
"Gue detektif."
Apa?!
Leya diam beberapa detik sambil melebarkan matanya, namun kemudian di detik berikutnya ia tertawa terbahak-bahak hingga perutnya sakit.
"Pantes aja lo masuk rumah sakit jiwa hahaha." Leya kemudian langsung menutup mulutnya, ia tahu kali ini ia salah bicara. Namun, Glenn terlihat biasa saja, ekspresi wajahnya tetap datar.
"Eh anu so-sorry..." ujarnya terbata-bata.
"It's okay." Glenn hanya mengedikkan bahunya acuh tak acuh. Kemudian, tak lama handphone-nya berdering. Glenn mengangkat teleponnya setelah melihat nama sang penelepon.
"Halo, Yah? Gimana? Udah keluar hasil otopsinya?"
Hasil otopsi? Kok kayak detektif beneran?
Leya mendekatkan telinganya sedikit ingin mendengar ucapan seseorang di ujung sana.
"Iya udah Nak. Kamu udah pulang sekolah? Ke sini aja langsung ya."
"Iya, Glenn ke sana."
Klik. Telpon dimatikan.
Glenn turun dari meja tempat dirinya duduk, kemudian Leya membuntuti Glenn yang langsung keluar kelas setelah menyampirkan tasnya di bahu kanan.
Glenn menoleh ketika sadar dirinya dibuntuti oleh gadis berikat satu itu.
"Ngapain?" tanya Glenn sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Lo beneran detektif?" Leya nampaknya masih tidak percaya bahwa di usia semuda ini, Glenn telah menjadi detektif.
Glenn menghela nafasnya saja.
"Lo mau ikut?" Bukannya menjawab, Glenn malah balik bertanya. Menurutnya, pertanyaan Leya barusan tak perlu dijawab.
"Hah? Kemana?"
"Tempat kerja bokap gue."
"Boleh deh."
Leya dan Glenn melangkah beriringan menyusuri koridor sekolah. Semua mata memandang mereka dengan pandangan beragam, namun kebanyakan menatap Glenn seram dan menatap Leya aneh. Leya tahu dengan pasti bahwa gosip mengenai Glenn yang pernah masuk ke rumah sakit jiwa itu telah menyebar luas. Sebagian dirinya percaya akan hal itu, namun setengah dirinya yang lain mulai ragu--terlebih setelah melihat Glenn hari ini.
Mereka berdua melewati wartawan yang sejak tadi entah kenapa tak kunjung pulang, seakan menunggu keajaiban bahwa mungkin salah satu dari siswa-siswi akan memberi penjelasan. Namun, sebenarnya sedikit sia-sia. Mereka menghampiri Leya dan Glenn, namun Leya dan Glenn buru-buru pergi tanpa memberikan sebuah penjelasan.
Sesampainya di parkiran, handphone Leya berdering, Ayahnya memanggil.
"Leya udah pulang? Ayah kesana ya?"
"Enggak usah Yah, Leya pulang sama temen entar. Leya mau jalan dulu."
"Kemana? Sama siapa? Udah makan? Pulangnya jangan kemaleman ya? Ntar kalau ada apa-apa langsung telpon Ayah. Ohiya, kalau ada yang mencurigakan juga langsung lari terus telpon Ayah. Kamu hati-hati ya?"
Inilah yang sering membuat Leya sebal pada ayahnya. Bahkan satupun pertanyaan itu belum Leya jawab, namun ayahnya langsung memberikan pertanyaan beruntun dengan sekali tarikan nafas. Maklum saja, Leya anak satu-satunya dan ayahnya hanyalah seorang orang tua tunggal. Jelas ia sangan protektif terhadap putrinya itu.
Leya baru saja hendak menjawab, tiba-tiba Glenn merebut teleponnya. Membuat Leya tersentak bahkan membeku ditempat sambil melebarkan matanya.
"Sama saya, Om. Nama saya Glenn. Ntar Leya saya antar pulang dengan selamat. Om tenang aja."
Ini cowok gila apa ya? Dia yang bilang sendiri kalau gue bisa berhadapan dengan bahaya, tapi dengan entengnya dia bilang kalau dia bakal antar gue dengan selamat?
"Ohiya, pacarnya Leya? Leya belum pernah cerita."
Leya menepuk keningnya sebal. Ia mengumpat Glenn dalam hati. Luar biasa, lancang sekali laki-laki di depannya ini. Akhirnya, Leya kembali merebut handphone-nya.
"Bukan Yah, cuma temen. Udah ya Leya tutup. Dadah Yah..."
Klik. Leya mematikan panggilan itu secara sepihak. Ia tahu, setelah pulang ke rumah akan ada banyak pertanyaan yang Ayahnya lontarkan padanya. Ini semua gara-gara Gleen!
"Glenn, lo tuh gila ya? Kok bisa-bisanya lo-"
"Cepet pakai helmnya, gausah banyak ngomong. Kita gak punya banyak waktu." Glenn langsung memotong ocehan Leya sebelum gadis itu lebih banyak berbicara lagi.
Leya memajukan bibirnya cemberut, kemudian mengambil helm itu dan naik di atas motor Glenn. Glenn pun memacu kecepatan motor matic hitamnya menuju rumah sakit.
~~~
Leya dan Glenn telah berada di rumah sakit. Glenn langsung melangkah menuju ke ruangan ayahnya. Beberapa perawat tersenyum dan menyapa Glenn. Mereka juga terkadang tersenyum pada Leya dan Leya membalas senyuman itu.
"Glenn? Tumben datengnya gak sendirian. Bawa cewek cantik. Ohiya, kamu sudah ditunggu Ayahmu loh. Masuk aja," ujar seorang pria berjas putih yang umurnya kisaran 40 tahun. Leya hanya tersenyum saja mendengar hal itu sambil berkata terimakasih atas pujiannya.
"Oh iya Om Charles, terimakasih," ujar Glenn.
Glenn masuk ke dalan sebuah ruangan, tepatnya kamar mayat. Ada satu mayat yang jelas Leya kenali--mayat Raya--dengan wajah yang begitu pucat dan matanya tertutup rapat. Sudah tak ada jahitan itu lagi di matanya. Setengah tubuhnya ditutupi selimut. Hanya wajah dan lehernya saja yang tak tertutup selimut putih.
Ah, bau kamar mayat ini benar-benar... seperti bau busuk yang menusuk hidung.
Terlihat seorang pria berusia sekitar 30 tahunan. Ia mengenakan kacamatanya, berdiri di samping Raya sambil menatap catatan yang ia pegang saat ini.
"Ayah," panggil Glenn. Laki-laki itu menoleh kemudian tersenyum. Bahkan di usianya yang 30 tahun saja, laki-laki itu tetap terlihat begitu tampan.
Benar informasi yang diberikan oleh Rosa, bahwa Ayah Glenn adalah seorang dokter forensik. Luar biasa gosip-gosip itu. Leya penasaran, sebenarnya tahu darimana mereka mengenai ini?
Pria berjas putih itu melangkah mendekati Glenn, "Hai Glenn, gimana sekolahmu?" ujar Ayahnya.
"Baik kok, Yah." Sepertinya Ayah Glenn masih belum menyadari kehadiran Leya yang sedari tadi bungkam, maka Glenn terlebih dahulu memperkenalkan Leya, "Ayah, ini Leya. Leya, ini bokap gue."
Leya tersenyum kemudian memperkenalkan dirinya, "Leya, Om." Leya langsung mencium punggung tangan Ayah Glenn.
"Wah cantik sekali. Pacar kamu Gleen? Baru saja masuk ke sekolah ternyata sudah menemukan pacar ya hahaha. Kenapa tidak cerita pada Ayah?"
"Bukan Om."
"Bukan Yah."
Mereka mejawab bersamaan, membuat Ayah Glenn tertawa. Sementara, mereka berdua jadi begitu canggung. Glenn berdeham canggung.
"Ayah suka nih, Glenn. Manis sekali. Sekali-kali ajak makan malam di rumah." Ayah Glenn tak berhenti tersenyum. Sesekali ia memperbaiki kacamatanya, "Oh iya Leya, apa kamu sudah tahu pekerjaan sampingan Glenn?"
"Pekerjaan sampingan?" Leya berusaha memastikan lagi. Ayah Glenn mengangguk.
"Udah Glenn kasih tau Yah."
"Oh baguslah, supaya kamu tidak kaget saja kalau Glenn memiliki pekerjaan seperti ini. Kalau bisa kamu jangan beritahu siapa-siapa ya? Ini demi keselamatan Glenn dan kamu juga. Bisa kan?"
Leya terpaksa mengangguk. Sedikit demi sedikit ia mulai percaya bahwa Glenn memang memiliki pekerjaan sebagai detektif. Tapi, detektif setelah masuk rumah sakit jiwa? Apa tidak salah?
"Udah Yah ngobrolnya. Kita balik ke pekerjaan dulu, gimana Yah? Ada sesuatu gak?"
Ayahnya mengangguk, kemudian ia memberikan sebuah lembaran berisi informasi kematian Raya. Sementara Glenn mengecek lembaran itu, Leya malah melangkah mendekati Raya, meneliti setiap detail luka di kepala dan wajah--lebih tepatnya luka jahitan di mata Raya tanpa menyentuh. Hanya menatapnya saja.
"Korban mati bukan karena benturan di kepalanya. Benturan itu memang menimbulkan luka yang lumayan serius. Namun, kematiannya terjadi karena kehabisan darah. Sekitar 1 jam setelah kalian bawa ke sini, dia sudah meninggal."
"Korban dibawa ke rumah sakit pukul 16.50. Dari sekolah ke sini sekitar 20 menit, jadi kemungkinannya pukul 15.30 korban benar-benar sudah meninggal?"
Ayahnya mengangguk.
Raya keluar kelas pukul 15.00, kalau diperkirakan dia menuju toilet 5 menit, buang air kecil paling lama 5 menit, maka ada waktu 20 menit bagi sang pembunuh melakukan pembunuhan ini. Terbilang cepat. Terutama sang pembunuh begitu rapi menutupi kejahatannya. Tanpa jejak, tanpa sidik jari, hanya sebuah clue.
Glenn mengeluarkan kertas yang merupakan clue yang ditinggalkan oleh sang pembunuh, kemudian memberikan pada ayahnya. Ia juga menyuruh Leya memberikan clue yang Leya dapatkan kepada Ayahnya.
"Yah, bisa tolong cek darah pada kertas ini?" Ayahnya mengambil dengan sarung tangan kemudian memasukkannya pada sebuah plastik. Ia mengangguk.
"Ayah keluar sebentar ya, kalian di sini dulu."
Mereka berdua mengangguk.
__ADS_1
Leya masih memandangi Raya dengan tatapan yang tak bisa diartikan Glenn. Sementara Glenn diam-diam memandangi wajah Leya.
"Glenn, kenapa lo ngaku kalau lo detektif sama gue? Sementara lo harusnya merahasiakan semuanya."
"Karna lo partner gue."
Leya mengalihkan pandangannya ke arah Glenn, "Gue gak pernah bilang kalau gue mau jadi partner lo."
"Tapi secara tidak langsung, lo setuju."
Leya menghela nafasnya.
"Kenapa lo milih gue jadi partner?"
"Insting gue bilang lo pantas."
"Lo-"
Handphone Glenn tiba-tiba berdering, dengan segera Glenn mengangkatnya. Tentu saja dering telepon itu membuat ucapan Leya terpotong.
"Glenn? Bagaimana? Sudah mengecek rekaman wawancaranya?"
Terdengar suara bariton pria di sana. Dari suaranya, pria itu terdengar sudah dewasa, mungkin usia 40 tahunan. Glenn sepertinya sengaja menyalakan loadspeaker-nya sambil berjalan ke luar kamar mayat. Lagi-lagi Leya membuntuti Glenn dari belakang.
"Sudah, Pak. Tapi belum semuanya, saya baru mengecek rekaman wawancara dengan guru. Mungkin hari ini saya akan cek rekaman suara siswa yang dicurigai."
"Baiklah Glenn. Kalau ada yang kamu perlukan lagi, beritahu saja aku."
"Iya Pak. Terimakasih banyak."
Klik. Telpon dihentikan.
"Kenapa lo gak ikut wawancarain?" tanya Leya langsung to the point, "Itu Pak Polisi?"
"Gue bisa ketahuan kalau ikut wawancarain. Biasanya, gue wawancara lewat telpon sambil ngeliat dari jauh. Jadi pas lagi wawancara dengan polisi, polisi nge-loadspeaker panggilan gue. Kemarin gue gak bisa nelpon karna gue lagi di posisi sulit. Gue juga diwawancarai."
"Aneh banget lo detektif tapi lo juga diwawancarai?"
"Posisi gue kemarin kan jadi yang dicurigain karna gue ikut keluar kelas. Awalnya polisi gamau wawancarain gue, tapi gue nyuruh mereka melakukan sesuai prosedur. Toh gue juga punya bukti kalau gue gak ngebunuh."
"Asli, gue masih sulit percaya."
"Iya terserah lo aja." Glenn menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, "Udah hampir jam 6. Lo gue anter pulang ya."
"Entaran aja ah. Lo katanya mau ngecek rekaman wawancara? Gue ikut."
"Gue ngeceknya di rumah."
"Gapapa gue ikut."
Glenn memutar kedua matanya. Leya mengaku tak percaya bahwa Glenn seorang detektif namun bersikeras selalu ingin mengikuti apapun yang ingin dilakukan Glenn. Yasudahlah, toh Glenn telah memilihnya menjadi partner.
"Yaudah gue ke ruangan Ayah gue dulu ijin pulang. Lo tunggu di luar sini aja dulu."
Leya tersenyum dan mengangguk.
Leya sudah berada di depan rumah yang terbilang mewah--walaupun tak semewah rumahnya--dengan cat berwarna putih yang mendominasi. Glenn memarkir motornya di halaman rumahnya yang luas, kemudian melangkah menuju pintu rumahnya. Leya hanya membuntuti dari belakang.
Glenn mengeluarkan kunci rumah dari saku celananya, kemudian membuka pintu rumah itu dengan kuncinya. Suasana sepi menyelimuti rumah ini, persis seperti rumah Leya yang sepi. Leya tak melihat Ibu Glenn. Apa Glenn memiliki nasib yang sama dengan Leya? Tidak memiliki Ibu?
"Sepi banget rumah lo. Lo gak punya pembantu?" Leya melihat sekeliling rumah mewah ini. Indah namun begitu sepi.
"Ibu lo?"
"Meninggal waktu umur gue 5 tahun."
"Sorry gue gak tau..."
"Gapapa. Lo mau makan apa?"
"Ntaran aja Glenn. Mending kita cek rekaman dulu."
"Oke. Ikut gue."
Glenn dan Leya naik ke lantai 2 menuju kamar milik Glenn. Saat Glenn membuka pintu kamarnya dan mempersilakan Leya masuk, Leya terkesima dengan apa yang ia lihat di depannya. Kamar Glenn rapi namun berantakan di saat yang sama. Rapi, karena lantainya terlihat mengkilap dan bersih, tempat tidurnya pun rapi. Berantakan, karena terlihat berkas-berkas berhamburan di meja belajarnya.
Sepertinya hanya meja belajar yang nampak berantakan dan merusak pemandangan. Selain itu, foto-foto Raya yang sudah meninggal nampak tertempel di sebuah papan di dekat meja belajar dengan banyak tulisan mengenai keterangan-keterangan tertentu yang mengacu pada sang pembunuh, seperti dugaan-dugaan yang Glenn tulis tentang pembunuhan Raya. Ada pula foto-foto deretan orang yang dicurigai sebagai pembunuh Raya.
Di dekat tempat tidurnya, terlihat potongan-potongan koran dan korban-korban pembunuhan. Apa Glenn bisa tidur pulas dengan pemandangan seperti itu? Yang benar saja...
"Glenn sumpah ini kayak kamar psyco tau gak? Foto-foto mayat gitu."
Glenn tertawa sebentar melihat ekspresi ngeri yang Leya tampilkan, "Itu kasus-kasus yang dulu gue pecahin."
Leya terkesiap sesaat.
"Kan kasusnya udah dipecahin, terus kenapa masih ada foto begituan? Lo bisa tidur dengan pemandangan begitu?"
"Itu sebagai pengingat kalau gue pernah mecahin kasus itu maka kasus selanjutnya harus bisa gue pecahin juga."
"*You are creepy as hell*. Lebih *creepy* dari gue." Leya menggeleng, sementara Glenn langsung mengambil laptop yang ia taruh di atas meja belajarnya yang berantakan.
Glenn duduk bersila di lantai dan Leya duduk di sampingnya. Glenn langsung menyalakan laptopnya dan membuka e-mail dari salah satu polisi berisi rekaman suara wawancara.
__ADS_1
"Lo gak takut ke kamar gue? Kita baru 2 hari kenal. Gue bisa aja melakukan apapun, dan gak ada orang yang tau," tanya Glenn tiba-tiba sementara matanya terfokus pada e-mail.
"Insting gue bilang lo baik." Hanya itu jawaban Leya. Leya bukan tipe orang yang mudah percaya pada orang lain, tapi entah kenapa walaupun ia awalnya tak percaya bahwa Glenn itu baik dan ia seorang detektif, namun instingnya berkata bahwa ia harus percaya pada Glenn. Aneh bukan?
"Lagian kalau lo macem-macem, gue bisa balik habisin lo. Biasanya kalau kepepet, jiwa pembunuh gue keluar." Leya terkekeh bermaksud bercanda, namun ternyata Glenn tak begitu menghiraukan. Ia malah sibuk membuka rekaman suara.
Rekaman suara pun berhasil Glenn putar. Rekaman suara pertama adalah suara Alfi.
*"Siapa nama kamu?"
"Alfi Ganendra Ardani."
"Apa kamu mengenal saudara Angkasa Raya?"
"Tentu saja Pak. Dia ketua OSIS. Tidak ada yang tidak mengenalnya."
"Seberapa dekat kamu dengan Angkasa Raya?"
"Tidak dekat Pak. Saya hanya tahu namanya, tidak kenal. Bahkan saya tidak pernah bertegur sapa dengannya."
"Baiklah, kalau begitu. Bisa tolong dijelaskan, kamu berada dimana pada pukul 3?"
"Saya membolos pak saat pergantian jam di pukul 2. Saya bolos berdua dengan Geby di kantin bu Ijem sampai pulangan. Dan pas pulangan kami baru mendengar Chandra berteriak ada yang tewas di toilet. Saya kaget ternyata Raya yang tewas. Saya gak habis pikir saja. Padahal Raya baik sebagai ketua OSIS."*
"Ada yang aneh nih Glenn."
Glenn menekan tombol pause pada rekaman itu dan bersiap mendengarkan penjelasan Leya.
"Kak Alfi bohong kalau bilang dia gak deket Kak Raya. Gue tahu Kak Raya itu musuh bebuyutan Kak Alfi karena Kak Alfi tukang bully dan nakal kebangetan, suka ngerokok di belakang sekolah juga dan Kak Raya sering lapor ke guru. Jelas Kak Alfi musuhan sama Kak Raya. Beberapa kali juga gue pernah liat mereka ngomong. Bisa-bisanya dia bohong. Maksud gue, dia gak cuma sekedar tahu kalau Raya itu Ketua OSIS, lebih dari itu." Leya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ohya?" Glenn mengangguk-anggukkan kepalanya, "Hmm yaudah kita lanjut dengar lagi aja."
*"Apa selama 3 jam, kamu dan Geby hanya duduk di kantin sekolah?"
"Ehmm iya Pak."
"Apa ada saksi yang melihatmu berada di kantin?"
"Bisa ditanya pada Bi Ijem nya Pak."
"Kamu tadi bilang bahwa Angkasa Raya adalah ketua OSIS yang baik. Bisa kamu jelaskan seperti apa dia sejauh ini selama menjabat sebagai ketua OSIS?"
"Ehmm dia baik Pak. Ramah, suka negur, tegas, bijaksana. Sejauh ini saya melihatnya seperti itu."
"Suka negur? Katanya kamu gak pernah tegur sapa dengannya?"*
"Tuh kan Glenn, ini Kak Alfi aneh tahu!"
"Sstt diam. Dengerin dulu."
Leya mengangguk, tapi ia cukup gemas mendengar semua kebohongan yang terlontar dari mulut Alfi. Jangan-jangan, Alfi juga berbohong kalau dia sedang membolos di kantin?
*"Hah? Ehm... i-iya Pak memang. Itu yang saya dengar dari teman saja, walaupun dia gak negur saya..."
"Hmm... baiklah, pertanyaan terakhir. Waktu kamu mendengar bahwa ada mayat di toilet, apa kamu pergi untuk melihat?"
"Iya Pak saya sama Geby langsung ke toilet. Waktu itu toilet udah penuh banget. Saya kaget melihat keadaan Raya yang mengenaskan. Matanya di jahit, penuh darah, dan ada bunga putih yang dijahit di jempolnya."*
"Gleen... *how can he know that detail*? Gue aja tahu kalau bunga itu dijahit di jempolnya setelah gue ngecek nadinya. Dari jauh gak akan kelihatan dengan jelas kalau bunga itu dijahit."
Glenn bungkam, ia terlihat berpikir, sementara setelah itu rekamannya selesai.
"Kita harus wawancarai Bi Ijem itu."
Leya mengangguk.
~~~
__ADS_1