Once Upon a Time

Once Upon a Time
Tinkerbell dan Kapten Hook


__ADS_3

"Kamu... pasti lupa sama aku kan?" ujarnya tersenyum miring.


Leya dan Glenn menaikkan alisnya bersamaan. Siapa dia?


"Gue?" Tunjuk Glenn pada dirinya sendiri. Lagi-lagi Belvina tersenyum miring. Ia menatap badge nama yang tertempel pada dada kanan Glenn, seketika senyum miringnya hilang.


"Lepasin!" titah Belvina.


"Lo kenal gue? Kita pernah ketemu?" Glenn masih tak ingin melepaskan cengkraman tangan Belvina. Tidak mungkin ia melepaskan tangan gadis itu sebelum ia tahu apa maksud sang gadis.


Belvina membuang muka, pipinya bersemu merah, "Sorry. Aku salah orang." Ia pun menunduk.


Leya hanya memperhatikan mereka berdua sambil bertanya-tanya. Ada apa dengan mereka? Terutama dengan Belvina. Kenapa gadis itu misterius sekali? Kemarin ia memperhatikan Leya terang-terangan, hari ini ia mengaku kenal Glenn yang tidak mengenalnya.


"Salah orang? Dari cara lo natap gue jelas-jelas lo kenal gue. Maaf kalau gue lupa sama lo." Terdengar nada bersalah dari Glenn.


"Gue bilang bukan lo! Lepas!" Glenn bingung. Kenapa gadis itu semarah ini? Bukankah Glenn yang seharusnya marah?


Belvina melepas cengkraman tangan Glenn dengan paksa. Kemudian, ia menangis sambil berlari. Kenapa dia menangis? Apa dicengkram seperti itu termasuk memperlakukan kasar? Iya, memang. Tapi, maksudnya Belvina tidak seharusnya menangis seperti itu. Ada apa dengan gadis itu? Aneh.


Glenn menatap punggung Belvina yang lama kelamaan menghilang dengan tatapan bingung. "Dia emang gitu ya orangnya?" tanya Gleen pada Leya akhirnya.


"Sumpah gue gak tahu dia Glenn. Gue waktu itu cuma liat badge namanya aja. Asli. Gue tahu hampir semua kakak kelas kita. Kalaupun gue gak tahu nama, seenggaknya gue pernah liat wajah mereka semua satu per satu. Nah, Belvina ini asli gue gak pernah liat mukanya sama sekali."


Glenn menautkan alisnya berpikir. Sebenarnya, tingkah Belvina itu mencurigakan. Mungkin Glenn harus meminta Leya menyelidiki Belvina itu.


"Dia seangkatan sama kita?"


"Kayaknya sih Kakak kelas. Gak tahu juga." Leya mengedikkan bahunya, "Seragam putihnya udah mulai usang. Gak sebaru seragam kita. Ada 2 kemungkinan. Pertama, dia kakak kelas. Kedua, bajunya di kasih orang lain." Wajah Leya begitu serius seperti sedang berfikir. Namun, bagi Glenn terlihat lucu. Glenn terkekeh sendiri.


"Gak cocok," ujar Glenn singkat.


"Apanya?" Leya menaikkan sebelah alisnya.


"Gak papa. Udah ayo ke kantin tanyain Bi Ijem," kata Glenn sambil berjalan mendahului Leya.


Leya mengangguk, kemudian menyusul Glenn.


 


"Bi Ijem, aku pesen nasi pecel sama es jeruk. Terus dia pesen nasi pecel sama jus alpukat ya Bi!" kata Leya bersemangat.



Bi Ijem tersenyum dan segera menyiapkan makanannya. Kesempatan Leya mengobrol adalah ketika Bi Ijem meng-ulek bumbu kacang nasi pecel. Itulah sebabnya Leya sengaja memesan nasi pecel agar waktu mengobrol lebih panjang.



"Tumben Neng gak sama Neng Rosa. Malah sama cowok ganteng. Pacar baru Neng?" tanya Bi Ijem senyum-senyum dengan tatapan jahil.



Leya jadi salah tingkah, sementara Glenn di sampingnya hanya berwajah datar tak mengeluarkan kata-kata sama sekali. Persis seperti patung.



"Ah-anu Bi-"



"Bukan apa-apa Bi. Kebetulan sekelas. Jadi kenal. Dan kebetulan sama-sama ketemu di sini." Glenn berbicara dengan mulus tanpa hambatan. Leya sedikit bernafas lega, karena bisa saja Leya keceplosan dan berkata bahwa mereka akrab. Bisa bahaya. Mulut Bi Ijem suka tidak terkontrol dan mungkin saja satu gossip tersebar hingga ke penjuru sekolah besok.



"Oh begitu." Bi Ijem manggut-manggut kecewa.



"Bi, emang Kak Alfi sama Kak Geby sering bolos di sini ya Bi?" tanya Leya memulai obrolan. Leya memang paling jago mengajak mengobrol tanpa perlu dicurigai. Kali ini, Glenn yang bernapas lega. Karena sebenarnya, daritadi ia memikirkan cara membuka obrolan ini dengan tepat tanpa harus dicurigai.



"Ehm... jarang sih Neng. Biasanya kalau bolos di warung Bi Inah. Tapi, hari Rabu itu beda Neng, mereka bolosnya di sini. Gak tahu kenapa. Tumben aja sih."



Baiklah, hari Rabu adalah hari kematian Raya. Leya menoleh ke arah Glemn. Glenn mengangguk seakan mengerti apa yang ingin Leya katakan hanya dari mata gadis itu. Glenn menatap sekeliling. Ia menemukan satu fakta yang akan ia katakan pada Leya nanti. Bagus. Bi Ijem berbicara banyak tanpa harus ditanya detailnya.



"Ada yang aneh gak sih sebelum dia kesini Bi? Atau mungkin Bibi ingat gak jam berapa mereka kesini?" Kali ini Glenn yang bertanya. Tentu saja ia tak sabar.



"Jam 2 mereka kesini. Terus kalau gak salah sekitar jam set 4-an gitu, Bibi gak tahu pastinya, Neng Geby pergi. Bibi gak tahu lebih tepatnya, gak perhatikan. Tapi kembali lagi. Bibi liat muka Neng Geby pas kembali itu pucat sekali sampai berkeringat. Dia langsung berbisik-bisik dengan Mas Alfi."



"Oh gitu ya Bi. Terus Bibi ada liat orang lagi gak selain mereka berdua?" Tanya Leya.



"Ehm... gak ada."



Lewat mana penjahat itu keluar dari sekolah setelah membunuh? Belakang sekolah? Atau bagaimana? Atau memang para pembolos itu?



"Nih Neng, Mas, udah selesai. Selamat menikmati ya ntar balik beli lagi," kata Bi Ijem terkekeh.



Mereka langsung mengambil nasi pecel itu dan membayar serta segera mencari tempat duduk. Glenn makan tanpa bersuara, sementara Leya makan sambil memperhatikan Gleen. Mereka duduk berhadapan.



"Kenapa?" Tanya Glenn tanpa memandang Leya.


__ADS_1


Leya menggeleng, "Enggak kok gak papa. Ehm itu-"



"Ntar aja bahasnya. Jangan di sini."



Leya mengangguk. Kali ini pandangannya teralih pada nasi pecel di depannya. Entah kenapa, nafsu makannya jadi berkurang karena terlalu banyak memikirkan kasus ini.



"Makan yang banyak. Kasih makan otak lo biar makin cepat mikir."



Leya tersenyum dan mengangguk. Sebisa mungkin ia menghabiskan makanan yang terasa hambar ini. Tiba-tiba, Glenn mengalihkan pandangannya dan menatap Leya begitu lama. Leya bingung sekaligus salah tingkah. Mata gelap Glenn terlihat jelas, begitu dingin, namun... memeesona. Cepat-cepat Leya menghapus pikiran anehnya.



"Ada apa--"



Leya belum menyelesaikan ucapannya, namun Glenn sudah beranjak dari tempat duduknya dan berlari kencang meninggalkan Leya. Leya mengalihkan pandangannya ke arah belakang tubuhnya. Ia baru menyadari, sedari tadi yang Glenn lihat bukan dirinya, melainkan orang lain. Lantas, Leya juga berlari kencang mengekori Glenn.



Glenn sedang mengejar seseorang berjaket hitam dan bercelana abu-abu. Leya tak bisa lebih kencang lagi berlari, sementara Glenn telah jauh di depan sana. Leya berhenti sebentar, mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Semua orang memperhatikan mereka dan kali ini ada beberapa wartawan yang menghampiri Leya, membuat Leya kesulitan mengejar Gleen kembali.



"Mbak murid di sini ya? Apa benar ada korban baru?"



"Bagaimana kejadiannya?"



"Katanya korban ditemukan pagi ini, apa mbak sempat melihat kondisinya?"



Dan masih banyak pertanyaan lain yang tak bisa Leya dengar dengan jelas karena terlalu banyak. Leya menarik nafasnya lelah. Ah sialan, baru sedikit berlari sudah kelelahan. Leya memang benci berlari. Ditambah lagi dengan kondisinya yang tidak baik. Perutnya tiba-tiba mual.



Leya mengepalkan tangannya dan keluar dari kerumunan wartawan tanpa memberikan penjelasan apapun. Sepertinya ia kehilangan jejak dari Glenn. Atau apakah mereka sedang berada di belakang sekolah? Ada baiknya Leya mengecek ke sana.



Leya kembali berlari menuju belakang sekolah, dan memang benar ada Glenn dan laki-laki berjaket hitam itu di sana. Terlihat Glenn yang menarik kerah baju laki-laki yang kepalanya ditutupi penutup jaket. Leya tak bisa melihat wajah laki-laki itu dari samping dengan jelas. Glenn mengalihkan pandangannya ke Leya, "Ya', ini Alfi?" tanya Glenn yang kali ini membalik wajah dan tubuh laki-laki itu dengan paksa menghadap Leya.



Leya menatap wajah laki-laki itu dengan seksama, kemudian mengangguk. Iya, benar. Itu Alfi. Kenapa Glenn mengejar Alfi? Apa ada pergerakan mencurigakan?




Alfi diam saja, tidak membuka mulutnya sama sekali. Ia bahkan tersenyum miring. Wajahnya sudah tampak babak belur, jelas Glenn sudah melayangkan tinjuan padanya.



"Ya' cek kameranya," titah Glenn.



Leya mengangguk dan mengecek isi kameranya. Semua isi kamera tersebut adalah wajah Leya dan Glenn di segala sisi. Saat Leya dan Glenn makan di kantin, berjalan bersamaan, saat Glenn membonceng Leya, dan masih banyak lagi.



Leya mengerutkan alisnya, "Kenapa Kakak fotoin kita?" Leya memandang Alfi. Alfi hanya tertawa kaku.



"Kenapa?!" Wajah Glenn terlihat begitu dingin. Semarah apapun, ia tetap terlihat sangat tenang, walaupun nada bicaranya mulai meninggi.



"Siapa yang nyuruh lo? Kenapa lo ambil foto kita?" tanya Glenn sekali lagi. Namun Alfi tetap bungkam.



Bukk!! Gleen melayangkan sebuah tinjuan keras hingga sudut bibir Alfi berdarah.



Alfi menghapus sudut bibirnya sambil tertawa. Anehnya, Alfi sama sekali tidak melakukan perlawanan. Bukankah dia salah satu preman sekolah? Suka berkelahi? Kenapa dia tidak melakukan perlawanan sama sekali?



"Glenn! Apa yang kamu lakukan?" Glenn dan Leya menoleh bersamaan ke sumber suara. Sudah terlihat Bu Dini dan Geby di sana. Geby tersenyum miring.



Sialan. Ini jebakan!



 


"Kamu baru saja beberapa hari di sini, dan sekarang kamu sudah berani memukuli kakak kelasmu sendiri. Ada apa denganmu Glenn?" Bu Dini menatap tajam Glenn, sementara Glenn hanya bisa diam dan menghela nafasnya.


"Glenn, Ibu bisa memberikan hukuman skors padamu." Glenn tetap bungkam.


"Bu, kami dijebak!" Kali ini Leya lah yang angkat bicara. Ia benar-benar tidak terima bila Glenn mendapatkan hukuman yang tidak seharusnya. Walaupun, Leya sedikit mengakui bahwa kali ini Glenn terlalu gegabah dalam menghadapi Alfi, dan itu salah.


"Leya! Diam. Ibu sedang berbicara dengan Glenn, bukan kamu. Dan kamu, kenapa malah membantu Glenn? Ibu kecewa padamu."

__ADS_1


Leya menundukkan kepalanya. Sialan, pasti ini ide Geby.


Bu Dini menghela napasnya, "Baiklah. Kali ini kalian Ibu maafkan. Anggap saja Ibu tidak melihatnya. Ibu sudah terlalu pusing dengan semua kejadian di sekolah ini dan Ibu tidak punya waktu untuk mengurus kalian. Sekarang, kalian minta maaf pada Alfi dan keluar dari sini."


"Bu, tapi saya dan Glenn--"


Glenn langsung menahan Leya, menggenggam tangan Leya hingga Leya tak bisa meneruskan ucapannya, "Iya Bu, kami akan meminta maaf pada Kak Alfi."


Leya memelototkan matanya tak terima, namun Glenn sudah menarik Leya keluar dari ruangan Bu Dini. Leya pun menghempaskan genggaman tangan Glen.


"Lo apaan sih Glenn? Udah jelas Kak Alfi-"


"Gue yang salah Ya'. Harusnya gue jangan gegabah. Kita jangan sampai bermasalah, bakal susah buat nyelidikin semuanya di sekolah."


"Iya, harusnya lo berdua jangan gegabah. Kalau perlu kalian berdua gak usah deh sok-sokan jadi detektif." Leya dan Glenn menoleh bersamaan, ada Geby yang melipat kedua tangannya di depan dada bersama dengan Alfi yang tersenyum miring di sampingnya.


"Kalian yang bikin Ansel mati. Ini karena kalian terlalu ikut campur ngurusin Raya. Seharusnya, kalian gak usah sok. Atau kalian yang bunuh Raya dan Ansel terus sok-sokan nyelidikin sesuatu biar gak dicurigain?" Kali ini, Alfi yang angkat bicara.


"Heh, kalau ngomong tuh pakai bukti, jangan asal nuduh. Malah, kayaknya kalian yang lebih dicurigain buat bunuh Kak Raya dan Kak Ansel." Leya menaikkan dagunya, menantang. Ia menatap tajam Alfi dan Geby sekaligus, sementara Glenn berusaha menahan Leya.


"Kenapa kalian ngambil foto kami hah?!" Leya meninggikan nada suaranya seperti siap berperang. Ia memang benar-benar tidak suka pada Alfi dan Geby.


"Kenapa? Ya jelas lah kita ngawasin gerak-gerik lo berdua. Lo berdua itu mencurigakan. Bisa aja selanjutnya ada korban lagi gara-gara kalian." Geby memain-mainkan rambutnya dengan gaya super centil yang menyebalkan. Rasanya, Leya ingin menjambak rambut gadis itu.


"Udah Ya'...," Glenn berusaha menengahi, "kalau lo ngelawan mereka, lo sama aja kayak mereka. Berotak kosong, ngomongnya gak bermutu."


Geby melotot, ia segera mendekati Glenn, "heh Glenn! Gue tahu kalau lo yang ada di balik ini semua. Lo itu psikopat! Sakit jiwa! Dibalik muka lo yang sok tenang itu, gue yakin lo picik." Geby menunjuk Glenn dengan telinjuknya dan tatapan membunuh, kemudian ia mengalihkan pandangannya ke Leya, "Ya', semoga lo gak nyesal udah berteman sama psikopat kayak dia. Atau lo yang bantuin dia? Entahlah, gak ada yang tau. But for sure, we're always watchin' you guys."


Rupanya, selama ini Geby dan Alfi selalu memperhatikan Leya dan Glenn, hingga mereka tahu kalau Leya dan Glenn sebenarnya akrab, bahkan 'partner kerja'. Geby dan Alfi bahkan tahu kalau mereka sedang melakukan penyelidikan.


Sial. Glenn mengumpat dalam hati. Ia terlalu fokus dengan kasus dan malah bertindak bodoh. Ia melakukan kesalahan hingga orang lain tahu kalau ia sedang menyelidiki sesuatu. Tenang... tenang...


"Lo berdua kebanyakan nonton film. Kita cuma remaja yang kepo sama kematian Kak Raya dan Kak Ansel. Emang salah ya kalau kepo?" Balas Leya.


"Kepo? Hahahaa gue gak yakin sih kalau kalian berdua sekedar kepo," Alfi melangkah mendekati Leya, "entah lo yang membunuh mereka, atau lo yang bakal jadi korban di sini. Let's see," bisik Alfi di telinga Leya. Setelah itu Alfi dan Geby melangkah meninggalkan Leya dan Gleen.


"Kita harus bener-bener nyari bukti yang banyak Glenn. Mungkin Geby sama Alfi yang bunuh!" ujar Leya geram.


Glenn menjitak kepala Leya dengan ekspresi wajah datarnya, "Jangan gegabah! Tenang. Kerjaan kita masih banyak. Kita harus ikut wawancara anak OSIS dan dengerin wawancaranya Geby kemarin. Gue berniat menambah sesi wawancara sama Geby dan Alfi terkait ucapan Bi Ijem tadi. Dan sekarang, gue mau ke ruang Kepala Sekolah dulu buat ngajuin permohonan pemasangan CCTV. Sesi wawancara sementara lo ambil alih dulu ya bentar."


Leya mengerucutkan bibirnya cemberut sambil memusut-musut kepalanya yang sakit sehabis dijitak Glenn, "Gimana coba caranya gue ambil alih sesi wawancara? Yang ada mah gue dicurigain."


"Lo pake handphone gue. Pak Rasyid udah gue kasih tahu kok." Glenn menepuk bahu Leya, "gue percaya sama lo Ya'. Setelah ini kita bicarain di rumah."


Leya mengangguk paham.




Leya melangkah menuju ruangan BK, tempat dilaksanakannya wawancara anak-anak OSIS. Tak sengaja ia melewati kelas Ansel. Di ambang pintu kelas telah tergantung police line berwarna kuning. Semua murid kelas XII IPA 1 terpaksa belajar di aula sekolah karena kelas mereka dijadikan tempat olah TKP. Terlihat beberapa polisi di dalam kelas itu memeriksa kelas, mencari barang bukti dan ada beberapa tim forensik yang masih berada di sana untuk mengambil sampel darah maupun sisa muntahan korban.



Leya menghela napasnya. Sekolahnya tak bisa menjadi tempat aman lagi untuk belajar. Bahkan ada beberapa siswa yang takut dan meminta pindah dari sekolah. Guru-guru juga sebenarnya merasa takut dan panik, namun Kepala Sekolah selalu mengimbau agar semuanya tenang sementara polisi masih berusaha melakukan penyelidikan.



Persetan dengan psikopat itu. Go to the hell! Apa maunya? Melemparkan ketakutan pada seluruh siswa? Apa latar belakang ia membunuh Raya dan Ansel? Leya bersumpah akan memukul pembunuh itu hingga sekarat bila ia telah bertemu dengan sang pembunuh. Tapi, Leya tahu tak akan semudah itu.



Leya kembali melanjutkan langkah kakinya ke ruang BK, langkah kakinya terhenti ketika seseorang tersenyum dan menghampirinya. Chandra. Satu-satunya pemegang kunci gerbang sekolah. Apa laki-laki ini juga patut dicurigai? Tentu saja. Walaupun dia bukan perempuan--karena suara telepon yang diduga pembunuh itu adalah perempuan--tetap saja ada kemungkinan dia membantu pembunuh.



"Hai Leya! Kok kayaknya gue jarang liat lo?"



Leya berlalu begitu saja, ia malas menghadapi Chandra, terlebih terhadap apa yang Chandra lakukan padanya beberapa hari yang lalu. Menganggap remeh Leya.



Chandra kemudian menggenggam tangan Leya, "Ya' maafin gue waktu itu. Gue nyesal gak percaya sama lo dan nganggap ini lelucon. Sekarang Ansel udah gak ada. Dan gue jujur gue takut."



Leya menghempaskan tangannya, tak peduli. "Gue mau pulang Kak. Gak usah bahas masalah ini. Anggap aja gue gak dengar apa yang Kakak bilang."



Ah, sial. Terpaksa Leya harus pergi menuju parkiran dulu sebelum kembali ke sekitar ruang BK ini. Chandra akan curiga bila Leya salah mengambil keputusan sedikit saja ataupun bila Leya salah bicara. Leya tidak boleh sampai keceplosan.



Leya langsung melangkah pergi dan mempercepat langkahnya. Untung saja Chandra tak mencoba mengejar karena seorang pak polisi memanggilnya. Leya sempat kembali menatap pak polisi itu, badge namanya tertulis besar 'Rasyid Bukhori'. Sepertinya, beliau lah Pak Rasyid yang dimaksud Glenn. Saat Leya menatapnya, beliau mengangguk. Syukurlah, sepertinya Pak Rasyid baru saja menyelamatkan Leya.



Eh, tunggu dulu. Bagaimana cara Pak Rasyid mengetahui Leya? Mereka belum pernah bertemu karena Leya hanya sebatas tahu nama polisi itu. Oh, badge nama di seragam Leya. Sudahlah, mumpung Chandra sedang sibuk mengobrol di depan ruang BK, ini kesempatan Leya untuk mencari tempat yang cocok untuk menelepon. Paling tidak, masih di sekitaran ruang BK ini.



Handphone Leya tiba-tiba bergetar. Begitu pula dengan handphone Glenn yang Glenn titipkan pada Leya untuk melakukan sesi wawancara. Ada sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. Terlebih dahulu, Leya mengecek isi pesan pada handphone-nya. Mungkin saja operator telepon, tapi tidak ada salahnya untuk mengecek.



082158xxxxxx : Selamat datang di negeri dongeng. Mari bermain find me untuk menemukan pendongeng! Apa yang kamu pikirkan tidak seperti apa yang terlihat. Aku adalah Grimm.  Aku berada di tempat di mana aku bisa melihat semua orang menuju ke pintu imaginari mereka. Di sana kamu akan bertemu Tinkerbell yang suka bermain pixie dust. Tak ada peter-pan. Hanya ada Kapten Hook yang tidak membajak kapal dan mencintai Tinkerbell. Kutunggu 20 menit lagi. Semoga beruntung!



Tubuh Leya gemetar seketika. Sialan! Grimm! Sang pembunuh Raya dan Ansel.



*Aduhhh gimana nih wawancaranya? Sialan!!!*



 ~~~

__ADS_1


__ADS_2