
Glenn menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Ia mengusap wajahnya yang basah karena air mata. Leya sepertinya sudah pulang. Ia tak akan bisa tidur dan ia memang tak mau tidur. Ia harus tahu siapa WS.
Glenn duduk kembali di atas kasurnya. Mengacak rambut kemudian mengambil laptopnya di atas meja. Ia membuka laptopnya ketika ponselnya tiba-tiba berbunyi. Dari Ayah.
Ayah : Gleen, mungkin sekarang kamu masih tidur, gak papa kamu bisa baca saat bangun nanti. Takutnya Ayah lupa. Tadi Ayah ditelepon Pak Rasyid. Katanya kamu beberapa hari ini susah dihubungi dan gak memberikan laporan apapun ke dia. Is everything alright? Sorry for not being there. Kalau kamu ada masalah, kamu cerita ya. Nanti subuh Ayah pulang.
Glenn tersenyum getir. Ayahnya tak seharusnya mendapatkan anak yang menyulitkan dan sakit jiwa seperti dirinya. Glenn memang mencintai Ayahnya dan... rasanya ia tak ingin mengecewakan Ayahnya. Dulu Ayahnya sudah cukup terpukul dengan kepergian Ibu. Belum lagi, setelah kematian Ibu, Glenn lebih sering mengalami black out.
Ayahnya sebenarnya sudah cukup lama mengajak Glenn terapi. Dari kelas 2 SD, sejak Ibu meninggal. Namun tak banyak perubahan signifikan. Banyak psikiater yang angkat tangan. Ya, tentu saja Ayahnya tahu kondisi Glemn. Ibu yang bercerita karena sebenarnya Ibu sendiri adalah seorang psikiater. Dulu, Glenn hanya menjalani terapi dengan Ibunya selama beberapa bulan sebelum kematian Ibu. Ibu bilang, Glenn bisa sembuh lebih cepat. Namun, sejak Ibu meninggal, kondisi Glenn kembali drop bahkan lebih parah. Sehari ia bisa mengalami black out sebanyak 5 kali bahkan lebih. Dan... belum ada psikiater yang mampu menangani Glenn.
Hingga akhirnya, terjadi insiden besar sewaktu ia SMP. Ayah adalah satu-satunya yang percaya bahwa bukan Glenn yang melakukan itu semua. Ia bilang kalau Glenn tidak sakit jiwa. Ya, walaupun sebenarnya Glenn memang sakit jiwa. Tapi yang dimaksud Ayahnya adalah sakit jiwa sebagai psikopat.
Glenn kemudian bertemu Dokter Gerald setelah terjadi insiden itu. Ia merasa sangat cocok dengan Dokter Gerald walaupun awalnya terasa sulit berada 1 tahun di dalam ruang isolasi. Saat itu, kondisinya sangat sangat drop. Jiwa dan emosinya sangat labil. Ia lebih sering memunculkan Marco dan Jeo. Dan saat itu ia masih belum bisa menerima kehadiran Dokter Gerald. Tapi, lama kelamaan ia bisa menerima kehadiran Dokter Gerald.
Glenn... tiba-tiba saja merindukan Bu Sarah. Apa kabarnya? Setelah Glenn keluar dari rumah sakit, Bu Sarah tak pernah terlihat lagi. Sulit mencarinya. Bisa dibilang... Bu Sarah itu seperti Ibu. Satu-satunya orang yang percaya pada Glenn.
"Kamu bukan pembunuh. Ibu percaya." Itu yang Ibu Sarah pernah katakan. Seandainya Bu Sarah ada di sini, ia pasti akan menguatkan Glenn. Tapi... untuk apa? Toh, sepertinya tidak akan mempan. Glenn sendiri mulai yakin kalau di dalam dirinya ada pembunuh yang bersembunyi. Dari mana ia dapatkan kepribadian seperti itu? Seperti Marco? Sial...
Glenn meletakkan ponselnya kembali. Kemudian ia mulai fokus berkutat mencari WS. Glenn kembali membuka berkas-berkas kasus Alfi. Ia mengecek daftar-daftar nama orang yang telah diwawancarai, terutama daftar nama orang yang tidak hadir di sekolah saat kematian Raya.
Glenn mendapatkan beberapa nama gadis berinisial WS.
Wiranti Saputri
Wulan Sarah
Wulan Sakinah
Hanya ini. Glenn kembali mendengar isi wawancara mereka bertiga. Satu pun dari mereka tak ada yang bersuara seperti WS. WS... lo siapa...
Hanya ada dua kemungkinan saat ini. WS tidak menangani Raya atau... WS bukan berasal dari sekolahnya namun mengenal Alfi. Kemungkinan ia satu SMP dengan Alfi. Masih abu-abu. Glenn masih belum bisa menyimpulkan apapun. Ia kehilangan clue.
Glenn menggigit bibir bawahnya. Ia memejamkan matanya sebentar. Ia pernah mendengar suara gadis itu. Di mana? Glenn... lo harus ingat lagi...
WS... siapa? Alfi... siapa yang lo maksud...
WS, seseorang yang berhubungan secara langsung dengan Grimm. Jika Marco memang Grimm, Marco jelas mengenali WS. Namun, bila ternyata Marco bukan Grimm... seharusnya salah satu kepribadiannya yang lain tahu dan mengenalnya. Ya, jelas mereka mengenal Grimm. Dokter Gerald mengatakannya. Hanya saja, mereka sama sekali tak mau mengatakannya. Tapi... kenapa mereka begitu menutupi identitas Grimm?
Grimm muncul setelah Glenn kelas 1 SMP. Awal mulanya... Glenn hanya mendapatkan surat dari seseorang. Ia pikir hanya surat iseng saja. Ternyata... semuanya jadi kenyataan. Itu mimpi buruk.
Kalau memang Grimm ada di dalam diri Glenn, artinya... Grimm sudah memiliki suruhan sejak Gleen SMP. Suruhan itu selalu berada di dekat Glenn. Selalu mengawasinya. Bahkan di sekolah. Asumsi sementara, suruhan Grimm seumuran dengan Glenn. Apa ada kemungkinan orang dewasa? Ntahlah. Glenn tak berpikir seperti itu. Mungkin, suruhan Grimm merupakan murid SMP nya pula, sehingga ia bisa dengan leluasa mengawasi Glenn di setiap waktu.
Bahkan mungkin... suruhan Grimm juga berada di SMA yang sama dengan Glenn. Siapa? Apa WS adalah orang yang sama dengan suruhan Grimm sewaktu Glenn masih SMP?
Tunggu sebentar. WS mau melakukan apa saja untuk Grimm. Ia jelas bukan sekedar suruhan Grimm yang mengikuti kemauan Grimm hanya karena ancaman. WS berkata bahwa jika Glenn membunuhnya, maka Grimm akan tambah menyiksa Leya. Jelas, WS bukan hanya sekedar suruhan. Ia lebih dari itu.
Artinya, WS sudah sangat lama mengenal Grimm. Bahkan ada kemungkinan bahwa selama ini, ia menjadi orang kepercayaan Grimm sejak kasus pertama Grimm. Ini terlihat dari bagaimana profesionalnya ia menangani korban seperti Alfi, bahkan terlihat jelas bahwa ia tahu apapun tentang Grimm.
WS adalah orang yang sekolah di SMP Glenn, sekaligus sekolah di tempat yang sama dengan Alfi. Tapi, apa mungkin WS sekolah di 2 tempat jika memang dia SMP di tempat yang sama dengan Alfi pula? Tidak mungkin...
Glenn mengambil sebuah asumsi. Bila memang Grimm adalah salah satu kepribadiannya, maka WS tak perlu bersekolah di SMP yang sama dengan Glenn, namun ia jelas mengetahui Glenn dari Grimm. Ia mungkin bersekolah bersama Alfi dengan kemungkinan sekelas dengan Alfi atau Geby. Karena, Alfi tipe orang yang tak begitu peduli dengan orang lain, maka bila ia mengenal seseorang, orang itu tak akan jauh-jauh dari teman sekelasnya atau teman dekat Geby.
Tapi, ada sesuatu yang mengganjal Glenn. Bagaimana Ibu Rika hilang. Glenn kembali membuka berkas Bu Rika, membacanya dengan cepat. Ia menarik sebuah kesimpulan bahwa Bu Rika diculik di sekolah. Berdasarkan keterangan saksi, tetangga Bu Rika, Bu Rika tidak pulang dari sekolah. Biasanya ia pulang sore hari.
Apa lo murid Bu Rika, WS? Apa itu lo?
Mobil Bu Rika ditinggal dalam keadaan ban kempes. Artinya, ia akan mencari tumpangan. Bila ia diculik secara paksa, itu akan menyulitkan, terlebih lagi walaupun tidak ada polisi yang saat itu berjaga, tersangka tetap harus berhati-hati. Ban mobil yang kempes itu menurut Glenn adalah salah satu rencananya. Bu Rika tidak diculik secara paksa. Bila secara paksa pun, tidak perlu mengempeskan ban mobil. Apa ban mobil yang kempes itu bisa dikatakan sebuah kebetulan? Sepertinya tidak. Terlalu luar biasa untuk dikatakan kebetulan maupun keberuntungan penculik. Jelas, direncanakan.
Dari sini, Glenn menarik kesimpulan bahwa WS bersekolah di SMA Mentari dan seangkatan dengan Geby. Bu Rika tidak mungkin mau menumpang sembarangan. Dan jelas, penculik sudah tahu bahwa menjebak Bu Rika tidak bisa sembarangan. Bu Rika pasti akan lebih memilih naik angkot dibandingkan harus naik ke dalam mobil bersama orang asing. Dan satu lagi, Bu Rika hanya mengajar di kelas XII. Jadi, WS merupakan angkatan Geby yang dikenal Alfi. Entah sekelas dengan Geby di SMA atau sekelas dengan Geby di SMP.
Tapi... apa benar-benar bukan ia yang menangani Raya? Lalu siapa?
__ADS_1
Glenn mencatatnya di buku catatannya. Semua asumsinya. Setidaknya ia bisa memperkecil kemungkinan. Ketika ia menulis, tiba-tiba terlintas sebuah pertanyaan besar. Yaitu... apa yang membuat Glenn secara kebetulan bisa satu sekolah dengan korban-korban Grimm. Ini bukan sekedar kebetulan. Ini seperti direncanakan.
Astaga... kenapa gue gak kepikiran sama sekali...
Waktu itu... Ayahnya yang meminta agar Glenn sekolah di SMA Mentari. Ayahnya pasti bukan tanpa sebab meminta Glenn sekolah di sana. Pasti ada sesuatu. Ayahnya pasti tahu sesuatu...
WS, Grimm, Raya, dan seluruh korban Grimm. Serta bagaimana Raya dan Belvina salah mengenali Glenn, seperti pernah mengenal Glenn. Di hari pertama Glenn bersekolah, Raya mengatakan sesuatu. Ia marah.
"*Lo... lo seharusnya mati karena bunuh diri. Lo ngilang gitu aja dan balik lagi. Ini lo kan? Lo punya identitas baru? Apa semua berita trntang kematian lo itu bohong? Sekarang lo kasih tahu gue apa yang terjadi sama-"
"Maaf, saya tidak mengenal Kakak*."
Ini... astaga... Glenn melebarkan matanya. Sial... Raya... Belvina... mereka merasa mengenali Glenn. Glenn mulai merasakan sesuatu yang tidak nyaman.
Glenn segera bangkit dari tempatnya duduk. Ia langsung membongkar laci dan seluruh tempat yang ada, hanya untuk mencari buku catatan Adela.
Geri... ya, Geri...
Apa... ia adalah Geri?
Geri Marco Maldivani. Grimm?
Geri... Marco... Apa... Geri adalah Marco? Salah satu kepribadian Glenn? Tapi... Geri yang digambarkan oleh Adela benar-benar berbeda dengan Marco. Ya, walaupun Geri dan Marco jelas memiliki kemampuan analisa yang kuat. Namun, karakter Geri dan Marco jelas berbeda. Marco berantakan, sembarangan, suka berkelahi. Sementara Geri, lebih terlihat seperti laki-laki introvert, hanya ingin berteman dengan Adela.
Jadi... apa Geri kepribadian yang baru? Karna, karakter Marco begitu melekat. Tidak akan berubah.
Astaga... tiba-tiba kepala Glenn langsung sakit sekali. Glenn memegangi kepalanya. Di saat itu, ia tahu bahwa ia tak bisa mengontrol tubuhnya lagi. Sebelum ia tak sadarkan diri, ia sekuat tenaga mengambil sebuah kertas dan bolpoint. Ia menulis di sana. Berharap, siapapun yang akan mengambil alih tubuhnya akan menjawab pertanyaan Glenn.
Pertanyaannya sederhana.
*Geri, apa kau ada di dalam tubuhku? Apa kau adalah... Grimm?
*~~~
Leya melangkah gontai menuju kamar apartemennya. Ia tak punya energi sama sekali. Matanya bengkak, kepalanya sakit terlalu banyak beban pikiran. Ia frustasi. Sekaligus... hancur. Dunianya terasa hancur setelah mendengar ucapan Glenn tadi. Sial.
Tok... tok... tok...
Leya gemetar ketakutan, tapi ia tak bisa berhenti mengintip.
Tok... tok... tok...
Jantung Leya berdegub kencang. Ia terlihat menurunkan tangannya, berhenti mengetuk. Kemudian, kepalanya terangkat menatap lubang intip. Leya terkejut. Ia langsung menjauhi lubang intip, tubuhnya merosot duduk di lantai. Ia memeluk lututnya ketakutan. Mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Ia tak bisa hidup seperti ini. Ia takut...
Tak terdengar bunyi ketukan pintu lagi. Leya menempelkan telinganya di pintu. Langkah kaki orang tersebut terdengar menjauhi. Perlahan, Leya kembali berdiri dan mengecek lubang intip. Benar... sudah tidak ada lagi. Leya membuka pintunya pelan-pelan. Ada amplop di sana. Leya mengambilnya cepat, kemudian menutup pintunya lagi.
Leya menghela napasnya. Sial... manabisa tidur seperti ini. Bisa-bisa ia insomnia. Leya merobek amplop dan mengeluarkan isinya.
*Tunggu sebentar lagi, Alice. Kau akan bertemu denganku. Itu keinginanmu bukan? Biar aku yang menjemputmu.
-Grimm*
Arrrggghhh persetan! Kutuk Leya di dalam hati sambil menggumpal suratnya dan membuangnya sembarangan. Leya kembali mengacak rambutnya, kemudian melangkah menuju kasur di kamar. Ia menghempaskan tubuhnya di atas kasur.
Stress. Frustasi. Terombang-ambing. Ragu. Sedih. Marah. Semua rasa tercampur menjadi satu. Mungkin ini pula yang dirasakan oleh Glenn. Akhirnya, Leya tahu bagaimana rasanya menjadi Glenn yang stress seperti ini. Pantas saja kepribadian laki-laki itu terbelah-belah. Siapapun tidak akan tahan hidup diteror psikopat.
Leya memejamkan matanya. Air mata jatuh. Teringat lagi bagaimana wajah orang yang ia temui di sekolah. Teringat lagi bagaimana... mayat Geby tergantung di pohon. Melewati hari-hari bersama psikopat ini membuatnya lupa akan kehadiran Dandelion. Esok, Ayahnya bilang bahwa Dandelion sudah bisa beristirahat di rumah. Leya takut kalau ia justru menghabiskan waktunya berdiam diri di kamar seperti orang gila. Ayahnya pasti akan marah. Namun, seandainya Ayahnya tahu apa yang saat ini sedang Leya rasakan, mungkin ia memaklumi.
Leya cepat-cepat membuka matanya. Ia tak bisa tidur. Ia takut bila ia menutup matanya, bayangan senyum Glenn yang menakutkan itu muncul. Apa... itu Marco? Pikir Leya.
Aarrrrrgggghhh!! Leya mengacak kembali rambutnya yang berantakan. Bagaimana ini? Apa ia harus mengatakannya pada Pak Rasyid? Tapi... belum tentu Marco yang membunuh Geby. Bisa jadi, Marco hanya melihat pembunuh Geby. Ia juga ingin tahu, kemudian langsung berlari takut ketahuan dan disangka ia yang membunuh. Terlebih lagi, takut terlihat oleh Rosa dan Kang Fatur. *Ya... mungkin begitu...
Glenn... lo gak papa kan*? Tanya Leya di dalam hati. Ia... rindu senyum Glenn. Saat ini, lelaki itu selalu sedih dan stress. Leya ingin menghibur, tapi... jujur ia sendiri takut. Ia takut bertemu Marco.
Ponsel Leya tiba-tiba berdering. Leya menariknya dari nakas. Ini... Glenn?
__ADS_1
Leya langsung cepat-cepat mengangkatnya "Glenn?"
"Hai, sweety. It's me."
Suaranya... dingin namun berat... astaga... Leya merinding seketika. "Ma-Marco..."
"Correct. Whatcha doin' now?"
Leya mengepalkan tangannya kiat-kuat, "pergi lo dari tubuh Glenn! Dasar sinting!" pekik Leya penuh emosi, "Pembunuh!!"
"Hey... hey... easy girl. Segitu bencinya lo sama gue? Hahaha... cuma gara-gara si pengecut lemah ini?"
"Glenn gak lemah! Lo yang brengsek!!"
"Yes he is. Dia lemah, sayang. Asal lo tahu. Semua mimpi buruknya itu gue yang menangani."
"Ya. Gue tahu. Gue sangat tahu."
"You don't know anything, gurl. Kalau gue bisa menampilkan seluruh kenangan buruknya bersama Ibu iblis itu, lo gak akan kuat."
"Sebenarnya apa yang lo mau dari gue hah? Stop terror gue! Gue muak sama lo dasar pembunuh. Berhenti lo ngikutin nafsu buas lo. Lo gak kasihan apa sama Glenn? Dia gak tahu apa-apa!! Dan semua masalah ini akan dilimpahin ke dia. Gue sama sekali gak minat buat ngeliat masa lalu buruknya. Kenapa? Karena itu udah lewat. Lo emang berhasil membuat dia lupa. Tapi apa dengan begitu lo ngerasa lebih kuat dari dia? Enggak. Lo cuma bagian dari dirinya. Lo alternya dia. Dia lebih kuat. Lo tahu kenapa? Karena dia ngerasain semua kenangan buruknya itu sendiri. Lo cuma menyimpannya kan?
"Dia yang ngalamin itu sendiri. All alone. And i say he is a really strong boy i've ever met. Dia yang ngebersihin semua masalah yang lo limpahin ke dia. Terus lo masih bilang dia pengecut lemah? Lo yang pengecut di sini, brengsek. Bikin masalah kemudian pergi. Yang nanganin masalahnya? Glenn sendiri. Lo alter paling terkutuk. Lo gak ngebantu sama sekali!"
Hening di ujung sana. Tak beberapa lama, keheningan itu dipecahkan oleh suara tawa Marco, "lo emang beda Lily. I think i like you."
"Gue gak suka pembunuh pengecut macam lo. Gue sukanya Glenn!"
"Killer? Hahaha such a honor for me. Thankyou for praising me. But i think... you got me wrong, sweety."
Leya terdiam sejenak, "bohong! Gue gak mungkin salah paham. Gue liat lo tadi!!! Waktu Geby terbunuh!!"
"Gue gak keluar."
"Hah? Terus... siapa dong?"
"Hmm atau gue gak sadar ya kalau gue keluar? Hahaha..."
Persetan. Marco seperti bermain-main dengan Leya. Kemarahan Leya mulai memuncak. "Heh Marco. Kalau memang lo bukan Grimm, waktu itu lo bilang lo kenal Grimm kan? Sekarang lo kasih tahu gue siapa Grimm! Apa lo pembantu Grimm juga?!"
Hening kembali. "Gue kan udah nyuruh lo cari sendiri. Manja lo bedua begini aja minta dibantuin."
"Gue gak minta bantuan lo ya! Eh tapi waktu itu... lo bilang 'apa yang kamu pikirkan tidak seperti apa yang terlihat.' Itu jelas kata-kata Grimm. Lo mau nipu gue hah?! Dari mana lo dapat kata-kata itu?"
"Ohya? Hmm... dari mana ya? Hahaha..."
"Marco! Lo jangan main-main sama gue! Dasar lo penipu!!!"
"Hahaha kenapa emangnya kalau gue main-main sama lo?"
"Marco!"
"Apa gue terdengar seperti penipu? Hmm... oke oke gue kasih tahu lo kebenarannya. Tapi ada syaratnya sayang. Be mine?"
"Gila!" Leya mematikan ponselnya. Melemparnya asal ke atas kasur. Marco benar-benar brengsek. Ia tak bisa dipercaya. Semua ucapannya terdengar sangat ambigu. Sebenarnya ia berbohong atau tidak sih? Ia hanya seperti bermain-main.
Telpon Leya kembali berdering. Nama Glenn terpampang di layarnya. Dengan malas Leya mengangkatnya. "Marco! Stop making fun of me! Gue gak-"
"Hai." Suara seperti 'perempuan' menyambut di sana. Astaga apa ini...
"I-ini siapa...."
"Mereka memanggilku Jeo. Walaupun namaku bukan Jeo."
"Je-Je... Jeo?" Kata Leya gagap seketika.
__ADS_1
Sial...