Once Upon a Time

Once Upon a Time
Di Luar List Tersangka


__ADS_3

"Sayap burung ini patah, daripada dia tersiksa, lebih baik aku bunuh saja." Glenn melebarkan matanya. Yang berbicara itu bukan Friska melainkan Adrian. Adrian tersenyum polos, memperlihatkan seekor burung yang sudah mati berdarah. Sebuah pisau telah menusuk tepat ke daerah jantung burung itu, "aku baca buku, ini daerah jantung burung itu. Ia harus ditusuk tepat ke jantung supaya dia gak kesakitan saat mati."


Adrian berdiri dari tempatnya duduk di depan Friska dan Glenn, "ayo kita kubur," katanya lagi. Mereka berdua membuntuti Adrian, menyangkul tanah dengan skop plastik mainan, menguburkan burung itu, kemudian menutupi tubuh burung itu dengan tanah lagi. "Mahkluk hidup butuh keadilan. Aku percaya, semua orang harus membayar perbuatan apapun yang mereka perbuat. Kau lihat saja. Singa membunuh kijang. Kemudian, datanglah manusia yang membunuhnya. Itu sebuah keadilan. Seharusnya, manusia juga memberlakukan hukum seperti itu," tambah Adrian lagi.


"Aku tidak setuju," kata Glenn kecil, "Tuhan bisa membalaskan satu per satu manusia, bahkan lebih adil dari yang kita bayangkan."


"Tuhan tidak ada. Dan kalau pun Tuhan ada, Dia terlalu lama membalaskannya. Sudah ada luka terlebih dahulu di hati manusia, lalu kemana Tuhan?"


Glenn kecil berdebat dengan Adrian, "Tuhan itu ada. Kalau Tuhan tak ada, kamu tak ada. Dunia ini tak ada."


"Lalu, ke mana Tuhan saat Ibu kandungmu memukulimu?" Tanya Adrian sengit, namun wajahnya tetap dingin. Tidak seperti wajah polos yang selalu ia tampilkan di depan orang lain. "Ke mana Tuhan saat aku dan Friska dibuang? Ke mana Tuhan saat pengurus pantiku yang terdahulu menyiksaku? Berkata bahwa aku anak iblis."


Glenn kecil diam, ia tak bisa menjawabnya. Karena, ia pun tak tahu kemana Tuhan saat dirinya disiksa Ibu kandungnya.


"Kamu tidak bisa menjawabnya kan? Nyatanya, Tuhan tidak mencintai anak-anak seperti kita. Kita anak iblis, jadi Tuhan tidak mencintai kita. Kamu tahu? Aku yang membakar panti asuhan tempatku dan Friska pertama diasuh. Aku mengeluarkan seluruh teman-temanku dari sana, kemudian membakar rumah itu. Ibu Lasmi, si iblis itu ada di sana. Dia terbakar, kemudian mati. Akhirnya, kami semua bisa tinggal dengan pengasuh yang lebih menyayangi kami dan memperlakukan kami dengan baik. Di dunia ini, dibutuhkan seseorang untuk menegakkan keadilan. Aku akan menjadi seperti itu saat besar nanti. Aku akan menolong orang-orang."


Glenn kecil melebarkan matanya, begitupula dengan Glenn remaja. Mereka terkejut bersamaan, sementara Friska hanya diam. Ia jelas tahu semuanya.


"Semua orang, di lubuk hatinya yang terdalam, mendukung keadilan seperti itu. Aku pernah mendengar sebuah pepatah mata dibalas mata. Dan aku sangat setuju dengan itu. Lalu, kenapa manusia takut membalaskan dendam? Karena ada sebuah hukum yang mengikat mereka. Tapi, hukum juga butuh pelanggar. Manusia butuh melanggar agar keadilan benar-benar bisa tercapai. Bayangkan kalau di dunia ini tidak ada penjahat dan pembunuh."


"Tapi, secara gak langsung, kamu berubah jadi penjahat dan pembunuh seperti mereka, Dri. Kamu gak ada bedanya dengan mereka. Seandainya di dunia ini gak ada hukum, semua orang akan saling membunuh. Kamu muncul seperti pahlawan, membunuh para penjahat. Tapi kamu gak akan tahu kalau penjahat juga punya seseorang yang bisa membalaskan dendamnya untukmu. Lalu, mereka berusaha membunuhmu. Dunia ini akan jadi tempat pembalasan dendam. Saling membalas dendam. Maka, dunia ini bukan tempat yang aman lagi," jelas Glenn kecil.


"Tapi bagaimana dengan membunuh secara tidak langsung? Seperti yang dilakukan Desta dan teman-temannya padaku? Mereka mem-bully ku setiap hari, membunuh psikis. Mana ada yang tahu siapa pembunuh psikis. Itu benar-benar trik yang sangat halus untuk membunuh orang. Kamu lihat saja, betapa banyak orang-orang yang bunuh diri akibat dibully. Lalu apa yang penegak hukum lakukan pada mereka? Kupikir tidak ada. Itu tidak adil."


Friska menoleh ke arah mereka berdua. Menatap mereka bergantian. Glenn kecil dan Adrian kecil memang memiliki pemikiran dewasa untuk anak seusia mereka. Mereka memang jenius, terlalu banyak membaca dan banyak mendengar.


"Tapi, Tuhan adil. Ia mengirimkanmu seseorang yang bisa melindungi kamu dari Desta dan teman-temannya. Mereka tidak berani saat Marco muncul bukan? Marco melindungi kamu. Dri, aku menyayangimu seperti saudara, aku yakin Marco juga sangat menyayangimu. Begitu pula dengan Leo. Kalian sendiri kan yang memberitahuku soal Marco dan Leo? Yah, walaupun aku tidak tahu sama sekali mengenai mereka berdua."


"Friska? Adrian? Glenn? Ayo kita makan siang." Mereka bertiga menoleh, kemudian bangkit dan berlari menuju Bunda.


Tempat ini luntur, menghilang. Glenn kembali berpindah tempat. Kali ini, ia berada di dalam kamar.


"Leo, aku akan memberitahumu rahasia. Tapi, kamu gak boleh kasih tahu Glenn ya. Dia pasti tidak setuju." Adrian berbisik, ia kemudian memperlihatkan gambar-gambarnya kepada Leo, "aku dan Friska membuat ini."


"Apa ini?" Tanya Leo.


"Dongeng kita di masa depan. Ada pangeran kodok yang akan dipenggal, Hansel yang makan permen coklat beracun, kemudian serigala yang mati."


Leo diam, tak beberapa lama kemudian ia bertanya, "bagaimana dongengnya?"


Friska menjawab, "kami masih belum tahu. Ini hanya hukuman untuk mereka saja. Mungkin ada yang akan berubah atau ditambah. Lihat saja nanti."


"Kalian benar-benar akan membuat ini?"


"Ya, kita harus menyelesaikan dongengnya. Kita akan menjadi pendongeng bukan?" Kata Adrian tersenyum.


"Aku... merasa ini ide yang buruk."


"Oh, Leo. Kamu ingin seperti Glenn juga? Tenang saja, kami tidak benar-benar melakukannya. Iyakan, Dri?" Kata Friska.


Adrian hanya tersenyum lebar sambil mengangguk, "kita butuh dongeng yang adil. Dongeng tidak selalu berakhiran bahagia. Karena kebahagiaan itu hanya ilusi semata. Pada akhirnya, semua orang akan meninggal."


Glenn berpindah lagi ke tempat lain. Saat ini Adrian, Friska, dan Glenn sedang berada di taman.


"Pokoknya janji. Kita bertiga harus selalu sama-sama. Gak boleh dipisahin," kata Friska.


Glenn kecil dan Adrian mengangguk.


Adrian menoleh ke arah Glenn, "Glenn, kamu janji kan?"


Glenn mengangguk saja tanpa banyak bicara.


"Di mana pun kamu berada, aku dan Friska akan selalu ada di dekatmu juga. Kami selalu memperhatikanmu, bagaimana pun caranya. Kamu tahu, aku selalu bisa membaca setiap pergerakan orang lain hanya dengan melihatnya. Aku bisa memprediksinya. Tidak terkecuali kamu, aku bisa memprediksi pergerakanmu. Tapi, Glenn... aku sedikit tidak percaya denganmu," jelas Adrian.


"Kenapa?"


"Entahlah. Aku merasa... kamu akan pergi lebih dulu."


"Itu tidak akan terjadi, aku janji," kata Glenn tersenyum manis.


Kemudian, secara cepat, cuplikan-cuplikan kenangan mengenai Adrian mulai mengalir. Adrian tidak pernah berbicara sekalipun dengan orang lain kecuali Friska dan Glenn. Semua orang mengiranya bisu. Tapi, ia iblis kecil. Ia mencelakakan Ayah dan Ibu Glenn. Ia menaruh paku diam-diam hingga tertusuk telapak kaki Ibu, ia membuat Ayah terjatuh dari tangga dengan menggosokkan sabun di depan tangga, hingga sendal rumah yang Ayah pakai menjadi licin dan Ayah tergelincir. Ia juga pernah membuat Ayah jatuh dari kursi saat memperbaiki lampu hingga tangan Ayah patah.


"Itu kulakukan karena aku tahu, mereka akan membawamu. Mereka tidak akan memilih kita bertiga. Mereka tidak akan memilihku atau Friska," jelas Adrian.


"Kamu tahu dari mana?" Tanya Glenn kecil.


"Aku tahu. Aku melihat mereka. Dan aku selalu tahu."


Waktu kejadian kembali berubah, Glenn meluncur ke kenangan yang lainnya. Kali ini mereka berada di belakang sekolah. Terlihat Adrian sedang dikerumuni 3 anak SD yang tubuhnya lebih besar. Adrian terduduk, ia dikeroyok. Kemudian datang Glenn kecil, berlari, menerobos. Ada Friska jugaa. "Gak adil kalian 3 lawan satu. Maju sini satu-satu dasar banci. Bisanya main keroyokan!!!" Kata Glenn berdiri di depan Adrian melindungi Adrian.


"Heh, Glenn! Gak usah macam-macam ya kamu. Gak usah sok jagoan!!" Tanpa di sangka, ada satu kakak kelas yang berbuat curang, ia memukul Glenn tiba-tiba hingga Glenn pingsan.


"Glenn!" Panggil Friska. Friska menatap mereka marah, kemudian mendorong mereka. Mereka balik mendorong Friska.


"Gak usah sok jagoan lo, Fris!"


Friska marah, ia menendang kuat-kuat kaki salah satu laki-laki yang berada di depannya hingga laki-laki itu terjatuh kesakitan. Kedua temannya langsung balik menendang kaki Friska.


"WOY! BANCI LO BERANI GANGGU CEWEK! POTONG AJA TUH KEMALUAN LO!" Glenn yang tadinya pingsan, saat ini sudah kembali berdiri. Raut wajahnya berubah lebih bengis. Ia menyeringai.


"Glenn?" Kata salah satu laki-laki memastikan. Ia menatap Glenn aneh. Bukankah tadi Glenn pingsan?


"Marco! Bukan Glenn!" Marco langsung menendang kaki salah satu kakak kelasnya hingga terjatuh dan kesakitan. Ia meninju wajah kakak kelas yang lainnya lagi hingga tersungkur.


"Baru gue tendang aja udah mau nangis. Awas lo ganggu Adrian lagi, gue patahin tuh kaki," katanya yang kemudian menarik lengan Adrian, "Dri, kamu gak papa kan?" Tanyanya.


"Gak papa, Marco. Makasih ya."


Marco tersenyum, mengacak puncak kepala Adrian, "Friska gimana?"


"Gak papa kok."


"Dri, kamu naik ke punggungku ya?" Kata Marco lagi, "kita ke UKS sekarang."


"Marco... nanti... kalau Glenn... dimarahin guru, gimana?"


"Tenang aja. Dia gak akan ingat. Palingan dihukum skors doang sih. Mereka gak akan ngeluarin Glenn dari sekolah." Adrian menoleh ke arah 3 anak tadi. "Tapi, kupikir mereka gak akan berani bilang. Karena, kalau mereka bilang, mereka juga akan kena hukuman. Ya gak?" Tanya Marco kali ini mengalihkan pandangan ke arah mereka bertiga. Marco melotot, memandang mereka dengan tatapan intimidasi, mereka terpaksa mengangguk.


Tempat ini berubah kembali ke kamar. Mata Glenn melebar melihat seorang perempuan yang menggantung diri di dalam kamar mereka. Glenn kecil baru saja masuk, ia terkejut. Terutama melihat Friska dan Adrian yang berdiri di depan perempuan itu.

__ADS_1


"Glenn tutup pintunya!" Kata Friska berbisik.


Glenn hanya menuruti, "a-apa yang ka-kalian lakukan..."


"Kami tidak melakukan apapun," kata Adrian, "mbak Dewi kasihan. Beban hidupnya terlalu berat. Kemudian, aku berkata bahwa dia tidak seharusnya mengalami beban seperti itu. Jiwanya terkekang, lalu aku bilang, ia harus bisa membebaskan jiwanya. Aku bilang, kalau dia mati, semua orang akan kembali menyayanginya dan seluruh bebannya akan terlepas. Jiwanya juga akan bebas. Dia menangis, dia bilang aku benar. Setelah itu, dia melakukan ini," kata Adrian menatap ke arah Dewi yang sekarat.


"Adrian selalu bisa mempengaruhi orang lain dengan perkataannya. Kata-katanya seperti hipnotis. Semua orang yang mendengarnya akan terpengaruh. Siapapun itu. Dia seperti bisa melihat jiwa tergelap manusia, lalu dia memanipulasinya, agar ia bisa melepaskan jiwa tergelap itu." Glenn menoleh, ada Leo kecil disana, dia menangis, "aku selalu menyayangi Adrian, Kak. Selalu. Aku yakin, dia bisa berubah. Ada kebaikan di hatinya," jelas Leo.


Mata Glenn berair. Ia juga sangat mencintai Adrian dan Friska. Mereka berdua adalah keluarga pertama yang ia miliki. Kenapa... jadi seperti ini? Kemudian, Glenn menyadari. Adrian terluka, begitupula dengan Friska. Mereka... hanya tak ingin melihat orang lain diperlakukan secara tidak adil, seperti mereka yang juga tidak diperlakukan secara adil.


Glenn kecil pingsan. Tak lama kemudian, ia kembali bangun, "kalian berdua... pergi menjauh dari perempuan itu. Kalian tidak melakukan apapun, kalian tidak melakukan itu. Menangislah kalian seperti anak biasanya."


"Marco..." kata Friska.


"Menjauh! Aku bilang menjauh!"


Friska dan Adrian menjauh, kemudian Glenn kecil kembali tak sadarkan diri. Selang beberapa menit, pintu kamar mereka kembali dibuka. Ada Bunda di sana, terlihat syok kemudian berteriak.


Seketika tempat ini kembali berubah. Mereka ada di taman. Leo dan Jeo kembali muncul.


"Leo sudah memperlihatkan memori gelapmu bersama mereka. Tapi, masih ada 2 hal yang sangat kamu tutupi. Aku tidak tahu, apa... ketika melihat keduanya, kamu akan benar-benar bisa bertahan?" Tanya Jeo.


"A-aku... pasti bisa. Aku harus melihatnya, Jeo."


Marco tiba-tiba muncul, "yah, lo memang harus melihatnya. Terutama malam kematian Samuel." Marco melangkah maju, "lo harus cepat. Ada sesuatu yang mau gue omongin lagi," tambahnya.


Seketika ruangan berubah menjadi gelap dan penuh darah, "setelah keluar dari panti, gue pernah mengambil alih tubuh lo. Waktu itu, lo kelas 6 SD. Secara tidak sengaja, gue bertemu seorang laki-laki berpakaian putih biru. Dia ngeliatin gue dengan tatapan aneh. Gue samperin. Ternyata, dia bilang kalau dia Adrian, terutama dia tahu kalau gue Marco, jadi dia mengaku segampang itu. Itu sebelum semua insiden ini terjadi. Gue terkejut." Marco melangkah di samping Glenn yang terlihat putus asa melihat Glenn remaja duduk gemetaran di depan Samuel sambil memegangi pisau.


"The last clue dari pendongeng yang membawa lo ke rumah Samuel. Salah, bukan membawa lo, tapi membawa gue. Clue terakhir mempertemukan kembali, gue sama Adrian dan Friska. Yup, lo tahu sekarang kalau Adrian dan Friska itu pendongengnya. Sebenarnya, bahkan setelah lo sadar di rumah Samuel, lo tetap bertemu mereka berdua, tapi lo... berusaha keras untuk lupa. Lo memilih melindungi mereka, terutama karena rasa bersalah lo ninggalin mereka dan membuat mereka semakin menggila.


"Gue tahu siapa pendongeng setelah gue melihat korban kedua. Tapi, gue gak percaya. Kemudian, pembunuhan Samuel semakin membuat gue percaya kalau Adrian dan Friska membunuh Samuel dengan cara yang teramat cerdas. Yang lo lihat saat ini adalah diri lo sendiri yang sudah sadar," jelas Marco.


Glenn diam, ia sibuk memperhatikan Glenn remaja yang putus asa dan menangis syok. Kemudian muncul gadis berambut panjang. Ia mengatakan sesuatu.


"Aku akan terus menjadi mimpi burukmu. Sehebat apa kamu bisa melawannya?" Kata gadis itu di dalam kegelapan, wajahnya tak begitu terlihat.


Kemudian, muncul lelaki remaja di sampingnya lagi, "aku adalah kamu, dan akan menjadi kamu seutuhnya. Karena kita satu. Aku memberimu mimpi buruk, can you handle it without me?" Glenn tidak bisa melihat wajahnya.


"Itu Adrian. He's fuckin' obsessed with you. I don't know why. Tapi, dia pasti akan cerita ke lo. And you know what? We are fuckin' love them like crazy. Seperti yang gue bilang, bahkan setelah lo tahu kalau pendongengnya adalah Adrian, lo justru stress, berusaha melindungi dia, you blamed your self because you left him, you left them. So do I. They are our first family. You just can't handle it. Gue yang membantu lo mengubur semuanya. Lo langsung melupakan Adrian seutuhnya. Begitupula dengan Friska." Marco tersenyum getir.


"Kalian bukan mimpi burukku. Kalian... keluargaku. Aku yang akan melakukannya untukmu. Biar saja orang mengatakan aku pembunuh, aku gak mau kamu tersakiti, Adrian dan Friska... aku akan menutupi semua ini untuk kalian. Maaf aku meninggalkan kalian. Sebagai gantinya, aku yang akan menanggung beban ini." Glenn kecil menunduk, ia merasa sangat bersalah.


Adrian diam, begitupula dengan Friska.


"Ya, semua orang menyukaimu. Kamu pasti akan diloloskan. Dan... aku benci karena semua orang menyukaimu," kata Adrian.


Glenn mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia menunduk, menangis. Orang yang paling ia percaya... menghianatinya, bahkan setelah insiden ini terjadi, Adrian dan Friska masih mencoba menyiksa Glenn. Apa yang mereka inginkan?


"Mereka ingin kamu mati, itulah sebabnya aku muncul." Glenn mengangkat wajahnya, ada Jeo di sana. Di samping Glenn masih ada Marco. Ruangan ini berubah seketika. Mereka kembali ke taman di belakang panti.


"Tapi, terlepas dari itu, ada satu insiden besar yang membuatmu semakin ingin mati, Glenn," tambah Jeo. "Sebelum aku perlihatkan, aku perkenalkan namaku terlebih dahulu. Aku Laras." Jeo alias Laras tersenyum. Tapi matanya selalu sedih. Mungkin memang karakternya seperti itu.





"Glenn! Apa yang kamu lakukan!" Itu Ayah yang membawa kantung makanan. Kantung berisi makanan langsung terjatuh, ia bersimpuh menangis melihat istrinya.



"I\-ini bukan salah Glenn. Ra\-Rama... jan\-ji sama aku... ka\-kamu akan jagain Glenn se\-seperti anak ka\-kamu sendiri. Bersumpah ka\-kamu tidak akan menyakitinya. Bersumpah, ka\-kamu akan men\-cintainya." Ibunya tersenyum. Ibu mulai terbatuk dan mengeluarkan darah. Sementara, Glenn kecil diam dengan tatapan kosong.



"Bunga..." Rama menangis, "aku harus apa..."



"Janji... lindungi dia sampai akhir hayatmu seperti anak kita sendiri... di\-dia... bukan dia... dia bukan pem\-bunuh... *don't ever ha\-hate him*... bu\-bukan di\-dia."



"Aku janji Bunga..."



"Makasih... Rama..."



Ayah menangis tersedu\-sedu.



"RRRGGGHHHHH!!!!" Pekik Glenn melihat kejadian itu. Ia terduduk, mengacak rambutnya putus asa. Air mata bercucuran dengan begitu deras. "SIAPA? SIAPA YANG MELAKUKAN INI?!" Pekik Glenn. Glenn bersimpuh, ingin menjangkau Ibunya. Ia berusaha keras, namun tempat ini berubah, membawanya kembali ke taman di belakang panti. Ia menatap nanar ke arah Laras, "Laras! Kamu kan yang melakukan ini? Atau Marco? Leo?"



Glenn menangis kencang, masih terduduk. Wajahnya merah penuh amarah. Ia mengepalkan tangannya kuat\-kuat menahan amarah, tapi tidak bisa. Rasanya bercampur aduk, ia ingin mati, marah, sedih, semua bercampur aduk.



"Aku yang melakukannya." Glenn mengangkat kepalanya. "Itu percobaan bunuh diri pertama setelah kamu tahu bahwa Adrian mati." Air mata membanjiri pipi Laras, "ta\-tapi... itu tidak disengaja... aku... tidak sengaja menusuk Ibumu... saat berusaha melakukan itu..."



"KAMU TETAP MEMBUNUH IBUKU!!!" Pekik Glenn sekuat tenaga.



"Aku bukan pembunuh... aku hanya..."



"RRRGHHHHH!!! HENTIKANN!!! HENTIKAN!!!"


__ADS_1


"Lemah," sambar Marco. Jeo hanya bersembunyi di belakang Marco karena takut, "itulah kenapa kamu selalu kalah dariku. Kamu lemah." Marco tersenyum miring. "Kamu tidak akan bisa melindungi Leya kalau kamu selemah ini. Dan, kamu hanya akan membuat Ibumu menyesal. Kamu lihat Ayahmu? Coba kamu bayangkan jadi dia yang selama bertahun\-tahun sangat ingin membencimu, tapi masih berusaha menepati janjinya? Kalau bukan janji pada istri yang sangat dicintainya itu, kamu sudah mati."



Glenn menundukkan kepalanya, bibirnya terkatup rapat.



"Bahkan mungkin, kalau bukan janji itu, dia bisa jauh lebih mengerikan dibandingkan semua pembunuh yang ada di dunia." Marco menghela napasnya keras, "KAMU SEHARUSNYA LEBIH KUAT DARI INI!!!" pekiknya.



"Ibumu percaya kamu bukan pembunuh! Ayahmu menahan segala rasa bencinya bertahun\-tahun padamu! Itu tidak masuk akal. Sekarang, kamu malah depresi hanya dengan seperti ini? Ini belum apa\-apa!! BANGUN! BANGUN!!!"



*PLAKK! PLAKK*!!!



Glenn membuka matanya yang kemerahan perlahan. Ia... tidak punya energi sama sekali. Bahkan, setelah ia bangun pun wajahnya masih ditampar beberapa kali, "BANGUN!!!"



Ia sudah terduduk di sebuah ruangan kosong dalam keadaan tangan dan kaki terikat, namun mulutnya tak ditutupi lakban. "Kamu sudah terlalu lama tidur!!" Kata Adrian dengan nada tinggi.



"A\-Adrian?"



"Iya! Aku Adrian! Ah... sungguh Glenn... dalam keadaan tertekan, kamu berubah jadi sangat bodoh!" Katanya dengan nada tinggi.



Glenn sedikit terkejut melihat wajah Adrian berubah sangat mirip dengan wajahnya. Tapi, Adrian seakan mengerti apa yang dipikirkan Glenn.



"Aku selalu ingin menjadi dirimu," kata Adrian tersenyum miring, "dari kecil."



"Kenapa, Dri? Kenapa?" Glenn sudah terlalu gila melihat kenangan hancurnya di masa lalu. Ia bertambah gila melihat Adrian sekarang.



"Karna semua orang menyukaimu." Adrian melangkah menjauhi Glenn ke sudut ruangan. Ada balok kayu besar disana, "hahaha tidak ada yang mencintaiku, sekalipun aku bersikap manis. Semua orang ingin mengadopsimu, semua orang ingin kamu. Padahal, aku selalu bersikap manis. ITU TIDAK ADILL!!!"



BUKKK!!! BUKK!! BUKK!!! Adrian memukuli tubuh Glenn beberapa kali, melampiaskan semua kemarahannya, "KAMU SELALU MENANG!!! Bahkan setelah kejadian 3 tahun lalu, semua orang masih menyukaimu!" BUKKK!!! BUKK!! BUKK!!



Kayu mengayun ke tubuh Glenn tak tentu arah. Glenn memejamkan matanya, menggigit bibirnya kuat\-kuat.



"BERTERIAKLAH! DENGAN BEGITU, KAU KALAH!!!"



BUKKK!! BUKKK!!! BUKKK!!



"Aku selalu ingin jadi kamu. Tapi, bahkan setelah aku menghancurkan wajahku sendiri agar dokter itu mengubah wajahku menjadi wajahmu, aku tetap sama. Tidak ada yang berubah. Tetap sama. Aku tidak bisa menjadi dirimu, maka aku akan menjadi musuhmu!" BUKKK!!! BUKKK!!!



"Sa\-sampai kapan kamu akan begini, Dri?" Glenn justru menangis, ia menatap mata Adrian secara langsung, "aku selalu menyayangimu seperti kakak sendiri. Kamu keluarga pertamaku. Apa... masih kurang?"



"KAMU MENINGGALKAN KAMI!!!" Pekik Adrian sekuat tenaga, "KAMU JANJI!!!"



Glenn terbatuk, darah keluar dari mulutnya, ia lemah.



"AKU AKAN MEMBUNUHMU BAHKAN DI DEPAN GADISMU ITU. AKAN KUBUAT DIA GILA SEPERTIMU!!!"



Pintu ruangan tiba\-tiba terbuka. Glenn menoleh, matanya melebar.



Seorang pria paruh baya berambut gondrong dan bertangan satu, masuk dengan wajah datar. Pak... Wahid? Astaga...



Sebuah suara muncul di kepala Glenn. Glenn tahu, itu Marco. *Sebelum lo masuk di hari pertama sekolah, gue yang mengambil alih tubuh lo. Gue sengaja mengikuti kegiatan pengenalan sekolah. Gue juga yang minta ke Ayah lo untuk masuk SMA Mentari, gue berusaha sebaik mungkin menjadi lo walaupun tidak sebaik Laras. Gue berusaha mencari tahu siapa Grimm yang ketiga. Setelah keluar dari rumah sakit, gue bertemu Adrian. Dia bilang, dia akan membunuh lagi. Dia menunggu lo sembuh, sehingga gue punya waktu yang terbatas untuk mengambil alih tubuh lo, karena dia tahu, suatu saat, gue bisa menggagalkan rencananya. Tapi... maaf karena gue memilih diam. Lo tahu... gue masih punya kepercayaan kalau mungkin Adrian berubah. Setahun kemudian, dia memberi clue lewat surat kalau dia akan kembali memuaskan nafsu gilanya.



Gue memprediksi korban\-korbannya gak jauh dari orang\-orang yang sekolah di SMP Juara, tempat dia sekolah dan berusaha menjadi orang lain, yaitu Geri, untuk menghapuskan jejaknya sebagai Adrian dan juga salah satu rencananya agar bisa melimpahkan semuanya ke lo. Ya, terakhir kali, gue menemui dia sebagai Geri. Tapi, gak gue sangka kalau dia sepertinya jatuh cinta sama 'klien'\-nya. Gue menganalisa secepat yang gue bisa. Gue berkenalan dengan seluruh guru SMA Mentari, berkeliling sekolah. Tapi, gue masih gak bisa menemukan Grimm yang ketiga. Gue percaya, gue teramat percaya kalau Grimm yang ketiga ada di sekolah itu untuk mempermulus jalan Friska dan Adrian saat beraksi. Tapi... gak gue sangka... seorang guru yang sama sekali di luar list tersangka gue, justru adalah tersangkanya. Glenn, gunakan otak lo itu. Tolong selamatin Leya. Bangun*!



"Ayah... ma\-maaf aku..." kata Adrian. Ia menjatuhkan balok kayu itu.



"Tidak apa\-apa, Nak. Glenn sudah bangun ya?" Tanyanya. Ia menoleh ke arah Glenn dengan wajah datarnya. Ia melangkah mendekati Adrian, menyentuh lembut puncak kepalanya. "Kapten Hook di sini." Wahid tersenyum tiba\-tiba dengan begitu dingin, "ah... bukan Kapten Hook. Perkenalkan, aku Gilang, kakak Ibumu, Bunga. Yah... mungkin Bunga tidak pernah sudi menceritakannya pada siapapun. Bahkan pada Ayahmu. Bunga membenciku. Seperti itulah. Semua orang punya keluarga berjiwa seperti Kapten Hook, bukan begitu?" tambahnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2