Once Upon a Time

Once Upon a Time
Rasa Sakit


__ADS_3

Leya membuka matanya perlahan. Tidurnya tak nyenyak hari ini, terutama ketika tadi pagi ia melihat kepala Alfi tepat di halaman depan rumahnya. Masih pukul 8 malam. Leya mengerjap, menatap langit-langit kamar dan daerah sekililingnya. Ia tersenyum tanpa sadar. Saat ini, ia berada di atas kasur Glenn. Astaga, apa yang Leya pikirkan? Bukankah seharusnya ia khawatir atau gelisah? Sekarang, justru ketika kesadarannya benar-benar kembali, ia malah tersenyum seperti orang gila. Tidak, ada yang salah dengan dirinya.


Tapi, ngomong-ngomong, kenapa rumah ini justru sepi sekali? Padahal, yang ia harapkan adalah melihat sosok bermata tajam itu mungkin sedang duduk di samping ranjangnya sambil membaca berkas-berkas kasus. Oke, ini gila. Jelas, Ayah Leya tidak akan mengizinkan Glenn berduaan dengan Leya. Apalagi di kamar dan dalam keadaan Leya tidak sadarkan diri.


Leya benar-benar sudah gila. Ia harus berhenti memikirkan hal aneh yang tidak masuk akal seperti ini.


Leya duduk di samping kasur, menggosok-gosok matanya, kemudian perlahan membuka pintu kamar dan keluar dari ruangan unik dengan foto mayat di dinding itu--walaupun, entah kenapa saat melihat foto-foto itu tidak lagi membuatnya takut, terutama ketika memikirkan bahwa kamar itu adalah milik Glenn. Dan, saat Leya benar-benar ada di diluar kamar, rumah ini sangat sepi, seperti tak ada orang.


Leya melangkah menuju keluar rumah, terlihat ayahnya yang sibuk menelepon--ntahlah mungkin orang kantornya. Maklum saja, ayahnya adalah pemimpin sebuah perusahaan properti yang cukup maju, jadi ia sibuk, walaupun ia masih berusaha pulang tepat waktu agar bisa makan malam bersama dengan Leya setiap hari--kecuali ada rapat yang sangat penting, mungkin akan pulang sedikit terlambat. Yang Leya lihat, wajah ayahnya tampak khawatir.


Ketika Leya benar-benar sudah berada di depan ayahnya, Ayahnya langsung meminta izin untuk menutup telepon. Wajahnya tetap khawatir, "Sayang, kamu udah gak papa?" Tanya ayahnya.


"Udah gak papa, Yah. Leya cuma kelelahan dan Leya tidur terlalu lama, jadi udah gak papa. Yang lainnya kemana? Kok sepi? Glenn mana? Ayahnya belum pulang?"


Ayahnya menghembuskan napas pelan, lega. Tapi kemudian wajahnya berubah serius, "Leya, jadi gini. Kamu jangan panik dulu ya."


Perasaan Leya mulai tidak enak, tapi ia masih berusaha untuk tetap tenang walaupun memasang wajah penuh tanda tanya. "Kenapa sih, Yah?"


"Glenn masuk rumah sakit."


Deg!!


Leya melotot sebentar, apa ia salah dengar, "Ayah... jangan ngomong sembarangan."


"Ayah serius, Glenn masuk rumah sakit tadi siang."


Kaki Leya lemas seketika.


"Ayah gak mau bangunin kamu karena Ayah tahu kamu sakit. Niat Ayah, setelah kamu bangun baru ke rumah sakit."


"Ayah... tolong antar Leya ke sana sekarang..."


Ayahnya mengangguk.


Apa yang terjadi? *Glenn, lo kenapa lagi...



Leya langsung berlari di lorong rumah sakit ketika perawat memberitahu nomor ruangan Glenn. Saat ia berada dekat dengan ruangan Glenn, terlihat Ayah Glenn yang wajahnya tampak kacau. Leya menghampirinya perlahan dan Ayah Leya menyusul.



Ayah Glenn yang menyadari kehadiran Leya menengadah, kemudian berusaha tetap tersenyum walaupun Leya tahu ini berat. Leya tampak sangat cemas, ia gemetaran. "Om, Glenn di dalam? Dia gak papa kan?"



Senyum kecil terbit di wajah Ayah Glenn, tapi wajahnya tetap cemas, "Iya, dia gak papa. Untungnya dia langsung di bawa ke sini dengan cepat. Tapi, dia masih belum bangun beberapa jam setelah operasi."



Tanpa permisi, dengan perasaan bercampur aduk, Leya langsung masuk ke ruangan. Berlari cepat menuju Glenn yang tertidur pulas layaknya bayi dengan alat-alat penunjang kehidupan. Suara alat pendeteksi jantung memenuhi ruangan ini, membuktikan bahwa jantung Glenn setidaknya masih berdenyut. Leya menggigit bibir bawahnya ketika melihat wajah Glenn yang tampak babak belur. Leya langsung mengambil kesimpulan bahwa Glenn tadi siang sedang bertarung.



*Bego banget lo Glenn... gue udah bilang jangan pergi sendiri...*



Hati Leya terasa sangat sakit melihat keadaan Glenn yang seperti ini. Ia bahkan tanpa sadar menitikkan air matanya dalam kebungkaman sambil perlahan memegang tangan Glenn.



Seseoramg menepuk pundaknya, Leya menoleh. Ayah Glenn sudah berada di sampingnya. Cepat-cepat Leya menghapus air matanya dan melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Glenn.



"Tenang saja, kita hanya perlu menunggu Glenn terbangun sebentar lagi."



Leya mengangguk, tapi dalam hati ia tetap tak tahan melihat Glenn. Ia mulai menyalahkan dirinya sendiri. Seandainya ia tidak tertidur terlalu lama, ia bisa mencegah Glenn.



Leya membuka matanya tepat pukul 12 malam ketika ponselnya terus bergetar di kantung celananya. Ia tertidur tepat di samping Glenn dalam keadaan duduk di kursi dan kepala yang ia letakkan di atas kasur rumah sakit--di samping Glenn--dengan tangan terlipat sebagai 'bantalnya'. Ayah Glenn dan Ayah Leya tidur di sofa rumah sakit dalam keadaan duduk pula, namun kepala dan tubuhnya di sandarkan ke sofa.


Leya merogoh ponselnya dengan malas dan masih mengantuk, karena ponsel itu terus bergetar. Ada 5 pesan masuk dari nomor tak dikenal! Seketika, tubuh Leya jadi kaku. Ia seakan bisa menebak siapa yang mengiriminya pesan. Leya mulai membaca pesan pertama.


Permainan ini tidak lagi menyenangkan! Salah satu kstaria hampir saja gugur di medan tempur. Dongengnya mungkin saja berubah. Ah, tapi tak apa. Itu hal mudah, karena aku, Grimm sang pendongeng.


Leya melebarkan matanya. A-apa maksudnya...


Jari Leya bergerak lagi untuk membaca pesan kedua.


Tapi, tenang saja. Bukankah masih ada sang ksatria cantik? Yang selalu mendampingi ksatria tampan? Ksatria tidak akan mati sebelum semua orang yang harus dilindunginya mati. Itulah peraturan dalam permainan ini. Begini lebih menyenangkan.


Leya merasakan tubuhnya mendingin. Bukan karena AC, lebih karena perasaan takut yang menghampirinya tiba-tiba ketika membaca pesan Grimm. Bulu romanya berdiri.


Beberapa hari lagi, ksatria tampan akan benar-benar pulih. Baiklah, aku tidak akan melakukan apapun selain menunggu. Dongeng akan berjalan lagi ketika ksatria bangun kembali. Tapi, bukankah kau punya waktu untuk mencari tahu siapa diriku? Atau mungkin mencari tahu sesuatu yang membuatmu tiba-tiba penasaran?


Grimm gila! Leya terus menyumpah dengan seluruh kebenciannya. Ia pasti sedang dipancing oleh Grimm. Bila Leya bertindak gegabah, akan membahayakan hidup Leya. Hal seperti ini tentu saja belum bisa membuat Leya tergerak sedikit pun untuk masuk sendiri ke dalam perangkap yang Grimm buat. Tapi, ia sangat ingin menangkap Grimm. Haruskah ia tergoda?


Biar kuberitahu sesuatu yang akan membuatmu tertarik dan penasaran. Kau melupakan sesuatu yang sangat penting dalam hidupmu. Bodoh bukan? Hahaha. Kira-kira apa yang kau lupakan? Trauma tentu saja membuatmu mengubur ingatanmu sendiri, bukan?


I-ini apa... seketika Leya diam. Mencerna kata demi kata yang tertulis di ponselnya. Ia tidak mengerti. Melupakan apa? Ia tak merasa melupakan apapun. Trauma? Tidak, walaupun ia trauma melihat kematian ibunya, ia justru tak bisa melupakannya.


Ini akan menjadi lebih menarik lagi. Aku tidak sabar melihat kalian kalah! Karena tidak ada yang bisa mengalahkanku. Bila ingin mengalahkanku, kalahkan mimpi buruk dan kenangan buruk kalian dulu :)


Ah ya, aku hampir lupa. Ada hal menarik lain yang harus kuberitahu. Bagaimana kalau peranmu dari ksatria berubah jadi pemeran utama penting di dongeng ini? Menyenangkan bukan? Temukan aku, sebelum aku yang berniat menemukanmu! :)


Dan kuncinya, hmm... sepertinya aku tidak membutuhkannya lagi. Apa kamu sendiri tidak penasaran dengan kuncinya?


Leya terdiam sesaat. Sial... ia melihat ke sekelilingnya, tiba-tiba tubuhnya membeku ketika ia melihat seseorang bertopi hitam dan pakaiannya hitam setengah badan di balik pintu kayu berkaca di ruangan ini yang memang kacanya hanya berukuran setengah badan. Orang itu tidak mengenakan masker namun menunduk. Orang itu kemudian bergerak hendak pergi. Dari samping, tampak bibirnya yang tersenyum dingin.


Senyum ini... dimana Leya pernah melihatnya? Dia perempuan...


Melihat itu, tanpa pikir panjang--yang membuatnya sama gegabahnya dengan Glenn dan melupakan rasa takutnya, karena tidak ingin membuang kesempatan begitu saja kehilangan jejak Grimm--Leya segera berlari keluar dan membuka pintu dengan cepat. Namun, perempuan itu benar-benar sudah lenyap. Cepat sekali?


Baru saja Leya hendak berlari menyusuri lorong sepi ini, kakinya tersandung sesuatu. Sebuah amplop berwarna coklat. Leya memungutnya, merobek ujung amplop, mengeluarkan isinya.


Sebuah kalung dan surat tertulis di sana.


Jadi, apa yang sudah kamu lupakan?


Leya kembali memperhatikan kalung itu. Kalung itu memiliki liontin berupa tempat kaca berbentuk bulat yang isinya adalah 3 benih dandelion. Tempat itu juga dilengkapi sebuah tutup kayu untuk mencegah dandelion keluar dari tempatnya.


Leya terus memperhatikannya. Menatap 3 benih dendelion itu lekat-lekat.


*Kalau kamu punya permohonan, buka aja tutupnya, ambil satu dandelionnya terus ditiup sampai terbang. Permohonanmu bisa terkabul!


Kenapa?


Karena kata Ibu benih dandelion membawa terbang permohonan orang ke langit!*


"I-itu siapa?" Tanya Leya menatap lorong kosong ini. "Siapa yang bicara?!" Tanya Leya lagi.


Suara anak kecil itu seakan muncul dalam kepalanya sendiri. Leya melihat sekelilingnya, kosong. Tak ada siapa-siapa, hanya ada dirinya sendiri.


*Aku suka bunga dandelion.


Karena nama Kakak dandelion?


Bukan, karena kata Ibu walaupun dia terlihat sederhana dan rapuh, dia bisa membuat orang bahagia melihat benihnya pergi bersama angin. Sederhana tapi indah bukan?*


Kepala Leya seketika sakit. Leya menekan kepalanya yang sakit dengan tangannya yang tak menggenggam kalung itu. Astaga, kenapa kepalanya sakit sekali seperti hendak pecah?


Leya menyandarkan tubuhnya pada dinding rumah sakit, masih meringis. Kemudian tubuhnya melemah dan oleng. Ia menggenggam erat kalung itu, sementara otaknya terus bekerja seakan memutar ulang adegan yang terasa asing baginya, tapi sebenarnya adegan itu adalah adegan yang tak pernah ingin ia lupakan.


Tanpa sadar, Leya terhempas ke atas lantai dan pandangannya gelap seketika.

__ADS_1



*"Bu, Leya gak suka pakai rok!" Leya kecil memberengut ketika mematut pantulan tubuhnya secara utuh di depan kaca. Leya terlihat sangat lucu dengan rambut yang diikat 2, baju dan rok selutut berwarna pink lembut, serta warna sepatu putih mungil.



"Kamu kan anak perempuan."



Leya memang aneh. Ketika anak-anak perempuan berumur 5 tahun sepertinya selalu ingin berdandan seperti putri-putri kerajaan cantik dengan rok maupun gaun lucu, ia justru merasa gerah, lebih suka mengenakan celana. Mungkin karena teman-teman kompleknya kebanyakan adalah laki-laki dan ia terbiasa hanya berlarian dengan celana pendek. Kalau kebanyakan anak perempuan seusianya senang bermain barbie atau masak-masakan, ia justru lebih senang bermain kelereng, bola bekel dan petak umpet. Bahkan bola!



Saat anak perempuan seusianya pasrah saja didandani seperti apapun oleh ibunya, ia justru menolak. Leya memang lebih cerdas dibanding anak perempuan lain seusianya, itu sebabnya ia bisa menolak dipakaikan rok.



"Tapi, Bu..." Leya memajukan mulut mungilnya yang menggemaskan. Dia memang lebih celoteh dibandingkan anak lainnya.



Ibunya tersenyum lembut kemudian mengecup keningnya, "biar gimanapun, Leya itu perempuan. Ibu gak ngelarang kamu main sama temen-temen cowok kan? Tapi, turutin ibu sekali ini aja ya sayang?"



Leya mengangguk terpaksa.



"Sekali-kali deh pakai rok biar samaan cantiknya kayak Kak Dedel."



Leya lagi-lagi memberengut. Tiba-tiba, terdengar suara tapak kaki kecil seorang anak berlarian dari luar kamar. Tak lama kemudian, pintu kamar Leya terbuka ketika seorang anak perempuan berjinjit meraih gangang pintunya.



Seorang anak perempuan berusia 7 tahun tersenyum lebar. Rambutnya terurai bergelombang sebahu dengan bando pita cantik berwarna pink. Keningnya tertutupi poni. Ia mengenakan baju yang sama dengan baju yang dikenakan Leya. Bahkan sepatunya juga.



"Bu, hari ini Dedel mau boneka baru ya." Ia berlari kecil lagi mendekati Ibunya, kemudian berdiri di samping Leya sambil mengibas-ngibas roknya, merasa dirinya begitu cantik seperti tuan putri.



"Iya sayang." Ibunya membelai lembut rambut anak itu.



"Baju Dedel samaan kayak Leya ya Bu?" Anak perempuan itu menatap ke samping, melihat adeknya yang masih memberengut.



"Iya. Dedel gak suka?"



"Suka!" Ia kemudian memeluk adiknya dari samping, "kita jadi cantik kayak putri!"



"Leya gak suka!"



"Hari ini aja kok. Nanti aku kasih Leya hadiah. Leya pasti suka!"



Leya langsung sumringah, "kelereng baru Kak!"




~~~*



*Siapa kamu?*



Itulah pertanyaan pertama yang Leya ucapkan dalam hatinya sambil meneteskan air mata ketika terbangun. Kenapa Leya merasa anak itu penting sekali dalam hidupnya? Suara anak kecil itu dan cuplikan-cuplikan adegan Leya bersama anak kecil cantik itu. Apa ini benar-benar mimpi? Atau mungkin ini potongan kenangan yang benar-benar terjadi? Lalu, siapa dia? Apa... Leya punya saudara perempuan? Kenapa ia lupa? Kenapa Ayahnya tak pernah berkata apapun? Dan... kenapa yang ia ingat hanya Ibunya saja?



Mengingat senyum polos anak kecil dalam mimpinya membuatnya menangis semakin kencang. Ia menutupi wajah dan mulutnya. Kenapa rasanya... sedih sekali? Apa yang Leya lupakan darinya? Kenapa ia melupakannya? Kenapa rasanya sakit sekali? Sesakit kehilangan ibunya.



Pintu rumah sakit terbuka. "Sayang, kamu kenapa? Sakit apa?" Leya tahu kalau itu Ayahnya. Ayahnya sepertinya baru saja membeli teh hangat untuk Leya. Ia tampak khawatir. Sepertinya hari ini, Leya banyak membuat Ayahnya khawatir.



Leya menghapus air matanya, kemudian duduk di samping sofa, "Ayah... Leya mimpi ketemu anak kecil cantik. Ada Ibu. Tapi, Leya gak tahu kenapa sedih banget ngeliat dia. Dan... Leya nemuin ini." Leya membuka telapak tangannya. Kalung itu masih ada dalam genggamannya. "Leya benar-benar anak tunggal kan?"



Ayahnya terperengah sesaat, wajahnya tak bisa Leya baca, "Dimana kamu nemuin? Jawab Ayah..."



"Di luar pintu ruangan ini."



Ayahnya baru saja hendak berusaha keluar, Leya malah menggenggam tangannya, "Udah gak ada orang di luar."



Ruangan ini terasa sepi. Ayah Glenn tidak terlihat entah ke mana. Mungkin ada panggilan mendadak dari rumah sakit atau bagaimana. Sementara, Glenn masih saja tertidur. Kepala Leya rasanya ingin pecah, terlalu banyak pikiran. Sekarang masih pukul 3 malam.



"Kamu bukan anak tunggal, sayang."



Air mata kembali turun dari pelupuk mata Leya. Lama kelamaan menjadi deras. Antara syok, rasa bersalah, rasa sakit, dan kesedihan mendalam.



Kenapa ia melupakan saudaranya?



*Rasa sakit itu dilema.


Ia berupa air mata, tapi juga berupa tawa.


Ia berupa kenangan kelam, tapi juga berupa kenangan bahagia.


Ia menjelma menjadi sepi, bersembunyi dalam kelam malam.


Rasa sakit itu kejam.


Melahirkan para iblis haus dendam.

__ADS_1


Juga melahirkan malaikat di hati cucu Adam.


Rasa sakit itu abu-abu


Api amarah telah meruak hingga ia mengabu


Tapi, afeksi berlebih menyentuh kalbu


Juga benih rasa sakit membubu


-G*


Dia tersenyum perih sambil menutup buku bersampul coklat berisi puisi yang laki-laki itu berikan padanya. Semua orang merasa sakit, tapi tidak sesakit laki-laki itu. Ia paham, paham benar. Karena, ia juga golongan para manusia terluka. Jadi, mereka sama-sama terluka.


Ia bangkit dari tempatnya duduk, mengambil salah satu buku dongeng dari rak perpustakaan. Alice in wonderland. Ia membacanya sebentar sebelum berniat membawanya pulang. Kemudian, ia mengambil buku dongeng lagi, kali ini putri duyung. Seperti tadi, ia membacanya sebentar sebelum menumpuknya di meja perpustakaan dan membawanya pulang.


Halaman terakhir, sebuah surat kecil terjatuh. Ia memungutnya.


Putri Ariel membunuh dirinya sendiri ketika Pangeran menikahi wanita lain. Cintanya bertepuk sebelah tangan.


Gadis itu tersenyum perih lagi. Dongeng yang satu ini bukankah mirip dengan kehidupannya? Mungkin itulah sebabnya ia menyukai dongeng-dongeng versi Grimm dan pendongeng lain yang lebih tragis. Ia tak pernah suka dongeng berakhiran bahagia. Karena, baginya itu palsu.


"Nak, perpustakaan sebentar lagi mau tutup."


Gadis itu menoleh, ia melirik jam tangannya. Pukul 9 malam. Ia tersenyum sekilas, "ohiya, maaf. Sebentar lagi ya Bu," katanya sopan pada wanita penjaga perpustakaan. Ia bergegas membawa tumpukan dongeng-dongeng yang ingin ia baca itu, kemudian membawanya ke meja penjaga perpustakaan.


"Dongeng lagi ya?"


Gadis bertopi hitam itu mengangguk.


"Okelah, gak papa. Jarang-jarang ada anak muda cantik seperti kamu masih suka dongeng. Buat bacain anak-anak panti ya?"


Dia diam. Kemudian beberapa detik kemudian, ia kembali mengangguk.


"Besok kamu ke panti lagi?"


"Iya, Bu."


Ibu penjaga perpustakaan pun memberikan buku-buku dongeng itu ketika ia telah selesai mencatat tanggal pengembalian. "Terima kasih ya sudah jadi relawan di sini sekaligus menyumbang beberapa buku untuk perpustakaan panti asuhan ini."


Dia mengangkat kepalanya, kemudian tersenyum, "Dengan senang hati, Bu."


Tentu saja, ia akan terus terikat dengan panti asuhan ini. Tempat dirinya tumbuh bersama laki-laki itu, satu-satunya yang paling ia cintai. Sekotor apapun tangannya saat ini, ia tetap akan berusaha menggenggam laki-laki itu.




Foto 1



Bunga Columbine ungu terjahit pada jempol tangan kanan korban. Tangan kanan korban berada di atas tangan kiri, seperti memberi isyarat dengan jari jempol dan kelingking terlipat. Orang awam akan berpikiran bahwa ia tengah memberi tahu angka tiga. Sementara tangan kiri yang berada di bawah tangan kanan terkepal dengan jempol kiri berada di atas 4 jari yang terlipat ke dalam. Kedua tangan korban berada di belakang tubuh tanpa kepala.



Foto 2.



Barang bukti, parang penuh darah yang dimasukkan ke dalam tempat sampah.



Telah dicek, tak ada sidik jari. Benar-benar bersih. Hanya ada darah korban.



Foto 3.



Kepala korban. Tak ada tanda-tanda benturan atau pukulan di kepala.



Foto 4.



Tubuh korban, masih mengenakan baju rumah.



Tim forensik menyatakan tak ada tanda penyiksaan sama sekali.



Foto 5.



Surat dari sang pembunuh. Pembunuh menyebutkan nama Lily Cattleya Gardenia, seperti ancaman. Surat pun tanpa sidik jari.



Pak Rasyid menutup berkas-berkas itu, kemudian mengusap wajahnya gusar.



"Kemungkinan dia adalah pembunuh yang sama dengan pembunuh 3 kor-"



"Jelas dia Grimm!" Potong Pak Rasyid dengan nada sedikit tinggi, "Bawa semua berkas mengenai korban-korban yang dibunuh Grimm. Dan bawa kembali berkas 4 tahun lalu. Pembunuhan berantai atas nama Glenn Warren Rajendra. Sementara, berikan pada Lily Cattleya Gardenia sampai Glenn benar-benar pulih."



"Tapi Pak-"



"Sekarang!"



Laki-laki berusia 30 tahunan bernama Rozaq, salah satu bawahan Pak Rasyid hanya bisa mengangguk dan bergegas melakukan apa yang diminta Pak Rasyid.



Ada sesuatu yang mengganjal dan membuat Pak Rasyid ragu. Tapi, ia akan mencari tahunya sendiri.



"Rozaq!" Pak Rasyid menghentikan langkah kaki Rozaq hanya dengan sekali panggil.



"Iya, Pak."



"Tolong bawakan saya seluruh berkas dan informasi apapun tentang Glenn. Semuanya tanpa terkecuali."



"Baik, Pak."


__ADS_1


Semua orang punya rasa sakit. Dan para manusia bertopeng mungkin saja terlalu *apik* menutupi identitasnya yang kelam. Tentu saja untuk mempermudah pembalasan atas rasa sakit.


__ADS_2