
"Glenn... dia... apa dia pernah kenal Kak Belvina sebelumnya?"
Kenapa Rossa bertanya seperti itu?
"Gak tahu juga sih gue. Tapi, Glenn bilang enggak kok. Kenapa Ros? Kok lo tiba-tiba nanya? Terus lo tahu kak Belvina dari mana? Gue aja baru tahu dia." Leya menyipitkan matanya curiga.
"Hah? Anu... dia anak kelas lukis juga. Terus gue juga baru kenal sih, kan gue baru join kelas lukis. Terus gak sengaja tadi sore ketemu dia abis manggil lo. Dia nanyain Glenn deh."
"Dia gak datang kelas lukis juga?" Leya melirik daftar absen, tidak ada nama Belvina di sana, artinya Belvina memang tidak hadir pada kelas tersebut. "Dia nanya apaan emang?"
"Iya dia gak datang. Dia nanya 'Ros, kamu kenal anak baru angkatan kamu gak? Namanya kalau gak salah Glenn.' Terus gue bilang, 'iya Kak, kenal. Ada apa emangnya Kak?' Dia cuma senyum terus geleng-geleng gitu, 'gak papa.' Gitu katanya. Jadi ya gue pikir mungkin Glenn pernah kenal Kak Belvi."
Leya mengangguk-anggukkan kepala sambil ber-oh panjang, "Eh Ros. Kak Belvi kelas berapa?" tanya Leya. Kesempatan juga untuk mengetahui informasi mengenai Belvina.
"Kelas 12. Sekelas Kak Ansel sama Kak Raya kok. Ohiya, gue baru inget. Dia digosipin pernah pacaran sama Kak Raya. Tapi, diam-diam gitu deh. Cuma gak tahu juga udah putus apa belum sebelum Kak Raya meninggal. Pas Kak Raya meninggal, dia yang paling sedih banget sampai sakit. Itu aku diceritain Kak Rena."
"Gila gila gila. Lo tahu semuanya ya Ros."
"Iyalahhh. Gue gitu. Lo jangan meremehkan gue ya hahaha."
Ohiya, sepertinya ini kesempatan Leya untuk mencari tahu mengenai Tinkerbell. Siapa tahu Rosa tahu gosip-gosip mengenai Pak Wahid. Leya memikirkan pertanyaan lain agar terkesan tidak mencurigakan di telinga Rosa.
"Eh Ros... kalau Pak Wahid? Lo tahu gak gossip tentang beliau?"
"Pak Wahid? Hmm... gak tahu gue. Lo tahu sendiri kan Pak Wahid itu gimana? Dan lagi... kenapa lo akhir-akhir ini tertarik banget nanyain gosip sekolah? Bukan lo banget."
Leya menggigit bibir bawahnya. Padahal, Leya sudah berusaha sekuat tenaga agar pertanyaannya tidak terlalu mencurigakan, namun tetap saja Rosa curiga. Masalahnya, Leya memang langsung terlihat berubah dari Leya yang acuh tak acuh mengenai gosip dan kini berubah menjadi Leya yang sangat peduli pada gosip. Tentu saja Rosa curiga, tidak mungkin tidak curiga.
"Hah? Oh... anu, itu..."
"Sejak lo deket sama Glenn, lo berubah banget Ya'. Banyak yang lo sembunyiin dari gue. Gue kehilangan lo. Pas gue lagi butuh, lo nggak angkat telpon, gak balas chat. Terus pas lo nelpon gue, yang lo tanyain hal lain. Gue ada salah ya sama lo? Apa perasaan gue aja kalau lo jauhin gue? Entah kenapa, gue jadi cemburu sama Glenn. Dia ngambil lo dari gue." Hening sejenak sebelum Rosa kembali melanjutkan kata-katanya, "Eh... apaan dah gue. Kok jadi baper? Maklum Ya' lagi dapet, emosi labil hahahaha. Gausah mikirin omongan gue deh hehee."
Terdengar suara tawa Rosa yang renyah di ujung sana. Sementara, Leya terdiam. Ada perasaan bersalah yang mencuat dan memenuhi rongga dadanya yang lama kelamaan menyesakkan. Leya tersenyum getir. Sejauh inikah Leya telah berubah? Kini yang Leya bayangkan adalah bila saat ini berada di posisi Rosa yang kehilangan teman baik tempat mengeluh. Leya tahu Rosa memiliki banyak teman, tapi tetap saja rasanya akan berbeda dengan sahabat. Padahal, Rosa selalu ada ketika Leya curhat ataupun saat Leya berada di keadaan sulit. Tapi, Leya malah tidak ada di samping Rosa, dan Leya yakin bahwa saat ini Rosa kesepian.
"Ros... maafin gue... gue terlalu sibuk sendiri," ujar Leya lirih.
"Enggak Ya', gue gak marah kok. Cuma gini, gue gak suka kalau lo rahasia-rahasiaan sama gue Ya'. Kita dulu udah janji kan saling berbagi rahasia?"
Leya menghela napasnya gusar. Apa yang harus ia lakukan? Sampai berapa lama ia akan berbohong pada Rosa dan menutupi kenyataan bahwa sebenarnya Leya sedang berada dalam tugas besar?
"Ros, kalau semua udah selesai, gue bakal ceritain semuanya. Gue jelasin semuanya. Maaf gue saat ini sibuk sendiri, selalu ngilang-ngilang. Gue minta maaf banget Ros. Tapi please percaya sama gue, gue akan cerita semuanya tanpa terkecuali."
"Iya, gue percaya sama lo kok Ya'..."
Tiba-tiba sebuah e-mail baru yang masuk ke dalam inbox. E-mail dari Glenn. Seketika fokus Leya terpecah menuju ke arah e-mail itu.
Hasil tes sidik jari di kuas udah keluar, tapi hasilnya bersih. Sekarang, peluang kita tinggal pelacakan nomor plat mobil van itu. Udah bisa dilacak, mungkin besok kita bisa ngecek setelah pulang sekolah.
Leya menghela napasnya pelan. Lagi-lagi mereka tak bisa mendapatkan sidik jari di sana. Sudah bisa dipastikan bahwa sang pembunuh pasti mengenakan sarung tangannya saat melukis. Sekarang, Leya hanya bisa berharap pada pelacakan nomor plat mobil itu. Semoga mereka menemukan petunjuk di lokasi tempat mobil itu berada.
"Ya'?"
"Eh sorry Ros. Gue gak fokus. Gue matiin ya? Ntar gue telpon lagi. Oke?"
"Iyadeh."
Baru saja Leya meletakkan handphone-nya di atas meja setelah mengobrol dengan Rosa, telepon Leya berdering lagi. Kali ini yang meneleponnya adalah Glenn. Sudah bisa dipastikan bahwa Glenn akan mengajak Leya mengobrol tentang kasus, tidak ada hal lain lagi.
Leya menghela napasnya pelan sekali lagi, sebelum mengangkat telepon dari Glenn, "Halo, kenapa Glenn?"
"Lo baca e-mail gue kan?"
"Iya, baca kok. Terus gimana?"
"Besok kita bakal sibuk banget. Mulai dari lanjutin wawancara anak OSIS, nambah wawancara anak-anak yang gak masuk sekolah, wawancara Geby dan Alfi lagi, cek wilayah buat pelacakan mobil van itu."
"Oke siap. Gue tahu kok."
"Jadi, khusus malam ini, lo jangan begadang."
"Tumben nih. Biasanya malah nelpon sampai tengah malam hahaha."
"Gue suruh lo libur dulu. Besok kerja keras soalnya."
Seperti apapun Leya tertawa, tetap saja nada suara bariton laki-laki di ujung sana yang saat ini sedang menelepon Leya terdengar datar, tanpa emosi. Leya jadi penasaran, bagaimana kalau Glenn menonton drama komedi? Atau film komedi? Apa tetap akan flat? Eh... kenapa jadi terbersit pikiran tentang Glenn? Cepat-cepat Leya menghapusnya.
Tiba-tiba, Leya teringat akan hal yang diceritakan oleh Rosa tadi, "Ohiya Glenn, tadi kata Rosa, Kak Belvina nanyain lo. Gue udah tahu kak Belvina di kelas mana. Dia sekelas sama kak Raya dan kak Ansel."
"Nanyain gimana?"
"Kata Rosa gini 'Ros, kamu kenal anak baru angkatan kamu gak? Namanya kalau gak salah Glenn.' Terus Rosa bilang dia kenal dan Rosa nanyain kenapa kak Belvi nanyain lo. Kak Belvinya cuma senyum terus geleng-geleng gitu sambil bilang, 'gak papa.' Kenapa ya Glenn?"
"Hmm... gak tahu sih. Tapi gue serius gak kenal dia. Gue jadi penasaran sama dia."
"Jangan penasaran dong, ntar jatuh cinta. Hahahaha." Baiklah, mungkin ini terdengar garing karena hanya Leya yang tertawa sendiri.
"Hmm."
"Duh ketawa dong. Malu nih gue garing gini."
"Emang lo garing."
__ADS_1
"Pfttt... ohiyaaa gue baru inget. Gue ngerekomendasiin lo buat ikut Olim Fisika ke bu Andini. Lo mau gak?"
"Engga."
"Hahhaa udah gue duga."
"Yaudah, lo tidur. Biar besok bisa bantuin gue mikir. Selamat tidur, Lily Cattleya Gardenia."
Klik. Telepon dimatikan secara sepihak, sementara Leya masih termangu mendengar ucapan terakhir Glenn. Ini kedua kalinya laki-laki itu memanggil Leya dengan nama panjangnya. Rasanya ada yang berbeda.
Entah, mungkin hanya perasaan Leya saja.
"Bu Rika kok gak ada masuk ya? Udah 5 hari nih. Katanya dia hilang?"
Hal pertama yang Leya dengar di pagi hari adalah gossip mengenai Bu Rika yang hilang tanpa jejak. Bu Rika adalah guru teladan kelas XII yang menguasai bidang Biologi. Semua siswa kelas XII sangat menyukai beliau, bahkan kehadiran beliau sangat ditunggu-tunggu, terutama bagi siswa laki-laki. Tentu saja karena Bu Rika sangat cantik. Umurnya masih 26 tahun, wajar saja banyak remaja laki-laki yang jatuh hati.
Leya tidak begitu mengenal Bu Rika karena Bu Rika belum pernah mengajari siswa kelas X. Baru kali ini, Leya tertarik mendengarkan gossip. Instingnya mengatakan bahwa hilangnya Bu Rika mungkin ada hubungannya dengan pembunuhan berantai oleh Grimm.
"Ih iya, sedih banget nih. Tapi masa dia hilang sih?" tanya salah satu kakak tingkat Leya yang duduk di kursi depan kelas XII IPA 1--di samping tangga. Leya pun tertahan untuk langsung naik ke kelas atas melalui tangga.
Agar tak terlihat kentara sedang menguping, Leya bersender pada tangga sambil membuka bukunya dan mendengarkan dengan seksama.
"Duhh kangen gue sama Bu Rika. Katanya sih dia emang ngilang gitu gak ada kabar. Sejak cerai sama suaminya, dia ngontrak sendiri. Dan kemarin guru-guru pada berkunjung ke kontrakannya, tapi dia gak ada. Aneh gak sih?" Jelas gadis berkacamata, yang Leya tahu bernama Anggi, teman sekelasnya kak Raya.
"Lo tahu dari mana?"
"Itu tadi gue dikasih tahu Pak Anton."
Tok... Leya langsung berbalik badan saat seseorang mengetok kepalanya dari belakang. Hampir saja Leya memarahi siapa pun yang memukul kepalanya itu, tapi ia mengurungkan niat setelah tahu bahwa yang melakukan hal tersebut adalah Gleen.
"Lo baca buku kebalik. Lo pikir gak ada yang curiga?"
"Eh?" Leya melihat kembali bukunya, dan benar saja, bukunya terbalik. Alhasil Leya hanya cengar-cengir dan Glenn menggeleng pelan sambil berdecak.
"Hehehe gak sengaja."
"Kayaknya lo gak cocok kalau dikasih misi penyamaran. Bego soalnya." Glenn melangkah naik ke atas, dibuntuti oleh Leya dari belakang.
"Duhh gue cepet-cepet. Habisnya ada yang aneh. Katanya, Bu Rika ngilang udah 5 hari."
"Bu Rika siapa?"
"Guru terbaik kelas XII. Gue juga gak terlalu tahu orangnya sih. Tapi emang terkenal banget di kalangan kakak kelas. Gue sering berpapasan aja di ruang guru. Cantik gilaaa."
"Oh."
Leya tambah sebal mendengar jawaban Gleen, ia kemudian menarik lengan Glenn hingga laki-laki itu terpaksa menghadap Leya, "Apa?" tanya Glenn tanpa melepas cengkraman Leya.
"Lo kok ngomong 'oh' doang? Gimana kalau ternyata Bu Rika diculik psikopat itu? Gimana kalau hilangnya Bu Rika ada hubungannya sama pembunuh yang kita cari-cari itu?"
__ADS_1
"Dari mana lo bisa nyimpulin hal kayak gitu dengan mudah? Gak ada bukti yang mengarah kalau Bu Rika diculik psikopat itu. Bisa aja mungkin Bu Rika sakit atau pergi ke kampung halaman kan? Jangan suka menyimpulkan sesuatu tanpa bukti," jelas Gleen panjang lebar.
"Insting," jawab Leya sambil menghela nafas.
"Kenapa-"
"INI APAAA?!!" Teriakan itu sukses membuat Leya dan Glenn menoleh ke sumber suara bersamaan. Dari sini, Leya dan Glenn yang sudah berada di depan kelas--karena kelas Leya tak begitu jauh dari tangga--terlihat gadis berambut panjang yang sangat mereka kenal itu sedang memegang amplop dan surat di tangannya. Ia sepertinya hendak melangkah keluar kelas.
Semua orang tentu saja menatap gadis itu. Sementara, gadis itu menatap tajam ke arah Gleelnn dan Leya. "Glenn! Ini apa? Jelasin ke gue!! Ini kerjaan lo kan? Gue nemuin ini di laci meja lo!!" Ujarnya dengan nada tinggi.
Leya menaikkan sebelah alisnya, sementara Glenn tanpa basa basi langsung melangkah ke depan dan merebut surat itu. Air wajah Glenn berubah setelah membacanya, akhirnya Leya yang penasaran juga ikut mendekati Glenn untuk membaca surat itu.
Dongeng apa lagi setelah ini? Putri salju? Baiklah. Kuceritakan sedikit. Sang Ratu merebut sepatu merah milik Putri salju yang tak pernah bangun akibat apelnya. Sayangnya, sepatu merah itu akan membunuhnya sendiri. Dimana Ratu bersembunyi? Kau akan menemukannya di tempat gelap bersama raksasa Eredorroc Murref kesayangannya. Jangan terlambat! Pukul 12 siang!
\-Grimm
Leya melebarkan matanya sejenak. Grimm! Bagaimana caranya dia masuk ke sekolah sementara cctv sedang aktif? Apa ia melakukan penyamaran? Atau... bagaimana?
"Glenn... itu..."
"Glenn! Jelasin ke gue ini apa? Apa lo yang sering nyebarin surat surat gak jelas ini? Dan ini... darah kan? Lo penyebar omong kosong atau emang lo psikopat itu?" Gadis menyebalkan yang berteriak di depan Glenn itu tak lain adalah Geby. Semua orang kali ini bisa mendengarkan ucapan Geby dengan sangat jelas dan kali ini mereka semua menatap ke arah Glenn, "Jadi bener ya lo itu emang psikopat makanya masuk rumah sakit jiwa!! Ngaku gak lo?!"
"Heh! Lo ngomong apaan sih Geb?!" Leya kali ini berdiri di depan Glenn seperti hendak melindungi Glenn dari Geby. Geby pun menaikkan dagunya menantang.
"Geb lo bilang? Gue kakak tingkat lo! Gak pernah diajarin sopan santun?"
"Lo tuh gak pantes dipanggil kakak. Karena lo gak terhormat dan gak pantes dihormati. Apa dasarnya lo nuduh Glenn? Mana buktinya kalau Glenn psikopat itu hah?!" Leya mulai meninggikan suaranya.
Semua orang hanya bisa diam, tak ada yang berani melerai. Sementara Glenn, sibuk dengan pikirannya sendiri mengenai surat itu. Ia berusaha mencerna isi surat di waktu yang sedikit tidak tepat. Entahlah, ia seperti sedang berada di dunia lain. Tubuhnya berdiri di belakang Leya, namun jiwanya melayang entah kemana, sedang mencari tempat sepi untuk berpikir. Anggap saja pertengkaran Leya dan Geby seperti angin lewat di depan Glenn. Begitulah Glenn saat sedang berfikir, ia akan benar-benar fokus dan tidak mengindahkan keadaan sekitar.
"Kenapa lo belain Gleenn? Oh gue tahu, lo yang bantuin Glenn buat bunuh orang-orang kan?"
Leya mulai mengepalkan tangannya kuat-kuat. Rasanya ingin menonjok Geby sekarang juga. Glenn sendiri, akhirnya kembali ke dunia nyata. Ia memperhatikan kepalan tangan Leya yang sepertinya siap diluncurkan tepat ke wajah Geby. Ia pun menghela nafas sambil perlahan memegangi kepalan tangan Leya dan akhirnya maju berdiri di samping Leya.
Leya sempat tersentak sebentar. Ia menatap Glenn dari samping. Saat ini, kemarahan Leya seakan tiba-tiba lenyap terserap energi hangat yang masuk melalui tangan Glenn.
"Perumpamaan 'tong kosong nyaring bunyinya' ternyata bisa gue lihat sendiri di depan mata," ujar Glenn dengan wajah datar menatap Geby, kemudian ia balik menatap Leya, "lo gak mau jadi salah satu orang yang diumpamakan begitu kan Ya'? Lebih baik, lo gak usah ngeladenin hal-hal beginian. Jangan cepet kepancing emosi. Lo udah buang waktu kita beberapa menit untuk ngeladenin dia. Gak usah diheranin," jelas Glenn pada Leya. Glenn pun menarik tangan Leya kembali ke lantai 1, meninggalkan Geby yang wajahnya sudah memerah karena diperlakukan seperti itu.
"Lo kok gitu sih? Gue belain lo, tapi lo malah ngomong seakan-akan gue itu bego udah buang waktu." Leya menghempaskan tangan Glenn dengan wajah merah padam. Kali ini emosinya berpindah pada Gleen.
"Emang lo udah buang waktu," jawabnya dengan wajah datar.
"Yaudah, daripada gue buang waktu lo, lebih baik lo pikirin aja tuh semuanya sendiri!" Baru saja Leya hendak melangkah pergi, Glenn lagi-lagi menarik lengan Leya. "Apaan sih Gleen?!"
"Kok tumben lo kayak anak-anak gini? Gak biasanya begini. Biasanya lo bodoamat dan gak begitu meladeni Geby. Is this your period?" tanya Glenn.
"Gatau," jawab Leya sambil membuang wajah.
Glenn tersenyum tipis, "Gue gak butuh dibelain. Lo harusnya tahu, gue itu tipe orang yang gak peduli omongan orang. Gue udah biasa digituin. Santai aja. Justru harusnya gue yang bela lo karena Geby ikut nuduh lo yang enggak-enggak. Sorry ya Ya'. Gue kesibukan mikir, jadi gak terlalu peka. Maaf juga udah bikin lo jadi dituduh yang enggak-enggak."
Leya menyipitkan matanya, "Hari ini tumben lo banyak omong?"
"Gak boleh? Yaudahlah. Lo gausah ngambek kayak anak-anak. Ini sumpah gak tepat waktunya. Kita cuma punya waktu beberapa jam buat nyari orang yang bakal jadi korban Grimm selanjutnya."
"Terus sekolah kita gimana?"
__ADS_1
"Bolos."