
"Hah?"
Glenn mengangguk, tersenyum lebar. "Isyarat, bahasa isyarat!" Serunya antusias.
"Hah? Alfi bisa bahasa isyarat? Gimana kalau ternyata lebih simpel dari itu? Misalnya nunjukin identitas kelas? Kelas... 3... apaan sih ini kepalan tangan resek deh."
"Gini. Coba lo pikir, misalnya lo ada di posisi Alfi. Lo kenal pembunuhnya dan lo cuma punya pilihan ngasih clue termudah dengan jari tangan. Lo lebih kepikiran buat ngasih tahu identitas umum kayak misalnya kelas pembunuh, umur pembunuh, dan lainnya atau lo lebih berpikir ngasih inisial nama pembunuh?"
Leya berpikir sebentar. "Iyasih, nama pembunuh. Jadi... ini inisial nama pembunuh?"
"Perkiraan gue begitu. Dan coba lo lihat ini..." Glenn memberikan berkas berisi informasi keluarga Alfi, "Alfi punya Ibu tiri dan Ibu kandung. Ibu kandung Alfi... tuna rungu."
Leya membaca berkas itu, "Astaga gue kelewatan baca ini. Baru baca. Jadi... dia pasti bisa bahasa isyarat kan?"
Glenn mengangguk. "Kepalan tangan seperti ini artinya huruf S. Dan... ini..."
"W atau M?"
"W. Dalam bahasa isyarat, M itu gak kayak gini. Walaupun kalau kita foto, lebih kayak M, kalau dilihat orang awam. Tapi, gue pikir ini W. Alfi udah tewas, otomatis tangannya terkulai kebawah. Jadi bisa aja, melenceng dari yang dia maksudkan. Kalau memang dia mau ngasih tahu ini M, lebih baik dia ngikutin sesuai bahasa isyarat. Di mana M itu seperti kepalan tangan juga, kayak S, tapi jempolnya diselipkan ke dalam 4 jari yang menekuk. Kayak gini." Gleen memperlihatkan foto-foto bahasa isyarat yang ia cari di google menggunakan ponselnya.
Leya mengangguk-angguk paham, "Kok lo tahu beginian sih Glenn?"
"Gak sengaja aja sih dulu baca buku tentang beginian. Penasaran."
"Lo penasarannya baca buku ya. Gue sih kalau penasaran ngestalk instagram hahaha."
"Malah bercanda." Glenn menoyor kepala Leya, tapi ia ikut tertawa pelan walaupun sebenarnya perutnya masih sakit, belum benar-benar pulih.
"Jadi, inisial pembunuh WS atau SW?" Tanya Leya lagi, kembali serius.
"Hmm... ini gue masih belum tahu. Tangan Alfi sedari awal mungkin diikat begini. Gue masih gak bisa memprediksi si Alfi kira-kira sudah memikirkan sudut pandang dari kita saat ngeliat ini atau belum? Kalau dia udah memikirkan sudut pandang dari kita, berarti inisialnya W.S. Tapi, di saat tegang seperti itu, gue pikir dia belum tentu memikirkannya. Sementara ini, gue simpulin W.S. Sementara."
Leya mencatat kesimpulan diskusi hari ini di buku catatan kecilnya. Sementara, Glenn berdiri dan ingin melangkah menuju kamarnya. Leya mengikuti dari belakang.
Hari ini, mereka tak hanya berdua di kamar. Mereka ditemani oleh Bibi Aini, pembantu yang tiba-tiba direkrut oleh Ayah Leya untuk menjaga Leya selama di rumah Glenn. Ya, wajar saja sih. Leya anak perempuan dan Glenn anak laki-laki.
"Neng Leya mau ke mana?" Tanya Bibi Aini.
"Hah? Bentar aja Bi ke kamar. Tenang aja gak ngapa-ngapain kok. Kalau cowok ini mesum, Leya langsung teriak, oke?"
Lagi-lagi Glenn menoyor kepala Leya, "enak aja! Badan lo rata depan belakang kayak triplek, gak bikin nafsu sama sekali. Yang ada lo yang nafsu sama gua." Glenn kembali melangkah naik ke tangga.
"Anjirrrrr." Leya berlari menyusulnya di belakang.
Sesampainya di kamar, Glenn mematikan lampu dan menutup gorden kamarnya. Leya membeku di depan pintu, menaikkan sebelah alisnya.
"Tutup pintunya."
"Heh lo mau ngapain gelap-gelapan begini? Katanya gak mesum?!" Leya langsung berkacak pinggang.
Glenn memutar bola matanya, "Bego dipelihara." Ia mengambil buku catatan Adela dari laci meja belajarnya dan membawa polpen yang ujungnya memiliki sinar UV, "Lo tahukan mainan anak jaman dulu? Polpen invisible? Nah, kalau dalam keadaan terang gak akan jelas keliatan."
Leya nyengir lebar sambil membulatkan mulutnya, berkata O panjang.
Glenn duduk bersila di lantai, Leya menyusulnya setelah menutup pintu. Glenn kemudian mengarahkan sinar UV ke buku Adela.
"Wih keren. Pinter ya Adela. Tapi masa segitunya sih nulis pake polpen invisible segala? Kayak takut dibaca?"
"Iya dia pinter gak kayak lo teledor."
Leya hanya memajukan bibirnya kesal.
"Oke, gue sempat baca halaman-halaman awal itu gak terlalu penting karena kunci dari buku ini dan akhir hidup Adela ada di tahun 2013 sampai 2014, dimana dia kelas 2 SMP menuju kelas 3 SMP. Puncak stressnya Adela. Lo bacain gue ya. Gue sakit mata baca gelap begini."
"Terus lo nyuruh gue baca biar sakit matanya ke gue aja? Resek kan..."
"Cepetan."
"Iya iya ishh."
Leya mengerutkan keningnya, "Dia gak nulis bulan bahkan tanggal? Cuma hari dan tahun? Kenapa ya? Itu aneh..."
"Itu ciri khas dia. Dari sini aja kita udah bisa ngerasa kalau dia misterius. Tapi tanggal gak penting, untuk saat ini. Lebih penting isinya kan? Fokus ke isinya."
"Hmm oke oke."
*Minggu, 2009
Aku sedang membaca buku di toko buku. Pukul 1 siang. Buku Inferno menarik perhatianku. Aku benar-benar terlalu fokus membaca buku tanpa plastik itu. Sepertinya, aku akan membeli buku ini. Robert Langdon benar-benar jenius! Oh, tidak, yang jenius adalah Dan Brown, pencipta karakter itu.
Aku tidak memperhatikan daerah sekitarku, namun fokusku terpotong ketika seseorang menyenggol tubuhku. Aku menengadah, melihat tubuh laki-laki jangkung itu. Dia tersenyum sedikit dan berkata, "maaf, permisi saya mau ambil buku yang ini," tunjuknya ke deretan buku Inferno. Aku sepertinya menghalangi dia. Aku hanya diam dan mengangguk, kemudian kembali membaca buku itu. Sebenarnya, aku sedikit terkejut. Aku pikir dia perempuan, ternyata laki-laki.
"Suka Inferno? Saya tebak mbak ini masih kelas 2 SMP. Tapi itu menarik, karena kebanyakan perempuan seumuran mbak lebih menyukai novel romansa."
Dia tahu aku kelas 2 SMP, sedetail itu, tapi tetap memanggil bocah ingusan sepertiku dengan sebutan, 'mbak'. Itu menyebalkan.
"Kamu tahu aku masih kelas 2 SMP tapi kamu manggil aku Mbak?"
"Karena Mbak lebih tua dibanding saya," katanya tersenyum ramah. "Hmm aneh... biasanya, anak-anak lain akan bertanya 'kamu tahu darimana?' Tapi kamu berbeda."
Aku sebenarnya malas berkenalan dengan orang asing. Tapi, aku juga tidak tahu kenapa aku bisa terus berbicara dengannya, "karena saya gak peduli."
Orang bilang, aku berbeda dengan anak lainnya. Tapi, aku tidak peduli.
"Saya Geri Marco Maldivani. Salam kenal," katanya tersenyum ramah ingin menjabat tanganku.
Aku paling malas diajak berkenalan seperti ini, "Adela," jawabku singkat, tidak meraih tangannya.
Aku melihatnya sekilas. Hidung runcing, alis tebal, tatapan mata yang tajam. Dia jelas tampan dengan rahangnya yang terlihat kokoh, tapi aku tidak begitu memedulikan laki-laki.
"Maaf, saya pulang duluan," kataku.
"Hmm baiklah, semoga di hari Senin kita bertemu lagi."
Aku pergi meninggalkan dia yang masih berdiri di depan rak buku.
Aku pulang ke rumah. Seperti biasa, Ibuku sedang menonton TV di ruang tamu. Aku tak hanya membawa buku Inferno, tapi juga membawa belanjaan untuk makan malam.
__ADS_1
"Darimana?" Tanya Ibuku dingin.
"Belanja buat makan malam, Bu," jawabku lembut sambil tersenyum.
Ia berdiri dari tempatnya duduk, aku menyembunyikan buku Infernoku dibelakang tubuh. Aku takut bila Ibu marah. Walaupun, aku membeli buku ini dengan uang tabunganku sendiri.
Ibu mengecek kantung belanjaanku. Aku menunduk takut, tapi masih berusaha tersenyum.
BUKKK! Ibu menghempas seluruh belanjaanku.
"BELANJAAN APA INI?! IBU KAN SURUH KAMU BELI IKAN SALMON SEGAR! BUKAN IKAN KALENG!!"
Ibu menarik rambutku hingga aku menengadah dan bertemu dengan matanya, "u-uangnya gak cukup Bu..."
PLAKK!!
Pipiku memanas sehabis ditampar keras. Aku menunduk lagi, menangis.
"Gak cukup?! BOHONG!!!" Pekiknya. Ia menedang kantong belanjaanku hingga isinya berhamburan di lantai. "Kamu gak boleh makan malam sebelum ada ikan salmon malam ini. Titik!"
Aku diam, memegang erat buku Inferno ku.
"Itu apa yang ada di belakangmu?" Ibu ku menarik paksa buku itu, "PANTAS AJA GAK CUKUP!! KAMU PAKE UANGNYA UNTUK BELI BUKU KAN?!"
"Eng-enggak Bu... itu uang tabungan Adela."
"BOHONG!!! IBU GAK MAU TAHU. KEMBALIKAN BUKU INI KE TOKO, DAN BELI IKAN SALMON SEKARANG!!!" Ibu menyerat tanganku hingga ke luar rumah. Kemudian, menutup pintu dengan kencang. Berapa kalipun aku mengetuk pintu dan meminta maaf, Ibu tidak akan pernah membukanya. Aku harus melakukan permintaan Ibu.
Dengan rasa pesimisku yang besar dan wajahku yang berantakan, aku kembali ke toko buku, ingin mengembalikan buku itu. Tapi, tentu saja itu tidak bisa dilakukan. Mereka tidak mau. Lagipula, plastiknya sedikit robek ketika Ibu rebut dari tanganku. Aku berjalan keluar dari toko buku, bingung bagaimana caranya aku membeli salmon tanpa uang sepeser pun?
"Loh? Balik lagi?"
Aku menengadah, kuhapus air mataku. Itu dia, laki-laki bernama Geri yabg baru kukenal. Sepertinya dia baru saja ingin pulang dari toko buku. "Beli buku lagi?"
Mataku sembab, aku menunduk tapi tidak menjawabnya.
"Habis dimarahin ya gara-gara beli buku?"
Aku menengadah, "tahu darimana?"
Dia hanya tersenyum misterius, "sini aku beli bukunya."
"Hah?"
Dia menarik bukuku, kemudian memberikan 3 lembar uang 100 ribu. "Ini kelebihan uangnya."
"Gak papa. Ambil aja angsulnya."
"Aku gak butuh belas kasi-"
Belum selesai aku bicara, dia sudah pergi duluan membelakangiku. Dia menoleh ke arah belakang sebentar sambil tersenyum lebar, "anggap saja karena kamu mau berteman dengan saya!"
Aku menunduk, menatap 3 lembar uang 100 ribu itu. Dari situ aku merasa bahwa pertemuan kita tak hanya hari ini.*
"Panjang juga ya... dia ceritain sangat detail. Tapi untuk cerita sedetail ini, mungkin dia punya karakter perfectionist. Sedikit berlawanan dengan cara dia menulis identitas buku hariannya. Tanpa tanggal dan bulan. Itu aneh. Dan dia sangat dewasa. Cara dia menulis buku hariannya beda dengan anak-anak SMP alay kebanyakan. Dia bahkan baku. Pasti karena banyak baca buku. Kayaknya Adela ini pinter deh," cerocos Leya.
"Karena kebetulan?"
"Gue pikir bukan kebetulan. Coba lo baca ini."
Glenn membalik ke lembar berikutnya. Ia langsung mengarahkan pada satu kalimat menarik yang ditulis Adela.
"Kamu pasti di kelas 2 A, sekarang mau ke ruang musik ya?" Sapa Geri setelah keluar dari kelas. Dia membuntutiku dari belakang.
Leya mengerutkan alisnya, "kalau gue jadi Adela, gue ngerasa serem karena cowok ini bisa nebak apapun yang Adela mau lakuin. Menakutkan gak sih?"
"Hari Senin, Geri jadi murid baru di kelas yang berbeda dengan Adela. Menurut gue, ini bukan sebuah kebetulan dia bisa menebak apa yang selanjutnya mau Adela lakuin. Cowok ini bukan cowok biasa. Dia luar biasa. Daya analisanya kuat, dia jenius. Dia bisa memperkirakan pergerakan orang lain selanjutnya dalam sekali lihat. Dan perkiraannya juga sangat akurat."
"Kok lo bisa berpikiran sampai ke sana sih Glenn?"
Glenn memperlihatkan kalimat menarik lagi tentang Geri.
*"Sini, aku bantuin bawa ke meja Bu Neni," kata dia saat melihat tumpukan buku di atas mejaku. Aku bahkan tidak cerita sedikitpun ke dia kalau buku ini mau aku bawa pergi, apalagi mau aku taruh ke meja Bu Neni. Tapi, sebelum aku bilang apapun, dia sudah tahu.
Bahkan ketika aku menangis, dia tahu aku sehabis disiksa Ibuku. Tapi, dia tidak bertanya lebih lanjut. Aku cukup bahagia bisa mengenal orang yang tahu sesuatu tanpa perlu repot-repot kuceritakan. Aku justru butuh sahabat sepertinya. Dia mengerti semua tentangku.*
"Mungkin dia tahu kalau buku itu buku milik Bu Neni atau buku mata pelajaran yang diajar Bu Neni itu?" Kata Leya menerka-nerka.
"Kalau anak laki-laki awam, terutama yang masih kelas 2 menjelang kelas 3 SMP seperti dia, gak akan nyampe pikirannya ke sana. Pasti tetep bakal nanya 'buku ini mau dibawa kemana?' Walaupun tahu itu buku mata pelajaran Bu Neni, karena ragu siapa tahu ditaruhnya hanya di depan kelas, atau bisa saja takut ditaruh ke meja guru lain untuk dititipkan. Intinya masih ragu, gak akan seyakin itu. Dan lo bisa lihat ini..."
*Aku gak menyangka sama sekali kalau dia tahu siapa yang merobek buku tugasku. Katanya Alfi. Aku tanya apa dia melihatnya sendiri? Tapi dia bilang seperti ini
"Nggak, aku nggak lihat. Aku hanya tahu dari gerak-gerik Alfi setelah dia berpapasan denganmu tadi."
Alfi bahkan tidak mengenal Geri. Di sekolah, Geri hanya dekat denganku. Dia berbeda dengan anak-anak lain. Dia bisa tersenyum bersamaku, tapi wajahnya berubah dingin dan bahkan tertutup bersama orang lain. Cukup berbanding terbalik dengan karakternya yang ceria di dekatku. Dia jarang masuk sekolah, tapi dia berkata bisa mengingat semua pelajaran yang pernah dilihatnya. Dia juga bisa mengetahui karakter orang lain hanya dengan melihat cara orang tersebut makan, bahkan berjalan.
Aku tidak pernah bercerita bahwa Alfi dan Geby suka mengerjaiku dengan sangat keterlaluan di sekolah, karena Geby menyukai Raya yang sebenarnya menyukaiku. Aku sendiri tidak tahu kalau Raya menyukaiku. Tapi, dia tahu sendiri. Itulah sebabnya dia membenci Alfi dan Geby. Dia benar-benar misterius. Saat dia kebetulan masuk sekolah (tidak membolos), dia berkata hari ini, kemungkinan nanti sore, Alfi dan Geby akan 'menyiksaku' lagi di ruang musik, jadi aku harus pulang lebih cepat.
Dan perkiraannya benar! Alfi dan Geby mencariku, untungnya aku sudah berada di dalam angkot ketika Alfi melihatku.
Geri luar biasa!*
"Anjirrrr ini cowok creepy as hell! Gue merinding. Dia kayak cenayang. Apa dia punya mata batin ya? Ini gak masuk akal!"
"Udah gue bilang, analisanya kuat. Lo baca kan kalau dia bahkan tahu karakter hanya lewat gerak-gerik, cara makan, dan cara melangkah seseorang? Dia suka memperhatikan orang dan menganalisis orang. Sementara perkiraannya soal sore itu, mungkin karena ini pernah terjadi sebelumnya dan walaupun Adela gak menceritakan itu, dia bisa tahu ketika Adela menangis setelah pulang sekolah. Ditambah lagi, mungkin saat istirahat si Alfi dan Geby mengawasi Adela terus. Itu juga kemungkinan yang bisa gue simpulkan. Intinya, dia luar biasa. Anak-anak dengan kemampuan seperti ini sangat langka."
"Dia pasti Grimm! Itulah sebabnya kenapa kita gak pernah bisa menangkap Grimm, karena Grimm tahu gerak-gerik kita dan dia tahu gimana pergerakan kita selanjutnya. Dia seakan-akan bisa memprediksi masa depan! Ini gila!!" Leya tak bisa menutupi keterkejutannya. Kalau Geri memang Grimm, ia akan sangat sulit dikalahkan. Karena, Geri bahkan jauh lebih jenius dari Glenn. Glenn tidak bisa sampai menganalisa karakter orang seakurat itu.
"Kita harus cari dia di buku tahunan SMP Juara," kata Glenn mantap dan bersemangat.
Leya mengangguk antusias.
Walaupun Grimm jenius, dia tetaplah manusia. Suaru saat, mungkin ia akan melakukan kesalahan. Contohnya adalah buku ini. Ini adalah kesalahan fatal.
Tapi, kenapa kemarin ia berkata tidak membutuhkan buku catatan itu lagi?
__ADS_1
Leya dan Glenn baru saja pulang dari perpustakaan SMP Juara. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mencari sosok Geri. Di buku tahunan itu memang terdapat nama Geri, namun tak ada fotonya sama sekali. Berlubang. Foto perorangan bernama Geri Marco Maldivani bahkan telah dilubangi dan foto bersama teman-teman juga sudah digunting rapi.
Pantas saja Grimm sudah tidak memerlukan buku catatan Adela, ia sendiri sudah melubangi foto-foto itu.
"Dia 2 langkah lebih cepat dari kita. Dia benar-benar sudah bisa memprediksikan pergerakan kita lebih dulu Gleen. Astaga, dia gila!" Leya menggelengkan kepalanya tak habis pikir.
"Kita harus bisa 2 langkah lebih cepat lagi. Setidaknya, kita tahu bahwa dia bisa memprediksi gerakan. Maka, sekarang yang harus kita lakukan adalah membuat pergerakan kita tidak terprediksi."
"Caranya?"
"Berpikir *out of the box* dan tidak terencana, fleksibel, dan spontan. Dia mungkin bisa berpikiran *out of the box,* tapi semuanya terencana," Glenn menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tengah, "dan itu kekurangan gue. Gue gak bisa spontan. Tapi lo bisa."
Leya duduk di samping Glenn, "gue?" Tanyanya bingung.
Glenn mengangguk.
Leya diam sebentar, "WS bukan inisial Geri. Atau Geri ganti nama?"
"WS itu inisial pembantu Grimm. Dia cewek. Gue nemuin dia sendiri dan gue bisa menjamin kalau dia cewek. Itu kelemahan Grimm saat ini." Glenn menutup matanya lelah. Ia memang lelah, tapi bekerja seperti ini menurutnya sangat menyenangkan.
"Apa dia sejenius Grimm?"
"Ntahlah."
"Dia mungkin bisa melakukan kesalahan. Lo denger kan interview Geby? Dia pulang 10.25. Terus jam 10.20 dia nelpon Alfi. Gimana kalau ternyata yang nelpon Alfi itu bukan Geby? Gimana kalau itu pembantu Grimm? Dia kan pasti ngancam Alfi biar Alfi bisa keluar dari rumah. Dan ubtuk membuat Alfi percaya, dia bisa ngelakuin video call."
"Artinya, pukul 10.20 pembantu Grimm sudah ada di dekat rumah Geby!" Glenn menegakkan tubuhnya kemudian menepuk lembut puncak kepala Leya, "bagus Ya' lo hebat. Sekarang kita harus kesana. Semoga, Grimm belum memprediksi hal ini."
"Nanyain orang-orang disitu?"
"Iya, dan ngecek CCTV jalan. Karena gue tahu, Geby tinggal di perumahan sangat elit. Jadi jalan di kompleknya juga dilengkapi CCTV. Pak Rasyid ngomong ke gue tadi malam."
"Sekarang nih ke sana?"
Glenb berpikir sebentar, "Kayaknya gue minta pak Rasyid ambil salinan CCTV nya aja. Perut gue masih sakit dibawa jalan-jalan atau lari-lari."
"Yaudah deh."
Tiba-tiba telepon Leya berdering. Panggilan dari Rosa.
"Iya, kenapa Ros?"
"*Gue udah di depan rumah Gleen nih. Lo keluar coba?"*
"HAH?!"
Leya berlari keluar rumah. Bodoh, seharusnya ia diam saja dan berkata bahwa ia bukan di rumah Glenn. Tapi, tentu saja karena terlalu terkejut, akhirnya ia bertindak gegabah.
Dari sini, terlihat Rosa melambaikan tangannya ketika mobilnya terparkir di depan pagar rumah Glenn. Rosa menyembulkan kepalanya melewati kaca mobil, "Woy bukain!"
"Astaga..."
Dari mana Rosa tahu alamat rumah Glenn?
__ADS_1