Once Upon a Time

Once Upon a Time
Pengalihan


__ADS_3

"Kita bisa mancing Grimm keluar dengan buku itu," ujar Glenn tersenyum selebar mungkin, wajahnya tampak begitu bahagia, "pasti ada sesuatu dari buku itu yang bikin Grimm tadi malam masuk ke kamar Adela."


"Lo yakin kunci yang dimaksud Grimm itu buku catatan kosong Adela? Gimana kalau yang dia cari di kamar Adela itu beneran kunci?" Kata Leya sambil menyuap pempeknya.


"Kunci bukan berarti harus berupa kunci, bisa jadi sesuatu yang menjadi 'kunci' identitas Grimm. Ambil asumsi pertama buku itu. Nanti gue balik lagi ke sana buat nyari sesuatu lagi." Glenn ikut menyuap pempeknya.


"Lo masih berani ke sana ya?" Leya tidak tahu apa ia akan ikut pergi bersama Glenn lagi atau tidak. Kemarin saja ia dimarahi oleh ayahnya karena pulang malam. Belum lagi kalau ayahnya tahu bahwa anaknya sedang bermain petak umpet dengan psikopat. Bisa-bisa Leya tidak akan pernah bertemu Glenn lagi.


Glenn menghela napasnya, "Lo pasti takut, Ya'. Gue kan udah ngelarang lo ikut-ikut lagi." Glenn kali ini mengalihkan pandangannya dari pempek menuju Leya.


Leya hanya menunduk menatap pempek. Sejak kejadian kemarin, Leya jadi takut mematikan lampu kamarnya. Ia bahkan tak bisa tidur semalaman karena was was. Matanya tak bisa lepas dari pintu kamar, takut bila ada seseorang yang tiba-tiba membuka pintu kamarnya walaupun sudah ia kunci. Ia bahkan membawa palu yang diletakkan di atas nakas bila saja ada penjahat yang masuk ke kamarnya. Efek kejadian kemarin benar-benar berpengaruh besar pada psikis Leya.


"Tapi, gue udah sampai sejauh ini," balas Leya lesu. "Gak mau mundur. Gue akan ikut lo ke mana pun lo pergi."


"Walaupun ke liang lahat?"


"Glenn ah! Gue serius nih!"


Glenn menahan tawanya dengan susah payah melihat ekspresi lucu Leya. "Gak usah, lo bantu gue mikir aja," tambah Glenn.


"Tapi-"


"Woy!" Seseorang menepuk pundak Leya, Leya langsung menoleh.


"Eh, Ros. Ngagetin aja." Leya mengusap-usap dadanya yang sakit akibat terkejut. Leya jadi gampang terkejut sekarang.


"Udah lo pesenin gak gue? Gue join di sini ya. Gak masalah kan Glenn?" Rosa tersenyum pada Glenn.


"It's okay." Glenn hanya mengedikkan bahu.


"Udah Ros, bentar lagi paling datang. Btw, gimana kelas lukisnya?" Leya bertanya tanpa mengalihkan pandangannya menuju Rosa. Ia lebih fokus pada pempek di depannya.


"Aman. Ohiya, ada yang mau gue tanyain. Glenn, lo detektif ya?"


Uhuk... Glenn dan Leya bahkan tersedak pempek bersamaan. Mereka langsung terbatuk-batuk dan berusaha minum untuk menghilangkan potongan pempek yang tersangkut di kerongkongan. Rosa tertawa melihat tingkah lucu keduanya. Mereka terlihat sangat serasi.


"Gosip dari mana tuh? Ngasal aja." Justru Leya yang menyahut. Glenn masih sibuk minum.


"Gak tahu sih denger-denger aja. Eh, kok lo sih Ya' yang jawab?" Rosa menyenggol-nyenggol lengan Leya bermaksud menggodanya sambil tersenyum jahil.


"Ngawur ah, mana ada detektif anak SMA." Leya berusaha menutupi ekspresi keterkejutannya dengan ekspresi acuh tak acuh. Glenn masih belum angkat bicara. Ia malah kembali menyuap pempek mangkok keduanya.


"Glenn jawab dong. Leya sok tahu ih. Kayak pacar aja tahu semua," ujar Rosa manyun karena Glenn belum menjawab apapun.


"Bagi lo masuk akal gak?" Glenn malah balik bertanya.


"Agak gak masuk akal sih. Tapi, ya bisa aja. Kan lo jenius." Bersamaan dengan ucapan itu, pempek pesanan Rosa datang, membuat jeda obrolan selama beberapa saat.


"Dan kalian juga sering bolos. Terus kalian juga dekatin korban waktu tewas. Kayak saat Kak Ansel mati. Bukannya kabur, kalian malah sibuk memerhatikan detail tubuh Ansel. Apa Glenn beneran detektif? Terus Leya kayak partnernya gitu? Keren parahh kayak di tv tv weee." Mata Rosa berbinar-binar sambil menatap Glenn dan Leya bergantian.


Astaga, Rosa masih cukup pintar untuk memerhatikan detail seperti itu. Leya bahkan terdiam, bingung ingin menjawab apa. Ucapan Rosa bahkan seperti tak bisa dielak lagi. Rosa tak sebodoh itu.


Glenn malah tertawa kali ini. "Kebanyakan nonton tv bikin lo terlalu banyak berimajinasi," jawabnya. Hebat. Gleen bahkan tak terlihat mencurigakan sama sekali padahal jelas ia menutupi identitasnya. "Lo lihat deh jaman sekarang kalau ada orang tewas misalnya kecelakaan, sebagian bakal nelpon ambulans, sebagian lagi sibuk kepo, mendekat, bahkan foto-foto. Anggap aja gue dan Leya termasuk orang yang begitu," jelas Glenn santai. "Kami remaja yang punya tingkat keingintahuan yang tinggi."


Leya berdecak. Glenn pasti tidak bisa membuat alasan yang lebih bagus lagi karena ia sendiri tidak jago mencari alasan. Dasar Glenn. Semoga saja Rosa menerimanya.


"Tapi-"


"Glenn! Ini pasti ulah lo kan? Ngaku!!" Tak disangka-sangka sudah ada Geby berdiri di samping Leya, menghadap Glenn dengan tatapan amarah. Alfi tentu saja ada di samping Geby.


Glenn mengerutkan alisnya. Leya dan Rosa juga bingung menatap Geby.


"Ngaku aja kalau lo yang ngelakuin hal menjijikan kayak gini!!" seru Geby setengah berteriak. Geby langsung menghempaskan sebuah kotak kado berwarna coklat lusuh ke atas meja makan dengan keras. Membuat meja bergetar hebat.


"Lo kalau ngomong tuh yang jelas!" balas Leya mengangkat kepalanya, menatap Geby dari samping. Tapi, Geby tak menghiraukan Leya.


Glenn perlahan membuka kotak lusuh itu. Rosa ikut-ikut memajukan tubuhnya ingin melihat apa isi kotak lusuh itu karena penasaran. Sementara, Leya menunggu Glenn sendiri yang akan memperlihatkan kotaknya.

__ADS_1


Ekspresi wajah Glenn terlihat terkejut, kemudian ia mengambil secarik kertas berdarah di sana. Setelah membacanya, ia memberikan kotak dan kertas itu pada Leya. Leya membuka kotak itu dengan cepat. Di sampingnya Rosa menutup mulut ingin muntah. Isi kotak itu memang benar-benar menjijikan.


Seekor kodok yang tubuhnya terpotong-potong dan isi perutnya keluar dari tubuh, berceceran di dalam kotak penuh darah. Darahnya masih segar, seakan-akan kodok itu baru saja dibunuh. Leya tak masalah melihat hal seperti itu karena sudah biasa. Namun, baunya benar-benar mengganggu. Leya hanya mengambil kertas surat dan menutup kotak itu kembali.


Di samping Leya, wajah Rosa seketika pucat pasi, ia sepertinya menahan muntah.


*Oh, kau tahu sedang bermain dengan siapa. Aku jamin, pangeran kodok akan bernasib seperti itu bila kamu bermain-main denganku.


-Grimm*


Sebenarnya, Glenn cukup lega. Pertama, perkiraannya mengenai Geby yang mengetahui identitasnya ternyata salah, mungkin ia salah dengar kemarin. Tapi, apa mungkin Geby berbohong? Kedua, perkiraannya mengenai ketakutan Grimm akan 'kunci' itu benar. Dan 'kunci' itu saat ini berada di tangan Glenn. Itulah sebabnya Grimm berusaha terus memberikan ancaman. Grimm mulai takut bila kalah dengan Glenn.


Misi Glenn kali ini bertambah lagi. Mencari sang pangeran kodok dan mencari tahu apa yang ada di dalam buku kosong Adela. Glenn yakin bahwa buku itu tidak kosong seperti yang terlihat. Ada sesuatu di sana.


"Glenn! Gue ngomong sama lo!" bentak Geby kesal.


"Di mana lo temuin ini?"


"Di kelas. Heh lo belum jawab gue! Lo jangan main-main ya Glenn sama gue!!"


Bukannya menjawab, Glenn malah berlari seakan-akan terburu sesuatu. Leya menyusulnya dari belakang. Meninggalkan Rosa, Geby, dan Alfi yang menatap Gleen bingung.


"Kenapa Glenn?" tanya Leya bingung melihat Glenn sudah berdiri di depan ruangan CCTV.


"Lo harusnya tahu sebelum bertanya." Ia mengetuk pintu ruangan kemudian masuk. Akses Glenn masuk ke dalam ruangan ini untuk mengecek CCTV sangat mudah, karena pengawas CCTV merupakan bawahan Pak Rasyid.


"Glenn? Ada yang bisa bapak bantu?" tanya Bapak usia setengah baya itu ramah--Pak Agus.


"Pak, tolong cek CCTV untuk ruangan 1.1. Kelas XII IPS 1. Sekitar pukul 9-9.30 pagi hari ini."


Leya sudah bisa menebak kenapa Glenn memilih pukul itu. Pertama, darah kodok itu terlihat masih segar. Ada kemungkinan baru dibunuh sekitar beberapa menit sebelum pukul 10--waktu mereka istirahat saat ini. Kedua, pada pukul tersebut kelas Geby mendapat jadwal olahraga sehingga tak ada orang di kelas. Grimm mungkin saja menyelinap masuk.


"Apa Grimm sebodoh itu melakukan kesalahan?" tanya Leya.


"Sejenius apapun seseorang, pasti ia pernah melakukan kesalahan. Dan gue yakin, Grimm juga begitu."


"Cewek atau cowok?" tanya Leya pada Glenn.


"Cewek." Glenn terlihat yakin sekali. Dan Leya juga merasa bahwa orang itu adalah seorang perempuan. Terlihat dari bentuk tubuhnya yang kecil. Tak hanya itu, instingnya juga mengatakan bahwa orang tersebut adalah seorang gadis.


Leya menyipit ketika Glenn meminta Pak Agus memutar ulang CCTV dan memperbesar gambar gadis itu. "Maaf Pak, coba tolong perbesar di bagian logo jaket lengannya." Leya seperti mengenali logo jaket itu.


Walaupun masih tampak buram, Leya yakin pernah melihat logo jaketnya. Sebentar, bukankah itu jaket jamper anak-anak OSIS?


"Glenn. Dia anak OSIS."


"Dan dia sekelas dengan Geby."


Leya menoleh ke arah Glenn. Bagaimana caranya Glenn tahu bahwa gadis itu sekelas dengan Geby? Apa karena gadis itu mengenakan seragam olahraga? Tapi bagaimana bila ia hanya menyamar?


"Lo tahu dari mana?" tanya Leya. "Apa cuma karena dia pakai seragam olahraga? Tapi bisa aja dia nyamar. Gak ada yang tahu."


"Lo liat cara dia jalan." Glenn mengambil alih mouse dan memutar ulang cara gadis itu memasuki kelas sampai meletakkan kotak lusuh di atas meja Geby. Gadis itu memasuki kelas dengan berjalan mundur sambil was was bila terlihat oleh orang lain. Ia bahkan berhasil menghindari globe besar yang terletak di baris tengah ruangan, sejajar barisan bangku depan, tanpa melihat ke arah globe itu, seakan hapal benar letak globe itu. Barisan tengah belakang adalah barisan tempat Geby duduk.


"Dia berhasil ngelewatin globe itu tanpa menabrak sedikit pun dan bahkan tanpa melihatnya. Setelah dia ngelewatin globe itu, baru dia berjalan biasa tapi tetep menoleh ke belakang. Takut kelihatan orang. Setahu gue, globe di kelas XII IPS itu di taroh di samping meja guru. Ada kemungkinan globe habis digunakan dan belum dibalikin ke tempat asalnya," jelas Gleen.


"Bisa aja sebelum masuk kelas, dia udah lihat dari luar kalau ada globe itu. Jadi dia bisa ngindarin."


"Dia hapal letak kelas. Kalaupun seandainya lo beranggapan seperti itu, menurut gue tanpa sadar dia pasti akan tetap noleh ke globe takut kena. Sementara dia udah kayak hapal banget. Gue beranggapan bahwa globe itu sering ditaroh di situ sama guru. Dan setiap pulangan mungkin baru dibalikin ke tempatnya."


"Mungkin aja di kelas IPS yang lain juga begitu kan?"


"Oke kalau lo masih beranggapan begitu. Tapi itu masih alasan pertama gue kenapa menyimpulkan dia sekelas dengan Geby. Alasan kedua adalah karena Geby suka duduk di mana aja sesuka hatinya. Duduknya gak permanen kayak kita, tapi sesuai mood dia. Lo lihat di CCTV, setiap pergantian jam dia selalu pindah tempat duduk secara random. Gue sempat tahu waktu beberapa kali ngelihat dia duduk di tempat yang selalu beda." Glenn memutar cepat CCTV secara mundur dan memperlihatkan rekaman beberapa hari terakhir. Memang benar, Geby selalu duduk secara random.


Leya menatap kagum Glenn. Laki-laki itu bahkan bisa menganalisis hal detail dalam waktu singkat. Dan ia juga bisa menarik kesimpulan hanya dengan sekali melihatnya saja tanpa pemutaran ulang.


"Makasih Pak Agus," kata Glenn.

__ADS_1


Pak Agus tersenyum dan mengangguk. Glenn kembali berjalan cepat keluar dari ruangan. Leya membuntutinya dari belakang. Tiba-tiba...


BUKKK. Terdengar suara hempasan benda yang menghantam semen, tak jauh dari tempat mereka berada.


"AAKKKKK TOLONGGGG!!!" Pekik seorang gadis. Glenn dan Leya berlari bersamaan menghampiri gadis itu. Semua orang berlarian pula menghampiri.


Leya menutup mulutnya terkejut. Di depan gadis yang memekik itu terlihat seorang gadis yang mengenakan jaket jumper hitam dalam keadaan telungkup dengan kepala memutar ke samping. Darah merembes keluar dari kepala. Sudah bisa dipastikan bahwa gadis itu baru saja loncat dari atap sekolah di lantai 2. Mata gadis itu terbuka, ia belum mati sepenuhnya. Ia melihat ke arah Leya dan Glenn, seakan ingin berkata sesuatu dengan isyarat tangannya menunjuk ke arah mereka.


Glenn yang paham akan apa yang ditunjuk gadis itu langsung menoleh ke belakang, tapi terlalu banyak kerumunan orang di belakangnya. Ia tak tahu orang mana yang dimaksud gadis itu. Yang ia lihat hanyalah siswa-siswi yang menatap khawatir, ngeri, dan syok. Yang mana?


Glenn mendekati gadis itu, "Siapa?! Lo jangan mati dulu!" pekik Glenn putus asa. Tapi, percuma saja. Ia telah tewas.


Leya ikut mendekati gadis itu, ingin memeriksa denyut nadinya. Tapi yang ia lihat pada pergelangan tangan gadis itu adalah sebuah sobekan dari benda tajam.


Glenn segera menelepon polisi dan ambulans. Para guru juga datang menghampiri, meminta mereka jangan terlalu dekat dengan korban. Glenn menarik Leya keluar dari kerumunan itu.


"Ya', lo gak papa?"


Leya menggeleng, "Loncat dari lantai 2. Dan tewas?" tanya Leya. Glenn malah sibuk menoleh ke kanan, kiri, dan belakang seakan mencari sesuatu.


"Grimm tadi ada di sini. Di belakang kita. Dia pasti gak jauh dari sini," kata Glenn yang kemudian berlari tak tentu arah. Leya membuntuti saja dengan pikiran kacau.


"Glenn! Dia udah gak ada. Percuma lo ngejar dia begini tanpa tahu mukanya. Lo kayak nyari sesuatu yang gak ada gunanya. We have no clue!" tegas Leya.


"Arrghh! Sial. Sedikit lagi." Glenn mengacak rambutnya putus asa. Satu yang pasti, gadis di CCTV itu bukanlah Grimm. Glenn sebenarnya sudah tahu, tapi gadis itu bisa saja memberikan sebuah kesaksian. Dan Grimm ternyata lebih dulu bergerak dibandingkan Glenn.


Grimm tetap jenius. Kesalahan sekecil apa pun mampu ia tutupi dengan rapi. Glenn hampir putus asa, namun ada satu yang Grimm tak miliki. Senjata yang saat ini berada di tangan Glenn. Buku diary Adela. Dan itu adalah salah satu kesalahan Grimm yang belum bisa ia tutupi dengan rapi.


 ~~~


"Namanya Wati Rianti. Kelas XII IPS 1. Bendahara OSIS dan ia sama sekali tak punya hubungan apapun dengan Adela," jelas Pak Rasyid. "Penyebab kematiannya bukan hanya karena kepala yang bocor kehabisan darah. Sebelumnya, ia sudah kehabisan banyak darah akibat nadinya tersayat. Kemudian saat ia hampir sekarat, tubuhnya terlempar dari atas atap gedung kelas ke bawah. Masih belum bisa dipastikan apakah ini merupakan bunuh diri atau tidak. Ini keterangan yang diberikan oleh ayahmu, Glenn. Tak ada jejak atau pun sidik jari. Tubuhnya bersih. Di dalam kantong jaket sebelah kanannya terdapat pisau yang digunakan sehabis menyayat tangan kanannya. Kemungkinan, bisa dikatakan sebagai bunuh diri."


"Tidak ada surat atau catatan lain?"


"Tidak ada."


"Baik Pak Rasyid, kalau begitu terimakasih."


Klik. Telepon dimatikan.


"Gimana?"


"Mereka bisa aja mengambil kesimpulan kalau Wati bunuh diri. Tapi, gue bilang dia bukan bunuh diri. Dia secara pasrah memberikan nyawanya pada pembunuh. Tanpa perlawanan. Pasti ada sebabnya."


Leya melongo, membuka besar mulutnya bingung. "Kenapa lo nyimpulin kalau dia dibunuh?"


"Kesalahan pembunuh adalah meletakkan pisau di kantong jaket sebelah kanan, sementara secara logika kalau lo nyayat tangan kanan lo dengan tangan kiri, kemungkinan pertama adalah lo loncat dalam keadaan pisau yang masih tergenggam di tangan kiri atau kalau lo masih kepikiran buat masukin pisau itu ke jaket, lo akan masukin pisau itu di kantung jaket sebelah kiri pula, itu lebih logis. Dan kemungkinan kedua ini sedikit gak masuk akal bagi gue, karena tentu saja dalam pikiran sekacau itu saat bunuh diri, lo gak akan sempet mikirin mau naroh pisau ke dalam jaket. Dia masih sempat masukin pisau ke jaket? Buat apa?"


Glenn mengetuk-ngetuk meja belajar di kabarnya dengan jari telunjuk. Mereka memang setelah pulang sekolah langsung pergi menuju rumah Glenn untuk mendiskusikan hal ini. "Dan saat gue mendekati Wati, gue sempat ngeliat bekas penekanan benda di jari tengah tangan kanannya yang gue yakini itu adalah bekas menekan polpen. Artinya dia gak kidal. Sementara, luka sayatnya lo bisa lihat sendiri, tegas tanpa ada keraguan dan kelihatan rapi. Seakan-akan dia emang kidal, sudah biasa menggunakan tangan kiri. Tapi, dia gak kidal. Gue menarik kesimpulan bahwa Wati gak bunuh diri. Dia dibunuh." Bahkan di saat seperti itu saja, Glenn mesih sempat melihat detail kecil tangan Wati. Semakin lama, Leya semakin kagum melihat Glenn.


"Grimm bukan orang bodoh yang bisa melakukan kesalahan kayak gini. Tapi, ada kemungkinan juga Grimm yang melakukannya untuk menghilangkan saksi. Pola kematian Wati beda sama pola kematian yang selalu digunakan sama Grimm ketika membunuh korbannya. Tapi, gue masih belum bisa menarik kesimpulan apapun mengenai kematian Wati. Entah ini sebuah pengalihan atau gimana."


Glenn menempelkan foto kematian Wati di samping foto kematian Bu Rika beserta catatan kecil ciri-ciri kematian Wati. Benar-benar di luar ciri-ciri korban yang dibunuh oleh Grimm. Tanpa ada jahitan mata, tanpa surat, tanpa bunga.


"Tapi, kalau emang orang lain selain Grimm yang bunuh Wati, ya buat apa? Lebih logis kalau Grimm yang bunuh. Alasannya pun jelas, supaya Wati gak bilang siapa yang nyuruh dia naroh kodok itu di meja Geby. Sudah pasti yang nyuruh itu Grimm. Karena clue nya gak beda jauh sama clue-clue dongeng yang diberikan oleh Grimm. Ancaman itu juga gue yakin dari Grimm. Lo bisa lihat tulisan surat di dalam kotak itu gak beda jauh sama tulisan di surat-surat Grimm sebelumnya. Tegak bersambung dan khas."


Glenn terdiam sebentar mencoba berpikir, "Gue sebenarnya juga udah minta tes kemiripan tulisan orang lewat Pak Rasyid. Dan hasilnya 99% sama dengan surat Grimm sebelumnya. Tapi, entah kenapa insting gue bilang bukan Grimm yang membunuhnya. Entah apa yang terjadi. Gue masih stuck." Glenn menghela nafasnya lelah.


Leya tiba-tiba terpikir akan sesuatu. "Eh Glenn bentar." Ia bolak-balik melihat sederet korban yang sebelumnya pernah dibunuh oleh Grim, "Raya itu Ketua OSIS. Ansel anggota OSIS biasa. Bu Rika pembina OSIS. Terus kalau emang bener Wati dibunuh Grimm, dia adalah bendahara OSIS. Mereka semua ada dalam organisasi itu." Ia kemudian menoleh pada Gleen yang sedang berpikir keras.


"Apa selama ini kita salah menarik benang merah? Mengira kalau kasus ini semua ada hubungannya dengan Adela? Gimana kalau ternyata tanpa sengaja mereka memang punya hubungan dengan Adela, tapi tujuan Grimm bukan ngebalasin dendam Adela? Gimana kalau Grimm punya tujuan lain yang berhubungan sama OSIS sekolah?"


Glenn tersenyum lebar tiba-tiba, "Wati cuma pengalihan. Dan Grimm bukan pembunuh Wati. Ada orang lain," katanya mantap dan penuh keyakinan.


 ~~~


 

__ADS_1


 


__ADS_2