebenarnya, dari sudut pandang kita, definisi impian yang sebenarnya bukan cuma sebatas kebahagiaan, tapi sesuatu yang ingin diwujudkan. Diantara anak-anak yang ke planetarium, ada impian yang terpendam. Ada mereka yang bermimpi jadi astronot, astronom, mungkin peneliti, pembuat roket, dan mimpi-mimpi luar biasa lainnya. Mereka ingin tahu galaksi, bermimpi ingin melihat galaksi dan bintang dengan matanya sendiri. Sebuah mimpi yang benar-benar punya tujuan di masa depan. Bukan sekedar mimpi untuk mencapai sebuah kebahagiaan. Itu menurut gue sih. Opini gue. Dan menurut gue, Grimm mengambil pandangan dia sendiri, lebih dewasa, bukan sebagai anak-anak


Leya menatap serius Glenn, "planetarium bagi gue sendiri adalah 'tanah' dimana gue bisa ngeliat impian gue seperti sejengkal lebih dekat. Land of dreams. Dan lo tahu juga kalau Grimm selalu gak semudah itu untuk ditebak. Dia punya pemikiran yang berbeda dari orang awam. Out of the box. Ketika orang lain berpikir seperti ini, belum tentu dia juga berpikir seperti itu. Rata-rata teka-teki yang dia kasih begitu kan?"


Glenn tersenyum cerah kemudian mengacak pelan rambut Leya. Membuat rambut Leya yang terikat satu tambah terlihat berantakan, "pinter," katanya singkat.


Pipi Leya bersemu merah. Sesingkat apapun pujian Glenn, akan selalu membuatnya merasa istimewa. Bukankah semua perlakuan Glenn padanya adalah istimewa? Ah, entahlah. Leya tak mau berharap lebih.


"Yaudah ntar malem jam 8 lo boleh ikut karena lo udah bantuin gue mecahin teka-teki Grimm. Tapi, kita masih belum tahu ini bener apa enggak, karena baru kali ini Grimm gak ngasih teka-teki yang bener-bener spesifik. Biasanya di setiap teka-teki dia itu ada sesuatu yang khusus. Untuk sementara, gue ambil jawaban lo mengenai planetarium." Glenn menarik tasnya kemudian berdiri dari tempatnya duduk, "gue masuk duluan. Dan anggap aja nanti malam itu jalan-jalan pertama kita."


Glenn melangkah menuju kamar tamu yang jadi kamar miliknya sementara, "nanti gue yang ijin sama Ayah lo. Dan pokoknya selama di sana, lo gak boleh kepisah dari gue," katanya masih melenggangkan kaki tanpa menoleh ke arah Leya.


"Ish gue bukan anak-anak SD yang bisa nyasar!" Leya memajukan bibirnya cemberut. Tapi, detik berikutnya ia tersenyum. Hanya padanya Glenn bisa secerewet ini.


"Untuk malam ini lo tanggung jawab gue, Lily Cattleya Gardenia. No rejection." Pintu kamar Glenn tertutup bersamaan dengan hilangnya sosok Glenn dari pandangan.


"Eh... bentar. Jalan-jalan? Bukan dating kan ya maksudnya?" Leya menggelengkan kepala karena mulai berpikiran yang tidak-tidak.


Tiba-tiba ponselnya berdering, ada sebuah pesan yang masuk.


*Apa ksatria mengajakmu ikut? Kuharap iya. Kuharap kau datang. Aku juga punya kejutan untukmu. Kutunggu kamu pukul 8 malam ini di land of dreams, tempat semua anak tertawa bahagia. Disana kita akan bertemu Selene lebih dekat!


-Grimm*


Leya terperenjat dengan mata melebar. Ia langsung bangkit dari tempatnya duduk dan berlari menuju kamar Glenn, "Glenn!!" Panggilnya sambil mengetuk pintu cepat, "Selene itu siapa Glenn!!"


Glenn membuka pintu kamarnya, "apaan?"


"Selene tuh siapa? Lihat deh sms dari Grimm buat gue." Leya memberikan ponselnya.


Glenn membaca sebentar dan tersenyum lebar, "tebakan lo bener. Planetarium!"

__ADS_1


__ADS_2