
Glenn melebarkan matanya. "Ba-bagaimana..."
"Aku tahu kau membunuh Bunga? Aku di sana," Gilang menyungging senyum miringnya. Sorotnya begitu dingin. "Saat itu aku baru saja mendapatkan alamat kantornya. Asistennya mengantarkan aku hingga di depan ruangannya, aku baru ingin mengetuk, namun pintu tidak terkunci, terutama kudengar pertengkaran di dalam. Dan di saat itu aku melihatmu menusuknya. Kemudian Ayahmu datang, tapi aku bersembunyi dan segera pergi dari sana. Kau merenggut Bunga dariku." Dia mendekatiku, "aku ingin melihatmu mati mengenaskan di depan mataku sendiri, tapi perlahan," katanya tersenyum lagi.
"Terutama kau membuat Adrian seperti ini."
Glenn diam saja, tidak tahu ingin berkata apa dan energinya benar-benar telah habis. "Tapi, aku ingin melihat gadismu gila dulu, melihat temannya terbunuh di depan matanya. Kemudian, melihatmu tersiksa berhari-hari di depan mata gadismu dan di depanku."
Rosa terbangun, ia terkejut melihat Rena dan Leya. Leya dalam keadaan menunduk, rambutnya berantakan. Rosa baru menyadari kalau tangan dan kakinya terikat di kursi, serta mulutnya yang tertutup. Ia mulai ketakutan, ia berusaha membuka ikatan tangannya, bergerak tak karuan. Tangannya masing\-masing diikat ke tangan kursi. Rena sedang duduk, diam, hanya terus memperhatikan dengan matanya yang tajam seperti elang, seakan tidak sedetikpun mata Rena berpindah darinya dan Leya.
*Apa ini*... pikir Rosa ketakutan. Ia mulai berpikiran yang tidak\-tidak.
"Hai Ros, terimakasih sudah memberitahuku apapun tentang Glenn dan Leya. Itu sangat membantu," kata Rena tersenyum dingin. "Terima kasih sudah melancarkan rencanaku, membuat mereka melangkah semakin mendekati kami."
Rosa mulai menangis. Ia merasa bersalah. Ia memang suka bercerita, tapi ia tak menyangka kalau akan jadi begini. Ia bahkan seperti masuk ke dalam sarang singa sendirian.
*Leya... maafin gue... gue gak tahu*...
Rosa terus menatap Leya yang lemah dengan wajah babak belur dan berdarah seperti habis dipukuli. Tiba\-tiba pintu terbuka. Rosa tambah melebarkan matanya. Ada Glenn di sana, menyeret... Glenn? Ada 2 Glenn? Hah? Maksudnya apa?
Dan di belakang mereka ada... Pak Wahid? Rosa syok, tentu saja. Ada apa dengan semua ini? Ia tak mengerti sama sekali.
Rena membantu 'Glenn' untuk meletakkan tubuh Glenn yang lain ke kursi di samping Rosa, mengikat kaki dan tangannya. Leya mengangkat kepalanya, melihat Glenn kemudian menangis dan menggelengkan kepalanya. Ia menatap mereka dengan tatapan memohon. Ia lebih terkejut melihat Glenn tak sadarkan diri di sana dengan babak belur dan sisa\-sisa darah yang keluar dari mulutnya.
Pak Wahid duduk, memperhatikan, sementara Rena dan Adrian seperti bersiap\-siap. Entah apa yang mereka ingin lakukan, tapi Leya sudah mengerti, terutama ketika ia melihat Adrian membawa palu.
"Kamu duduk saja. Biar aku yang mengurus mereka semua," kata 'Glenn' dengan senyumnya yang menakutkan pada Rena. Mendengar suara itu, Rosa tahu bahwa itu bukan Glenn.
Rena melangkah, berjinjit, dan mengecup pipi Adrian, kemudian melangkah berdiri di samping Pak Wahid, menonton.
"Baiklah, mari kita mulai pertunjukan." Adrian melepas lakban yang menutupi mulut Leya dan Rosa.
"Dri... tolong Dri... Rosa gak tahu apa\-apa." Leya menangis sambil memohon. Ia berusaha melepaskan ikatan tangan di tangannya, tapi tak bisa.
Adrian hanya tersenyum dingin, "kamu harus melihatnya, Leya. Ini menyenangkan hahha..." katanya tertawa.
Rosa mulai ketakutan, tapi ia masih tak mengerti apa yang ingin dilakukan Adrian. Adrian mendekati Rosa, Rosa semakin gemetaran. "Eh\- i\-ini..." Adrian memukulkan palu itu kuat\-kuat.
"AAARRRGGGGHHHHHH!!" Rosa berteriak.
Leya menutup matanya kuat\-kuat tapi ia tak bisa berhenti mendengar teriakan Rosa dan dalam sekejap psikisnya hancur, "STOOOPPPPP!!!" kata Leya berteriak sekencang\-kencangnya. Adrian justru tertawa.
"AAARRRGGGHHHH BERHENTIII!!!" Rosa bereriak kesakitan sambil menangis sesenggukan, tapi Adrian malah terus memukulkan palu itu ke punggung tangannya.
"ADRIAN STOOPPPPP!!!! AKU MOHON ADRIAN!!" Pekik Leya.
Tapi, Adrian tidak akan pernah berhenti, hingga tulang\-tulang jemari Rosa benar\-benar hancur berkeping\-keping seperti kaca.
Seketika suara pekikan dan tangisan yang menyayat terdengar menggema di seluruh ruangan. Siapa pun yang mendengarnya akan ketakutan, namun ikut merasa sedih. Sebuah teriakan memohon yang begitu memilukan.
"AARGGHHHH!!" Glenn menutup telinganya mendengar pekikan perempuan itu. Siapa itu?
Saat ini ia berada di ruangan kosong. Dimana ia? Glenn melangkah perlahan di lorong kosong ini. Apa... ia berada di alam bawah sadarnya lagi? Glenn membuka satu pintu. Di dalam pintu itu terdapat Dewi yang tergantung, Glenn mundur, berlari. Kemudian ia sampai di pintu lain, ia membukanya perlahan. Ada Ibu kandungnya yang sedang menyiksanya. Glenn langsung berlari kembali, ia ketakutan. Semakin sering ia membuka pintu, semakin ketakutan menguasai dirinya ketika melihat isi di dalam ruangan itu, seluruh kenangan-kenangan buruknya.
Ada pintu terakhir. Ia sudah bisa menduga pintu itu, di dalam pintu itu pasti kenangan saat ia membunuh ibu angkatnya. Glenn menangis tanpa suara, ia tak mau membuka pintu itu. Tidak akan pernah.
"Kamu harus bisa menghadapinya, sayang. Seluruhnya, kenangan burukmu, Ibu yakin kamu bisa." Ada suara Ibunya menggema.
Glenn menggeleng, "Glenn gak bisa, Bu... gak bisa..." katanya menangis.
"Kamu bisa, sayang." Glenn menoleh ke arah sampingnya, ada Ibunya di sana tersenyum manis, "satu-satunya obat untuk luka di hatimu adalah... berdamai dengan masa lalu." Ibunya memegangi tangan Glenn, membantu Glenn membuka gagang pintu terakhir.
Benar, ada Glenn yang sedang menusuk pisau ke dada Ibunya. Glenn menangis, air matanya terus mengucur, tapi ia bahkan tak bisa menutup matanya sama sekali.
Ibu memeluknya, "itu bukan kamu, you're not a killer. Ibu yakin, kamu bisa melewati ini semua."
Glenn membalas pelukan itu lebih kuat, "Glenn ingin semua ini berakhir."
"Maka akhirilah, hanya kamu yang bisa mengakhirinya." Ibu membelai puncak kepala Glenn, "kamu harus bangun, percayalah pada Ibu, kamu bisa mengalahkan mereka."
Plak! Plak!!
Glenn terbangun, pipinya terasa panas. Adrian melepaskan lakban yang menutupi mulutnya. Matanya membesar melihat Leya di depannya yang tertunduk lemah, masih dengan isak tangisnya.
Glenn menoleh ke samping, ada Rosa di sana dengan tangan penuh darah. Kuku-kuku jarinya pecah, hancur. Rosa tertunduk tanpa suara. Rambutnya berantakan.
"Kamu harus menontonnya juga!" Pekik Adrian.
Kali ini, Adrian memegangi pemukul besi, memukulkannya kuat-kuat ke kaki Rosa hingga terdengar bunyi retakan tulang. "AARRRGGGHHHH!!" Rosa kembali berteriak kesakitan sambil menangis, "ampuni aku... ampun.... bunuh saja aku!!" Kata Rosa memohon.
"STOPPP!!! SAKITI AKU AJA DRI!!!" Kata Leya mmemohon. Ia menangis hingga kesulitan berbicara. "Dri... kumohon...."
"Kamu, nanti sayang. Kamu yang terakhir setelah mereka berdua mati..." Adrian tertawa puas.
Adrian kembali mengayunkan pukulan besinya ke arah kaki Rosa. Rosa kembali berteriak. Kaki Rosa membiru, bahkan mulai berdarah. Kakinya patah hingga tulang kakinya seperti hancur dari dalam, membuat kakinya terlihat sangat lemah, tak akan bisa menopang tubuhnya.
"STOP DRI! INI SALAHKU! SIKSA AJA AKU!!!" Kali ini Glenn yang berteriak.
"Kalian sangat tidak sabaran. Tenang saja, kalian akan mendapatkan giliran satu per satu. Tapi, tunggu gadis ini mati dalam penyiksaanku dulu." Adrian tersenyum dingin lagi.
BUUKKKK!!! Adrian kembali memukuli kaki Rosa dengan pemukul besi. Rosa terus berteriak hingga ia tak bisa menangis dan berteriak lagi. Leya terus saja menutup matanya, menangis ketakutan. Glenn menggigit bibirnya, ia seperti orang bodoh yang tak bisa melakukan apapun. Ia menatap ke ujung ruangan, ada Rena dan Pak Wahid yang hanya tersenyum menonton mereka dari ujung ruangan.
Glenn mengepalkan tangannya kuat-kuat yang terikat di belakang tubuh dan kakinya juga terikat. Kursi yang ia gunakan tidak seperti Rosa. Perut Glenn pun diikat ke punggung kursi. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Ia benar-benar tak bisa memikirkan apapun. Ia begitu tersiksa melihat Leya menangis sekeras itu sambil memohon.
Rosa terus berteriak, hingga akhirnya Adrian melemparkan pemukul besinya ke lantai. Ia berkeringat dan terlihat kelelahan. Ia tersenyum. Kali ini ia mengambil sebuah jerigen minyak yang ia letakkan di dekat Rosa. Membukanya, menyiramkannya ke bagian kaki Rosa hingga lututnya.
"Tolong... apa lagi yang mau kamu lakukan... bunuh saja aku!!!"
"ADRI!! DASAR IBLIS!!!" Glenn berteriak sekencang-kencangnya. "HENTIKAN!!! ADRIAAANNNN!!!" Pekik Glenn.
Leya terus menangis, "Adrian, kumohon. Aku akan melakukan apa saja, tapi tolong jangan bunuh dia..."
"Aku tidak akan membunuhnya." Adrian tersenyum miring. "Kamu tahu, Leya... aku tidak membunuh secara tergesa-gesa..."
Glenn mengerti apa yang ingin Adrian lakukan. Ia berteriak sekali lagi, "KAMU PIKIR ADELA AKAN SENANG MELIHATMU SEPERTI INI? ROSA SAMA SEKALI TIDAK TAHU APAPUN!!!" Pekik Glenn.
"Yah... aku memang tidak suka membunuh orang yang berada di luar listku. Tapi... kurasa Rosa pengecualian. Kematiannya akan membunuh Lily secara perlahan."
__ADS_1
"ADRIAN TOLONG HENTIKANN!!!" Leya tak berhenti memohon, tapi Adrian tak mendengarkannya sama sekali. Ia kali ini mengeluarkan korek api dan kotaknya.
Rosa menangis memohon, ia pun seperti tuli, tak akan mendengarkan apapun. Dia ... seperti sedang kerasukan iblis.
Adrian menggesekkan korek ke pinggir kotak korek. Api menyala. "Hanya... beberapa menit saja. Terhitung 5 menit. Aku tidak ingin tubuhmu terbakar seutuhnya, Rosa." Adrian tak berhenti menyunggingkan senyuman.
Rosa menggeleng, Adrian tidak peduli. Leya terus berteriak minta dihentikan, Adrian tidak peduli. Dan Glenn tahu... Adrian tidak akan pernah berhenti. Ia haus akan darah. Suara tangisan dan pekikan orang akan selalu menjadi musik terindah di telinga Adrian.
Adrian pun menjatuhkan korek api itu. Api panas menyebar dari kaki hingga ke lutut. Rosa berteriak kepanasan, "AAAARRRRRGGGHHHH PANAASSSSS!!!" Adrian tertawa puas.
Rosa tak henti-hentinya berteriak, Leya menangis sambil menutup matanya. Glenn menatap Adrian penuh kebencian, wajahnya memerah. Saat itu, rasanya ia ingin sekali membunuh Adrian, mencabik-cabik dagingnya dengan tangannya sendiri.
Kursi sedikit ikut terbakar. 5 menit berlalu hingga tubuh Rosa dan kursinya terjatuh ke samping. Rosa mati rasa. Ia tak bisa menangis lagi. Ia bahkan tak bisa sama sekali merasakan kaki dan jemari tangannya. "Friska sayang, tolong siapkan tali, gantung tangan Rosa ini," kata Adrian.
Friska mengangguk. Ia menuruti perintah Adrian.
"Baiklah, mari kita beristirahat dulu. Terimakasih pertunjukan yang menyenangkan ini, Adrian," kata Gilang berdiri dari tempatnya duduk. "Adrian, ini giliran Friska. Temani aku makan di ruang sana," katanya. Ia melangkah keluar ruangan.
"Aku akan kembali," kata Adrian tersenyum dan membuntuti Gilang, "Friska sayang, ini giliranmu," katanya.
Friska hanya mengangguk kemudian melangkah menuju Rosa. "Kali ini, aku yang akan bermain denganmu," katanya tersenyum, "dengan begini, kamu tidak akan bisa berjalan sedikit pun, Rosa. Tulang kakimu telah dihancurkan Adrian. Kamu tidak akan bisa berjalan selamanya. Jari tanganmu juga hancur, tidak akan bisa memegangi apapun."
Rosa menangis, "iblis," katanya berbisik karena kehabisan tenaga.
"IBLIS. TUHAN AKAN MEMBAKAR KALIAN DI NERAKA!" Leya melanjutkan.
"Terima kasih atas pujiannya." Friska tersenyum dingin.
Penyiksaan dalam satu hari ini sama sekali tak berakhir. Kali ini, tangan Rosa digantung dan tubuh Rosa juga ikut tergantung. Rena menjadikan tubuh Rosa sebagai samsak tinju. Ia terus meninju tubuh Rosa yang tergantung itu berulang kali.
Mulut Rosa banyak mengeluarkan darah. Ia tak lagi berteriak kesakitan, mungkin ia mati rasa. Ia hanya terus tertunduk.
Leya nenunduk, masih menangis. Ia tak bisa melakukan apapun. Benar\-benar tidak berdaya. Sementara, Glenn sedikit pun tak bisa berpikir sama sekali. Kepalanya sakit, ia tak bisa berpikir. Sial. Apa... yang harus ia lakukan?
*Adrian telah menjadi diri lo, kenapa lo gak mencoba menjadi dirinya? Gunakan otak lo Glenn*!
Itu suara Marco. Glenn melebarkan matanya. Iya... seharusnya, ia pun bisa menjadi seorang Adrian, bukan? Glenn menoleh ke arah sekelilingnya, masih banyak botol alkohol di dalam peti di pinggir ruangan. Ia tersenyum sekaligus bersyukur. Glenn tahu, tempat ini pernah menjadi tempat penyimpanan botol\-botol alkohol, namun dibiarkan kosong dan menyisakan beberapa peti botol alkohol di pinggir ruangan. Tempat ini bekas pabrik alkohol.
"Friska..." panggil Glenn. Friska berhenti memukuli Rosa.
"Jangan ganggu aku, Glenn. Aku sedang sibuk di sini." Friska kembali memukuli tubuh Rosa.
"Apa Adrian benar\-benar mencintaimu?" Glenn menatap langsung ke arah Friska, ia tersenyum miring.
Friska berhenti sekali lagi, "apa maksudmu? Mau mengalihkanku? Tidak akan bisa." Friska mengacak pinggangnya. Tapi, ia tak menyadari, kalau Glenn sudah berhasil mengalihkannya.
Glenn tersenyum kembali. Otaknya mulai bisa berfungsi seperti biasanya, mungkin karena Leya berhenti menangis dan Rosa berhenti berteriak. Suara Marco juga menguatkannya, membuktikan bahwa saat ini ia tak sendiri, ia bisa melakukannya. Glenn perlahan berusaha membuka ikatan di tangannya. Kuat sekali ikatannya. Tidak bisa... otak Glenn bergerak cepat.
"Adrian tidak pernah mencintaimu. Dia hanya mencintai Adela. Dia hanya memanfaatkanmu, Fris. Kamu bodoh," Glenn tersenyum miring.
"Tidak, dia mencintaiku."
Glenn masih berusaha melepaskan ikatan di tangannya.
*PLAK*!
"DIAM!!!" Pekik Friska marah.
Glenn mati rasa. Wajahnya yang babak belur telah lebih dulu mengirimkan sinyal nyeri ke otak, namun sinyal nyeri itu jauh lebih kuat dibandingkan saat ditampar Friska.
"Aku benar," Glenn tertawa kecil, "tidak pernah ada satu pun yang mencintaimu," desisnya.
"Adrian dan Ayah mencintaiku!"
"Kita semua hancur. Tidak ada yang mencintai kita. Sekali pun ada, sudah lenyap. Kita sama, Friska. Adrian benar\-benar hanya memanfaatkanmu agar ia bisa membalaskan dendam Adela. Dia mencintai Adela. Kamu tidak pernah sedikitpun ada di dalam hatinya. Dasar bodoh. Tapi... masih ada orang yang mencintaiku... jadi kita berbeda..." Glenn menatap Leya, tersenyum lembut. Leya juga menatapnya, bungkam, dan matanya berkaca\-kaca.
"Kamu? Sama sekali tidak ada yang mencintaimu. Kamu sampah, sedari dulu. Itulah sebabnya tidak ada yang mencintaimu. Kamu menjijikan. Bahkan, seluruh topengmu saja tidak cukup membuat orang lain mencintaimu."
"HENTIKAN!!!" Friska mulai marah.
"Semua orang membencimu. Sekalipun Adrian."
"DIAM!!"
Glenn menoleh ke arah botol kaca alkohol itu. Friska refleks mengikuti arah pandang Glenn. Tanpa Friska sadari, kemarahan menuntunnya mengambil botol\-botol kaca itu.
*PRANG*!!! Ia memukulkannya ke tubuh Glenn.
"BIADAB KAU GLEEN!!"
*PRANGGG*!!! Ia memukulkannya ke kepala Glenn hingga berdarah. Glenn hanya tersenyum, ia justru tertawa kecil.
"STOPP!!" Pekik Leya.
"DIAM KAMU CEWEK BIADAB!!" Friska menendang kursi Leya hingga Leya terjatuh bersama kursinya ke arah samping.
Glenn melihat ke arah Leya yang menangis. Glenn tersenyum, sementara Friska terus memukuli Glenn dengan botol\-botol kaca itu hingga serpihannya terlempar kemana\-mana. Glenn menatap lembut Leya, Leya menangis melihat keadaan Glenn.
__ADS_1
Dengan mata Glenn yang lembut, Glenn melihat ke arah serpihan kaca besar di depan wajah Leya. Leya mengangguk. Ia mengerti. Ia memajukan tubuhnya sedikit, menggeser\-geser tubuhnya ke depan hingga serpihan kaca besar itu kali ini berada di belakang tubuh Leya. Leya bergerak sekuat tenaganya dengan susah payah padahal masih terikat di bangku kayu ini, ia memperkirakan posisi tubuhnya agar tangan di belakang tubuhnya bisa meraih serpihan\-serpihan kaca itu. Banyak serpihan kaca besar di lantai. Bahkan, Leya tak sadar kalau serpihan\-serpihan kaca itu menusuk\-nusuk samping tubuhnya yang ia gunakan untuk menggeser posisi tubuh.
Dengan tangan terikat ke belakang, Leya berusaha meraba apapun yang tajam. Tangannya bahkan ikut tertusuk kaca, tapi ia tak peduli. Ia meringis, namun melihat Glenn disiksa seperti itu di depan matanya lebih menyakitkan. Leya mendapatkan serpihan kaca itu, ia mencoba melepaskan tali di tangannya dengan serpihan kaca itu secepatnya. Menggesekkan serpihan kaca ke tali yang mengikat tangannya. Tidak peduli bila tangannya sobek atau apapun karena kaca ini. Leya harus cepat sebelum Adrian datang karena keributan ini. Untung saja, gedung ini sangat luas. Jarak antara ruangan satu dan yang lainnya sangat jauh dan setiap ruangan juga luas.
Friska mencaci maki Glenn, meluapkan kemarahannya. Botol\-botol kaca itu telah habis ia pukulkan ke tubuh Glenn. Kali ini, ia hanya meninju dan menampar berulang\-ulang wajah Glenn. "BERANI KAMU BERBICARA SEPERTI ITU? KAMU LUPA SIAPA AKU?"
Glenn tertunduk sekarat, "Friska Anastasia, perempuan pertama di hidupku yang memberitahu bagaimana rasanya dicintai. Perempuan pertama di hidupku yang mengajarkan rasanya memiliki saudara perempuan dan orang pertama di hidupku yang mengajari rasanya bersahabat. Sayang, ia buta," bisiknya mulai lemah.
Friska terdiam sesaat, menatap Glenn. Ia berhenti memukuli Glenn. Glenn tersenyum getir.
"Aku bingung. Kenapa kita sehancur ini. Padahal kita memiliki satu sama lain."
"Karena kamu meninggalkan kami," jawab Friska.
"Aku gak pernah sekalipun ingin meninggalkan kalian."
"BOHONG!!! KAMU NINGGALIN KAMI!!" Pekik Friska. "Aku hancur. Kamu gak tahu betapa sakitnya rasanya ditinggal. Semua orang meninggalkan kami. Gak ada satu pun yang bertahan untuk menyayangi kami. Bahkan... Ibu sekalipun... dia hanya memilihmu." Friska menggigit bibir bawahnya.
"Aku selalu bersama Adrian bertahun\-tahun. Dari kecil. Aku mencintainya. Aku gak akan pernah meninggalkan dia. Bahkan apapun yang dia lakukan, aku akan selalu berada di sampingnya. Karena aku mencintainya."
"Semua orang bodoh karna cinta. Kamu bodoh karena Adrian. Aku bodoh karena kalian." Glenn tersenyum getir, "Fris... gak ada kata terlambat untuk menebus dosa."
"Apa mencintai itu adalah dosa?"
"Caramu mencintai yang membuatmu berdosa." Glenn memejamkan matanya sebentar, kepalanya mulai pening, tapi ia tidak boleh tak sadarkan diri sekarang.
"Friska. Tolong hentikan semua ini..." bisik Glenn.
"Enggak. Aku gak bisa. Maaf, Glenn. Aku... cinta Adrian..."
Tiba\-tiba, sesuatu mencekik leher Friska tiba\-tiba, refleks Friska kesulitan bernapas. Ia memegangi lehernya, sebuah tali sudah mengikat ke lehernya kencang. Kemudian secepat kilat, seseorang menendang kuat tubuh belakang Friska ke depan hingga terdengar bunyi kreeek pada leher Friska yang patah ke belakang. Friska mati seketika dengan lehernya yang terkulai dan matanya terbuka membelalak.
Orang itu menjatuhkan tubuh Friska ke depan.
Itu Leya... Glenn terkejut sementara Leya menggigit bibir bawahnya ketakutan.
"Leya, lo harus cepat pergi dari sini," kata Glenn.
Leya melepaskan ikatan tangan, kaki dan perut Glenn. Kemudian ia mendekati Rosa, melepaskan ikatan yang mengikat tangan Rosa. "Ros... ayo kita pergi."
"Lo... pergi Leya... cepat..." kata Glenn lagi.
*Brukkk*!!!
Leya menoleh, Glenn sudah terjatuh di lantai. Ia kembali menghampiri Glenn, "Glenn bangun Glenn..."
Ia menoleh lagi ke arah Rosa, ia kebingungan. Bagaimana caranya ia bisa menyelamatkan keduanya?
"Lo\-lo pergi Le\-Leya..." kata Rosa berbisik, kehilangan energi. Ia terbatuk\-batuk mengeluarkan darah. Leya seperti orang bodoh yang kebingungan. Ia tak mau meninggalkan keduanya.
"Glenn bangun!!!" Leya menampar\-nampar wajah Glenn, tapi Glenn tak bangun. Leya mulai menangis.
Leya menghampiri Rosa, "Ros... kita harus keluar dari sini," Leya menggenggam tangan Rosa yang penuh darah, ia menangis melihat kondisi sahabatnya yang mengenaskan.
Rosa tersenyum, "Leya... gue sayang lo... tapi... gue gak akan bisa memegang tangan lo lagi. Gue gak akan bisa sedikitpun berjalan. Jadi... lo tinggalin gue di sini ya. Leya... gue sayang banget sama lo... lo harus pergi dari sini sekarang sebelum mereka datang. Pergi, Ya'... pergi..."
Leya menggeleng kuat, ia menangis.
"Leya..." Leya menoleh, ia terkejut sesaat melihat Gleen yang sudah berada di sampingnya dengan kepala yang berdarah, "kita harus pergi," katanya memegangi bahu Leya.
"Mar\-Marco?"
Marco menggenggam tangan Leya untuk meninggalkan ruangan ini, tapi Leya bersikeras tak ingin meninggalkan Rosa. "Ros... gue gak mau ninggalin lo... lo sahabat gue satu\-satunya... tolong Ros..."
"Leya... lo harus pergi sekarang. Marco akan jagain lo. Kalau lo sayang gue, maka lo akan mengerti kenapa gue ingin tetap berada di sini." Rosa tersenyum, ia meringis, bahkan diakhir saja, ia tak bisa menyentuh Leya, "Leya... tolong peluk gue untuk terakhir kalinya."
Leya menangis, mendekap tubuh Rosa perlahan. "Gue sayang lo. Dan tolong beritahu orang tua gue, kalau gue juga sayang mereka... dan satu lagi Ya'... lo harus bertahan hidup, demi gue... maafin kesalahan gue selama ini... lo adalah sahabat terbaik gue..." bisik Rosa ke telinga Leya, "gue beruntung pernah mengenal lo, Ya'... jangan lupain gu\-gue..." Rosa tersenyum dan perlahan menutup matanya.
"Ros..." Leya menangis sesenggukan.
Marco berusaha menarik Leya keluar dari sana. "Leya... kita gak punya banyak waktu... kita harus pergi sekarang..."
Leya melepaskan pelukan terakhirnya untuk Rosa.
*Maaf karena gue... pernah melupakan keberadaan lo, Ros... gue selalu menyayangi lo*...
__ADS_1