
Leya menghapus kasar air matanya. Ia meminta izin pada Ayah Glenn agar ia bisa menginap semalam di kamar Glenn untuk melepas rindu dan ia diizinkan.
Sepi. Leya menangis sendirian di kamar ini. Pukul 1 malam. Ia terbangun akibat mimpi itu. Mimpi yang sebenarnya adalah reka ulang bagaimana Glenn mengucap kata-kata terakhirnya pada Leya. Ia harap mimpi itu adalah kenyataan, namun ia salah. Itu hanyalah mimpi.
Kadang, Leya berharap yang nyata hanyalah mimpi dan yang mimpi adalah kenyataan. Namun sayang... itu hanya harapan belaka.
Leya rindu Glenn. Sangat rindu. Ia duduk di samping kasur. Memperhatikan seluruh keadaan kamar ini. Dulu, ia takut berada di kamar ini, sekarang... ia justru menyukai kamar ini.
Leya menutup matanya, bayang-bayang Glenn terlihat lagi. Bagaimana laki-laki itu memeluknya, menggenggam tangannya, melindunginya, mengecup keningnya, dan bagaimana gelap mata itu selalu membuat jantung Leya berdetak tak karuan. Leya berharap ia masih bisa mendengar helaan nafas laki-laki itu saat laki-laki itu mendekapnya atau mungkin di saat paling konyol saat mereka berhimpitan di sela-sela rumah karena bersembunyi setelah membolos. Leya tertawa kecil. Konyol, namun ia rindu.
"Lo jahat Glenn... lo ninggalin gue..." katanya berbisik seakan-akan Glenn berada di sini dan mendengarnya.
Leya menolehkan kepalanya ke arah nakas. Entah apa, namun ada sesuatu yang mendorongnya dan mengatakan padanya untuk membuka laci nakas. Terlihat sebuah buku catatan di sana. Sepertinya buku catatan Glenn. Leya membuka buku catatan itu perlahan. Di halaman pertama tertulis nama Glenn.
"Glenn Warren Rajendra..." desis Leya seakan memanggil nama Glenn. Tak ia sangka... ia akan sangat mencintai laki-laki menyebalkan dan aneh seperti Glenn. Tapi... Leya tahu, Glenn memang pantas dicintai.
Air mata Leya menetes, terutama ketika ia melihat tulisan milik orang yang ia rindukan itu.
Isi buku-buku catatan Glenn hanyalah detail-detail kasus dan dugaan-dugaannya tentang Grimm. Ia juga menuliskan potongan-potongan mimpi yang sebenarnya adalah kenangannya semasa kecil bersama Adrian.
Leya menangis. Membacanya membuat Leya semakin mengerti bagaimana tersiksanya Glenn selama ini.
Leya sampai pada halaman pertengahan. Terdapat pembatas merah di sana. Di halamannya tertulis sebuah kalimat di tengah lembaran.
Gadis itu setulus Lily putih. Semempesona Cattleya. Secantik Gardenia.
Tangan Leya gemetar. Ia takut air matanya akan tumpah ketika membaca lembar selanjutnya. Tapi, ia harus tetap membacanya.
Nama dia Lily Cattleya Gardenia. Kenapa lo nulis ini? Lo takut melupakan dia, seperti lo melupakan Adrian dan Friska. Lo gak mau kenangan lo bersamanya diambil alter-alter lo. Seandainya begitu, bacalah tulisan ini, lo akan ingat.
Ya, lo yang menulis ini, Glenn. Lo harus selalu ingat kalau dia adalah cewek pertama yang lo cintai, cewek pertama yang mengubah hidup lo seutuhnya, yang bikin hidup lo gak sebatas berbahaya, tapi juga indah. Ya, dia indah, Glenn.
Leya seindah mimpi, tapi dia nyata, dan dia ada di depan mata lo. Sekali lagi, lo lebih memilih diam. Bukan karena lo benci dia yang terlalu membuat lo kehilangan logika, tapi... karena lo selalu ingin melindungi dia. Dia pun jadi kelemahan terbesar lo.
Dia seperti obat yang Tuhan berikan ke lo di saat lo terluka. Lo takut jauh dari dia. Lo takut melepaskan dia. Lo gak akan pernah sanggup membuang obat itu.
Ya... lo segitu ketergantungannya terhadap dia.
Lo harus ingat bagaimana candunya lo melihat senyum dia yang secerah matahari pagi. Lo harus ingat bagaimana suaranya selalu membuat lo tenang seperti suara ombak laut. Lo harus ingat bagaimana keberadaannya selalu membuat lo merasa kalau dia selalu ada bersama udara yang selalu lo hirup. Dia seceria itu, dan itu yang membuat lo terikut bahagia berada di dekatnya. Lo harus ingat bagaimana air matanya selalu membuat lo ikut terpuruk dan merasa bahwa lo seharusnya lebih baik jagain dia.
Dia bagian dari cerita hidup lo. Lo gak boleh lupa. Dia bagian terindah dalam hidup lo selain Ibu dan Ayah.
Lo sempat menolak keberadaannya. Tapi seperti ombak laut, dia selalu menghempas batuan di pinggir laut hingga batuan pun hancur. Ya, lo adalah batuan itu. Hati lo sekeras batu dan dia seperti ombak laut.
Lo bingung apa ini benar-benar cinta? Atau lo cuma candu? Lo memilih menghindarinya. Tapi... ada rasa hampa ketika lo sehari gak bersama dia. Kehadirannya seperti candu buat lo. Lo kecanduan dia sekaligus mencintai dia. Sampai-sampai dengan bodohnya lo kehilangan logika bila memikirkan dia. Logika lo gak pernah jalan kalau menyangkut tentang dia.
Lo benci cinta.
Cinta hilangkan logika.
Tapi lo juga suka cinta.
Cinta bikin lo jadi manusia.
Cinta bikin lo tetap waras.
Dan cinta lo adalah Leya.
*Lo ingin menghentikan waktu. Lo ingin menggenggam tangan dia lebih lama lagi, lo ingin memeluk dia lebih erat lagi, dan mengecup keningnya lebih lama lagi. Tapi... sampai sekarang lo belum sempat membuat dia bahagia. Semoga lo gak lupa sama mimpi lo yang satu ini, membuat dia bahagia.
Jadi... setelah lo membaca ini, apa lo ingat lagi tentang dia? Apa lo bisa merasakan lagi rasanya jatuh cinta pada dia*?
-Glenn.
Leya menutup mulutnya. Ia menangis dalam keheningan malam. Ia tidak menyangka sebesar itu rasa cinta Glenn padanya.
Leya membuka lembar selanjutnya.
*Kalau lo selalu merasa hilang dan hampa, mungkin saat ini lo melupakan Leya. Coba perlahan lo ingat lagi dia. Buka kenangan indah lo bersamanya.
-Glenn*
__ADS_1
Ada foto Leya di sana. Foto-foto candid yang ditempel di buku itu.
Ini cewek itu. Lily Cattleya Gardenia. Lo gak boleh lupa.
Selesai. Tidak ada tulisan apa-apa lagi di kertas itu. Leya memeluk buku catatan itu. Ia menangis di tengah malam seperti ini. Ia semakin rindu.
Glenn... kenapa gue makin rindu?
Leya membuka matanya. Kenapa berada di sini? Leya berdiri di jalan menuju taman dandelion. Dari kejauhan, ia bisa melihat seorang lelaki jangkung berjaket hitam berdiri di bawah pohon besar di tengah taman dandelion. Ia berdiri membelakangi Leya.
Angin berhembus lembut meniup benih\-benih dandelion. Air mata Leya menetes lembut. Bahkan tubuh belakang laki\-laki itu saja sangat dihapal oleh Leya. Leya perlahan melangkah mendekati laki\-laki itu. Dia masih menangis tanpa suara. Suara hembusan angin meramaikan tempat sunyi ini. Leya semakin melangkah mendekat. Dengan ragu, ia menyentuh punggung laki\-laki itu.
Laki\-laki itu menoleh.
Dia tersenyum manis sambil membalik tubuhnya menghadap Leya. "Hai," sapanya tersenyum lembut.
Leya semakin menangis. Tak sanggup berkata\-kata.
Senyum laki\-laki itu menghilang, ia menghapus air mata Leya. Tapi, Leya memalingkan wajahnya, ia marah. "Setelah lo ninggalin gue, lo kembali cuma bilang hai? Lo jahat," katanya.
"Maaf, Ya'..." katanya setengah berbisik. "Maaf karena ninggalin lo."
"Gue benci lo, Glenn."
"Kan gue udah bilang. Gue terima kalau lo benci gue. Tapi... lo jangan kayak gini. Kalau membenci gue bisa membuat lo bahagia, maka bencilah gue sepuas hati lo."
Leya bungkam. Ia selalu tak bisa berkata apapun. Padahal banyak sekali yang ia ingin katakan, tapi hanya suara tangisan yang keluar dari mulutnya.
"Ini pilihan gue. Tolong hargai, Ya'. Bukan berarti gue gak sayang sama lo. Justru, gue sayang banget. Tapi.. lo harus mengerti kenapa gue ngambil pilihan ini."
Glenn mengusap lembut rambut halus Leya, "gue gak punya waktu yang banyak. Gue kesini cuma pengen meluk lo untuk yang terakhir kali." Dia memejamkan matanya, sebutir air mata juga jatuh dari pelupuk matanya, "dan karena gue rindu."
"Gu\-gue juga rindu lo Gleen... gue tersiksa se\-setiap hari karena lo ninggalin gu\-gue..." kata Leya terbata\-bata.
"Maaf Ya' karena gue cuma bisa menorehkan luka di hati lo, sementara gue sendiri gak pernah bisa mengobatinya." Glenn melepaskan pelukannya, "maaf karena gue gak bisa berada di samping lo lagi atau ngelindungi lo lagi. Lo harus percaya, akan ada lelaki yang lebih kuat dari gue yang akan melindungi lo."
Leya menggeleng, "gue gak mau sama yang lain selain lo!"
__ADS_1
"Lo gak boleh ngomong gitu." Glenn menghapus lagi air mata Leya, "lo cewek yang kuat, dan gue yakin lo bisa hidup tanpa gue."
Angin masih berhembus lembut. Langit terlihat cerah, namun entah kenapa... Leya justru merasa langit teramat mendung?
"Ya'. Gue cinta lo. Dan seperti yang gue katakan, *I'm yours, all my heart is yours*..." Glenn menutup matanya, mendaratkan bibirnya ke kening Leya. Ini benar\-benar terakhir kalinya.
Setelah itu, ia mundur. Ia menggenggam tangan Leya, tapi lama kelamaan dia mundur, perlahan melepaskan genggaman tangan itu. Leya menangis kembali, mencoba menggapainya, tapi tangan Glenn seakan\-akan tak bisa diraih lagi. Tangannya seperti udara, tembus dari pandangan.
"Glenn... *please* jangan tinggalin gue... tolong Glenn... sekali ini aja kabulin permintaan gue. Gue butuh lo."
Tubuh Glenn lama kelamaan menghilang seperti benih dandelion yang terbawa angin, "bertahan hiduplah. Aku mencintaimu."
Setelah itu hilang. Leya terduduk menangis sendirian sambil menutup matanya.
Leya kembali membuka matanya. Ia tertidur di atas kasur Glenn dengan sisa\-sisa air mata yang membanjiri pipinya sambil memeluk buku catatan Glenn. Ia duduk dari posisinya terbaring, memeluk buku itu semakin erat.
Itu mimpi. Leya berharap bertemu dengan Glenn adalah sebuah kenyataan.
*Glenn... lo lah mimpi yang sulit gue gapai. Bahkan, gak akan pernah gue gapai. Gue kehilangan lo, bahkan sebelum gue memiliki lo*.
I'm yours, all my heart is yours.
Leya menutup matanya, merasakan angin menerpa wajahnya. Ia menghirup udara dalam-dalam. Merasakan kerinduan yang memenuhi relung hatinya, berharap di setiap partikel suara angin itu ada suara laki-laki itu. Suara Glenn. Suara yang paling ia rindukan.
Sebutir air mata menetes, namun ia tersenyum. Ia merasa laki-laki itu ada di sini, sedang mendekapnya erat bersama angin. Sunyi, hanya ada suara angin, tapi itu menenangkan. Benih-benih bunga dandelion beterbangan, ikut menari bersama angin.
Setiap rindu, Leya akan pergi ke sini, sekedar diam menutup mata di bawah pohon besar di tengah taman dandelion. Ia akan selalu merasa setenang itu, rindunya selalu terasa terbebas bersama angin.
"Hai, gimana kabar lo sekarang? Baik-baik aja kan?" Bisik Leya pada angin, "ternyata... gue masih merindukan lo sampai saat ini. Tapi... lo gak perlu khawatir, gue selalu merasa kalau cinta lo selalu membuat gue teramat tenang." Leya tersenyum, "makasih telah mengajari gue segala hal. Kalau semua ini adalah jalan terbaik, Glenn. Gue sayang sama lo."
Angin berhembus lagi, seperti menjawab ucapan Leya. Merdu. Sejak saat itu, setiap mendengar suara angin, Leya selalu merasa bahwa suara angin itu terdengar merdu seperti suara helaan napas Glenn.
Sudah 3 bulan sejak kepergian Glenn, 3 bulan setelah Leya bermimpi menemui Glenn, dan Leya masih sering ke tempat ini. Paling tidak setiap minggu. Tempat ini adalah saksi bisu insiden mengerikan itu. Saksi bisu perpisahannya dengan Glenn dan Rosa. Dua orang yang paling berarti dalam hidupnya setelah Ibunya dan Dandelion.
Leya belajar caranya melepas setelah keterpurukan menghantuinya. Ya, ia benar-benar teramat berantakan selama 3 bulan itu. Ia hancur. Tapi, Ayah Glenn dan Ayahnya selalu menguatkan. Setidaknya, ia masih punya orang-orang yang mencintainya.
Selama 2 bulan lebih, Leya hidup uring-uringan. Tidak bersemangat. Malas makan hingga tubuhnya semakin kurus, ia juga lebih sering membolos. Ia selalu merasa sendirian dan sering menangis, setiap hari.
"Cukup egois kalau kamu menginginkan Glenn tetap hidup dalam penderitaan. Dia akan merasa bersalah seumur hidup setelah kematian Adrian dan Friska. Dia akan terluka seumur hidupnya," kata Ayah Glenn waktu itu. "Om juga sangat merasa kehilangan. Tapi... coba kamu bayangkan bagaimana rasanya kehilangan seorang istri dan juga anak angkatnya? Om pernah membenci Glenn. Tapi, setiap melihat wajahnya, Om selalu teringat lagi oleh Bunga. Dan di saat itu pula, rasa benci itu seakan luntur. Om mencintai Glenn. Dan tentu saja Om begitu hancur ditinggal olehnya."
Ayah Glenn juga terpuruk, sama seperti Leya. Tapi... satu yang Leya sadari, ia sangat tangguh. Ia masih bisa tersenyum bahkan dengan wajahnya yang teramat kusut. Dan dari situ... Leya belajar melepaskan. Ya, ia merasa sangat egois bila ia ingin Glenn tetap tersakiti seumur hidup. Maka... ini adalah jalan terbaik. Mungkin, Glenn bukanlah happy ending-nya. Tapi, Glenn akan selalu menjadi first love-nya.
"Glenn akan merasa sangat tenang di sana. Kalau kamu terus seperti ini, ia tidak akan pernah merasa bahagia. Apa kamu ingin dia juga merasa sedih?" Lagi-lagi Leya terdiam mendengar apa yang diucapkan Ayah Glenn. Persis seperti ucapan Glenn sebelum kepergiannya.
Glenn memilih menyerah. Ia memilih membawa pergi seluruh kenangan buruknya dan membawa pergi kenangan terindahnya malam itu bersama Leya.
Leya memeluk dirinya sendiri. Air mata menetes lagi. Membayangkan bahwa Glenn saat ini memeluknya, mengecup keningnya seperti dulu. Leya tersenyum, jika ia bisa mengulang waktu, ia akan menggenggam tangan Glenn lebih lama, mendekap Glenn lebih lama lagi, membiarkan Glenn mengecup keningnya lebih lama. Ia tidak akan meragukan Glenn sedikit pun. Terkadang, ia merasa begitu menyesal karena sempat meragukan Glenn dan menjauhinya. Ia menyesal.
"Glenn... ternyata lo juga mencintai gue, lebih dari yang pernah gue bayangkan. Makasih Glenn... makasih... gue juga sangat mencintai lo. Makasih udah membuat gue menjadi cewek terakhir yang lo cintai. Gue merasa teramat beruntung."
Leya tersenyum. Ia menggenggam kalung dandelionnya. Ia mengambil sebuah benih dandelion dari kalung itu, kemudian meniupkannya ke udara. Ia menutup mata sambil tersenyum.
__ADS_1
Gue harap lo selalu bahagia di sana. Gue juga akan berusaha bahagia di sini.
-TAMAT-