
"Gue Marco," bisiknya kemudian tersenyum dingin.
Leya membulatkan matanya terkejut. Apa ia baru saja bermimpi? Tidak... dia tidak sedang bermimpi.
"Ma-Marco?" Tanya Leya memastikan. Leya gagap seketika. Bulu romanya berdiri merinding.
Oh Tuhan... jangan ambil aku sekarang... pikirnya di dalam hati.
Marco tertawa dingin, kemudian menjauhkan tubuhnya dari Leya. Ia duduk di atas punggung sofa, masih menghadap Leya sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Lo kelemahan Glenn. Ya, walaupun gue tahu cowok itu terlalu banyak kelemahannya, karena dia memang lemah." Marco mengedikkan bahunya dengan wajah sombong. "Gue bisa membunuh siapa aja dengan mudah, kemudian melimpahkannya ke cowok lemah itu, toh mereka semua akan berpikir dia lah yang bunuhin orang lain."
Leya semakin melebarkan matanya terkejut. Astaga... apa yang baru saja ia dengar dari Marco? Apa... ini sebuah pengakuan?
"Gue juga bisa menyakiti lo sekarang. Sayangnya, gue gak punya terlalu banyak waktu. Dan gue juga bukan pengecut menjijikan." Dia mengangkat sudut bibirnya, tersenyum miring. "Glenn itu pengecut bego. Sok jenius aja dia, padahal gak tahu apapun. Dia terlalu banyak ngelimpahin kesulitan ke gue. Terlalu manja. Makanya kasus mudah begini aja gak bisa dipecahin, dasar bego."
Leya diam, mendengarkan dengan seksama walaupun sedikit ketakutan. "Memangnya lo tahu siapa Grimm?" Tanya Leya. "Atau... apa... lo adalah... Grimm?"
"Gue?" Marco tertawa. Marco tiba-tiba mengeluarkan sebilah pisau dari saku celananya, kemudian memain-mainkan pisau itu. Leya kembali membeku di tempat. Marco perlahan mendekati Leya. "Lo lihat pisau ini? Siapapun bisa memegangnya. Jangan cari siapa yang memegang pisau ini. Carilah, siapa yang menyuruh orang lain memegangnya. Apa yang kamu pikirkan, tidak seperti apa yang terlihat." Marco menyentuh pipi Leya kali ini bukan menggunakan tangannya, melainkan menggunakan pisau tajam itu. Leya memejamkan mata sambil mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
Di mana Leya pernah mendengar kalimat ini? Apa yang kamu pikirkan, tidak seperti apa yang terlihat. Tunggu sebentar... Leya mulai ingat. Ini... kata-kata dari Grimm...
Detik kemudian, bahkan tanpa Leya sadari, pisau di tangan Marco sudah menancap di dinding, 1 inchi di samping telinga Leya. Bila tadi Leya bergerak sedikit saja, sudah jelas pisau itu akan menancap ke wajahnya. Astaga... Leya semakin gemetaran. Ia ketakutan. Marco bisa melakukan apa saja. Tapi, Marco bilang waktunya terbatas. Justru sekarang, Marco seperti berniat menyakiti Leya.
"Gue..."
Tiba-tiba... Buukkkk...
Apa itu? Leya membuka matanya perlahan. Astaga... Marco terjatuh ke lantai. Dia... pingsan? Tak sadarkan diri...
Leya masih tak bisa bergerak, tubuhnya terasa kaku. Tapi, Marco kembali bangun sambil memegangi kepalanya. Ia menatap Leya, tatapannya berubah jadi... lembut dan kekanakan? Apa... ini Glenn?
"Kakak gak papa?"
Suaranya... suara khas anak kecil. Apa ini Leo?
"Le-Leo?" Tanya Leya masih gelagapan dan was-was.
Leo tersenyum manis sambil mengangguk, tapi kemudian wajahnya berubah khawatir, "apa tadi ada Kak Marco? Maaf Kak... apa aku terlambat?" Katanya seperti hendak menangis.
Astaga... ini hari teraneh seumur hidup. Melihat Glenn bertingkah seperti ini... cukup menakutkan dan aneh. Ya Tuhan... tapi, untung saja Leo muncul. Kalau tidak, mungkin saja pisau tadi sudah menancap di wajahnya.
"Enggak Leo. Kamu datang di waktu yang tepat." Leya tak lagi ketakutan. Ia duduk sambil membelai rambut Leo. Tiba-tiba Leo menangis, kencang sekali dan langsung memeluk Leya.
"Kak Leya... to-tolong selamatin Kak Glenn dari Kak Ma-Marco... kasian Kak Glenn... a-aku gak bisa ba-bantu banyak. Dia kuat. Untungnya aku bisa ambil alih. Tapi, besok-besok aku be-belum tentu bisa ambil alih... Kak Leya, tolong jangan tinggalin Kak Glenn. Dia sendirian. Kasian Kak... dia gak salah apa-apa..."
Leo masih menangis sambil memeluk Leya sangat erat. Ini pertama kalinya Leya melihat Glenn menangis, walaupun sebenarnya ini bukan Glenn, melainkan Leo. Glenn bukan tipe orang yang mudah mengeluarkan segala emosinya. Ia tidak mudah menangis, tertawa, marah. Walaupun sejak bertemu Leya, Glenn lebih bisa mengekspresikan emosinya.
Leo adalah pengganti Glenn untuk mengekspresikan emosi, terutama kesedihan. Karena diri Glenn sendiri tak bisa benar-benar menangis. Ketika ia ingin sekali menangis, Leo akan mengambil alih tubuhnya dan melakukan hal tersebut. Leo yang akan menangis dan Leo juga yang akan berusaha ceria. Leo adalah cerminan keinginan Glenn di masa kecil. Keinginan Glenn untuk lebih mudah mengekspresikan emosinya.
Mendengar ucapan Leo barusan, Leya jadi bersimpatik pada Glenn. Berat sekali menjadi Glenn. Leya merasa kasihan. Tapi... bagaimana kalau Grimm benar-benar bersembunyi dibalik kepribadian Glenn? Apa yang harus Leya lakukan?
"Leo... kamu harus kasih tahu Kakak siapa Grimm sebenarnya. Cuma itu satu-satunya cara untuk nyelamatin Glenn. Kakak sayang Glenn. Kamu juga kan? Jadi tolong bantu Kakak juga."
Leo melepaskan pelukannya dari Leya. Dia menggeleng, "aku gak bisa kasih tahu Kak. Itu berbahaya." Dia kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Leya, "dia bisa mendengar kita," bisik Leo, "aku takut. Cuma ini yang bisa aku kasih tahu ke Kakak. Grimm itu pendongeng. Dia cerminan mimpi buruk Kak Glenn. Kalau Kak Glenn bisa menghancurkan mimpi buruknya, Kak Glenn bisa menang," tambah Leo masih berbisik. Setelah itu, Leo menjauhkan wajahnya dari Leya.
"Apa Marco itu Grimm? Atau Jeo? Atau... kepribadian lainnya?" Tanya Leya lagi.
"Aku cuma bisa kasih tahu itu Kak. Waktuku udah gak banyak." Leo tersenyum perih, tak lama kemudian, Leo kembali pingsan, ia tertidur di pangkuan Leya.
Pertemuan Leya dengan kepribadian-kepribadian yang hidup di dalam tubuh Glenn, terbilang sangat singkat. Mereka tak mengambil waktu Glenn terlalu lama. Apa karena Glenn mulai bisa mengendalikan diri?
Kali ini, Glenn terbangun. Matanya membuka perlahan dan bangun dari tempatnya berbaring. Ia duduk di depan Leya sambil memijat kepalanya yang terasa nyeri. Leya mulai was-was. Ia takut kalau yang mengambil alih setelah ini adalah Jeo. Itu sangat berbahaya.
"Ya'? Kok... gue... di sini?"
Leya menghela napasnya. Ini Glenn. Tatapannya, suaranya, auranya, ini Glenn. Tanpa bisa mengendalikan diri, Leya memeluk Glenn erat, begitu erat. Glenn sendiri masih tampak bingung, kemudian ia menyadari sesuatu. Ia melepaskan pelukan Leya, "apa... lo ketemu Marco?"
Leya menatap Glenn sendu, kemudian mengangguk pelan.
"Lo gak papa?" Tanyanya khawatir.
Leya tersenyum kecil. "Gak papa. Leo nyelamatin gue. Glenn, gue... minta maaf."
Glenn memegangi tangan Leya, "Ya', lo harus pergi dari sini. Pergilah ke tempat dimana gue gak akan tahu keberadaan lo. Gue berbahaya Ya'. Gue belum sembuh. Dan gue takut kalau Grimm ada di dalam tubuh gue. Itulah sebabnya kenapa dia tahu setiap pergerakan kita. Gue... gue gak mau lo kenapa-napa. Tolong... demi gue, tolong lo pergi dari sini."
Leya menggeleng kuat-kuat, "gak Glenn. Gak mau. Gue sempat takut sama lo. Tapi, gue tahu, lo juga butuh orang yang mendukung lo. Jadi, biarkan gue di sini. Gue gak peduli sama Marco."
"Lo gak peduli, tapi gue peduli. Dokter Gerald lagi di Jepang. Artinya, gue cuma bisa tergantung sama obat. Gak ada psikiater yang seahli dokter Gerald dalam menangani gue dan gue gak mau sama psikiater lain. Selama gue ketemu lo, gue bahkan gak ngerasa black out sama sekali kecuali sekarang. Itu berbahaya Ya'... ada satu kepribadian yang terlalu cerdas mengambil alih tubuh gue dan membuat gue ngerasa gak mengalami black out.
"Dan mungkin, entah kapan, gue akan mengalami black out terlama sepanjang hidup gue. Karena dulu, di rumah sakit, gue pernah mengalami black out selama seminggu. Dan... selama seminggu itu pula, Marco dan Jeo menguasai gue. Gue gak mau itu terjadi di saat gue lagi bersama lo. Gue gak pernah tahu, apa yang akan Marco lakuin ke lo. Mungkin saat ini, mereka cuma sebentar mengambil alih tubuh gue, tapi gue gak akan tahu apa yang akan terjadi nanti. Jadi, tolong banget Ya', tolong... demi gue, tolong tinggalin gue."
"Glenn..."
Glenn memegangi kedua bahu Leya, "maaf... gue... gue gak bisa sayang balik ke lo. Karena, gue terlalu berbahaya. Saat gue sayang ke lo, gue gak akan pernah maafin diri gue sendiri kalau sampai Marco menyakiti lo. Jadi Leya, tolong sekali ini aja ikutin kata-kata gue. Gue yang harus melawan diri gue sendiri. Karena cuma gue yang bisa ngalahin dia."
"Tapi..."
"Please lo pergi dari rumah gue Ya'..."
Leya menghela napasnya. Sebutir air matanya jatuh. Glenn menghapusnya, ia tersenyum kecut.
"Kita... kita bakal ketemu di sekolah kan Glenn?" Tanya Leya.
Glenn menggelengkan kepalanya, "gue gak tahu apa gue masih pantas sekolah atau enggak. Mungkin gue bakal nyusul Dokter Gerald selama sebulan ini ke Jepang. Atau mungkin selama sebulan ini gue nungguin dokter Gerald di rumah sakit sampai beliau balik."
"Lo jangan balik ke rumah sakit, Glenn. Lo gak sesakit itu. Lo bisa nungguin Dokter Gerald di sini dan lo bisa tetep sekolah."
Glenn menggenggam jemari Leya, "gue gak masalah kalau harus berhenti sekolah ataupun balik lagi ke rumah sakit, asalkan gue gak nyakitin lo."
"Tapi, Grimm belum tentu bagian dari kepribadian lo, Glenn. Bisa aja dia memanfaatkan kondisi lo biar lo-"
Glenn mengecup kening Leya. Ia menutup matanya perlahan. Leya membeku di tempat. Detik berikutnya, ia memeluk Leya. Lama dan erat sekali, seakan-akan ini memang pelukan terakhirnya untuk Leya, "dari awal seharusnya kita gak perlu ketemu. Dari awal, ini semua salah gue. Jujur, gue pingin jadi laki-laki normal, Ya'. Gue sayang lo, tapi itu semua gak boleh terjadi. Makasih Ya', karena setidaknya lo ngajarin gue gimana rasanya jatuh cinta selayaknya laki-laki normal. Lo gak boleh terlalu lama lagi di sini, karena gue jadi tambah sulit ngelepas lo." Glenn perlahan melepaskan pelukannya, "semoga lo bertemu laki-laki yang jauh lebih baik dari gue."
Leya berdiri dari posisinya duduk, "gue akan pergi dari sini, Glenn. Tapi, lo gak akan bisa ngelarang gue buat berhenti cari Grimm. Gue akan buktiin kalau Grimm itu bukan bagian dari lo."
"Ya'..."
Leya tak mendengarkan, ia langsung naik ke lantai 2 dan bergegas merapikan bajunya. Ya, ia harus pergi dari sini, tapi bukan berarti ia akan berhenti mencari Grimm dan menemui Glenn. Ia hanya perlu tempat untuk fokus. Baginya, kehadirannya di rumah ini akan menambah beban untuk Glenn, jadi sepertinya lebih baik ia menerima permintaan Glenn.
Sekali ini saja.
"Gue di apartemen, Ayah masih di rumah sakit sama Kak Dedel. Ya, panjang deh ceritanya." Leya membuka koper berisi baju miliknya sambil menjepit ponselnya ke telinga dengan bahu kanan. Ada berkas Glenn di sana dan... astaga... sepertinya Leya terbawa buku catatan Adela. Ah, sudahlah. Tak apa\-apa.
Hari ini libur. Tidak, hanya sekolahnya saja yang libur karena persiapan ulang tahun sekolah nanti malam. Yah, sekolah Leya masih bisa merayakan ulang tahun sekolah, saat sedang dihantam berita buruk soal pembunuhan dan psikopat yang berkeliaran di sekolah. Ntahlah, anak OSIS yang mengambil alih acara ini. Dan ini sudah menjadi tradisi di sekolah yang tak bisa dihilangkan.
Ketika Leya bilang ingin pindah dari rumah Glenn dengan berbagai alasan, Ayahnya tentu saja menerimanya. Jadi, Ayah meminta supir pribadinya untuk mengantarkan Leya ke apartemen pribadi ini. Toh, sepertinya Ayahnya sudah merasa tak enak karena terlalu banyak merepotkan keluarga Glenn. Untung, Ayahnya sangat *friendly*, jadi ia bisa berbincang hangat mengenai topik apapun dengan Ayah Glenn. Leya sama sekali tak menceritakan kejadian sebenarnya pada Ayahnya, karena ia tahu, Ayahnya pasti akan merespon buruk dan memintanya menjauh dari Glenn. Itu tidak boleh terjadi.
"*Apartemen lo dimana? Gue ke sana deh jemputin lo. Malam ini lo harus ikut, sekalian lo cerita semuanya deh. Dan astaga... ternyata Kak Dedel adalah Kak Rena? Sumpah gue* speechless *pantesan aja dia suka nanyain lo ke gue*..." kata Rosa di ujung sana.
"Ya begitulah... ada apaan emang ntar malem?"
"*Ultah sekolah lah... masa lo lupa? Kesibukan mikirin psikopat mulu sih*," jawab Rosa.
"Ohh... gue pikir hari ini libur apaan ternyata ultah sekolah. *Sorry* terlalu banyak yang gue pikirin makanya gak inget yang begituan. Dan Ros, sumpah gue gak mood banget hepi hepi malam ini. Gue pengen di apartemen aja deh. Serius..."
"*Ih lo yaaa... lo tuh stress, jadi harusnya lo hepi dulu bentar baru stress lagi. Mana tahu kalau Gleen ikut, lo bisa ketemu dia deh*..."
"Glenn gak mungkin ikut."
"*Lah kan mana tahu... atau siapa tahu ada Kak Chandra kan lumayan lo nge\-date gratis hahaha*..."
"Resek lo ah. Gak minat gue sama Kak Chandra. Udah deh. Gue matiin. Gue gak mau ke sana titik."
__ADS_1
"*Ya ampun sekali aja Ya'... plissssssssss*..."
Tiba\-tiba, *tok... tok... tok*... pintu apartemen Leya diketuk. Leya menaikkan sebelah alisnya. Siapa yang mengetuk?
"Eh bentar Ros. Ada yang ngetuk pintu apartemen gue. Jangan matiin dulu ya."
"*Oke*..."
Leya meletakkan ponselnya di atas kasur dalam keadaan masih menyala. Ia was\-was saja. Siapa tahu terjadi sesuatu, Rosa bisa mendengarnya. Leya melangkah cepat menuju pintu apartemennya, kemudian mengintip dari lubang intip apartemen. Tidak ada siapa pun. Perlahan, Leya membuka pintu apartemennya. Ada amplop di sana. Dengan cepat, Leya menganbil amplop itu dan kembali mengunci pintu apartemen.
Leya melangkah kembali menuju kasurnya sambil merobek amplop. "Ros, gue dapet surat."
"*Hah? Surat apaan Ya*'?"
"Ini gue baru mau baca."
"*Baca nyaring ajaaa... gue penasaran nihhhh*..."
Surat dengan tinta hitam itu ditulis dengan huruf tegak bersambung. Leya sudah bisa menebak siapa yang mengiriminya surat. "Ros... kayaknya gue dikirimin surat sama... Grimm..."
"*Hah serius? Apaan isinya Ya*'?"
Leya membaca surat itu sambil mendekatkan ponsel ke bibirnya agar terdengar jelas.
*Putri Tiana belum tentu akan menjadi yang terakhir. Tapi, ia harus dihukum karena kesombongannya. Ia membuat Pangeran Kodok mati. Bagaimana ia harus dihukum?
\-Grimm*
"Ros... Geby... selanjutnya Geby..." Leya meneguk salivanya.
"*Gue otw apartemen lo. Kirimin gue alamat apartemen lo. Kita ke rumah Geby sekarang*."
Tok... tok... tok...
"Kak Geby? Kak? Bukain dong..."
Rosa terus mengetuk pintu rumah Geby, bahkan beberapa kali menekan bel rumah, tapi tak ada jawaban. Rosa dan Leya mulai khawatir.
Leya sendiri saat ini sedang menelepon Geby. Tapi tak ada jawaban. Malah, nomornya tidak aktif.
"Duh Ya'... gue takut nih Geby kenapa-napa..."
"Iya ... iya bentar..." Mendengar suara Geby dari dalam rumah, mereka menghembuskan napas lega. Pintu terbuka, terlihat Geby yang baru saja bangun tidur dengan bau alkohol yang menyeruak. Rambutnya acak-acakan, mascaranya terlihat luntur, bajunya bahkan sepertinya belum diganti. Ia mengenakan short dress ketat berwarna navy. "Ngapain lo berdua ke sini?"
Tanpa banyak bicara, Leya dan Rosa memeluknya. Geby menaikkan sebelah alisnya bingung, "wow... ada apaan nih? Gua masih mabuk apa ya?"
"Kita khawatir Kak," sambar Leya.
Geby melepaskan pelukan keduanya, "musuh besar gue khawatirin gue? Masih mabuk deh gue," katanya tertawa kaku.
Tawa Geby luntur seperti mascaranya. Ia menghela napasnya keras, "kalian pulang deh sana. Persetan dengan Grimm itu. Biarin aja gue mati. Biar gue gabung sama Alfi." Geby hendak menutup pintunya, tapi Leya menahannya.
"Kak... gue tahu lo nyesal, gue tahu lo ngerasa bersalah, gue tahu lo juga pengen nyusul Kak Alfi. Tapi, coba lo pikir gimana perasaan Kak Alfi kalau lihat Kakak? Kakak masih punya kesempatan, nemuin Alfi yang baru. Kakak gak mikir apa? Gimana perasaan orang tua Kakak?" Leya menatap marah Geby yang terlihat putus asa.
Geby tersenyum miring, "lo tahu apa? I'm a bitch. Bitch as fuck. Jadi, anggap aja ini imbalan karena gue berperilaku buruk ke semua orang dan menyia-nyiakan Alfi. Orang tua gue? Hahaha mereka cerai, hidup bahagia dengan pasangan mereka masing-masing. Gue? Dibuang, jadi sampah. Kelebihan gue cuma bisa berkuasa di sekolah atas nama kakek gue. Udah gitu doang. Selain itu? Tanpa Alfi, gue cuma pecundang yang sendirian tanpa teman. Lo gak tahu rasanya. Dan lo gak akan pernah tahu." Geby meneteskan air matanya.
"They said I'm a Princess. I have everything i need. I have beauty, i have a throne, i could choose anyone to be my guy, i could choose anyone to be my friend. But they didn't even honest. The truth is i have no one. I have no love, i have no friends. I'm just a little bitch. So pathetic. I should die. Alfi is one and only. He loves me, he's a good friend. But i let him down. Yes, i should die in the hell."
Geby terlihat beriskeras menahan air matanya. Tapi, Leya sekali lagi memeluknya. "Nangis aja, Kak. Jangan ditahan." Saat itu pula, Geby menangis, kencang hingga sesenggukan. "Gue emang gak tahu rasanya ditinggal sahabat karena gue cukup bersyukur punya sahabat sebaik Rosa. Tapi gue tahu rasanya ditinggal orang yang disayang, yaitu Ibu gue. Gue juga dulu sering merasa kesepian, gak punya temen.
"Kemudian, suatu hari ketika gue bertemu Rosa, gue sadar satu hal. Gue bisa memulai hidup yang baru dan harus bangun dari keterpurukan gue, karena Ibu gue pasti sedih banget liat gue. Iya, gue baru satu tahun sahabatan sama Rosa dan itu bukan berarti apapun dibandingin persahabatan Kak Geby dan Kak Alfi. Tapi, apa gue dan Rosa gak punya cukup ruang untuk jadi sahabat Kak Geby juga? Kak Alfi bakal sedih karena ngeliat Kak Geby begini terus. You're not alone. We're here. All you need to do is stay alive. Karena Kak Geby masih punya waktu dan kesempatan untuk memperbaiki semua ini. Aku janji gak akan ngebiarin Grimm nyentuh Kak Geby sedikitpun. Tapi, promise me, Kakak harus lebih baik dari yang kemarin."
Geby balik memeluk Leya, menangis. Mungkin ada baiknya kali ini berusaha hidup. Geby akan menjadi orang paling beruntung bila ia berhasil hidup.
"Glenn kan gak tahu apartemen lo. Berarti bukan dia dong," kata Rosa sambil menyuap kripik kentangnya. Mereka bertiga saat ini berada di dalam kamar Geby.
"Memang bukan dia, tadi gue pergi aja dia gak keluar dari kamar sama sekali. Gue cuma pamit sama Ayahnya. Mungkin kepribadian dia yang lain. Mungkin. Gue gak tahu sepintar apa Marco itu dan gimana caranya dia melakukan semua hal ini ke gue. Entah itu Marco atau yang lainnya. Tapi, entah kenapa gue ngerasa kalau ini bukan Gleen atau kepribadiannya yang lain. Gue ngerasa si Grimm tahu kalau Glenn mengidap D.I.D jadi dia manfaatin kesempatan ini supaya kita menduga Glenn tersangkanya. Gue masih ingat bagaimana Glenn cerita ke gue kalau dulu dia dijebak. Padahal dia gak membunuh sama sekali. Ya, gue pikir mungkin ini jebakan seperti dulu.
"Saat ini, Glenn lagi berada di titik terbawahnya. Dia sendiri ragu sama dirinya sendiri. Kalian bisa gak ngebayangin gak kalau ada di posisi Glenn? Gak akan kuat. Pasti udah gila beneran. Gue percaya bukan Glenn. Gue teramat percaya sama dia," jelas Leya panjang lebar sambil memeluk erat bantal Geby seakan\-akan sedang memeluk Glenn.
"Itu karena lo sayang sama dia," timpal Geby, "*sorry* nih ya. Tapi kalau lo sayang sama orang, mata lo ketutup oleh kenyataan. Itu berbahaya Ya'."
"Saat ini gue lagi memposisikan diri bukan sebagai Leya yang sayang sama dia dan bukan sebagai temen dia. Gue lagi memposisikan diri sebagai korban terror psikopat." Leya menghela nafasnya. "Tapi, gue pikir sekarang itu waktunya buat cari cara supaya Kak Geby gak tertangkap sama Grimm."
"Lo kasih tahu aja deh Pak Rasyid. Biar kirimin *bodyguard* gitu. Yang muda ganteng juga boleh. Dua ya. Satu buat gue, satu buat Kak Geby hehehehe mana tahu jodoh," kata Rosa terkekeh.
Leya dan Geby langsung menjitak kepala Rosa bersamaan, "woooo si geblek masih aja mikirin jodoh di saat genting begini," kata Leya memutar bola matanya sebal.
"Gila lu Ros. Dasar jomblo ngenes kebelet nikah." Geby ikut terkekeh.
"Udah sih. Gue udah bilang Pak Rasyid soal itu. Tapi, gue gak jamin. Intinya kita bertiga harus bareng terus. Ohiya, kita *skip* ke ultah sekolah malam ini ya," ujar Leya.
"Hah? *Skip*?! Ya'... serius deh gue pengen ke sana. Gue kan murid baru, belum pernah ngerasain dateng ke sana. Ya masa kita *skip* sihhhhh..." erang Rosa.
"Eh Ros. Lo gila ya? Kita hepi hepi begitu di saat ada psikopat berkeliaran? Bunuh diri namanya! Lo gak kasian Kak Geby apa?!" Leya melotot sebal.
"Ishhh iya iya..."
"Gak papa kali kalau kalian mau ke sana. Gue di sini aja. Gue tinggal telpon kakek gue buat minta temenin salah satu *bodyguard*\-nya di rumah." Geby tersenyum. Ntahlah, jiwa menyebalkannya benar\-benar luntur hari ini. Mungkin ini diri Geby yang sebenarnya.
"Ish gak, pokoknya gak. Malem ini kita bertiga di sini. Titik."
Tiba\-tiba, ponsel Leya berbunyi. Ayahnya. "Eh bentar. Bokap gue nelpon." Leya sedikit menjauh dari mereka. "Iya, ada apa Ayah?"
__ADS_1
"*Leya tolong jagain Dedel bentar. Ayah ada sesuatu yang penting banget. Tolong ya*."
"Hah? Ta\-tapi Yah..."
"*Kamu ini kan uda lama gak ketemu Dedel. Masa kamu pergi terus sih? Pokoknya kamu jagain Dedel malam ini ya*."
Leya menggigit bibir bawahnya, gawat...
"*Sayang*?"
"Iya, Yah. Leya ke sana."
Leya menghela napasnya setelah mematikan ponsel, ia memikirkan cara untuk tetap bisa mengawasi Dedel sekaligus Geby. "Kak, gue kayaknya... harus pergi sekarang..."
"*Its okay*, ada Rosa kok. Santai aja kali. Gue udah ngabarin kakek gue juga. Jadi, lo gak perlu khawatir."
"Tapi..."
"Udah sana... gue gak papa kok. Btw thanks ya. Makasih banyak banget buat hari ini Ya'."
Leya mengangguk lemah, kemudian tatapannya beralih pada Rosa, "Ros, jagain Kak Geby ya. Pokoknya lo harus *stay* terus di sini. Dan gak boleh ke *party* malam ini. *I'm begging you*, Ros," kata Leya menatap penuh harap.
"Siap bossss..." Rosa hanya terkekeh.
Leya membuka pintu ruang rawat inap rumah sakit, Dandelion terlihat sedang terlelap. Perlahan, Leya melangkah mendekati Dandelion kemudian duduk di samping ranjang. Melihat Dandelion, rasanya... entahlah...
Leya mengambil boneka teddy bear yang diletakkan di atas nakas, kemudian merabanya pelan. Rasanya... sakit... dadanya sakit, seperti ada sesuatu yang menyakitinya. Ia bahkan menangis. Kenapa setelah memegang boneka ini, ia justru menangis? Ada apa?
Leya memeluk boneka itu, kemudian menutup matanya perlahan. Membiarkan air mata terus jatuh tanpa suara. Ada sesuatu yang kosong di hatinya. Tapi kekosongan yang ia rasakan begitu menyakiti.
"*Tadaaa! Leya, ini kado untuk Leya. Kalung yang ada bunga Dandelionnya. Cuma ada 5 benih dandelion. Kalau Leya punya permintaan yang pengen banget dikabulin, tiup aja ya. Tapi cuma 5 permintaan." Itu Dandelion, tersenyum manis sambil mengalungkan kalung berbandul kaca berisi 5 benih dandelion.
"Wahhhh cantik! Makasih Kak Dedel!" Leya kemudian membuka tutup kayu dan perlahan-lahan berusaha mengeluarkan 1 benih dandelion dengan jari kelingking mungilnya. Ia memberikan 1 benih pada Dandelion, "ini buat Kak Dedel. Leya masih punya 4."
"Wah... makasih Leya!" Dandelion mengambil benih itu, kemudian menutup mata sambil mengucap permohonan di dalam hati, lalu meniupkannya ke udara. Saat ini mereka sedang berada di halaman belakang rumah.
"Kak Dedel minta apa?"
Dandelion menggeleng dan tersenyum jahil, "rahasia!" Katanya menjulurkan lidah.
"Kak Dedel ihhhhh!!!"
Dandelion berlari, kemudian Leya mengejarnya dari belakang. Ketika mereka mulai kelelahan, mereka merebahkan tubuh di rumput hijau yang halus sambil menatap langit.
"Kak Dedel percaya gak kalau permohonan Kak Dedel akan terkabul?"
"Tentu saja! Benih dandelion akan terbang menuju Tuhan, membisikkan permohonanku pada-Nya." Dandelion membalik tubuhnya ke arah samping menghadap Leya, "kamu mau tahu permohonanku?"
"Apa?"
"Aku ingin*..."
Tiba-tiba ponsel Leya bergetar dari dalam sakunya. Getaran itu membangunkannya. Dilihatnya Dandelion masih tertidur. Ini pukul 8 malam.
Leya mengecek ponselnya. Ternyata Rosa.
"Kenapa Ros?"
"Kak Geby ke sekolah. Tadi dijemput Kakeknya buat potong tumpeng katanya, oh hell. Gue gak bisa ngelarang. Ntar gue dikira gila ama Kakeknya. Kak Geby juga nurut aja lagi ishhh... gimana nih Ya'?"
"Hah? Terus gimana? Ada anak buah Pak Rasyid kan ngikutin?"
"Iya, tadi Kang Fatur telpon. Dia anak buahnya Pak Rasyid. Gue suruh ikutin aja diem-diem. Ini gue mau otw ke sana. Lo ke sana gak nih?"
Leya berpikir sebentar. Bersamaan dengan itu, Ayahnya datang. Leya menghela nafas lega, "gue nyusul."
Leya benar\-benar terlambat akibat macet. Acara pemotongan tumpeng telah selesai. Kali ini giliran para *band* mengisi acara. Semua orang ramai menari. Benar\-benar bising. Leya sedari tadi berusaha menelepon Rosa namun tak diangkat. Dan beberapa menit kemudian, telepon diangkat. Terdengar nada khawatir di sana.
"*Ya'! Lo di mana*?"
"Ini gue udah di sekolah kali. Lo dimana? Gue di dekat panggung." Leya berteriak karena suaranya teredam kebisingan di tempat ini.
"*Ya' Kak Geby ilangggg... gue gak tahu dia dimana. Habis dia potong tumpeng, gue beneran gak liat dia. Kakeknya masih ngumpul di ruang guru sama guru\-guru yang lain. Kayaknya dia gak sadar kalau Geby ilang. Gue sama Kang Fatur lagi nyari nih*."
"Apa?!"
"*Tadi ngecek di kelas\-kelas gitu gak ada. Ini kita lagi di gedung seni. Siapa tahu dia di sini*..."
Leya menggigit bibir bawahnya. Sialan. "Oke kita mencar aja. Kalian belum kemana aja?"
"*Kami belum ke daerah perpus Ya'. Lo bisa cek gak? Gudang belakang juga belum Ya*'."
Leya memijit kepalanya. Pening. Terlalu bising. Ia tak bisa berpikir lebih jernih. Tapi, setelah itu, Leya langsung mematikan ponselnya dan berlari menuju perpustakaan. Tak peduli bila ia berlari sendirian, yang jelas ia harus menemukan Geby. Ia sudah berjanji akan melindungi Geby dari Grimm.
Perasaannya mulai bercampur aduk. Di daerah perpustakaan, Geby sama sekali tak ditemukan, sekarang Leya berlari menuju gudang belakang. Ah sial. Ribut sekali. Leya jadi kesulitan mendengarkan apapun.
Langkah kaki Leya berhenti tepat di depan gudang. Tak ada apa\-apa pula. Leya hampir menangis. Ia pun kembali berlari menuju gedung seni. Langkah kakinya kembali terhenti ketika ada seseorang berjaket hitam dan bertopi yang berlari menuju ke gerbang depan sekolah. Insting Leya mengatakan bahwa ia harus mengejar orang itu. Maka, Leya mengejarnya.
Leya berhasil meraih belakang jaketnya, topinya terjatuh, ia berhenti berlari karena Leya masih menggenggam erat belakang jaketnya. Sebelum ia berlari lebih jauh, dalam waktu beberapa detik saja Leya dengan gerakan sangat cepat membalik tubuh orang itu dan meraih maskernya hingga terlepas dan dibiarkan jatuh ke tanah. Orang itu langsung mendorong Leya hingga terjatuh ke tanah. Tapi, Leya sempat melihat wajahnya. Bahkan, kali ini orang itu tersenyum miring padanya, berjongkok mengambil topi dan masker yang terjatuh ke tanah, sebelum akhirnya kembali berlari lebih kencang.
Leya terdiam di tempatnya terjatuh. Syok. Apa ia salah lihat?
Orang yang tersenyum miring padanya itu... wajahnya... astaga...
Itu Glenn...
Tidak, ia pasti salah lihat. Mungkin ini ilusi saja. Atau mungkin... Glenn memang berada di sini untuk melihat acara ini.
__ADS_1
Tapi kenapa ia harus berlari keluar?