Once Upon a Time

Once Upon a Time
Detektif


__ADS_3

*Dahulu kala, hiduplah 2 orang anak bernama Hansel dan Gretel. Mereka tinggal bersama Ayah dan Ibu tiri. Ibunya sering menyiksa anaknya.


Suatu hari Ibunya meminta Ayahnya meninggalkan Hansel dan Gretel di tengah hutan karena mereka kehabisan makanan. Ayahnya awalnya menolak, namun akhirnya setuju.


Karena kecerdikan Hansel, Hansel dan Gretel dapat kembali ke rumah dengan menyebarkan sebuah batu-batu kecil yang bercahaya ketika disinari bulan pada malam hari. Hansel menyebarkan batu itu dari rumah hingga hutan.


Mengetahui hal itu sang ibu menyimpan semua batu. Hari kedua Hansel dan Gretel dibawa lagi ke hutan. Hansel meninggalkan remahan roti namun ternyata remahan itu dimakan burung sehingga mereka tak bisa pulang.


Di dalam hutan bergema suara lolongan keras. Mereka berdua amat ketakutan. "Kak, aku takut, kita akan mati!" Gretel mulai menangis.


"Jangan khawatir dik, Ibu yang ada di surga pasti menolong kita."


Karena lelah, mereka akhirnya tertidur dengan pulas di bawah pohon. Cahaya matahari pun mulai bersinar dan mengenai wajah mereka. Hansel dan Gretel terbangun dan disambut suara kicauan burung.


Tiba-tiba mereka mencium bau masakan yang lezat. Segera mereka berlari ke arah datangnya bau lezat itu. Seperti mimpi mereka melihat rumah kue, atapnya terbuat dari tart, pintunya dari coklat, dan dindingnya dari biskuit.


Ternyata rumah kue itu adalah milik seorang nenek sihir. Nenek sihir tua yang marah mengurung mereka berdua untuk dimakan.


Hansel yang cerdas mengetahui bahwa sang nenek rabun, maka suatu hari ketika nenek mendekati penjara Hansel untuk melihat apakah tubuh Hansel sudah menjadi gemuk atau belum, Hansel segera mengeluarkan tulang sisa makanan kepada nenek yang rabun lalu nenek memegangnya.


Betapa kecewanya nenek karena sedikitpun Hansel tidak bertambah gemuk. Karena kecewa lalu ia bermaksud untuk memakan Gretel. Kemudian Gretel disuruh membakar roti. Selagi Gretel menyalakan api di tungku, si nenek mencoba mendorongnya ke nyala api.


Untunglah Gretel mengetahui maksud nenek, cepat-cepat ia berbalik pergi ke depan tungku.


"Nek, aku tidak bisa membuka tutup tungku ini."


Nenek sihir tidak sadar kalau ia sedang diperdaya Gretel dan ia membuka tutup tungku. Tanpa membuang kesempatan, Gretel mendorong nenek ke tungku.


"Ahh... tolong.... panas! " teriak nenek kesakitan. Gretel tidak mempedulikan teriakan nenek malah dengan cepat ia menutup pintu tungku, lalu berlari ke arah penjara untuk menolong Hansel.


"Gretel, kau berhasil. Ibu yang di surga telah melindungi kita." Karena bahagia mereka berpelukan.


Ketika akan pergi dari rumah kue tanpa sengaja mereka menemukan banyak harta karun. Setelah itu mereka keluar rumah, tetapi malang jalan itu terpotong oleh sungai besar.


Mereka menjadi bingung. Saat itu entah dari mana datangnya tiba-tiba muncul seekor angsa cantik.


"Ayo, naiklah ke punggungku," ucap angsa itu ramah.


Tanpa mereka ketahui sebenarnya angsa itu adalah Ibu mereka yang ada di surga. Angsa itu kemudian menghilang. Setelah itu muncullah Ayah mereka yang sangat cemas.


"Anak-anakku tersayang, maafkanlah Ayah. Ayah tidak akan meninggalkan kalian lagi."


Lalu Ayah menceritakan kepada mereka bahwa Ibu tiri yang jahat sudah meninggal karena sakit. Akhirnya mereka pun hidup bahagia selamanya.*


"Ya'?"


Leya mengangkat wajahnya yang sedari tadi diam menatap laptop sambil membaca dongeng Hansel dan Gretel. Didepannya duduk seorang laki-laki yang menatapnya bingung karena sedari tadi Leya tak mendengarkan omongannya.


"Iya?"


"Gue bosenin ya?"


Leya memaksa senyumnya, "Enggak kok Kak hehe. Gue lagi ada tugas urgent aja makanya sibuk sendiri. Sorry banget ya Kak?"


Chandra hanya mengangguk kemudian menyesap jus alpukatnya. Leya sama sekali tak menyentuh es teh dan mie ayamnya. Ia masih fokus mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk memecahkan clue. Siapa yang akan menjadi Hansel?


Bagaimana dengan Gretel?


Cafetaria terbilang cukup sepi saat pulang sekolah seperti ini. Hanya ada beberapa yang masih nongkrong di kantin, termasuk Leya dan Chandra.


Di depan pagar terlihat para wartawan yang duduk menunggu kepala sekolah ataupun guru yang mungkin mau memberikan penjelasan akan kejadian kemarin. Namun, saat mereka keluar satu per satu, mereka memilih bungkam--tak ingin memberi penjelasan apapun. Bahkan, siswa juga telah diwanti-wanti kepala sekolah untuk tidak memberikan penjelasan apapun. Itulah sebabnya kenapa mereka diminta berkumpul setelah pulang dari pemakaman Raya.


Kejadian ini jelas akan menghancurkan reputasi dan eksistensi SMA Mentari. SMA Mentari yang merupakan SMA terbaik dengan sejuta prestasi tiba-tiba harus jatuh akibat salah satu siswa terpintarnya terbunuh. Dan pembunuh masih berkeliaran dimana-mana.


Pada awalnya, Leya diajak pergi makan di luar sekolah sambil jalan-jalan. Namun Leya menolak dengan alasan bahwa setelah ini ia akan kerja kelompok dengan Rosa. Padahal, Leya jelas berbohong.


"Ngerjain apasih? Sini gue bantuin," ujar Chandra.


Leya mengalihkan matanya dari laptop ke Chandra. Leya menatap Chandra serius, membuat Chandra sedikit salah tingkah.


"Kak, misalnya nih ada pementasan drama tentang Hansel dan Gretel. Menurut Kakak yang cocok jadi Hansel siapa?" tanya Leya.


Entah kenapa Chandra malah tertawa mendengar itu, "Gue lah hahaha," ucapnya penuh percaya diri.


Leya menaikkan sebelah alisnya.


"Hehehe becanda Ya'. Tapi, dulu gue emang anak teater. Nah gue pernah tuh meranin Hansel. Kata mereka, gue emang cocok jadi Hansel."


Leya melebarkan matanya. Jangan jangan... memang Kak Chandra yang selanjutnya?


Bila dipikir-pikir, Chandra memang pantas memerankan Hansel. Ia cerdas seperti Hansel, kemudian karakternya tenang dan ceria serta optimis. Persis Hansel. Apa Chandra yang selanjutnya?


Ada sebuah kemungkinan bahwa Chandra memang Hansel yang dimaksud pembunuh, namun bisa juga orang lain. Semua ini masih penuh tanda tanya.


"Emang kenapa sih? Tugas lo bikin naskah drama?" tanya Chandra.


Leya menghela nafasnya, kemudian ia mendekatkan wajahnya pada Chandra sambil berbisik-bisik. Leya menceritakan tentang kertas yang ia dapat di toilet dan kertas yang tadi didapatkan oleh Laras.


Beberapa menit kemudian Chandra tertawa. Jelas Chandra tak percaya mengenai surat-surat yang Leya ceritakan.


"Hahaha lo percaya sama omong kosong kayak gitu? Bisa aja anak-anak iseng yang naroh. Terus surat yang lo temuin di toilet bisa aja si Ansel yang naroh kan? Itu cuma buatan anak iseng yang caper." Chandra tertawa terbahak-bahak hingga ia menekan perutnya yang sakit. Sementara Leya tak tertawa sama sekali. Ia justru sebal.


Leya menutup laptopnya kasar dan berdiri dari tempat duduknya berniat ingin melangkah pergi.


"Eh Ya'... lo mau kemana?" tanya Chandra. Chandra ikut berdiri dan memegang lengan Leya agar Leya tak pergi. Namun, Leya menghempaskan tangannya kuat.


"Sorry Ya' gue gak maksud."


Leya tak berkata apapun, ia terus melangkah. Namun, saat itu ia menyadari bahwa ada gadis di seberang sana yang memperhatikannya. Gadis itu berdiri di bawah pohon, rambut panjangnya terurai dan poninya menutupi kening. Bahkan saat Leya terang-terangan menatapnya, gadis itu tetap memperhatikannya. Akhirnya, Leya memutuskan menghampiri gadis itu sambil berusaha berlari meninggalkan Chandra yang menyebalkan.

__ADS_1


Leya berdiri sambil memperhatikan badge nama yang tertempel di dada kanannya. Belvina Sheza Amartya.


"Hai, gue Leya," sapa Leya sambil tersenyum.


Gadis bernama Belvina itu justru menundukkan kepalanya dan berusaha melangkah pergi. Namun Leya menjegatnya.


"Lepas," ujarnya dingin.


"Gue gak boleh ya kenalan sama lo? Lo Kakak kelas? Gue gak pernah liat." Leya seakan tak peduli bila Belvina menatapnya tak suka. Leya malah dengan santainya terus mengajak gadis itu mengobrol.


"Leya!!"


Leya menoleh, dan ini kesempatan Belvina kabur. Maka, setelah Leya kembali mengalihkan pandangannya ke Belvina, gadis itu telah berlari menjauh menuju parkiran. Leya menghela nafasnya kesal.


"Apaan sih? Ganggu aja," katanya sambil cemberut.


"Buku lo ketinggalan nih! Bukannya makasih, malah sebel!" Rosa balas memberengut.


"Buku gue?" Leya meneliti buku yang diberikan oleh Rosa padanya. Sebuah buku dongeng Hansel dan Gretel.


"Bukan punya gue nih..."


"Tapi ada di laci lo, makanya gue bawain."


Ini kan punya Glenn?


"Glenn masih ada gak di kelas?" tanya Leya.


Rosa senyum-senyum menggoda, "Ciee ngapain nih nyariin Glenn? Mau ngajak nge-date?" Rosa menyenggol-nyenggol tangan Leya, membuat Leya tambah sebal.


"Sok tau! Ini bukunya si Glenn. Biar gue yang kasihin."


"Ada kok kayaknya di kelas hahaha. Bilang aja modus Ya' haha." Leya hanya pergi berlalu, meninggalkan Rosa dengan perasaan sebal.


 ~~~


Leya melangkah pelan menuju kelasnya di lantai 2, namun langkah kakinya terhenti ketika ia mendengar perbincangan menarik di dekat tangga.


"Gue yakin itu arwahnya yang masih dendam sama kita!"


Suara yang begitu familiar, Leya semakin mendekatkan telinganya dan berjongkok di tangga. Tepat di samping tangga 2 orang itu mengobrol. Tanpa Leya lihat pun wajah mereka, Leya jelas tahu siapa yang sedang mengobrol itu. Geby dan Alfi.


"Heh Geb. Lo ngomong apa sih hah? Ngasal aja."


"Gue takut Fi. Apa kita keluar aja dari sekolah?"


Arwah? Geby lagi ngomongin omong kosong.


Leya pun perlahan berdiri dari posisinya berjongkok dan melangkah ke atas. Ternyata obrolan itu tak semenarik yang ia pikirkan. Mungkin saja Geby sedang bercerita bahwa ia baru saja melihat hantu.


Ah, hantu penuh dendam. Yang benar saja?


"Cari buku dongeng ya?"


Glenn langsung menoleh ke arah Leya yang sedang memegangi buku dongengnya. Tanpa pikir panjang, Glenn berusaha merebut buku dongeng itu, namun dengan sigap Leya menjauhkannya dari Glemn.


"Balikin," ujar Glenn dingin.


"Enggak." Leya megangi buku dongengnya dengan erat di belakang tubuhnya, "Lo harus jawab dulu siapa yang jadi Hansel!" Leya tahu ini adalah pertanyaan bodoh, pertanyaan yang ia lontarkan pada seseorang yang bahkan ia curigai sebagai dalang dibalik pembunuhan Raya. Bodoh memang, tapi tak ada salahnya mencoba peruntungan.


"Gak tahu," ujar Glenn singkat.


"Lo pasti tau. Tapi lo gak mau kasih tau gue kan?"


Glenn menghembuskan nafasnya lelah, kemudian ia melangkah mendekati Leya. Leya mundur, entah kenapa dirinya jadi gemetar. Namun, Glenn terus maju mendekati Leya. Leya mundur hingga punggungnya menghantup dinding depan kelas di samping papan tulis. Glenn menatapnya tajam. Wajah mereka hanya terpaut beberapa senti, bahkan hembusan nafas Glenn yang hangat, bisa terdengar dan terasa oleh Leya.


"Gue udah peringatkan lo untuk jangan masuk ke dunia dongeng." Glenn menaikkan dagu Leya yang tertunduk dengan jari telunjuknya, "Kalau lo mau nyesal seumur hidup, gue kasih lo clue selanjutnya. Tapi, lo harus tahu, lo udah memasuki dunia gelap dongeng lebih dalam."


Leya menatap kedua bola mata coklat pekat yang nampak seperti warna hitam itu. Jantungnya berdegub kencang, ia tak pernah merasa sedekat ini dengan pria. Ini yang pertama kalinya.


Leya mendorong tubuh Glenn sekuat tenaga.


"Maksud lo tuh apa? Ini pengakuan kalau lo salah satu dalang pembunuhan Kak Raya?" Leya menyipitkan matanya seakan meneliti setiap ekspresi wajah yang dikeluarkan oleh Glenn, namun Glenn hanya mengeluarkan ekspresi wajah datar.


Glenn berdecak, "Lo gak sepintar yang gue bayangin." Ia kemudian duduk di atas meja, "Lo gak akan bisa mengungkap pelakunya kalau lo berpikiran gegabah. Udah sini balikin buku gue."


Glenn mengulurkan tangannya, namun Leya tetap berdiri di depannya dengan jarak 2 meter. Ia tak bergerak sama sekali.


"Lo ada bilang clue, sekarang kasih tau gue clue-nya, baru gue balikin."


"Kalau lo tahu clue yang ini, gak ada jalan buat kembali. Lo harus terus lanjut dan berjalan sama gue buat cari pelakunya."


Ngapain dia cari pelaku kalau sebenarnya dia pelakunya? Tapi, kalau gue deketin dia, kemungkinan gue bisa cari bukti kalau dia emang dalang dari semua ini walaupun dia gak ikut turun tangan.


"Oke."


Glenn terkejut sesaat, "Gue bilang gak ada jalan kembali."


"Iya gue tahu."


"Ini berbahaya."


"Gue tahu."


"Lo gak cukup pintar buat jadi partner gue."


"Partner? Siapa yang mau jadi partner lo? Kayak gak ada detektif aja."


Leya melipat kedua tangannya di depan dada. Kemudian ia membuang muka. Buku dongeng itu masih ia pegang dengan tangan terlipat.

__ADS_1


"Gak akan ada."


"Kok gitu?"


Glenn menghela napasnya kencang, "Kalau lo gak mau jadi partner gue, gue gak akan kasih clue."


Leya mendengus. Partner apaansih? Dia pikir dia detektif?


"Oke. Gue nyerah." Leya akhirnya menyerah juga, "Tapi lo harus kasih tau gue, kenapa lo nyimpan clue-nya? Lo dapat darimana? Dan kenapa gak lo kasih ke polisi."


"Itu pertanyaan yang sama yang mau gue tanyakan ke lo."


DEG! Apa dia tahu kalau gue juga nyimpan clue?


"Gimana kalau kita tukaran clue?" Glenn tersenyum miring.


Dari mana dia tahu...


"Ma-maksud lo apasih? Gue gak ngerti."


"Lily Cattleya Gardenia, apa yang lo lakuin di toilet kemarin? Lo bolos gak ikut baris."


"Hah? Gu-gue..."


Ini pertama kalinya dalam hidup Leya berbicara gagap di depan seorang laki-laki. Ia bahkan dengan bodohnya tak menyadari bahwa ia berpapasan dengan Glenn. Tunggu dulu, arah perpustakaan adalah searah dengan langkah kaki Leya, lalu kenapa Glenn malah melangkah berlawanan dengannya?


"Dan lo... lo bilang kalau lo ke perpus, tapi kenapa lo melangkah berlawanan?" Leya balik bertanya.


Glenn tersenyum kecil, "Akhirnya lo sadar juga. Tapi udah telat. Gue gak suka partner yang mikirnya gak secepat gue dalam berpikir."


Leya memutar kedua bola matanya. Bukannya Glenn menjawab, ia malah mengeluarkan sebuah pernyataan yang membuatnya terlihat sombong di mata Leya.


"Lo harus dipancing dulu ya baru kepikiran?"


"Lo gak jawab pertanyaan gue," tandas Leya


"Lo juga gak jawab pertanyaan gue," ujar Glenn.


Leya mendengus.


"Oke oke gue ngaku. Gue penasaran, akhirnya gue diam-diam meriksa toilet. Gue waktu itu berpikir mungkin aja si pembunuh ngebuang sarung tangannya di tong sampah. Ternyata yang gue temuin itu sebuah clue yang mengarah pada pembunuhan Kak Raya." Leya berkata dengan sekali tarikan nafas dan begitu cepat. Tapi, Glenn terlihat santai saja menanggapinya.


"Giliran lo." Leya menatap lurus kedua bola mata Glenn.


"Lo nanya yang mana? Tentang clue baru atau kenapa gue jalan berlawanan arah dari perpus?"


"Dua-duanya."


"Gue jawab pertanyaan kedua dulu. Gue punya niatan yang sama kayak lo, makanya gue bukannya ke perpus tapi ke toilet. Dan ternyata gue keduluan sama lo. Pertanyaan pertama gue jawab kalau lo kasih buku dongeng gue." Glenn kembali mengulurkan tangannya kemudian memberikan aba-aba agar Leya memberikan buku dongeng itu. Dan akhirnya, Leya pun memberikan buku dongengnya.


Glenn membuka cepat buku dongengnya, kemudian terlihat secarik kertas dengan tinta berwarna merah yang saat ini berada di tangan Glenn. Rupanya clue itu ia selipkan di buku dongengnya. Leya sedikit menyesal tak menyadarinya. Andaikan ia menyadari, mungkin ia sudah membaca clue itu terlebih dahulu. Menyebalkan.


Glenn memberikan kertas itu pada Leya. Leya membacanya dengan seksama.


Hansel berkhianat pada Gretel! Ia meninggalkan Gretel di hutan sendirian hingga Gretel dimakan hewan buas. Hansel pulang sendiri dan menemui Ayahnya sambil berkata bahwa Gretel sudah mati dimakan nenek sihir.


-Grimm


"Ini... bukan dongengnya..." ujar Leya terbata-bata.


"Sang pembunuh ingin membuat dongengnya sendiri." Gleen kembali merebut kertas itu dari genggaman tangan Leya.


"Apa pembunuhnya perempuan?"


"Gue suka cara berpikir lo, Leya." Glenn tersenyum, membuat Leya salah tingkah.


"Sekarang, kasih gue clue yang lo dapat."


Leya mengangguk dan memberikan kertas yang kemarin ia dapatkan di toilet--yang ia ambil dari saku roknya. Glenn membacanya dengan wajah datar. Namun, alisnya sedikit terangkat. Terlihat wajah Glenn yang tengah berpikir keras.


"Menurut lo gimana Glenn?" Leya sudah berdiri di samping Glenn sambil menatap kertas yang sama.


"Perempuan, kalau menurut gue. Dari clue yang dikasih ke Raya sama si Hansel, semuanya mengarah pada perempuan. Gardenia putih melambangkan cinta rahasia. Sudah jelas ini cewek yang ngasih. Ditambah lagi sama clue kedua soal Gretel. Tapi ini masih dugaan, kita gak bisa langsung narik kesimpulan."


Leya mengangguk-ngangguk. Ternyata dirinya sepemikiran dengan Glenn.


"Terus apa hubungannya Gardenia putih sama serigala? Gue masih bingung sampai sekarang."


"Ini dongeng yang dibuat pembunuh sendiri. Berarti kita harus mencoba sepemikiran dengan si pembunuh. Berpikiran out of the box."


"Kayaknya buat clue pertama, entaran dulu deh Glenn. Lebih baik fokus ke pemecahan clue kedua. Nyari siapa yang jadi Hansel, karena Hansel masih hidup."


Glenn tersenyum kembali kemudian ia menoleh ke arah kiri tubuhnya, tempat Leya berada, "Awalnya gue ragu ngajakin lo jadi partner. Ternyata, lo bisa diandalin juga."


Leya terkesiap, terlebih lagi ketika matanya lagi-lagi bertemu dengan mata Glenn. Ia membuang muka dan berdeham canggung, kemudian ia menjauhkan tubuhnya dari Gleenn.


"Terus kenapa lo gak ngasih clue-nya Glenn? Kalau gue sih karena gue takut mau ngasih. Lo takut juga?"


Glenn menggeleng.


"Bukan. Karena yang ngasih clue ini ke gue itu polisi."


"Hah?" Leya tahu, ada yang salah dengan pendengarannya. Ia harus pergi ke THT setelah ini.


"Lo mau gue kasih tahu rahasia?" Glenn mendekatkan bibirnya ke telinga Leya, kemudian perlahan berbisik, "Gue detektif."


Apa?!


 ~~~

__ADS_1


__ADS_2