
Kali ini, mari bermain find me! *Aku sedang bermain bersama Putri Ariel. Dia cantik dan menyenangkan. Kita lihat seberapa kuat dirinya? Kami sedang berada di sebuah kerajaan tempat Apollo dan Hades berkumpul. Dari sini Putri Ariel bisa melihat kediaman Raja Triton. Ada Delphin yang diperintahkan Poseidon untuk terbang bersama lumba-lumba di atas kami. Itu sangat indah! Kami bisa melihat semuanya dari kerajaan ini. Aku tunggu 30 menit lagi!
-Grimm*
Glenn diam sebentar setelah membaca pesan itu. Leya ikut memperhatikan. "Aduh... gila kok otak gue gak nyampe ya?" Kata Leya mengacak rambutnya kesal, "Mana ngerti gue soal dewa-dewa begini." Ia sedikit menyesal karena tak banyak membaca buku yang membahas dewa-dewi Yunani atau Romawi seperti ini. Sepertinya kali ini ia tak banyak membantu. Leya menghempaskan tubuhnya pasrah di atas kasur.
"Hmm... dewa Apollo itu dewa musik, matahari, ramalan, panahan, penyembuhan. Dewa Hades itu dewa kematian, penguasa dunia bawah." Glenn duduk bersila dilantai sambil melipat tangannya, berusaha berpikir dengan kepala dingin. "Kediaman Raja Triton itu di bawah laut. Raja Triton adalah anak dari Poseidon. Delfin itu pemimpin lumba-lumba."
Leya duduk kembali, "rumah sakit?" Tanya Leya menerka-nerka.
"Nice guessing, Ya'." Glenn tersenyum lebar, "but... gue pikir bukan cuma rumah sakit biasa. Rumah sakit yang dekat dengan laut, maybe. Tapi... hmm..."
"Rumah sakit itu tempat penyembuhan sekaligus kematian. Mungkin maksud Grimm itu. Tapi... kalau menurut gue sih gak harus dekat dengan laut. Bisa jadi, rumah sakit yang ketika kita berada di atapnya, kita bisa ngeliat laut."
"Bagus. Analisa kamu makin oke." Glenn diam sebentar, "tinggal Delfin... ehm... wait a minute. Did you ever hear about Delphinus Constellation? Rasi bintang Delphinus atau lumba-lumba?"
Leya nyengir, "Kagak hehehe..."
Glenn langsung mengambil laptopnya, membukanya, dan mencari informasi maupun sejarah tentang rasi bintang Delphinus. "Ya', baca ini..."
Delphin adalah pemimpin para lumba-lumba yang bersahabat dengan calon ratu laut, Amphitrite. Poseidon meminta bantuannya saat akan melamar Amphitrite dan berkat bujukannya, Amphitrite bersedia menjadi ratu Poseidon. Delphin kemudian menjadi tangan kanan Poseidon. Setelah mati, Delphin diubah oleh Poseidon menjadi rasi bintang Delphinus.
"Paham gak?" Tanya Glenn pada Leya.
"Hmm... atap rumah sakit? Gue pikir lebih masuk akal," jawab Leya.
"Tempat di mana bisa ngeliat laut dan bintang. Tempat di mana ada penyembuhan juga kematian." Gleen tersenyum kemenangan, "great job Ya'. Thanks to you!" Glenn segera menarik ponselnya dan menelepon Pak Rasyid. Ia juga menarik kunci motornya yang ia letakkan di atas nakas.
"Wait! Gue ikut!" Leya langsung berdiri dari kasur, menarik lengan Glenn hingga Glenn berhenti melangkah.
"Enggak. Gak boleh."
"Glenn ishhh."
"No."
"Yes!"
Glenn langsung saja pergi setelah perlahan melepaskan tangan Leya dari lengannya, "Ya', gue gak mau lo kenapa-napa. Dan ada Ayah lo di sini."
Leya menggeleng, ia tetap bersikeras ingin ikut, "Glenn. Please. Gue udah berusaha bantuin lo buat mecahin teka-teki ini. Please! Gue harus ikut!" Leya menarik kembali lengan Glenn, kali ini cengkramannya lebih kuat. Glenn berusaha melepaskannya.
"Ya', jangan bikin gue berada di posisi sulit. Gue gak punya banyak waktu nih." Sekuat apapun Glenn berusaha melepaskan cengkraman tangan Leya, gadis itu juga semakin kuat mencengkram lengan Glenn. Glenn tak bisa lebih kasar lagi pada Leya.
"Gak. Pokoknya gue ikut!"
Glenn menghela napasnya. Otaknya bergerak cepat memikirkan cara lain untuk bisa membuat Leya menyerah karena Glenn tahu, Leya bukan tipe gadis yang akan menyerah begitu saja. Satu ide gila terlintas, tapi Glenn bahkan tak sadar sempat memikirkan bahkan sampai melakukan ide gila itu. Glenn menarik tangan Leya yang bebas hingga tubuh Leya mendekati Glenn dan... detik berikutnya, tanpa Leya bahkan Glenn sadari, bibir Gleen telah mendarat ke kening Leya selama beberapa detik, sangat singkat, "don't make me do such a dumb things. Don't make me do rough things to you. Don't make me a bad guy or jerk. I do care for you, Lily Cattleya Gardenia."
Leya mematung di tempat. Terkesiap selama beberapa saat, bahkan ia tak berkedip sedikitpun seperti patung. Otaknya berusaha mencerna semua ini, apa yang baru saja Glenn lakukan padanya. Ia seperti lumpuh, tangannya melemah hingga Glenn mampu melepaskan tangan Leya dari lengannya, kemudian langsung pergi tanpa mengucap apapun.
Leya masih mematung di tempat.
Sebentar, apa yang barusan Glenn lakukan padanya?
~~~
"Halo, Pak Rasyid. Jadi, dimana rumah sakitnya?" Kata Glenn setelah keluar dari rumahnya. Ia melirik jam tangannya. Ia punya waktu 25 menit lagi. Ah sial, semoga jaraknya tidak begitu jauh dari sini.
"Halo Glenn. Kebetulan hanya ada satu rumah sakit dengan ciri-ciri seperti yang kamu katakan sebelumnya. Rumah sakit Cipta Nugraha."
"Baik Pak. Saya segera ke sana."
"Glenn. Jangan bergerak sendiri. Kami juga akan kes-"
Klik. Glenn mematikan teleponnya. Tidak ada waktu. Ia harus bergerak cepat. Jarak dari rumahnya menuju Rumah Sakit Cipta Nugraha akan memakan waktu kira-kira 10 menit. Ia harus bisa mencapai rumah sakit itu dalam waktu 5 menit, sehingga ia masih punya waktu 20 menit untuk mencapai atap rumah sakit. Waktu yang sekiranya cukup, bila terjadi sesuatu dan tiba-tiba ia harus melewati tangga darurat. Kemungkinan terburuk.
Glenn memacu motornya dengan kecepatan yang luar biasa. Tidak ada pikiran lagi mengenai nyawanya yang mungkin saja melayang bila ia tak berhati-hati dalam berkendara. Tidak. Di otaknya saat ini adalah menyelamatkan Belvina dan bertemu dengan Grimm.
Itu saja.
"Bel, Ayah di rumah sakit, tolong ke sini. " Terdengar suara wanita paruh baya di ujung sana dengan sesenggukannya. Aku diam membeku menatap buku di depanku tanpa benar-benar tahu apa yang aku baca. Tidak, aku tidak benar-benar tahu apa itu.
"Bel, tolong. Ayahmu butuh kamu."
Aku masih diam. Kali ini malah tersenyum miring, "enggak, Bu. Belvina cukup bersyukur dia saat ini sekarat. Dan Belvina sama sekali gak punya niatan untuk melihat dia."
"Belvina!"
Klik. Aku mematikan telepon secara sepihak. Sebutir air mataku jatuh perlahan, tapi aku tersenyum. Entahlah, sebagian diriku bahagia, tapi sebagiannya lagi terluka.
Bahagia, karena akhirnya penghancur hidupku telah pergi. Terluka, karena kenapa harus ia yang menjadi lelaki paling brengsek dalam hidupku. Iya, dia berubah semenjak perusahaan mengalami kebangkrutan. Memukuli Ibu dan memukuliku juga. Ah, sudahlah. Tak ada yang peduli juga.
Tiba-tiba teleponku berdering kembali. Aku mengernyit, nomor tak dikenal mengirimiku pesan.
*Hai Putri Ariel! Hari ini aku akan membongkar jati dirimu. Apa aku akan terbunuh juga seperti temanmu? Yang benar saja haha. Biar kuperjelas. Aku tahu apa yang kau lakukan pada Adela. Dan aku akan melakukan hal yang sama pada Ibumu. Aku tunggu di rumah sakit! :)*
Aku mengerjap sebentar. Apa? Apa yang ia bicarakan? Ia gila. Tapi... ini... apa dia menemukan suratku seperti Wati menemukan suratku? Tidak. Aku sudah membakarnya. Astaga...
Aku mengigit bibir bawahku dan mengepalkan tanganku. Sial. Apa dia... Tidak. Tidak mungkin. Geri berakhir sama seperti Adela. Bunuh diri. Walaupun, Adela tidak benar-benar bunuh diri. Itu ketidaksengajaan.
Ah sial!
Aku gemetar ketakutan. Rasa khawatirku membuncah. Ini... ini tidak akan selesai. Aku harus menyelesaikannya. Entah siapapun dia. Tapi... apa dia... pembunuh berantai yang membunuh Raya, Ansel, dan Bu Rika? Serta... kabar terakhir adalah Alfi? Tidak. Aku... harus bagaimana...
Aku tak punya pikiran apapun lagi selain ingin menyelamatkan Ibuku. Dia satu-satunya keluargaku. Dan mimpiku saat ini adalah hidup bahagia bersama dia tanpa Ayah. Kenapa ketika baru saja aku ingin menggapai mimpiku yang satu itu, ada lagi pengganggu?
Ya, aku tahu bahwa aku adalah seorang pembunuh. Malaikat berhati iblis. Dan aku harus membayar semuanya. Ah tidak. Ini gara-gara kamu, Adela. Aku membencimu. Penghancur hidupku.
Aku bergegas menuju rumah sakit, tepatnya ke ruangan Ayahku. Aku berdiri di depan pintu, dari kaca pintu ini aku bisa melihat Ibuku yang menangis. Bodoh bukan? Untuk apa menangisi pria sepetinya? Aku lebih memilih membunuh pria itu sekarang dibandingkan harus melihatnya masih hidup. Lebih baik mencabut nyawanya lebih cepat bukan? Agar ia tak perlu merasakan sakit lebih lama? Tapi... tidak, aku tidak melakukan itu. Karena aku ingin ia merasa sakit lebih lama.
Aku tahu aku gila. Mungkin aku memang dilahirkan seperti ini.
__ADS_1
Aku membuka pintu kamar Ayahku sambil melangkah cepat menuju Ibuku. Aku menarik lengannya hingga keluar dari ruangan.
"Belvi! Apa yang kamu lakukan?"
"Bu, ayo pergi dari sini sekarang."
"Kamu itu kenapa sih? Ayahmu sedang sakit dan kamu ingin Ibu pergi? Enggak."
"Ibu!" Bentakku. Seumur hidup bari kali ini aku membentaknya. "Sekali ini aja Ibu dengarin aku. Kita harus pergi dari sini. Lagipula, untuk apa Ibu menangisi bajingan tua itu?"
PLAK!
Pipiku panas seketika. Kupegangi pipi kiriku yang baru saja ditampar Ibu. Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. Dan ini, adalah pertama kalinya Ibu menyakitiku.
"Dia Ayahmu! Bagaimanapun juga, dia Ayahmu! Kamu lupa siapa yang menghidupi kamu sampai sebesar ini? Dia!"
Tanganku mengepal. Kenapa Ibu membela laki-laki yang sudah menyakitinya? Sebesar itukah rasa sayangnya pada Ayah. Perempuan itu bodoh. Sama bodohnya dengan Adela.
Aku pergi berlari meninggalkan Ibu. Aku lupa bahwa bagaimanapun caranya, aku seharusnya tetap membuat Ibu pergi dari sini. Aku benar-benar lupa.
Aku berlari hingga aku berada di taman. Aku menangis setelah duduk di salah satu bangku. Bukan karena tamparannya yang membuatku sakit, tapi hatiku yang sakit ketika Ibu lebih memilih Ayah bajingan itu dibandingkan aku. Rasanya aku ingin segera membunuh bajingan itu.
Ponselku bergetar. Dari nomor tak kukenal.
*Hai Putri Ariel. Aku sudah menemukanmu. Dari sini aku bisa melihatmu. Tapi, kamu tak bisa melihatku. Bagaimana kalau kita berbincang-bincang sebentar?*
Aku mengusap air mataku kasar dan menoleh ke segala arah. Tidak ada satu orangpun yang mencurigakan. Dan dimana ia? Kenapa ia memanggilku dengan sebutan Putri Ariel? Apa maksud si brengsek ini?
Aku berdiri dari bangku taman, mencarinya. Kemudian, kutemukan seseorang berpakaian serba hitam berdiri di depan semak-semak. Ia menunduk, mengenakan topi hitam pula. Tidak, aku tidak sempat memperhatikannya karena teleponku kembali berdering. Kali ini, Ibu yang memanggilku.
Aku menjauh dari taman, berlari cepat. Suara Ibu terdengar di ujung sana.
"Bel! Kamu di mana?"
Klik. Aku merasa tangga darurat adalah tempat yang mungkin bisa kujadikan tempat bersembunyi sementara. Setelah aku bertemu Ibu di tangga darurat, kami akan langsung pergi dari rumah sakit ini. Tangga darurat lantai 3 adalah tangga darurat yang dekat dengan ruangan Ayahku. Jadi, paling tidak Ibu bisa langsung bersembunyi di sana dulu, setidaknya jangan berada di kamar.
Aku tak meminta Ibu langsung pulang karena aku tahu, kemungkinan saat Ibu ingin melangkah menuju keluar, ia bisa saja langsung ditarik atau bagaimana sehingga itu akan semakin menyulitkanku mencarinya. Bisa saja ia langsung diculik, entah bagaimana caranya. Aku tahu, pembunuh ini sangat cerdas. Dan aku tidak secerdas dirinya.
Yang jelas, aku harus kabur. Aku tak sekuat dirinya. Lebih baik melarikan diri bersama Ibuku.
Rintik rintik hujan mulai turun. Aku tetap berlari dari taman menuju kembali ke rumah sakit. Aku menengok ke belakang, ia menghilang. Tidak, aku tidak peduli. Aku harus membawa Ibuku pergi dari sini. Ia satu satunya tujuan hidupku.
Aku berlari kencang menuju tangga darurat. Entahlah aku tak peduli tatapan orang. Bahkan aku juga tak sadar telah menabrak siapapun yang lewat. Intinya aku harus sampai di tangga darurat. Menelepon polisi? Itu gila, sama saja aku membunuh diriku sendiri. Tidak mungkin. Aku harus bisa mengatasi ini sendiri. Walaupun aku harus bersembunyi sampai kapanpun asalkan aku masih bisa melihat ibuku.
Aku mendorong kuat pintu besar tangga darurat. Berlari sekuat tenaga hingga sampai ke lantai 3. Aku mengatur nafasku. Tidak ada Ibu. Aku menoleh ke sana kemari tapi tangga ini kosong. Aku mulai khawatir. Kemana Ibu? Apa dia masih berada di ruangan Ayahku?
Aku meneleponnya.
"Ibu di mana? Belvi udah di tangga darurat lantai 3."
"*Suatu hari, ada seorang Putri Duyung bernama Ariel. Ia sungguh cantik. Putri duyung paling cantik yang kecantikannya bahkan mengalahkan kecantikan manusia. Tapi dibalik kecantikannya, ia menyimpan sejuta rahasia*."
Aku gemetaran. Suara perempuan ini jelas bukan suara Ibuku. "Ini siapa?!" Tanyaku dengan nada tinggi, "mana Ibuku?!"
"*Ia jatuh cinta pada seorang Pangeran tampan yang hampir menikahi Putri Kerajaan. Untuk menyambut cintanya, ia merebut Pangeran dari Putri. Ia bahkan membunuh Putri dengan mendorongnya dari atas jurang. Sayang, Pangeran tidak benar-benar mencintainya. Karena, Pangeran sebrengsek itu saat mempermainkan hati perempuan*."
"MANA IBUKU?!"
"*Kau mengenal ceritanya Belvina? Hahaha*..."
Aku tak ingin mendengar suaranya lagi. Kumatikan teleponku secara sepihak. Kumasukkan ke dalam tas, dan aku mengambil sebilah pisau dari dalam tasku. Aku tahu saat ini ia sedang bersama Ibuku. Aku harus membunuhnya jika ia sampai menyentuh Ibuku.
Aku menyelipkan pisau itu ke dalam saku jaketku, kemudian aku melangkah pelan menuju ruangan rawat inap Ayahku. Ruangan rawat inap Ayahku terletak paling ujung, ruangan VIP. Sesampainya aku di depan pintu, aku bisa melihat Ayahku yang masih memejamkan mata. Aku melihat seorang wanita berpakaian serba hitam membelakangiku dan berdiri di depan seorang wanita paruh baya berpakaian gaun abu-abu yang sedang duduk di samping Ayahku. Namun wajah wanita itu tertutup tubuh wanita berpakaian serba hitam. Aku hanya melihat sedikit potongan gaunnya. Aku tahu, wanita bergaun abu-abu itu adalah... Ibuku...
Aku membeku di tempat, sementara wanita berpakaian serba hitam itu melangkah mendekati Ibuku. Aku langsung mengambil pisauku, menggenggamnya erat. Dengan langkah gemetar aku langsung membuka pintu ruangan rawat inap Ayahku, berlari di belakang wanita berpakaian serba hitam itu kemudian aku menutup mulutnya dari belakang dengan sangat cepat hingga wanita itu tak menyadarinya. Aku menikam wanita itu berkali-kali, sangat cepat, teriakannya teredam tanganku. Dan wanita berpakaian abu-abu itu terkejut bukan main, syok, hingga ia tak sanggup berteriak karena aku membunuh seseorang di depan matanya. "BELVINA?! APA YANG KAMU LAKUKAN?!" Pekiknya ketika wanita yang kutikam akhirnya jatuh terhempas ke depan.
__ADS_1
Aku melebarkan mataku, wanita berpakaian abu-abu itu... bukan Ibuku. "Ta-tante Siska?!" Aku gemetaran, sementara Tante Siska berteriak minta tolong sambil bersimpuh dan membalik tubuh wanita yang kutikam berulang-ulang, "TOLONG!!! BELVINA?! APA YANG KAMU LAKUKAN PADA IBUMU?!"
Mataku melebar... i-itu Ibuku... aku menikam Ibuku... kulihat telapak tanganku yang penuh dengan darah. Pisau penuh darah itu kujatuhkan ke lantai. Aku mundur beberapa langkah sambil menutup mulutku syok, mencoba mencerna apa yang terjadi. Kemudian, aku langsung berlari keluar ruangan menuju tangga darurat. Aku menabrak beberapa orang yang baru saja ingin pergi ke ruangan Ayahku. Aku berlari ketakutan, entahlah aku tidak tahu apa ada yang mengejarku di belakang atau tidak. Sesampainya aku di tangga darurat, aku mengambil sapu, menyelipkannya di tengah ganggang pintu tangga darurat agar tak ada yang membukanya.
Aku terduduk menangis di sana. Sementara di luar sangat ribut. Tidak... ini mimpi... aku tidak membunuh Ibuku. Aku... tidak membunuhnya... ini semua salah...
Terputar ulang bagaimana aku menikamnya berulang kali hingga ia tak lagi berteriak. Kenapa aku tidak mengenali Ibuku sendiri? Aku mengacak rambutku. Hidupku saat ini benar-benar hancur. Kupandangi lagi telapak tanganku yang kini memerah akibat darah. Bau amis menyeruak hingga tercium ke hidungku. Brengsek!
Aku terduduk ketakutan, rasanya aku hampir gila. Kemudian, teleponku berdering. Nomor asing.
"*Aku belum selesai bercerita. Tapi kamu sudah menutup teleponnya.*" Suara perempuan menyambutku di ujung sana.
"Brengsek! Dimana kamu setan?! Kamu membuatku membunuh Ibuku!!!" Pekikku sambil menangis.
"*Aku? Aku tidak melakukan apapun. Kamu membunuh Ibumu sendiri, Putri Ariel.*"
"AKU BUKAN PUTRI ARIEL!!!"
"*Sekarang, apa yang akan kamu lakukan? Kamu tak punya apapun lagi. Aku beri pilihan, suara atau jurang? Kehilangan suaramu atau pergi ke jurang? Itu pilihan yang adil bukan? Aku sedang membantumu*."
Aku menangis semakin keras, kututup mulutku dengan sebelah tangan yang tak memegangi ponselku. Kenapa aku masih mendengarkannya berbicara. Tapi, pilihan yang ia berikan adalah pilihan yang mungkin jadi pilihan terakhirku pula. Di saat pikiranku kacau seperti ini, aku tidak bisa memikirkan hal lain. Seperti jatuh melandas hingga ke inti bumi dan tubuhku hancur lebur. Bagaimana aku akan melanjutkan hidupku?
"BRENGSEK!!!" Pekikku putus asa.
"*Aku tahu apa yang ada dipikiranmu Ariel. Mau berbincang-bincang? Aku tunggu di atap rumah sakit.*"
Klik. Telepon dimatikan secara sepihak. Aku menangis ketika pintu tangga darurat digedor. Aku berlari naik ke atas, terus naik ke tangga hingga lantai teratas, seperti terhipnotis kata-katanya. Ini bodoh. Aku bahkan tak menyadari bahwa aku benar-benar berada di lantai atas tepatnya di atap rumah sakit. Yang kupikirkan adalah aku ingin membunuhnya. Ketika kubuka pintu darurat, angin malam menamparku. Bulu romaku merinding sementara tubuhku masih gemetar ketakutan. Ini malam paling menakutkan seumur hidupku. Membunuh Ibuku sendiri, menikamnya berulang kali.
Aku berada di atap rumah sakit, rintik hujan masih turun perlahan, namun lama kelamaan mereda. Bintang di langit terlihat berkilauan kembali.
"Bukankah ini malam yang indah untuk pergi dari dunia ini? Seharusnya kamu bertemu ibumu bukan?"
Aku menoleh ke belakang. Ada seseorang di sana, dengan suara yang tak asing bagiku, suara perempuan. Aku tahu jelas siapa dia. Tapi aku tak membalas ucapannya karena aku menangis. Aku ingin membunuhnya, tapi... aku bahkan sedikitpun tak bergerak. Sial.
"Putri Ariel dikhianati cintanya karena ia juga mengkhianati sahabatnya sendiri, seorang Putri Kerajaan. Iya, dia sahabat Putri Ariel. Walaupun mungkin mereka bersahabat diam-diam karena tak ingin Raja Triton mengetahuinya. Tapi... apa? Putri Ariel sama sekali tak memikirkan sahabatnya. Ia ingin kebahagiaannya sendiri dengan merebut Pangeran dan tega membunuh sahabatnya. Kali ini, ia malah membunuh Ratu Amphitrite, Ibunya sendiri."
"DIAMMMMM!!!" Pekikku sambil menutup telingaku dan mataku.
"Kamu gila, Belvina. Kamu tidak akan bisa menguasai iblis di dalam hatimu. Jadi, untuk apa hidup lebih lama lagi bila kamu hanya akan menuruti iblis dan membunuh banyak orang?" Katanya tertawa menyebalkan.
Aku melepas tanganku dari telinga sebentar, kemudian aku membalas perkataannya, "apa kamu berbicara pada dirimu sendiri? Kita sama. Jadi bukankah kamu seharusnya juga mati?" Tanyaku.
"Tidak. Kita tidak pernah sama. Aku menjunjung tinggi keadilan dan kamu menjunjung tinggi iri hati serta nafsu. Kamu sebusuk itu. Terlihat indah di depan tapi di dalam lebih busuk dibandingkan bangkai. Aku? Iya aku terlihat sebusuk itu di luar, tapi aku membunuh orang dengan tujuan keadilan. Membalaskan apa yang seharusnya dibalaskan. Tidak membiarkan kalian hidup bahagia sementara ada seseorang yang kalian hancurkan hidupnya bahkan sampai ajal menjemput. Kamu? Membunuh hanya untuk kepentinganmu sendiri."
Aku menangis. Wajah Adela terbayang di kepalaku. Bagaimana dia tersenyum, bagaimana dia memelukku ketika aku menangis sehabis dipukuli Ayah, bagaimana kami bernasib sama--memiliki orang tua yang suka memukuli, bagaimana dia menghiburku, bahkan bagaimana ia dengan lapang dada dan ikhlas memberikan Raya padaku.
Aku menunduk, masih terduduk di atas lantai. Aku menangis. Air mataku jatuh sangat deras. Kata-katanya bisa menghipnotis siapa saja, membuat seseorang yang berpikiran hendak membunuhnya bisa jadi selemah ini. Ia dapat dengan jelas melihat kelemahan orang lain dan membuat orang lain putus asa. Berada di titik terlemah. Membuat orang lain seakan dengan mudah mengikuti perkataannya dan mengganti tujuan, dari yang ingin membunuh menjadi... ingin mati sendiri saja. Dia luar biasa.
Aku mendengar langkah kakinya mendekatiku, kemudian ia membelai rambutku dan membisikkan sesuatu ke telingaku, "dunia terasa kejam bukan? Kamu tidak pernah mendapatkan apa yang kamu inginkan. Aku bisa membantumu Belvina. Mengakhiri semuanya dengan mudah. Kamu akan melihat Ibumu lagi di atas.
"Tidak. Aku tidak berniat membunuhmu sama sekali. Hanya kamu yang kuberikan pilihan semudah ini. Hanya kamu yang aku tolong bahkan tidak kusiksa sedikitpun. Sekarang aku berikan sebuah pilihan. Suara atau jurang? Pilihlah dengan bijaksana."
Ia masih membelai rambutku. Aku menoleh ke arahnya, menatap matanya yang tajam dan mulutnya yang ditutupi masker. Tapi aku sangat mengenalinya. Dan aku tidak menduga, ia akan melakukan hal ini padaku.
Ia melirik jam tangannya, "kamu punya waktu 5 menit lagi. Apa yang akan kamu pilih?"
Aku berdiri dari tempatku duduk, "enggak. Enggak perlu waktu 5 me-menit..." kataku sesenggukan, "aku sudah menemukan pilihannya." Aku menuduk, rasa bersalahku langsung membuncah. Wajah Adela, wajah Wati, dan wajah Ibu. Semuanya berputar hebat di kepalaku. Aku sedang tidak waras, tidak bisa berpikir jernih. Aku kehilangan tujuan hidupku satu-satunya. Dan sekarang, aku tidak punya makna hidup. Aku kosong. Dan aku tidak akan hidup lebih lama dengan diliputi rasa bersalah. Aku menyalahkan diriku sendiri. Bahkan belum sempat terbersit sedikitpun untuk melimpahkan kesalahan atas kematian Ibu padanya. Tidak. Aku teracuni kata-kata halusnya.
"Aku memilih jurang."
Iya, bagiku di saat sehancur ini, jurang adalah pilihan terbaik.
Pelan tapi pasti, aku melangkah mendekati ujung atap. Kutatap pemandangan kota di depanku, kuhapus sisa air mataku. Kemudian aku menengadah sambil berkata di dalam hati, "ini salahku Bu. Maafkan anakmu yang pembunuh seperti ini."
Aku sudah berdiri di ujung atap. Kututup mataku, dan aku melangkah lebih jauh lagi hingga telapak kakiku hanya menyentuh udara, bukan lantai lagi.
Tubuhku seperti terbang menembus angin, menuju ke inti bumi. Sangat cepat. Rasanya semua anggota tubuhku terpusat ke bawah, hingga akhirnya yang kurasakan adalah sakit teramat. Tubuhku sehancur itu. Dan semua jadi gelap ketika kurasakan aspal yang dingin menyambut tubuhku.
__ADS_1
Adel, maafkan teman biadabmu ini.