Once Upon a Time

Once Upon a Time
Yours


__ADS_3

Glenn berusaha menahan Adrian. Mereka sama-sama lemah, walaupun keadaan Glenn jauh lebih mengenaskan dibanding Adrian. Mereka terus bergulat. Hingga akhirnya, Adrian berada di atas tubuh Glenn.


Glenn berusaha meraih pistol, namun tangan Glenn dihalangi Adrian. Kali ini mereka berebut pistol. Mereka terus bergulat hingga akhirnya Glenn mengambil alih posisi, ia juga berhasil merebut pistol, mengacungkannya ke kepala Adrian. Adrian berhenti meronta, dia tersenyum.


"Silakan," katanya. "Bunuh aku, Glenn. Aku telah mengambil semua orang darimu."


Tangan Glenn gemetaran. Air mata meleleh, "kenapa harus kamu, Dri yang seperti ini? Kenapa harus kamu?"


Adrian tertawa, "bunuh aku, Glenn. Ini kesempatanmu. Atau... aku bisa saja menguliti Leya," katanya tersenyum miring, namun matanya sendu.


"Dri, tolong kembalilah seperti dulu. Tolong..."


"Aku selalu seperti ini sejak dulu, Glenn. Tidak pernah berubah." Adrian menutup matanya, sebutir air matanya jatuh. Ia membuka matanya lagi. "Aku mendengar suara Adela. Dia memanggil namaku," dia tersenyum. Mudah saja bagi Adrian jika ia ingin mengambil alih sekarang, tapi... di saat itu entah kenapa Adrian merasa ia harus berhenti sampai di sini. Dia melihat Adela, Adela yang menangis. Adela di sana, memanggil namanya, memintanya berhenti.


"Hentikan, Ger. Ini saatnya kamu berhenti."


"Del... aku mencintaimu. Bahkan sampai di akhir. Ternyata... aku memang benar mencintaimu." Adrian tersenyum lagi.


Kemudian, bukk...


Dorrr!


Glenn melebarkan matanya, ia menjatuhkan pistol itu ke lantai, kemudian memegangi perutnya. Rupanya... Adrian telah menusukkan sebuah pisau ke perut kirinya dan karena terkejut, secara tak sengaja Gleen menembakkan pistol itu ke kepala Adrian.


Nyawa Adrian hilang seketika.


"Dri... Dri! Aaarggh..." Glenn tersenyum kecil, kemudian tubuhnya terhempas. Tangannya masih memegangi pisau yang menancap di perut kirinya, "kamu ingin kita impas rupanya?" Glenn tertawa menyedihkan, sambil menangis, "kamu bahkan belum bilang kalau kamu memaafkanku, Dri. Kenapa... kita seperti ini?"


Glenn menutup matanya sambil meringis. Ia menangis, teringat lagi akan Adrian. Adrian kecil yang tersenyum padanya dan memeluknya.



"*Aku Adrian."



"Katanya kamu gak bisa ngomong."



Adrian tersenyum, "aku malu. Suaraku seperti ini."



"Tidak apa\-apa. Itu tidak masalah."



"Glenn, apa... kita bisa bersahabat mulai sekarang?"



"Tentu saja!"



"Bersama sampai akhir?"



Glenn mengangguk. "Tapi... kata Bunda, aku berbeda. Apa kamu gak takut?"



"Tidak. Kita sama\-sama berbeda. Kita punya luka yang sama. Kita keluarga." Adrian tersenyum lagi*.


"*Dri... aku... baru aja mimpi buruk. Aku takut..." Glenn kecil memeluk lututnya sendiri di malam itu.


Adrian belum tidur di malam itu, dia menghampiri Glenn, memeluk Glenn layaknya seorang kakak, "tenang, Glenn. Kita bersama di sini. Aku juga sering bermimpi buruk, tapi... itu hanya mimpi, bukan kenyataan. Kakak di sini... tidurlah."


"Bagaimana kalau ketika tidur, aku tidak terbangun lagi?"


"Maka aku akan menyusulmu. Aku akan menemanimu, terus membangunkanmu. Kamu harus percaya, kita selalu bersama-sama Glenn. Kita keluarga dan keluarga akan terus bersama." Adrian tersenyum. "Mau aku bacakan dongeng?"


Glenn mengangguk, "tapi aku gak mau dongeng berakhiran tragis, aku ingin sekali saja mendengar dongeng berakhiran bahagia."


Adrian mengangguk, masih tersenyum, "dahulu kala, hiduplah 3 orang masketeers gagah berani. Mereka selalu bersama. 2 pria dan 1 wanita. Mereka mampu membunuh naga, selalu menang berperang, mereka kebanggaan raja. Suatu hari, penasihat raja ingin anak raja berkuasa, agar ia mudah menggerakkan kerajaan melalui tangan anak raja muda yang mudah dipengaruhi. Ia sering memasukkan racun ke dalam makanan raja hingga akhirnya, raja jatuh sakit keras.


"3 masketeers berusaha menyelidiki apa yang terjadi pada raja. Mereka menemukan bahwa penasihat suka memberikan racun pada raja. Penasihat pun tahu kalau para masketeer mengetahui kejahatan yang berusaha ia sembunyikan. Ia pun pergi ke penyihir, ia tidak mungkin bisa mengalahkan 3 masketeers ini. Kemudian ia meminta bantuan sang penyihir. Sang penyihir tahu bahwa 3 masketeers ini terlalu kuat. Tapi sang penyihir cerdas, ia tahu bagaimana cara mengalahkan ketiga masketeers.


"Penyihir memberikan sebuah botol ramuan, ia berkata lagi, 'ini adalah racun, tapi kau harus memikirkan cara sendiri, bagaimana caranya menghancurkan mereka bertiga. Peraturannya adalah, racun ini hanya bisa diteteskan satu kali di dalam air.' Penyihir tersenyum miring. Sang penasihat tersenyum. Kemudian penyihir berkata lagi, 'tapi, jika kamu salah memberikan racun ini, rahasiamu akan terungkap, meskipun 3 masketeers ini akan mati bersama bila salah satu dari mereka mati.' Sang penasihat tidak terlalu menghiraukan itu. Ia pergi ke kerajaan," lanjut Adrian.


"Penasihat meneteskan racun itu di segelas air. Ia meletakkan di antara 3 masketeers, terserah siapa yang akan meminumnya, salah satu dari mereka tetap akan mati. Ternyata... yang meminumnya masketeer wanita. Kedua masketeer lelaki pun menangis sedih akibat kehilangan. Satu bernama Adrian, satu lagi bernama Glenn."


"Itu nama kita."


"Ya, kita memang masketeers."


"Dri, katamu ini akan berakhiran bahagia."


"Aku belum selesai bercerita, Glenn."


"Baiklah, lanjutkan."


"Kau tahu? Coba tebak apa yang dimaksud penyihir? Siapa yang harusnya diberikan racun?"


Glenn diam sebentar, "menurutku penasihat tidak seharusnya memberikan racun itu. Dia hanya perlu mengakui kesalahannya dan menerima hukuman."

__ADS_1


"Tidak semudah itu. Dia tidak mau dihukum. Tebak dulu, siapa yang seharusnya diberikan racun?"


Glenn berpikir lagi, dia menggeleng.


"Ketiganya."


"Bagaimana caranya?"


"Itu mudah. Tumpahkan racun itu di segelas air, kemudian bagi menjadi 3 bagian. Semuanya akan meminum racun."


"Itu gila."


"Yah, tapi penasihat bodoh itu tidak melakukan hal yang seperti itu. Tersisa dua masketeer. 2 Masketeer itu juga bodoh. Mereka benar-benar merasa kehilangan, mereka seperti keluarga. Jadi kau tahu apa yang selanjutnya mereka lakukan?"


Glenn menggeleng.


"Mereka membongkar rahasia sang penasihat, kemudian bunuh diri bersama, saling menusukkan pedang ke dada."


Glenn terdiam sesaat, "itu bukan akhiran yang bahagia."


"Kamu hanya melihatnya di satu sisi. Lihatlah di sisi lain, itu benar-benar akhiran bahagia walaupun semua orang bilang tragis. Dengan matinya mereka berdua, mereka bisa bebas bertemu masketeer wanita bernama Friska. Mereka bersama di alam lain tanpa harus hidup dengan rasa kehilangan dan rahasia penasihat pun terungkap."


Glenn sedikit setuju dengan ucapan Adrian barusan, tapi tidak sepenuhnya.


"Dongeng Romeo dan Juliet pun seperti itu. Mereka bilang tragis, padahal mereka tak melihat dari sisi lain. Mereka bahagia mati bersama, hidup di alam lain bersama. Sementara, kedua pihak keluarga pub memutuskan untuk berhenti berperang."


Glenn menarik selimutnya, "tapi bukankah mereka yang pergi lebih dulu akan merasa sedih bila yang lainnya ikut mati, tidak melanjutkan hidup?"


"Lama kelamaan, masketeer wanita itu akan mengerti kenapa 2 masketeer temannya memilih melakukan itu." Adrian tersenyum, "itulah keluarga. Harus selalu bersama. Itu pula cinta yang tulus. Kamu bisa tidur lagi sekarang." Adrian membantu menarik selimut itu.


Glenn menutup matanya. Ia tidak pernah tahu bila ia akan merindukan senyuman Adrian. Dia tidak pernah tahu. Bahkan hingga saat ini, ia tidak pernah tahu luka seperti apa yang Adrian alami? Kesendirian yang bagaimana yang selalu berusaha Adrian coba lewati?


Glenn ingin kembali ke saat-saat itu. Bolehkah ia menyesal telah diadopsi orang lain*?




Leya menangis sejadi\-jadinya. Ia gemetar, secara refleks menghentikan langkah kakinya. Tidak, ia benar\-benar harus kembali. Tidak peduli kalau ia harus mati sekarang, ia harus kembali.



Leya menyeret kakinya untuk berputar arah, masih sambil menangis. Pikirannya kalut. Satu hal yang paling ia takutkan, suara tembakan itu... mengarah pada Glenn. Tidak... tidak... tak apa bila sekarang ia bertindak bodoh. Ia hanya harus memastikan. Ia tidak akan pernah merasa menyesal.



Leya terus menyeret kakinya sekuat tenaga. Rasa sakit di kakinya tidak terasa lagi akibat otaknya dipenuhi dengan ketakutan setelah mendengar suara pistol itu.



Leya telah berada di depan ruangan. Ia terdiam beberapa saat. Sial...




"Lo gak ... seharusnya di sini..." Glenn terbatuk mengeluarkan darah.



"Kita harus keluar Glenn..."



Glenn terus menahan pisaunya dengan susah payah agar pisau itu tak bergerak dan malah memperparah keadaan. Perlahan\-lahan, dengan begitu hati\-hati, Leya memapah Glenn. Mereka melangkah pelan\-pelan hingga akhirnya mereka berada di depan pintu gedung. Leya pelan\-pelan membukanya. Terkunci.



"Glenn... gimana ini..." katanya ketakutan, terutama takut terjadi sesuatu bila ia tak cepat membantu Glenn.



"Lo ti\-tinggalin gu\-gue di sini aja, Ya'. Uhuk..." Glenn menoleh menunjuk palu yang ada di sana.



Leya menoleh, "engga... gue gak mau ninggalin lo... lo... masih bisa berdiri?"



Glenn mengangguk, menyandarkan tubuhnya ke dinding sambil berdiri dengan kaki gemetaran, Leya berusaha membuka pintu, memukul gembok beberapa kali. Sedikit lama, karena energinya terasa telah habis. Tapi, Leya mengerahkan seluruh energinya. Akhirnya... gembok ini terbuka.



Leya memapah Glenn lagi. Glenn terus baruk mengelurkan darah, tubuhnya mulai melemah, "sedikit lagi, Glenn... lo harus bertahan... tolong Glenn..."



Glenn diam saja, tapi ia masih sadarkan diri. Mereka sudah berada di ladang dandelion. Masih ada beberapa meter ke depan hingga mereka bisa mencapai pohon itu.



Kaki Glenn mulai tak bisa digerakkan, Gleen hampir tak sadarkan diri. Tubuhnya benar\-benar melemah, "Glenn... *please* sedikit lagi..."



Glenn tersenyum kecil, "Ya'... sampai di sini aja."

__ADS_1



"Gak! Glenn sedikit lagi... tolong kuat Glenn sebentar lagi kita sampai..."



Mereka pun akhirnya sampai di bawah pohon. Ini sudah malam hari, bintang bertabur di langit malam. Sungguh indah. Sesampainya di bawah pohon, Leya membaringkan tubuh Glenn di bawah pohon. Hanya sinar bulan yang menerangi mereka.



Leya berusaha mencari ponsel Glenn. Ia mendapatkannya, cepat\-cepat langsung menyalakan ponsel dan GPS. Ia langsung menelepon Pak Rasyid, "Pak... tolong kirimkan ambulans sekarang! Saya gak tahu sedang berada dimana... tolong cepat lacak kami, Pak."



"Baik Leya. Tunggu di sana!"



Leya kembali menghampiri Glenn, "Glenn... sebentar lagi mereka datang, lo harus bertahan..."



Glenn tersenyum, "langitnya... cerah, Ya'... indah..." kata Glenn terbata\-bata.



Leya menangis, ia tak bisa melihat wajah Glenn. Hanya lampu jalan di sana yang menerangi mereka. Sinarnya pun tak sepenuhnya bisa menerangi mereka.



"Gue... suka bintang." Angin malam bertiup lembut, menerpa bunga\-bunga dandelion, membuat benih\-benihnya beterbangan. "Juga angin malam. Seakan memeluk tiap gue kesunyian..."



"Glenn... *please stay with me*... mereka akan datang sebentar lagi, lo harus bertahan..."



"Gue bahagia ketemu lo, Ya'. Gu\-gue gak pernah menyesal sedikitpun. Maaf, gue gak per\-pernah membuat lo bahagia," bisik Glenn. "Gue gak tahu... kalau mungkin, gue cuma bisa sampai di sini... gue udah lelah dengan semua ini... lelah sama diri gue sendiri... gue mau berhenti."



Air mata Leya pecah, "Glenn *i hate a goodbye*. Lo gak boleh berhenti. Masih ada gue di sini, Glenn... Kalau lo sampai berani ngomong selamat tinggal, gue gak akan pernah maafin lo."



Tangan Glenn terangkat, ia meraba pipi Leya, menghapus air matanya, "gelap, gue gak bisa mandangin wajah lo. Sedikit menyesal, kenapa gue gak lebih lama lagi mandangin wajah lo dulu. Lo selalu cantik di mata gue."



Leya menangis lagi, "Glenn..."



"*I love you, Ya'. Always*. Seperti bunga dandelion, hati gue terbang bebas terbawa angin, tapi ketika dia menemukan tempat menetap, dia akan tumbuh. Dan tempat gue menetap adalah lo." Glenn menutup matanya sebentar, meringis, "*you're my happy ending*. Dulu gue gak percaya akhiran bahagia, bertemu lo, membuat gue percaya kalau lo adalah akhiran bahagia gue." Glenn terbatuk sesaat, tubuhnya semakin lemah, "makasih telah mengajari gue rasanya jatuh cinta. Jangan pernah nyalahin diri lo sendiri."



Leya terus menangis, ia bingung harus berkata seperti apa.



"Seperti udara, lo selalu ada di setiap hela nafas gue. Lo selalu ada di setiap memori bahagia gue. Sebagian besar memori indah gue adalah lo. Gue bodoh, baru menyadari kalau lo seindah itu." Sunyi, hanya terdengar tangisan Leya yang pelan. Malam seakan ikut menyaksikan kisah mereka berdua malam ini.



"Maaf, gue selalu menjadi pengecut di depan lo. Gue... akhirnya tahu, kenapa lo ada di mimpi gue saat itu. Tuhan ingin memberitahu, bahwa lo... adalah akhir hidup gue. Gue bahagia karena lo menjadi akhir hidup gue." Glenn balik menggenggam tangan Leya, mengecupnya, "maaf, karena gak bisa selalu ada di sisi lo. Tapi, cinta gue ke lo akan selalu menemani lo. Berbahagia lah, Leya. *Find someone*. Kalau lo rindu gue, ingat aja gue sesuka lo."



Leya menangis, "Glenn... *please* jangan begini... Glenn tolong... gue gak mau kalau lo harus berakhir seperti ini. Gue juga bahagia bertemu sama lo. Gue gak pernah menyesal ini semua terjadi. Glenn... *please don't leave me*. Rosa dan Kak Dedel ninggalin gue... sekarang lo lagi. Gue gak papa kalau harus lo jahil tiap hari, Glenn... asalkan gue masih bisa ngelihat senyum lo setiap hari... asalkan gue bisa selalu ada di samping lo..."



"Sebelum gue beneran pergi. *I want to tell you something*," bisik Glenn. "*Come here*..."



Leya mendekat, ingin mendengar, "*i love you, sorry for not being yours. But, i'm yours. All my heart is yours. Thankyou for saving me, saving my life*. Hiruplah angin dan udara sambil memikirkan gue, saat lo rindu, karena cinta gue terbang seperti udara yang lo hirup. Gue akan datang, memeluk lo dengan cinta gue. Tolong jangan benci gue. *Goodbye*..." Glenn menutup matanya, tersenyum melihat Ibunya juga menyaksikan dirinya dan Leya.



Kemudian, hening. Glenn tak bersuara lagi, sunyi. Hanya ada Leya di sana bersama suara malam.



"Glenn lo gak bercanda kan?" Air mata Leya meleleh, "lo sekarang lagi *blackout* ya? Siapa yang akan keluar? Marco? Glenn? *Do you hear me*? Hey... Glenn..." Leya menggoyang tubuh Glenn. Ia menangis di dada Glenn, "Glenn... gue harus ke mana lagi, Glenn? *Please*... katanya lo cinta sama gue... tapi gue bahkan belum sempat bikin lo bahagia atau memiliki lo. Glenn ini gak adil!!! Lo jahat Glenn... gue sendirian..."



Angin malam bertiup lagi. Langit malam cerah bertabur bintang. Bulan terang benderang menyinari jalan. Sunyi dipecahkan oleh suara tangis gadis. Tangis paling memilukan yang pernah ada.



Sirine *ambulance* berbunyi bersamaan dengan sirine mobil polisi. Leya tidak peduli. Ia seakan tuli. Yang terus terdengar menggema di telinganya adalah kata\-kata Glenn. Kata\-kata terakhir Glenn sebelum menutup matanya.


__ADS_1


*I'm yours. All my heart is yours*.


__ADS_2