Once Upon a Time

Once Upon a Time
Friska


__ADS_3

*18 Desember


"Selamat ulang tahun, sayang!" Ucap Ibu dan Ayah Leya bersamaan. Leya tersenyum lebar ketika melihat satu buah kotak kado berwarna biru berukuran sedang dan kue tart menggemaskan bernuansa biru. Leya memeluk kedua orang tuanya, tak lupa ia memeluk kakaknya juga, Dandelion.


"Dibuka dong kadonya," kata Ibu. Leya membuka kotak kado, isinya adalah boneka teddy bear coklat serta buku ensiklopedia tubuh manusia, sesuai permintaan Leya, yah walaupun Leya tidak meminta boneka teddy bear.


"Suka gak?" Tanya Ayahnya ragu ketika melihat ekspresi Leya yang justru sedikit terkejut melihat boneka teddy bear.


"Ehm... bukunya suka, tapi teddy bearnya..." Leya menoleh ke arah Dandelion, "teddy bearnya buat kak Dedel aja. Leya kan gak suka boneka," kata Leya cengar-cengir sembari memberikan boneka teddy bear-nya.


Dandelion sedikit terkejut, tapi ia menerima saja boneka itu.


"Maaf ya... Ibu pikir Leya pingin teddy bear kemarin."


"Enggak papa Bu. Kan udah ada buku, makasih ya Bu." Leya memeluk Ibunya lagi.


"Sebagai gantinya, gimana kalau kita ke mall? Leya boleh milih apapun yang Leya suka. Kan harusnya hari ini Leya dapat 2 kado dari Ibu sama Ayah."


"Beneran Bu?!"


Ibunya tersenyum lebar, "iya!"


"Kak Dedel ikut kan, Bu?"


"Jelas donggg..." jawab Ibunya yang menarik Dedel ke pelukannya, ia memeluk erat kedua putri cantiknya. "Udah, sekarang kalian berdua ganti baju yaaa. Kita berangkat okee..."


Dandelion dan Leya telah selesai bersiap-siap. Mereka menunggu Ibu dan Ayah di taman belakang rumah sambil berbaring di atas rumput hijau. "Leya, aku mau ngasih sesuatu. Waktu itu aku janji ngasih kado yang bentuknya kelereng kan?" Dandelion duduk bersila, wajah Leya langsung sumringah, ia bangkit dan ikut duduk.


"Mana kak?"


"Tutup dulu dong matanya."


Leya menutup matanya, masih terus tersenyum.


"Tadaaa! Leya, ini kado untuk Leya. Kalung yang ada bunga Dandelionnya. Cuma ada 5 benih dandelion. Kalau Leya punya permintaan yang pengen banget dikabulin, tiup aja ya. Tapi cuma 5 permintaan." Itu Dandelion, tersenyum manis sambil mengalungkan kalung berbandul kaca berisi 5 benih dandelion. "Kalau kamu punya permohonan, buka aja tutupnya, ambil satu dandelionnya terus ditiup sampai terbang. Permohonanmu bisa terkabul! Kata Ibu benih dandelion membawa terbang permohonan orang ke langit!"


"Wahhhh cantik! Makasih Kak Dedel!" Leya kemudian membuka tutup kayu dan perlahan-lahan berusaha mengeluarkan 1 benih dandelion dengan jari kelingking mungilnya. Ia memberikan 1 benih pada Dandelion, "ini buat Kak Dedel. Leya masih punya 4."


"Wah... makasih Leya!" Dandelion mengambil benih itu, kemudian menutup mata sambil mengucap permohonan di dalam hati, lalu meniupkannya ke udara.


"Kak Dedel minta apa?"


Dandelion menggeleng dan tersenyum jahil, "rahasia!" Katanya menjulurkan lidah.


"Kak Dedel ihhhhh!!!"


Dandelion berlari, kemudian Leya mengejarnya dari belakang. Ketika mereka mulai kelelahan, mereka merebahkan tubuh di rumput hijau yang halus sambil menatap langit.


"Kak Dedel percaya gak kalau permohonan Kak Dedel akan terkabul?"


"Tentu saja! Benih dandelion akan terbang menuju Tuhan, membisikkan permohonanku pada-Nya." Dandelion membalik tubuhnya ke arah samping menghadap Leya, "kamu mau tahu permohonanku?"


"Apa?"


"Aku ingin..." Dandelion tersenyum jahil, sengaja memperlambat ucapannya.


"Kak cepetannn... aku penasaran nih, apa sih permintaan kakak?" Leya menyampingkan tubuhnya menghadap Dandelion.


"Ngeliat kamu senyum dan bahagia, walaupun suatu saat nanti kita gak sama-sama. Saat aku berada di atas sana, dan Tuhan menjemputku lebih dulu, aku ingin melihat kamu tetap tersenyum." Dandelion tersenyum polos. Hari itu juga Leya menyadari satu hal, bahwa kakaknya teramat mencintainya.


"Aku suka bunga dandelion," kata Dandelion tiba-tiba.


"Karena nama Kakak dandelion?"


"Bukan, karena kata Ibu walaupun dia terlihat sederhana dan rapuh, dia bisa membuat orang bahagia melihat benihnya pergi bersama angin. Sederhana tapi indah bukan?"


Leya mengangguk. Ia mengambil 1 benih dandelion, menutup matanya, mengucap permohonan di dalam hati, kemudian meniup benih itu ke udara. Benih dandelion beterbangan dengan indah.


"Leya minta apa?"


"Leya ingin terus sama-sama kakak. Leya gak bisa ngebayangin kalau kakak gak ada. Pasti Leya bakal sedih dan kesepian banget. Leya gak mau."


Dandelion menyampingkan tubuhnya hingga ia dan Leya saling berhadapan. Ia tersenyum, "tapi kakak memang selalu ngeliatin Leya kok. Kamu harusnya bahagia kalau kakak dipanggil ke atas duluan. Artinya, Tuhan sayang. Soalnya, kalau Leya duluan ke atas, kakak juga akan berusaha bahagia. Artinya Tuhan sayang Leya."

__ADS_1


"Siapa yang akan ke atas duluan, kak?"


"Enggak tahu. Kakak harap, Kakak duluan."


"Kenapa?"


"Supaya, kakak bisa nyiapin tempat indah duluan untuk Leya." Kakaknya mengusap kepala Leya sambil tersenyum, "kalau kakak yang duluan ke atas, Leya gak boleh sedih, harus bahagia, harus ngelupain gimana kakak dipanggil Tuhan ke atas. Karena, kalau Leya ingat terus, nanti Leya sedih. Janji ya?"


Leya menggeleng, "gak mau lupain kakak."


"Harus janji. Supaya Leya gak sedih. Kan kakak masih ingat Leya, nanti kalau kita ketemu di atas lagi, Leya bakal ingat kakak lagi."


"Tapi kak..."


"Harus janji pokoknya." Dandelion mengacungkan jari kelingkingnya, ia menarik jari kelingking Leya agar bertautan dengan jari kelingkingnya, "soalnya kalau Leya sedih, kakak juga ikut sedih nanti. Leya mau kakak sedih?"


"Engga... iya deh Leya janji."


"Sayang, ayo kita berangkat." Mereka menoleh ke sumber suara, ada Ibunya berdiri di samping mereka. Mereka berdua mengangguk dan segera berangkat*.



"*KEBAKARAN!!" Banyak orang berlari keluar ketika api ikut menyambar toko buku. Leya terpisah dari Ibu dan Dandelion akibat terlalu asyik melihat buku. Ayah langsung menggendong Leya.



"Yah! Ibu sama Kak Dedel!!" Ayah tak mendengarkan, ia tetap berusaha membawa Leya keluar dari toko buku. Saat mereka keluar dari toko buku, Ayah berusaha masuk kembali, ada Ibu di sana berusaha keluar, namun tiba\-tiba plafon terjatuh, menghalangi langkahnya. Dari sini, Leya bisa melihat ibunya yang terperangkap. Kemudian, dalam sekejap api melahap habis tubuh Ibunya hidup\-hidup. Ia berteriak kepanasan. Leya melihat semuanya dengan mata kepala sendiri. Ia syok. Ayah berteriak frustasi, tapi kemudian ia sadar bahwa ia harus membawa pergi Leya dari sini. Akhirnya, dengan air mata yang membanjiri wajahnya, ia menggendong Leya, membawanya keluar dari mall.



Leya masih syok. Ia tak bicara apapun. Kemudian, di sana ada sesosok anak kecil yang kebingungan di tengah\-tengah kerumunan orang. Ia melihat Leya, Leya juga melihatnya. Leya terkejut, tapi ia tak bisa berkata\-kata. Lama kelamaan sosok anak kecil itu hilang ditelan kerumunan orang yang juga berusaha keluar dari mall.



Itu Dandelion. Dan itu, terakhir kalinya Leya melihat Dandelion.



Leya ingat janjinya pada Dandelion. Harus melupakan bagaimana Dandelion dipanggil Tuhan. Itu artinya, ia melupakan semua tentang Dandelion. Justru yang ia ingat hanyalah... bagaimana Tuhan memanggil Ibunya*.


Painted wings,


Things i almost remember.


And a song, someone sings,


Once upon a December.


Suara lembut perempuan bernyanyi itu membangunkan Leya. Leya membuka matanya perlahan. Ia sedang duduk di tempat luas. Sepertinya ia berada di sebuah gedung tak terpakai. Tangan dan kakinya terikat, mulutnya tertutup lakban. Di depannya ada seorang gadis yang juga sedang duduk. Ia menundukkan kepala dan wajahnya tertutup topi dan slayer. Gadis itu mengenakan pakaian serba hitam.


Leya menangis. Sedih setelah bermimpi tentang bagaimana Ibunya mati dan bagaimana ia meninggalkan Dandelion, juga menangis karena takut. Ia jelas sudah kehilangan semangat hidup. Grimm pasti akan merenggut nyawanya hari ini juga. Leya sudah memikirkan kemungkinan terburuk.


"Kamu sudah bangun Putri Alice?" Gadis yang tadi duduk di depan Leya dan bernyanyi itu membuka topi serta slayer yang menutupi mulutnya. Rambut panjangnya yang digelung di dalam topi langsung tergerai indah. Leya tak terkejut lagi melihat wajahnya. Itu Rena, bukan Dandelion. Perasaan lega sedikit menguasai Leya. Lega, karena mengentahui kakaknya bukanlah pembunuh seperti yang pernah ia takutkan dan ia duga.


Leya diam, menatap kosong Rena. Ia sejak awal sulit percaya dengannya. Rupanya insting Leya benar. Rena hanyalah kepalsuan. Tapi bagaimana caranya ia tahu tentang Dandelion? Dan lagu itu...


"Grimm akan datang, kamu akan menemui dia. Kamu sudah menjadi miliknya sekarang." Rena mendekat dan membelai rambut Leya, "tenang saja. Ia akan menceritakan sebuah kisah padamu. Kisah yang sangat ingin kamu dengar. Tentu saja tentang Dandelion dan lelaki kesayanganmu, Glenn," Rena melihat jam tangannya, "dan ia tak pernah meleset dalam memperkirakan sesuatu. Kita tunggu saja." Rena bangkit dari tempatnya duduk, "aku harus keluar dan menjemputnya. Kamu akan terkejut melihat Grimm nanti," ia tersenyum simpul.


"Tunggu di sini sebentar ya, jangan coba-coba memikirkan cara kabur sedikit pun. Sekalipun kamu bisa kabur dari sini, saat di luar, kamu tidak akan bisa kabur dari Grimm." Rena tersenyum lagi kemudian melangkah meninggalkan Leya.


Leya mengepalkan tangan di belakang tubuhnya kuat-kuat. Tidak peduli bila di luar nanti ia harus bertemu dengan Grimm, setidaknya ia harus bisa keluar dari sini. Tapi bagaimana caranya? Leya benar-benar dalam keadaan tangan kosong. Kemudian, ia berada di tengah-tengah ruangan besar. Ikatan di tangannya sangat kencang. Apa yang harus dia lakukan?


Sial... Leya menunduk sambil menangis. Ia tak boleh mebyerah sekalipun harapan hidupnya hanya tersisa 0,5%. Tidak boleh. Ia memikirkan rencana agar ia bisa kabur dari sini, sayang otaknya terlalu buntu.


Sial.


Kemudian, satu nama terlintas di benaknya.


*Glenn... gue harap lo bisa ke sini... katanya di dalam hati.


*~~~


"Tempat ini akan menjadi wonderland kita!"

__ADS_1


Glenn menatap sebuah gedung kosong di dekat ladang bunga Dandelion. Paling tidak, setiap seminggu sekali, Glenn, Friska, dan Adrian akan pergi ke sini untuk bermain bersama. Ibu yang mengenalkan tempat ini pada mereka. Di bawah pohon besar itu, mereka sering piknik. Kemudian, Adrian akan mengajak Glenn bermain di gedung tak terpakai ini. Imajinasi mereka liar saat itu. Tempat seseram ini di mata mereka seperti tempat bermain impian. Mereka sering membayangkan berada di taman bermain indah seperti di dunia dongeng.


Ponsel Glenn bergetar, sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.


Tunggu sebentar, aku akan menjemputmu.


Glenn menaikkan sebelah alisnya ketika tiba-tiba...


BUKKK!!!


Sebuah benda keras menghantam kepala Glenn dari belakang. Seketika semua jadi gelap. Glenn kehilangan kesadaran.



Leya terbangun kembali ketika terdengar suara pintu yang terbuka. Pintu itu dihempas hingga suaranya bergema. Rena menyeret seorang gadis yang tak sadarkan diri. Ia menarik sebuah kursi kosong, mendudukkan gadis itu di kursi, mengikat tangan dan kakinya, kemudian menutup mulut gadis itu dengan lakban.



Leya melebarkan matanya. Itu... Rosa...



Rena menatap Leya, "ah bukan. Dia bukan Grimm." Rena sibuk dengan kegiatannya 'merapikan' posisi duduk Rosa, "temen kamu ini mulai macam\-macam. Dia buntutin Glenn. Ini bukan urusannya."



Glenn? Di mana Glenn? Tapi... ya Tuhan... kenapa Rosa jadi terlibat. Leya mulai ketakutan bila Rosa mungkin saja dalam keadaan berbahaya. Ini tidak boleh terjadi.



"Grimm tidak suka membunuh orang yang berada di luar satu tokoh dalam dongengnya. Tapi, aku bukan Grimm. Dan aku bisa membunuh siapa saja yang menghalangi jalan Grimm. Aku tidak suka urusan kami dirusak," kata Rena menjelaskan, "lagi pula, kupikir akan lebih dramatis kalau aku membunuh temanmu perlahan di depan matamu sebelum kamu mati. Pasti akan menyakitkan buat kamu. Seperti Belvina waktu itu. Kurasa akan menyenangkan."



Dia tertawa puas. Leya menangis, menggelengkan kepalanya, menatap Rena dengan tatapan memohon.



*Kumohon jangan libatkan Rosa. Dia gak tahu apa\-apa. Glenn... lo dimana Glenn... tolong... seseorang tolong kami*...



Rena mendekati Leya, memegangi rahang Leya, "kamu tahu kesalahan kamu? Kamu pikir, bertemunya Glenn dan kamu itu itu takdir? Secara gak disengaja? Hahaha bego... semua udah direncanakan Grimm."



Leya menangis. Kenapa? Apa maksudnya? Leya tidak mengerti...



"Biar Grimm yang cerita. Gue gak mau cerita apapun. Dan Leya, bersabarlah. Lo akan lihat Grimm sebentar lagi." Rena kembali melihat pergelangan tangannya. "*Just a minute*."



Pintu ruangan kembali terbuka. Seorang laki\-laki bertubuh tegap mengenakan baju kaos putih polos dan jaket hitam serta *jeans* hitam, masuk ke dalam ruangan. Ia mengenakan topi hitam, menunduk. Kemudian saat ia melangkah mendekati Leya, ia membuka topinya dan tersenyum pada Leya.



"Hai Lily. Kita bertemu lagi," katanya. Itu... Glenn... bersuara perempuan? Tidak... ada yang salah... ini tidak mungkin...



*Je\-Jeo? Enggak... gak mungkin... gak*...



Glenn terbangun dalam keadaan duduk di sebuah ruangan kosong dengan jendela besar berjeruji di samping kiri ruangan. Ia memijat kepalanya kemudian memandang ke depan. Ada sebuah cermin sangat besar, refleksi dirinya. Saat ini Glenn mengenakan baju kaos putih polos dan jaket hitam serta jeans hitam. Tapi ada yang aneh... bayangan dirinya sama sekali tak bergerak seperti gerakannya sekarang. Ia berdiri, melangkah maju. Bayangan itu juga berdiri melangkah maju. Bingung. Ia mendekati cermin itu, menyentuhnya sebentar namun bayangan dirinya tak ikut menyentuh cermin. Glenn kemudian memandang ke arah refleksi dirinya di depan cermin.


"Hai, Glenn. It's me," ujar bayangan di dalam cermin. Suaranya... suara perempuan.


"Siapa lo?" Kata Glenn bingung.


"Jeo. Oh... gak perlu nama samaran. Aku Friska." Dia tersenyum dingin di dalam cermin. "Aku di dalam kamu."

__ADS_1


Glenn melebarkan matanya, mundur beberapa langkah ketakutan. Apa... ia berada di bawah alam sadarnya? Dan... astaga...



__ADS_2