Once Upon a Time

Once Upon a Time
Hansel dan Dahlia Merah


__ADS_3

Tangan Leya gemetaran. Bau tak sedap menampar hidung Leya, Glenn, kakak kelasnya, dan Rosa. Sementara, Rosa dan kakak kelasnya bergerak mundur, Leya dan Glenn malah bergerak maju sambil menutup hidungnya. Terlihat bungkus coklat berserakan di ambang pintu kelas.


"Kalian ngapain? Polisi belum datang!" Glenn dan Leya tak menghiraukan seruan dari kakak kelas perempuannya itu. Mereka terus mendekati tubuh Ansel.


Ansel benar-benar terlihat mengenaskan. Kepalanya terkulai lemas di atas meja. Mulutnya terbuka dan masih ada sisa-sisa muntahan berwarna hijau dan darah yang tercampur di sana. Sisa-sisa muntahan itu terlihat mengering dan menimbulkan bau yang sangat tidak sedap. Darah di matanya dan bajunya juga terlihat mengering. Matanya terjahit, daun telinga sebelah kanannya hilang. Gleen masih berusaha meneliti tanpa menyentuh Ansel. Celana Ansel terlihat basah terutama pada bagian belakangnya.


Leya memperhatikan Glenn yang terlihat berkonsentrasi dengan kegiatannya. Kemudian matanya menangkap jempol tangan Ansel. Di sana ada bunga dahlia merah yang tertempel. Ah, bukan tertempel. Pasti dijahit. Leya menepuk bahu Glenn dengan tangannya yang tidak menjepit hidungnya. Glenn menoleh. Leya menunjuk tangan Ansel dengan dagunya. Glenn memperhatikan, kemudian mengangguk.


Leya kesulitan bernapas. Tak ada masker. Terpaksa ia bernafas dengan mulutnya sendiri. Mata Leya menyusuri tempat Ansel. Leya berjongkok, sekedar memeriksa laci meja Ansel, mungkin ada sesuatu di sana. Petunjuk mungkin? Dan benar. Ada sebuah amplop yang ujung bawahnya berwarna kemerahan. Sepertinya darah. Darah itu sudah mengering. Mungkin di dalam amplop itu ada sesuatu yang berdarah dan darahnya menembus hingga ke luar amplop. Leya mengambilnya, kemudian ia menarik lengan Glenn keluar dulu sebentar dari tempat itu karena Leya mulai tak tahan menyium bau tak sedap dari mayat Ansel. Rasanya mau muntah. Glenn hanya diam, tidak mengelak tarikan tangan Leya.


"Kalian... astaga... apa yang kalian pegang? Kalau polisi liat gimana? Kalian sama aja menghilangkan bukti ntar," ujar Rosa.


"Tenang aja Ros. Ntar kita balikin ke tempatnya lagi," balas Leya.


"Kalau sidik jari kalian disitu gimana?" tanya kakak kelas perempuan itu khawatir.


"Tenang. Gue jamin gak akan terjadi apapun." Kali ini Glenn yang angkat bicara. "Cepet buka Ya', ntar makin banyak yang datang."


Leya mengangguk dan segera membuka amplop itu. Matanya terbelalak terkejut. Rosa dan kakak kelasnya yang penasaran pun kali ini berdiri di samping Leya, ingin melihat apa yang Leya temukan.


Sebuah daun telinga dengan darah yang mengering. Ada surat juga di sana. Rossa dan kakak kelas terkejut bersamaan dan menutup mulutnya agar tidak berteriak.


"Gila, kepala gue pusing," Rosa memijat pelipisnya, "ini pembunuh psikopat banget sumpah."


Glenn merebut amplop itu dari tangan Leya, kemudian menarik surat yang ada di amplop.


Kutanya pada Hansel apa inginnya? Coklat atau penyihir. Dia memilih coklat, maka kuberikan coklat. Ah, dia kuat! Sebagai hadiah, aku berikan bunga dahlia merah.


Glenn membalik kertas kecil itu, ada tulisan yang lain.


Dia suka menguping pembicaraan yang tidak seharusnya. Ini akibatnya. Jangan suka menguping ya.


Glenn menggenggam erat surat itu hingga tangannya gemetaran. Surat itu seketika remuk. Leya merebutnya, ingin membaca surat itu. Setelah membacanya, Leya mengepalkan tangan di samping tubuhnya, ia menatap Glenn.


"Kita... harus gimana lagi?" Hampir saja Leya menangis. Rasanya ia gagal. Gagal menyelamatkan satu nyawa. Jadi... seperti ini rasanya ketika kita tidak bisa melakukan apapun? Kalah telak?


Iblis. Leya mengumpati pembunuh psikopat itu dalam hati.


 ~~~


"Bapak kemana saat kejadian itu? Kenapa tidak menjaga sekolah?!" Emosi Glenn hampir saja meledak bila Leya tak menahannya. Glenn menggenggam erat handphone yang sengaja ia nyalakan loadspeaker-nya agar Leya bisa mendengar.


"Sa-saya... anak saya... dia mengancam akan membunuh anak saya kalau saya pergi menjaga sekolah. Saya takut. Kalau saya melapor ke polisi, bisa jadi tambah membahayakan anak saya." Suara Pak Ratno--penjaga sekolah terdengar begitu gemetaran, "Maafkan saya... maaf..."


Glenn menghela napasnya kencang. Biasanya ia tak akan pernah terbawa perasaan bila sedang menghadapi kasus. Namun, entah kenapa, kasus kali ini membuatnya benar-benar emosi. Masalahnya, mungkin saja teman seangkatannya yang bisa menjadi korban. Bahkan, tidak menutup kemungkinan, Leya sendiri dalam keadaan berbahaya. Yang jelas, Glenn benar-benar harus menangkap pelaku itu dengan cepat.


Namun, sayangnya sang pelaku begitu jenius. Semua pekerjaannya sangat rapi, tidak meninggalkan jejak kecuali sebuah clue yang malah terlihat seperti omong kosong. Bukan clue, melainkan hanya pesan yang menampilkan kesombongan sang pelaku, seperti ejekan untuk Glenn sendiri.


Sialan.


"Apa bapak melihat wajahnya secara langsung? Tolong beritahu kami. Kami akan berusaha melindungi Bapak."


"Tidak. Dia menelepon saya. Tapi, yang bisa saya tangkap, dia seorang perempuan. Suaranya seperti suara perempuan."


Leya melebarkan mulutnya. Perempuan? Melakukan ini semua? Luar biasa... apa perempuan ini sangat berpengalaman?


"Glenn. Coba tanya, pas pada pulangan, Pak Ratno ada ngeliat hal yang aneh gak?" bisik Leya.


Glenn mengangguk. Ia memang ingin menanyakan hal itu.


"Pak. Ada yang aneh gak pas kita pulangan? Bagaimana dengan kunci gembok gerbang? Bapak membawanya?"


"Hemm... waktu pulang sekolah... saya gak terlalu perhatikan. Yang saya tahu, semua anak-anak OSIS ijin ingin menggunakan ruangan OSIS sampai malam. Jadi, saya berikan kunci gerbang ke salah satu anak OSIS, katanya pengganti Mas Raya. Saya lupa namanya... Ca... ca..."


"Chandra!" Potong Leya, membuat Glenn sempat tersentak. Laki-laki itu menutup mulut Leya terpaksa, menahan ocehan yang mungkin akan keluar dari mulutnya lagi. Akhirnya, Leya menjauhkan tangan Glenn, lalu memberi isyarat minta maaf dan akan mengunci mulutnya rapat-rapat dengan tangannya.


"Nah... iya namanya Chandra. Dia yang memegang kunci gemboknya. Maaf Mas, itu siapa ya? Ada orang lain ya disitu?"


Glenn mendengus. Ia menatap tajam Leya yang akhirnya dibalas cengiran lebar oleh Leya, "Bukan siapa-siapa. Itu saya."


"Suaranya seperti..."


"Jangan hiraukan Pak. Lanjut. Kapan bapak terakhir kali melihat Ansel?"


"Saya ngeliat Mas Ansel pas pulangan. Dia langsung masuk ke ruang OSIS bersama teman-temannya."


"Oh, baiklah. Terimakasih Pak. Nanti kami akan menanyakan beberapa hal lagi. Tolong berikan telepon ini pada Pak Rasyid."


Suara Pak Ratno berubah menjadi suara lain. Leya yakin, seseorang bernama Pak Rasyid itu adalah orang yang sama dengan polisi yang meminta Glenn untuk memeriksa rekaman suara Alfi.

__ADS_1


"Bagaimana?"


"Begini Pak. Kita harus mewawancarai beberapa orang lagi. Termasuk Bi Ijem dan seluruh anak-anak OSIS. Selain itu, saya juga minta rekaman suara pada wawancara dengan Geby, Kakak Kelas saya."


"Iya. Pulang sekolah nanti kami akan bawa mereka semua untuk wawancara agar tidak menghalangi proses belajar mengajar."


"Iya Pak. Sekarang, saya juga mau kembali ke kelas dulu. Terimakasih Pak atas bantuannya."


"Justru kami yang berterimakasih. Semoga saja kasus ini bisa cepat terungkap."


"Iya Pak."


Setelah itu, Glenn mematikan teleponnya. Ia menghela napas lelah. Pandangannya kali ini teralih pada Leya yang menampilkan ekspresi wajah tak terbaca. Cemas? Takut? Atau bagaimana? Entahlah.


"Ya', ayo balik ke kelas. Ohiya, satu lagi." Glenn memegangi kedua bahu Leya, "Jangan sampai satu orang pun tahu kalau lo partner gue. Bersikap seakan lo gak tahu apa-apa mengenai kasus ini. Gue butuh lo sebagai telinga dan mata gue selama di sekolah." Glenn menatap Leya begitu dalam. Leya membeku di tempat, kemudian ia mengangguk pelan.


"Kita gak usah terlalu dekat di kelas." Kalimat yang satu itu... tentu saja Leya tak bisa mengiyakan. Kenapa harus begitu? Bukankah tidak apa-apa bila mereka terus berteman? Apa yang salah?


"Kenapa? Berteman sama lo kan gak papa. Apa salahnya?"


Glenn menghela napas lagi. Ia menatap daerah sekelilingnya. Kosong. Hanya ada mereka berdua. Walaupun area belakang sekolah sangat jarang terjamah oleh siswa-siswi lain, tidak ada yang bisa menjamin tempat ini benar-benar aman.


"Orang-orang yang dekat sama gue selalu bakal kena masalah. Sebenarnya, gue agak merasa bersalah karena udah ngajakin lo jadi partner gue."


"Enggak. Gue menikmatinya. Karena lo udah maksa gue buat jadi partner lo, maka lo gak berhak buat bikin gue berhenti." Seakan-akan Leya tahu apa yang sedang dipikirkan Glenn, Leya memilih mengatakannya lebih dahulu sebelum Glenn 'memecat' Leya sebagai partnernya.


Glenn hanya mengangguk, "Yaudah. Ayo balik ke kelas. Semua orang bakal curiga kalau kita berdua telat masuk kelas."


Glenn memang sangat membutuhkan Leya. Ia anak baru di sini, jadi dirinya tak tahu lebih dalam mengenai sekolah ini dan semua siswa-siswi di sini. Leya akan berguna untuk mencari informasi di sekitar sekolah. Satu kelemahan Glenn. Ia tak bisa langsung mengakrabkan diri dengan banyak orang. Ia introvert, tertutup. Sementara Leya, memiliki kelebihan yang tidak dimiliki Glenn. Leya lebih mudah berbaur. Selain itu, gadis itu memiliki pemikiran yang sejalan dengan Glenn. Baru pertama kali Glenn menemukan orang yang sepemikiran dengannya.


Baiklah, sekarang yang harus Glenn pikirkan adalah bagaimana cara mengungkap pelaku sebelum muncul korban baru. Langkah pertama yang harus ia lakukan, permohonan pemasangan CCTV kepada Kepala Sekolah.



Leya tak bisa berkonsentrasi untuk belajar. Pikirannya entah melayang kemana. Rasanya ingin cepat-cepat pulang, mencari berbagai data, serta mendengarkan wawancara. Leya kesal karena ia dan Glenn tidak mendapatkan kemajuan pada kasus ini. Rasanya gemas sekali.



"Ya', kok sekarang kayaknya lo deket banget sama Glenn?" bisik Rosa.




"Eh, kenapa ya dijempol tangan Ansel tadi ada bunga dahlia merah? Dahlia artinya penghianat kan?" Leya yang tadinya tak berminat dengan pembicaraan Rosa kali ini menoleh ke arahnya. Darimana Rosa tahu?



"Lo tahu darimana? Kan tadi lo gak ikut masuk sama gue?" Tanya Leya curiga.



"LILY! ROSA! KALAU MAU NGOBROL ITU DI LUAR!!" Suara Bu Dini yang cetar membuat Leya terpaksa diam mematung sambil menundukkan kepalanya. Begitupula dengan Rosa. Mereka langsung bungkam.



Bu Dini kembali melanjutkan penjelasannya mengenai klasifikasi mahkluk hidup. Pelajaran yang paling Leya benci karena harus menghafal nama-nama Latin yang menyebalkan itu. Padahal belum membahas secara mendetail mengenai masing-masing kingdom. Halah bacot lah daripada hapalin nama Latin itu, mending hapalan sistem tubuh manusia.



Leya menyukai Biologi. Tapi, ia paling tidak suka bab yang membahas nama-nama Latin. Sulit dihapalkan--lebih tepatnya malas menghapalkan--dan menurutnya tidak begitu bermanfaat dibandingkan mengetahui lebih rinci mengenai organ tubuh manusia. Toh, Leya ingin menjadi dokter forensik. Tidak ada hubungannya dengan nama latin hewan dan tumbuhan. Bukan begitu?



"Gue tadi liat kok. Dari jauh keliatan ada bunga dahlia merah. Siapapun pasti liat," lanjut Rosa berbisik-bisik seakan tak kapok dengan bentakan Bu Dini.



Bener juga sih. Bunganya pasti keliatan yang paling mencolok.



"Terus lo tahu dari mana arti dahlia itu?"



"Lo lupa? Mama gue kan penjual bunga. Pastilah gue tahu begituan."


__ADS_1


"Ohhh..." Leya membulatkan mulutnya membentuk huruf O sekaligus mengangguk.



"Eh, gue sakit perut nih lagi dapet. Apa gue ijin gak masuk aja ya besok? Sakit banget gila." Pantas saja wajah Rosa pucat sedari pagi. Rupanya, gadis itu menahan rasa sakit perut.



Eh tunggu sebentar... ada yang lupa! Sepertinya Leya harus menambah daftar orang yang harus diwawancara.



"Ros! Makasih! Lo jenius!!" Leya memekik kegirangan. Tak sadar kalau masih ada Bu Dini.



"LILY! KELUAR!!!"



Eh... mampus dah...



~~~ 



"Glenn. Kita gak wawancarain orang yang gak masuk sekolah pas kejadian pembunuhan Raya? Bisa aja diantara yang gak masuk sekolah itu ada pelakunya. Kan dia tinggal kasih surat ijin gak masuk sekolah seharian, terus kalaupun diam-diam menyelusup ke dalam sekolah ya gak ada yang curiga juga karena dipikir dia gak masuk seharian." Leya menjelaskannya berapi-api, tepat setelah kelas benar-benar sepi dan hanya tersisa Glenn serta Leya.



"Pinter nih partner gue. Ohiya ya, gue gak sempat mikirin begituan. Terlalu fokus sama yang ijin di jam itu." Glenn tersenyum kemudian menepuk pelan kepala Leya, "gak salah gue milih lo."



Pipi Leya bersemu merah. Walaupun Glenn secara tidak langsung memujinya, tetap saja Leya sedikit senang. Setidaknya, Leya bisa membuktikan bahwa sebenarnya, dirinya juga bisa berguna, tentu saja.



"Yaudah, ayo kita langsung ke belakang aja. Atau lo mau wawancarain Bi Ijem langsung? Kayak ngobrol biasa gitu biar gak terkesan kayak wawancara, tapi tetep dapat info."



Leya mengangguk, "Bisa juga sih. Kayaknya begitu lebih efektif. Biasanya yang diwawancarai jadi lebih terbuka karena dia gak sadar lagi diwawancarai. Tapi, tergantung orangnya."



"Coba aja dulu. Gue juga ntar beli makanan, ikut nimbrung di situ," balas Glenn. Leya mengangguk.



Leya hendak melangkah ke luar kelas bersama Glenn. Namun tiba-tiba terdengar bunyi kaleng terjatuh. Lantas Leya dan Glenn menoleh bersamaan. Ada seorang gadis yang berdiri di ambang pintu, menatap kaget mereka berdua. Saat Glenn berusaha mendekatinya, gadis itu berlari. Leya ikut mengejar gadis itu. Apa gadis itu mendengar obrolan Glenn dan Leya? Bahaya!



Glenn berlari lebih kencang. Ia akhirnya bisa menggapai lengan gadis itu. Mencengkramnya kuat. Glenn memaksa gadis itu agar menghadap tubuh Gleen. Gadis itu menatap Glenn nanar.



"Belvina?" tanya Leya memastikan.



"Lo kenal dia Ya'?" Tanya Glenn, tapi masih belum melepaskan cengkraman tangannya.



Leya menggeleng pelan, "Cuma tahu namanya." Gadis itu malah tertawa kaku.



"Kamu... pasti lupa sama aku kan?" ujarnya tersenyum miring.



Leya dan Glenn menaikkan alisnya bersamaan. Siapa dia?


__ADS_1


 ~~~


__ADS_2