
Leya menangis. Marco menarik tangannya, bergegas keluar dari ruangan ini. Leya menangis tanpa suara, kakinya ia paksa berlari, beberapa kali ia menoleh ke arah Rosa yang benar-benar telah menutup matanya. Sementara Marco terus memegang erat tangannya, seperti tak ingin kehilangan Leya. Mereka berlari menyusuri lorong, hingga terdengar derap kaki di tangga. Marco langsung menarik Leya secepatnya ke belakang pintu yang terbuka di ruangan baru. Mereka bersembunyi di sana. Leya menutupi mulutnya kuat-kuat sambil terus menangis. Keringat mengucur, detak jantung berdegub lebih cepat.
"FRISKAA!! AAARRRRGGGHHH!!!" Teriak seseorang di sebelah ruangan. Itu suara Gilang. Leya mulai ketakutan, sementara Marco berdiri di samping Leya, membisikkan sesuatu.
"Dengarkan gue baik-baik. Setelah Adrian sampai di sini, gue akan menerjang dia dan lo lari sekuat-kuatnya. Jangan berbalik, jangan mikirin gue. Lo harus cari bantuan. Glenn meninggalkan ponselnya di bawah pohon di taman bunga Dandelion. Dia belum sempat nyalain ponsel ataupun GPS karena buru-buru datangin lo, dia lupa. Emang sebego itu dia kalau lagi under pressure, gak jalan otaknya yang jenius itu. Yang perlu lo lakukan adalah menyalakan ponsel dan GPS itu, gue yakin Ayahnya dan Pak Rasyid lagi nyariin. Lari terus, jangan berbelok. Ada pintu di ujung gedung ini. Jangan pernah berhenti. Paham? Kalau lo melakukan kesalahan, kita berdua tamat."
"Gu-gue..." Seketika tangan Leya gemetaran. Ia tak siap.
Suara derap kaki menuruni tangga menggema, bersamaan dengan suara Gilang yang menangis di ruangan sebelah, "gadis kecilku... tinkerbell ku..." katanya lirih.
"Dri... mereka melarikan diri..." kata Gilang lagi.
Adrian tak bersuara, namun setelah beberapa lama ia berkata, "mereka tidak akan berada jauh dari sini." Terdengar suara tawa kecil Adrian, "mereka tidak akan keluar dari sini, percayalah. Biarkan saja mereka berlari dulu."
Setelah itu hening. Benar-benar sangat hening. Leya masih gemetar ketakutan. Justru keheningan yang begitu mencekam ini terasa menyesakkan. Tidak ada suara. Seakan-akan Adrian dan Ayahnya memang sengaja melakukan itu.
Leya menangis ketakutan tanpa suara, badannya bergetar hebat. Marco sepertinya mengetahui itu. Ia bungkam, semakin kuat menggenggam tangan Leya yang gemetaran seakan ingin memberikan kekuatan pada Leya.
Tuk... tuk... tuk...
Terdengar suara tapak sepatu yang semakin mendekat. Marco mulai bersiap-siap. Marco menutup mata, memasang telinganya, memperkirakan jarak derap kaki itu. Ia menggunakan analisa tajamnya dengan bantuan telinga. Leya mengintip dari sela-sela pintu. Sial... Gilang mendekat.
Salah satu dari mereka akan diterjang Marco. Maka, ada kemungkinan yang satunya akan mengejar Leya. Tidak... Marco benar, Leya tetap harus berlari keluar dari sini. Apa pun yang terjadi.
Tuk... tuk... tuk...
Suara sepatu mendekati pintu. Marco semakin bersiap. Leya balik menggenggam tangan Marco penuh ketakutan. Perlahan, Marco melepas genggamab tangan itu dan...
Bukkkk... Marco mendorong pintu sekuat-kuatnya. Membuat siapapun yang berada di depan pintu terhempas dan meringis. Marco keluar dari belakang pintu dan menerjang Gilang, begitupula dengan Leya. Leya langsung berlari sekuat-kuatnya keluar dari ruangan itu. Untung saja Adrian belum terlalu menyiksa fisiknya terutama kakinya.
Leya menoleh ke belakang. Ia tak seharusnya melakukan itu. Terlihat Adrian yang hanya berdiri sambil mengulas senyum dingin, seakan ingin berkata, 'tenang saja, aku akan mendapatkanmu, kamu akan kembali padaku'. Dia kemudian berkata, "berlarilah lebih kuat Leya. Kau akan meninggalkan mayat Marco di sini."
Leya ketakutan ia berlari hingga terdengar suara Marco berteriak, "aku akan membunuh Ayahmu! Jangan sentuh Leya!!" Seru Marco.
Dorrr! Dorrr!
Seketika Leya menghentikan langkah kakinya, berbalik menatap Adrian yang berdiri mengacungkan pintolnya di depan ruangan tadi. Pistolnya berasap, jelas mulut pistol baru saja mengeluarkan bundaran logam yang meluncur cepat. 2 suara menggelegar, ada 2 bundaran logam yang berhasil meluncur.
Adrian tersenyum menoleh ke arah Leya. Leya tidak bisa melihat Marco karena Marco berada di ruangan itu. Leya mulai menangis. Tidak... itu bukan Marco... itu bukan Gleen... tidak...
Seketika kaki Leya lemas. Leya berdiri dari jarak radius beberapa meter. Kaki Leya kaku, sebagian dirinya ingin melihat keadaan Marco, terutama Marco tak bersuara lagi. Sebagian dirinya lagi... ingin berlari.
"Halo, Lily..." Adrian tersenyum dingin, ia perlahan melangkahkan kakinya mendekati Leya.
"LEYA LARIIII!!!" Pekik Marco dari dalam. Marco masih hidup.
Leya langsung berlari kencang, sekencang-kencangnya. Adrian menyusul, ia juga berlari kencang dengan langkah kakinya yang lebar. Sialan...
Napas Leya mulai tak beraturan. Pintu di gedung ini jauh sekali, sial. Akhirnya pintu itu terlihat. Leya menoleh ke belakang, Adrian masih mengejar. Leya mulai ketakutan. Pikirannya begitu takut. Hal paling utama yang ia takutkan adalah... bagaimana kalau... pintunya terkunci? Adrian tidak mungkin sebodoh itu. Ah... tidak peduli, pasti ada sesuatu di sana yang bisa membantu Leya.
Adrian masih berlari. Leya mulai kelelahan dan tiba-tiba...
Dorr...
"Aarrrgghhh..." Leya langsung terjatuh. Tidak, ia tidak benar-benar terjatuh. Kakinya... panas sekali... rasa nyeri dengan cepat mengirimkan sinyal ke otaknya. Sebelah kakinya tertembak. Sialan...
Leya menoleh ke arah kanan. Ada sebuah lorong dan ruangan besar. Leya terpaksa berbelok dan masuk ke sana dengan menyeret kakinya. Sial...
Saat membuka ruangan itu, terdapat rak-rak tinggi yang berderet di sepanjang ruangan gelap. Isi rak-rak itu seperti box-box, yang Leya tak tahu apa isinya. Mungkin ini juga termasuk gudang penyimpanan minuman keras. Berbeda dengan tempat Leya disekap yang seperti kosong--hanya tersisa box-box botol minuman keras sedikit--tempat ini justru... banyak sekali terdapat box-box seperti itu.
Ini tempat yang baik untuk bersembunyi... pikir Leya.
__ADS_1
Leya menyeret kakinya. Aargghhh... darah mengucur dari kakinya. Adrian pasti akan mengetahui tempat Leya bersembunyi. Leya tetap bersembunyi di belakang salah satu rak tinggi. Ia berusaha mengeluarkan peluru yang masuk ke belakang betis kirinya, terpaksa dengan tangannya sendiri. Keringat mengucur deras. Ia berusaha sekuat tenaga menahan pekikannya dengan menggigit ujung kain baju yang telah ia robek.
"Rrrrggghhhh..." pekiknya tertahan seraya mengeluarkan peluru itu. Ia terus merasakan nyeri yang luar biasa hingga tangannya gemetaran. Tapi sedikitpun ia belum menyentuh peluru, karena... ia tak bisa melakukan ini. Yang ia sentuh hanyalah lobang dan daging penuh darah yang teramat menyakitkan bila sedikit saja tersenggol.
*Sial... aku harus bisa...
Sekali lagi*...
Leya memasukkan tanagannya ke luka itu lagi, menahan pekikan sekuat tenaga dan... akhirnya Leya mendapatkannya... secepatnya, Leya mengeluarkan peluru itu. Ia kemudian mengikatkan kuat-kuat kain yang tadi ia gunakan untuk menahan pekikan ke lukanya. Tubuhnya seketika terasa begitu panas. Bersamaan dengan itu, terdengar langkah kaki yang menggema di ruangan.
Leya menghapus keringatnya, mengintip dari sela-sela rak. Ada kaki panjang pria di sana, terus melangkah perlahan. Leya menekan lukanya, perlahan-lahan ia berpindah tempat untuk menghilangkan jejak, setidaknya darah bisa sedikit ditahan untuk keluar, walaupun nyeri sekali. Jadi, jejak tetesan darah yang tadi terdapat di lantai, ia biarkan saja, yang penting ia bersembunyi di sela rak lainnya.
Tuk... tuk... tuk..
Suara langkah kaki Adrian menggema. Leya sudah tidak bisa berpikir lagi selain bersembunyi. Kakinya sakit, ia tak bisa berlari lebih cepat seperti tadi. Aaarrrggghhh... apa yang harus ia lakukan?
Leya bernapas tak karuan, kakinya masih terasa sakit dan panas, keringat mengucur deras. Adrian mulai berbicara.
"Hari itu... 18 Desember... hari ulang tahun adik tercintaku, Lili Cattleya Gardenia. Aku memberinya kalung dandelion, bunga kesukaanku..." kata Adrian seakan-akan ia adalah Dandelion.
Refleks, Leya menggenggam erat kalung dandelionnya. Ia menggigit bibir bawahnya.
"Itu juga hari terakhirku melihat Ayah, Ibu dan Leya, adikku. Mungkin... keberadaanku tak diharapkan. Itulah sebabnya Leya ataupun Ayah melupakanku. Beberapa kali, aku melihat mereka dan selalu saja bersembunyi. Aku tahu, aku memang tak diharapkan ada."
Leya menutup mulutnya, air mata kembali keluar deras. Mendengar ucapan Adrian, membuatnya teringat lagi akan Dandelion. Kenapa... kenapa harus Dandelion yang mengalami ni? Kenapa... harus ia yang meninggalkan Dandelion?
Tuk... tuk... tuk...
"Aku tidak pernah percaya akan dongeng yang berakhiran bahagia, Lily. Karena... aku tidak pernah merasa bahagia," jelas Adrian. Leya tetap bersembunyi.
"Tapi... suatu hari... aku hampir percaya pada dongeng berakhiran bahagia, terutama setelah bertemu Adela, atau... Dandelion, kakakmu."
Tuk... tuk... tuk...
Leya mengalihkan pandangannya menuju pintu ruangan. Sial, dia semakin jauh dari pintu. Tapi, ia bisa pelan-pelan melangkah ke luar dari rak ini. Lantas, bagaimana ia akan berlari tanpa tertangkap? Leya berpikir cepat.
Tung... tung... Adrian menghantupkan ujung pistolnya ke kerangka besi rak hingga suara yang ditimbulkan menggema di seluruh ruangan.
"Kamu itu adik laknat. Kamulah sumber seluruh masalah Dandelion. Kamulah sumber kematian Dandelion. Seandainya... kamu tidak meninggalkannya, semua ini tidak akan terjadi."
Buk... sial... lengan Leya terhantup kerangka rak.
DORRR!
Leya menghentikan napasnya. Hampir saja ia terkena peluru itu, untung ia berpindah tempat lagi. Sialan... Adrian menggunakan pistol.
Leya sudah berada di tempat barisan terakhir rak. Ia benar-benar harus berlari cepat keluar dari sini. Leya masih bersembunyi ketakutan. Kemudian, sebuah ide datang. Ia bisa menjatuhkan rak-rak ini ke tubuh Adrian. Ah bodoh... mana bisa... rak ini terlalu berat! Mungkin beratnya bisa ber ton-ton. Tidak ada cara lain, ia harus bisa berlari keluar.
"Aku tahu kamu berada di sana, Lily. Keluarlah. Biar kuceritakan, apa saja yang Adela katakan padaku."
Tuk... tuk... tuk...
Suara semakin mendekat. Leya masih berusaha berpikir keras, bagaimana caranya ia bisa berlari keluar dari sini tanpa harus takut ditembak Adrian. Leya... apa ia harus menerjang Adrian? Dari fisik saja, jelas ia kalah...
Seketika... ia teringat oleh Marco. Kenapa... Marco tidak datang? Apa... ia tertembak? Apa... itu teriakan terakhirnya? Kalau Marco tertembak, bukankah... akhirnya... Gleen juga ikut tertembak? Tidak... Leya menggelengkan kepalanya... ia tidak mau itu terjadi.
Leya menggenggam erat kalungnya, ia memejamkan mata. "Kak... maafin Leya... Leya sama sekali gak berniat ninggalin Kakak... Leya... apa Leya harus menyerah sekarang? Apa... kita akan bertemu lagi?"
Leya meneteskan air matanya. Senekat apapun, ia tidak akan bisa selamat selama Adrian masih hidup. Seandainya ia bisa keluar dari sini, tetap saja... Adrian pasti akan mengejarnya.
Tung... tung... tung...
__ADS_1
Suara pistol yang diketukkan ke besi kerangka rak semakin terdengar mendekat. Leya menarik napasnya. Ia menyeret kakinya berusaha menuju ke arah keluar dari deretan ini. Ini gila... tapi... ia tidak boleh menyerah.
"Lily? Aku berjanji akan mati, tapi kita mati bersama. Agar kita bisa bertemu Dandelion. Friska telah mati, Ayah juga kutembak mati saat bersama Marco tadi. Dan... Marco sekarat. Jadi, lebih baik kita mati bersama di tempat ini."
"Adrian." Adrian menoleh, dari sini tak terlihat siapa yang memanggilnya, tapi Adrian cukup hapal dengan suara itu. Glenn bertelanjang kaki.
Hampir saja Adrian menemukan Leya, tinggal selangkah lagi, tapi suara Glnen menghentikannya.
"Aku yang bermasalah denganmu."
Glenn? Pikir Leya. Leya mengintip, benar. Ada Glenn di sana, berdiri di dekat pintu. Ia memegangi tangan kirinya yang berdarah, sepertinya... itulah sasaran tembak Adrian. Rupanya... Adrian tak ingin langsung membunuh Glenn.
Entah... Leya tak pernah tahu apa yang Adrian pikirkan.
Tuk... tuk... tuk... Adrian keluar dari barisan rak. Ia tersenyum miring ke arah Glenn. Tangan kanannya memegangi pistol. "Aku memang sengaja tak langsung membunuhmu. Karena, aku ingin membunuh Glenn. Bukan Marco. Yah, walaupun kalian sama-sama menyebalkan." Adrian tersenyum miring.
"Kau ingin aku mati? Maka bunuh saja aku. Siksa aku sepuasmu, tapi jangan sakiti Leya. Dia tidak mengerti apapun. Saat itu, ia masih terlalu kecil. Ia belum mengerti kenapa ia meninggalkan Dandelion." Glenn berhadapan dengan Adrian dengan wajah yang tak berekspresi. Tidak... ini adalah wajah pasrah.
"Aku menyerahkan diriku, tapi tolong lepaskan Leya. Aku yang membuatmu menjadi monster, Dri."
Glenn melangkah mendekati Adrian dengan langkah kaki terseok-seok. Kepalanya berdarah, wajahnya lebam. Leya hanya bisa menangis tanpa melakukan apapun.
Kemudian, Leya melihat box yang terdapat di rak. Ia membukanya perlahan. Ternyata... masih ada botol-botol kaca di sana. Leya mengambil satu botol.
Adrian tertawa kecil, "aku memang berniat mati bersamamu, Glenn. Ah tapi aku mengurungkan niat. Aku ingin gadismu gila, melihatmu mati di tanganku."
"Dia tidak akan jadi gila." Glenn tersenyum lembut, "karena seandainya aku mati sekarang... aku akan tetap melihatnya dari atas sana, dari kejauhan. Akan ada laki-laki yang membahagiakannya, lebih baik dariku. Dan aku percaya... dia tidak akan gila. Karena... sekarang dia akan tahu bahwa aku juga mencintainya. Bahkan sampai aku mati. Dia akan selalu hidup dengan cintaku, walaupun seandainya ragaku tidak bersamanya."
Leya menahan tangisnya. Air mata meluncur pelan.
"Aku mencintainya tulus. Bahkan mungkin sebelum dia menyadari bahwa dia mencintaiku. Aku hanya... tidak ingin bahaya menyertainya, seandainya dia tahu jika aku mencintainya. Karena... hidupku sungguh berbahaya." Glenn melangkah semakin mendekati Adrian. "Dan... aku juga mencintaimu Dri, sebagai kakakku. Juga Friska... aku selalu mencintai kalian."
"BOHONG! PEMBOHONG!!" Pekik Adrian, "KAMU BAHKAN MELUPAKAN AKU DAN FRISKA!!!" Serunya penuh amarah.
"Otakku melupakan kalian. Tapi hatiku tidak pernah. Aku menyayangi kalian, karena kalian keluarga pertamaku."
Adrian menodongkan pistol ke arah Glenn. Glenn berhenti melangkah.
"Aku tidak percaya mulut busukmu sedikit pun, Glenn. Kamu hanya penipu."
"Bunuh aku Dri, jika kamu akan merasa puas. Tapi... tolong lepaskan Leya. Kamu harus tahu bahwa Dandelion teramat mencintainya. Kalau kamu membunuhnya, Dandelion akan kecewa."
"DIAAAAMMM!!!"
PRANG!!!! Adrian terjatuh, pistolnya terlepas dari genggaman, tapi tangannya masih mampu menopang tubuhnya. Ia menyentuh kepalanya, berdarah. Ia menoleh ke belakang. Ada Leya yang gemetaran sambil memegangi botol yang pecah.
"SIALAN!!!" Adrian baru saja hendak menarik kaki Leya, tapi Glenn lebih dulu menerjangnya.
"LEYA!!! LARI SEKARANG!!!!" Seru Glenn yang bersusah payah menahan Adrian. Adrian seperti orang kerasukan. Ia berusaha menjauhkan tubuh Glenn yang menindih tubuhnya. Adrian berhasil. Ia baru saja ingin mengejar Leya, tapi kakinya dipegangi oleh Glenn.
"Glenn..."
"LARI!!!" Seru Glenn lagi.
Leya terpaksa berlari sambil menyeret kakinya yang begitu nyeri. Ia menoleh ke belakang. Terlihat wajah Glenn yang kesakitan karena tangannya yang memegangi kaki Adrian, diinjak-injak keras oleh kaki Adrian yang bebas. Glenn berhasil menarik kaki Adrian lebih kuat hingga akhirnya Adrian terjatuh. Mereka bergulat.
Itu yang terakhir kali Leya lihat. Wajah Glenn yang menahan rasa sakit. Wajah Glenn yang tersenyum lembut ketika berkata bahwa ia mencintai Leya. Leya menangis, menangis sejadi-jadinya. Terutama ketika ia mendengar pekikan suara Glenn.
Dan setelah itu...
DORRR!!!
__ADS_1
Suara yang terakhir kali Leya dengar. Leya menangis sejadi-jadinya.