
"Kamu bukan anak tunggal, sayang."
Kata-kata Ayah Leya yang satu ini jadi pukulan terbesar untuk Leya sendiri. Air mata keluar lagi, tapi Leya berusaha menutup mulutnya agar tangisnya tak mengganggu Glenn--yang sebenarnya mungkin saja tak mendengar tangisan Leya karena hingga menjelang subuh, ia belum juga terbangun.
"Ke-kemana Kakak Leya, Ayah?" Leya berusaha keras untuk bisa mengeluarkan sebuah kata-kata, walaupun sulit ditengah sesenggukannya.
"Dia... sudah pergi bersama Ibu kamu. Nama dia Dandelion Jazlyn Azhari. Dia cerdas, cantik, dan lemah lembut. Dia berbeda denganmu yang tidak suka tertata. Dia lebih teratur dan perfectionist. Sedari kecil, Ayah tahu dia sangat berbeda dibanding anak lain. Tapi, luar biasa jenius. Seperti Ibumu. Ayah sayang dia, seperti apa pun dia," suara Ayahnya mulai bergetar, "tapi, pihak kepolisian gak pernah menemukan mayat dia. Atau mungkin mayat dia tidak teridentifikasi."
"Tapi... kenapa... Leya gak ingat dia sama sekali?" Leya menunduk, berbisik. Tak kuat. Ia sendiri bingung kenapa orang berharga dan sepenting itu bisa ia lupakan? Kalau alasannya adalah trauma, bukankah seharusnya ia juga melupakan Ibunya?
"Ayah... juga gak tahu. Ayah sempat bingung dan mencoba menanyakan psikis kamu ke psikiater. Tapi, dia sendiri hanya menjelaskan, mungkin karena trauma atau ini keinginan kamu sendiri untuk melupakan dia. Ayah sama sekali gak tega membahas Dandelion di depan kamu. Ayah pikir, ini adalah yang terbaik. Setidaknya, melupakan dia akan membuat kamu lebih bahagia. Walaupun, kamu gak bisa melupakan Ibu kamu. Dan Ayah pikir, suatu saat kamu sendiri yang akan mempertanyakan keberadaan dia. Disitu baru Ayah bisa cerita."
Leya menekan pelipisnya yang sakit sambil menangis. Ayahnya memeluknya erat, membiarkan Leya membasahi baju Ayahnya.
Leya bingung dan masih bergelut dengan pertanyaan yang sama. Apa yang membuatnya melupakan keberadaan Dandelion? Bahkan kepingan kenangan tentang Dandelion sama sekali tak pernah ia ingat, kecuali malam itu, dalam mimpinya. Astaga... apa yang...
Bagaimana Grimm bisa mengetahui hal ini? Apa... Dandelion masih hidup?
Leya melepaskan pelukan Ayahnya, "Ayah, gimana kalau ternyata Dandelion masih hidup? Gimana kalau ternyata entah bagaimana caranya, dia berhasil selamat dari kebakaran itu? Ayah... Ayah kenapa gak nyari Dandelion?"
"Ayah benar-benar udah nyari Dandelion bertahun-tahun ini. Ayah nyari dia kemana-mana. Bahkan perusahaan Ayah sempat berada pada titik kritis karena Ayah udah hampir gila nyari Dandelion, mengesampingkan pekerjaan. Ayah masih berpikiran dia masih hidup. Semua cara udah Ayah lakuin, tapi dia sampai sekarang gak ketemu." Wajah Ayah Leya tampak frustasi kali ini. Wajahnya yang selalu tampak bahagia seperti tak ada beban di depan Leya nyatanya hanya topeng. Ketika ia melihat wajah Ayahnya, kali ini Leya bisa menyimpulkan bahwa Ayahnya adalah laki-laki paling tegar yang pernah ada. Berpura-pura bahagia di depan Leya agar Leya tak ikut sedih.
"Kalau saat ini Dedel masih hidup, Ayah ingin sekali bertemu dengannya. Entah karena dia melupakan keberadaan kita dan itu yang membuat Ayah kesulitan ketemu dengan dia. Atau... karena dia memang bersembunyi, gak mau kita temui. Ayah gak tahu."
Leya diam sebentar. "Ayah, Leya yang akan menemukan Kak Dedel. Leya janji."
Leya mengepalkan tangannya. Kalau memang bertemu Grimm harus mempertaruhkan nyawanya, itu tak apa. Asalkan ia bisa bertemu Dendelion.
Atau mungkin bahkan... Dendelion adalah Grimm? Tidak, tidak mungkin.
Entahlah, Leya masih tak ingat.
*Grimm, aku akan menemukanmu.
"Om sejujurnya gak suka Glenn terlibat lagi dengan kasus besar seperti ini." Ayah Glenn menyandarkan tubuhnya ke sofa rumah sakit. Ia mengenakan jas putih dan kantung matanya sangat kentara membesar. Matanya sedikit sembab. Pasti ia sangat khawatir pada Glenn, "ini salah Om. Dari dulu seharusnya Om mencegah Glenn berhubungan dengan polisi. Om sayang sekali sama Glenn, seperti anak sendiri."
Ayah Leya sudah berangkat ke kantor sedari tadi. Leya yang memintanya. Leya tak ingin Ayahnya terus-terusan berada disini karena Leya merasa dirinya sudah baik-baik saja. Justru, entah kenapa ada dorongan kuat yang membuatnya sangat ingin menemui Grimm. Mungkin ini yang dirasakan oleh Glenn kemarin hingga ia nekat menemui Grimm sendirian dan berakhir di rumah sakit. Leya juga bisa saja berakhir di rumah sakit. Tapi, ketakutannya sirna seiring dengan keinginannya bertemu dengan Dandelion.
Grimm jelas tahu keberadaan Dandelion karena ia menemukan kalung itu. Entah bagaimana caranya. Walaupun Leya masih tak bisa mengingat Dandelion, setidaknya ia tahu bahwa Dandelion memberikan kalung ini padanya.
"Om gak boleh nyalahin diri sendiri. Om bisa lihat sendiri, Glenn senang memiliki profesi ini. Dia menikmatinya. Dan dia pernah cerita ke Leya kalau dia seneng Om sudah dukung dia."
"Tapi ini juga bisa membahayakan nyawanya."
"Itu pilihan yang Glenn ambil, Om. Glenn sudah cukup besar untuk bisa menentukan pilihan dan mimpinya. Kalau memang mimpinya beresiko seperti ini tapi ia tetap bersih keras memilihnya, saya pikir sekeras apapun Om mencoba membuatnya berhenti, dia gak akan berhenti. Dia tetap memilih hal beresiko seperti ini. Karena, dia ngerasa udah menemukan jati diri dia."
Ayah Glenn tersenyum kecil, kemudia menepuk lembut puncak kepala Leya. "Terima kasih sudah berusaha menenangkan Om, Leya."
"Sebaiknya, Om kembali kerja. Glenn pasti marah karena Om meninggalkan pekerjaan penting hanya untuk menunggunya. Biar saya yang menjaga Glenn di sini."
Ayah Glenn tersenyum dan mengangguk, "Om pergi dulu. Nanti jam makan siang Om akan kembali ke sini."
Leya menjawabnya hanya dengan senyuman dan anggukan kepala.
Kini, di ruangan ini hanya tinggal Leya dan Glenn. Leya melangkah duduk di samping tempat tidur rumah sakit. Ia memegangi tangan Glenn. "Glenn, lo harus bangun. Biar kita bisa cari Grimm sama-sama. Banyak hal yang mau gue ceritain ke lo, Glenn. Gue butuh lo."
Leya menutup matanya sebentar, kemudian membukanya lagi. Ia menghela napas, kemudian ia merogoh saku celananya, mengambil kalung berbandul dendelion dalam kaca itu dan memasangnya ke lehernya sendiri. Kemudian, ia kembali menggenggam tangan Glenn, "Bagus kan? Kakak gue yang ngasih. Tapi entah bagaimana caranya, gue kehilangan kalung ini. Dan Grimm ngasihin ini ke gue tadi malam. Glenn, gue harus bisa ketemu Grimm dan menanyakan keberadaan kakak gue. Dia pasti tahu."
Di saat yang sama, pintu ruangan Glenn diketuk. Leya melangkah mendekati pintu dan membukanya. Itu Pak Rasyid dan seorang laki-laki muda. Mungkin umurnya kisaran 25 tahunan. Ia membawa tumpukan amplop-amplop besar berwarna coklat yang bisa Leya tebak isinya. Sementara Pak Rasyid membawa buah-buahan untuk Glenn.
"Selamat pagi, Leya. Boleh Bapak masuk?"
"Silahkan, Pak," kata Leya tersenyum dan membukakan pintu. Terlihat Pak Rasyid membawa buah-buahan dan meletakkan diatas nakas di samping tempat tidur. "Bapak hanya menjenguk Glenn sebentar saja. Dia masih belum bangun?"
"Belum, Pak Rasyid." Leya menatap kembali sosok Gleen, "Semoga aja dia bisa bangun lebih cepat."
"Sebenarnya, tujuan Bapak ke sini juga ingin memberikan sesuatu buat kamu."
Leya menaikkan sebelah alisnya, kemudian Pak Rasyid memberi kode kepada laki-laki di sampingnya untuk memberikan sebuah tumpukan amplop coklat besar yang isinya terlihat banyak.
"Bapak gak akan memaksa kamu buat melakukan ini. Tapi, mungkin kamu bisa melihat-lihat isinya dan memberikan pandangan tentang itu kepada kami. Mungkin, setelah kamu melihat-lihat isinya, kamu bisa tahu sesuatu."
Leya menerima amplop itu. Justru ia merasa senang, karena saat ini memang itu yang dia butuhkan. "Terima kasih, Pak. Nanti saya lihat-lihat. Kebetulan saya baru aja mau menghubungi Bapak tentang berkas ini. Ini berkas kematian Alfi?"
"Bapak juga memberikan berkas-berkas 4 tahun lalu yang berhubungan dengan Glenn. Yang membuat Glenn masuk rumah sakit jiwa. Kamu... tahu cerita ini bukan?"
Leya mengangguk. Tentu saja, Glenn sudah pernah menceritakannya.
"Dan mungkin kamu mau mengadakan wawancara pula? Bapak udah mewawancarai tetangga korban dan teman terdekat korban serta oranh tua korban."
Leya berpikir sesaat, "Bapak udah wawancara Geby?"
"Sudah. Nanti Bapak kirim e-mail hasil wawancaranya. Kamu juga bisa menambahkan pertanyaan untuk menanyakan ulang beberapa orang. Baiklah, mungkin itu saja. Kalau kamu butuh sesuatu, kamu bisa menelepon Bapak ya."
Leya mengangguk dan mengucapkan terima kasih ketika Pak Rasyid dan lelaki muda itu meninggalkan ruangan ini. Untuk sementara, ia akan mengambil alih profesi Glenn. Ia tak sehebat Glenn, tapi setidaknya pelan-pelan Glenn mengajarinya cara menganalisa. Leya tahu itu akan berguna saat ini.
Leya akan mengungkap Grimm dan mencari keberadaan Kakaknya.
*Kak Dedel, Leya tahu Kakak bukan Grimm. Leya akan nemuin Kakak.
~~~*
Leya mulai membuka isi amplop itu. Pertama kali, ia mengecek kematian Alfi. Mencatat beberapa bagian penting di buku catatannya, yang mungkin bisa Glenn baca ketika ia bangun nanti.
Mata Leya terfokus pada tangan Alfi yang diikat di belakang tubuh. Ia menaikkan sebelah alisnya. Alfi tak mungkin tanpa sengaja memberikan isyarat 3 dan kepalan tangan seperti itu. Ia pasti ingin memberitahu sesuatu. Leya menyadari bahwa Alfi cukup cerdas untuk memberikan sebuah *clue* seperti ini. Pasti berhubungan dengan si pembunuh. Dan di saat itu Leya tahu, bahwa Alfi sudah mengenali pembunuhnya. Itu artinya, sang pembunuh bukanlah orang asing di hidup Alfi.
*Tapi... siapa?
3 kepalan? Maksudnya apa? Kak Alfi... lo mau kasih tahu apa?*
Kemudian, Columbine ungu. Leya membuka ponselnya, mencoba mencari arti bunga itu. Ternyata artinya kebodohan. Mungkin, Grimm ingin memberitahu kebodohan Alfi akan sesuatu. Seperti yang tertulis pada pesan yang Grimm kirim ke ponsel Leya mengenai Pangeran kodok dan putri jahat. Tentang... cintanya pada seorang gadis dan itu membuatnya jadi bodoh. Putri jahat? Kalau melihat-lihat sebuah kemungkinan, hanya ada satu kemungkinan. Itu adalah Geby.
Pertama, Grimm berkata bahwa Pangeran kodok mau melakukan hal jahat apapun yang diminta Putri. Sementara, Leya tahu bahwa apapun yang disuruh oleh Geby, Alfi selalu menurutinya. Kedua, surat ancaman mengenai pangeran kodok pertama dikirim kepada Geby. Ini makin memperjelas bahwa Geby mungkin adalah Putri jahat yang dimaksud oleh Grimm.
Kemudian, Grimm berkata bahwa Pangeran kodok mati karena cinta. Kemungkinan, saat polisi berjaga di depan rumah, Alfi bisa saja kabur lewat belakang rumah. Itu hal yang mudah. Dan... Alfi tidak akan pernah kabur begitu saja bila ini tidak menyangkut Geby. Jadi... apa Grimm mengancam akan membunuh Geby?
__ADS_1
Tapi, Leya yakin Alfi tak akan mudah percaya begitu saja. Ia pasti diperlihatkan sesuatu yang membuatnya percaya bahwa Geby dalam keadaan bahaya. Apa... jangan-jangan, Geby sempat diculik oleh Grimm?
Iya... pasti seperti itu!
Seharusnya, Geby sempat bertemu Grimm. Dan mungkin, Geby tidak menyadari bahwa orang itu adalah Grimm.
Leya langsung membuka e-mailnya. Mendownload hasil wawancara dengan Geby mengenai Alfi.
Hal pertama yang Leya dengar ketika mendengarkan suara Geby adalah tangisan. Entah itu tangisan palsu atau bagaimana, hanya Geby yang tahu.
*"Apa kamu mengenal saudara Alfi?"
"I-iya kenal..."* Terdengar isak tangis Geby di sana.
*"Apa hubungan Anda dengan saudara Alfi?"
"Dia adalah sahabat terdekat saya. Saya tidak menyangka sebelumnya kalau dia yang akan menjadi korban."
"Berarti kamu sudah tahu kalau akan ada korban selanjutnya?"
"Iya, Grimm mengirimi saya pesan ancaman. Ini."
"Pangeran kodok?"
"Iya."
"Malam itu pukul 9-12, apa yang sedang kamu lakukan?"
"Pukul 9 saya pergi clubbing untuk melepaskan stress. Baiklah, umur saya sudah 18 tahun dan itu gak masalah kan? Saya gak berniat mabuk. Hanya ingin pergi dari rumah yang sepi karena saya takut di rumah sendirian. Saya pergi clubbing sendiri. Saya lagi berantem sama Alfi, makanya gak pergi sama dia. Ternyata ada orang yang ngajak saya minum. Dan... saya kebablasan sampai mabuk. Hal terakhir yang saya ingat itu ada taksi yang lewat, saya masuk kedalamnya dan setelah itu saya tidur. Paginya saya udah bangun di kasur. Waktu saya tanya pembantu saya, Bibi Nur, katanya saya sampai ke rumah pukul 10.25. Dianter driver taksi, cewek."*
"Ini... ini pasti Grimm. *Driver* itu. Gue harus menemukannya!"
*"Jadi, dari pukul 10.25 sampai pagi kamu udah tidur di rumah?"
"Iya. Saya sebentar aja clubbing tadi malam. Karena langsung banyak minum."
"Kamu ingat? Siapa yang ngajak kamu minum?"
"Cowok, gak kenal. Asing."
"Lalu, apa ada hal lain?"
"Ada. Waktu saya mau menghubungi Alfi di pagi hari, ternyata pas buka room chat, pukul 10.20 malam saya melakukan panggilan suara dan panggilan video selama beberapa menit. Itu aneh. Padahal saya sama sekali gak ingat pernah nelpon Alfi karena saya ketiduran."
"Atau karena kamu mabuk jadi kamu gak sadar telah melakukan hal itu?"
"Ada lagi yang ingin kamu sampaikan? Ohiya, bagaimana dengan ciri-ciri driver taksi itu? Bibi Nur itu memberitahumu?"
"Tidak. Kata Bibi Nur, dia pakai masker dan sarung tangan. Bibi kira dia sakit. Itu aja yang Bibi Nur beritahukan."
"Baiklah itu saja dulu-"*
Leya langsung mematikan pemutar audionya. Ia mencatat hal-hal penting yang ia tangkap dari wawancara itu. Ia lebih tertarik pada *driver* taksi yang mengenakan sarung tangan dan masker. Itu justru lebih mencurigakan.
*Seseorang yang mungkin dikenal Alfi. Teman sekelasnya? Atau... bahkan teman sekelas Geby? Yang jelas... mereka semua pasti ada hubungannya sama Adela*, pikir Leya.
"Ohiya... buku catatan Adela!"
Leya baru ingat mengenai buku catatan itu. Grimm tadi malam mengiriminya pesan seakan-akan ingin Leya tahu sesuatu dari buku kosong itu. Tapi... buku kosong itu disimpan di rumah Glenn. Leya tak tahu letaknya dimana.
Leya beralih menatap Glenn. Ia belum bangun.
*Glenn, apa lo udah tahu isi buku itu? Apa yang ngebuat lo nekat ketemu Grimm? Apa dia menunjukkan mimpi buruk lo juga sehingga lo penasaran pengen nanya langsung ke dia seperti yang saat ini gue rasakan?*
Grimm sedang menggenggam mimpi-mimpi buruk mereka berdua. Mimpi buruk yang secara sengaja maupun tidak sengaja, mereka lupakan. Dengan alasan tertentu, Grimm tahu kelemahan lawannya. Ia jenius dan disana... mungkin ia tengah tertawa bahagia karena berhasil menemukan kelemahan lawannya dan menaruh perangkap agar lawannya sendiri yang akan memberikan nyawa mereka secara cuma-cuma kepada Grimm. Leya akui, Grimm pastilah manusia yang sangat jenius dan psikopat. Ia senang tertawa di atas mimpi buruk seseorang dan ia senang menginjak-injak psikis lawannya.
*Brengsek!
~~~*
"*Sorry*, Ros. Gue gak enak badan makanya gak masuk sekolah mungkin dalam beberapa hari ini."
"*Gue jenguk ya? Lo tuh samaan tau gak sakitnya sama Glenn. Kalian kenapa sihhhh. Kok gue gak tahu apa-apa? Lo bohong kan? Pasti sekarang lo lagi jagain Gleen di rumah sakit makanya lo gak masuk sekolah. Ya kannnnn??*"
*Uhukk... Rosa kampret. Tahu aja dia.*
"Eng-enggak kok... lo dengar sendiri kan gue batuk tadi?"
"*Lo bukan batuk. Lo kesedekan soalnya tebakan gue bener hahahaha. Ohiya Ya'. Gue diajakin jadi relawan di panti asuhan loh! Ya... itung-itung gue bosen di rumah kesepian mulu gak ada lo. Jadi, gue terima hehehe.*"
Leya tersenyum sumringah, "Ohya? Di panti asuhan mana? Ntar gue singgah deh hehe. Akhirnya lo ada gunanya juga ya Ros jadi manusia."
"*Anjir, kampret lo haha. Panti asuhan Kasih Sayang. Seru loh. Sini Ya'! Lo gak mau ikut jadi relawan bareng gue?*"
"Mauuu tapi gue lagi sibuk. Nanti kalau udah gak sibuk lagi, gue ke sana okey?"
"*Okee gue tunggu. Ohiya, gue matiin dulu ya. Bu Nanda mau masuk nih bye! Cepetan sembuh oke? Si Gleen maksudnya, bukan lo haha."*
__ADS_1
"Anjir haha iya. Yaudah matiin sana gih."
Leya kembali berkutat dengan berkas-berkas di atas meja ruangan ini. Tapi, ia tak menghamburnya. Sengaja, agar ketika seseorang masuk, ia tak perlu terkejut dan malah membongkar semuanya. Begini jadi lebih sulit sih, seharusnya ia melakukan ini di rumah. Tapi, tidak ada yang menjaga Glenn. Leya khawatir bila tiba-tuba Grimm datang dan ingin membunuh Glenn, itu berbahaya.
Baiklah, sekarang Leya beralih pada kasus kematian Wati, entah kenapa Pak Rasyid juga memberikannya. Padahal, jelas kematian Wati berbeda.
*Siapa yang ngebunuh lo, Kak?*
Tidak ada petunjuk apapun. Seharusnya, Leya pergi ke atap sekolah dan memeriksa keadaan di sana sendiri, tapi... lagi-lagi itu belum bisa ia lakukan. Pembunuh Wati juga menjadi tanda tanya.
"Duhhh kenapa sih banyak pembunuh?!" Kata Leya kesal sambil mengacak-acak rambutnya gemas. Ia pusing lama-lama melihat hal-hal seperti ini.
*Pembunuhan Wati masih tanda tanya, tapi gue yakin pembunuh Wati gak akan seprofesional Grimm dalam membunuh. Pasti ada kelemahan, pasti ada petunjuk yang gak sengaja tertinggal. Kalau Grimm... sampai sekarang Grimm belum pernah melakukan kesalahan. Sial....
Kak Wati, apa anak OSIS yang ngebunuh Kakak?*
Leya membuka foto-foto anak OSIS yang ada di berkas itu beserta keterangan mereka. Ia membaca sekilas, tapi... mereka semua memiliki alibi kuat.
"Rrghh." Suara erangan itu bukan berasal dari Leya. Tapi... dari tempat tidur rumah sakit.
Leya melebarkan matanya ketika mendengar suara itu. Glenn sudah membuka matanya secara penuh. Leya langsung berlari menghampirinya, "Glenn? Lo bangun?" Tanpa jawaban pun, Leya langsung berlari keluar memanggil dokter. "Dokter!!!! Dokter!!!"
Leya mengucap syukur yang teramat. Glenn akhirnya bangun dari tidurnya.
Dokter memutuskan bahwa Glenn mungkin bisa pulang besok. Sementara, ia harus istirahat dulu di sini untuk memulihkan keadaannya. Dokter juga telah melepaskan alat-alat penunjang kehidupan yang menyeramkan bagi Leya. Glenn sedikit demi sedikit juga bisa bergerak normal dan berbicara.
Dokter dan perawat meninggalkan mereka kembali setelah Leya mengucapkan terimakasih. Leya duduk di samping Glenn lagi sambil tersenyum bahagia, "Lo lama banget sih tidurnya. Seharusnya tadi malam lo udah bangun tahu!"
"Gue udah bangun. Jam 11. Kalian semua pada tidur, jadi gue tidur lagi sampai pagi. Gue lemes banget semalam."
"Lo bikin kita semua khawatir. Dan lo janji sama gue gak akan datangin Grimm. Tapi, lo bergerak sendiri. Itu menyebalkan!" Leya cemberut. Tapi, ia sedikit takut... apa jangan-jangan Glenn mendengar keributan tadi malam? Tentang Leya yang pingsan dan menangis.
"Gue harus nemuin dia."
"Kenapa?"
"Ya' gue masih lemes banget. Besok aja ya gue ceritain?" Glenn tersenyum kecil, "Tapi lo harus bayar."
"Bayar apaan?"
"Lo semalaman megangin tangan gue."
Leya melotot. Sialan... Glenn beneran bangun tadi malam... Pipi Leya bersemu merah. Ia langsung salah tingkah.
Glenn tertawa kecil, kemudian meringis memegangi perutnya yang sakit, "Aduh..."
"Ihhh lo jangan banyak gerak."
"Iya."
"Gue gak megangin lo ih. Kepedean amat dah. Gue tidur di sofa tadi malam dari jam 12an."
"Jam 11 gue bangun, tangan lo masih megangin gue."
Leya membuang muka, "I-itu..."
"Becanda. Gak papa kok."
Leya menoleh, bingung.
"Soalnya lo habis nangis semalam. Jadi, anggap aja megangin tangan gue itu cara gue ngehibur lo."
Leya terperengah. Jantungnya berdetak lebih cepat. Perasaan aneh itu muncul kembali. Ini gila. Tapi... apa tak apa begini?
"Lo ngomong apa sih? Kepala lo kebentur ya makanya ngomong aneh-aneh?"
Glenn masih menatap Leya, "Jmm mungkin. Tapi, lo harusnya bersyukur. Karena, besok-besok gue gak gini lagi tahu."
Leya hanya memutar bola matanya, "Cepetan sembuh gih. Lo ditungguin Pak Rasyid. Lo lihat tuh di meja. Itu berkas bikin gue pusing 7 keliling. Tapi, sekarang gue gak mau lo mikirin itu dulu. Kalau lo beneran udah pulih, baru bahas lagi. Tapi dengan catatan, lo gak boleh ngelakuin hal bodoh kayak gitu lagi. Gue akan mencegah lo."
Glenn tersenyum kecil, "Lebih baik lo secerewet ini."
"Kenapa?"
Tiba-tiba pintu dibuka tanpa permisi. Itu Ayah Glenn, tersenyum lebar dengan wajah lega. Keringat bercucuran di keningnya, sepertinya ia berlari jauh dari ruangannya menuju ke sini. "Glenn kamu gimana? Udah baikan? Syukurlah kamu udah bangun. Ayah khawatir sekali. Untung ada Leya yang jagain kamu."
"Ada maunya aja Yah dia jagain Glenn. Mau minta traktir nasi padang."
"Tahu aja lo haha."
Mau dipacarin lo sih sebenernya Glenn. Eh?
Glenn sudah pulang ke rumahnya. Dan saat ini, Glenn dan Leya tengah berdiskusi di taman belakang rumah melanjutkan kasus ini. Leya memberikan catatan yang dia ketahui berdasarkan analisis yang ia lakukan pada kasus Alfi dan Wati. Leya bahkan belum membuka sama sekali amplop berisi kasus 4 tahun lalu tentang Glenn. Tapi, ia menyimpannya sendiri. Ia merasa, Glenn tak perlu melihat kasus masa kelamnya sendiri. Biar Leya saja yang melihatnya.
"Bagus... analisis lo berkembang juga. Siapa dulu yang ajarin?"
"Sombong kannnnnn." Leya memutar bola matanya. Tapi, ia lebih suka Glenn menyebalkan seperti ini daripada harus tertidur seperti kemarin.
"Gue baru liat kalung itu. Itu yang bikin lo tadi malam nangis?"
Leya menghela napasnya, kemudian ia menceritakan semuanya. Tentang Kakaknya, Dandelion. Seperti yang diceritakan Ayahnya walaupun tidak detail karena ia sendiri lupa bagaimana detailnya. Ia masih lupa mengenai Dandelion.
"Gue takut kalau ternyata... Kak Dedel itu Grimm. Apa yang harus gue lakuin?"
"Dendelion, Kakak lo bukan Grimm." Glenn tersenyum lembut.
"Kenapa?"
"Karena, cara kerja Grimm adalah menguak mimpi buruk musuhnya. Mimpi buruk lo mungkin Dandelion. Dan Grimm berusaha memancing lo ke perangkapnya dengan itu. Kalau memang Grimm adalah Dandelion, dia gak akan setega itu bikin lo ketakutan. Ngancurin psikis lo. Seandainya dia mungkin membenci lo, tetap aja dia kakak kandung lo. Gak akan tega naroh kepala Alfi di depan rumah lo."
Leya hanya mengangguk. Mungkin Glenn benar. Grimm tahu mengenai Dandelion. Tapi, ia bukan Dandelion. Tidak mungkin kakaknya akan melakukan hal ini.
"Oke balik lagi ke kasus ini. Buat kasus Wati, gue sendiri akan mewawancarai anak OSIS kembali. Kita juga bisa balik ke sekolah besok dan ngecek TKP. Buat Alfi... gue harus memikirkannya dulu, tentang *clue* yang dikasih Alfi. Dan gue mau ngasih tahu lo tentang buku catatan Adela. Gue udah nemuin rahasianya walaupun kemarin belum sempat mempelajari bener-bener. Gue prediksi korban selanjutnya adalah Belvina dan Geby. Sementara ada satu nama yang asing buat gue di buku itu. Dia nyebut nama Geri berkali-kali. Tapi gue masih penasaran dia siapa.
"Gue secara langsung nanyain hal itu ke pembunuh Alfi. Dia gak mau jawab. Dan gue berakhir di rumah sakit. Awalnya gue ngeremehin dia karena dia cuma cewek biasa. Tapi, setelah itu gue sadar kalau dia bukan cewek biasa."
"Dia Grimm?"
"Gue gak bisa menentukan kalau dia memang Grimm atau suruhan Grimm. Masih abu-abu, gak jelas."
Leya menghela napasnya. Pusing. Kemudian, ia mengambil foto tangan Alfi, "Isyarat apa yang berusaha Alfi kasih tahu ke kita ya? Gue... bingung. 3 kepalan? Apaan cobaaa."
Glenn tersenyum lebar. Leya tahu kalau Glenn punya sesuatu.
"*That's it!* Isyarat!! *Good job*, Ya'. Lo jenius." Mata Glenn berkilauan bahagia seperti anak kecil yang baru saja mendapat permen.
__ADS_1
"Hah?"