
Leya rasanya baru saja jatuh menghempas inti bumi. Apa ia tak salah dengar? Gangguan identitas disositif? Bukankah itu... kepribadian ganda? Glenn? Tidak, ini salah.
"Pak Rasyid, maaf. Apa saya barusan salah dengar?"
"Tidak. Ya, mungkin kamu tidak akan percaya dengan apa yang saya katakan. Itulah sebabnya saya berikan seluruh berkas mengenai Glenn padamu. Saya juga tidak percaya. Tolong periksa ya, kalau memang ada yang salah dari berkas itu, kamu bisa langsung mengonfirmasinya pada saya. Saya sengaja tidak memberikan tanggung jawab ini pada bawahan yang lain. Saya ingin kamu sendiri yang menyelidikinya. Saya percaya padamu. Semua berkas telah ada, yang kamu perlu lakukan hanya mencari kebenarannya saja."
Iya, berkas ini bisa saja dibuat-buat oleh psikiater Glenn. Leya yang akan membuktikan bahwa pernyataan dan diagnosa dari psikiater itu palsu.
"Baik, Pak. Saya akan mengeceknya hari ini juga."
"Oke, terimakasih Leya. Bagaimanapun hasilnya, kebenaran harus tetap diungkap. Jangan ada satupun fakta mengenai Glenn yang kamu tutupi ya. Walaupun itu fakta yang sangat buruk. Kamu tidak berpihak pada Glenn bukan? Berpihaklah pada apa yang memang menjadi kebenaran."
Leya terdiam sebentar. Di saat itu pula, laki-laki yang baru saja mereka bicarakan berdiri sejarak 2 meter dari Leya. Mata mereka saling bertemu. Glenn berhenti melangkah. Wajahnya... tak bisa diartikan. Antara bingung, syok, dan... entahlah... khawatir? Glenn berusaha tersenyum canggung, tapi Leya justru terpaku. Tak tersenyum sama sekali.
"Leya?"
"Iya, baik. Nanti saya laporkan semuanya." Leya langsung mematikan ponselnya searah. Dengan cepat, ia memasukkan ponsel itu ke sakunya. Ia bingung bagaimana harus menghadapi Glenn saat ini. Baru saja ia menyatakan bahwa dirinya jatuh cinta pada laki-laki itu, kemudian dalam waktu beberapa menit, fakta mengerikan seakan membuat kepercayaan Leya goyah. Tidak, Leya tak boleh goyah. Tapi, kenapa... jadi sulit begini?
Glenn kembali melangkah mendekati Leya, "ehm... Ya'..." Ia terlihat begitu canggung, "gue..."
"Gue pulang duluan ya, Glenn. Lo tolong jagain Kak Dedel dulu. Ayah tadi pergi. Gak tahu sekarang dimana. Gue mandi bentar aja kok," potong Leya cepat.
"Gue anter?"
"Enggak. Lo di sini aja. Gue bisa sendiri." Leya langsung melangkah cepat melewati Gleen. Jelas, Gleen pasti tahu bahwa Leya menghindarinya.
"Ya'..." panggil Glenn.
Leya menoleh.
"Hati-hati."
Leya tersenyum kaku, kemudian mengangguk. Sulit mempercayai bahwa Glemn menderita penyakit psikis seperti itu. Tapi, sebagian lagi dari dirinya percaya. Leya takut menerima kebenaran. Sepertinya, ia memang benar-benar harus mencari tahu.
Glenn normal. Ia tak apa-apa. Kalimat itu terus Leya gumamkan sambil melangkah pergi.
~~~
Leya membongkar seluruh berkas yang ia sembunyikan di dalam kamar Glenn. Tepatnya dalam koper berisi baju dalam Leya. Ya, tentu saja agar tak ada yang berani membongkarnya.
Leya mulai membuka satu per satu berkas itu. Ia membaca perlahan kertas-kertas informasi mengenai kejiwaan Glenn. Psikiater Glenn mendiagnosa bahwa Gleen menderita gangguan psikis yaitu gangguan identitas disosiatif dimana terbentuk 2 sampai lebih kepribadian berbeda di dalam diri Glenn. Glenn tepatnya memiliki 4 kepribadian berbeda. 1 kepribadian primer atau kepribadian mendominasi, yaitu Glenn sendiri dan 3 kepribadian yang mengambil alih kepribadian primer pada waktu tertentu dengan memori dan tingkah laku, serta identitas yang benar-benar berbeda.
Kepribadian pertama bernama Leo, seorang anak kecil berusia 5 tahun. Dia tidak berbahaya. Muncul ketika kepribadian primer--Gleen--merasakan kesedihan yang amat mendalam. Ia kepribadian yang sangat ceria dan kekanakan. Kepribadian kedua bernama Marco. Ia berbahaya dan agresif. Muncul sebagai bentuk pertahanan diri ketika Glenn mengalami kemarahan yang teramat. Marco berusia 17 tahun, sangat beringas, kuat, sering berkelahi dan memiliki ketajaman analisis yang jauh diatas rata-rata, bahkan diatas ketajaman analisis kepribadian primer. Ia kepribadian paling berambisi dan sulit ditangani. Yang terakhir adalah wanita, berumur sekitar 13 tahun. Nama tidak diketahui. Sangat misterius. Sulit diajak berkomunikasi. Waktu spesifik kemunculannya tidak diketahui. Namun, yang jelas ketika muncul, ia akan berusaha membunuh diri atau melukai diri dan membunuh kepribadian primernya.
Selama proses terapi, pada diri Glenn muncul beberapa kepribadian baru, namun hanya bersifat sementara. Kepribadian-kepribadian ini mengenal Glenn dengan sangat baik, sementara Glenn yang saat itu masih berusia 13 tahun tak mengerti apapun bahkan tak mengetahui bahwa ia memiliki kepribadian lain yang sering mengambil alih tubuhnya. Kepribadian-kepribadian yang muncul mengaku bahwa mereka berusaha membantu Glenn, menahan segala beban dan kesedihan yang Glenn alami. Walaupun lama kelamaan, kepribadian Glenn yang bernama Marco, merasa bahwa Glenn terlalu lemah dan tak pantas mendominasi. Ini sedikit langka.
Glenn sendiri semasa kecil, sebelum berada di panti asuhan, mengalami trauma psikis yang luar biasa akibat perlakuan kasar oleh Ibu kandungnya setiap hari. Ia tak memiliki Ayah. Yang ia miliki hanyalah seorang Ibu kejam yang berprofesi sebagai pelacur. Informasi itupun tak bisa didapatkan saat bertanya langsung pada Glenn. Karena Glenn mengaku lupa. Memori buruk itu hanya diingat oleh Marco. Anggap saja, Marco menanggung beban seluruh memori menyakitkan.
Ketika psikiater menanyakan tentang pembunuhan pada 2 orang teman Glemn dan 1 orang dewasa, tidak ada satupun kepribadian yang mau menjawabnya. Kecuali gadis misterius yang suka menyakiti diri sendiri itu. Ia memberikan sebuah respon tak terduga di saat dirinya sendiri sangat sulit berbicara dan merespon psikiater pada saat wawancara. Gadis itu hanya tersenyum miring sambil berkata, "pendongeng." Ketika ditanyakan siapa itu pendongeng, ia enggan menjawab.
Dokter tak bisa menyimpulkan, apakah pendongeng itu adalah kepribadian lain yang memang tak pernah mau muncul dan menutupi dirinya sendiri. Atau orang lain? Hingga sekarang tak bisa terjawab.
Leya cukup gemetar membaca berkas ini. Sulit mengatakan bahwa berkas sedetail ini adalah dibuat-buat atau palsu. Leya kemudian mencari nama psikiater yang menangani Glenn. Dokter Gerald dari rumah sakit jiwa Harapan. Sepertinya, Leya harus menemui dokter itu untuk mengetahui lebih dalam tentang Glenn.
Leya beralih pada berkas kasus pembunuhan yang dilakukan Glenn saat kelas 1 SMP. Glenn diduga melakukan pembunuhan atas 3 korban. 2 orang temannya sendiri dan 1 orang dewasa yang tidak memiliki hubungan apapun dengan Glenn. Motif tidak diketahui. Korban pertama adalah anak laki-laki berusia 13 tahun bernama Fatur Rahim. Korban ditemukan tewas di gudang sekolah--SMP Bunga Kusuma, tempat tersangka dan korban bersekolah--dalam kondisi mengenaskan. Mata terjahit, kedua tangan, hidung, dan lidah dipotong. Mati kehabisan darah. Tak ada sidik jari, yang tertinggal hanyalah sebuah surat kecil yang ditulis menggunakan tinta hitam bolpoint biasa. Tulisannya rapi, tegak bersambung. Di jempol tangannya dijahit bunga lily orange.
Leya memperhatikan foto surat yang digunakan sebagai barang bukti itu.
*Pinnochio sesungguhnya adalah boneka kayu yang paling picik. Ayahnya telah membuatnya berubah menjadi manusia, tapi ia tidak melakukan hal baik sama sekali. Justru, ia lebih suka berbohong, mencuri, menyakiti anak lain. Peri menghukumnya dengan memotong hidung panjangnya akibat berbohong, memotong lidahnya akibat suka berbicara yang buruk, serta memotong kedua tangannya akibat suka mencuri.
-Grimm*
Tulisan ini... Leya sangat menghapalnya. Tidak salah lagi, ini adalah tulisan Grimm. Benar-benar mirip. Lalu, kenapa dugaan dijatuhkan kepada Glenn? Leya pikir anak kelas 1 SMP tidak bisa menulis sebagus itu, terutama laki-laki. Yah, Leya sendiri tahu bahwa tulisan Glenn tidak sebagus itu. Tulisannya tidak terlalu rapi. Banyak orang berkata bahwa tulisan orang-orang cerdas tidak serapi itu, karena mereka terbiasa berpikir dengan cepat. Yah, tidak terlalu terbukti, sih.
Namun, pada kasus penderita kepribadian ganda, itu mungkin saja terjadi. Bahkan cara berbicara bisa saja berbeda. Kebiasaan setiap kepribadian pun akan berubah. Semuanya akan berubah total saat kepribadian primer mengalami black out.
Korban kedua. Anak laki-laki berusia sama dengan korban pertama, yaitu 13 tahun. Namanya Andri Effendy. Ditemukan tewas di gedung tak terpakai di dekat SMP Bunga Kusuma dengan mata terjahit dan sebagian tubuh dikuliti, yaitu dari telapak kaki, hingga lutut. Jempol tangannya dijahit dengan bunga anggrek hitam. Mati kehabisan darah. Sebuah surat ditinggalkan oleh tersangka.
*Hercules suka menendang Megara. Hera menghukumnya, menguliti kaki Hercules hingga lutut, agar ia tak bisa menendang Megara lagi.
-Grimm*
Korban ketiga adalah lelaki dewasa berusia 37 tahun bernama Samuel Alatas. Ditemukan tewas karena diberi racun arsenik dalam jumlah besar pada makan malamnya. Kemaluannya terpotong. Matanya terbuka. Di jempolnya terjahit bunga Tuberose atau bunga sedap malam. Sebuah surat ditinggalkan oleh tersangka.
*Raja memperkosa Aurora beberapa kali. Peri marah. Ia dihukum dengan meminum racun dan peri memotong kemaluannya.
__ADS_1
-Grimm*
Saksi yang merupakan tetangga Samuel melihat seorang anak kecil yang tidak lain adalah Glenn datang sendiri pada malam itu ke rumah Samuel. Keesokan harinya, ketika saksi ingin meminjam alat pemotong rumput pada Samuel, pintu rumah Samuel tak terkunci. Saksi membukanya dan melihat Glenn di sana dalam keadaan tertidur tepat di samping Samuel. Di tangannya ada sebilah pisau berlumuran darah serta Samuel yang tewas dalam kondisi mengenaskan. Saksi langsung menelepon polisi.
Polisi mengaku kesulitan menghadapi Glenn karena Glenn sama sekali tidak mengakui kesalahannya. Ketika ditanya polisi, Glenn sama sekali tak ingat bagaimana caranya ia bisa berada di rumah itu dan apa yang sedang ia lakukan di sana. Pada pisau itu hanya ditemukan sidik jari Glenn dan darah Samuel. Glenn berkata ini jebakan sang pendongeng. Polisi menduga, sang pendongeng adalah dirinya sendiri dan Glenn mengalami psikis yang terganggu. Untuk memperkuat dugaan, polisi membawa Glenn ke psikiater. Glenn diputuskan akan dirawat di rumah sakit jiwa setelah dokter mendiagnosa dirinya mengidap D.I.D (Dissociative Identity Disorder) atau sering dikenal sebagai multiple personality disorder.
Polisi menduga kasus yang terjadi pada Fatur, Andri, dan Samuel adalah kasus yang saling berhubungan dan dilakukan oleh orang yang sama. Dimulai dari surat dengan tulisan tangan yang sama, mata korban yang dijahit--kecuali Samuel, dan setangkai bunga yang dijahit di jempol korban.
Ponsel Leya berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Rosa. Leya terpaku pada angka 5597 yang tertulis di dalam surat yang difoto Rosa. Angka yang sama dengan angka yang dibisikkan oleh wanita itu padanya. Leya menyadari sesuatu. Ini bukan angka biasa, ada arti di dalamnya. Tapi apa? Sepertinya, Leya tidak asing dengan angka ini... dimana ia pernah melihatnya?
Leya memejamkan matanya sebentar. Entah kenapa instingnya meminta agar ia kembali membaca buku Adela. Leya mengambilnya dari laci nakas, mematikan lampu, kemudian mulai membaca isi buku Adela.
Ada satu lembaran yang membuat Leya mengerutkan alisnya. Satu-satunya lembaran dengan identitas tanggal dan bulan, sementara pada lembaran lain hanya tertulis hari serta tahun.
5 Mei
Hari ini Geri berulang tahun! Karena hari ini adalah hari yang spesial untuk sahabatku, khusus pada lembaran ini, aku menuliskan tanggal serta bulannya. Hari ini tak boleh dilupakan. Seharian penuh kami menghabiskan waktu bersama di wahana bermain. Makan gulali, naik biang lala, roller coaster, dan masih banyak lagi! Geri suka dengan hadiahku. Aku memberinya sebuah jaket rajutan berwarna abu\-abu yang kubuat sendiri.
Leya meneguk ludahnya. Apa... angka 55 yang ditulis Grimm memiliki arti 5 Mei? Ah... kenapa Leya jadi berpikiran seperti ini? Tidak bisa. Belum ada bukti. Yang jelas... tunggu sebentar, Leya bahkan hingga kini tak tahu tanggal lahir Glenn. Apa ia harus menanyakannya? Untuk apa? Entahlah... Leya merasa harus menanyakannya.
Leya kembali membuka ponsel, berniat ingin menelepon Glenn. Tapi, tiba-tiba sebuah notifikasi e-mail masuk. Dari Glenn. Tunggu sebentar... ini...
From : Gleenrajendra5597@gmail.com
Ya', ini hasil otopsi Belvi. Gue fotoin dulu ya. Berkas aslinya ada di gue. Lo liat\-liat aja dulu.
Ohiya, ada yang mau gue omongin sama lo. Penting.
Leya terpaku beberapa saat. Bukan karena foto berkas hasil otopsi mengenai Belvina. Melainkan... alamat e-mail Glenn. Angka 5597. Apa... Glenn memang secara tak sengaja menulis angka tersebut pada saat membuat e-mailnya? Kenapa kebetulan sekali?
5 Mei... 1997? 5597?
Tangan Leya gemetaran. Tapi, ia tetap berusaha menelepon Glenn. Leya mencari nama kontak Glenn. Menekan tombol telepon. Terdengar nada sambung di ujung sana, namun tak perlu waktu lama hingga Glenn mengangkatnya.
"Iya, Ya'."
"Glenn, lo lahir tanggal berapa sih?"
"Kok tiba-tiba nanya?"
"Tanggal lahir gue? Ehm... gue... 5 Mei..." Terdengar suara Glenn yang ragu-ragu.
"Lo kok ragu gitu jawabnya?"
"Soalnya... gue... enggak. Gak papa. Ya' lo masih di rumah? Gue nyusul ya. Ayah lo udah dateng kok. Ada yang harus gue omongin ke lo, Ya'."
"Eh-eng... gausah Glenn. Gu-gue mau jalan sama Rosa dulu. Ntar gue ke rumah sakit kok. Kita ketemu di sana aja."
"Tapi... kalau gue ikut boleh gak? Eh... gue cuma takut kalau lo-"
"Enggak Glemn. Gue gak papa. Jalannya bareng Rosa juga kok. Deket juga dari rumah sakit. Gue jamin, Grimm belum niat ngapa-ngapain gue. Jadi lo tenang aja dulu. Oke?"
"Tapi..."
"Eh Rosa udah jemput nih. Gue matiin. Bye!"
Selama Leya mengenal seseorang, ia sama sekali tak pernah menemukan seseorang yang bahkan terdengar ragu dengan tanggal lahirnya sendiri. Dan... 5 Mei? Apa ini sebuah kebetulan yang luar biasa? Geri dan Glenn lahir di tanggal yang sama. Ya, mungkin saja. Lalu, angka 5597? Apa ini juga termasuk sebuah kebetulan lainnya? Apa Grimm sengaja menuliskan angka itu pada suratnya dan membuat Leya ragu? Dan... wanita itu... apa wanita itu ingin Leya mencurigai Glenn? Tidak mungkin bukan ia akan mengungkap identitas Grimm? Tapi, bagaimana kalau ternyata wanita itu juga terikat? Ingin diselamatkan? Dan ia memberi clue itu agar Leya menyadari sesuatu? Apa ia memang ingin diselamatkan?
Ah, sial... kenapa ini memusingkan sekali? Leya mengacak rambutnya. Pikiran-pikiran negatif mulai meracuninya. Bagaimana... kalau Glenn memang benar menderita kepribadian ganda? Bagaimana kalau ternyata Grimm adalah salah satu kepribadian lain yang menguasai tubuh Glenn? Mengatur semuanya dibalik layar tanpa perlu langsung membunuh. Ia hanya perlu meminta orang lain membunuh korbannya, contohnya seperti wanita yang menyakap Leya itu, bawahan Grimm.
Lalu, kapan Grimm melakukan switching? Leya sama sekali tak pernah melihat kepribadian Glenn berubah. Tunggu sebentar. Tiba-tiba ia teringat akan perkataan Rosa mengenai perbedaan Glenn di saat pertama kali masuk sekolah dengan Glenn yang sekarang. Bagaimana cara laki-laki itu menatap Leya pertama kali, lalu kalimat pertama yang dikatakan oleh Gleen adalah bagaimana Leya muncul dalam mimpi Glenn dan kehidupan gadis itu serta kehidupan Glenn akan benar-benar berubah. Kemudian, keesokannya saat Leya duduk di depan Glenn, Glenn justru tak tahu menahu, tidak peduli, tidak begitu memperhatikan Leya seperti saat hari pertama Glenn terus menatap Leya dengan begitu intens. Tatapan Glenn juga sangat berbeda.
Setelah itu, Leya sama sekali tak pernah melihat perubahan signifikan pada Glenn. Glenn tetap sama. Tidak berubah menjadi anak kecil, gadis, ataupun beringas. Tidak pernah. Apa... Glenn sudah sembuh? Atau bagaimana? Ah... gila... sekarang justru Leya yang hampir gila.
Leya terpaksa berbohong pada Glenn. Ia tak punya pilihan lain. Sekarang, Leya benar-benar harus menemui Dokter Gerald. Bagaimanapun caranya.
Ia mencari nomor kontak di ponselnya, kemudian menelepon orang tersebut. Tanpa butuh waktu lama, telepon Leya diangkat.
"Halo, kenapa Ya'?"
"Ros lo bisa temenin gue ke rumah sakit jiwa Harapan gak?"
__ADS_1
Glenn menatap punggung Leya yang lama kelamaan menghilang dari pandangannya. Kenapa gadis itu seperti menghindarinya padahal baru mengungkapkan perasaan? Tidak, mungkin hanya perasaannya saja.
Glenn perlahan membuka pintu rumah sakit. Terlihat gadis berambut hitam panjang yang sedang membaca buku. Gadis itu tak lain adalah Dandelion, Kakak kandung Leya. Dandelion mengangkat kepalanya, menatap lurus pada Glenn, kemudian ia tersenyum. Senyum gadis itu sangat indah walaupun wajahnya babak belur, tapi sama sekali tidak membuat Glenn tertarik. Justru insting Glenn mengatakan ada yang aneh pada gadis itu sejak pertama kali melihat gadis itu siuman. Gadis itu sama sekali tak membahas Grimm, ia bahkan tak terlihat ketakutan sama sekali. Itu aneh.
"Hai Glenn," sapa Dandelion. "Ayah sering cerita tentang kamu dan Leya."
Glenn mengangguk. Ia melangkah mendekati Dandelion, masih berdiri di samping kasur Dandelion.
"Silakan duduk, Glenn. Kamu mirip sekali dengan seseorang. Aku suka melihat wajahmu," kata Dandelion, "duduklah. Aku tahu, ada banyak pertanyaan yang pengen kamu tanyakan ke aku kan?" Tanya Dandelion. "Terlihat jelas di wajahmu."
"Siapa kamu?" Tanya Glenn *to the point*. Ia sama sekali tak duduk.
Dandelion terlihat bingung sesaat, "maksud kamu?"
"Apa kamu benar\-benar Dandelion? Kamu... Rena kan?"
"Iya, aku dua gadis yang kamu sebut itu. Aku Dandelion dan juga Rena. Aku kakak kelas kamu dulu waktu SMP dan SMA sekarang. *Yes, i know you well, Gleen. Everybody always talkin' about you*." Dandelion mengedikkan bahunya.
Glenn memicingkan matanya menyelidik, "kamu sama sekali belum membahas tentang bagaimana kamu ada di planetarium itu."
"*Long story, but i tell you*. Aku sama sekali gak takut sama Grimm seandainya dia harus membunuhku saat itu juga. Tapi, aku minta agar aku bisa bertemu Ayah dan Leya dulu. Dia mengabulkannya dengan syarat menyiksaku dulu\-\-"
"Bagaimana bisa kamu bertemu dengannya? Kamu mengenalnya?"
"Dia meneleponku. Berkata akan membunuh Ayah dan Leya. Aku bilang bunuh saja aku. Tapi sebelum ia benar\-benar membunuhku, aku ingin bertemu Ayah dan Leya. Mungkin sebentar saja aku di sini. Ia bisa menjemputku kapan saja. Ntahlah apa yang ia rencanakan." Dandelion menutup bukunya. Ia bercerita sangat tenang, tak ada kekhawatiran dan ketakutan sama sekali. Bahkan wajahnya saja terlihat begitu tenang dan datar.
"Aku sulit percaya denganmu."
Dandelion melipat kedua tangannya di depan dada, "aku yang sulit percaya denganmu, Glenn. Kamu siapa? Apa kamu benar\-benar Glenn?" Tanya Dandelion menaikkan sebelah alisnya.
"Apa maksudmu?" Tanya Glenn.
"Bagaimana kalau aku bilang, aku mengenal Grimm? Apa kamu juga akan beritahu kamu ini siapa?" Wajah Dandelion datar saja.
Glenn terlihat syok mendengar pertanyaan Dandelion.
"Ya, aku Dandelion. Dan kuberitahu, Grimm selalu melihatmu. Ia tak akan bisa kamu kalahkan. Jadi, menyerah saja sepertiku."
__ADS_1
Astaga... apa yang barusan Gleen dengar ini? Apa... ia tak salah dengar?