Once Upon a Time

Once Upon a Time
Di Bulan Desember


__ADS_3

Kubuka mataku. Astaga... aku bahkan sudah membayangkan bagaimana hancurnya tubuhku saat melompat dari atas sini. Tapi yang kutemukan saat ini adalah tubuhku yang masih membeku mendengarnya mengucapkan pilihan terakhirku.


"Suaramu atau jurang?" Bisiknya sambil membelai rambutku, "iya, Belvina. Aku tahu kamu sudah membayangkan apa yang terjadi bila kamu memilih jurang. Tanpa bicara pun aku tahu kau akan memilih jurang. Tapi, apa kau pikir semudah itu?" Tanyanya. Dia tertawa, aku masih terduduk lemas di sini, dalam sebuah tangisan.


Aku mengepalkan tanganku, kemudian dengan gerakan cepat, seakan diriku yang ingin membunuhnya itu kembali, aku mencekik lehernya hingga ia terbaring di atas lantai dan aku berada di atas tubuhnya, "KAMU YANG BUNUH IBUKU!! BUKAN AKU!!" pekikku.


Dia tertawa, walaupun wajahnya memerah, kemudian... sesuatu menusuk perutku. Cekikkanku melonggar dan aku terhempas ke lantai. Aku meringis memegangi pisau yang menusuk perutku, tapi tak cukup dalam. Hanya seperti tusukan kecil--tidak juga, intinya mampu membuatku terkejut dan merasakan perih, serta mampu mengeluarkan darah yang lumayan banyak. Aku melepaskan pisau yang tak terlalu dalam itu, menekan lukanya dengan tanganku. Sementara, dia sudah berusaha berdiri, sambil tertawa.


"Hanya ini saja? Tusukan begini? Kupikir kamu bisa lebih gila dari ini? Bukankah kamu sudah memberiku pilihan juga?" Tanyaku ikut tertawa.


Dia langsung menindih tubuhku, aku meringis ketika tubuhnya bahkan menekan lukaku. Tapi, kemudian ia menutupkan sebuah saputangan ke hidungku, menekannya beberapa menit, "Tik tok tik tok... hmm beberapa menit lagi kamu akan merasakannya. Kamu pikir aku sebodoh itu? Membiarkanmu mati dengan mudah tanpa penyiksaan? Ya. Awalnya aku berpikiran seperti itu. Tapi... aku bercanda hahaha. Tentu saja aku akan  melemparmu ke jurang, tapi mari bermain-main dulu. Aku masih punya cukup banyak waktu untuk bermain denganmu Putri Ariel.


"Kamu tahu? Kamu satu-satunya korbanku yang akan merasakan sakit paling parah. Aku akan menyakiti hatimu. Dan ketika ksatria datang, ia telah terlambat. Kau tahu kenapa? Karena aku lebih dulu menyiksa batinmu sebelum aku memberitahunya bahwa ia harus datang 30 menit lagi. Tidak, aku bahkan belum memberitahunya. Ketika kamu benar-benar sudah mati, baru aku akan memberitahunya untuk datang 30 menit lagi. Tunggu sebentar, itu adalah waktu yang sangat menyenangkan untuk bermain denganmu."


Aku memberontak, tapi tubuhnya terlalu kuat dan berat. Bahkan tanganku sudah berusaha menjauhkan tubuhnya dariku. Tapi, ia masih menindih kuat lukaku, terasa semakin perih.


"Dan... kamu pikir aku tidak sengaja menusukkan pisaunya tidak terlalu dalam? Hmm... aku sengaja melakukannya. Aku tidak ingin kau mati. Cukup ingin membuat luka kecil saja ditubuhmu, kemudian membiusmu. Ya, aku tidak akan menyiksamu secara fisik. Mungkin sedikit. Tenang saja. Tapi, kupastikan kamu mati dengan kesedihan mendalam."


A-apa yang barusan dia katakan? Lama kelamaan, kesadaranku mulai hilang, semua menjadi gelap. Berontakkanku semakin lemah.


Sial.


 ~~~


Aku terbangun, masih di atap rumah sakit dalam keadaan kaki terikat di 'kaki' kursi dan tanganku telah terikat di 'tangan' kursi, serta mulutku yang telah ditutupi lakban hitam. Bahkan ia mengikat kepalaku agar kepalaku tak bergerak ke sana kemari.


Langit masih cerah dengan taburan bintang di atasnya. Tapi, mungkin baginya ini adalah saat yang tepat untuk membunuh. Atau menyiksa seseorang.


Dia membuka tasnya, mengeluarkan sebuah laptop dari dalam tasnya. "Kau tahu? Aku menyuruh seseorang memasang sebuah kamera kecil yang terselip di vas bunga meja kamar inap Ayahmu. Tapi dari situ, walau dari samping, masih terlihat jelas bagaimana ekspresi Ibumu dan ekspresimu." Dia mengotak-atik laptopnya, sementara aku masih berusaha melepaskan ikatan ini. Sial...


"Jangan dipaksa. Kamu tidak akan bisa melepaskannya Belv."


BIADAB KAMU!!! pekikku dalam hati. Tidak, aku berusaha meneriakkannya. Tapi, yang terdengar hanya seperti ucapan tertahan di balik lakban dan dia tidak peduli sama sekali.


Ia mendekatiku, meletakkan sebuah meja kecil dan laptop di depanku dengan jarak cukup jauh, tapi aku masih bisa melihatnya dengan jelas karena layar laptop itu lebar, laptop yang cukup besar. Ia kemudian memutar ulang video yang sangat tak ingin kulihat, saat aku membunuh Ibuku. Aku menutup mataku. Tapi aku masih bisa mendengar bagaimana jeritan tanteku. Aku mendengar suara tertahan sorang wanita. Berulang-ulang. Bahkan suaranya saja sudah membuatku hampir gila. Kumohon hentikan...


"Buka matamu Putri Ariel. Kamu harus melihatnya." Ia mendekatiku, kemudian membuka sebelah mataku dengan tangannya. Dengan sebelah tangannya yang bebas, ia mengambil sebuah penyangga berbentuk seperti gunting tapi aku tahu itu adalah penyangga mata karena aku pernah melihatnya di internet. Ia melakukan hal yang sama pada sebelah mataku yang masih tertutup pula.


Dia gila!!!


Mataku tak bisa tertutup lagi ketika ia memasangkan penyangga itu di mataku. Mataku terbuka sangat lebar, seperti hendak mendesak keluar dari tempatnya. Aku bisa melihat semuanya. Bagaimana aku membunuh Ibuku. Aku bisa melihat wajahnya dari samping. Dan video ini diputar berulang-ulang. Air mata terus mengalir. Lama kelamaan mataku terasa sangat perih dan terus mengeluarkan air mata. Tapi, air mata ini juga keluar lantaran rasa sakitku melihat video ini berulang-ulang. Aku hampir gila, tolong bunuh saja aku...


Beberapa menit kemudian, mataku sakit sekali sial! Efek panas dan perih menerjang mataku, memberikan keperihan yang teramat. Tolong biarkan aku berkedip sebentar!!! Perih sekali dasar sinting!!!


Tak butuh waktu lama, ia seperti mengerti maksudku dan ia memberikan tetesan obat mata khusus yang paling tidak mengobati rasa perihku, akhirnya. "Aku tidak ingin kau buta sebelum semuanya selesai," katanya.


Aku menatap video itu lagi. Itu Ibuku, tersenyum lebar dari samping ketika berbicara dengan Tanteku. Kuliat wajah cerah yang ia buat-buat agar tak terlihat bahwa ia banyak menanggung beban di depan tanteku. Kemudian, aku berlari datang dari belakang, menutup mulutnya, menikamnya beberapa kali hingga ia terhempas. Darah mengucur, menyembur kesana kemari. Aku bisa lihat wajah terkejutnya dan wajah terkejut tante melihatku. Kemudian, aku berlari menjatuhkan pisauku. Tanteku menangis, memeluk Ibuku. Ia mendudukkan Ibuku, sosoknya masih bisa tertangkap kamera. Itu Ibuku, dia menutup matanya tapi wajahnya terlihat damai.


Di saat terakhir yang diingat Ibuku adalah aku, anaknya. Perenggut nyawanya. Padahal yang kubayangkan adalah kebahagiaan di wajah Ibuku dan senyuman di wajahnya saat terakhir melihatku. Mungkin sambil berkata, "ini anakku, yang paling membuatku bahagia sampai akhir hayat."


Tapi, di saat terakhir yang kubuat hanyalah kenangan buruk. Bagaimana aku bertengkar dengan Ibuku tentang ia yang lebih membela Ayahku. Ibu, kalau aku diberikan kesempatan, aku ingin berkata bahwa aku mencintaimu. Bahkan di saat terakhir. Aku ingin berkata bahwa Ibu adalah satu-satunya harta yang aku punya. Dan sekarang, setelah kepergian Ibu, yang berasal dariku sendiri, aku juga ingin mati. Aku tahu Ibu kecewa padaku dan mungkin tak bisa mendengar ucapanku sama sekali. Tapi, Ibu. Bahkan Ibu adalah satu-satunya yang juga bisa membunuhku. Maafkan anakmu yang biadab ini.


Melihat rekaan ulang bagaimana aku menikam Ibuku adalah hal paling menyakitkan yang pernah kurasakan. Bahkan, perih di mataku sudah tak terlalu aku pikirkan karena video ini. Aku pembunuh yang membunuh Ibu sendiri. Aku kembali menangis. Tentu saja air mataku tak berhenti keluar, tapi kali ini aku memang benar-benar menangis. Aku takkan bisa melihat senyumnya lagi. Dan aku ingin mati saja. Kenapa ia tak langsung membunuhku saja? Tolong... aku benar-benar akan membunuh diriku, tapi hentikan ini...


Terputar sebuah memori bagaimana ia memelukku dengan erat. Bagaimana ia menyium keningku, menghapus air mataku ketika Ayah memukulku. Bahkan, ia yang lebih sakit dipukul Ayah, tetap menampilkan sebuah senyuman di depanku sambil berkata, "tidak apa-apa. Ibu di sini. Semuanya akan berakhir." Itu dia. Ibuku. Yang mengajariku menggambar, mengajariku bernyanyi. Semua kenangan masa kecilku bersamanya terputar ulang seraya video menyakitkan itu masih saja terputar.


Senyumnya adalah satu-satunya kenangan paling membahagiakan yang juga menyakitkan. Seketika aku merindukan dia. Segala tentangnya.


Manusia brengsek itu membelai rambutku pelan, "itu kamu, Putri Ariel... kamu membunuh Ibumu dan juga sahabatmu sendiri." Ia meneteskan cairan itu lagi ke mataku. Setiap beberapa menit.


Kali ini, ia mengganti videonya. Itu... Adela. Adela dengan senyum manis dan wajah cerianya. Aku tidak tahu video ini. Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya.


Ia menyanyikan lagu Happy Birthday.


"Hai Belv! Happy Birthday!! Ya ampun kamu makin tua hehe. 15 tahun!" Suara itu... entah berapa lama aku tak mendengarnya. Ini video saat ulang tahunku yang ke-15? Aku tak pernah menerimanya. "Belv! Kita udah lama bersahabat. Hmm dari pas kita SD! Waktu itu aku pindah sekolah dan ketemu kamu. Ingat gak? Kamu lagi makan bekal sendiri. Terus dengan polosnya aku datangin kamu, lagi nangis gara-gara bekal aku ditumpahin Nadine. Kamu ngasih aku bekalmu, kita makan sama-sama. Sejak saat itu, aku ngerasa nemuin belahan jiwaku yang kosong. Saudara, sahabat, Ibu, semuanya ada di dalam diri kamu. Belv, aku sayang banget sama kamu!


"Eh... enggak. Bukan sayang yang begitu... hahaha tapi sayang sebagai sahabat dan saudaraku." Dia tersenyum lebar, senyum yang selalu ia tampilkan ketika bersamaku. Kemudian, ia berhenti sebentar. Wajahnya berubah, ragu, tapi ada wajah sedih juga di sana.


"Belv... kamu itu berharga banget buatku. Aku gak mau kehilangan kamu, Belv. Kalau ada yang nanya siapa yang akan kupilih antara Raya dan kamu, aku milih kamu." Aku langsung menangis. Sementara, di sana ia tersenyum, memaksa senyumnya. Sial... kenapa kamu giniin aku Del!


"Iya Belv. Aku milih kamu. Aku emang sayang sama Raya. Tapi kalau memang kamu bahagia sama Raya, gak papa. Aku kasih Raya ke kamu. Belv, di ulang tahunmu yang ke 15 ini, aku mutusin Raya. Anggap aja kadomu itu Raya. Enggak Belv aku gak marah walaupun jujur aja aku sakit ngeliat kalian di belakangku. Belv, aku mau marah sama kamu, tapi aku gak bisa. Kamu dan Raya sama-sama aku sayang. Harusnya aku bahagia karena 2 orang yang aku sayang memilih bersama. Iya kan?" Dia nangis, pelan. Tapi hanya sebentar, karena ia menghapus air matanya dan kembali tersenyum.


"Belv, iya. Kita masih SMP. Aku yakin rasa sayangku sama Raya cuma sementara, habis itu bakal ilang kok. Tapi, Belv kumohon jangan jauhin aku. Kamu beberapa hari ini ngindarin aku terus Belv. Aku sendirian. Aku gak butuh kamu ngebelain aku waktu dibully Alfi dan Geby. Enggak. Karena aku juga gak mau mereka balik jahatin kamu. Tapi, Belv. Aku udah punya malaikat pelindungku sendiri. Geri. Kamu tahu dia kan? Aku pernah kenalin ke kamu. Oke, sekarang bukan saatnya ngebahas Geri.


"Belv, harusnya hari ini kita bareng. Aku udah kirim pesan chat ke kamu biar kamu datang ke taman, tempat kita sering cerita. Kita harus ngelirusin masalah ini, Belv. Tapi kamu belum bales. Padahal aku kirim pesannya kemarin. Yaudah, kalau kamu nonton ini, aku cuma mau tahu kalau aku nungguin kamu malam ini jam 8 di taman ya! Aku punya kejutan buat kamu, Belv. See you!"


Video berhenti. Aku menangis, lagi. Air mataku benar-benar tak bisa berhenti. Kemudian, hatiku terasa perih terkoyak-koyak. Saat ulangtahunku yang ke-15, aku memblokir Adela dari chatroom. Aku bahkan mengganti nomor ponselku agar tak dikirimi pesan oleh Adela. Saat itu, aku juga tak tahu kenapa aku melakukannya. Aku benci pada Adela. Aku menyukai Raya lebih dulu, namun Raya malah menjadi pacarnya. Kemudian, aku pelan-pelan merebut Raya darinya. Raya tergoda dan berselingkuh denganku. Kami sering melakukan hal bersama setiap pulang sekolah. Entah jalan, atau apapun. Yang penting aku akan menghabiskan waktu dengannya dan membuat dia melupakan Adela.


Aku benci Adela. Entah sejak kapan, tapi puncaknya adalah di tahun akhir sekolah. Tapi, sebagian diriku merasa bersalah padanya. Itulah sebabnya aku menjauhinya. Agar aku tak merasa bersalah setiap kali bertemu dengannya.


Dan video ini... sepertinya bingkisan yang langsung kubuang tanpa melihat isinya ketika kulihat nama Adela di sana. Mungkin... aku buta karena cinta. Cinta pada lelaki brengsek seperti Raya.


"Putri Ariel, kau tahu alasan mengapa wajah sahabatmu hancur? Itu terjadi karena ia menunggumu di taman malam itu untuk memberikan kejutan. Dan kamu sekalipun tidak pernah menjenguknya." Ia melangkah membelakangiku, kudengar suaranya bergetar. Ia menundukkan kepalanya. "Kemudian saat kamu baru pertama kali menjenguknya, ia baru beberapa hari selesai operasi. Kamu membuatnya terjatuh dari atap ini. Iya, aku tentu saja tahu. Aku tahu semuanya."


Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, "dia mencintaimu. Dia menganggapmu sebagai sahabat. Tapi kamu? Dasar biadab." Dia tertawa kaku, "mungkin kamu bertanya, kenapa aku tidak menyiksamu secara fisik saja. Seperti korbanku yang lain. Kenapa aku membuatmu seperti ini saja? Jawabannya sederhana. Aku ingin kamu mengingat memori paling menyakitkan di akhir hayatmu. Kemudian? Apa aku akan melemparmu dari atap ini? Iya, tentu saja. Tanpa mata tertutup, agar kamu melihat dengan jelas kematianmu.


"Hmm sebenarnya, sedikit tidak adil membiarkanmu mati begitu saja tanpa penyiksaan fisik. Tak apa. Penyiksaan batin jauh lebih menyakitkan bukan?"


Dia membuka tasnya kembali, mengambil sebuah boneka beruang berwarna coklat. Ketika ia menekan perut boneka itu, terdengar suara rekaman. Suara Adela.

__ADS_1


"Happy birthday to my beloved Belvina! Semoga selalu berbahagia."


Dia melangkah, mendekatiku lagi. "Hadiah ini tak pernah sampai ke tanganmu. Karena kamu membuat Adela terbunuh dua kali saat ia ingin memberimu hadiah ini. Dua kali," tegasnya. Ia kembali meneteskan obat itu ke mataku.


Ia kembali memutar video Adela dan pembunuhan Ibuku. Berulang-ulang. Rasanya aku mau mati.


Mataku mengabur. Entah karena terlalu banyak air mata yang keluar atau bagaimana. Tapi, bahkan aku tak bisa berpaling barang sekejap. Ia memutar video-video lamaku bersama Adela. Saat kita tertawa bersama. Dan kali ini, ia menayangkan foto-foto bagaimana Adela mati. Bagaimana kepalanya bocor, mengeluarkan banyak darah. Walaupun samar-samar, aku masih bisa melihatnya. Aku menangis lagi, tak tahan. Sakit sekali rasanya... kumohon hentikan!!!


Ia melirik jam tangannya. Sudah 20 menit lebih aku menonton hal menyedihkan berulang-ulang, kemudian ia berkata, "sepertinya sudah cukup bermain-mainnya. Tidak, aku tidak akan menjahit matamu, justru aku akan membiarkan penyangga itu menyangga matamu." Matanya menyipit, dibalik maskernya aku tahu bahwa ia sedang menyeringai.


"Tunggu sebentar. Aku punya cara lebih baik untuk melemparmu ke jurang." Dia kembali tertawa, "sebenarnya ini kejutan untukmu Belvina. Aku hanya bercanda melemparmu begitu saja," katanya kembali tertawa dingin. Ia mengambil sebuah dirigen minyak di sana, di sudut ujung atap luas ini, sementara aku terduduk di tengah atap.


Dia menyiramkan seluruh isi minyak ke tubuhku. Astaga! Tidak... tidak! Bukan kematian seperti ini yang kuinginkan! Aku tahu apa yang ia lakukan. Astaga... Aku berteriak sekuat tenagaku, tapi itu hanyalah hal bodoh yang bisa kulakukan. Tak akan ada yang mendengar teriakan tertahan seperti ini. Di saat-saat terakhir ini yang kuingat hanyalah Ibu dan Adela. Brengsek, kenapa malah sejuta kesedihan dan penyesalan yang kuingat di hari kematianku... aku bahkan tak bisa menutup mataku.


Ibu, Adel, maafin aku.


"Ini lebih cepat dari perkiraanku. Tak apa, aku memang ingin kamu mati tanpa bisa diselamatkan." Dia mengeluarkan sebuah pematik dari sakunya, menyalakannya, kemudian melemparkannya padaku.


"Aku tidak akan melemparkanmu dari sini. Aku akan membiarkanmu di sini."


AAARRRGGGHHH PANASSSS!!!! AAKKKKK TOLONGGGG!!!! INI GILA ASTAGA!!!! JANGAN BUNUH AKU SEPERTI INI.


Aku terus bergerak berusaha melepaskan ikatan ini tapi percuma saja. Api melahapku hidup-hidup bahkan melelehkan mataku. Terasa panas sekali. Menyakitkan sekali. Hanya butuh waktu sebentar ketika mataku tak bisa melihat apa-apa lagi dengan perasaan sangat menyakitkan.


Aku ingin mati, aku lebih memilih bunuh diri. Tapi, ia tak membiarkanku mati dengan mudah.


Bahkan, ia membiarkan kenangan buruk ikut menyertai kematianku.



 


Seorang lelaki berjaket hitam sedang duduk di depan piano tua. Lama-kelamaan jarinya menari indah di atas tuts-tuts piano. Ia memejamkan matanya, ini lagu kesukaan gadis itu. *Once Upon a December*. Ia bisa mendengar jelas suara lembut gadis cantik itu bernyanyi di kepalanya. Senyum manis gadis itu ikut membayang di kepalanya.



Suara indah piano menggema di ruangan musik yang cukup luas ini. Tapi, suara indah piano ini mungkin akan mengganggu tidur siapa saja di pukul tengah malam seperti ini. Atau mungkin semakin membuat terlelap? Siapapun yang mendengar denting piano ini akan menangis, terenyuh. Nadanya begitu menyayat, seperti membuat siapapun merasakan bagaimana pedihnya kehilangan, sementara memori itu terus berputar manis di kepala. Memori indah, namun menyakitkan.



Seorang perempuan berambut hitam panjang berdiri di ambang pintu. Ia mengenakan gaun tidur berwarna hitam selutut. Ia melangkah mendekati laki-laki itu. Suasana dingin merasuk hingga ke tulang. Ia tetap melangkahkan telapak kakinya mendekati laki-laki itu.



Api pada lilin-lilin yang berjejer lurus menuju tempat laki-laki itu duduk, terlihat menari lembut ketika gadis itu melewatinya. Tidak, ini tidak seromantis yang dibayangkan. Ini adalah malam penuh kesedihan bagi laki-laki itu, juga gadis itu.




*Dancing bears,


Painted wings,


Things i almost remember.


And a song someone sings,


Once upon a December.*



Laki-laki itu menghentikan jari-jarinya yang menekan tuts piano ketika mendengar perempuan itu bernyanyi dengan indah. Tapi, ia tak menoleh ke arah perempuan itu. Kali ini, perempuan itu duduk di sampingnya, "*can't sleep*?" Tanyanya lembut.



Laki-laki itu diam.



"*Should i sing for you? A lullaby,"* katanya tersenyum di kegelapan.



Ia tetap tak menjawab. Ia malah menekan kembali tuts-tuts pianonya.



"*You don't have to do this. Let me finish it. The last thing.*" Gadis itu merebahkan kepalanya di bahu laki-laki itu. "*Don't worry. I'm here. I'll safe you from her,*" katanya memejamkan mata, "*you just have to be mine. Be with me forever.*"



Lama kelamaan gadis itu terlelap, masih pada bahu laki-laki itu. Suara piano yang laki-laki itu mainkan selalu bisa dengan mudah membuatnya tertidur.



Laki-laki itu menghentikan permainan pianonya. Ia menoleh pada gadis itu. Sambil menghela napas lelah, perlahan ia merebahkan kepala gadis itu ke kursi piano sambil ia bangkit dari duduknya. Kemudian, ia mengangkat tubuh gadis itu hingga ke kamar milik gadis itu. Laki-laki itu tidak tinggal di sini. Ia ke sini hanya untuk menjernihkan pikiran dan menemui gadis itu.


__ADS_1


Sesampainya di sana, perlahan-lahan ia meletakkan tubuh gadis itu ke atas kasur, kemudian menarik selimut hingga ke bawah leher gadis itu. Gadis itu terlelap sangat nyenyak, seperti bayi.



Ia mengecup kening gadis itu, kemudian berbisik ke telinga gadis itu. Sangat pelan, hanya seperti hembusan napas. "*You can't safe me from her. Let me finish it and die for her. Stay here, stay safe*."



Laki-laki itu perlahan keluar dari kamar ini dan menutup pintu kamar milik gadis itu.



 ~~~



Leya merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu, masih tidak dapat tidur sebelum Glenn pulang. Ia belum mendapatkan kabar apapun dari Glenn. Sedari tadi, ia tak bisa berhenti menatap layar ponselnya, khawatir. Tapi, ketika ia memejamkan matanya, yang ia lihat hanyalah wajah Glenn dan bagaimana lelaki itu mengecup keningnya lembut. Saat ini, ketika mengingat hal itu, yang ia rasakan bukan bahagia, melainkan takut. Takut kalau kecupan di kening merupakan salam perpisahan.



Tidak, Glenn baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.



Tiba-tiba ponselnya berdering, sebuah panggilan masuk dari nomor tak dikenal. Leya takut sebentar, namun rasa penasaran menguasainya. Dengan gemetar, ia mengangkat telepon itu.



"*Dancing bears, painted wings, things i almost remember. And a song someone sings. Once upon a December.*"



I-ini...



Lagu ini... Leya sepertinya mengingat lagu ini. Tidak asing. Suara lembut perempuan di ujung sana mengingatkannya pada seseorang. Leya bangkit dari tempatnya terbaring. Tapi, lidah Leya terlalu kelu untuk mengatakan sesuatu atau sekedar memastikan bahwa ini bukan mimpi.



"Dahulu kala, di sebuah kerajan megah. Ada dua orang Putri cantik yang nanti akan mewarisi takhta Ayahnya dan menjadi seorang Ratu. Mereka kakak beradik yang saling mencintai, namun memiliki banyak perbedaan. Putri sulung, sangat cerdas, lemah lembut, penyayang, tapi ceria, namun tak berlebihan. Adiknya, putri bungsu, cantik, cerdas, namun sangat lincah, susah diatur, dan sangat ceria. Ia berkepribadian seperti laki-laki dan sedikit liar.



"Suatu hari, di bulan Desember, hari ulangtahun si bungsu, terjadi sebuah kebakaran besar. Si bungsu berhasil diselamatkan Raja, namun ia terpisah dari Ratu dan si sulung. Saat itu, ia hanya melihat bagaimana Ratu mati di depan matanya, ia tak melihat si sulung. Kemudian, seiring berjalannya waktu, si bungsu dan Ayahnya melupakan si sulung. Padahal, si sulung berhasil selamat. Si sulung tak berani menemui mereka, karena ia merasa telah dibuang."



Entah apa yang terjadi, namun air mata Leya tiba-tiba menetes. Lama kelamaan semakin deras, walaupun Leya tak tahu apa penyebabnya. Dan di saat itu, mulutnya pun bergerak walaupun dengan susah payah, "Kak De-del?" Tanyanya memastikan.



"Seperti dongeng Putri Anastasia bukan? Tidak, ini sedikit berbeda. Anastasia dicari, sementara Putri sulung hanya dilupakan. Itu lebih menyakitkan."



"Kak Dedel, Kakak dimana? Enggak, Ayah gak pernah ngelupain Kakak. Dia selalu nyari Kakak. Kak, maafin Leya. Leya juga gak tahu kenapa Leya ngelupain Kakak," Leya menangis. Ia merindukan Kakaknya, tapi ia bahkan melupakan banyak hal tentang Kakaknya. Apa benar ini Dandelion?



"Far away, long ago, glowing dim as an ember. Things my heart used to know. Things it yearns to remember."



Tit... tit... tit...



Sambungan terputus.



"Halo? Kak Dedel? Kak?" Leya menangis, kemudian ia berusaha menghubungi nomor itu lagi, tapi nomornya tidak aktif. Jelas, nomor itu langsung dibuang.



Leya menggigit bibir bawahnya, bersamaan dengan seseorang membuka pintu. Itu Glenn, dengan wajah lelah bercampur kesal. Leya tak begitu memperhatikannya, karena selanjutnya ia bangkit dari sofa, langsung menghampiri Glenn dan memeluknya tanpa aba-aba.



"Ya'-"



"Sebentar aja, Glenn. Sebentar aja," katanya menangis. "Tokoh antagonis yang sebenarnya adalah gue. Gue yang bikin semua orang mati, Glenn."



Seandainya Leya tak lupa, mungkin semua kejadian ini tak terjadi. Timbul satu keyakinannya, bahwa Dandelion adalah... Grimm.

__ADS_1


 


__ADS_2