Once Upon a Time

Once Upon a Time
Sleep Well, Pangeran Kodok


__ADS_3

Glenn baru saja selesai menelepon Pak Taufik subuh tadi. Ia mendengar kabar yang sama seperti tadi malam, bahwa mereka tak tidur semalaman dan berani menjamin bahwa tak ada satu orang pun yang masuk ke rumah Alfi.


Sebenarnya Glenn masih sedikit ragu. Ia tak bisa langsung senang begitu saja. Alasannya adalah pertama, mungkin saja Grimm pintar mencari momen dimana Pak Taufik dan Mas Ridwan mengantuk dan bahkan teralih dari rumah Alfi, sehingga ia bisa masuk lebih mudah. Kedua, mungkin saja korban yang dimaksud oleh Grimm bukanlah Alfi. Alasan kedua ini adalah yang paling ditakutkan oleh Glenn. Glenn takut perkiraannya meleset. Ia benar-benar tak tidur semalaman.


Glenn menghela napasnya lelah, kemudian mengacak pelan rambut basahnya yang berantakan. Ia memakai asal seragam sekolahnya dan langsung bergegas keluar kamar dan turun ke lantai 1. Di dapur, ayahnya terlihat sibuk membaca buku di meja makan. Semua sarapan sudah tersaji.


"Maaf Glenn gak nyiapin sarapannya."


Ayahnya menoleh ke arah Glenn, "it's okay. Hari ini kan jadwal Ayah yang bikinin sarapan. Tadi malam gak bisa tidur?"


"Kok tahu?" Glenn bergerak mendekati meja makan dan duduk di depan ayahnya.


"Your eyebags." Tunjuk Ayahnya, "ugh, terrible."


Glenn hanya menghela napasnya, "huft... Glenn semalaman gak tidur. Takut kalau perkiraan Glenn meleset. Bahkan tiap 2 jam sekali, Glenn selalu ngirim pesan ke Pak Taufik. He said everything will be fine. Tapi, Glenn masih cukup ragu." Glenn menyuap roti selai kacang kesukaannya. Mengunyahnya perlahan.


"Tapi, Leya cukup baik mau nemenin kamu begadang. She is really cute, honestly. My type of daughter in law. She understands you a lot, Glenn." Ayahnya mengerling jahil.


Uhuk. Glenn langsung tersedak rotinya sendiri. Secepat kilat ia menggapai segelas susu vanilla hangat yang terletak di samping piringnya.


"Oh Dad. Don't play with me. Dan, kenapa Ayah tiba-tiba ngebahas dia sih? Gak ada topik lain apa?" kata Glenn tampak jengah. Ia tak suka bila Ayahnya mulai membicarakan hal-hal yang menurutnya tak perlu dibicarakan.


"Kamu ngebahas kasus terus. Ayah bosan. Sekali-kali lah ngebahas sekolah kamu, teman-teman kamu atau cewek yang berhasil menarik perhatian kamu. Don't tell me you have no friends, selain Leya. Gimana pun juga, kamu masih SMA. Kamu remaja. Kamu gak boleh terlalu fokus sama kasus dan menghabiskan masa remaja kamu dengan sesuatu yang orang dewasa harusnya lakukan. Apa kamu gak pengen hidup kayak anak remaja lainnya? Hang out bareng temen, pacar, main game atau bahkan... kapan kamu terakhir kali watchin' porn? Oh Gosh, Glenn..."


Glenn memutar matanya jengah, ayahnya benar-benar...


"Ayah tahu Glenn gak suka membuang waktu untuk hal gak berfaedah kayak gitu. And... what? Watchin' porn? Oh Gosh, Dad. It ruined my brain. Yang ada, Glenn gak akan bisa fokus dengan nonton begituan. I have no time for doin' such dumb things. Dan itu gak menghormati perempuan. Di mana saat kita ngelihat dia, malah memacu fantasi yang bukan-bukan akibat terlalu sering nonton hal begituan. You know i'm not that kind of boy. Glenn menghormati perempuan seperti Ibu." Mata Gleen kemudian menyipit, "don't tell me you do that."


Gelak tawa Ayahnya menggema di ruang makan ini, "of course not. I never do that haha. Jaman sekarang aja tuh ada begituan. Jaman dulu mah gak ada yang begituan. Mungkin ada, tapi Ayah gak termasuk. Yeah, negative effect of internet. Tapi... yah... Ayah pikir kamu ngelakuin hal itu seperti kebanyakan anak laki-laki lainnya."


Ayahnya menatap Glenn lekat, "And yes, but i don't wanna see you regret everything. Setelah kasus ini selesai, Ayah mau kamu berhenti dulu dari semua ini, 1 tahun. Ayah mau kamu ngerasain jadi remaja laki-laki yang utuh, gak harus dengan nonton porno haha. But, for sure, janji sama Ayah. Kalau enggak, Ayah akan bilang ke Pak Rasyid dan minta kamu berhenti sama sekali mulai hari ini. Gak ada yang bisa mengganggu gugat keputusan Ayah." Wajah Ayahnya berubah serius, "Ayah serius."


"Ayahhhhh..." Erang Glenn.


"Terserah kamu. Berhenti sekalian dari hari ini dan sampai seterusnya, atau janji akan berhenti setahun, jadi remaja biasa dulu selama 1 tahun?"


"Okey... i promise... Glenn pilih yang terakhir..." jawab Gleen terpaksa. Dan di saat itu pula, ponselnya berbunyi nyaring memecah keheningan diantara mereka berdua.


"Leya?" Tanya Ayahnya. Glenn hanya menggangguk.


"Kenap-"


"Glenn... l-lo harus ke sini se-sekarang." Terdengar suara Leya yang gemetaran dan keributan di belakang Leya. Suara gadis itu jadi tak begitu terdengar jelas. Tapi, Glenn tahu bahwa Leya sedang ketakutan.


Belum sempat Glenn bertanya lebih lanjut, Leya sudah mematikan ponselnya. Glenn mulai khawatir. Kemudian, telepon lain menyusul. Kali ini dari Pak Rasyid.


"Glenn tolong ke sini secepatnya. Bapak sedang berada di rumah Leya."


Gawat...



Hal yang pertama kali Glenn lihat saat telah sampai di rumah Leya adalah kerumunan orang banyak tengah berkumpul. Glenn langsung menerobos masuk, tak peduli dengan berbagai sumpah serapah yang orang luncurkan ketika tubuhnya ditubruk oleh Glenn.



Ia sudah berada di barisan paling depan ketika beberapa polisi berusaha berdiri di depan pagar--tepatnya di depan mereka, menghalangi kerumunan orang yang sepertinya ingin melihat sesuatu yang menarik. Atau mungkin... mengerikan?



"Glenn, kamu sudah datang. Lihatlah ke sini." Pak Rasyid yang berada di dalam pagar, tepatnya berada di halaman depan rumah Leya langsung keluar melewati police line dan menarik Glenn masuk.



Mata Glenn langsung membelalak melihat sebuah kepala yang membelakanginya tanpa tubuh. Ia langsung berlari semakin mendekatinya dan berdiri berhadapan dengan kepala itu. Tangannya langsung terkepal setelah melihat apa yang sama sekali tak pernah ia duga sebelumnya. Itu... Alfi...



Bagaimana mungkin? Bagaimana... ini bisa terjadi? Alfi... Alfi ada di rumah itu dalam pengawasan polisi. Kenapa Grimm masih bisa membunuhnya?



Otak Glenn langsung dipenuhi pertanyaan yang berkecamuk. Memikirkan berbagai kemungkinan yang terjadi sehingga Grimm benar-benar bisa membawa kepala Alfi bahkan di depan rumah Leya. *SIALAN*!



Glenn menarik napasnya sebisa mungkin, mengatur emosinya, dan berusaha berpikiran dingin. *Tapi*... *astaga biadab! Grimm benar-benar...*



Glenn berjongkok, meneliti sebentar kepala Alfi tanpa menyentuh, kemudian langsung meminta Pak Rasyid untuk membawanya ke rumah sakit untuk diotopsi setelah meminta personil lain yang ada di sana untuk mengambil beberapa foto dan mengirimkannya langsung setelah ini ke e-mail.



Ia kemudian teringat sesuatu, "Leya di mana?"



"Leya dan Ayahnya sedang diwawancarai di dalam-"



Glenn langsung berlari masuk ke dalam rumah tanpa mendengar habis kalimat yang keluar dari mulut Pak Rasyid. Rumah Leya jadi dipenuhi para personil yang menyisir seluruh ruangan. Tadi di halaman depan juga beberapa personil terlihat menyisir tempat itu, mencari barang bukti seteliti mungkin.



Di sanalah Leya, di ruang tamu, duduk di sofa sambil memeluk Ayahnya dari samping. Di depan mereka terlihat Pak Farid dan Mas Dani yang sepertinya meminta keterangan pada mereka.



Glenn masih berdiri di belakang sofa ketika tak sengaja Leya menyadari kehadirannya. Leya menatap Glenn dengan sorot mata yang tak dapat didefinisikan. Antara takut, khawatir, sedih, dan entahlah. Beberapa detik kemudian, ia melepaskan pelukannya dari Ayah dan melangkah mendekati Glenn tanpa peduli tatapan bingung mereka semua ketika Leya langsung meninggalkan tempatnya duduk. Ia melakukan hal tak terduga di depan semua orang, memeluk Glenn tiba-tiba dengan erat. Glenn dibuatnya terkesiap untuk yang kesekian kali.



"Ya' lo... gak papa?" Tanya Glenn ketika sadar. Ini pertanyaan bodoh. Jelas ia tahu bahwa Leya tak mungkin baik-baik saja.



Leya menggelengkan kepalanya, "Ini bukan salah lo, Glenn..."


__ADS_1


Astaga Leya... di saat seperti ini ia justru memikirkan Glenn. Seakan gadis itu tahu bahwa Glenn baru saja hendak menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian ini. Leya perlahan melepaskan pelukannya dan menundukkan kepala di depan Glenn. "Maaf..." katanya yang seakan sadar bahwa dirinya lancang.



"Gue-"



"Glenn, kamu udah datang?" tanya Pak Farid memotong ucapannya. Ia memberikan sebuah kotak kado lusuh, "maaf mengganggu kalian. Tapi, Glenn mungkin kamu bisa melihat ini sebentar."



Glenn mengambil kotak kado itu cepat dan membukanya. Rahangnya mengeras. Sialan.



*Hai, Lily Cattleya Gardenia. Bagaimana? Kau menyukainya? Beritahu dia bahwa ia tak akan bisa mengalahkanku. Temukan tubuh pangeran kodok, di sana akan kuceritakan dongengnya. Bawa kuncinya hari ini ke tempat itu, tanpa membawa siapapun. Sekali lagi ia membantah, akan kuberikan hadiah yang lebih menyenangkan untuknya. Clue? Tak perlu. Itu hukuman karena ia telah bermain-main denganku. Kau tahu siapa yang kumaksud bukan?



\-Grimm*



Glenn menggigit bibir bawahnya penuh amarah.



"Glenn, kamu bisa membawa teman gadismu dan Ayahnya untuk mengungsi ke tempat lain dulu. Kami akan menggunakan rumah mereka beberapa hari ke depan untuk mencari bukti. Kamu bisa membawanya sekarang. Kami sudah selesai melakukan wawancara dengan mereka," jelas Mas Dani.



"Kalian tahu bahwa mereka bukan pembunuhnya."



"Iya, kami tahu. Tapi prosedur harus tetap dijalankan. Status mereka saat ini masih saksi," tambah Pak Farid.



Glenn mengangguk, tatapannya kali beralih pada Leya, "Ya', sementara lo bisa tinggal di rumah gue."



"Kami akan tinggal di hotel sementara. Kami tidak ingin merepotkan kamu. Dan kamu... Glenn bukan?" Bukan Leya yang menjawab, melainkan Ayahnya. Ayahnya kali ini sudah berdiri berhadapan dengan Glenn, di samping Leya.



"Iya Om. Maaf Om. Tapi, saat ini nyawa Om dan Leya mungkin saja terancam. Tempat teraman untuk saat ini hanya rumah saya," jelas Glenn pelan-pelan. Glenn hanya takut terjadi sesuatu pada mereka, sementara Grimm telah mengetahui tempat tinggal Leya. Itu berbahaya.



"Tapi, kami akan merepotkan kamu." Ayah Leya tampaknya bukan merupakan orang yang suka merepotkan orang lain.



Glenn tersenyum dengan ramah, "Om, tenang saja. Ini bukan apa-apa dibandingkan Leya yang banyak membantu saya. Anggap saja, saya berhutang budi pada Leya."




"Saya setuju dengan usulan Glenn. Lagipula, Anda bisa mempercayai Glenn karena Glenn adalah orang yang jelas punya posisi terdekat dengan kami. Putri Anda bisa aman di rumahnya," jelas Pak Farid.



"Anda tidak perlu khawatir. Kami tetap akan berusaha melindungi saksi. Dan Glenn adalah orang kepercayaan pihak kepolisian," tambah Mas Dani.



"Baiklah, hanya untuk sementara." Ayah Leya akhirnya menyerah. Ia merangkul Leya keluar dari rumah diikuti oleh Glenn dari belakang. Jelas, wajah Ayah Leya masih memancarkan sorot tanda tanya. Bagaimana bisa anak seusia Glenn menjadi kepercayaan polisi? Ia akan menanyakannya nanti.



Sementara, Leya masih tak berkata apapun. Tidak ada yang tahu apa yang sedang gadis itu pikirkan. Glenn hanya bisa menghela napas sambil menatap punggung gadis itu.



"Gue benar-benar gak tahu lagi harus gimana. Otak gue terlalu sesak memikirkan bagaimana caranya Grimm bisa tetap membunuh Alfi? Astaga..." Glenn mengacak rambutnya putus asa, membuat rambutnya semakin berantakan.


"Lebih baik, sekarang lo pikirin siapa pembunuh Wati dan di mana tubuh Alfi. Terus, pikirin juga soal catatan kosong itu." Leya memandang taman luas nan hijau di depannya. Ia menghela napasnya lelah. Wajahnya tampak pucat, tidak seperti biasanya. Hanya ada mereka berdua di sini, sementara Ayah Glenn sudah berangkat kerja sebelum Glenn pergi ke rumah Leya dan Ayah Leya sedang sibuk menelepon orang-orang di kantornya untuk meminta izin hari ini tak bisa ke kantor.


Glenn menoleh ke arahnya, "Leya, lo istirahat sekarang. Lo gak usah masuk sekolah aja dulu. Biar gue yang ngurus semuanya di sekolah." Glenn menarik lengan perempuan itu hingga Leya berdiri dari tempatnya duduk, "kamar lo di kamar gue. Ayah lo tidur di kamar tamu."


"Lo tidur di mana?"


"Gue gampang. Lo istirahat sekarang, ya?"


"Tapi-"


"Gue gak mau ngebahas kasus ini dulu karena lo kurang sehat." Dan mungkin gak akan membahas ini lagi di depan lo. Maaf Leya, gue bikin lo kayak gini. Glenn tahu, bila ia meneruskan kata-katanya, Leya jelas akan membantah habis-habisan. Gadis itu memang keras kepala, dan Glenn sangat menyesal telah melibatkannya dalam kasus ini. Menyebabkan nyawa Leya ikut terancam.


Detik berikutnya, Glenn meletakkan telapak tangannya di kening Leya, "Dan lo memang bener-bener lagi gak sehat. Badan lo panas." Jelas terlihat sorot mata khawatir dari mata gelap milik Glenn. Leya mematung sesaat.


Iya, Leya sepertinya kelelahan ditambah syok. Benar-benar sangat syok. Jujur saja, bagaimanapun juga ia tetaplah gadis biasa--walaupun pada awalnya ia terlihat biasa saja saat melihat mayat Raya dan Ansel, karena menurutnya mayat mereka masih tak semengerikan mayat Bu Rika dan Alfi.


Melihat kepala orang yang ia kenali terdiam membisu di depan matanya sendiri tentu saja akan membuatnya takut dan syok. Walaupun tidak sesyok saat melihat bagaimana Bu Rika tewas.


Mungkin ini efek karena ia terlalu banyak pikiran dan begadang. Tapi, di satu sisi, ia benar-benar ingin membantu Glenn. Ia tak mau mengeluh karena itu hanya akan membuat Glenn merasa bersalah.


"Glenn, tolong jangan pergi sendiri..." kata Leya lirih ketika ia mengingat pesan Grimm yang ia baca sebelum memberikannya pada Pak Farid.


Glenn hanya tersenyum dan menepuk lembut puncak kepala Leya. "Tenang aja. Lo jangan pikirin itu. Gue gak sebodoh itu kok," ujarnya terkekeh. "Sekarang, biar gue antar ke kamar. Lo istirahat ya?"


Leya mengangguk.



Pukul 10.20


__ADS_1


Glenn pasti gila! Aku? Aku tak punya hubungan apapun dengan Grimm! Tapi... aku sedikit khawatir, karena jelas aku tahu sesuatu. Semua yang berhubungan dengan gadis menyedihkan itu, aku tahu. Dia memang pembawa sial.



Aku? Hmm sedikit punya hubungan dengan gadis itu. Tapi, tidak sepenuhnya. Ah... sial...



Rasa takut merambat di sekujur tubuhku. Aku menghempasksn tubuhku di atas kasur empuk. Bagaimana jika... Gleen benar? Aku... selanjutnya?



Aku beranjak lagi dari kasur, berlari ke lantai 1 dan mengunci seluruh pintu rumahku yang megah ini. Sedikit menyesal karena tidak membiarkan Glenn menginap. Ah, tidak... tidak... apa yang kupikirkan? Aku jelas sudah gila. Dia adalah Grimm! Dan membiarkannya masuk ke rumahku sama saja menjemput maut.



Aku merogoh ponsel dari saku celanaku. Berniat ingin memberitahu Geby agar berhati-hati. Namun, belum sempat aku menelepon Geby, ponselku sudah bergetar duluan. Geby?



Kulihat isi pesan chat yang dikirim oleh Geby. Itu... foto dirinya tertidur di kursi penumpang mobil. Siapa yang saat ini memegang ponselnya? Belum terjawab pertanyaanku, kemudian sebuah panggilan masuk membuat ponselku bergetar. Dari Geby.



"Halo Geb?"



"Hi there." Suara perempuan menyapaku. Itu jelas bukan suara Geby yang kukenal. Suara itu terdengar asing, tapi... tidak juga. Aku merasa pernah mendengar suaranya, dimana ya?



"Siapa lo?"



"You don't have to know who i am, Geby's Prince. Oh, wait a minute. Are you really her Prince? I think she just make a fool of you. *Ah, kurasa kamu, Pangeran Kodok, tahu hal ini bukan? Sayang sekali, kamu tidak pernah benar-benar mendapatkan hati sang Putri, tapi kamu mau melakukan hal bodoh apapun demi dia. Termasuk... membuat seseorang punya alasan untuk mati. Ckckck*..."



Alasan untuk mati? Ini... apa berhubungan dengan...



"HEI! SIAPA LO?!"



"Easy... easy... sssttt... *kamu gak mau mengganggu sang Putri tertidur bukan? Gak usah takut. Kamu tahu apa yang kuinginkan. Kamu gak bener-bener akan membiarkan sang Putri mati sendirian kan?*"



Deg! Aku mengepalkan tanganku gemetaran. Sial... apa dia... Grimm?



"*Kapan lagi kamu bisa benar-benar menjadi pahlawan dan menunjukkan rasa cintamu pada sang Putri? Oh, Pangeran Kodok, permudah saja ini. Aku tidak ingin berlama-lama. Berikan dirimu padaku. Aku akan memulangkan sang Putri kembali dengan selamat ke kerajaannya.*"



"GUE GAK PERCAYA LO!! Itu pasti foto bohong!!"



Tiba-tiba, muncul notifikasi bahwa penelepon ingin mengalihkan panggilan suara menjadi panggilan video. Aku mengeklik tombol 'nyalakan' dan seketika mataku dibuat terbelalak melihat apa yang ada di depanku. Itu benar-benar Geby! Tengah tertidur pulas.



"ANJ*NG! JANGAN PERNAH LO SENTUH GEBY!!"



"*Sssttttt jangan ribut.*" Sesaat kemudian, telepon video kembali dialihkan menjadi telepon suara. "*Tik tok tik tok*... i have no time for having a long chit and chat with you. *Aku tunggu di gedung musik belakang SMP Juara 30 menit lagi. Dan ohiya. Jangan lewat depan rumah. Kamu harus loncat melewati pagar halaman belakangmu dan berlari ke sini tanpa kendaraan apa pun dan tanpa diketahui siapa pun. Aku akan tahu bagaimana gerak gerikmu, tentu saja*. Because i have another eyes. *Sedikit saja kamu melakukan kesalahan, Putri cantik ini tak akan bisa tersenyum besok pagi. Jangan menelepon siapa pun. Aku akan langsung tahu. Ingat itu*."



Klik. Telepon dimatikan.



Jantungku berdebar tak karuan. Astaga... apa yang harus kulakukan? Aku tak mau Geby tersiksa. Disaat pikiran kacau seperti ini, yang terpikir olehku hanyalah bagaimana cara menyelamatkan Geby. Aku... sangat mencintainya, tak peduli kalau ini hanyalah cinta bertepuk sebelah tangan. Akan kulakukan apapun untuknya, meskipun harus memberikan nyawaku.



Geby, tunggu aku.



Tanpa pikir panjang, kuambil jamper hitam dari lemari di kamar tidurku dan bergegas berlari menuju pintu belakang. Tak ada pikiran lain selain tentang Geby.



Pukul 10.50


Aku tak terlambat. 30 menit dari rumah menuju SMP Juara dengan berlari bukan masalah bagiku. Dengan nafas terengah-engah, aku meloncati pagar belakang SMP Juara yang langsung mengarah pada gedung musik. Gedung musik bisa dibilang, berada paling ujung belakang dan tak begitu terjamah karena tak dipakai lagi.


Suasana sepi menyapaku. Lampu gedung terlihat mati. Hanya sinar rembulan yang menerangi langkahku. Ah, bodohnya aku tak membawa lampu senter. Ah, peduli apa? Aku kembali berlari hingga di depanku tampak pintu gedung musik. Gedung musik sudah tak terpakai lagi, alasannya karena sekolah lebih memilih menggunakan gedung musik baru di depan--dekat gedung kelas--dibanding gedung musik belakang. Dari jarak 5 meter, aku bisa mendengar suara denting piano menggema. Lagu Chopin Waltz. Aku tak begitu mengenal musik klasik, namun Geby pernah memberitahu beberapa lagu klasik yang ia suka. Lagu ini salah satunya.


Aku membuka pintu perlahan. Cahaya rembulan yang masuk melalui ventilasi panjang gedung musik menerpa punggung seseorang yang bermain piano tua membelakangiku. Perempuan, kah? Tak bisa terlihat jelas. Ia mengenakan baju gelap serta bertopi. Ketika ia menyadari bahwa aku telah datang, ia menghentikan permainan pianonya.


Perlahan namun pasti, ia berdiri, kemudian melangkah mendekatiku. Aku gemetar. Aku mungkin saja bisa berlari saat ini, tapi... bagaimana dengan Geby? Aku belum menemukannya. Di mana dia?


"Tepat waktu," katanya. Langkah kakinya menggema di ruangan ini. Aku diam mematung.


"Ma-mana Geby?"


Kali ini, ia benar-benar berdiri di hadapanku. Tubuhnya tinggi menjulang. Lebih tinggi kira-kira 10 senti dari tubuhku.


"Arrived safely as you wish," jawabnya dengan nada dingin.


Detik berikutnya, tanpa kusadari sekalipun--saking cepatnya, ia mendorong tubuhku hingga terkunci ke dinding dan sebuah sapu tangan menutupi hidung dan mulutku. Ia membekapku kuat, membiarkan aroma di sapu tangan yang menenangkan itu masuk langsung ke hidungku. Beberapa menit kemudian, pandanganku kabur, tubuhku lemah dan oleng. Kata-kata terakhir yang kudengar adalah, "sleep well, Pangeran Kodok."

__ADS_1



__ADS_2