Once Upon a Time

Once Upon a Time
Kelas Seni


__ADS_3

082158xxxxxx : Selamat datang di negeri dongeng. Mari bermain find me untuk menemukan pendongeng! Apa yang kamu pikirkan tidak seperti apa yang terlihat. Aku adalah Grimm.  Aku berada di tempat di mana aku bisa melihat semua orang menuju ke pintu imaginari mereka. Di sana kamu akan bertemu Tinkerbell yang suka bermain pixie dust. Tak ada peter-pan. Hanya ada Kapten Hook yang tidak membajak kapal dan mencintai Tinkerbell. Kutunggu 20 menit lagi. Semoga beruntung!


Tubuh Leya gemetar seketika. Sialan! Grimm! Sang pembunuh Raya dan Ansel.


Aduhhh gimana nih wawancaranya. Sialan!!!


Apa... dia tahu kalau Leya terlibat dalam kasus ini? Bagaimana caranya dia mengetahui ini? Tidak salah lagi. Psikopat itu tahu kalau Leya terlibat dengan semua ini. Sialan! Leya mengepalkan tangannya erat. Keselamatannya akan menjadi taruhan saat ini. Tapi, ia tak bisa mundur begitu saja. Ia tidak boleh takut. Walaupun sebenarnya, Leya sendiri takut dan gemetar.


Leya kemudian membaca pesan masuk melalui handphone Gleen dengan nomor asing yang sama. Isi pesannya sedikit berbeda walaupun isi teka-tekinya sama.


082158xxxxxx : Selamat datang kembali di negeri dongeng, Glenn. Masih ingat padaku? Iya, aku Grimm. Mari bermain find me untuk menemukan pendongeng! Apa yang kamu pikirkan tidak seperti apa yang terlihat. Aku berada di tempat di mana aku bisa melihat semua orang menuju ke pintu imaginari mereka. Di sana kamu akan bertemu Tinkerbell yang suka bermain pixie dust. Tak ada peter-pan. Hanya ada Kapten Hook yang tidak membajak kapal dan mencintai Tinkerbell. Kutunggu 20 menit lagi. Semoga beruntung!


Selamat datang kembali? Masih ingat padaku? Apa... Glenn sebelumnya pernah... Ah, sudahlah! Nanti aja dipikirin. Gue harus cari dia duluan.


20 menit. Apa masih sempat memanggil Glenn di ruang kepala sekolah? Apa wawancaranya ditunda 20 menit lagi? Iya, Leya harus bergerak cepat. Ini kesempatan untuk menemukan psikopat brengsek itu sebelum ada korban lagi yang jatuh. Leya menggigit bibir bawahnya. Ini sangat beresiko bila Leya bergerak sendirian. Ah, tapi peduli apa? Yang penting psikopat itu tertangkap! Setelah berpikir sebentar, ia langsung mencari nomor kontak Pak Rasyid melalui handphone Glenn dan meneleponnya.


Setelah satu nada sambung berbunyi, Leya bisa mendengar suara pria paruh baya di ujung sana, "Halo?"


"Pak... tolong tunda wawancaranya 20 menit lagi. Tolong Pak."


"Ada apa?"


"Nanti saya jelaskan. Saya gak punya banyak waktu. Tolong Pak, saya serahkan semua sama Bapak."


Klik. Leya langsung menghentikan panggilan itu secara sepihak. Ia tidak punya banyak waktu. 20 menit tidak akan terasa lama. Sepertinya ia tak punya waktu untuk memanggil Glenn. Belum lagi jarak antara gedung kepala sekolah dan gedung kelas sedikit jauh karena gedung kepala sekolah terpisah dengan gedung kelas. Lebih baik waktu itu ia gunakan untuk berpikir.


Leya menghela napasnya sejenak. Ia menutup matanya, mencoba berkonsentrasi untuk memikirkan semua teka-teki itu. Baiklah Leya, tenang Leya... jangan gegabah. Leya punya waktu 5 menit untuk berpikir, 15 menit ia gunakan untuk mencari sang pembunuh. Pasti cukup.


Aku berada di tempat di mana aku bisa melihat semua orang menuju ke pintu imaginari mereka. Disana kamu akan bertemu Tinkerbell yang suka bermain pixie dust. Tak ada peter-pan. Hanya ada Kapten Hook yang tidak membajak kapal dan mencintai Tinkerbell.


Sang pembunuh memberi waktu 20 menit. Kemungkinan besar, tempat ia berada tidak akan jauh dari lingkungan sekolah. 20 menit adalah waktu yang cukup banyak untuk berkeliling sekolah. Namun, sekolah Leya sangatlah luas. Gedung-gedung antara kantin, gedung kelas, lab, gedung guru, gedung seni, perpustakaan, parkiran, semua terpisah. Jadi, waktu 20 menit akan sia-sia bila ia gunakan untuk mencari sang pembunuh di seluruh gedung.


Pintu imaginari... pintu imajinasi. Imaginari adalah Bahasa Latin dari imajinasi. Semua orang menuju pintu imajinasi. Perpustakaan kah?


Ada 2 perpustakaan di sekolah ini. Perpustakaan khusus siswa dan perpustakaan guru. Yang mana? Apa benar perpustakaan? Bagaimana kalau bukan? Ah, Leya tak bisa berpikir lebih lama lagi. Baiklah, ia harus berpikir mengenai clue kedua.


Tinkerbell, Kapten Hook. Sial! Omong kosong apa ini!! Arghhh!


Leya meninju dinding yang ada di belakangnya hingga buku-buku tangannya memerah. Sialan. Leya melirik jam tangannya. Sudah ia habiskan waktu 5 menit untuk berpikir.


Sebentar lagi. Clue kedua tolongggg!!! Hufffttt tenang Ya' tenang... pikirkan karakter dongeng itu.


Tinkerbell, seorang peri baik hati. Kemudian Kapten Hook, bajak laut jahat yang sebelah tangannya hilang dan diganti dengan pengait besi. Lalu, Kapten Hook mencintai Tinkerbell? Tidak membajak kapal? Nonsense!


Leya, berpikirlah out of the box! Siapa kira-kira yang cocok menjadi Kapten Hook? Baiklah, Kapten Hook di perpustakaan. Pak Anton?


Pak Anton adalah salah satu penjaga perpustakaan yang paling ditakuti siswa. Pak Anton menjaga perpustakaan siswa. Untuk perpustakaan guru, sang penjaga perpustakaan biasanya tidak sekejam itu karena tentu saja segan sesama guru. Lalu siapa Tinkerbell? Apa Tinkerbell penting? Mungkin saja ada seseorang yang Pak Anton sukai di perpustakaan. Lagipula, Pak Anton yang berumur 35 tahun itu masih belum menikah. Sudah tepatkah ia menjadi Kapten Hook?


Sial! Ini sudah menit ke 8. Tidak ada waktu lagi, Leya harus pergi ke perpustakaan siswa sekarang untuk mengeceknya!


Baru saja Leya hendak berlari, seseorang menarik lengannya. Leya yang begitu geram seketika menoleh. Ada apa lagi sih? Sialan.


"Leya, lo dipanggil Bu Andini." Ternyata Rosa yang menarik lengan Leya.

__ADS_1


"Sekarang? Gak bisa Ros. Tunggu gue 15 menit lagi. Gue cabut." Tanpa basa-basi, Leya melepaskan genggaman tangan Rosa dan berlari cepat menuju perpustakaan. Masih ada waktu 9 menit lagi. Ah sialan. Setiap menit jadi begitu berharga. Dan 3 menitnya ia habiskan sia-sia untuk Rosa tadi. Sial. Ini karena Leya terlalu lama berpikir. Bodoh.


Untungnya hanya memakan waktu 5 menit untuk menuju gedung perpustakaan dari gedung kelas. Bila Leya berlari lebih cepat, ia mungkin saja bisa mencapai waktu lebih cepat lagi.


Leya mengatur napasnya yang terengah-engah ketika ia sudah berada di depan pintu perpustakaan. Ia menghapus keringat dingin yang mengucur deras akibat rasa khawatirnya. Seketika kakinya terasa begitu kaku untuk melangkah masuk ke dalam. Bahkan tangannya saja jadi gemetaran. Sial. Leya terus mengumpat di dalam hati.


Leya menarik napas dan menghela napas tergesa-gesa dan berulang-ulang. Ia tak punya banyak waktu. Ia harus masuk ke sana. Perlahan, Leya melangkah masuk. Sepi, karena semua siswa lebih memilih pulang ke rumah dibandingkan berdiam diri di perpustakaan. Masih ada Pak Anton di sana sedang merapikan buku di salah satu rak buku.


Perlahan, Leya masuk ke dalam perpustakaan. Menyusuri setiap rak buku sambil mengedarkan pandangannya. Kenapa tidak ada orang? Leya mengalihkan pandangannya menuju meja tempat orang-orang membaca buku. Tetap tak ada orang.


Tiba-tiba, seseorang menepuk bahunya dari belakang. Seketika Leya membeku di tempat. Perlahan, Leya menoleh.


"Perpustakaan sudah mau tutup," ujar pria paruh baya bermata tajam di belakang Leya.


Leya menghela nafasnya. Pak Anton.


"Ah i-iya Pak sebentar lagi saya pulang. Maaf Pak, apa tadi ada yang masuk ke perpustakaan selain saya?" tanya Leya.


Pak Anton menggeleng, "Tidak ada. Mana ada siswa yang ke sini setelah pulang sekolah."


Sial. Apa... Leya salah tempat?


"Oh begitu. Makasih Pak." Leya mengepalkan tangannya geram sambil melangkah keluar perpustakaan.


Sialan. Dimana brengsek itu? Apa gue dibodohi?


Tiba-tiba handphone Leya berbunyi. Sebuah nomor asing memanggilnya. Nomor asing itu adalah nomor yang sama dengan nomor yang mengirimi Leya teka-teki. Tidak salah lagi, pembunuh itu menelepon Leya.


Dengan gemetar, Leya mengangkat telepon itu.


Terdengar suara pria paruh baya di ujung sana. Ia tidak mengajak Leya berbicara. Ia seperti sedang menjelaskan sesuatu. Kemudian, terdengar suara gesekan pelan sekali. Gesekan apa itu? Leya mendengarkan dengan seksama. Mungkin itu juga merupakan clue.


"Seni membersihkan jiwa kita dari debu-debu kehidupan setiap hari. Itu yang Pablo Picasso pernah ungkapkan. Lalu, bagaimana kalian akan melihat seni itu sendiri? Goreskan apapun yang kalian inginkan. Gambar apapun yang ingin kalian lihat. Luapan emosi juga bisa kalian--"


Tut tut tut....


Telepon dimatikan.


Sial!!! Kenapa gue gak kepikiran? Ruang seni!!!! AARRGGGHHH.


Leya menatap jam tangannya. Tersisa waktu 2 menit. Tidak akan sempat. Bodoh!!! Ah, tidak peduli. Mungkin saja pembunuh itu masih ada di sana atau meninggalkan sebuah jejak. Leya tetap berlari menuju gedung seni tepatnya kelas melukis. Leya berlari kencang dengan penuh amarah sambil merutuki dirinya sendiri. Dalam waktu beberapa menit, Leya sudah sampai di depan kelas melukis.


Kelas melukis setelah pulang sekolah adalah pilihan beberapa siswa yang menyukai seni. Kelas melukis menjadi salah satu ekstrakurikuler sekolah walaupun untuk seni budaya terkadang juga menggunakan kelas melukis di jam belajar.


Leya sudah berada di gedung seni. Terlihat seluruh siswa-siswi sudah berhamburan keluar dari beberapa kelas seperti kelas musik, kelas lukis, dan kelas teater. Leya langsung melangkah menuju ke kelas lukis. Tersisa seorang pria paruh baya berambut gondrong di sana. Ia melukis dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya tidak ada. Leya mengenal pria itu. Pak Wahid. Salah satu guru seninya yang sedikit... aneh? Walaupun sebenarnya ia tegas.


Pak Wahid berusia 30 tahun dan belum menikah. Ah, kenapa Leya tidak terpikir mengenai Pak Wahid? Kenapa Leya tidak terpikir mengenai ruang seni? Tentu saja ruang seni adalah tempat dimana semua orang membuka pintu imajinasi. Tanpa imajinasi dan emosi, pelukis tidak bisa menggambar. Seperti itu bukan?


Pak Wahid menoleh ke arah Leya yang sedari tadi hanya diam berdiri di ambang pintu. Ia menaikkan sebelah alisnya, "Kelas melukis sudah selesai," katanya.


"Ah, maaf Pak," Leya masuk ke ruangan untuk menghampiri Pak Wahid, "apa tadi banyak yang mengikuti kelas melukis?" tanya Leya.


"Banyak. Ada apa?"

__ADS_1


"Ada siswa yang mencurigakan gak Pak?"


Pak Wahid terlihat berpikir sebentar, "Saya tidak terlalu perhatikan. Karena tadi banyak sekali yang mengikuti kelas melukis. Bahkan kelas ini jadi penuh. Ada banyak anak kelas sepuluh yang baru bergabung juga."


Leya mengangguk kecewa.


"Apa bapak punya absennya?" tanya Leya kembali


"Untuk apa?" Tanya Pak Wahid curiga.


"Ah, itu. Saya diminta Bu Dini, wali kelas saya, untuk mendata siswa-siswi kelas kami yang ikut kelas melukis." Leya tersenyum lebar untuk menutupi kebohongannya. Tidak ada cara lain. Ia terpaksa berbohong.


"Oh, tunggu sebentar," Pak Wahid melangkah menuju ke meja depan untuk membuka tasnya. Kemudian, ia mengambil sebuah kertas absen di sana, "ini," katanya seraya memberikan kertas absen itu.


Leya membaca semua nama pada kertas absen itu secara cepat, "Pak, boleh saya foto? Mungkin akan memakan waktu banyak kalau saya mencatatnya satu per satu sekarang."


"Silakan." Pak Wahid kembali melanjutkan kegiatannya untuk melukis. Leya mengangguk dan cepat-cepat memfoto semua lembar absen itu.


Pak Wahid tidak pernah mengabsen siswa. Biasanya, siswa-siswa yang akan mengisi absennya sendiri saat pulang kelas melukis. Seperti yang Leya katakan sebelumnya. Ia sedikit aneh. Ia terkesan tidak peduli dengan siswa-siswinya. Terserah mereka mau melakukan apa dengan daftar absen itu, yang penting saat kelas melukis, jangan ada yang berbicara sedikitpun. Ia tak segan-segan memarahi siapapun. Pantas saja ia tidak memperhatikan apakah ada yang mencurigakan dengan siswa-siswinya. Ini memudahkan sang pembunuh untuk menyamar.


Tunggu sebentar. Ada yang aneh.


Leya kembali memperhatikan daftar absen itu. Ada 22 siswa. Tapi kenapa painting easel dan kanvasnya terlihat lebih banyak? Leya mencoba menghitung jumlah kanvas yang masih bersandar pada painting easel beserta kursinya. Ada 24 painting easel. Bila jumlah itu termasuk dengan painting easel milik Pak Wahid, maka ada kelebihan 1 painting easel lagi.


Iya, pembunuh itu mungkin berada di sini tadi. Dan gesekan yang Leya dengar mungkin berasal dari gesekan antara kuas lukis dan kanvas. Leya melangkahkan kakinya berkeliling untuk melihat setiap lukisan yang masih terpasang di painting easel. Kemudian, langkah kakinya terhenti pada sebuah lukisan. Lukisan itu berbeda dengan lukisan lain. Sebuah siluet berbentuk peri bersayap yang rambutnya dicepol. Ini jelas adalah Tinkerbell yang dimaksudkan Grimm.


Ada sebuah kertas kecil di meja samping painting easel, tempat meletakkan palette.


Kamu suka dengan Tinkerbell buatanku? Ah, 20 menit itu terlalu lama. Aku bahkan sudah menyelesaikan lukisanku tapi kamu tidak datang. Aku kecewa.


-Grimm


Leya menekan keras kertas itu hingga remuk. Ia gagal. Dan ini adalah kesalahannya. Leya menundukkan kepalanya. Gagal. Gagal. Dan gagal. Sialan. Lalu siapa yang menjadi Tinkerbell?


Suara derap kaki terdengar. Leya menoleh. Terlihat seorang laki-laki jangkung yang air wajahnya begitu khawatir. Laki-laki itu mengatur napasnya yang terengah-engah. Senyumnya terbit ketika melihat Leya. Terlihat ia menghela napas lega sembari menghapus keringatnya. Ia melangkah cepat masuk ke ruangan tanpa permisi dan langsung menghampiri Leya.


"Lo kemana aja? Gue nyariin di mana-mana. Pas gue balik, lo udah gak ada dan Pak Rasyid bilang lo nunda wawancara." Glenn berbicara dalam satu tarikan napas saja.


"Sorry Glenn. Gue gagal," ujar Leya menuduk sambil memberikan surat itu dan handphone Glenn.


Glenn membaca surat itu, kemudian ia juga membaca sms yang masuk ke handphone-nya. Ia menatap lurus Leya, kemudian menarik lengan gadis itu keluar dari kelas.


"Lo tuh gila apa? Lo kayak ngasih nyawa lo secara cuma-cuma ke dia! Jangan bertindak bodoh lagi. Gue gak mau lo kenapa-napa." Ada amarah yang terpancar dari kilatan mata Glenn.


"Tapi cuma itu kesempatan kita buat nangkap dia."


"Lo bergerak sendiri Ya' dan itu beresiko. Gue malah bersyukur lo telat. Lo gak tahu dia segila apa. Dia ngebunuh siapa aja Ya'. Kalau lo kenapa-napa ntar gue gimana? Pokoknya, gue gak mau lo bergerak sendirian lagi. Lo harus kasih tahu gue semuanya," Glenn menarik tangan Leya lagi, "sekarang kita harus wawancara dulu."


"Glenn. Apa lo pernah ketemu dia sebelumnya?" Leya membuat langkah kaki Gleen terhenti.


Gleen menghela napasnya.


__ADS_1



 


__ADS_2