
Aku memaksa senyumku ketika kakekku memintaku memotong tumpeng. Aku berada di deretan depan, di samping kakekku. Aku menatap sekeliling sementara kakekku sibuk memberi sambutan. Beberapa orang sibuk memperhatikan kakekku, beberapa tak peduli dan sibuk mengobrol, sementara beberapa orang lagi melihatku tak suka. Ah, tentu saja. Aku menyebalkan, tak ada yang menyukaiku.
Tatapanku beralih pada Rosa yang berada di barisan tengah. Ia tersenyum dan melambai, aku membalas senyumannya. Tak ada Kang Fatur dan temannya, yang diminta menjagaku. Mereka pasti melihat dari jarak jauh, tidak mungkin ikut masuk ke barisan.
Kakekku telah selesai memberi sambutan, ia memberikan pisau padaku sambil tersenyum. Lagi-lagi aku tersenyum paksa. Aku memotong tumpeng perlahan, beberapa orang sibuk memoto dengan kamera hingga blitznya menyilaukan mataku. Aku ingin semua ini segera berakhir tapi aku tak mungkin memotong tumpeng ini tergesa-gesa. Kakekku akan marah. Huftt... kutarik nafasku dan akhirnya selesai. Kakek mengambil alih pisauku, para guru ikut berbaris untuk mengambil bagian. Aku mundur perlahan. Di saat kebisingan dan kesibukan semua orang, mataku tak sengaja mendapati seorang laki-laki yang kukenal sedang menyandarkan tubuhnya di tiang depan kelas, menggunakan jaket hitam dan bertopi. Ia melepas topinya, tersenyum padaku. Ada yang berbeda dari senyumnya. Ia pergi menuju kegelapan, ke daerah gedung seni. Entah kenapa, aku bergerak mengikutinya.
Riuh suara semakin memekakan telinga. Banyak siswa berbondong-bondong maju semakin ke depan ketika acara band akan dimulai. Aku melangkah terus hingga masuk menuju kegelapan. Aku mengikutinya, tentu saja karena ada sesuatu yang sangat ingin kutanyakan. Ia terus melangkah hingga sosoknya hilang di belokan lorong gedung seni. "Glenn tunggu!" Kataku, tapi ia tak menghiraukan.
Aku berlari hingga menuju ke belokan dan di saat itu pula dengan cepat bahkan tanpa bisa kusadari, seseorang telah menutup mulutku dari belakang dengan sapu tangan. Aku menghirup bau menenangkan. Seberapa pun aku meronta, orang itujauh lebih kuat. Lama kelamaan... gelap. Sepertinya aku tertidur.
Aku membuka mataku perlahan. Aku... aku berdiri? Ah tidak... astaga, aku berdiri diatas sebuah bangku dalam keadaan tangan terikat dan mulut diberi lakban. Ada sesuatu yang mengikat leherku, aku gemetaran dan sulit bernapas. Jantungku berdegub tak karuan. Sial...
"Jangan terlalu banyak bergerak. Kau tahu apa yang akan terjadi bila terlalu banyak bergerak." Terdengar suara wanita. Ia berdiri di dalam kegelapan di depanku. Bersandar pada dinding. Aku tak bisa melihatnya dengan jelas. Ia menunduk, tertutup topinya. Dan aku yakin ia menggunakan masker. Aku menengadah, tali ini diikatkan ke dahan pohon besar. Sialan... kutukku. Aku tak berani bergerak. Aku ketakutan dan gemetaran. Air mata terus jatuh. Antara pasrah namun tak ingin mati. Sesuatu yang kontradiktif.
"Kau menunggu hari ini datang bukan? Aku tidak akan berbasa\-basi lagi. Waktuku tak banyak dan mereka sebentar lagi akan ke sini. Seharusnya kamu mati dalam keadaan yang paling parah. Tapi, kamu harus bersukur karena saat ini aku tidak bisa melakukan itu. Namun, kuyakin, hukuman gantung juga akan menyiksa."
Ia mengeluarkan bunga indah berwarna putih yang... aku tak tahu namanya. Satu tangkai bunga itu memiliki banyak kelopak. Indah... tapi di saat seperti ini keindahan bunga itu justru membuatku semakin takut. Aku tahu apa yang ia ingin lakukan.
Ia melangkah mendekatiku. Tidak, ia melangkah ke belakang tubuhku. Beberapa saat kemudian sesuatu yang tajam menusuk masuk ke daging jempolku. Aku meringis, rasanya... perih. Tapi rasa perih ini tak bisa merasakan ketakutanku. Sial... aku bahkan tak berani meronta.
"Putri Tiana, kau akan dihukum gantung karena selama hidupmu, kau selalu menyakiti rakyat. Menyakiti orang lain. Dan kau harus tahu bahwa kematian Pangeran Kodok adalah kesalahanmu." Ia kembali berdiri di depan dengan kepala yang masih tertunduk. Terdengar suara tawanya yang dingin dan menakutkan. "Selamat tinggal Putri Tiana..." Bahkan tanpa memberiku kesempatan mengucapkan sesuatu, ia langsung menendang kursi. Aku tergantung. Ia langsung pergi meninggalkanku sendirian di sini dalam kegelapan.
Arrrghhhh sakit.... dadaku rasanya seperti terbakar. Aku kesulitan bernapas. Jantungku berdetak tak beraturan. Sialan sakit sekali!!!!!
Detik berikutnya, terasa nyeri luar biasa yang menjalar hingga ke tengkuk dan dadaku. Mataku terbuka lebar kesakitan. Perut dan dadaku langsung kejang\-kejang hebat. Teramat menyakitkan. Oh Tuhan... tolong langsung saja cabut nyawaku...
Detik demi detik terasa begitu lama. Air liurku keluar, lidahku otomatis ingin keluar, namun tertahan lakban ini. Aku menangis kesakitan. Meronta hebat. Tubuhku berayun kesana kemari, tanganku terus bergerak ingin melepaskan ikatan tangan dan tali yang menyekik leherku, tapi tak bisa...
Krekk... leherku patah akibat meronta kian hebat sambil berayun\-ayun... Pandanganku mulai kabur, kepanikan luar biasa melandaku. Di saat ini, terpitar kembali memoriku bersama kedua orang tuaku. Senyum mereka, bagaimana mereka memelukku, bagaimana tawa mereka selalu menghiasi pagi hariku di meja makan. Aku teringat lagi bagaimana mereka bertengkar. Air mata mengucur semakin deras. Di saat ini... aku rindu mereka. Aku rindu rasanya dipeluk hangat oleh mereka, dibisikkan ucapan selamat malam dan kecupan di kening sebelum tidur. Kenapa... hidupku semenyedihkan ini?
Wajah Alfi ikut tergambar. Bagaimana senyum jahilnya selalu terhias di wajah setelah mengerjaiku. Bagaimana tangan hangatnya selalu menghapus air mataku ketika aku menangis. Bagaimana... senyum tulusnya terakhir kali, bahkan ketika aku dan dia bertengkar. Ia masih sempat memelukku, berkata bahwa ia sangat mencintaiku. Sementara, aku tak pernah menghiraukan kata\-kata itu. Selalu berpikir bahwa itu semua hanyalah bentuk kejahilannya yang lain.
Ma, Pa... maafin aku. Berbahagialah tanpaku.
Fi, maafin aku. Aku tahu ini terlambat, tapi kurasa aku juga mencintaimu. Seandainya aku dan kamu berada di tempat berbeda, semoga Tuhan tetap menyampaikan rasaku padamu.
Aku mencintaimu. Dan aku terlambat menyadarinya.
Tubuhku mulai lemas... hingga pandanganku jadi gelap gulita.
Kurasa, ini sudah berakhir. Rasa sakit lahir dan batinku berakhir.
__ADS_1
Leya, seandainya kamu dengar, aku hanya ingin berkata bahwa ini bukan salahmu. Ini hanyalah salahku dan memang... aku harus membayar semuanya.
Suara denting piano berbunyi, mengalunkan Chopin Waltz No. 7 in C sharp minor Opus 64 No. 2 ke seluruh ruangan di rumah ini. Glenn membuka matanya perlahan. Dimana ia? Dilihatnya langit-langit ruangan ini, tergantung planet-planet dan roket. Apa... ia sedang berada di kamar panti?
Glenn memijat kepalanya, sakit. Ia duduk di samping ranjang, kemudian ia melangkah keluar dari kamar. Ia melangkah menuju sumber suara denting piano itu. Sepi sekali. Seperti tidak ada siapapun di panti.
Glenn terus melangkah, hingga ia berada tepat di ruang tengah. Seorang gadis kecil berambut hitam dengan lincah menekan tuts-tuts piano itu. Glenn menaikkan sebelah alisnya, "Friska?"
Gadis kecil menghentikan permainannya. Ia menoleh, kemudian tersenyum. "Glenn! Aku berhasil!" Katanya. Ia turun dari kursi piano, kemudian melangkah mendekati seorang laki-laki kecil yang sedang membaca buku di lantai, itu Glenn kecil. Di sampingnya, ada Adrian yang sibuk menggambar. Suasana panti yang tadinya sepi berubah jadi riuh. Anak-anak panti yang lain sedang bermain di ruang belajar, hanya mereka bertiga yang tidak berada di ruang belajar.
"Masih ada yang kurang. Kamu bermain tanpa emosi," kata Glenn tanpa menoleh ke arah Friska.
"Ah... yang benar aja! Aku udah berusaha. Itu susah." Friska duduk di samping Glenn sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Wajahnya cemberut.
"Adrian saja bisa."
"Itu karena kalian berdua jenius! Huh!"
Adrian tersenyum lebar, menampakkan deretan gigi putihnya. Ia menyubit pipi Friska. "Adrian, aku mau jadi pendongeng aja ah, gak mau jadi pianis!"
Adrian tak menjawab, ia kembali menggambar. Tiba-tiba Bunda datang, bersama Ayah dan Ibu. Gleen tidak menoleh, ia masih sibuk membaca.
"Glenn, bisa kita bicara sebentar? Ibu Bunga ingin bicara." Kata Bunda.
Glenn akhirnya menoleh, "Aku tidak ingin bicara," katanya datar.
Ibu mendekati Glenn, ia tersenyum manis, "sebentar saja, Glenn. Ibu janji."
Friska dan Adrian menoleh ke arah Ibu. Tak berekspresi.
Glenn menarik napasnya. Entah kenapa ia menurut saja. Ia bangkit dari tempatnya duduk, kemudian melangkah mengikuti Ibu, Ayah, dan Bunda. Ibu ingin memegangi tangan Glenn, tapi Glenn langsung berjalan lebih dulu. Ia tak suka. Glenn remaja mengikuti Glenn kecil dari belakang dan terus memperhatikan.
Mereka berada di bawah pohon besar halaman belakang. Angin menampar wajah mereka. Ayah diam saja, namun terus tersenyum. Bunda kemudian melangkah pergi meninggalkan mereka.
"Sayang, tolong tinggalin aku berdua sama Glemn ya. Aku pengen ngobrol sama dia," kata Ibu. Ayah mengangguk dan pergi.
Glenn menoleh ke kaca jendela kamarnya, ada Friska dan Adrian di sana. Sibuk memperhatikan. Mereka berdua melambai sambil tersenyum.
"Glenn, lihat Ibu," kata Ibu lembut sambil menempelkan lututnya ke tanah, agar wajahnya bisa sejajar dengan wajah Glenn. Glenn menoleh ke arah Ibu. Menatapnya datar.
"Kamu tahu gak kalau Ibu sayang sekali sama kamu. Kamu alasan Ibu setiap hari ke sini." Ibu tersenyum sambil mengelus pipi Glenn kecil. Glenn remaja meneteskan air matanya, ia rindu Ibu. Ia rindu senyuman itu. Rasanya, ia ingin memeluknya sekarang.
"Glenn sayang, suatu saat nanti kamu akan mengerti apa sebabnya Ibu hanya mengadopsimu. Ibu tahu kamu anak baik. Kamu memang berbeda dari anak lain, tapi itu yang membuatmu spesial. Sayang, Ibu tahu apa yang ada di dalam tubuhmu. Ibu ingin membuat kamu sembuh. Apa Ibu gak punya ruang sedikitpun di hati kamu? Apa Ibu gak bisa nyembuhin luka itu?" Ibu tersenyum lembut, "Ibu juga seperti kamu. Tapi, itu dulu. Yang perlu kamu lakukan adalah menerima. Menerima semua luka itu, Sayang. Ibu tahu suatu saat nanti kamu bisa menerimanya. Itu memang sulit, tapi Ibu akan membantumu."
Glenn kembali menoleh pada Ibu. Ia terlihat sedikit terkejut. Mungkin pada kata-kata Ibu bahwa Ibu mengetahui apa yang ada di dalam tubuhnya. Tapi, ia masih belum buka suara.
"Tolong beri Ibu kesempatan untuk menyembuhkan luka itu. Ibu ingin buktiin ke kamu, kalau tidak semua orang tua bersikap buruk. Kita memiliki luka yang sama, luka itu masih bisa disembuhkan. Ibu janji akan menyayangi kamu seperti anak Ibu sendiri. Ayah juga.
"Glenn sayang, saat kamu dihantui kenangan buruk, yang harus kamu lakukan adalah menerimanya. Biarkan kenangan buruk itu jadi mimpimu saja. Kamu harus bisa melawannya. Menerima kalau masa lalumu seperti itu. Kamu masih kecil, Sayang. Ibu tahu kamu tidak seharusnya diperlakukan seperti itu. Kamu merasa ini tidak adil. Tapi, kamu harus tahu, saat kamu bisa menerimanya, kamu akan menjadi anak paling kuat dibandingkan anak lain. Iya, sekali lagi, Ibu tahu ini tidak mudah. Dan Ibu percaya, kamu cukup cerdas memahami ini semua. Kamu punya kemampuan otak yang lebih. Itu anugrah sekakigus bencana. Tapi Ibu akan berusaha membuatnya menjadi anugrah dan Ibu juga akan berusaha menutupi seluruh kenangan burukmu dengan kenangan indah yang kita buat bersama."
Glenn menangis tanpa suara. Ya, ia tak seperti anak lainnya. Ia dewasa sebelum waktunya. Otaknya... bahkan bisa mengerti setiap kata yang Ibu ucapkan, bahkan di usianya yang masih 5 tahun.
Kemudian, kepalanya mulai sakit. Ia memegangi pelipisnya.
"Glenn, Glenn lihat Ibu..." Ibu tidak panik, tapi Ibu sepertinya tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Glenn terlihat kesakitan, "Sayang, lihat Ibu..." Ibu langsung memeluknya, menepuk-nepuk punggungnya, "Tenang Sayang, tenang. Kamu bisa melawannya, mereka bagian dari kamu. Kamulah tuannya. Jangan biarkan mereka mengendalikanmu. Kamu yang akan mengendalikan mereka," bisik Ibu lembut.
Glenn kecil terlihat lebih tenang, ia balik memeluk Ibu. Pelukan ini... seperti candu. Glenn ingin terus seperti ini. Berada di pelukan Ibu. Entah kenapa, pelukan ini menenangkannya.
"Tapi, Glenn tetap bisa ke sini untuk menemui mereka kan?" Kata Glenn akhirnya.
Ibu diam, sedikit lama sebelum ia menjawab, "iya, kamu boleh menemui mereka setiap hari, Sayang." Ibu tersenyum lembut, "Jadi, apa boleh Ibu menjadi Ibumu?"
Glenn kecil tersenyum lembut, kemudian mengangguk.
Glenn remaja terus memperhatikan tanpa bersuara. Air mata terus jatuh. Ia menempelkan lututnya ke tanah, berusaha memeluk Ibu, tapi ia tak bisa memeluknya, bahkan menyentuhnya. Tangannya seperti menembus tubuh Ibunya. Alhasil, ia hanya bisa terus melihat senyum Ibu, "Bu, cuma Ibu satu-satunya yang bisa menenangkan Glenn. Ibu, Glenn rindu..."
Dalam waktu beberapa detik, tempat ini berubah seperti luntur. Berubah menjadi lokasi baru. Ia saat ini tepat berada di dalam mobil, tepatnya di samping Glenn kecil. Ibu berada di samping kursi kemudi dan Ayah tentu saja berada di kursi kemudi. Ayah mengerem tiba-tiba. Hantaman mobil terdengar nyaring di depan. Di depan mobil mereka terlihat sebuah bis yang mengangkut anak-anak terbalik jatuh ke jurang. Tepat di depan mata Glenn kecil. Jalan ini sepi. Artinya, mereka adalah saksi mata. Ayah menghentikan mobilnya, cepat-cepat keluar sambil menelepon seseorang. Sementara, Ibu keluar dan pindah ke kursi belakang sambil memeluk Glenn dan berusaha menutupi mata Glenn, "Sayang, jangan lihat. Lihat Ibu saja."
"Bu... itu... bis Adrian..." Glenn kecil tidak menangis, namun Glenn remaja jelas tahu bahwa Glenn kecil ingin sekali menangis. Sayangnya ia tidak bisa menangis. Ia justru balik memeluk Ibu lebih kuat lagi. Memejamkan kuat-kuat matanya ketika di luar terdengar bising sirine polisi dan ambulans. Glenn kecil mulai pucat, sebelah tangannya meregangkan pelukan sambil memegangi kepala yang mulai sakit. Ibu tahu apa yang akan terjadi, tapi Ibu justru semakin memeluk Glenn dan menyanyikannya sebuah lagu menenangkan. Brahm's lullaby.
Lullaby and good night
In the sky stars are bright
'Round your head
__ADS_1
Flowers gay
Set your slumbers till day
Suara Ibu lembut sekali. Ibu menepuk-nepuk punggung Gleen kecil, hingga Glenn remaja ingat betapa menenangkannya suara Ibu. Suara itu selalu membuatnya tertidur tenang tanpa bermimpi buruk.
Glenn terbangun ketika suara ponselnya berdering nyaring. Ia memijat kepalanya yang terasa pening. Ia ketiduran. Ia terbangun dalam keadaan sedang memeluk buku dongengnya.
Astaga... apa ia mengalami black out? Siapa yang keluar? Astaga...
Glenn langsung duduk di samping kasurnya dan mengambil ponsel. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal.
*Permainan ini hampir selesai. Tampaknya kau akan kalah. Aku berhasil membunuh Putri Tiana. Hanya tersisa 1 korban terakhir. Coba tebak? Alice yang tersesat di negeri dongeng. Kau akan terkejut. Apa kali ini kau bisa mengalahkanku? Peraturannya tetap seperti dulu, jika kau menang menyelamatkan korban terakhir, kau akan tahu siapa aku. Jika kau kalah, kau akan berakhir. Aku tidak akan membunuhmu, lebih dari itu aku akan membuat dirimu tersiksa dan mati perlahan.
-Grimm*
Glenn mengepalkan tangan kirinya kuat-kuat. Rahangnya mengeras. Dengan cepat, bahkan sebelum ia berpikir lebih panjang, ia membalas pesan singkat itu dengan penuh emosi.
Kenapa kamu melakukan ini padaku?
Glenn bodoh. Sudah pasti, Grimm tidak akan pernah menjawabnya. Bodoh. Glenn melempar ponselnya ke lantai. Persetan... ia benar-benar ingin berhenti. Ia hampir gila, putus asa. "RRRGGGHHHHH!!!"
Tangannya gemetaran, ia mencengkram kuat kasurnya. Kepalanya kembali sakit. Ia tahu siapa yang sebentar lagi akan keluar, Marco. Tapi ia berusaha menutup matanya perlahan, mencoba mengendalikan emosinya. Ya, ia harus bisa melawan si brengsek Marco. Tidak boleh black out.
Glenn meraih botol obat di atas nakasnya, membukanya, dan memasukkan beberapa butir ke dalam mulut. Persetan dengan overdosis. Ia ingin semua ini berakhir.
Tok... tok... tok...
"Glenn ini gue... buka Glenn..."
Ah, sial... kenapa harus ke sini sih...
Glenn tak menghiraukan, ia sibuk menahan rasa sakit di kepalanya. Glenn masih mencengkram ujung ranjangnya. Jantungnya mulai berdetak tak beraturan, Marco brengsek, kutuknya di dalam hati.
Leya mulai mengetuk pintu lebih kuat, "Glenn? Lo gak papa kan? Tok... tok... tok... Glenn!" Teriaknya khawatir.
Bagaimana bisa gadis itu masuk ke rumah padahal Glenn sudah mengunci pintu rumah. Ah... iya... Glenn lupa kalau gadis itu memiliki duplikat kunci rumah.
Leya semakin berisik. Ia terdengar khawatir sekali. Glenn terpaksa membuka pintu dengan susah payah. Ia melangkah tertatih-tatih.
Ketika Glenn membuka pintu, wajah Leya terlihat sangat khawatir dan takut. Tanpa banyak bicara, ia langsung memeluk Glemn, "lo di sini dan lo gak papa. Iya, gue pasti salah lihat," katanya memeluk Glenn erat.
Glenn tersentak. Rasa hangat menjalar ke tubuhnya. Nyaman. Pelukan ini... senyaman pelukan Ibu. Selama ini, Glenn tidak pernah merasa senyaman ini ketika dipeluk seseorang, walaupun beberapa kali Leya pernah memeluknya. Mungkin, karena setelah mimpi itu, Glenn jadi teringat lagi bagaimana rasanya dipeluk Ibunya dan... rasanya sama seperti dipeluk Leya. Perlahan namun pasti, sakit kepala yang Glenn rasakan mulai berkurang.
"Gue salah lihat..." gumam Leya masih memeluk Glenn erat.
"Lo ngapain ke sini selarut ini... gak takut-"
"Nggak, gue gak takut. Karena ada hal yang lebih menakutkan dari ini. Yaitu ngeliat lo berubah jadi orang lain yang menakutkan. Dan saat ini, lo gak menakutkan sama sekali."
Glenn tersentak. Kata-kata Leya yang satu ini benar-benar menancap hingga ke jantungnya. Sial...
"Lebih baik lo-"
"Kak Geby... gue gagal nepatin janji gue buat melindungi dia dari Grimm..." Leya mulai menangis, air matanya semakin lama semakin deras, "dan... tadi gue ngeliat hal yang paling menakutkan seumur hidup gue. Lebih menakutkan daripada ngeliat mayat Kak Raya, Kak Ansel, Bu Rika, Kak Alfi, dan Kak Geby. Gue... ngeliat lo... tapi gue yakin gue salah lihat. Pasti gue salah lihat. Lo selalu di dalam kamar ini kan Glenn?" Katanya lagi, masih tak ingin melepaskan pelukannya dari tubuh Glenn.
Glenn terdiam. Tangannya kembali mengepal di samping tubuh, "pergi..." gumamnya, tapi Leya masih bisa mendengar gumaman itu. Leya menggelang masih tak ingin melepaskan pelukannya.
"Pergi..."
"Enggak, lo harus jawab dulu."
"Leya pergi!!!" Ucap Glenn dingin dengan nada tinggi. Leya sempat tersentak, namun ia masih memeluk Glenn. Glenn melepaskan pelukan itu dengan paksa, "gue bilang pergi!!" Kali ini Glenn terlihat marah besar dengan suaranya yang nyaring, menggema di seluruh ruangan. Ia berhasil melepaskan pelukan Leya. Leya menangis.
"Sekarang lo pergi dari sini!" Titah Glemn.
"Nggak, sebelum lo jawab!"
"Iya! Itu gue! Gue yang lo lihat tadi. Puas lo?" Glenn membesarkan matanya marah. Tangannya gemetaran sebelum akhirnya air mata keluar deras, "Gue bahkan gak bisa mengontrol tubuh gue sendiri. Gue gak tahu kapan gue keluar dari kamar ini. Gue gak tahu gue siapa Ya'. Gue kehilangan jati diri. Gue ragu sama diri gue sendiri. Gue gak tahu kalau di dalam tubuh gue ini benar-benar ada monster. Iya! Yang lo lihat itu gue. Lo gak mungkin salah lihat. Itu gue! Gue pembunuh! Itu cukup membuat gue yakin kalau memang ada pembunuh di dalam diri gue. Jadi, lo pergi dari sini sekarang! Jangan pernah lo temuin gue lagi. Karena kapan pun gue bisa bunuh lo."
BUKKK!! Pintu kamar Glenn dihempas tepat di depan wajah Leya. Leya terduduk lemas di depan kamar Glenn, sementara Glenn sendiri terduduk lemas dengan punggung disandarkan pada pintu kamar. Wajah Glenn merah, bukan karena marah tapi karena begitu sedih.
Untuk pertama kalinya, Glenn dan Leya menangis bersamaan. Walaupun Glenn susah payah menahan suaranya. Di luar, tangis Leya terdengar semakin kencang dan menyayat hati.
Satu-satunya hal yang saat ini bisa Glenn lakukan adalah menemui WS, karena gadis itu satu-satunya yang tahu semua ini. Entah bagaimana caranya, yang jelas Glenn harus menemuinya sebelum Glenn pergi menjauh dari sini.
__ADS_1
Satu yang Glenn lupakan. Pertanyaan mengenai siapa Alice, list terakhir dalam daftar korban Grimm.