
Leya mengerjap, membuka matanya perlahan. Ketika benar-benar sadar, ia menyadari bahwa dirinya kini berada di tempat asing dengan penerangan minim. Remang-remang, namun lampu orange berdaya 5 watt ini masih membuatnya cukup sadar bahwa kemungkinan ia berada di gudang yang tak terlalu besar. Terbukti dengan banyaknya barang-barang rongsokan dan berdebu yang diletakkan di sini.
Leya terduduk dalam keadaan tangan dan kaki terikat di kursi serta mulut tertutup. Astaga... apa yang terjadi? Terakhir kali yang ia ingat adalah ketika membuka pintu ruang pertunjukan planetarium, seseorang telah berdiri di depan pintu, menariknya, dan langsung membekap mulutnya hingga... Leya lupa. Sepertinya setelah itu ia tak sadarkan diri. Yah, walaupun pasti saat dibekap Leya melakukan sebuah perlawanan, itu tetap tak ada artinya.
Disinilah Leya, dengan berbagai pikiran negatif berkecamuk hingga pemikiran terburuknya bahwa... mungkin saja setelah ini, ia tak bisa lagi melihat ayahnya. Bahkan untuk mengucapkan kata perpisahan saja sudah tak mungkin. Lalu, bagaimana dengan Glenn? Apa yang laki-laki itu lakukan? Dan... Rosa? Leya bahkan tak sempat menepati janjinya untuk menceritakan apapun pada Rosa. Ah, sial. Leya menunduk sambil menangis bila memikirkan semua ini. Apa... ia benar-benar akan mati di tangan Grimm?
Dan... benar bukan pemikiran Leya? Bahwa yang menyekapnya saat ini adalah Grimm?
"Ah, Alice... kamu sudah bangun?" Suara perempuan terdengar di belakang Leya. Bulu roma Leya seketika berdiri. Leya terdiam seketika. Suara yang rasanya tak asing. Yah, tidak salah lagi. Ini... Grimm.
Sial...
Langkah kaki seseorang di belakang Leya terdengar mendekat. Tak lama kemudian, tangan Grimm terasa membelai rambut Leya dengan begitu lembut. Tapi, justru membuat Leya semakin ketakutan. Leya masih menangis, tapi ia berusaha melepaskan ikatan tangan ini, walaupun ia tahu bahwa ini tak akan berhasil.
"Tenang saja, Alice. Sekarang belum saatnya kau mati," ia berbisik di telinga Leya, sambil perlahan menepuk pundak Leya seakan ingin menenangkan, "aku hanya meminjammu sebentar saja." Tambahnya.
Leya tetap gugup. Ia tak percaya. Jantungnya berdebar semakin cepat, terutama ketika tiba-tiba sebilah pisau muncul dari belakang tubuhnya, menyusuri lengannya perlahan. "Kamu hanya perlu diam dan mendengarkan. Aku tidak suka orang-orang yang terlalu banyak membantah, juga menyulitkan. Tadinya aku tidak berniat sama sekali mengeluarkan pisau ini. Yah, tapi hanya untuk berjaga-jaga, tidak apa bukan? Alice, jadilah gadis baik sebentar saja. Aku sudah bilang, kamu masih belum ingin kubunuh. Jadi, jangan mengubah pikiranku," bisiknya dingin. "Mengerti?"
Leya memejamkan matanya, tak menjawab. Tiba-tiba, rambutnya ditarik kuat ke belakang, "mengerti tidak?!" Tanyanya sekali lagi, namun dengan nada yang lebih tinggi. Akhirnya, Leya terpaksa mengangguk.
"Bagus. Sekarang, dengarkan ceritaku. Yah, kamu harus tahu. Selain ingin menjadi seorang 'Robin Hood' dengan versi yang berbeda, bukan dalam hal menegakkan keadilan dengan mencuri, melainkan membunuh, salah satu hal yang membuatku ingin terus membunuh adalah... ingin terlihat. Sebelum membunuh, eksistensiku tak terlalu terlihat orang lain. Itu membuatku muak. Hanya dengan bersuara, mereka tak akan mendengarkanku. Tapi, bila aku melakukan hal tak terduga, mereka baru menyadari kesalahannya dan itu sudah terlambat.
"Hmm... mungkin kamu bertanya-tanya, kenapa aku menceritakan hal seperti ini padamu? Yah, kamu pemeran favorite-ku pada cerita yang aku buat ini." Dia kembali membelai rambut Leya, mendekatkan bibirnya kembali ke telinga Leya, "anggap saja aku jatuh cinta pada karaktermu yang brilian. Kamu memang berbeda dari Glenn. Ada satu hal yang Glenn tak punya dari kamu, tak perlu kusebutkan. Dan karakter itu membuatku sadar kalau kamu tidak jauh berbeda denganku. Atau mungkin, kamu penerusku selanjutnya, Lily. Aku sampai berpikir berulang-ulang untuk membunuhmu." Dia tertawa, dan itu sangat memuakkan bagi Leya.
Gak! Gue beda dari lo!! Pekik Leya di dalam hati.
"Kamu harus tahu kalau aku berulang kali membantumu. Memberi clue bukan caraku bermain. Aku tidak suka memberikan clue. Tapi, karena kamu menarik, aku jadi menyukaimu. Tak hanya memberikan clue, aku bahkan sering menceritakan rahasia-rahasia kecil padamu. Tidak pada Glenn. Kamu hampir mengalahkanku dan itu tambah membuatku ingin memilikimu, Lily. Kamu memang tak sejenius Glenn. Tapi, kamu hampir bisa membaca pikiranku. Itu menyenangkan. Terlebih lagi, kamu gadis kesayangannya. Aku ingin lihat sehancur apa dia bila aku mengambilmu darinya. Kamu adalah kekurangan terbesarnya. Wah, ini semakin menyenangkan.
"Aku akan mengalahkan Glenn untuk kedua kalinya. Melihatnya terjatuh dan hampir gila adalah hobiku. Aku ingin menguasainya." Dia tak henti-hentinya membelai rambut Leya. "Aku ingin memberitahu sesuatu padamu, Lily. Pada akhirnya, pendongeng akan selalu menang. Karena, ia yang membuat cerita. Semua ini sudah masuk dan berjalan sempurna seperti skenarioku. Bahkan langkah kaki kalian saja mengikuti skenarioku. Aku tahu semuanya. Dan kau tahu apalagi yang akan membuatku menang? Karena aku adalah mimpi buruk kalian berdua. Dan kalian tidak akan bisa menghapus mimpi buruk. Aku bisa menjadi kalian, aku bisa menjadi siapapun. Dan itulah yang membuatku bisa menebak semua pergerakan kalian. Karena aku yang membuat alur ceritanya dan kalian tanpa sadar mengikuti alur cerita yang kubuat." Dia tertawa di samping telinga Leya.
"Aku bisa menjadi Glenn. Itu mudah. Aku bisa menjadi dirimu. Aku bisa menjadi Friska. Aku bisa menjadi Adrian. Bahkan aku bisa menjadi Dandelion. Aku memegang seluruh kenangan buruk kalian. Aku tahu semuanya. Kalian tidak bisa mengalahkanku." Dia masih terus memain-mainkan pisau itu pada lengan Leya. "Itu semua yang Grimm katakan padaku. Aku hanya pengantar pesan. Hmm ya, aku bukan Grimm. Suatu saat kau akan bertemu langsung dengannya Leya. Dan tentu saja aku belum mendapat perintah untuk membunuhmu.
"Aku hanya mendapat perintah untuk memberitahumu hal ini dan juga menyakiti saudarimu, Dandelion. Ah, dia menyulitkan. Tapi tak apa, Grimm sengaja memberikannya padamu sebagai peringatan. Seperti apapun kamu melindunginya, Grimm tetap bisa mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya. Karena, Dandelion itu milik Grimm. Dan sebentar lagi, kamu yang akan dimiliki oleh Grimm sepertiku."
Leya berusaha menarik nafasnya dalam-dalam. Ia kehilangan oksigen. Tapi, apa maksud Grimm dengan semua ini? Leya mulai takut. Ia semakin ketakutan terlebih ketika mendengar bahwa Grimm ingin memiliki dirinya.
"Tok tok tok tok... aku mendengar suara ketukan pintu. Ada tawa di luar. Lima... lima... sembilan... tujuh. Itu katanya. Kemudian, ia bersembunyi dibalik tirai. Seseorang akan datang. Sang pendongeng akan datang membawamu masuk ke dalam dunianya." Tambahnya lagi dengan bisikan yang terdengar sangat dingin dan pelan. Ia kemudian bergerak menjauhi Leya, "yang barusan itu... aku yang membuat ceritanya. Grimm tidak memintaku. Aku yang buat sendiri."
Ia sama sekali tak memperlihatkan tubuh ataupun sosoknya di depan Leya. Ia terus berdiri di belakang. Seakan-akan ia tak ingin terlihat oleh Leya. Tapi, tak lama kemudian, ia berdiri di depan Leya. Tubuhnya tinggi dengan pakaian besar berwarna serba hitam. Ia mengenakan masker dan sarung tangan. Lalu, ia menunduk. Wajahnya tertutup topi hitam. "Kita akan bertemu lagi. Semua pesan Grimm telah kusampaikan. Bila saatnya telah tiba, aku akan menjemputmu. Membawamu bertemu Grimm. Saat kamu bertemu dengannya, itulah saat-saat dimana kamu telah menjadi milik Grimm seutuhnya. Anggap saja penukaran antara dirimu dan Dandelion. Sampai jumpa!" Nada bicaranya dibuat seriang mungkin.
Leya mengepal. Sosok gadis itu menghilang dibalik pintu. Tak lama kemudian, pintu terbuka kembali. Itu Glenn dengan wajahnya yang paling khawatir. Dan tanpa bicara apapun, laki-laki itu membuka seluruh ikatan dan penutup mulut Leya. Ia memeluk Leya sekuat tenaganya.
Leya diam saja. Pikirannya berkecamuk. Ketakutan, khawatir, sedih, semua menjadi satu. Apa yang harus ia katakan pada Glenn mengenai semua ini? Mengenai... Grimm yang ingin memiliki Leya?
"Maaf gue terlambat. Leya, maaf," kata Glenn gemetar.
Leya menatap gadis yang tertidur pulas di atas kasur rumah sakit. Leya menggenggam tangannya. Air matanya jatuh. *Kak, kalau memang Leya harus ditukar sama Kakak, Leya gak papa. Kakak udah terlalu banyak menderita*. Leya mengatakan itu dalam hati. Padahal, ia masih samar mengingat wajah Kakaknya. Gadis di depannya ini memiliki wajah yang sedikit berbeda dari Dandelion yang dia ingat.
Glenn duduk di samping Leya. Sedari tadi ia terus memperhatikan Leya. Ia merasa bersalah karena membiarkan gadis itu tetap ikut ke planetarium. Untungnya, Glenn bisa dengan cepat memanggil ambulans dan langsung berlari masuk ke dalam lagi untuk mencari Leya. Anehnya, Grimm sendiri yang memberitahu keberadaan Leya. Seakan\-akan, Grimm memang belum berniat untuk membunuh Leya saat ini. Ntah apa yang dipikirkannya. Tapi, syukurlah. Glenn tak tahu apa yang harus ia lakukan jikalau ia menemukan Leya dalam keadaan sudah tak bernyawa. Mungkin ia akan hidup dengan perasaan bersalah setiap hari. Dan itu menyiksa.
Pintu terbuka tiba\-tiba. Ayah Leya berlari mendekati mereka. Wajah yang awalnya khawatir berubah bingung. "Mana Dedel?"
Leya berdiri. Begitupula dengan Glenn. Leya masih tak sanggup berbicara. Ia hanya menunjuk Dandelion dengan jari telunjuknya, serta boneka *teddy bear* coklat yang diletakkan di atas nakas.
__ADS_1
Air mata Ayah Leya tiba\-tiba mengucur pelan. "Ayah... sampai lupa wajah Dedel. Dia berubah... lebih cantik." Ia mendekati boneka itu, "tapi... Ayah gak akan lupa dengan ini..." Ayah Leya mendekati Dandelion, menggenggam serta mencium tangan dingin itu. Wajah Dandelion dan tubuhnya yang terluka telah dijahit dokter. Kondisinya saat ini memang mengenaskan. Wajahnya tak terlalu banyak luka, walaupun babak belur seperti habis dipukuli. Tubuhnya banyak luka benda tumpul. Untungnya Dandelion tak apa\-apa.
"Siapa yang ngelakuin ini ke kamu, Nak... maafin Ayah... Ayah gak pernah berhenti mencari kamu, tapi Ayah gak pernah bisa nemuin kamu..."
Tangan Dandelion bergerak. Seakan\-akan ucapan Ayah berhasil memanggilnya untuk bangun. Perlahan, matanya membuka. "Dedel!" Kata Ayah bahagia.
Ia berusaha tersenyum. Air mata bahagia jatuh mengucur di pipinya, tapi ia belum mampu mengucapkan apapun.
Syukurlah, setidaknya Leya masih sempat melihat wajah Kakaknya seperti apa.
Walaupun, mungkin setelah ini... belum tentu Leya bisa melihat wajah Kakaknya itu lagi.
"Lo gak ngomong apapun ke gue sejak lo ketemu Grimm. Apa yang lo sembunyiin sama gue?" Tanya Glenn. "Lo marah sama gue?"
Mereka duduk di taman rumah sakit. Leya tadi pagi sudah kembali sekolah, mengikuti ujian tengah semester. Begitupula dengan Glenn. Tapi, Leya memang menyadari selama seharian ini ia tak berbicara pada siapapun kecuali dengan Ayahnya. Ia bahkan belum berani masuk ke ruangan kakaknya. Aneh bukan? Padahal ia ingin sekali bertemu dengan kakaknya, namun justru ketika ia berhasil menemui kakaknya, ia malah takut berbicara. Leya hanya merasa bersalah saja dan terus bertanya-tanya, kenapa ia sama sekali tak bisa mengingat wajah kakaknya sendiri.
Seharian ini ia juga terus memikirkan kata-kata Grimm. Tak ada hal lain. Ia takut. Terlalu takut. Bahkan untuk melangkah keluar saja, ia berpikir berulang-ulang kali. Tapi, ia terus memaksakan diri agar berani berangkat sekolah. Saat ini, psikis Leya benar-benar sedang terjatuh.
"Gue... nggak. Nggak ada apa-apa kok..." kata Leya. Ia tak tahu harus memulai pembicaraan apa dengan Glenn. Ia bingung. Ia bahkan tak bisa menatap mata lelaki itu.
"I know there's something. You've to tell me." Glenn memutar tubuh Leya dengan memegangi kedua bahu gadis itu. Leya masih menunduk. Glenn perlahan mengangkat kepala Leya dengan memegangi kedua pipi gadis itu hingga mata gadis itu bertemu dnegannya, "look at me, Lily. Gue mengenal lo. Apa yang Grimm katakan ke lo?"
Mata Glenn yang gelap selalu bisa membuat Leya tenang. Matanya misterius namun teduh, tajam namun lembut di waktu bersamaan. Sorot khawatir terlihat jelas di sana.
"I'm okay. Lo gak perlu khawatir. Gue cuma mau bilang, ini bukan kesalahan lo. Gue yang ngotot mau berada di posisi ini. Ini resiko gue. Gue gak takut asalkan masih ada lo." Iya, gue gak takut. Ngeliat lo bikin ketakutan gue menghilang dan jauh lebih tenang. "Gue ngerasa bangga bisa terus bantuin lo. Grimm gak ngomong apapun kok ke gue. Dia cuma ngomong kalau dia ngasih gue peringatan dengan memperlihatkan keadaan Dedel ke gue. But, i know kita bisa nangkap dia. Lo bisa nangkap dia. I'm begging you, selesaikan kasus ini. Seandainya terjadi apapun ke gue, ini bukan salah lo. Yang harus lo lakuin adalah tangkap dia. Itu aja, Glenn."
Glenn melepaskan pelukan Leya, ia menatap mata Leya dalam, penuh kekhawatiran, "Ya', kalau sampai lo kenapa-napa karna dia, gue gak janji gak akan balik bunuh dia." Rahang Glenn mengeras, matanya memerah. Sesaat, Leya seperti tak mengenali Glenn. Glenn terlihat begitu menakutkan.
"Hey... tenang hahaha. Lo jangan sampai bunuh orang. Karena lo gak ada bedanya sama Grimm kalau lo balik ngebunuh dia." Leya menepuk-nepuk bahu Glenn. Ia diam sebentar, terlihat ragu ingin meneruskan ucapannya.
Leya menarik napas sebentar seraya mengatur detak jantungnya, "Glenn, mungkin ini bukan waktu yang tepat. Tapi, gak tahu kenapa gue ngerasa harus ngomong ini ke lo." Leya kembali tersenyum, ia kemudian memegangi kedua tangan Glenn. "I love you."
Glenn membesarkan matanya, syok. Sementara, Leya justru berdiri dari tempatnya duduk. Meninggalkan Glenn dengan air mata yang tiba-tiba menetes.
Gue takut gak sempat bilang apapun. Dan gue ngerasa harus bilang begitu sekarang. Or maybe, should i say goodbye? *Karena cepat atau lambat, Grimm akan kembali menemukan gue.
*~~~
Leya membuka pintu kamar rumah sakit. Dandelion terlihat sedang meminum air putihnya. Ayah yang membantu. "Hai sayang, kamu kenapa baru nemuin Kak Dedel?" Tanya Ayahnya.
Leya hanya tersenyum simpul. "Ayah, boleh Leya ngomong sebentar sama Kak Dedel?"
"Boleh kok." Ayah Leya langsung berdiri dari tempatnya duduk dan keluar dari ruangan. Meninggalkan Leya dan Dandelion di ruangan ini. Dedel tersenyum canggung, begitupula dengan Leya.
"Hai," sapa Dedel terlebih dahulu.
"Hai juga... long time no see." Leya bergerak duduk di kursi samping tempat tidur Dandelion.
"Not really. I see you everyday in the school. Orang mengenalku sebagai Rena. Ayah dan kamu mengenalku sebagai Dandelion." Dandelion tersenyum lirih. Ia memegangi tangan Leya, "maaf, aku baru berani datangin kalian. Aku... aku gak ngerasa pantas ada di depan kalian."
"Aku yang minta maaf, Kak..." Leya menangis, membalas pegangan tangan itu, "maaf aku ngelupain Kakak... maaf..."
__ADS_1
"Aku memakluminya. Kamu gak akan kenal dengan wajah baruku ini. Iya, ini bukan wajahku yang sebenarnya, Ya'." Dandelion membelai puncak kepala Leya.
"Maksud Kakak?"
Dandelion mulai bercerita, bagaimana ia tidak diperlakukan baik oleh keluarga asuhnya yang 'gila'. Wajahnya pernah dicelupkan ke dalam wajan berisi minyak panas di umurnya yang ke 14 tahun. Ia harus mengalami operasi plastik. Sekarang, ia diasuh oleh seorang dokter bedah. Dokter yang juga melakukan operasi plastik padanya dulu.
Leya menangis, memeluk Dandelion. Betapa keras kehidupan Dandelion. Leya terus merasakan kasih sayang Ayahnya. Tapi, Dandelion justru sebaliknya, "maafin Leya, Kak... gak seharusnya Leya ngelupain Kakak. Leya bahkan lupa apa yang terjadi pada kita berdua di kebakaran itu." Leya mendekap Dandelion semakin erat, "kak Dedel boleh ngebenci aku. Tapi, jangan benci Ayah. Dia ngehabisin waktu seumur hidupnya cuma buat nyari Kakak."
"Aku sempet ngebenci kalian. Aku ngerasa dilupain. Tapi, setiap aku ngeliat kamu, aku gak bisa benci kamu. Aku sayang kamu, Ya'. Itu udah masa lalu dan sekarang aku cuma mau memulai semuanya lagi. Memulai sesuatu yang baru dengan kalian."
Leya mengangguk. Ia perlahan melepaskan pelukannya. Dandelion menghapus air matanya, "jangan nangis lagi ya. Kan Kakak udah di sini." Dandelion tersenyum lebar.
Leya sebenarnya ingin sekali bertanya mengenai Grimm. Tapi ia mengurungkan niatnya. Leya tahu, ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya.
Tiba-tiba ponsel berbunyi. Nomor tak dikenal. "Bentar ya Kak." Leya keluar dari ruangan Kakaknya untuk mengangkat telepon. Awalnya, ia takut. Tapi, kemudian ia berusaha mengangkat teleponnya. Iya, Leya harus menghadapinya. Ia tak boleh takut.
"Halo?"
"Leya, ini Pak Rasyid. Gimana? Kamu udah ngecek berkas Glenn?"
Leya bernafas sedikit lega, "oh... belum Pak... ada apa? Apa harus benar-benar dicek?"
"Kamu cek saja. Nanti kamu akan tahu sendiri. Bukannya Bapak gak percaya dia. Tapi... entah kenapa akhir-akhir ini kepercayaan bapak padanya sedikit goyah."
"Soal dia masuk rumah sakit jiwa kan-"
"Bukan, bukan hanya soal itu. Kamu harus lihat diagnosa dari psikiaternya. Bapak juga awalnya gak tahu soal diagnosa itu. Bapak hanya mengira ia masuk rumah sakit jiwa setelah dituduh membunuh orang. Ya, kejiwaannya terganggu saat itu. Tapi, bapak tidak mengira ada yang lebih dari itu."
"Bapak ngomong apa? Dia berhalusinasi? Berimajinasi soal Grimm? Dia tidak gi-"
"Dia didiagnosa menderita gangguan identitas disosiatif."
"Apa?"
"Kali ini, dongengnya tentang Robin Hood. Kalian suka?" Rosa tersenyum manis pada seluruh anak\-anak panti asuhan yang saat ini duduk di depannya.
Mereka terlihat begitu antusias, mengangguk, tersenyum lebar sambil berkata, "Suka!!!"
Rosa tersenyum, membuka buku dongengnya. Tapi, seketika senyumnya menghilang ketika menemukan sesuatu. Sebuah surat kecil terselip tepat pada halaman dongeng Robin Hood, di dalam buku dongeng itu.
Rosa membacanya di dalam hati.
*5597.\) Robin Hood. Ya, aku versi berbeda Robin Hood. Aku tak mencuri, tapi membunuh demi keadilan. Sekarang, lihat aku. Aku tak terlihat olehmu. Mungkin di depanmu, di belakangmu, atau... di sampingmu? Lihat aku lagi.
\-Grimm*
Rosa membesarkan matanya. Seketika, ia merinding. Diambilnya ponsel, kemudian ia mengambil gambar surat itu. Dengan gerakan cepat, ia mengirimkannya pada Leya. Ia sampai lupa sedari tadi anak\-anak sedang menunggunya.
__ADS_1
Kenapa ia bisa menemukan surat mengerikan seperti ini di buku dongeng anak\-anak?