Once Upon a Time

Once Upon a Time
Marco


__ADS_3

"APA?!" Rosa membesarkan matanya tak percaya. Leya langsung menutup mulut Rosa, kemudian terkekeh canggung pada supir Rosa. Leya mendelik.


"Bisa gak sih gak lebay?" Leya menghela nafasnya. Cukup merasa risih bercerita semuanya dari awal pada Rosa sambil berbisik-bisik agar supir Rosa tak perlu mendengar dengan jelas.


"Lo suruh gue gak lebay buat cerita segila ini? Ih sumpah ya Ya'... lo tuh jahat baru ceritain gue yang bombastis begini. Ya walaupun gue rada gak percaya sih. Tapi jadinya percaya abis ngeliat muka lo yang seserius itu..." Wajah Rosa masih terlihat syok. "Tapi serius Ya', mulai sekarang gue bakal bantuin lo dengan segenap jiwa raga gue." Dengan wajah penuh penghayatan, Rosa meletakkan tangan kanannya ke dada kiri seakan-akan sedang bersumpah.


"Alay anjir." Leya menjitak kepala Rosa sambil terkekeh, "maaf ya... gue baru cerita. Gue cuma takut lo kenapa-napa setelah tahu semuanya. Dan sekarang, gue malah bingung kenapa gue ceritain ini semua ke lo. Gue cuma... lagi butuh banget temen cerita..." Leya menundukkan kepalanya menyesal.


"Its okay, gue ngerti. Udah kejawab kenapa lo sibuk sendiri sama Glenn. Dan gue ngerti banget posisi lo. Justru gue bangga Ya' jadi temen lo. Eh yang ini gak lagi becanda loh ya... gue serius. Kalau lo butuh bantuan apapun, lo bilang aja. Gue sebisa mungkin bakal bantuin kok." Rosa tersenyum manis, kemudian menepuk bahu Leya, "dan sekaligus... sebenernya gue cukup berduka atas Glenn... tapi, menurut gue kalaupun misalnya dia kepribadian ganda, gue pikir dia bukan Grimm. Tapi... gak tau juga sih Ya'. Intinya, semenyakitkan apapun kebenarannya, lo harus siapin mental buat nerima." Rosa berusaha menenangkan Leya.


"Gue bilang jatuh cinta ke Glenn."


"Oh..." Rosa sepertinya belum sadar, "WHAT?!" Rosa langsung membuka mulutnya lebar setelah sadar beberapa detik.


"Elah alay lagi haha gak jadi sedih gua." Leya lucu sendiri melihat ekspresi sahabatnya itu.


"Seriusan Ya'... lo gila? Di mana-mana mah cowok duluan kali. Lo agresif banget njirrrrrr..."


"Kampret. Ya gue tuh juga gak sadar napa gue ngomong gitu. Ah udahlah gausah dibahas. Intinya gue lagi stress banget mikirin Glenn. Kenapa sih gue harus ketemu dia? Dan kenapa juga gue harus baper sama tuh orang muka triplek."


"Ganteng banget kaleee si Glenn itu. Ya cewek manapun bakal klepek klepek sama dia. Tapi ya... kalau tahu kondisi Glenn sebenarnya... mungkin kabur..."


Leya menatap Rosa sebal.


"Eh eng-engga deng hehe canda Ya'..."


"Neng udah sampe," kata supir Rosa. Rosa dan Leya baru tersadar, kemudian mereka keluar dari mobil.


"Pak, tungguin ya... kita gak lama kok," kata Rosa.


Supir Rosa hanya mengangguk sambil tersenyum.


Mereka telah berada di depan gerbang rumah sakit Harapan. Tapi langkah kaki mereka terhenti ketika dari arah lain terlihat seorang gadis yang juga ingin memasuki rumah sakit jiwa ini. Mereka berdua saling bertukar pandang dengan gadis itu sambil menatapnya aneh. Gadis itu juga menatap mereka dengan aneh.


"Ngapain lo di sini?" Kata gadis itu yang tak lain adalah Geby.


"Same question." Leya melipat kedua tangannya di depan dada, "lo juga ngapain di sini?"


"Bukan urusan lo," jawab Geby ketus.


"Same answer for your question," kata Rosa, "bukan urusan lo," jawab Rosa tak kalah ketus. Rosa membuang muka.


"Kalian mau nemuin Om Gerald?" tanya Geby tiba-tiba tapi sama sekali tak bermaksud mengejek. Leya dan Rosa baru menyadari Geby berpenampilan seberantakan ini. Ah, bukan penampilan bajunya, melainkan wajahnya. Matanya sembab dengan kantung mata yang besar, wajahnya kusut terlihat sangat depresi. Entah kenapa seketika mereka merasa bersimpatik. Mereka lupa, Geby baru saja kehilangan Alfi. "Gue lagi gak minat sih berantem sama kalian. But, sorry tadi gue ketus. Gue cuma... gak papa deh."


"Kok lo tahu kita mau nemuin Dokter Gerald?" Tanya Leya sedikit terkejut.


"Om Gerald itu Om gue. Ya gue tahu lah. Pasti berhubungan sama Glenn kan?"


"Hah? Maksud lo?" Leya sedikit syok.


"Yah, gue beberapa kali ketemu Glenn pas lagi nemuin Om Gerald. Dia gak tahu sih. Soalnya tiap gue ngeliat dia, gue langsung sembunyi. Curiga gitu lah ke dia. Itu deh sebabnya kenapa gue bersikeras bilang dia sakit jiwa dan curiga sama dia. Terutama waktu gosip nyebar kalau dia pernah di sini selama 1 tahun. Dulu gue emang gak mau banget ke sini. Baru-baru kelas 3 ini aja sih gue ke sini," jelas Geby panjang lebar.


"Hah? Lo ketemu Glenn? Lo gak salah lihat kan?" Rosa tak bisa untuk tidak bertanya kembali.


"Yah, paling enggak seminggu sekali gue ketemu. Gak mungkin sih gue salah lihat. Walaupun gue akui kalau gue bejat, gue belum pernah ceritain hal ini ke siapa pun kecuali Alfi. Dan... gue cukup tahu kalau dia detektif. Walaupun gue sendiri meragukan dia. Gak menutup kemungkinan kalau dia psikopat itu, entah dia pura-pura gak tahu apa gimana. Sorry ya Ya'. Tapi, gue ngomong apa adanya. Gue selalu curigain dia ya alasannya karena ini."


"Lo tahu dari mana kalau dia detektif?" Tanya Leya semakin penasaran.


"Om Gerald. Om Gerald gak secara langsung sih ngomongnya, tersirat aja. Gue sendiri yang nyimpulin kayak gitu. Waktu itu gue kepoin ke Om Gerald, tapi ya lo tahu sendiri gak mungkin seorang psikiater membocorkan rahasia pasiennya. Gue tanya kan, 'Om itu siapa?' Pura-pura aja gak kenal si Glenn. Dia jawab 'itu Glenn, remaja jenius yang berteman dengan polisi, tapi ya kehidupannya cukup menyedihkan. Semoga saja dia bisa sembuh perlahan.' Pas gue tanya dia sakit apa, Om Gerald gak mau jawab. Gue simpul-simpulin sendiri aja karena gerak-gerik dia sangat mencurigakan. Awalnya gue gak tahu sih kalau dia detektif, tapi setelah tahu pun, gue masih curiga dia psikopat." Geby menghela napasnya. "Oke, Leya. Gue beneran lagi gak minat berantem sama lo. Ini cuma isi kepala gue aja."


"Gak papa sih. Terserah lo mau berpikiran gimana. Jujur, gue mulai goyah sama dia. Itulah sebabnya gue ke sini." Leya menggigit bibir bawahnya. Matanya terlihat sendu menatap pintu gerbang, "gue cuma bisa berharap semoga gak seburuk pikiran gue aja. Btw, turut berduka cita Kak, atas Kak Alfi."


"Tumben lu manggil gue kak," Geby tersenyum sekilas, "ya kalau bisa dibilang, penyesalan selalu datang belakangan dan udah gak ada gunanya. Itu yang gue rasain waktu kehilangan Alfi. Tapi... jujur entah kenapa gue ngerasa... kalaupun Grimm mau bunuh gue, gue pasrah."


"Kak Geby gak boleh ngomong gitu," kata Rosa prihatin.


Geby tersenyum sekilas, "udah. Ayo gue temenin ke Om Gerald. Tapi, gue gak janji dia mau cerita ke kalian soal Glenn."


"Kak, gue akan berusaha membuat Grimm berhenti," kata Leya pelan, "semoga Alfi yang terakhir. Dan... untuk Dokter Gerald, dia pasti akan cerita ke gue. Karena gue sendiri udah dipermudah aksesnya sama pihak polisi."


Geby hanya mengangguk.



"Apa? Om Gerald lagi di Jepang?" Tanya Geby syok, "kemarin masih ada kok di sini..."



"Iya, kemarin malam, Mbak, dia berangkatnya." Kata seorang perawat perempuan bernama Santi.



"Lo gimana sih, kan dia Om lo. Masa lo gak tahu?" Tanya Rosa.



"Dia gak ada ngabarin gue." Jawab Geby. "Terus, kapan dia balik ke Indonesia?" Tanya Geby pada perawat itu lagi.



"Bulan depan mungkin mbak," jawab perawat itu.



"Itu terlalu lama." Leya menggigit bibir bawahnya, "Kak, lo bisa hubungin gak?"



"Yaudah gue telpon dulu bentar."



Geby mencoba menghubungi Gerald, sementara Leya mencoba menanyakan tentang Glenn pada perawat muda ini. Mungkin dia tahu. "Mbak Santi, tahu gak salah satu pasien di sini yang namanya Glenn Warren Rajendra?"



"Saya baru aja kerja di sini setahun yang lalu. Ehm tapi... saya pernah denger cerita tentang pasien yang namanya Glenn Warren Rajendra itu. Perawat di sini sering ceritain."



"Ceritain apa mbak?" Tanya Rosa terlihat sangat penasaran.



"Dia satu\-satunya pasien pengidap D.I.D di sini. Jadi ya itu sedikit menghebohkan. Dia punya ruangan khusus saat dirawat di sini soalnya sering kabur gitu. Katanya, dia berbahaya. Cukup terkenal sih dia itu. Dia juga cerdas banget, masih kecil padahal masih 13 tahun dan kata orang dia sejenius itu. Kasian deh. Tapi, beberapa perawat rada takut, soalnya kadang dia serem banget kalau lagi marah. Dia pernah matahin tangan perawat yang bawain dia makanan. Cuma buat kabur. Terus, ada satu perawat yang deket banget. Senior saya di sini, namanya Sarah. Tapi udah dipecat karena beberapa kali ketahuan ngasih Glenn akses ke ruangan berisi komputer. Cuma Sarah satu\-satunya yang bisa 'menjinakkan' anak itu. Dan dia juga satu\-satunya yang bilang kalau Glenn gak berbahaya."

__ADS_1



"Mbak Santi tahu gak sekarang mbak Sarah itu ada dimana?" Tanya Rosa.



Dia menggeleng.



"Mbak Santi bisa anterin kami ke ruang perawatan Glenn?" Tanya Leya.



"Tunggu sebentar saya tanyain dulu ya." Santi melangkah pergi sebentar sambil menanyakan hal itu pada seorang perawat laki\-laki yang lebih tua. Sementara itu, Geby kembali bergabung dengan mereka.



"Eh, gak diangkat Om Gerald. Gimana nih? Padahal gue emang mau nemuin dia hari ini." Geby terlihat kecewa.



"Lo mau terapi?" Tanya Rosa ragu\-ragu.



"Iya, depresi gue. Mau curcol aja sih." Geby mengedikkan bahunya.



"Mbak Leya ya? Mari saya antar. Pak Rasyid sudah bilang kalau Mbak mau ke sini." Perawat laki\-laki berusia sekitar 40 tahunan itu tersenyum ramah kemudian memimpin jalan menuju ruangan tampat Glenn dulu dirawat.



Rumah sakit ini terbilang layak untuk dihuni. Bersih dan asri dengan pohon\-pohon kehijauan yang meneduhkan. Beberapa pasien yang tidak berbahaya dibiarkan berkeliaran dan beberapa pasien yang tidak dapat dikontrol berada di dalam ruangan sendiri. Khusus untuk Glenn, ruangannya yang paling berbeda dari yang lain. Ia ditempatkan di sebuah ruangan isolasi paling ujung rumah sakit.



Perawat membukakan pintu ruangan tersebut, membiarkan Leya, Rosa, dan Geby melihat\-lihat ruangan ini. Ruangan serba putih ini tidak terlalu besar. Di dalamnya tampak bersih, seperti tak ada apapun yang tertinggal.



"Gak ada pasien yang tinggal di sini lagi, mbak?" Tanya Leya pada Santi.



"Gak ada mbak. Ini ruang isolasi khusus yang biasanya dihuni pasien tertentu. Sejauh ini, pasien di rumah sakit ini tidak sampai seberbahaya itu hingga harus dimasukkan di tempat ini. Kalaupun harus diisolasi, mereka diisolasi di ruangan depan," kata Santi.



"Dan kalau bisa dibilang, pasien yang dimasukkan di ruangan ini adalah pasien yang menurut kami sangat berbahaya. Biasanya, pasien yang tidak waras, walaupun berusaha untuk keluar ruangan, tidak ada yang bisa benar\-benar keluar dari ruangan isolasi biasa. Gleen berbeda, entah apa yang dilakukannya, ia sering berhasil kabur. Jadi, kami menempatkan ia di ruangan ini," tambah perawat laki\-laki paruh baya bernama Yunus.



Ruangan serba putih ini dilengkapi kasur dengan pengikat tubuh, tanpa jendela, hanya ada ventilasi. Pintunya bukan kayu biasa, melainkan pintu khusus seperti 'brankas'. Entah kenapa, Leya semakin sedih membayangkan bagaimana Glenn yang masih berusia 13 tahun itu hidup selama 1 tahun di tempat semengerikan ini. Siapa pun tidak akan tahan, siapa pun akan berusaha kabur. Terutama anak kecil. Psikisnya malah semakin hancur.



Rosa dan Geby bergidik ngeri. Ikut membayangkan bagaimana tersiksanya tinggal di tempat ini. Bahkan untuk 1 hari saja tak akan tahan dalam keheningan di tempat ini. Bukankah tempat seperti ini malah mungkin saja melahirkan seorang psikopat yang berdarah dingin? Entahlah, mungkin waktu itu Glenn semengerikan itu. Walaupun saat ini, laki\-laki itu tidak terlihat berbahaya sama sekali.




"Tidak ada. Ruangan ini masih sama seperti terakhir kali ditinggalkan oleh Glenn," jawab Yunus. "Glenn tidak selalu diikat diranjang. Terkadang dilepaskan bila ia berubah menjadi kepribadian aslinya atau berubah menjadi Leo. Namun, bila Marco yang muncul, ia terpaksa harus diikat. Karena Marco sangat agresif, ia bisa menyakiti orang lain. Sempat waktu itu kepribadian perempuan yang tidak diketahui namanya, kami memanggilnya Jeo, singkatan dari Jeopardize\-\-membahayakan, muncul. Ia jauh lebih berbahaya dari Marco.



"Dia tidak menyakiti orang lain seperti Marco, namun dia menyakiti dirinya sendiri atau kepribadian primernya. Barang apapun yang tidak masuk akal, seperti ujung nakas, akan dia gunakan untuk melukai dirinya sendiri. Sendok saja bisa ia gunakan untuk melukai diri. Kami pernah benar\-benar menghilangkan seluruh benda di ruangan ini. Benar\-benar tak ada benda. Ketika Jeo muncul, ia membenturkan kepalanya ke dinding hingga berdarah. Yang menyulitkan kami menangani Jeo adalah dia gadis yang sangat cerdas seperti Marco. Ia punya kemampuan bisa menyamar menjadi Glenn\-\-kepribadian primernya\-\-agar tidak diketahui bahwa dialah yang saat ini mengambil alih tubuh Glenn. Dan waktu kemunculannya pun tidak diketahui," jelas Yunus.



"Saya beberapa kali menggantikan Sarah untuk menangani Glenn, jadi saya sangat mengenal dengan baik kepribadian\-kepribadian yang ada di dalam tubuh Glenn, kecuali Jeo. Yah, dia yang paling sulit ditebak," tambah Yunus.



Informasi yang dikatakan oleh Yunus benar\-benar mirip dengan informasi yang Leya baca pada berkas diagnosa Dokter Gerald. Itu semakin menguatkan keyakinan Leya, bahwa dulu Glenn sangat berbahaya.



Geby dan Rosa saling bertukar pandang. Mengerikan. Benar\-benar di luar dugaan.



Leya melangkah mendekati nakas, membuka isinya. Leya pikir kosong, ternyata tidak. Isinya adalah kertas\-kertas dengan gambar khas anak\-anak berusia 5 tahunan.



"Kalau Leo muncul, ia hanya perlu diberikan crayon dan kertas kosong. Setidaknya, tidak menyulitkan seperti Marco dan Jeo," jelas Yunus lagi.



Leya memperhatikan gambar\-gambar itu dengan seksama. Gambar 3 orang anak kecil saling berpegangan tangan di bawah pohon. Tidak ada yang aneh dari gambar itu. Leya bisa menebak kalau itu adalah Adrian dan Friska. Kemudian di belakang mereka terdapat rumah yang Leya duga adalah panti asuhan mereka. Kemudian, gambar selanjutnya adalah gambar putri duyung berambut merah yang bisa Leya tebak adalah putri Ariel. Ada 3 orang anak kecil di gambar itu. 1 orang anak kecil hanya berdiri. 2 orang anak kecil\-\-perempuan dan laki\-laki\-\-sedang duduk di samping kiri dan kanan putri Ariel. Leya belum sempat memperhatikan gambar lainnya.



"Pak, saya boleh bawa gambar\-gambar ini?" Tanya Leya.



"Silakan."



Leya tersenyum.



"Kamu mengenal Grimm? Menyerah?" Glenn masih sulit sekali memahami apa yang dikatakan Dandelion. Tidak, ia mengerti. Namun, rasanya ia tak percaya. Apa gadis di depannya ini penipu?


"Kenapa sih kamu selalu menanyakan hal yang baru aja aku kasih tahu? Katanya kamu jenius. Jadi harusnya kamu udah ngerti." Dandelion mengedikkan bahunya sambil menampilkan poker face. "Tapi, setelah aku ngeliat kamu dari dekat, aku baru sadar kamu setampan ini."


"Kalau kamu mengenal Grimm, kenapa kamu gak ngasih tahu kami soal Grimm? Atau ciri-cirinya."


"Karena walaupun aku mengenalnya, aku gak pernah lihat dia secara langsung." Dandelion melipat kedua tangannya di depan dada, "aku bisa bantu kamu nemuin Grimm karena aku tahu dia. Tapi ada syaratnya."

__ADS_1


Glenn mengerutkan alisnya, "Dari mana kamu tahu kalau aku pengen nemuin Grimm?" Glenn terus mencurigai Dandelion. Instingnya berkata ada yang aneh dengan gadis di depannya ini.


"Dia ngasih tahu aku."


"Apa syaratnya?"


"Lindungi aku dari Grimm. Kamu harus selalu di samping aku, jadi pelindungku, atau mungkin pacarku. Mudah kan?" Kali ini Dandelion tersenyum. Yang dilihat Glenn, senyuman itu hanyalah kepalsuan belaka. Glenn terus bertanya di dalam hati, apa benar gadis ini adalah Dandelion?


Bukannya menjawab ucapan Dandelion, Glenn justru melangkah pergi meninggalkan gadis itu, "Aku cari sendiri. Dan kamu itu palsu."


Dandelion menatap Glenn datar, tak bereaksi sama sekali dengan ucapan Glenn barusan, "kamu yang palsu, Marco," bisiknya tanpa terdengar oleh Glenn.



Glenn mematikan teleponnya. Baru saja Leya menelepon untuk menanyakan tanggal lahirnya. Ada apa? Kenapa tiba\-tiba?



Apa... Leya tahu?



Glenn menghela napasnya lelah. Cepat atau lambat, gadis itu akan tahu. Kemungkinan, kepercayaan gadis itu juga bisa runtuh. Glenn sendiri mulai ragu pada dirinya sendiri. Karena, ia tidak pernah tahu ada berapa banyak monster yang menjadikan tubuhnya sebagai tempat tinggal, kemudian dengan sesuka hati mengambil kendali atas dirinya. Ia mulai ragu. Bagaimana kalau ternyata... Grimm itu bagian dari dirinya sendiri?



Glenn tersenyum miring. Sungguh menyedihkan. Apa ini salah satu penyebab kenapa ia tak bisa mengalahkan Grimm? Grimm mengenalnya dengan sangat baik? Persetan.



Glenn mengepalkan tangannya. Apa ia menyerah saja? Apa yang terjadi bila ia menyerah? Apa ia akan kembali menempati rumah sakit jiwa bahkan seumur hidup? Apa ia akan masuk penjara dan dihukum mati? Atau mungkin... apa ia akan berakhiran bunuh diri?



Ia berbahaya, ya ia sendiri tahu akan hal itu. Namun, selama satu tahun ini ia sama sekali tidak merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Ia tidak merasa kehilangan waktu sedikit pun, yang berarti bahwa ia tidak mengalami *black out* sama sekali kecuali ketika tidur. Itupun tidur pada pukul 1 malam.



Apa saat tidur mungkin saja 'mereka' melakukan *switch*? Apa bisa seperti itu? Mungkin saja... tapi bukankah Glenn tak pernah lupa meminum anti depresannya? Ia juga tak pernah merasakan depresi sama sekali walaupun cukup putus asa dan sempat marah beberapa kali karena kasus ini. Tapi keputus\-asaan dan kemarahan itu belum cukup kuat untuk membuatnya dalam posisi *down* atau tertekan. Posisi *down* adalah posisi paling rentan untuk pergantian kepribadian.



Glenn akui, selama Leya berada di rumahnya dalam waktu seminggu ini, ia belum menemui Dokter Gerald. Glenn memang selalu rutin melakukan sesi psikoterapi dengan Dokter Gerald. Tapi, kata Dokter, Glenn sedikit lebih baik karena sudah lama tak mengalami *black out* dan *switch*. Walaupun belum benar\-benar sembuh. Masih ada beberapa kepribadian yang sulit diajak 'bekerjasama', yaitu Marco dan Jeo. Ya, walaupun terkadang saat terapi, Leo masih sering muncul.



Glenn lupa apa yang membuatnya menjadi seperti ini. Kemungkinan sebenarnya, ia sendiri yang berusaha untuk lupa, tak mau ingat. Kata Dokter Gerald, yang membuatnya kesulitan sembuh adalah... ia belum bisa menerima masa lalu buruknya.



*Masa lalu... seperti apa*? Ia lupa.



Bahkan untuk hal sederhana seperti... tanggal lahir sendiri... ia lupa. Itu keterlaluan. Baginya tak penting. Namun yang sebenarnya terjadi adalah... ia lupa. Kenapa ia lupa? Karena ia membuat benteng pertahanan diri sendiri untuk menutup memori masa lalunya. Marco yang menutup memori menyakitkan itu. Marco yang mengambil alih memorinya. Walaupun, Leo juga.



Kenangannya bersama Friska dan Adrian juga ia lupakan. Luka apa yang membuatnya melupakan Adrian dan Friska? Kapan Leo, Marco, dan Jeo pertama kali muncul? Glenn lupa...



Tunggu sebentar, *black out*? Apa... saat Gleen pertama kali mengingat Adrian dan Friska... ia sempat mengalami *black out*? Saat ia baru saja pulang ke rumah, malam itu, setelah menenangkan Leya yang menangis karena Dandelion. Saat itu... seperti mimpi. Glenn rasa, ia tertidur dan kenangan mengenai Friska serta Adrian tersaji di dalam mimpi.



Apa jangan\-jangan... ia sempat mengalami *black out*? Siapa yang keluar? Tapi... Glenn bangun di ranjangnya pada pagi hari dengan penampilan yang tidak sedikitpun berubah. Siapa...



Tidak, Grimm bukan bagian dari dirinya. Kalau memang Grimm bagian dari dirinya, bagaimana bisa Grimm melakukan pembunuhan itu sementara Glenn selalu bersama Leya. Apa... Glenn memang mengalami *black out* sebentar, kemudian Grimm memang kepribadiannya yang muncul dengan cara begitu cerdas dan bahkan 'pulang' dengan cara yang cerdas pula? Grimm hanya memberi perintah tanpa harus turun tangan? Hanya butuh waktu *black out* yang sebentar saja, Grimm sudah mampu memerintah?



*Astaga... apa yang gue pikirkan... tidak*....



Glenn memijat kepalanya yang mulai sakit. Ia tidak boleh depresi. Tidak. Sial, Grimm benar\-benar tahu kelemahannya. Bukan. Grimm bukan bagian dari diri Glenn. Tidak mungkin... tidak... tidak...



Glenn menyandarkan punggungnya di dinding rumah sakit. Ia mengepalkan tangannya kuat\-kuat.



*Tenang, Glenn. Tenang... berpikir tenang*...



Glenn memejamkan matanya sebentar. Ia merogoh sakunya. Kepalanya masih terasa sakit sekali. Sial. Ia tidak membawa obatnya.



*Tenang, tarik napas, jangan panik*...



Glenn menarik napasnya pelan. Kemudian, mengeluarkannya perlahan. Ia tidak apa\-apa. Tenang saja.



Tapi, kepalanya bertambah sakit. Semakin sakit. Kemudian... semua gelap.



Leya kembali ke rumah Glenn. Ia sama sekali belum berniat kembali ke rumah sakit. Ia takut bertemu Glenn. Tunggu sebentar, untuk apa dia takut? Apa yang ia takutkan? Entahlah... Leya sedikit... belum bisa menerima kenyataan bahwa mungkin Glenn berbahaya.


Leya membuka pintu rumah Glenn. Ia memang diberikan kunci duplikat rumah ini. Ketika masuk, ia cukup terkejut. Ada Glenn di sana, di ruang tamu, memegangi buku dongengnya. Penampilan Glenn sedikit berbeda. Lelaki itu mengenakan jaket kulit hitam, kaos hitam, dan celana jeans sobek-sobek. Rambutnya acak-acakan, tidak seperti biasanya. Ketika lelaki itu menoleh ke arah Leya... tatapannya berbeda. Sangat berbeda. Sangat dingin. Aura kehadiran Glenn juga berbeda. Terasa... mengerikan?


"E-eh? Glenn? Gue pikir lo di rumah sakit..."


Glenn menaikkan sebelah alisnya, kemudian ia tersenyum miring. "Hai Lily. Akhirnya, gue benar-benar bisa bertemu dengan lo."


Suara Glenn... kenapa berubah? Kenapa suaranya seserak dan seberat ini?

__ADS_1


Glenn berdiri dari tempatnya duduk, kemudian ia melangkah mendekati Leya. Sangat dekat. Leya semakin mundur ketakutan hingga akhirnya punggungnya benar-benar berhimpitan dengan dinding. Leya membeku di tempat ketika lama-kelamaan wajah Glenn mendekati wajah Leya. Glenn menyentuh pelan pipi Leya sambil tersenyum dingin. Kemudian, ia berbisik, "gue Marco."


__ADS_2