Once Upon a Time

Once Upon a Time
Buku Catatan Kosong


__ADS_3

"Apa kamu mengenal saudari Adela?"


"Hah? Eh-ehm Adela... iya kenal. Pas SMP selalu satu kelas," jawab gadis di ujung sana. Geby.


Wawancara melalui telpon dimulai. Di depan Geby tentu saja ada seorang psikolog yang akan mendeteksi kebohongan Geby, kemudian memberitahu bila Geby berbohong dengan mengirimi pesan singkat ke Leya. Leya bertugas selalu memberitahu pada Gleen.


"Sedekat apa kalian berdua?"


"Gak terlalu dekat. Adela itu pendiam."


"Apa kamu tahu hubungan antara Raya dan Adela?"


"Mereka setahu saya sempet pacaran. Tapi, putus gak tahu kenapa."


"Bagaimana dengan Ansel dan Adela?"


"Maaf, apa Adela punya suatu hubungan dengan kematian mereka? Tapi, Adela sudah meninggal 4 tahun lalu."


"Jawab saja pertanyaan saya."


"Ehm... kalau sama Ansel kayaknya mereka sahabatan. Sering bareng, sama Belvina juga. Dan kebetulan, Ansel dulu sempat akrab juga sama Raya. Tapi gak tahu kenapa mereka semua terpecah. Saya gak dekat sama mereka."


"Bagaimana dengan saudara Alfi? Apa ia punya hubungan dengan mereka semua?"


"Alfi cuma adek kelas dan sahabat saya sejak SMP. Gak ada hubungan apa-apa sama mereka."


"Bagaimana Adela bisa meninggal?"


"Gak jelas kenapa dia meninggal, ada yang bilang dia bunuh diri loncat dari atas balkon rumah sakit, ada yang bilang dia... matinya gak wajar. Tapi, banyak yang menduga dia bunuh diri. Alasannya lebih masuk akal, karna katanya patah hati putus sama Raya, ada yang bilang juga karena dia putus asa ngeliat wajahnya yang hancur habis disiram air keras sama preman."


"Wajah Adela hancur?"


"Iya, tapi untungnya sempat diselamatin, gak sampai tewas. Heboh banget beritanya di sekolah. Sayangnya, habis operasi dia bunuh diri, katanya. Intinya dia gak masuk sekolah jadi gak tahu ada apa sama dia."


Glenn menoleh ke arah Leya. Dari matanya saja, Leya mengerti apa yang ingin dikatakan Glenn padanya. Leya hanya meberi isyarat 'dia jujur' dengan gerakan bibir tanpa bersuara.


"Baiklah, kembali pada hari kematian Raya. Saya ingin menanyakan ulang mengenai hal ini, kemana anda pada pukul 3?"


"Eh? Pukul 3... kemana ya... oh itu pas bolos sama Alfi di kantin Bi Ijem."


"Sekali lagi saya tanya, kemana anda pada pukul 3?"


"Bolos sama Alfi."


"Jangan bohong!" Glenn meninggikan suaranya. Bersamaan dengan itu, terdengar suara gebrakan meja di sana. Sepertinya Pak Rasyid berusaha memberikan tekanan agar Geby mau membuka mulut.


"I-iya... saya sedang bolos."


"BOHONG! Kamu jangan menyembunyikan fakta! Kamu tahu apa konsekuensi bila menyembunyikan fakta? Bisa saja kamu dicurigai sebagai tersangka atau pelindung tersangka. Dan tentu saja hukuman berupa kurungan akan kamu terima. Apa kamu mau dipenjara?" Geretak Glenn. "Kalau kamu terus seperti ini, kamu tidak akan bisa pulang dan akan terus-terusan berada di ruangan itu, di bawah tekanan. Kamu mau seperti itu?"


Geby tak menjawab, ia bungkam.


"Saudari Geby?! Jawab saya!!"


Hening di ujung sana, tak ada jawaban. Glenn menghela nafas gusar. Ia terlihat mulai dikuasai emosi sekaligus putus asa. Semuanya tergambar jelas dari wajahnya yang bertambah kusut. Tidak biasanya ia seperti ini, karena biasanya ia adalah orang yang paling berkepala dingin yang pernah Leya kenal. Bahkan di saat genting pun ia masih bisa fokus dan berpikir tenang. Entah apa yang terjadi dengan Glenn saat ini. Sepertinya, ia mulai lelah dengan semua ini.


"Saya ke toilet," jawab gadis itu akhirnya, "tapi sumpah! Saya gak tahu apa-apa soal kematian Raya. Waktu lewat toilet cowok, saya langsung kabur habis dengar keributan. Saya takut." Tambahnya mencoba meyakinkan Glenn.


"Apa benar seperti itu? Jadi, kamu orang yang seharusnya menjadi saksi pula? Kenapa kamu tidak melaporkan keributan itu pada guru?"


"Karna... karna saya takut. Saya gak mau terlibat hal-hal seperti ini makanya saya lari saja. Saya pikir cuma keributan biasa. Saya gak dengar terlalu jelas juga. Saya bemar-benar langsung lari. Sumpah!"


"Kenapa tidak kamu akui saja dari awal? Kenapa harus ditutupi?"


"Karena saya takut."


"Takut?"


"Takut pembunuh itu juga mengincar saya bila berbicara. Karena saya sudah terlanjur mengatakannya, tolong lindungi saya. Tolong. Saya gak mau mati..."


Kali ini, terdengar isakan tangis di ujung sana. Jelas, Geby sedang menangis. Namun, entah kenapa Glenn masih begitu sulit mempercayai gadis itu. Intuisinya mengatakan ada sesuatu yang janggal. Entah apa.


"Boleh saya pulang? Saya cuma tahu hal itu saja. Tolong biarkan saya pulang. Saya lelah ingin beristirahat."


Glenn menatap Leya. Gadis itu mengangguk. Terlihat Leya yang sepertinya mulai mempercayai Geby. Apa hanya Glenn yang tidak bisa dengan mudah mempercayai perkatan Geby?


"Baiklah. Untuk hari ini kita akhiri sampai di sini saja. Silahkan anda beristirahat. Kami tetap akan berusaha melindungi saksi," kata Glenn akhirnya.


"Terimakasih dan tolong lindungi saya," kata Geby. Kemudian ia membisikkan sesuatu yang mengejutkan, "Glenn," tambahnya. Hah? Apa Glenn tidak salah dengar? Bisikan itu hampir saja tidak terdengar. Benar-benar halus seperti desisan saja. Sementara telepon di ujung sana sudah dimatikan.

__ADS_1


Glenn mencoba menelepon Pak Rasyid lagi, namun terlambat karena Geby sudah lebih cepat keluar dari ruangan.


"Kenapa, Glenn?" Tanya Leya penasaran dengan mimik wajah Glenn yang teramat syok.


"Gimana caranya Geby tahu identitas gue?" Tanya Glenn bingung sambil melepaskan voice changer dari ponselnya.


"Hah?"


"Dia nyebut nama gue ditelepon tadi Ya'. Gue gak mungkin salah denger!"


"Ah, gak mungkin. Lo salah denger tuh. Halusinasi kali? Mending lanjutin wawancara aja ke Kak Belvina, orang yang gak masuk sekolah pas kejadian Kak Raya itu."


Glenn mengangguk lemah. Mungkin benar, ia salah dengar. Mungkin karena terlalu banyak pikiran negatif yang membuatnya terus berprasangka buruk pada Geby dan menghasilkan halusinasi aneh seperti itu.


Glenn mulai menenangkan diri. Ini adalah salah satu efek ketika ia tak menggunakan kepala dinginnya.



Setelah selesai melakukan sesi wawancara dengan Belvina--yang sebenarnya tak mendapatkan clue apapun karena Belvina memperlihatkan surat dokter akibat sakit, malamnya Leya mengikuti Glenn ke villa milik Ayahnya Adela--tempat kejadian perkara--untuk membantu para personil menyisir villa itu, mencari bukti yang berarti. Walaupun, Glenn sudah beberapa kali meminta Leya pulang ke rumah, gadis itu tetap keras kepala ingin ikut. Nampaknya, Glenn kesulitan membuat Leya berhenti dari penyelidikan ini.



Mereka berdua kali ini berada di sebuah kamar, yang menurut informasi adalah kamar yang sering Adela tempati bila berada di villa ini. Tidak ada yang aneh dari kamar ini. Semuanya masih tampak rapi. Dengan lantai, dinding, nakas, dan tempat tidur yang terbuat dari kayu. Villa mewah ini memang terbuat dari kayu dan kaca-kaca besar. Nampaknya sang pemilik mencintai bangunan unik yang terbuat dari kayu.



Di sisi-sisi tempat tidur itu--tepatnya di tiang-tiang kayunya--terikat kelambu putih. Kasurnya nampak agak berdebu, terlihat bahwa lama tak ditempati. Di depan kasur terlihat sebuah pintu dari kaca besar--yang terlihat seperti jendela--mengarah pada teras lantai 2 dan terlihat pemandangan langit malam yang sunyi, serta pohon-pohon rindang di hutan seberang sana.



Kamar ini hanya diterangi oleh lampu tidur. Tak ada lampu yang lebih terang lagi sehingga agak menyulitkan Leya dan Glenn untuk menyisiri ruangan ini. Beberapa sudut kamar terlihat sangat gelap akibat cahaya lampu tidur tak bisa menjangkau daerah itu.



Glenn memberikan senter dan sarung tangan pada Leya. Mereka mulai berpencar di ruangan ini. Leya memeriksa nakas, sementara Glenn memeriksa ke tempat tidur. Glenn memeriksa perlahan, seperti tak mau sejengkal pun kehilangan bukti. Ia meraba tempat tidur, memperhatikan detail kecil, semuanya ia lakukan dalam keadaan bungkam. Berbeda dengan Leya yang memeriksa nakas dengan hanya membuka laci nakas dan melihat isinya yang kosong, kemudian menutup nakas itu lagi. "Gak ada apa-apa di nakas," celetuknya.



"Perhatikan lagi, lihat lebih detail. Kita gak tau kalau ternyata yang terlihat kosong itu sebenarnya tidak kosong," jawab Glenn namun masih terlihat berkonsentrasi dengan yang ia lakukan.



Leya menghela napas kemudian terduduk di kursi. Ia kembali membuka nakas. Kali ini lebih serius. Ia memperhatikan isi nakas kosong itu. Leya meraba, kemudian entah kenapa tangannya menemukan sebuah kejanggalan di nakas itu. Seperti ada sela kecil yang renggang, berupa garis yang ketika di sentuh membuat perbedaan tinggi di permukaan, padahal ketinggian kayu di permukaan seharusnya sama. Sedikit sulit dijelaskan, tapi mungkin bisa dibayangkan.




Leya mengetuk-ngetuk kayunya. Ada perbedaan bunyi. Seakan-akan ada kayu yang padat dan ada yang kosong, tepatnya di sela kerenggangan tadi. Leya pun mengambil penggaris besi yang selalu ia bawa ke sekolah dari dalam tasnya. Memasukkan ujung penggaris besi ke sela-sela kerenggangan kayu, mencoba membuka kayu itu dan... terbuka! Itu seperti tempat rahasia di dalam nakas. Glenn memang hebat! Ia benar.



"Glenn! Gue dapet sesuatu," kata Leya girang.



"Gue juga," tambah Glenn.



Leya menemukan sebuah foto yang agak kusam dan sedikit hancur seperti habis diremukkan. Sementara Glenn menemukan sebuah buku catatan bersampul kulit berwarna kecoklatan yang tadi tertempel di bawah kayu tempat tidur.



Leya dan Glenn saling mendekat. Pertama, mereka memerhatikan foto yang ada di tangan Leya terlebih dahulu. Di foto itu terlihat Adela yang tersenyum lebar sambil merangkul 2 laki-laki. Adela berada di tengah. Di sebelah kirinya adalah Raya dan di sebelah kanannya adalah... Leya dan Glenn mengerutkan alis, karena wajah orang di foto itu telah dilubangi. Tentu saja mereka tak akan tahu siapa laki-laki di foto itu.



Leya dan Glenn saling berpandangan. Kemudian, mereka beralih pada buku catatan yang ada di tangan Glenn. Catatan itu aneh, karena pada halaman pertama hingga ke akhir halaman tak berisi apapun. Lalu kenapa harus repot-repot disembunyikan?



Baru saja Leya dan Glenn hendak meneliti isi buku itu, tiba-tiba ponsel Leya dan Glenn bergetar bersamaan. Di saat itu pula seluruh lampu rumah ini jadi padam. Leya dan Glenn tetap membaca isi pesan singkat yang masuk melalui ponsel mereka tanpa peduli tentang padamnya lampu.



Tok, tok, tok, Grimm mengetuk pintu. Boleh ia masuk? Kalian sudah terlalu jauh masuk tersesat di dunia dongeng. Jangan ambil kuncinya. Ia ingin kunci kerajaan itu sebelum membunuh Pangeran kodok.


__ADS_1


\-Grimm



Dan di saat yang sama pintu ruangan ini diketuk pelan. Leya dan Glenn saling berpandangan. Angin malam masuk menggelitik. Cahaya bulan menerpa pintu kaca, namun tak mampu menjangkau jarak mereka yang jauh berada di samping tempat tidur.



Tok, tok, tok



Pintu masih diketuk. Leya meremas tangan Glenn gemetar. Suasana jadi hening. Sementara, Glenn meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, menyuruh Leya jangan ribut. Secepat kilat ia mengirim pesan bantuan pada Pak Rasyid. Kemana semua personil? Kenapa ada yang bisa menyelusup ke sini? Tapi, apa benar itu Grimm? Siapa tahu itu Pak Rasyid?



"Gleen, itu siapa?" Bisik Leya. "Kok jadi horror gini..."



"Ssttt gue gak tahu. Mungkin aja Pak Rasyid, tapi bisa jadi juga Grimm. Jaringan di sini jelek banget, pesan gue belum terkirim ke Pak Rasyid."



"Gawat..."



"Sementara kita sembunyi dulu."



Glenn langsung menarik tangan Leya dan bersembunyi di lemari. Satu-satunya tempat terdekat yang terpikir oleh mereka berdua karena tak begitu sulit mencarinya di kegelapan. Mereka berdua langsung mematikan cahaya ponsel. Dan mengintip di sela-sela pintu lemari.



Ceklek, pintu ruangan terbuka. Seseorang masuk. Hampir tak terlihat, namun ia berdiri melangkah mendekati pintu kaca, hingga sinar bulan purnama yang redup atau remang-remang menerpa tubuh tingginya yang tegap. Masih tampak tak begitu jelas. Ia jelas memakai pakaian berwarna gelap sehingga tubuhnya nampak menyatu dikegelapan. Ia berdiri membelakangi mereka.



Leya menutup mulut kuat-kuat. Dari tubuhnya yang tegap itu, jelas terlihat bahwa ia bukan pak Rasyid. Dan personil kepolisian tak mungkin melakukan gerak-gerik mencurigakan seperti itu. Insting Leya berkata, ia bukanlah personil kepolisian.



Langkah kakinya menggema di seluruh ruangan ini. Bulu roma Leya berdiri, kakinya mulai gemetaran ketika orang tersebut mendadak melangkahkan kakinya menuju lemari. Leya menggenggam erat tangan Glenn. Keringat dingin mengucur, ia bahkan tak tahu lagi bagaimana keadaan Glenn. Apa mereka harus melawan jika orang itu menyerang? Lagipula, mereka sedang berdua bukan?



Ketika berbalik tadi, sekilas mata Leya sempat menangkap wajah orang itu. Tertutup masker, jadi percuma saja bila Leya mencoba mengenalinya, tak ada gunanya. Lagipula, manabisa melihat dengan jelas wajah orang itu dalam kegelapan?



Tuk... tuk... tuk, bunyi ujung sepatu orang itu yang menghentak lantai kayu. Semakin lama semakin dekat. Leya pun semakin meremas tangan Glenn ketakutan. Astaga, apa yang harus ia lakukan?



Tiba-tiba, seseorang menggedor pintu ruangan itu, "Glenn! Leya! Kalian di dalam?! Jawab kami." Bukan seseorang, nampaknya ada beberapa orang di depan pintu karena terdengar suara orang banyak. Entah kenapa mendengar suara mereka membuat napas Leya yang tadi ia tahan kini terbuang lega. Orang itu langsung berlari menuju pintu kaca. Glenn menghambur keluar dari lemari, hendak menangkap orang itu. Namun, secepat kilat, orang itu langsung lari menuju tangga luar yang terletak di samping teras lantai dua dan menuruni tangga itu. Ia berlari menuju hutan. Glenn masih berusaha mengejarnya, berlari menuju ke hutan juga. Tapi, baru saja Glenn hendak masuk ke hutan, Leya yang sedari tadi menyusulnya langsung menarik baju Glenn.



"Jangan Glenn, berbahaya! Biar orang-orang dari kepolisian aja yang menyusuri hutan itu. Ini udah malam, lo bisa tersesat!"



"Tapi--"



"Glenn, lo harus menggunakan otak dingin lo. Lo sendiri yang bilang jangan gegabah. Lo tahu kalau dia gak mungkin datang dengan tangan kosong, sementara lo mau ngejar dia dengan tangan kosong? Itu gila!"



"Benar, biar saya minta beberapa orang menyisiri hutan ini, Glenn," kata Pak Rasyid yang sedikit terengah-engah berlari ikut menyusul, "ini sudah terlalu malam dan kejadian tadi saja sudah sangat berbahaya. Untungnya kami ingat kalau kalian berada di lantai atas. Lebih baik sekarang kalian pulang dulu."



Glenn berdecak sebal. Selangkah lagi ia mungkin saja bisa menjangkau Grimm. Tapi, dari kejadian ini, Glenn pun tahu apa kelemahan Grimm. Dan mungkin, ia bisa menggunakannya untuk memancing Grimm keluar.


__ADS_1


Glenn menggenggam erat buku catatan kosong di tangannya sambil tersenyum kemenangan. Mungkin saja, ia bisa mendapatkan Grimm esok. Atau mungkin, Grimm lah yang akan mendapatkannya. Glenn harus lebih berhati-hati lagi. Grimm sangat jenius, ia punya banyak cara untuk menutupi kelemahannya. Maka, Glenn juga harus berpikir jenius.



__ADS_2