Once Upon a Time

Once Upon a Time
Penyihir atau Coklat?


__ADS_3

Leya membolak-balik buku dongeng Hansel dan Gretel yang ia pinjam dari Glenn. Untung lelaki itu mau meminjamkannya. Pukul 10 malam dan Leya masih berkutat dengan buku dongeng di meja belajarnya.


Siapa Hansel?


Ia tak boleh terlambat. Ia harus mengetahui target sang pembunuh selanjutnya sebelum sang pembunuh mengambil nyawa korban.


Ah... ini membuat gue gila, tapi cukup menyenangkan.


Handphone Leya berdering, membuat Leya tersadar dari lamunannya. Di ceknya layar handphone yang berkedip-kedip itu, nomor tak dikenal.


"Halo?"


"Ini gue. Lo bisa kirim ke email gue gak daftar nama murid berprestasi di sekolah?"


Suara bariton laki-laki yang terdengar familiar itu menyambut Leya dari ujung sana, Glenn. Tunggu sebentar, dari mana laki-laki itu tahu nomor Leya?


"Lo tau nomor gue darimana?"


"Ntaran aja bahasnya. Lo kirim dulu. Lo tahu, kan?"


"Ehm... ini 10 besar per angkatan aja kan? Kayaknya gue ada. Bentar gue langsung kirim ke email lo. Lo kirim nama email lo ke gue."


"5 besar aja. Gue gak suka smsan. Gue sebut sekarang aja, lo catet. Glennrajendra lima lima sembilan tujuh at gmail dot com. Udah?"


"Astaga repot amatsih entar gue salah lagi. Yaudah ini udah gue catet. Nama lo n nya ada dua kan?"


"Iya, yaudah gue tutup."


Klik. Telepon dimatikan secara sepihak. Ah, luar biasa laki-laki itu. Apa sesingkat itu dirinya menelepon Leya? Tunggu, untuk apa bicara lama-lama? Ah, Leya sudah mulai tidak waras.


Leya membuka laptopnya, mencari daftar nama siswa berprestasi. Untungnya, waktu itu Bu Susi--Guru BKnya--meminta bantuan Leya untuk menyusun daftar nama siswa berprestasi untuk diberikan beasiswa. Leya memang sering sekali dimintai bantuan guru, ia juga tak tahu kenapa. Mungkin karena terlalu sering membantu menyusun berkas seperti ini.


Setelah Leya mendapatkan daftar murid itu, Leya segera mengirimkannya pada Glenn. Setelah berhasil terkirim, Leya ikut mengecek daftar nama per angkatannya, seakan Leya memahami kenapa Glenn meminta daftar nama itu.


Mata Leya tak berhenti tertuju pada satu nama di sana. Chandra. Apa target selanjutnya Chandra? Dia juga bilang pernah berperan sebagai Hansel di teater.


Leya segera menarik handphone-nya, menelepon seseorang yang tadi meneleponnya. Terdengar bunyi nada sambung di telepon hingga akhirnya nada sambung itu berubah menjadi suara bariton seorang laki-laki.


"Kenapa?"


"Glenn, gue kok mikirnya Hansel itu Kak Chandra ya?"


"Kenapa lo berpikiran begitu?"


"Pertama, dia ranking 3 di angkatannya. Kedua, dia bilang sama gue kalau dulu pernah meranin Hansel di teater. Make a sense gak sih?"


"Hmm... gue belum bisa nyimpulin. Kak Chandra dekat sama Kak Raya? Kemungkinan si Hansel yang dimaksud pembunuh itu gak jauh-jauh dari orang yang kenal sama Kak Raya."


"Iya, dia wakilnya Kak Raya, terus kemaren juga dia orang pertama yang nemuin jasadnya Kak Raya."


"Terus Kak Ansel ini? Ranking 2 dibawahnya Kak Raya. Dia gimana orangnya?"


"Kak Ansel? Dia hmm saingan beratnya Kak Raya. Dulu dia kalah waktu calonin jadi ketua OSIS, yang menang Kak Raya. Dia masuk ke deretan orang yang dicurigain juga kan? Selain itu, dia emang gak punya alibi kuat yang bikin dia terhindar dari kecurigaan. Tapi gak menutup kemungkinan, dia korban selanjutnya."


"Hansel yang dimaksud pelaku adalah seorang penghianat. Kemungkinan termasuk orang cerdas juga, penggambaran Hansel yang sebenarnya. Tapi, apa lo ada ngeliat keanehan dari Kak Ansel sama Kak Chandra?"


"Emmm... ohiya gue lupa cerita ke lo. Waktu gue ke toilet, gue ketemu sama Kak Ansel cari sesuatu gitu. Waktu gue nanya dia ngapain, dia jawabnya gak jelas banget. Dia bilang mau ke toilet abis itu dia kabur. Yakali ke toilet. Ketahuan bohongnya."


"Kita harus wawancarain Kak Ansel juga besok. Ada sesuatu yang dia tutupin. Gue takutnya dia yang selanjutnya."


"Kenapa lo mikir Kak Ansel yang selanjutnya?"


"Karena dia juga nyari bukti kayak lo."


"Maksudnya?"


"Udah gue tutup. Lo tidur aja udah malem."


"Tapi-"


Klik. Lagi-lagi Glenn memutuskan telepon secara sepihak. Menyebalkan.


Leya membenturkan kepalanya pelan ke meja belajarnya. Tapi, ia masih bertanya-tanya. Kenapa Glenn terlihat begitu tertarik pada Ansel dibandingkan Chandra? Kenapa Glenn juga tak tertarik dengan murid berprestasi lainnya? Atau karena kata-kata penghianat itu? Penghianat Raya atau bagaimana? Ahh, banyak sekali pertanyaan yang bermunculan di kepala Leya. Sepertinya besok ia harus banyak mencari informasi mengenai OSIS. Karena pasti ada sesuatu di sana.


Penghianat di dalam OSIS? Ah, tidak tahu. Besok saja. Saatnya Leya mengistirahatkan otaknya yang panas ini.


 ~~~


"Ros, lo ada denger-denger gossip tentang anak OSIS gitu gak?" Masih pukul 6.30 pagi dan Leya memang sengaja mengajak Rosa berangkat sepagi ini agar dirinya bisa mengorek-ngorek tentang OSIS. Kebetulan, Rosa memang dekat dengan banyak anak OSIS, jadi bagi Rosa mudah saja mengetahui rumor-rumor yang terdapat di organisasi itu.


"Tentang apa dulu nih? Ah lo kejam banget Ya' ngajak gue masuk sekolah sepagi ini. Gue masih ngantuk nih abis begadang!" Rosa memberengut sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Tentang apa ya? Penghianatan atau apa gitu kek. Lo harusnya bersyukur gue ajak masuk pagi, biar gak macet." Leya hanya terkekeh.


"Bersyukur pala lo peyang."


"Udah cepetan jawab dulu pertanyaan gue tadi."


Rosa memutar bola matanya ke atas, sedang berpikir dan mengingat-ngingat. Sebenarnya, Leya tak begitu percaya dengan gosip-gosip seperti ini. Namun, disaat seperti ini, gossip bisa menjadi pembuka untuk mencari informasi lebih dalam. Selanjutnya, mungkin Leya bisa menanyakan langsung pada anggota OSIS.


"Walaupun gue punya banyak teman OSIS, tetap aja rahasia OSIS gue gak tahu. Tapi, ada satu yang pernah gue dengar sih. Gak sengaja gue dengar Anis cerita kalau Kak Ansel katanya ada ngebocorin event baru OSIS ke OSIS SMA Bhakti. Jadinya kita gak jadi ngadain event itu karna udah diambil anak SMA Bhakti duluan. Gak tau jelasnya event apaan."


Leya mendengarkan dengan seksama. Untuk apa Ansel membocorkan hal seperti itu?


"Gak cuma itu. Kak Ansel juga ngebocorin keuangan OSIS. Gila ya Kak Ansel? Buat apaan coba begituan. Gak ngerti gue."


Ini yang lebih parah. Apa harus Leya mempercayainya? Lagipula, apa maksud Ansel melakukan hal-hal seperti itu?


"Kak Ansel gak dikeluarin dari OSIS?"


"Nah itu. Gue gak tahu kenapa Kak Ansel masih bisa bertahan di OSIS padahal udah jelas dia ngelakuin hal yang gak pantes dilakuin anak OSIS. Tiap gue kepoin, mereka pada diam gitu gak mau bahas."


Leya mengetuk-ngetuk mejanya dengan jari telunjuk sambil berpikir. Pasti ada sesuatu yang membuat Ansel bisa bertahan di OSIS. Tapi apa?


Tak lama kemudian, seorang laki-laki berwajah dingin memasuki kelas. Ia tak langsung duduk di tempat duduknya, melainkan berdiri di samping meja Leya.


"Ya', bisa ngomong sebentar?" tanyanya.


Leya lantas menoleh ke arahnya bersamaan dengan Rosa. Rosa senyum-senyum sambil sesekali menyenggol lengan Leya. Sementara Leya mendelik sebal. Saat ini, hanya ada mereka bertiga di kelas. Kelas masih sepi seperti tadi.


Leya mengangguk dan berdiri dari tempat duduknya kemudian membuntuti Glenn dari belakang. Mereka keluar kelas bersama-sama.


"Hari ini lo temanin gue wawancara. Gue udah bilang bakal wawancara Bi Ijem sama Ansel dulu."


"Beres. Ohiya, Glenn. Gue baru dapat info dari Rosa. Katanya sih ya, Ansel itu-"


Ucapan Leya terpotong bersamaan dengan seseorang yang berteriak di lantai satu. Leya dan Glenn terkejut, lantas tanpa aba-aba keduanya berlari turun ke bawah, ke lantai satu. Rosa yang tadinya berada di kelas juga ikut keluar kelas dan menyusul mereka.


Saat mereka bertiga berada di lantai satu, terlihat seorang kakak tingkat perempuan yang berteriak histeris minta tolong, "TOLONGGG!! TOLONGGG!! DI KELAS GUE ADA ORANG MATI!!" pekik gadis yang mereka ketahui ada salah satu bagian dari siswa kelas XII IPA 1.


Leya, Glenn, dan Rossa membelalak bersamaan kemudian langsung menghambur masuk ke kelas XII IPA 1. Mereka membeku di tempat melihat pemandangan di depannya. Namun, Glenn lah yang terlebih dahulu sadar akan keterkejutannya dan langsung menghubungi polisi.


Leya mengepalkan tangannya. Mereka terlambat.



Aku membenahi letak kaca mataku sambil menghela nafas panjang. Setelah itu, kulihat jam tangan yang melingkar manis di pergelangan tangan kiriku, pukul 5.30. Ah, lelah sekali rasanya.



Aku baru selesai membereskan berkas-berkas yang harus kuberikan kepada Kepala Sekolah untuk pelaksanaan ulang tahun sekolah yang akan diadakan sebentar lagi. Kutatap sekelilingku, semua anggota OSIS telah pulang terlebih dahulu, bahkan tak kulihat batang hidung Chandra. Brengsek, sumpahku dalam hati. Chandra tak pantas menggantikan posisi Raya. Dia tidak bertanggung jawab!



Aku memang meminta anggota OSIS lainnya untuk pulang ke rumah terlebih dahulu, karena ini memang tugasku. Tadinya, aku berpikir untuk menyusunnya di rumah saja. Tapi tak jadi, karena aku malas membawa pulang berkas-berkas ini. Takut hilang.



Sekolah sudah sangat sepi. Aku mulai gugup dan berusaha secepat mungkin untuk keluar dari sekolah. Insiden kematian Raya masih menghantuiku. Aku jadi bertambah takut. Belum lagi orang itu mengancamku agar tak buka suara. Apa yang harus kulakukan?



Aku memang beberapa hari ini berusaha mencari bukti untuk menguatkan kesaksianku. Mereka sudah memasukkan diriku di daftar tersangka! Aku bahkan tak menyentuh Raya sedikitpun. Dan aku tak benar-benar melihat wajah sang pembunuh. Yang kutahu dia adalah seorang gadis, aku mendengar suaranya waktu itu.



Jangan tanya kenapa aku tak pergi berlari lalu mengadukan pada guru ketika mendengar suara Raya berbicara di dalam toilet dan keributan di dalam toilet. Selain karena aku takut, ada sedikit perasaan senang di dalam hatiku. Raya pantas mendapatkannya. Orang-orang hanya tak tahu betapa busuknya laki-laki itu.



Apa aku berpihak pada pembunuh itu? Mungkin saja. Tapi, di sisi lain sebagian dari diriku berkata aku harus menceritakan semua yang kulihat.


__ADS_1


Aku masih ingat bagaimana pembunuh itu menunduk dan berdiri di depanku. Aku benar-benar membeku. Dia tak mengangkat kepalanya sedikitpun, bahkan ia mengenakan masker. Ia mengenakan pakaian cleaning service, namun aku tahu bahwa dia bukan salah satu cleaning service sekolah. Ia masih muda.



Aku masih ingat ucapannya saat itu, yang membuatku hingga kini tak berkutik, "Kamu tahu apa yang terjadi pada seseorang yang mencoba membocorkan kejadian dalam pembunuhan? Dia berakhir tragis sebelum pembunuh itu ditangkap polisi." Dia tertawa setelah mengatakan itu, dan bagiku tawanya adalah tawa paling menakutkan yang pernah kudengar. Sungguh, tawa dan suara itu terdengar familiar di telingaku, walaupun suaranya tak begitu terdengar jelas karena teredam masker.



Ucapannya sukses membuatku bungkam beberapa hari ini. Aku tahu ia terus mengawasi gerak-gerikku. Perasaanku selama beberapa hari ini seperti ada yang terus mengawasi, entah darimana. Aku harus bagaimana? Aku takut. Tapi, bukankah bila aku mengadukannya pada polisi, aku bisa meminta perlindungan? Sepertinya aku memang harus mengadukannya kepada polisi. Besok. Iya, besok.



Aku keluar dari ruang OSIS. Aku merogoh saku celanaku, mencari kunci ruang OSIS di sana. Sepi sekali. Aku menjadi was-was. Saat kumasukkan kunci itu ke lubang kunci pintu, aku merasa ada sesuatu yang aneh. Seperti ada yang mengawasiku dari jauh. Atau perasaanku saja?



Secepat kilat aku berlari menuju ke gerbang sekolah. Ah sial, kemana Pak Ratno yang biasanya menjaga sekolah? Apa malam nanti baru kembali ke sekolah?



Aku bernapas lega setelah berada di luar gerbang. Untung saja ruang OSIS tak begitu jauh dari gerbang sekolah. Setidaknya aku sudah bisa melihat motorku dari sini. Tapi, dering handphone-ku menghentikan langkah kakiku. Aku mengumpat dalam hati. Siapa lagi ini?



Terlihat nama Rena di sana, teman satu kelompokku.



"Halo, kenapa Ren?"



*"Lo jangan lupa ya makalah kita besok. Bahannya udah gue taroh di laci lo tadi. Udah di ambil kan?*"



Aku menepuk keningku. Ah, bodoh. Aku lupa mengambil bahan-bahan untuk makalahku. Besok juga harus sudah dikumpul. Sialan. Aku terus mengumpat di dalam hati.



"*Ansel*?"



"Eh iya, Ren. Ketinggalan di laci. Gue otw deh buat ambil."



"*Kok bisa lupa sih? Aduh lo tuh gimana coba. Intinya malam ini udah lo susun terus kirim ke email gue ya? Biar ntar gue bikin presentasinya."*



"Iya-iya. Lo tenang aja, pasti gue beresin."



"*Oke. Ohiya, lo hati-hati ya. Abis dari sana buruan pulang.*"



"Iya Ren. Udah ya gue tutup dulu. Ntar kemaleman lagi gue pulang ke rumah."



"*Oke, bye*."



Klik. Telepon dimatikan.



Aku berdecak kesal. Kupandangi lagi gerbang masuk menuju sekolah. Tak ada yang lebih menyeramkan dibandingkan sekolah di petang hingga malam hari.



Langit tampak indah dengan semburat jingga, namun keindahannya tak mampu membuatku cukup berani masuk ke dalam sekolah lagi. Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya dengan keberanian penuh--yang kupaksakan--aku mencoba melangkah menuju ke dalam sekolah lagi sambil berdoa di dalam hati, semoga tak terjadi apapun.




Aku sudah membulatkan tekad, tak peduli seberapa takutnya aku, tetap saja aku harus mengambil materi itu demi tugas besok. Bisa tamat riwayatku bila tidak mengerjakan tugas. Apa kata guru nantinya?



Aku melangkah cepat kembali memasuki gerbang, bahkan bisa dibilang aku berlari. Sial, kenapa harus seperti ini sih? Bodohnya aku lupa materiku sendiri. Kelas mulai gelap, lampu belum dinyalakan. Setelah sampai di kelas, aku menyalakan lampu.



Napasku memburu bersamaan dengan degup jantungku yang tak beraturan. Perasaanku mulai tidak enak. Saat berlari tadi, aku bisa mendengar suara langkah kaki yang mengikutiku di belakang. Tapi, bodohnya aku tak berani menoleh dan terus saja berlari hingga sampai di sini. Aku segera melangkah menuju tempat dudukku, nomor dua dari belakang, paling ujung berhimpitan dengan jendela.



Tiba-tiba... gelap gulita. Lampu di kelas mati, atau sengaja di matikan?



Aku diam gemetar ketika mendengar suara langkah kaki yang menggema mengisi ruangan ini. Walaupun gelap, cahaya senja masih masuk melalui jendela. Dengan penerangan minim ini aku bisa melihat seseorang berdiri di ambang pintu kelas. Aku membeku di tempat, keringat dinginku mengucur deras, kakiku gemetaran. Sial. Siapa dia?



Dia melangkah terus mendekatiku hingga aku bisa melihat wajahnya yang ditutupi oleh masker. Cahaya senja lama kelamaan menjadi semakin gelap. Aku takut.



"Si-siapa kamu?" tanyaku gemetaran. Dia berdiri dengan jarak 2 meter dari depanku. Ia diam saja. Sementara aku semakin gemetaran melihat mata tajamnya yang menembus kegelapan. Dia mengenakan topi, namun matanya menatapku lurus dengan tatapan menghunus.



"Ah, Hansel. Kamu masih tidak berubah." Bukannya menjawab pertanyaanku, ia malah mengucapkan hal lain.



Angin sore masuk melalui ventilasi. Sejak kapan angin sore jadi sedingin ini? Tanganku lama kelamaan jadi begitu dingin sedingin es. Aku memegangi kursi sebagai pertahananku bila ia mendekat. Nyatanya, ia mendekat tanpa gentar dan aku malah semakin bergerak menjauhinya. Satu tujuanku, pintu kelas.



"Aku bukan Hansel!" pekikku. Tapi, ia justru tertawa. Tidak salah lagi, dia adalah pembunuh Raya karena suaranya mirip sekali. Sialan, apa maunya?



Dia semakin melangkah mendekatiku! Aku langsung melemparkan kursi itu ke arahnya yang berjarak 5 meter, namun sialnya tak mengenai target. Dengan mudah ia menggeser tubuhnya menjauhi lemparan kursiku. Ini juga pasti karena tanganku yang gemetaran. Kemudian tanpa pikir panjang aku berlari sekuat tenaga menuju keluar kelas melewati sela barisan kedua dari pintu. Sementara dia menyusulku dari belakang menuju keluar kelas. Aku berusaha sekuat tenaga menggapai gerbang sekolah, namun sialnya gerbang sekolah terkunci!



Aku memanjat pagar, namun terlambat. Ia menarikku hingga aku yang sudah berada di atas pagar, terhempas ke semen lantai. Ah, badanku sakit. Ia menginjak keras kaki kiriku hingga terkilir dan langsung duduk di atas tubuhku, aku berteriak dan meronta. Kukerahkan tenagaku untuk memberontak, namun ia mengeluarkan sebuah sapu tangan dan membekap hidung serta mulutku dengan kuat. Sebuah aroma yang tak pernah kucium sebelumnya terhirup, aroma ini... menyengat namun menenangkan.



Dia terus menekannya, aku terhipnotis ingin terus menghirup bau menenangkan itu. Hingga akhirnya, aku kehilangan kesadaranku dan semuanya jadi gelap gulita. Terakhir kudengar suaranya berbicara lembut.



"Tidurlah Hansel."



 ~~~



Aku membuka mataku perlahan. Aku sudah duduk di bangku kelas dengan tangan dan kaki terikat serta mulutku yang tertutup lakban. Sialan. Aku mulai panik dan meronta-ronta minta dilepaskan. Dia duduk di depanku, masih dengan masker dan topinya, memandangiku yang meronta dengan keringat dingin bercucuran.



"Coklat atau penyihir?" tanyanya.



Aku menggelengkan kepalaku. Aku tak mengerti apa maksudnya. Ia malah mengeluarkan sebuah pisau tajam dan mendekatkannya di wajahku.


__ADS_1


"Oh, Hansel. Kamu harus memilih salah satunya. Akan lebih sakit lagi bila kamu tidak memilihnya," ujarnya masih menatapku.



Aku gemetaran semakin takut. Oh, Tuhan selamatkan aku! Aku tak ingin mati begitu saja!!



"Coklat atau penyihir?" tanyanya sekali lagi, "Aku lepas ya lakbannya. Tapi, kalau kamu berteriak aku bakal bikin kamu lebih sakit lagi. Jadi, jangan nakal ya Hansel." Dia melepaskan lakbanku perlahan. Aku mengepalkan tanganku.



Aku tak peduli, tetap saja aku berteriak minta tolong, "TOLOOONGGGGGG!!!"



Karena geram, ia kembali menempelkan lakban itu, kemudian dengan penuh amarah ia mendekatkan pisaunya ke daun telinga sebelah kanan. Merobek keras daun telingaku dengan pisaunya.



AARRRRGGGHHHHH!! Aku berteriak sekuat tenaga meskipun suaraku teredam, sakit sekali!!! Aku bahkan menangis meronta-ronta, namun suaraku teredam lakban ini. Perih, sakit!! Ia kemudian mengambil daun telingaku yang terjatuh ke lantai dengan cairan darah merah itu. Diletakkannya di bawah kakinya.



Darah segar menetes dari telinga hingga ke bahuku, membasahi seragam putihku hingga seragamku berwarna kemerahan. Air mata terus mengucur. Aku masih berusaha melepaskan ikatan ini disertai rasa sakit yang teramat. Ia melepaskan lakbanku lagi.



"To-tolong jangan bunuh aku...," Aku memohon kepadanya bahkan sambil mengucurkan air mata. Sungguh, aku takut.



"Sudah kubilang jangan nakal! Ini akibatnya!" Ia memegang kedua pipiku dengan tangan kirinya. Mengangkat wajahku agar sejajar dengan wajahnya, "Jawab! Coklat atau penyihir!!" pekiknya membuatku semakin gemetaran.



"Co-coklat...," kataku terbata-bata. Aku hanya tak ingin dirinya semakin marah dan mungkin ia bisa saja memutilasiku hidup-hidup. Telingaku masih terasa sakit, mataku jadi buram tertutupi air mata yang menggenang.



Ia mengangguk dan tertawa puas, kembali memasang lakbanku. mengambil kacamataku, mataku bertambah kabur. Aku tak bisa melihat dengan jelas. Hanya cahaya bulan yang sedikit membantu penerangan di sini.



Ia mendorong kursiku hingga ke ambang pintu kelas, "Ah, gelap. Tapi setidaknya cahaya bulan masih menerangi kita. Iya kan Hansel?" ujarnya. Aku diam saja, masih terus menangis merasakan betapa perihnya telingaku, "Katanya cahaya bulan itu adalah Ibumu yang melihat dari surga. Tapi, sayang Ibumu sedang marah. Ia tak mau membantumu lagi karna kamu seorang pengkhianat hahahhaa."



Pengkhianat? Apa maksudnya?



"Sebelum aku berikan coklat, kita bermain jarum dulu ya?" ujarnya. Aku tak tahu apakah ia kini tengah bahagia atau bagaimana. Wajahnya bertambah kabur. Aku menggeleng keras. Aku tahu maksudnya. Aku bisa berakhir seperti Raya. Tuhan! Tolong dengar aku!! Panggillah seseorang untuk menyelamatkanku dari orang gila ini!! Pekikku dalam hati.



Ia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya lagi. Sebuah benda kecil yang tajam dengan benang. Aku bisa menebak bahwa itu adalah jarum walaupun terlihat buram. Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat. Namun tangan kirinya menekan keras pipiku sehingga aku kesulitan menggerakkan kepalaku.



"Diam!! Apa kamu mau telingamu yang satunya lagi hilang? Atau jari-jarimu aku potong?" ujarnya geram, "Kamu ini nakal sekali Hansel!!" pekiknya.



"Kamu tahu? Sebenarnya percuma saja kamu berteriak minta tolong tadi hahahaha tidak akan ada yang mendengarmu dan tidak akan ada yang datang ke sini. Aku hanya bermain saja denganmu tadi. Ternyata memang benar, tindakanmu saja membuatku semakin yakin bahwa kamu pengkhianat."



Ia menekan kelopak mataku hingga tertutup sepenuhnya dengan tangan kiri yang tadinya memegangi pipiku. Aku seakan terhipnotis dan dengan bodohnya mengikuti saja perintahnya sambil menangis. Bagaimana caraku memberontak lagi? Bisa-bisa aku akan merasakan kesakitan yang lebih dari ini.



Jarum itu berhasil masuk kedalam kelopak mataku. Aku berteriak, namun lagi-lagi suaraku teredam oleh lakban sialan ini. Cairan hangat terus mengucur melintasi pipiku. Dia orang gila!! Tak peduli betapa kerasnya aku menangis tetap saja ia melanjutkan kegiatannya hingga selesai.



Jarum tajam itu bahkan menusuk bola mataku karena aku meronta. Aku menangis kesakitan. Tolong.... tolong aku... siapapun!



"Ah, sepertinya kena bola matamu ya? Kamu sih bergerak terus," ujarnya dan kembali melakukan kegiatannya itu.



Aku kehabisan energi. Tubuhku mati rasa. Kalau begini caranya, lebih baik langsung kau bunuh saja aku. Jangan bunuh aku perlahan seperti ini.



Jantungku mau terlepas rasanya. Ia telah selesai menjahit kedua mataku seutuhnya, benar-benar gelap. Aku tak bisa melihat apapun. Apa aku bisa bernafas lega? Ah, ada penderitaan lain yang siap menghampiriku.



Ia melepas lakbanku lagi, "Ja-jangan sik-sa aku... bunuh aku sekarang...," ujarku akhirnya. Aku tak tahan dengan penyiksaan ini. Lebih baik aku mati.



Ia membelai puncak kepalaku, "Tenang saja Hansel. Sebentar lagi, kamu akan bergabung dengan serigalaku. Kamu makan dulu ini ya." Ia membuka mulutku dengan paksa, menyuapkan sesuatu ke dalam mulutku.



Manis, aku tahu inilah coklat yang ia katakan itu. Walaupun tak kukunyah, coklat itu lama kelamaan meleleh di lidahku. Ia terus menyuapiku coklat itu tanpa henti. Terus-terusan. Aku tak tahu kenapa ia bertindak seperti ini.



Dia berhenti menyuapiku. Aku meninggu dengan sisa-sisa tangisanku yang tadi. Tidak ada yang terjadi. Ada apa?



"30 menit lagi Hansel. Tik tok tik tok hahaha." Ia tertawa seakan dirinya benar-benar merasakan sebuah kemenangan. Apa coklat tadi itu berisi racun? Apa... aku memakan racun?



Waktu terus berjalan. Aku tahu ia tetap menungguku di sana, "Ah sepertinya aku harus membawamu sedikit masuk ke dalam kelas saja. Kembali ke tempat dudukmu. Bukankah membiarkanmu duduk di ambang pintu seperti ini akan menyulitkan orang lain?" ujarnya.



Ia menarik kursiku. Bunyi decitan kaki kursi yang bergesekan dengan lantai porselin menjadi satu-satunya peramai kelasku yang sepi. Entah kenapa, aku pasrah saja. Sudah kehabisan energi akibat meronta. Walaupun sekuat apapun aku mencoba melepaskan ikatan ini, aku tetap tak bisa melakukan apapun. Ikatannya terlalu kuat dan aku seperti buta, kakiku juga begitu sakit karna terkilir.



"Sebentar lagi Hansel. Satu... dua... tiga..."



AARRRRGGGGHHHH!!! Aku berteriak sejadi-jadinya! Perutku sakit sekali seperti hancur, aku mual. Ia membuka lakbanku dan membiarkanku muntah sejadi-jadinya. Perut sebelah kiriku terasa hancur, aku yakin ini lambungku yang bermasalah. Seperti ada yang menginjak-injak lambungku. Kerongkonganku seperti dibakar api. Perutku tambah seperti hancur bahkan sepertinya ada sesuatu yang keluar dari anusku. Aku meronta-ronta kesakitan. Sementara dia tertawa bahagia. Sakit luar biasa!!! Kumohon bunuh saja aku!!!



Kepalaku sakit dengan hebat! Aku menangis dan meronta sejadi-jadinya. Ini luar biasa sakit, seperti ada yang memukul mukul keras kepalaku dan menginjak-injak keras perutku hingga hancur. Semakin lama semakin gila rasa sakitnya. Oh Tuhan ambil saja nyawaku, jangan bunuh aku perlahan seperti ini, sakit sekali.



Walaupun lakbanku dilepas, aku tetap tak kuasa berbicara, yang ada aku malah berteriak-reriak kesakitan. Teriakanku memecah keheningan. Dan suara tawanya juga tak kalah dengan suara histerisku.



Tubuhku langsung kejang-kejang kesakitan. Aku tak lagi bersuara. Sekujur tubuhku sakit luar biasa. Seakan coklat tadi sudah menjalar dan menimbulkan rasa sakit di seluruh tubuhku tanpa terkecuali. Setelah tubuhku kejang-kejang hebat, aku mulai lemas. Aku lelah merasakan sakit ini. Lama-kelamaan suara tawa itu menghilang.



"Ah, tepat 2 jam. Kamu kuat sekali Hansel! Selamat tidur Hanselku. Titipkan salamku pada serigala tampan itu."



Itu suara terakhir yang kudengar. Setelah itu, yang kulihat hanya kegelapan. Tapi berbeda.



Ini adalah kegelapan yang hampa.



 ~~~

__ADS_1


__ADS_2